Midnight in Tokyo

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 26 August 2013

Gemerlap cahaya kota tokyo menerangi sepanjangan jalan. Menerangi jalan seorang gadis yang kesepian, ia memilih untuk menyendiri di malam hari karena dia tidak mau bertemu siapapun, ia telah ditinggalkan orangtuanya beberapa belas tahun yang lalau dengan alasan yang tidak jelas.

Liza Hinata Kohyu atau di sapa akrab Iza chan. Dia anak keturunan Indo-Jerman-Jepang. Wajar saja dia memiliki perpaduan yang sangat menarik. Matanya yang bulat dan kafasihannya menggunakan berbagai bahasa diturunkan oleh ibunya yang juga orang Indonesia tulen. Bola matanya yang berwarna biru kehijauan dan warna rambutnya yang coklat keemasan juga kulit putihnya yang seputih salju di turunkan ayahnya yang keturunan Jepang dan Jerman, membuatnya sangat kelihatan asing di wilayah ini. Dia jago di berbagai bidang bahasa seperti bahasa Jepang, Inggris, Jerman, Prancis, Korea dan tentunya Indonesia.

Liza merapatkan jaket hijau nya karena malam ini sangat dingin. Malam tepat di musim Winter seperti ini, seharusnya dia tadi lebih memilih memakai jaket coklat muda kesukaannya. Dia tau kenapa jaket itu sangat dia sukai. Ia berjalan menyusuri taman kota dan lebih menikmati pohon pohon yang telah rontok daunya. Percuma saja jika mengharapkan bunga sakura yang mekar di musim dingin seperti ini.

Dia duduk di bangku taman kota, tangannya meraih sesuatu di saku kantong jaket hijaunya. Perlahan dia menariknya, ternyata itu adalah sebuah buku novel karya Ilana Tan yang berjudul Winter In Tokyo. Ia harusnya tau ini di dunia nyatadan tak selamanya indah, harusnya ia tau hal itu.

Ia adalah orang yang tertutup, tak semua orang sembarangan bisa masuk ke kehidupannya. Sebenarnya dia adalah seorang yang terlahir dari keluarga yang di hormati di Jepang, seharusnya dia bangga kan hal itu tapi dia malah menyesal, dia tidak boleh kemanapun tanpa seizin orang tuanya dan kalau mendapat izin harus ditemani beberapa pengawal yang membosankan, ia tak suka akan hal itu.

Angin dingin malam terus saja menerpa wajahnya yang terlihat basah oleh air mata. Rambutnya yang lurus sepinggang di biarkannya terurai agar di terpa angin malam yang sangat kencang. Membaca beberapa patah kata di buku itu memebuatnya terasa sangat sakit, terasa amat menyakitkan. Air matanya terus mengalir, tetes demi tetes air matanya mengenai lembaran buku itu. Ia memutuskan untuk tak melanjutkan membaca bukunya. Sekilas ia memandangi foto sampul buku itu. Tiba-tiba ingatanya terbayang akan wajah Reza, mahasiswa indonesia yang sempat ia kagumi beberapa hari yang lalu.
Entah mengapa dia tertarik pada anak yang tidak bisa berbahasa jepang ini. Atau karena dia berbeda dari yang lain karena kulitnya tampak kecoklatan. Dan rambutnya yang dimodel Mohak ke atas atau karena tindikan di kuping kananya atau karena… Ah entah sejak kapan dia memerhatikan Reza secara mendetail itu.

Suara, ya Reza memiliki ciri khas saat berbicara dan tidak dapat di sembunyikan. Suaranya yang berat dan serak membuat siapapun ingin terus-terusan mendengar suara itu. Liza menggeleng pikiranya sudah jauh melayang ke angkasa dan tak mungkin dapat menjangkaunya.

Ia memerhatikan jam berwarna biru metalik di tangan kirinya. Sudah menunjukan pukul 3 pagi dia harus bergegas pulang karena 1 jam lagi matahari akan terbit. Dengan langkah maju dan terlihat tidak bersemangat dia terus berjalan, beberapa kepingan salju mengenai wajahnya. Ia membersihkan wajahnya dengan kesal dan mulai saat ini dia sangat membenci Salju.

Sepulang kuliah di Universitas Tokyo. Dia beristirahat sejenak di restoran Chinees Food, suasana yang rata-rata berwarna merah membuatnya suka akan tempat ini. Ia memilih tempat duduk di dekat jendela kaca besar yang langsung mengarah ke taman kota yang sangat disukainya apalagi saat ini musim dingin dia ingin menyaksikan salju yang berjatuhan dari langit, betapa indahnya.

Ia memilih memesan Shushi kesukaannya, dia memakan perlahan sambil menikmati pemandangan. Tiba-tiba keasyikannya diganggu dengan suara tertawaan yang nyaring tepat di sebelah meja makannya. Ia menoleh ka asal sumber suara itu. 2 orang pemuda yang terlihat seperti mahasiswa asing sedang berbicara menggunakan bahasa asing yang di kenalinya.
Ia menatap kedua pria muda itu yang kira-kira satu angkatannya. Aneh, Liza malah terpana pada salah seorang pemuda itu, ia tak memalingkan wajahnya sedikitpun entah berapa lama. Dia baru sadar ketika orang yang di perhatikannya juga memperhatikannya. Ia cepat-cepat tersenyum kikuk. Dan pria itu membalasnya.

Sesaat kemudian teman pria itu pergi duluan setelah menyelesaikan makan siangnya. Sekarang mereka berdua malah saling tatap. Entah mengapa Liza tidak bisa melepaskan pandangannya dari pria berkulit coklat itu.
Ia salah tingkah ketika menyadari lelaki itu mendekat kearahnya, mungkin laki-laki itu penasaran kenapa Liza memerhatikannya dari tadi. Laki-laki itu duduk di depannya.
“sedang apa?” sapanya.

Nicholas Reza Pratama sedang asyik memanfaat kan istirahat siangnya dengan makan siang bersama sahabatnya, Ilham. Entah mengapa hari ini dia ingin makan di restiran Chinese Food padahal dia tidak terlalu menyukainya.
“apakah kamu tadi conect pas pak dosen yang paling Killer di sana ngajar?” ucap Ilham sambil melahap beberapa Shushi yang baru dihidangkan.
“tentu saja tidak, memangnya kamu sadar ya kalau aku tidak bisa bahasa jepang dengan lancar.” ucap Reza kesal karena sepertinya sahabatnya ini mengejeknya, karena memang dia tidak terlalu bisa bahsa jepang.” harusnya dosen itu tau kalau kita ini mahasiswa asing, jadi tidak menggunakan bahasa jepang” lanjutnya.
“jadi kamu menyalahkan dosennya kalau kamu tidak bisa berbahasa jepang..” ucap Ilham.
“hmm. Mungkin..”
Ilham tertawa nyaring.
“eh jangan nyaring-nyaring, malu-maluin tuh!!”

Ilham tidak menghiraukannya dan sibuk dengan Shushinya. Reza melihat ke jendela besar di sebelahnya, ternyata salju sedang turun. Tak jauh dari jendelanya ia melihat seorang gadis cantik sedang memperhatikannya.
Sadar dia di perhatikan gadis itu cepat cepat tersenyum. Reza meihat tingkahnya yang lucu langsung membalas senyumannya yang manis. Ilham yang sudah selesai dengan urusan Shushinya langsung pergi, karena dia tidak mau membayarnya.

Reza yang tersadar kalau Ilham sudah pergi, harus menyiapkan uang lebih karena dari dulu sahabat nya itu selalu begitu. Sekarang ia teralihkan dengan gadis tadi yang dari tadi masih memperhatikannya. Matanya yang bulat menunjukan kalau dia orang indonesia. Tapi bola matanya yang berwarna biru kehijauan menunjukan kalau dia keturunan orang barat. Untuk memastikannya Reza manghampiri gadis itu. Gadis itu tampak gelagapan karena ia menghampirinya secara tiba-tiba, ia duduk di depan gadis itu.
“sedang apa?”
“eh.. Makan siang” ucap gadis itu sambil melihat Shushinya yang masih utuh. Reza tertarik kepada gadis yang satu ini karena dia sangat lucu. “kamu?” tanyanya balik.
“ehm.. Nggak tau juga sih.. Tiba-tiba pengen kesini aja. Oh ya namaku Nicholas Reza Pratama, panggil aja Reza.”
“namaku Liza Hinata Kohyu”
“kamu sepertinya bukan orang jepang, mahasiswa mana?”
“aku memang bukan orang asli jepang ibuku orang indonesia dan ayah ku orang jerman tapi aku di besarkan di jepang jadi aku bisa bahasa indonesia jerman dan jepang” Reza tersenyum lagi ketika melihat tingkah Liza yang sepertinya terlihat gugup. Merasa ada yang salah dari pembicaraanya Liza menatap orang yang di depannya dengan bingung. “ada yang salah?”
“eh.. Tidak, oh ya kamu kuliah di tempat ini juga kan? Waktu istirahat siang sudah selesai ayo balik!”
“baiklah!” entah mengapa Liza menyetujuinya padahal ia belum sama sekali makan Shushi di depannya.

Mereka berjalan berdua di tengah salju yang cukup dingin. Liza yang sangat menyukai salju memainkan kepingan salju yang jauh tepat di depan wajahnya dengan tingkah seperti anak kecil. Reza yang memperhatikannya dari tadi bertanya sambil merapatkan jaket coklat mudanya lalu memasukan tangannya ke saku kantong celananya.
“kamu suka salju?
“tentu, salju membuatku tenang.”
“apakah kamu suka salju di malam hari”
“aku sangat suka salju di malam hari apa lagi di taman kota. karena bisa melihat keindahan bintang di langit dan juga keindahan salju di bumi”
“kau sering keluar malam?” ucap Reza tak percaya.
“tentu” Reza semakin tak percaya pada anak polos yang satu ini. Merasa di perhatikan Liza cepat cepat meralat kata-katanya “tentu saja aku di temani beberpa pengawalku, tapi aku lebih ingin pergi sendiri, kalau kamu?”
“aku juga suka apa yang kamu sebutkan”
Liza tiba-tiba mendapatkan ide. “bagaimana kalau nanti malam kamu temani aku ke taman” ucapnya tanpa ragu.
Reza terkejut “apa kamu tidak takut, kita baru saling mengenal”
“tidak!!!”
“kenapa?”
“karena wajahmu tidak menampakan kejahatan sedikitpun atau kata lainnya kau tidak bisa berbuat jahat pada siapapun.”
Reza menyerah “baiklah jam sebelas di taman kota dekat pohon sakura, oke!”
“hmm baiklah, aku setuju.”

Malam ini adalah malam yang paling bahagia buatnya, karena dia akan ke taman kota dengan seseorang selain pengawalnya. Ia memilih memakai jaket berwarna krem dan syal berwarna ungu dan topi yang serasi dengan jaketnya ia sengaja membiarkan rambutnya tergerai. Sekarang ia benar-benar siap. Liza diantar oleh pengawalnya menuju taman kota dengan mobil mewah miliknya. Ia menyuruh pengawalnya menunggu di mobil saja ketika di taman. Suasana Tokyo yang indah dengan gemerlap cahaya temaram serta kelap kelip bintang di langit makin menggambarkan suasana hatinya saat ini. Mungkin dia sedang jatuh cinta pada pandangan pertama, ah.. Hatinya saat in sangat bahagia.

Di bawah pohon sakura ia melhat seorang pria sedang membaca buku, ia yakin pasti itu Reza. Ia langsung menghampirinya.
“hay, sedang apa?”
Reza terkejut karena Liza datang tiba-tiba-namun dia dapat mengendalikan keterkejutannya.
“baca Novel” ucapnya sambil masih membaca Novel itu.
“apa judulnya?”
“Winter In Tokyo, kamu pasti mau baca Ini” ucap reza sambil menyerahkan novel itu.
“kamu yakin”
“ya aku sudah selasai”
“Arigatou Gozaimasu”
“ya”
Liza langsung melihat-liat isi buku sementara Reza memandang langit malam yang sedang penuh bintang.
“kenapa kamu percaya sama aku?” ucap reza secara tiba-tiba.
“entah.. Mungkin instingku mengatakan begitu.”
“kamu masih percaya insting”
“tidak juga”
Sesaat semuanya sunyi.
“kamu suka baca novel?” ucap Liza.
“tidak juga.”
“terus kenapa kamu baca novel ini?”
“karena aku…” Reza berfikir sesaat “aku ingin dekat dengan orang yang jadi cinta pertamaku”
Liza tersenyum “siapa dia?”
“teman kecilku..”
“lalu cinta keduamu siapa..”
“tidak ada”
“apa!!” liza kaget, hatinya hancur berkeping-keping. Reza tidak mempunyai cinta kedua berarti dia terus mencintai cinta pertamanya itu. Ah.. Seharusnya dia tidak bertanya akan hal ini, membuat hatinya sangat sakit.
Reza menoleh ke arah Liza. “memangnya kenapa?”
“eh.. Tidak, memangnya apa hubungannya dia dengan novel ini?” ucap Liza mengalihkan perhatiannya.
“dia memberiku buku ini sebelum aku kesini, jadi.. Yah kamu tau sendiri”
“siapa namanya?”
“Raini..”
“nama yang bagus” Liza melihat jam tangan yang berada di tangan kanannya sudah tepat tengah malam.
“apa kau seorang K-Pop” ucap Liza.
“ya aku seorang B2ty”
“kamu pasti tau lagu B2ST yang Midnight, apa kau punya.”
“tentu saja, mau ku putarkan..”
“boleh silahkan”
B2ST- Midnight

Beberapa hal yang disukai Liza adalah yang satu ini. Ia telah jatuh cinta pada seorang lelaki yang baru ia temui tadi siang secara tidak sengaja di saat istirahat makan siang. Ia bahagia karena satu perguruan dengan lelaki bernama Reza itu. Tapi hal yang membuatnya sakit hati adalah Reza tidak merasakan hal yang sama pada Liza. Liza mencoba berfikir positif bahwa mereka baru bertemu, jadi mungkin Reza belum menyadari sesuatu dalam dirinya.

Bukannya dia tidak mempunyai cinta kedua, tapi ia meragukan hal itu. Dia beru bertemu gadis ini tadi siang mana mungkin dia bisa secepat itu jatuh cinta pada gadis ini. Dan dia tidak pantas untuk jatuh cinta pada gadis yang menjadi bagian keluarga terhormat di Jepang, harus nya ia tau hal itu.

Mereka berdua memandang langit Jepang yang sedang dilanda musim dingin. Lima belas detik kemudian Reza berdiri.
“ada apa?” tanya Liza.
“mau berkeliling, kau mau ikut?” tawar Reza.
“tentu saja” ucap Liza sambil bersiri di sebelah Reza yang mulai berjalan.
Mereka berdiri berdampingan sambil menikmati pohon sakura yang sedang tak mempunyai daun sedikit pun,
“apa kau tau?” tanya Reza.
“tau apa?”
“apa kau tau, di musim dingin seperti ini, ada pohon sakura yang sedang bermekaran daunya”
“apa!! Dimana?, pasti kau bercanda, tidak mungkin ada!!”
“ada..”
“di mana?”
“di…” Reza menghentikan langkahnya dan melihat ke sekeliling, yang ada hanya jejeran pohon sakura yang sedang rontok daunnya, sengaja agar membuat Liza penasaran. Liza juga melihat ke sekeliling, karena bingung apa yang sedang dilakukan Reza. “di sini…” Reza menunjuk dadanya.
Jantung Liza bergerak lebih cepat dari biasanya, kenapa hal ini bisa terjadi? ia berharap semoga Reza tidak mendengarkan suara yang aneh ini. “m-maksudmu?”
“aku sedang jatuh cinta pada seseorang hari ini” ucap Reza cukup meyakinkan yang membuat jantung Liza berdetak tak karuan.
“eh?” gumam Liza, karena dia tidak tau apa lagi yang harus dia katakan. Tanpa dia sadari Reza sudah jalan duluan membuat Liza kebingungan di tempat.
“ayo, sedang apa kamu di tempat itu” ucap Reza. Liza menurut berjalan beriringan dengan Reza membuat Liza menjadi salah tingkah. karena tidak ada yang bisa dia lakukan dia hanya menggosok-gosok tangannya yang mulai terasa dingin, karena dia tidak tau hal apa yang harus dia lakukan.
“dingin?” tanya Reza

Entah mengapa dia bisa berkata seperti itu, membuat anak di depannya kebingungan. Apakah dia harus mengatakannya pada Liza bahwa dia menyukainya. Tanpa sadar Reza sudah berjalan duluan meninggalkan Liza yang masih bingung di belakangnya.
“ayo, sedang apa kamu di tempat itu” Liza langsung menurut, entah kenapa ada suatu hal yang membuat anak ini begitu istimewa di matanya, anak yang polos tapi berani ini membuatnya merasa tenang terus mengobrol berjam-jam dengannya.
Ia menoleh ke samping anak ini terus menggosok-gosok tangannya dan sesekali meniupnya, ia khawatir anak itu tidak nyaman berjalan dengannya atau.. gugup.
“dingin?”
“eh.. ya.. seharusnya tadi aku memakai jaket yang lebih tebal” tak disangka tiba-tiba tanganya melepas jaketnya yang berwarna coklat muda kesukaannya dan memakaikannya di punggung Liza.
“t-terimakasih, tapi apakah kamu tidak kedinginan?”
“tidak tadi aku memakai, baju yang cukup tebal” Liza melihat jam di tangannya, menunjukan pukul 2 pagi.
“eh.. maaf aku harus pergi, hari ini sudah hampir pagi”
“ya silahkan..” Liza langsung berlari ke arah mobil pengawalnya dan langsung masuk ke dalam. Dan mobil itu bergerak kencang meninggalkan dirinya di taman sedirian. Apakah yang dilakukannya itu benar, apakah dia telah benar-benar jatuh cinta pada anak satu ini.

Jantung Liza searasa mau copot, dia tidak menyangka kalu Reza akan memberikannya sebuah buku dan meminjamkan jaket nya, dan dua benda ini akan selalu menjadi benda kesayangan Liza.

Malam ini Reza tidak bisa tidur jadi dia memutuskan untuk berjalan-jalan keluar sebentar, sambil menikmati malam yang indah di taman kota, bunga-bunga sakura yang mulai tumbuh membuatnya teringat akan seseorang yang telah dia rindukan setelah pertemuan singkat beberapa saat lalu.

Entah berapa lama dia meninggalkan gadis itu yang pasti saat ini dia sangat merindukannya, mengiinginkan berbicara lagi dengan gadis yang telah membuat dirinya penasaran. Memang setelah malam itu Reza tidak melihat lagi Liza dimanapun, ia berdiri terpaku beberapa saat, ketika melihat sosok yang dikenalnya, Liza.

Belum sempat Reza memanggilnya, Liza melihat ke arah Reza.. Entah mengapa ada suatu hal yang membuat Reza bahagia bertemu lagi dengan gadis itu, apakah dia merindukannya? Entahlah yang pasti dia sangat bahagia saat ini. Ia menghampiri gadis itu dengan senyum secerah matahari pagi.

“Iza-Chan..!!!” sapanya. Orang itu menoleh, Reza sadar, orang itu bukan Liza. Ia meminta maaf lalu berjalan lagi sambil menikmati warna Pink sakura dimana-mana, ia tidak menyadari sejak kapan kepalanya ‘error’ menghalusinasikan Liza dimanapun, ah.. Mungkinkah dia telah jatuh cinta dengan Liza. Kenapa ia selalu mengingat Liza, kenapa? Apakah ada alasan tertentu, atau karena. Ia, Reza telah benar-benar jatuh cinta dengan Liza.
Tiba-tiba di fikirannya terlintas suara tertawaan riang Liza yang begitu bersemangat, ia menghalau fikirannya, ini hanya halusinasi. tak berapa lama dia mendengar suara Liza yang menyenangkan dengan bahasa Jepang, mungkinkah?.
Reza melihat sekeliling ia mendapati sesosok gadis manis dengan rambut sepinggang yang ditutupi topi rajutan berwarna hijau sedang membaca sebuah novel yang mungkin berisi humor sedang duduk sendiri di kursi taman. Entah dari mana Reza mendapati dirinya sudah berjalan menuju gadis itu, ia menghentikan langkahnya. Mencoba menyadarkan dia bahwa itu hanya halusinasi, mungkin itu hanya orang lain yang mirip Liza.

Reza berjalan ke arah sebaliknya, menjauhi sesosok yang mirip Liza itu. Reza masih mempunyai akal sehat yang ia percayai. Dia terlalu memikirkan Liza akhir akhir ini.
“mungkin aku sakit” gumamnya sambil memegang dahinya yang tidak terasa panas sedikitpun. Ia bergegas pulang karena matanya mulai terasa berat.

Liza tertawa nyaring. Sudah lama dia tidak tertawa sekeras ini semenjak ditinggal Reza. Ah.. Kenapa fikirannya menuju Reza lagi, apakah dia tidak bisa melupakannya. Kenapa akhir-akhir ini ia mulai mengingat Reza lagi. Apakah dia tidak bisa bahagia tanpa Reza di sisinya.
“Entahlah..” ucapnya nyaring menggunakan bahasa jepang karena ia yakin di malam ini hanya ada dia dan novelnya, dia dan novelnya.
Ia membetulakan topi rajutan berwarna hijau di kepala nya yang mulai agak miring. Dan menjinjing novel itu di tangan kirinya. Ia bangkit dari duduknya, karena tubuhnya sudah mulai agak pegal duduk berjam-jam lamanya. Ia menarik nafas secara perlahan, tercium bau khas musim semi dan parfum Reza, apa! Parfum Reza.

Liza melihat ke sekeliling berharap seseorang yang dia rindukan ada di tempat ini.. bersamanya. Ia melihat sesosok tubuh laki-laki sedang membelakanginya. Ia tak yakin apa itu benar-benar Reza.

Kenapa saat ini dia sangat merindukan sosok seorang Reza di sisinya, dia tidak ingin gegabah menyatakan bahwa dia telah mencintai pria itu, ia harus memastikan dulu, ia hanya kagum atau benar-benar jatuh cinta. Ia berjalan pulang kali ini ia harus jalan kaki karena dia tadi diam-diam pergi dari rumah karena tidak diizinkan untuk keluar malam ini.

Entah kenapa dia ingin pulang saat ini juga padahal ini masih jam 1 malam biasanya dia pulang sekitar jam 2 atau jam 3 malam. Firasatnya yang mengatakan begitu. Ia berjalan tanpa semangat sama sekali dan tidak memandang ke depan karena dia yakin hanya ada dia di tempat ini, hanya ada dia. Ia bersenandung kecil menyanyikan lagu B2ST – Fiction. Brukk!!. Tiba-tiba dia menabrak seeorang cukup keras hingga dahinya memerah. ia mengusapnya perlahan.
“Gomen nasai” ucap Liza, sambil membungkuk tanpa melihat orang itu karena dia tidak yakin apakah itu benar-benar manusia.
“Daijobu daiyo” ucapnya yang ternyata manusia. Liza terkisap, ia mengenal suara itu, suara yang ia rindukan selama ini, ia mendongak.
“Reza?” gumamnya pelan

Reza berjalan perlahan sambil menikmati semilir angin malam di musim semi, seandainya ia bisa berjalan dengan Liza pastinya lengkap sudah kebahagiaan yang dia punya. beberapa saat ia merasa dibuntuti oleh seseorang di belakangnya yang bersenandung kecil lagu yang di kenalnya. B2ST- Fiction.
Secepat kilat, ia memutar badan bermaksud berbalik untuk memastikan siapa yang mengikutinya, malah mendapati seorang wanita yang sedang menunduk menabraknya, terlihat dahinya memerah, rupanya tabrakan tadi cukup menyakitkan bagi wanita itu.
“Gomen nasai!!” ucap wanita tadi.yang masih mengusap dahinya.
“Daijobu daiyo” ucap Reza memastikan wanita itu baik-baik saja menggunakan bahasa Jepang yang pas-pasan. Sejenak wanita itu mematung, lalu mendongak.
“Reza?” ucapnya kaget yang ternyata itu Liza.
“Liza?” ucap Reza tak kalah kagetnya. Bisa bertemu gadis yang dia rindukan di tempat seperti ini. Sepertinya mereka berdua mencoba bertahan di tempat agar tidak saling berpelukan satu-sama lain.
“sedang apa kamu disini?” ucap Reza.
“seperti biasa, melihat bintang di setiap musim, kamu?” ucpa Liza sambil berjalan beriringan dengan Reza yang dirindukannya selama ini.
“sedang mencari seseorang yang aku rindukan” ucapnya. Kenapa dia bisa keceplosan di saat seperti ini. Liza tertawa.
“sekarang? Apa kamu telah menemuinya?”
“ya sekarang dia ada di sebelahku” Liza tertawa membuat Reza heran apa dia salah bicara.
“aku juga merindukanmu” ucapnya datar yang membuat jantung Reza berdetak 2 kali lebih kencang dari biasanya. Lalu cepat-cepat menambahkan” kita sudah hampir 2 bulan tidak bertemu setelah malam itu dan sekarang kita bertemu di tempat yang sama dan di waktu yang sama, bukan kah itu lucu?” ucap Liza mencairkan suasana.
“ya menurutku begitu..” ucapnya datar sambil measukan tangan nya ke saku kantong celana dan membiarkan angin malam membelai wajahnya.

Liza berharap agar Reza tidak mendengar jantungnya mulai meledak. Liza akan menyembunyikan perasaan ini untuk sementara dan suatu saat nanti dia akan mengungkapkannya secara langsung pada Reza. Sebenarnya dia senang ternyata Reza ada di sebelahnya sekarang, yang membuatnya merasa aman dan nyaman. Semoga saja Reza tidak tau perasaan nya sebelum waktunya tiba.

“ehm.. Bagaimana kabar Re.. Rai..” ucap Liza sambil berfikir siapa cinta pertama Reza.
“Raina” ucap Reza membenarkan.” aku tidak tau, beberapa hari yang lalu aku putus kontak dengan keluargaku di Indonesia.”
“Daijobu daiyo?” ucap Liza.
“eh?” gumam Reza bingung sambil menoleh ke arah Liza.
“mukamu terlihat pucat.” ucap Liza cemas.
“Daijobu, aku hanya mengantuk.” ucap Reza, bahagia. karena Liza ternyata memperhatikannya.
“rumahmu di mana.. biar aku antar” ucap Liza.
“aku tidak tinggal di rumah aku tinggal di apartemen”
“sebaiknya kamu cepat pulang”
Reza tertawa. “baiklah, dan sebaiknya kau juga cepat pulang, ehm sekali-kali kamu main ke apartemenku ya.. Ini kuberi alamatnya” ucap Reza sambil memberikan alamatnya di kertas. Tak terasa mereka sudah berada di persimpangan jalan, saatnya mereka berpisah karena rumah mereka berbeda arah. Bagi Reza ini adalah hal menyedihkan dalam hidupnya, dia harus meninggalkan lagi orang yang ia rindukan setelah beberapa bulan tidak bertemu dan harus berpisah lagi, tapi hatinya meyakinkan dirinya bahwa besok mereka akan bertemu lagi.
“eh.. Baiklah aku harus pulang.. Ima Made Arigatou!!” seru Liza sambil tersenyum ceria melambaikan tangannya sambil pergi ke arah berlawanan dengan Reza. Reza hanya tersenyum dan melambaikan tangan lalu memasukannya ke saku kantong celananya.

Entah sudah berapa lama dia tidak melihat Liza tertawa seceria itu. Tiba-tiba hatinya merasa tenang. Ia tertawa kecil, sampai-sampai hampir lupa kalau dia harus pulang ke apartemennya, ia pulang dengan terburu-buru dan hati berbunga-bunga.

[Bersambung…]

Cerpen Karangan: Sahira Fara Nabila
sebenarnya aku membuat novel ini terinspirasi dari novelnya Ilana Tan yang berjudul Winter In Tokyo. aku mengaku sebagai fans nya, saya suka sekali dengan jalan ceritanya yang menegangkan membawa si pembaca untuk hanyut dalam cerita. terus berkreasi Ilana Tan, aku kan terus setia jadi penggemarmu.

Cerpen Midnight in Tokyo merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


First Love in Paris

Oleh:
Pagi ini begitu cerah. Segera aku melangkah, kubuka jendela kamar. Pemandangan pagi kota Paris telah menyambut. Hilir mudik wisatawan telah menghiasi sekitar menara Eiffel. “good morning Paris”, ucapku. Aku

Tears Of Melody

Oleh:
Ketika sang rembulan malu menampakan wujudnya dikala itu, disaat seorang anak manusia tengah menangis dan berdoa di sebuah istana kecil di tengah malam yang teramat mencekat dalam aungan binatang

Nina Dika

Oleh:
“Aku tidak terlalu tergesa gesa, sebab kau tidak lagi menungguku di pinggir jalan.” “Kita adalah rindu yang disembelih waktu” kata lelaki itu, seraya tengadah menatap langit senja sore ini.

Tertabrak Cinta Bintang

Oleh:
Setelah jam kuliahku selesai aku berjalan ke luar kelas dan melihat jam tanganku, waktu menunjukkan pukul 09:15 pagi. karena masih pagi akhirnya kuputuskan menuju taman kampus, untuk menunggu sahabat

My First Love Is Cute

Oleh:
Perkenalkan, namaku nur anasta zian, aku anak SMP yang sekarang sudah kelas 3, aku punya pacar bernama ahmad fauzan handika, dia juga kelas 3 namun kami berbeda kelas, satu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

5 responses to “Midnight in Tokyo”

  1. diah says:

    kamu smashblast ya? maaf kalau pertanyaanku menyinggung

  2. bukan,, nama reza aku ambil gegara aku suka aja,,

    aku antifans nya

  3. Laras says:

    Mana lanjutan cerpennya kak ?

  4. Arum says:

    Lanjutan cerpennya mana kak? Gantung nih, padahal ceritanya keren loh

  5. Novia Dwi yani says:

    kak mana kelanjutannya midnight in tokyo :'(

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *