Mulki

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 26 May 2018

Kini aku tinggal sendiri di rumah. Pagi-pagi sekali kudapati yang lain pergi menjenguk nenekku yang sakit. Aku bermaksud untuk beristirahat total sekarang. Sebab akhir-akhir ini aku merasa badanku kurang sehat. Napas sedikit tersengal disertai batuk-batuk kecil dan masuk angin. Mungkin kecapaian akibat terlalu sibuk mempromosikan novelku. Ini memang sudah risiko profesiku yang baru, harus berkeliling dari satu kota ke kota lain untuk jumpa fans. Juga untuk meningkatkan penjualan buku dan lebih melambungkan namaku.

Saking sibuknya dengan semua kegiatan itu, aku sampai lupa pada keperluan dan kepentinganku sendiri. Lupa pada Mulki, kekasih yang pernah mengabaikanku karena kesibukannya sebagai seorang surveyor. Ah, aku tahu bahwa dulu aku sangat manja dan sangat sentimentil sampai pernah aku mengemis perhatiannya. Ironis sekali.

Ketika akan merebahkan tubuhku di tempat tidur, kudengar suara beberapa remaja putra mengucapkan salam dan memanggil namaku dari luar rumah. Ternyata mereka adalah beberapa pelajar SMA yang masih mengenakan seragam sekolah. Seperti biasa, mereka datang untuk minta tanda tangan, sekadar ngobrol dan bercanda. Sebenarnya aku agak segan menemui pelajar-pelajar ini, tetapi aku memaksakan diri untuk tersenyum dan tertawa lebar menyambut mereka.

Kira-kira sejam sesudah anak-anak SMA itu pulang, Mulki datang dengan sepeda motor tuanya. Wajahnya terlihat kaku dan senyum melankolik yang biasa disuguhkan untukku itu lenyap, mungkin karena rasa cemburu yang menggumpal.

“Mulki, kenapa akhir-akhir ini kamu berubah? Berbeda sekali dengan Mulki yang kukenal dulu.” rayuku lembut.
“Bilang dong Ki, aku salah apa, supaya aku tahu kesalahanku dan minta maaf padamu.”
Aku berusaha memeluknya, tetapi Mulki menghindar dan cemberut.
“Kamu senang ya, setiap hari dikerumuni pria-pria tampan. Sampai lupa padaku,” kata Mulki getas.

Kini aku maklum. Ternyata benar, Mulki cemburu pada anak-anak ABG yang menjadi penggemarku. Mungkin ia merasa tidak lagi diperhatikan.

Aku tersenyum sendiri. Ternyata pria yang dekat denganku ini merasakan apa yang kurasakan ketika aku mengganggur dulu. Mungkinkah itu karma? Atau mungkin juga karena ia pernah merasa senang ketika mendapat perhatian lebih dariku? Maklum saja, selama ini Mulki tinggal di kantornya dan kekurangan perhatian dari seorang ibu.

“Sabar, sayang. Kamu harus tahu, merekalah yang membuat bukuku laku. Mereka juga yang membuatku akhirnya bisa menghidupi diriku sendiri,” jawabku setelah beberapa menit kita saling membisu.
“Yah, gara-gara mereka, waktu kita sudah tak tersisa, tidak ada lagi. Waktumu habis untuk melayani mereka,” tambah Mulki sewot.
“Terserah kamu deh, Ki. Seperti inilah kehidupanku sekarang. Kau harus tahu, kalau aku ini bukan pegawai kantoran, yang waktunya bisa diprogram sebelumnya, dan tiap hari bisa makan karena tiap bulan pasti terima gaji,” jelasku.

“Sayang, aku minta kepastian darimu,” tiba-tiba Mulki bicara lembut. Seingatku, Mulki pernah selembut ini ketika aku dirawat di rumah sakit tempat sepupunya bekerja.
“Kepastian tentang apa?” aku bingung.
“Tentang hubungan kita ini.”

Aku diam sejenak, lalu mengambil napas dalam-dalam. Segawat inikah hubunganku dengan Mulki sekarang? Pikiranku kian kalut.

“Kepastiannya, aku ini serius, Ki. Aku serius sekali denganmu! Aku pernah mengatakan, aku akan menunggumu hingga lulus kuliah dan kamu akan menikahiku,”
“Kalau memang serius, aku akan mengajakmu bertemu keluargaku. Secepatnya aku akan menikahimu supaya kamu tidak dekat-dekat dengan mereka yang telah merebutmu dariku,” timpal Mulki.
“Kapan?” tanyaku antusias. Kucoba menyembunyikan rasa senangku karena sebentar lagi aku akan menyandang namanya dibelakang namaku.
“Terserah. Kamu saja yang mengatur waktunya. Sekarang kamu kan sedang sibuk, jadwalmu padat. Kamu sendiri sajalah yang ke rumah, kalau ada waktu senggang!” kata-katanya terdengar sinis.
“Sudah ya, aku mau pulang.”
Lalu tanpa basa-basi, Mulki langsung pergi dengan sepeda motor tuanya menuju jalan besar, tanpa menoleh lagi ke belakang.

Sepeninggal Mulki, rasa lelahku sirna seketika. Kenapa kekasih yang sangat kucintai ini tiba-tiba ingin menikahiku secepatnya?

Kini aku bisa merasakan kupu-kupu yang menari di perutku. Buru-buru aku bangkit dari kursi dan masuk ke dalam kamar.

Cerpen Karangan: Riska Rizkiyani
Facebook: facebook.com/riskarizkiyani.3
Aku tidak ingin menutupi semua kekuranganku hanya untuk menaikkan harga diriku. Karena aku yakin, laki-laki yang akan datang dan yang benar-benar mencintaiku akan menerima semua kekuranganku. Tidak akan peduli rendahnya pendidikanku dan buruknya masa laluku. Dia akan menjaga dan dengan keikhlasannya akan membawaku ke arah lebih baik. Seperti Mulki Abdul Jabar, kekasihku kini. Cerpen ini kubuat untuknya karena hari ini, tanggal 5 Juni 2017, hubunganku dengannya 10 bulan. Happy 10th Mensiversary, sayang!

Cerpen Mulki merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Romantic Knowledge (Part 1)

Oleh:
Apa kalian pernah mendengar istilah yang mengatakan Don’t Judge a book by its Cover? Aku yakin kalian pernah mendengarnya, karena istilah itu sudah terlalu mainstream. Siapa pun pasti sudah

Moment of 3 Years

Oleh:
Nama saya Ikbal Fahmi, biasa dipanggil ikbal. 2 tahun yang lalu dimana kita sama-sama mendapatkan kelas baru, teman baru, sahabat baru, dan spesial yang baru. 2 tahun yang lalu

Faiz

Oleh:
Namanya Faiz. Sepupuku yang satu ini sangat aktif. Orangnya juga humoris. Faiz dan aku selalu bermain bersama-sama. Tapi… semenjak aku pindah, aku tak pernah bertemunya lagi. Aku jadi sedih.

Embun yang Hilang

Oleh:
Embun, ciptaan Tuhan yang sangat aku sukai. Mataku hanya bisa melihat sehari sekali di pagi hari. Aku hanya bisa memandangnya dari jendela kaca kamarku. Dia begitu sejuk, begitu segar,

Aku Senang, Aku Bahagia

Oleh:
Aku menyeka air mataku. Aku tau dia tidak ingin aku meneteskan air mata, walau bagaimana pun perasaanku saat ini. Teraduk-aduk, terhantam sesuatu yang berat. Aku menatap dia yang terbaring

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *