My Boss

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 25 September 2017

Aku mengelap meja dengan cepat. Piring dan gelas kotor berpindah ke atas kereta dorong. Semua tissue dan remah-remah bersih dengan tuntas. Aku beralih ke meja seberang. Kurapikan semua piring dan gelas kotor yang ada di atas meja itu. Tak sengaja tanganku menyenggol gelas yang masih berisi sirup setengah bagiannya. Warna ungu dari sirup menumpahi seisi meja. Aku menghembuskan nafas sambil mengulang mengelap meja.

Hari ini restoran ramai sekali. Pengunjung datang dan pergi seolah tak ada habisnya. Mungkin karena hari libur dan langit sedang cerah. Semua pelayan pun dibuat sibuk, tak ada yang terlihat menganggur. Peringatan Dom beberapa saat lalu yang menyuruhku berkemas tak akan mungkin kupenuhi di saat seperti ini.

“Permisi, boleh saya minta saos?” tegur seorang turis India padaku.
“Tentu,” sahutku sambil sedikit membungkuk sebagai kesediaanku melayaninya.

Kudorong troli ke depan pintu dapur lalu beralih ke counter dimana botol-botol saos disimpan sebagai persediaan. Baru saja berbalik, Dominic menghalangi jalan sambil menatapku lekat.

“Sudah kubilang kau harus segera berkemas!” hardiknya.
“Kecuali aku diusir atau dipecat, aku akan berkemas saat ini juga,” sahutku sambil mengambil jalan di sisi kirinya tapi laki-laki berambut gondrong itu kembali menghalangi jalan.
“Katakan itu pada Pak Hewilt,” ucap Dominic sambil merebut nampan di tanganku.

Aku menelan ludah sejenak. Sendi-sendi kaki mendadak lemas saat mendengar nama Hewilt. Dia anak tunggal Pak Ryan —pemilik restoran tempatku bekerja— sekaligus teman sekelasku di kampus. Setiap kali kuliah, rasanya ada yang menyumbat saluran pernapasanku. Terlebih saat ia mengitari dan menggodaku karena bekerja di restoran ayahnya.

Demi Tuhan, tak pernah terkira sebelumnya jika aku bekerja part time di restoran ayahnya. Sejak tahu bahwa Hewilt adalah putra Pak Ryan, rasanya aku tak punya muka lagi untuk bertemu dengannya. Apa yang hendak dilakukan putra mahkota itu padaku sekarang? Aku mendesah pasrah sambil menuju rest room.

“Bapak mencari saya?” tegurku.
“Jangan memanggil seperti itu pada kekasihmu,” sahut Hewilt tanpa menoleh. Matanya masih fokus pada game di tangannya.

Satu lagi yang membuatku resah dengan keberadaan Hewilt. Dia selalu menggoda dengan berbagai macam sebutan seenak jidatnya. Bahkan dia juga pernah mengenalkanku sebagai kembarannya di depan teman-temannya. Aku lebih takut saat Hewilt melotot ke arahku agar tunduk pada permintaannya. Rasanya seperti mimpi buruk karena aku sendiri tak punya kuasa apapun saat dia bermain-main dengan cara itu.

“Kemarilah, Sayang. Lepaskan celemekmu lebih dulu. Kau tidak cocok dengan pakaian seperti itu,” ucapnya lagi membuatku gemetaran.
“S—saya harus … kembali bekerja …” jawabku terbata.
“Aku ingin mengajakmu kencan dan aku sudah membawakan gaun untukmu. Bersiaplah dalam setengah jam,” perintah Hewilt.

Aku hanya diam sambil melirik goodie bag di atas meja. Apa yang harus kulakukan sekarang? Pak Ryan bisa memotong gajiku jika terlalu sering membolos. Tempo hari aku sudah menggunakan kesempatan membolos untuk mengerjakan tugas Hewilt di kampus. Jika mengulang membolos lagi, apa kabar kebutuhan sehari-hari bulan depan? Terlebih lagi, aku harus membayar kost dan membeli bahan-bahan penelitian.

“Masih di sana? Kau menolak pergi denganku?” tanya Hewilt.
“S—saya harus bekerja … Pak …”
“Apa pekerjaanmu lebih penting daripada menuruti ajakan kencan dari Boss?” tanya Hewilt.
Lelaki itu menatapku tajam. Buru-buru aku mengalihkan pandangan dari tatapan Hewilt. Tuhan, tolong aku!

“Jadi kau benar-benar menolak?” tanya Hewilt beranjak mendekatiku.
“Saya … sudah sering membolos … jadi …”
“Kau menolak? Hmm?” tanya Hewilt mengurungku di dinding.
Aku tak bisa berkutik saat ini. Jarak wajahnya sudah sekian senti saja dari kepalaku. Jantungku berdegub tak karuan. Mengangkat kepala pun tak sanggup. Aku benar-benar tak berdaya. Seandainya dia bukan Boss-ku, aku sudah memakinya sekaligus menamparnya karena berani mempermainkan pekerjaanku.

“Bersihkan dirimu. Waktumu tersisa 15 menit saja,” bisik Hewilt.
Kuanggukkan kepala tanpa berani menatapnya. Dia melepaskanku sembari memberi kode untuk mengambil gaun yang dibawakan olehnya. Aku tidak menoleh lagi. Setelah mengambil kantung tas itu, aku segera keluar dengan cepat.

Aku mengeringkan wajah dari air mata dengan tissue. Hal sial apa lagi yang akan aku alami setelah ini? Aku terlambat masuk kelas dan Prof. Reign melarangku ikut ujian. Aku memang tak sempat belajar karena Hewilt menahanku semalaman di Cafe tempat teman-temannya berkumpul. Semalam aku harus berperan sebagai kekasih Hewilt untuk membuat salah satu mantan pacarnya cemburu. Aku benci laki-laki sok tampan itu. Terutama saat dia berani menciumku di depan banyak mata.

Air mataku mengucur semakin deras mengingatnya. Dia sudah kelewatan. Aku memang tak bisa menolak permintaannya tapi dia sudah gila. Harga diriku diinjak-injak. Dia memang Boss dan aku hanya kacung, tapi dia tidak boleh menghinaku seperti itu. Bodohnya aku tak pernah bisa berkutik sekalipun dia menginjak harga diriku. Bahkan saat aku gagal masuk kelas ujian seperti ini pun aku tak akan pernah berani memakinya. Aku ingin melakukannya tapi aku tak bisa.

Seseorang menepuk pundakku dari samping. Aku tak berani menoleh dengan wajah pias yang memalukan ini. Padahal aku sudah memilih meja paling sudut yang tertutup agar tak akan ada yang melihat wajah burukku. Tepukan itu kembali terasa di pundak sambil menyebutkan namaku dengan sangat pelan.

“Hewilt mencarimu,” bisik Vivi.
“Lalu?” sahutku enggan.
“Dia seperti orang gila, Jill. Dia menghardik semua orang untuk mencarimu.”
“Dia memang seperti itu. Biarkan saja.”
“Kalian berpacaran?” tanya Vivi hati-hati. “Aku bisa memberitahu Hewilt bahwa aku menemukanmu di sini. Tapi sebelumnya, aku ingin memastikannya darimu. Wyath melihat kalian berciuman saat…”
“Itu bukan aku. Dia hanya gadis yang mirip denganku tapi itu bukan aku,” potongku cepat.
“Oh, jadi bukan,” cetus Vivi datar juga sedikit tidak percaya. “Lalu kenapa kau menangis? Karena terlambat di kelas Prof. Reign?”
“Aku dipecat, Vi,” jawabku lalu aku menarik tissue baru yang bersih. “Tadi pagi aku harus ke restoran dan memohon pada Pak Ryan untuk tidak memecatku.”
“Kau? Mana mungkin? Kau menghabiskan seluruh waktu senggangmu untuk bekerja!” tukas Vivi.
“Menarik sekali melihatku menghabiskan waktu senggang dengan menangis, bukan?” sahutku sambil membereskan buku-buku di hadapanku. “Apa Prof. Reign sudah keluar? Aku ingin meminta ujian susulan. Semoga hatinya sedang cerah.”
“Hewilt sudah melakukannya. Dia mencarimu karena Prof. Reign akan pergi sore ini juga ke New York.”

Aku menoleh mendengar ucapan Vivi. Apa aku mulai gila? Baru saja aku mendengar nama Hewilt disebutkan disertai tindakan baik yang dilakukannya padaku. Seumur hidup, aku yakin dengan mata tertutup jika laki-laki itu hanya ingin memanfaatkanku selain ingin menyiksaku.

“Kau bercanda?”
“Jika Hewilt tidak mengakuimu sebagai kekasih, aku akan setuju jika ini hanya gurauan.”
“Tapi aku bukan kekasihnya,” sanggahku.
“Kalau begitu, temui Prof. Reign saja. Kau masih punya cukup waktu.”

Aku tidak banyak bertanya lagi. Langkahku sedikit tergesa keluar dari perpustakaan. Kukembalikan semua buku yang sebenarnya hendak kupinjam. Aku tak punya waktu mengantri hanya untuk mendaftarkan namaku di meja registrasi.

Entah aku sedang sial atau Hewilt sengaja menungguku, aku melihatnya berdiri di depan gedung jurusan. Kuacuhkan keberadaan lelaki bertubuh jangkung itu tapi dia menghalangi langkahku. Kuingatkan diriku sendiri bahwa aku berada di kampus, bukan restoran. Dia temanku, bukan boss-ku.

Kuhela napas pelan sebelum aku mulai membuka suara.
“Kau …”
“Aku mengkhawatirkanmu.” Hewilt memotong ucapanku.
Aku tertegun mendengar suaranya. Dia berbicara dengan suara lembut dan syahdu. Aku memang tak berani menatap matanya tapi perasaanku mengatakan jika dia merasa bersalah. Dia tidak berbicara semena-mena kepadaku. Atau dia sudah sadar jika dia tidak berada pada posisi yang tepat untuk bersikap demikian.

“Hei,” panggil Hewilt pelan sambil mengangkat daguku. “Aku minta maaf. Aku tak menyangka kau akan datang terlambat.”
“Bukan salahmu. Aku terlambat karena aku mengerjakan laporan praktikum,” jawabku menghindari tatapannya. Lagi-lagi aku membatalkan niatku untuk bersikap tegas padanya. Aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa melakukannya.
“Seharusnya aku membantumu, seperti kau yang selalu membantuku.”
“Aku harus menemui Prof. Reign,” ujarku mengalihkan pembicaraan.
“Professor sudah pergi.”
“Apa?! Vivi mengatakan bahwa professor akan pergi sore nanti!” pekikku terkejut.
“Ruangannya kosong,” sahut Hewilt melempar pandang ke dalam gedung. “Kau akan mengikuti ujian susulan besok lusa. Itu yang dikatakannya kepadaku.”
“Kau?”
“Itu caraku menebus kesalahan.”

Aku menundukkan kepala. Aku tidak tahu jika kalimat sederhana itu bisa membuatku begitu malu. Aku juga tak terbiasa mendengar intonasi halusnya seperti ini. Terasa seperti bukan Hewilt.

“Aku tidak sepintar kau maka aku tak akan menawarkan bantuan untuk mengajarkan materi ujian. Tapi aku bisa menemanimu. Aku mengingat beberapa soal yang diberikan Professor Reign saat ujian tadi.”
“Terima kasih. Aku ingin melakukannya dengan jujur saja,” sahutku pelan.

“Jill! Maaf aku baru saja membaca pesanmu!” seru Stevan menghampiri kami. “Kau serius ingin bekerja di cafe tempatku bekerja? Kita bisa ke sana hari ini juga. Aku yakin Derrick tak akan keberatan menambah 1 pegawai cantik lagi.”
“Terima kasih, Stevan. Aku akan datang sore nanti setelah praktikumku usai,” sahutku senang.
“Ya. Kutunggu kau di sini sore nanti. Aku pun masih ada kuliah sampai siang ini,” kata Stevan lalu dia melambai sambil berlalu dengan sedikit tergesa.

Tinggal Hewilt yang menatapku dengan sedikit melotot. Aku tahu kesopanannya beberapa menit yang lalu pasti akan luntur beberapa saat lagi.
“Kau bekerja di 2 tempat? Kau terlambat karena bekerja di restoran dan sekarang kau menambah pekerjaanmu?”
“Aku tidak menambah. Aku tidak lagi bekerja di restoran ayahmu,” jawabku sambil berbalik pergi.
“Kau tidak bisa bekerja dengan Stevan, Jill!” seru Hewilt membuntutiku.
“Kenapa tidak? Aku terbiasa dengan pekerjaan sebagai pelayan. Aku mengenal Derrick. Dia akan menjadi Boss yang baik.”
“Tidak bisa! Justru karena itu kau tidak bisa bekerja di sana! Bagaimana jika dia juga menyukaimu seperti aku?” sentak Hewilt sambil menarik pundakku untuk menghadapnya.

Semua mata terarah padaku, Kawan. Aku merasa seperti pemeran utama di sini. Namun, aku kembali menyadari sesuatu. Kami berada di pelataran kampus. Ada banyak orang di sekitar kami. Mungkin salah satunya adalah mantan kekasih Hewilt.

“Kau belum mengatakan apa peranku saat ini. Apa kau tidak khawatir aku salah mempermainkan peranku?” tanyaku pelan berusaha agar tak terdengar orang lain.

Hewilt mengeraskan rahang mendengar ucapanku. Dia menarik tanganku menyingkir dari keramaian. Kami berhenti di balik gedung yang terlindung dari mata siapapun. Aku benar-benar tak menyangka jika dia begitu kasar mendorong punggungku hingga dinding. Bahkan sebelum aku menyadari apapun, dia mencium bibirku dengan liar.

“Apa aku perlu menikahimu sekarang agar kau berhenti mencari boss baru?” tanya Hewilt membuatku lemas seketika.

Cerpen Karangan: Amarta Shandy
Facebook: @amarta.shaddy

Cerpen My Boss merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berdua Aja Ya

Oleh:
Kok ngambek? Senyum donk! Pergi yuk! Berdua aja ya, Ke tempat, di mana hanya ada aku dan kamu. Nggak mereka. Caranya menatapku, teduh pandangannya dan senyumannya. Ah… Mengapa aku

Kekasihku

Oleh:
Mencintai seseorang terkadang itu adalah hal yang bahagia, namun aku fikir, mencintai seseorang yang mencintaiku, itu jauh lebih bahagia. Dia kekasihku, jelas aku katakan, dia kekasihku! Aku baru sadar,

Cintaku Macet di Simpang Lima

Oleh:
Aku meniti jalan ini lagi. Kali ketiga dalam satu hari ini. Aku tahu sebenarnya banyak jalan-jalan lain yang tidak pernah macet dan jelas akan sangat menghemat waktu perjalananku pulang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *