My First Sight

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 27 January 2015

Bel tanda pelajaran usai telah berbunyi. Siswa siswi bergegas memasukan alat tulis menulisnya bahkan sebelum sang guru selesai menerangkan, mereka semua enggan untuk memaksa berfikir karena kondisi perut yang tak memungkinkan untuk memeras kerja otak lebih lama, namun di barisan bangku nomor dua dari depan sebelah kiri masih tampak seorang gadis yang serius memainkan pensilnya. Matanya mondar mandir melihat tulisan di buku dan papan tulis di depanya. Hingga tibalah sebuah keberuntungan yang hilang, pensil yang digunakanya terlepas dari genggaman dan jatuh menggelinding di bawah bangku milik siswa lain. Mungkin saja mudah bagi gadis itu untuk berteriak meminta tolong agar mengambilkan pensil miliknya, hanya saja tiba-tiba gemuruh jantungnya terdengar lebih keras, perutnya terasa terpilin hingga membuat lidahnya sulit untuk berbicara. Saat masih berkutat dalam pikiranya sendiri, seseorang telah mengambil pensil tersebut, dia membaca inisial yang terukir di ujungnya. Sambil menengok ke arah gadis tadi, siswa lelaki itu tersenyum. Dia bangkit dari tempat duduknya.
“Milikmu?”
Gadis itu tergagap, dia masih tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Matanya memandang pada orang yang berdiri di hadapanya.
“Ehm, ini milikmu?”. Sekali lagi siswa itu bertanya dan dengan sedikit memaksa pemilik pensil itu menimpalinya.
“I-iya, t-terimakasih”. Katanya.
“Baiklan aku taruh sini ya.” Siswa itu menaruh batangan kayu tersebut tepat di depan telapak tangan gadis yang mencengkeram meja bangkunya. Saat siswa itu berbalik gadis tadi melirikkan matanya memandang punggung yang kian menjauh. Dia mendesah pelan.
“Xi Lu”. Mendengar namanya disebut, siswa lelaki itu berbalik.
“Ya”.
“Ah, apa?”. Gadis itu menunduk dengan kikuk bahkan telapak tangannya mulai berkeringat.
“Kau tadi memanggilku?.”
“T-tidak, mungkin kau salah dengar.”
“Benarkah?.” Siswa yang memiliki nama xi lu itu tersenyum sambil berlalu. Sementara gadis yang menyebut namanya hanya memandang kosong arah yang dituju hingga sang guru menegur murid-muridnya untuk segera pulang ke rumah.

Saat di perjalanan menuju rumahnya, tak banyak yang dipikirkan oleh seorang gadis berambut panjang tersebut. Mungkin karena cuaca sore ini terlalu panas atau mungkin karena kejadian yang baru dialaminya tadi. Bertukar pandang dengan seseorang yang sering membuat dadanya sesak. Xi lu atau orang sering memanggilnya Lian, entah mengapa namanya bisa berganti seperti itu, namun baginya semua itu bukan masalah. Masalah yang sesungguhnya adalah gadis itu terlalu bodoh untuk mengontrol perasaanya. Dia terlalu kagum pada sosok berdarah campuran dari penduduk cina dan negeri tercinta, tampangnya yang seperti malaikat serta orangtuanya yang kaya membuatnya mirip seperti seorang pangeran yang tinggal di dalam instana, tapi bukan itu, melainkan kebaikanya yang melampau orang lain. Lian selalu memperlakukan semua makhluk sama, membantu tanpa pamrih dan tentunya tidak pernah mencari masalah dengan orang lain. Dan itulah salah satu yang membuat gadis berambut panjang itu senantiasa menjadi pengagumnya dalam diam.

Kembali dalam pikiranya lagi. Gadis itu masih terus berjalan sambil menundukkan kepalanya, tanpa sadar tag nama yang terkancing di almamaternya jatuh. Jemarinya yang ramping memungut lalu membersihkan sedikit kotoran yang menutupi huruf penyusun namanya, Nindi F.A.

Nindi memasuki ruang kelasnya. Karena masih terlalu pagi sehingga tak banyak siswa yang datang kala itu. Segera gadis itu mengambil tempat duduk seperti biasanya lalu mengeluarkan buku bersampul merah bertuliskan data siswa. Nindi adalah seorang sekertaris di kelasnya sehingga tak heran jika dia harus membawa data diri teman satu kelasnya untuk memudahkan dalam berbagai urusan yang berhubungan dengan kegiatan sekolah jika memang diperlukan. Belum sempat dia membuka buku itu tiba-tiba wali kelasnya datang menghampiri. Dia meminta agar Nindi meminta data siswa yang baru karena dianggap data lama tidak update lagi. Sambil memaksa untuk tetap tersenyum gadis berambut panjang terurai itu mengiyakan meski batinnya menolak melakukannya.

Bel tanda jam istirahat pertama berbunyi namun tak ada satu pun yang pergi keluar kelas karena memang cuacanya sangat panas. Kesempatan itu digunakan Nindi untuk meminta data diri teman-temanya. Sebelumnya guru kelas telah memberi lembaran yang harus diisi oleh para siswa. Karena keadaan kelas yang terlalu ramai gadis itu meminta bantuan ketua kelas untuk menyebarkan selebaran. Kedua siswa itu mulai membagi selebaran. Beberapa saat setelah berputar putar seketika langkah Nindi terhenti. Dia hendak berbalik dan menunggu sang ketua kelas untuk membantunya meneruskan perkerjaan tersebut naasnya yang ditunggu tak kunjung datang dan akhirnya dia harus melawan rasa gugupnya kembali untuk memberikan selebaran itu pada siswa lelaki yang duduk di meja bangkunya, Lian.
“emm… permisi, maaf mengganggu, guru kelas bilang setiap siswa harus mengisi data pribadi yang baru jadi bisa tolong isikan data pribadimu di lembaran ini?.” Nindi meletakkan lembaran itu di kursi dekat Lian duduk.
“Tentu saja.” Dan seperti biasanya lelaki itu menjawabnya dengan ramah.

Segera Nindi hendak mengambil langkah seribu menjauh dari Lian agar lelaki itu tak melihat wajah Nindi yang memerah seperti tomat yang baru masak, namun belum sempat dia memggerakkan kakinya Lian menahan tanganya.
“Bagaimana aku mengisi alamat disini? Kau tau kan kalau orangtuaku sering melakukan perjalanan bisnis dan tentunya membuat kami sering pindah rumah?!.” Dia masih menahan tangan gadis itu sambil menatap lembaran datanya.
“emm t-tapi sebelumnya bisakah kau lepaskan tanganku?.”
“oh tentu. Maafkan aku.” Segera Lian melepaskan genggamanya.
“Isikan saja alamat rumahmu saat ini.”
“Oke terimakasih.”

Setelah selesai mengisikan data, Lian menyerahkan lembaran itu pada Nindi yang masih berdiri membatu disana. Meski sedikit terkejut namun Nindi menerimanya dengan mencoba tetap tenang. Sekali lagi saat dia hendak kabur dari tempat itu. Lian menahanya dengan pertanyaan yang membuat gadis itu kebingungan menjawabnya.
“Kenapa kau selalu terlihat gugup?.”
“Ah t-tidak juga, kurasa aku harus pergi sampai jumpa.” Dan dia berlari dari tempat itu. Sementara Lian hanya tersenyum melihat tingkah seorang gadis yang akhir-akhir ini sedikit menarik perhatianya.

Selesai mengumpulkan semua data Nindi bergegas menyetorkanya pada guru kelas. Tiba-tiba sebersit ide jahil terlintas dipikiranya. Gadis itu mengambil lembaran milik Lian lalu membaca biodatanya singkat. Saat sampai pada bagian alamat, Nindi sedikit bingung dengat alamat yang dituliskan. Kompleks Batoro Katong Blok D No.10, daerah itu adalah kawasan dimana Nindi tinggal anehnya dia tak pernah menjumpai Lian di sekitar situ.
‘Mungkin dia baru saja pindah’. Akhirnya dia bergegas menuju ruang guru.

Karena terlalu penasaran terhadap alamat yang dibacanya tadi, Nindi memutuskan untuk mencoba mencarinya sepulang dari sekolah. Dimulai dari blok D nomor 1 hingga nomor 11 namun dari tadi dia hanya berjalan memutar dan tidak menjumpai nomor 10. Karena tak kunjung menemukanya gadis itu memutuskan untuk pulang ke rumah. Naasnya secara tidak sengaja dia melihat Lian menaiki motor bersama seorang gadis yang tak lain adalah Firsty, salah satu cewek tenar di sekolah. Melihat hal itu mata Nindi terasa panas dan berair meski tidak sampai meleleh ke pipinya. Nindi berencana mengikuti mereka berdua namun belum sempat dia bergerak motor itu berhenti tepat di depan sebuah rumah gedong tingkat tiga bertuliskan blok D nomor. 10 yang letaknya hanya beberapa meter saja dari tempat Nindi menyembunyikan dirinya.
‘Bagaimana mungkin aku tadi tidak melihat rumah sebesar itu?’ .
Gadis itu menunduk, dia merasa bersalah karena menjadi penguntit hidup orang lain sehingga dia memutuskan untuk melupakan semua kejadian yang dilihatnya hari ini. Dia melangkah keluar dari persembunyanya dan Lian melihat gadis itu melintas karena memang yang dilihat tidak berusaha bersembunyi lagi. Siswa lelaki itu secara refleks memanggil teman sekelasnya tersebut.
“Nindi!!!.” Mendengar namanya dipanggil bukanya menjawab gadis itu malah semakin mempercepat langkahnya.
“Hei Nindi.” Sepertinya ada rasa kecewa tersirat dari muka Lian namun dia masih terus menaggil, karena tak kunjung dijawab akhirnya Lian mengejarnya.
“Hei Xi Lu. Kau mau kemana?.” tiba-tiba Firsty menahanya.
“Sebentar, aku hanya ingin menemui temanku.”
“Lalu bagaiman denganku?.” Namun Lian tak menghiraukanya dan terus berlari meniggalkanya sendirian.
Beruntunglah kaki Lian yang pajang sehingga mudah baginya untuk menyusul langkah Nindi.
“Nindi, kau mau berhenti atau tidak?.” Sadar bahwa sekarang posisi mereka berdua terlalu dekat. Gadis itu tak mampu berkutat lagi, akhirnya dia berbalik sambil berpura-pura baru saja mengetahui keberadaan temanya itu.
“Eh Hai Xi lu.” Nindi memcoba bersikap senatural mungkin sambil menyunggingkan senyum dengan sedikit paksaan namun Lian hanya membalasnya dengan ekspresi yang sulit untuk ditebak.
“Kau, kenapa tak menjawab panggilanku? Padahal tadi itu begitu keras!.”
“Oh, maaf mungkin tadi aku tak mendengar panggilanmu!.” Cepat-cepat Nindi mengalihkan pandanganya.
“Tunggu!.” Sejenak mereka berdua diam. “Kenapa kau selalu berbohong padaku?.”
“Apa, tidak! K-Kau salah!”. Katanya.
“Ya aku salah! Seharusnya aku bertanya kenapa kau selalu berbohong dan terlihat gugup?.”
“M-maafkan aku lain kali saja aku menjawabnya, sekarang aku sedang terburu-buru.”
“Hei, bukan begitu cara memperlakukkan teman, setidaknya dengarkan ketika temanmu berbicara.” Kali ini Lian memberikan penekanan pada kalimat yang baru saja diucapkanya.
“Sungguh aku minta maaf, bukan begitu maksudku. Permisi!.”
“Tunggu!, kau bilang kau terburu-buru kan? Kalau begitu akau akan mengantarmu pulang.”
“Ah tidak perlu, rumahku juga terletak di kompleks blok D. Urus saja urusanmu sendiri.”
“kau berbohong lagi? Kenapa kau selalu bersikap seperti itu padaku?.” Jawabnya kesal.
“Tidak, rumahku memang di sekitar sini.”
“Di sekitar apanya?. Blok C nomor. 2 iya kan?. Karena kau sering berbohong padaku, sebagai konsekuensinya aku akan mengantarmu pulang ke rumah. Tunggu disini!”
“T-tapi” Nindi menghentikan kalimatnya yang belum selesai karena Lian terlanjur jauh meninggalkanya. Matanya memerah, sebentar saja namun gadis itu baru saja mengelap air matanya. Sungguh bodoh cinta monyet yang dia alami untungnya dia bukanlah tipe gadis yang akan mengunci diri di kamar seharian hanya karena patah hati, sehingga mudah baginya untuk sekedar melupakan hal-hal semacam itu.

Beberapa saat kemudian Lian kembali dengan motor mewahnya. Tanpa disuruh Nindi menaiki kendaraan tersebut dan kemudian mereka berdua melesat sangat kencang. Saat itu tak ada obrolan yang tercipta, keduanya memilih untuk diam dan larut dalam pikiran masing-masing hingga sampailah mereka berdua di sebuah rumah yang cukup besar dan terlihat rapi. Nindi turun dari motor tersebut lantas dia mengucapkan terimakasih. Mendengar penuturan tersebut Lian tersenyum dan membalasnya kemudian dia pamit pulang karena memang saat itu hari sudah menjelang petang. Nindi melihat kepergian Lian namun sekali lagi tatapanya kosong, mungkin sudah tiba saat baginya untuk melupakan pandangan pertamanya tersebut.

Beberapa hari setelah kejadian itu. Keduanya jarang berkomunikasi lagi. Bukan Lian tapi Nindi, gadis itu selalu berusaha menghindar dan bersembunyi saat berpapasan dengan Lian. Ketika berada di kelas Nindi selalu menyibukkan dirinya dengan buku-buku ataupun sok asyik dengan temanya yang lain. Dia tak ingin mengingat-ingat lagi rasa kagumnya, baginya dengan melihat Lian setiap hari sudah sangat cukup membuatnya tersenyum dalam hati.

Nindi bergegas menuju ke kantin sekolah. Jarang sekali dia pergi ke kantin namun hari ini materi fisika yang disampaikan gurunya membuat makanan-makanan di lambungnya terkuras habis apalagi sebentar lagi dia akan menghadapi ujian kelulusan bagi murid kelas 12 yang tentunya akan semakin bertambah jam belajar untuknya, sehingga setidaknya dia harus selalu menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat. Sesampainya disana dia memesan roti bakar dan jus jambu. Tanpa sengaja pandanganya menangkap gadis yang beberapa hari yang lalu baru saja dilihatnya. Dia melihat Firsty sedang berbincang dengan seorang siswa lelaki. Nindi memang tidak mendengar apapun yang mereka bicarakan namun dari penglihatanya logat mereka berdua seperti seorang kekasih baru saja. Sesaat kemudian datanglah Lian dia menarik lengan Firsty lalu berbicara dengan suara sedikit keras.

“Jadi seperti ini kelakuanmu di belakangku?.” Katanya mantab. Mendengar kalimat itu hati Nindi menceletos, ternyata yang dia duga selama ini benar bahwa Lian dan Firsty adalah sepasang kekasih.
“Lepaskan! Jangan pernah kau campuri urusanku Lian”. Firsty menangkis genggaman Lian sambil menujuk-nunjuk ke arah muka lelaki itu lalu dia meninggalkan Lian sambil menggandeng tangan siswa lelaki yang tadi duduk bersamanya.
“Jika kau tak lepaskan dia, kau tahu apa yang akan terjadi kan?.” Seketika langkah Firsty berhenti. Dia memutar badanya sambil melepaskan tangan lelaki disampingnya. Kemudian gadis itu berganti menggapit lengan Lian.
“Xi Lu, maafkan aku ya. Aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatan ini lagi.” Lian tersenyum mendengar permohonan itu.
Di sisi lain. Nindi yang dari tadi menyaksikan peristiwa hebat itu mendadak menjadi kenyang. Tanpa berucap ataupun menunggu yang lain dia meniggalkan tempat itu.

Saat di kelas Nindi melihat gurunya menerangkan hukum integral matematika namun pikiranya terbang entah kemana, kembali ke masa dimana dia melihat Lian dan Firsty saling bergandengan tangan membuatnya tak lagi bergairah untuk belajar lebih lama di kelas. Lian yang duduk jauh dari bangku Nindi melihat punggung gadis itu tanpa berkedip, pikiranya bergejolak. Lelaki itu merasa jika teman perempuanya mencoba menjauh darinya.
‘Memangnya apa salahku?’. Batinnya masih meraung-raung penasaran hingga gurunya melemparkan penghapus ke arahnya.
“Aduh!”. Pekiknya keras.
“Xi lu dari tadi kau hanya memandang tempat duduk Nindi dan mengabaikanku? Apa yang kau cari?”. Belum sempat untuk Lian menjawab, gurunya ganti memanggil nama Nindi.
“Nindi.” Sekali memanggil dan gadis itu masih diam. “Nindi!”, kali ini dengan suara yang lebih keras.
“Ah i-iya bu guru!.” Jawabnya kaku.
“Jadi dari tadi kalian berdua tidak memperhatikan materi? Sekarang berdiri di depan pintu kelas, di luar sana. Jangan ganggu temanmu yang masih serius belajar.” Katanya marah. Merka berdua keluar dari kelas.
Meski sedang dihukum Nindi masih diam bahkan terlalu diam. Sementara Lian mencoba menciptakan sebuah obrolan, setidaknya dia harus tahu mengapa gadis di sampingnya ini menjauh darinya.
“”Nindi, boleh aku bertanya?.” Katanya pelan.
“Maaf Xi lu, tapi sekarang kita sedang dihukuman, nanti saja”. Jawabnya dingin.
“Jangan Xi lu panggil saja aku Lian seperti teman yang lain”. Nindi hanya mengangguk namun Lian tak juga menyerah. Dia masih saja terus mengajak Nindi berbicara.
“Mau bermain truth or dare?”. Nindi menjawab dengan gelengan pelan.
“mau kan!. pilih Truth atau Dare!.” Katanya sambil tertawa ringan.
Mendengar pertanyaan itu seketika Nindi menolehkan kepalanya ke arah Lian lalu memandangnya tajam.
“Kau menyebalkan sekali.” Kini dia tak gugup lagi seperti biasanya.
“Kau kira dirimu tidak menyebalkan?. Selalu berbohong padaku.” Jawabnya enteng “Sekarang saatnya kau memilih truth or dare”.
“Tidak mau!.”
“ayolah!”. Lian memohon. “Huh! Kalau begitu dengarkan aku bicara, oke”. Namun Nindi tak menggubris sedikitpun. “Entah mengapa aku merasa kau menjauhi diriku, benarkah prasangkaku?.” Pertanyaan itu membuat Nindi terkejut, dia masih tetap bertahan dalam diam. “Sudah kuduga kau tidak akan menjawabnya, maka dari itu aku ingin bilang padamu bahwa.” Lian berhenti sejenak sambil mengatur nafasnya. “Bahwa, aku ingin memberi tahu sesuatu padamu tapi tidak sekarang. Kesimpulanya, untuk saat ini dan seterusnya jangan menghindariku ku, entah itu karena kelakuanku padamu atau alasan lain.” Nindi tak bersuara, lebih tepatnya dia membatu. Perutnya bergejolak penasaran. Sebenarnya apa yang akan disampaikan Lian padanya?. Dalam hati dia menyesal telah menolak permainan truth or dare tadi. Tiba-tiba bel berbunyi sangat keras membuyarkan lamunan Nindi.
“Xi lu dan Nindi.” Guru mereka keluar dari ruang kelas dan langsung menyapa dua anak tersebut. “Maafkan aku telah memberi hukuman seperti ini pada kalian. Guru mu ini tahu kalau kalian anak yang cerdas. Teruslah berusaha, ujian kelulusan sudah di depan mata.” Mendengar penuturan gurunya Nindi hanya membalas dengan senyuman yang tulus, melihatnya Lian juga ikut tersenyum seperti yang Nindi lakukan.

Ujian tinggal beberapa hari lagi namun malam ini Nindi masih belum menyentuh bukunya sedikitpun. Dia masih berpikir tentang kata-kata Lian tadi. Mungkinkah dia tak harus menjauh darinya? Tapi alasan apa yang membuat dirianya menjauhi Lian? Apa karena kekaguman yang dia rasakan?. Kemudian Nindi menempar-nampar pipinya pelan. Dia sadar kalau selama ini perasaan yang dirasakannya kepada Lian hanya kagum dan mungkin tidak lebih. Setelah menguatkan diri dia memfokoskan untuk belajar lebih giat lagi. Kali ini dia harus mampu membuat hatinya puas terhadap nilai yang didapatnya nanti.

Sayangnya hari-hari berjalan terlalu cepat. Saatnya bagi siswa kelas 12 untuk menentukan hidup dan matinya, dalam beberapa hari kedepan mereka akan melaksanakan ujian kelulusan. Di ruang ujian Nindi terlihat serius mengerjakan soal, pensilnya menari-nari di atas lembar jawaban. Matanya berbinar menandakan bahwa dia sangat yakin dengan jawabanya.

Setelah ujian berakhir, Nindi enggan untuk pergi ke sekolah dia memutuskan hanya datang ke sekolah pada saat pengumuman kelulusan saja. Selebihnya dia menolak untuk pergi alasanya tidak lain adalah karena dia tidak mau bertemu Lian. Dia takut jika yang ingin dibicarakan Lian adalah status hubunganya dengan Firsty sehingga meminta dirinya untuk tidak mengharapkanya lagi dan berbahagia melepaskan cintanya, namun Nindi berfikir ulang. Tidak mungkin kalau Lian akan membicarakan hal itu karena lelaki itu tidak pernah tahu perasaan Nindi terhadapnya. Lantas apa lagi? Apa yang ingin Lian katakan? Mungkinkah Lian juga menyukai dirinya? Sayangnya logikanya menolak berkata demikian. Bagi Nindi semua itu hanya mimpi, tidak mungkin seorang pangeran jatuh hati pada seorang gadis biasa, hal seperti itu hanya ada di dongeng yang sering dia baca.

Hari penentuan tiba. Nindi memakai seragamnya dengan rapi. Dia menyisir rambutnya yang terurai panjang. Sebelum berangkat gadis itu meminta doa restu dari kedua orangtuanya. Sesampainya di sekolah sudah banyak siswa yang hadir. Gadis itu masuk ke ruang kelas tepat ketika bel berbunyi. Beberapa saat kemudian wali kelas yang sudah dinanti datang. Beliau membagiakan amplop berwarna coklat pada semua muridnya. Perlahan Nindi merobek ujung amplop itu lalu dia membaca surat yang ada di dalamnya. Tertulis bahwa dia lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Belum sempat dia melipat kembali surat itu. Wali kelasnya tiba-tiba berteriak.
“Anak-anakku semua, selamat atas kelulusan kalian.”. Dia berdehem sejenak sambil membetulkan dasinya. “Selain itu kita juga patut berbangga karena di kelas kita ada dua siswa yang menduduki peringkat pertama dan kedua dari rangking parallel sekolah kita. Mereka juga masuk rangking sepuluh besar di tingkat kabupaten dan kota. Kita beri selamat pada Xi lu dan Nindi F.A sementara untuk ranking ketiga jatuh pada Firsty, murid dari kelas 12 IPA 7”. Sorak sorai terdengar riuh di kelas itu, tepukan tangan juga menggema bagaikan penghargaan yang sangat berarti bagi Nindi. Gadis itu tak menyangka jika jerih payahnya selama ini ternyata membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Sekilas dia melirik ke tempat Lian duduk, lelaki itu tersenyum sambil menundukkan kepalanya.

Buru-buru Nindi melangkahkan kakinya berharap tidak akan bertemu Lian lagi. Di sela-sela langkahnya dia mendegar sayup-sayup suara yang memanggilanya. Semakin dia berjalan cepat, semakin keras terdengar panggilan itu. Semakin dia berlari semakin jelas seseorang memanggil namanya. Semakin dia berlari kencang, tiba-tiba seseorang menghalangi langkahnya. Lelaki itu berhasil menyusul Nindi.
“Kenapa tidak menjawab panggilanku?.” Lian berbicara dengan sedikit terengah-engah, namun Nindi masih diam, bukanya gugup tapi kali ini dia juga berusaha mengatur nafasnya. “Mau berbohong lagi?.” Kata Lian, kini suaranya kembali jernih “Sekarang aku akan memberi tahu sesuatu padamu!.”
“Maaf aku harus pergi!.” Kata Nindi cepat, dia tidak mau menelan pil pahit seperti yang ditakutkanya beberapa waktu lalu.
Kembali Lian mengejarnya dan sekarang dia malah mencengkeran lengan Nindi kuat. “Dengarkan aku dulu!.”
“S-sakit.” Anehnya Nindi masih bisa merintih disaat seperti ini.
“Jika kulepaskan kau tidak akan pergi kan?.” Nindi hanya menganggk pasrah. Kemudian Lian melepaskan cengkramanya. Lalu dia mulai berbicara.
“Firsty itu anak dari teman karib ayahku. Ayah kami menginginkan anak-anaknya berhasil dalam belajar sehingga mereka meminta agar kami fokus dan meninggalkan hal lain selain itu temasuk juga berpacaran, haha terdengar bohong ya? Tapi ini nyata.” Mendengarnya Nindi hanya memasang wajah datar, seakan tidak terjadi apapun.” Sehingga ayah kami meminta kami berdua saling menjaga dan mengawasi agar tidak ada dari kami yang menjalin hubungan sebelum lulus dari bangku SMA, kurasa sampai disini kau sudah mengerti kan? Intinya Firsty itu bukan pacarku.”
“Lalu kenapa kau memberi tahu ku?.” Jawab Nindi dingin. Padahal sekarang perutnya kembali terpilin dan jantungnya terbakar berdenyut sangat cepat.
“kukira kau menjauh dariku karena kau mengira aku dan Firsty berpacaran”. Kata Lian sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan Nindi hanya diam. “Kenapa diam saja? Apa aku benar?” Lanjutnya sambil tertawa ke arah Nindi. Wajah gadis itu merona lalu dia membalikkan badanya. “Kenapa berbalik? Wah! Berarti dugaan ku selama ini benar! haha!”. Seketika itu juga Nindi berbalik lagi menghadap Lian, tapi kini matanya melotot tajam. “Baiklah aku minta maaf. Mungkin aku yang terlalu ke G-R an. Maaf ya”. Lalu dia berkata Lagi. “Nin, sekarang aku sudah membuktikan pada ayahku, sekarang tidak ada lagi aturan yang mengekangku seperti dulu. Jadi…” Kini Lian ynga gugup, dia hendak berkata namun urung lagi, lagi dan lagi. Hal itu membuat Nindi kesal yang akhirnya malah membuat gadis itu berani untuk berbicara.
“Jadi apa? Kau tidak mau segera bicara?. Baiklah kalau begitu aku pergi.” Katanya sambil membalikkan badan namun Lian kembali menghalangi jalanya.
“T-tunggu! Dengarkan dulu!”
“Cepat! atau aku pergi!” Saat Nindi akan melewati Lelaki itu lagi. Lian berteriak.
“Wo ai ni”. Dug, sekarang Nindi mampu mendengar detak jantungya sendiri, semoga tidak benar akan meledak. Dia masih diam, barangkali apa yang didengarnya hanya halusinasi. “kenapa tidak menjawab? Apa tidak dengar? Kurang keras?.” Saat akan Lian akan meneruskan kalimatnya lagi. Nindi memotongnya dengan gugup.
“Tidak, a-aku sudah dengar”.
“Jadi?.”
“J-jadi bagaimana?.” Mereka berdua diam. Perlahan Nindi menarik nafasnya pelan lalu dia meneruskan kalimatnya yang belum selesai. “Haruskah aku menjawab? Kurasa kau sudah mengetahui jawabanya dari awal”. Semburat merah jambu muncul di atas pipinya.
“Terimakasih telah menungguku selama ini, terimakasih juga untuk tidak berbohong lagi terhadap perasaanmu sendiri”. Lian mengambil tangan Nindi yang mencengkeram seragamnya. Lelaki itu menatap lekat-lekat gadis didepanya. Lalu dia tertawa ringan seperti biasanya. “Kau tahu, saat aku ingat kejadian di depan pintu kelas tempo hari, aku selalu ingat senyumanmu yang tulus. Kuharap kau akan sering memberikanya padaku.” Dan kata itu cukup untuk membuat senyuman Nindi muncul kembali.

“Mau bermain truth or dare?.” Gadis itu menawarkan permainan yang dulu belum sempat mereka lakukan.
“bagaimana kalau Truth and truth?.”
“Memangnya ada permainan seperti itu?.” Jawab sang gadis penasaran.
“Ada kalau kau mau melakukanya bersamaku.” Lelaki didepanya tertawa. “Saling jujur satu sama lain, meski hanya satu pertanyaan, berani!.” Godanya.
“Siapa takut!, kau duluan!.”
“Mengapa kau selalu terlihat gugup?.” Lelaki itu memberikan pertanyaanya tanpa berfikir lama.
“Karena ada kau di sampingku!.” Jawab gadis itu tak kalah cepat sementara lelaki di depanya tertawa. “Tapi itu dulu. Sekarang giliranku… emm kenapa semua orang memanggilmu Lian?.”
“Haha, pertanyaan yang konyol.”
“Apa itu nama kecilmu?.” Gadis itu semakin terlihat penasaran.
“Apa itu pertanyaan lain?.” Kembali lelaki di depanya menggoda gadis itu.
“Ayolah!.”
“Baiklah, coba kau ingat-ingat lagi. Bukankah kau sudah membaca data diriku?.”
Sejenak Gadis itu berfikir lalu dia menjawab dengan ragu. “Nama ayah mu?.”
“Tepat, gadis pintar!” Sahut lelaki itu sambil menjentikkan jarinya.
“Tunggu!”
“Apalagi?.”
“Bagaimana kau tahu kalau aku sudah membaca data dirimu?.” Gadis itu kembali bertanya.
“Aku tahu semua tentangmu jauh sebelum kau tahu semua tentangku.” Jawab lelaki itu yang sukses menbuat mata gadis itu tersenyum indah.

Cerpen Karangan: Titik Farida
Facebook: Titik Ens

Cerpen My First Sight merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Takdir, Aku dan Aries (Part 2)

Oleh:
Dear Aries… Kamu masih penasaran kan dengan kelanjutan ceritaku? Kau tahu betapa aku merindukanmu? Seandainya aku bisa menceritakan kisah ini langsung padamu. Kamu mungkin tak punya waktu membaca semua

You Are My Destiny (Part 2)

Oleh:
Cuplikan “You Are My Destiny 1”: Sonia (21 tahun), putri seorang pengusaha kaya yang sedang berlibur sendirian di villa tepi pantai berkenalan dengan Andra (24 tahun). Beberapa hari Sonia

Jason, Aku Mencintaimu!

Oleh:
Aku memandangi tubuh tinggi salah satu personil Jasuka Band yang sedang serius memukulkan dua buah stik pada drum besar di hadapannya. Dia Jason, cowok yang telah tiga bulan ini

Janji yang Sempat Tertunda

Oleh:
“Hai, bagaimana kabarmu selama ini?” ucap seseorang di ujung telepon yang membuatku meneteskan bulir bulir air mata. Sebelumnya namaku anggun, ‘cantik, lemah lembut, bisa berdandan, rajin, pintar, dll’ Yup!

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *