My Lovely Ex-Boyfriend

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 13 March 2019

Mataku menatap lesu bayangan wajah yang ada di hadapanku. Beberapa riasan make-up sudah menghiasi wajah yang sebenarnya sudah indah. Kuraih lipstick merah kesukaanku untuk menutupi bibirku yang berwarna merah jambu itu.

Beberapa menit berlalu aku pun keluar dari kamarku hendak menghampiri kedua orangtuaku yang sedari tadi menantiku. Entah apa tujuan mereka menyuruhku menggunakan pakaian formal hari ini. Kulihat jam tangan bermerk mahal telah menggelang di tangan papaku. Jam yang hanya dipakainya ketika ada acara penting karena didapatnya dari ibu saat hari ulang tahunnya

Papaku merupakan seorang pejabat tinggi negara sedangkan ibuku ada pegawai bank swasta yang cukup besar juga. Wajahku mirip dengan papaku yang mancung dan memiliki mata biru. Sedangkan dalam hal bentuk tubuh aku seperti ibu yang memiliki tubuh berbentuk gitar Spanyol.

“Nisa, ayo cepat sini.” Kata papa memanggilku ke arah meja makan yang sudah berisi banyak makanan dan lilin-lilin layaknya sebuah jamuan romantis untuk pasangan yang saling mencintai satu sama lain.
“Ngapain pa?” aku mendengus kesal ke arah papa. Aku sangat benci kalau disuruh memakai formal. Baju yang terlalu ketat menambah ketat pikiranku.
“Penasaran ya?” goda papa sambil tertawa dengan ibu
Aku menghembuskan nafas semakin panjang karena merasa kesal dengan papa ditambah dengan suara tawa ibu. Aku berjalan menuju ke arah lemari. Kugunakan tangan kananku untuk mengambil novel untuk mendinginkan hatiku yang sudah sangat panas karena candaan papa.

Kudapati novel berjudul ‘A’. Novel yang bercerita tentang kisah cinta beberapa anak SMA. Sudah berkali-kali aku membaca novel tersebut namun tak sekalipun aku merasa bosan setelah membacanya. Kebaperan yang ditimbulkan novel itu membuatku tidak dapat tidur dengan tenang di malam hari.

Novel yang kudapati dari seorang pria berhidung mancung yang sangat kusayangi. Ah mengapa aku memikirannya lagi bukannya dia sudah meninggalkanku. Bukannya dia tidak sayang denganku? Pikiranku terasa melayang-layang memikirkan pria itu. Kejadian yang terjadi beberapa tahun lalu di daerah Puncak.

“Nisa, aku ada hadiah nih buat kamu.” Kata seorang pria sambil memberikan bungkusan kado yang ada di tangannya. Tatapan lembut pria tersebut mampu meluluhkan hati Sanisa yang saat itu panas dibuat sahabatnya Tania.
“Apa ini?” Tanya Sanisa sembari melihat dengan tajam ke arah bungkusan kado tersebut.
“Liat aja nanti,” katanya sambil menarik pipi Sanisa yang tembem menjadi merah seperti warna pada cabai merah.
“Awas kamu Devaldo.” Jerit Sanisa kepada pria yang ternyata bernama Devaldo itu.
“Jangan marah dong sayang.” Devaldo tertawa melihat wajah Sanisa yang merah itu. Devaldo mengelus lembut rambut panjang Sanisa. Segera ia menarik tangan Sanisa dan berbaring di rerumputan yang bewarna hijau cerah. Desiran angin barat menambah kehangatan sore itu.

Devaldo menatap ke arah Sanisa dan ke arah bungkusan kado yang ada di samping Sanisa. Seakan Devaldo ingin Sanisa membuka kado tersebut.

Sanisa meraih kado tersebut, dihirupnya dengan lembut wewangian yang berasaldari kado tersebut. Wewangian seperti wangi sebuah buku baru. Dengan perlahan Sanisa membukanya. Devaldo yang duduk di samping Sanisa tersenyum dengan lembut, matanya tidak berkedip sama sekali. Sepertinya ia tidak ingin kehilangan momen saat Sanisa terkejut melihat kado darinya.

“Novel apa ini?” tanya Sanisa sambil tersenyum ketika melihat judul novel yang begitu singkat.
“Itu novel A sayang bisa baca gak, kalau ga bisa biar Devaldo ajarin.” Jawab Devaldo diiringi dengan tawa dari Sanisa. Tawa yang menghangatkan semua suasana yang dingin.
“Kok pendek banget judulnya Valdo”
“Sengaja milih yang pendek begitu nanti kamu tahu deh apa maksudnya.” Jawab Devaldo tersenyum.
Senyuman manis Devaldo menghangatkan hari terakhir mereka berkemah di Puncak setelah mereka tiba tiga hari yang lalu. Begitu banyak kenangan manis mereka di tempat itu. Segera Devaldo menyuruh Sanisa untuk mempersiapkan barang-barangnya agar segera pulang.

Beberapa hari berlalu Devaldo tidak memberikan kabar sama sekali. Wajah Sanisa kelihatan sangat cemas menanti Devaldo. Diliriknya novel Devaldo yang sejak diberikan kepadanya tidak pernah dibuka olehnya. Segera tangannya meraih novel tersebut dan membukanya. Wewangian harum masih terdapat di novel itu. Sanisa mendapati surat di dalamnya.

Buat Sanisa

Sanisa kalau kamu melihat novel ini. Memang memiliki judul yang begitu singkat tapi novel ini memiliki isi yang banyak. Itu seperti kisah cinta kita Sanisa, aku baru mengenalmu dalam jangka waktu yang singkat ini tapi entah mengapa aku mencintaimu seperti aku akan menjadikanmu yang terakhir. Sanisa, aku ada proyek di Australia aku ingin kita break dulu Sanisa. Semoga kau setuju sayang dan aku akan kembali.

Dari Devaldo

Sanisa meneteskan air matanya ketika membaca isi surat Devaldo. Begitu cepat dia kenal Devaldo tetapi begitu cepat juga Devaldo pergi meninggalkannya. Walaupun Devaldo hanya meminta break tetapi Sanisa sudah menganggap Devaldo sebagai mantan. Sanisa sangat benci ketika seseorang meninggalkannya disaat dia masih sangat sayang kepada orang itu
‘Kamu Jahat Devaldo’ hanya itu kata-kata yang terlintas di pikirannya.

Suara bel rumah Sanisa berbunyi menghilangkan semua hal yang baru saja dilamunkannya. Lamunan yang begitu terngiang-ngiang hingga ke bagian otak yang begitu dalam.

“Nisa, buka pintunya,” perintah mama.
Dengan lemas aku menuju ke pintu tersebut. Beberapa perabotan rumah telah kulewati. Dengan perlahan aku membuka pintu tersebut.
“Devaldo,” teriakku spontan ketika melihat Devaldo berada dihadapanku.
“Ngapain ke sini?” tanyaku sambil membalikkan badanku dari hadapannya.
“Aku kan sudah bilang aku akan kembali” ujarnya dibarengi dengan dua gigi taringnya yang membuatnya tersenyum seperti vampir.

Dengan cepat Devaldo memelukku dan berbisik kepadaku ‘AKU SAYANG KAMU SELAMANYA’
Aku membeku mendengar pernyataan Devaldo, aku juga masih sangat menyayangi orang yang sudah dianggapnya sebagai mantan tersebut. Mantan yang seharusnya dibuang olehnya malah direcycle oleh hati terdalam Sanisa. Devaldo pun masuk ke dalam rumahku dan mengajak orangtuanya yang ada di dalam mobil untuk menemui Sanisa.

“Wow, jadi ini nih menantu mama Do?”
“Cantik juga ya,” puji mama Devaldo
Aku tersipu mendengarnya. Perasaanku ingin melompat hingga ke langit ketujuh. Mulutku seketika terkunci ketika mama Devaldo memujiku.

Devaldo pun bersalaman dengan orangtuaku yang ternyata telah tahu tentang Devaldo dan kedatanganya. Setelah kedua keluarga itu bersalaman mereka pun duduk. Aku dengan cekatan mempersiapkan piring yang akan kami gunakan untuk makan.

“Will You Marry Me?” Tanya Devaldo kepadaku sambil mengancungkan cincin kepadaku.
Aku membeku mendengarnya, Devaldo memang selalu membuatku seperti itu. Aku hanya bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaan tadi. Tak satu kata pun keluar dari bibir yang telah berwarna merah itu.
Devaldo segera memelukku, dia menganggap anggukanku tadi sebagai jawaban iya.
Aku berharap Devaldo adalah yang terakhir dan yang terbaik buatku.

Cerpen Karangan: Kevin J D Pakpahan
Blog / Facebook: kevin jeremy dirgantara pakpahan

Cerpen My Lovely Ex-Boyfriend merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Em dan Kim (Part 2)

Oleh:
Waktu berlalu. Em kini menjabat sebagai Manajer Engineering di sebuah Perusahaan Multinasional. Kariernya melesat dalam waktu singkat karena Em adalah pemuda yang rajin dan pintar sehingga jajaran Direksi mengangkatnya

Cinta Karin

Oleh:
Cinta bukan sekedar hasrat ingin memiliki kecantikan nya atau apapun yang dimilikinya dalam bentuk sempurna. Cinta berawal dari hati yang keluar tanpa sadar telah menyentuh sisi terbaik dalam menyampaikan

Cinta Sepeda Ontel

Oleh:
Dahulu kakek pernah bercerita mengenai sejarah sepeda ontel miliknya kepadaku. Tentang bagaimana beliau menggapai impiannya dengan mengayuh sepeda setiap hari menuju sekolah yang jaraknya berkilo-kilo meter, tetapi walau demikian

When Friend Become Worst Enemy

Oleh:
Perubahan sikap Allam yang semakin mencurigakan membuatku penuh rasa kepo. Sudah 3 hari belakangan ini dia menjadi aneh. SMS, chat, sama sekali tidak ada. Tadi pun dia tak tampak

Amnesia

Oleh:
Kalau ditanya apa keinginanku saat ini, pasti dengan yakin bakal kujawab pengen banget amnesia. Kaya’nya seru juga. Nggak tahu, terlalu banyak yang dipikirin, terlalu banyak masalah buat aku ngerasa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *