My Star, Edelweis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 28 November 2017

Edelweis tahu, dia juga sadar semua yang ada pada dirinya saat ini hanya sebagai simbol, simbol kedudukan serta kekuasaan dari keluarganya sendiri. Betapapun ia menolak semua fasilitas juga uang jajan yang dinilainya mirip gaji seorang manager perusahaan kilang minyak, tetap saja orangtuanya akan memaksa.

Semua ini menjadikan Edd dikenal sebagai siswa terkaya di sekolahnya. Namun kaya bukan jaminan disayang banyak orang, baginya tidak ada teman yang tulus. Temannya hanya menganggap dirinya sebagai simbol. Bagi mereka, bisa berteman dengan Edelweis dapat mengangkat pamor mereka di hadapan banyak orang.

Edelweis Andrean, atau yang akrab disapa Ed, merutuk kembali akan nilai kimianya. 95. Seharusnya dia bisa mendapatkan angka 100 hari ini, ia sangat yakin akan hal itu. Dilihatnya lagi kertas kusut di tangannya, matanya menyipit melihat letak kesalahan yang ia tulis.

“Dapet berapa Edd?” tanya Daren, teman sebangkunya yang agak petakilan. Menurutnya.
“Nilai gue gak memuaskan banget, lo dapet berapa Ren?”
“Kambing emang lo, sebelumnya lo dapet nilai 100 pun, lo juga bilang gak memuaskan, gue mah dapet nilai 70 aja bersyukur banget.”
Edd hanya membuang wajahnya bosan, teman-temannya selalu menganggap enteng nilai. Bukankah sekolah Elit dan mahal itu rugi kalo gak dapet nilai bagus. Setelah ini ia harus membeli buku kimia yang lebih lengkap agar nilai ujiannya nanti lebih baik dari ini. Edelweis mengatur lagi letak kacamata tebalnya, juga memasukkan bajunya saat dirasa tidak rapi lagi.

Ia melihat ke arah pintu, belum ada tanda teman-temannya datang. Biasanya ia akan diajak ke kantin, bersikap seolah akrab padanya, menawarkan cewek-cewek hits di sekolah padanya atau mengajaknya hang out bareng. Tapi semua itu dianggap angin lalu olehnya. Ia tahu ia jelek, cupu, atau gak sekeren teman-temannya. Bukan karena ia tidak mau berpenampilan seperti remaja gaul, hanya saja ia sedang tidak ingin.
Kehidupan masa SMA yang datar ini seolah menjelaskan kesederhanaannya.

Namun kehidupan tidak sesederhana kelihatannya, terkadang dirinya menemukan hal-hal yang jauh lebih rumit dari rajutan benang benang kusut.
Ketika sesuatu yang ia suka menjadi tidak jelas, ia akan mulai merenungkan letak kesalahannya, seperti sekarang, pacarnya minta putus karena hal sepele. Alina, pacarnya sejak 1 tahun 2 bulan lalu termasuk jajaran cewek paling famous di sekolahnya, idola para cowok yang anehnya justru memilih Edd sebagai pacarnya. Karena itu wajar saja jika Edd sangat frustasi ketika hubungan mereka berakhir. Kesalahannya kemarin rasanya bukan alasan satu-satunya Alina minta putus.
Ia yakin ada hal lain yang Alina sembunyikan darinya, tapi apa? Apa Alina bosan dengannya. Jika itu alasannya mereka bisa break dulu kan? Apa Alina tidak mencintainya lagi. Tapi, apa yang salah dengannya hingga Alina tidak mencintainya lagi?

Pagi ini seperti biasa ia menggunakan mobil CRV putihnya ke sekolah, lengkap dengan kacamata tebal, buku tebal semua serba tebal termasuk wajahnya. Tapi ada yang berbeda pagi ini baginya, kursi di sampingnya kosong, tidak ada Alinanya, biasanya setiap pagi ia akan mengantarkan cewek itu ke kelasnya. Memang tidak seperti seorang cowok ke pacarnya, lebih mirip seperti putri pada pelayannya.

Edelweis menyadari sikap Alina, mungkin ia malu memiliki pacar dengan tampang jelek, dan cupu seperti dirinya ketika di sekolah. Tak bisa dipungkiri sikap Alina sangat berbeda, Alina sangat perhatian ketika mereka di luar sekolah, tidak ada tembok atau perasaan enggan bagi mereka bercengkrama. Namun ketika di sekolah, Alina adalah penggambaran cewek materialistik yang hanya mengincar hartanya, menelantarkannya ketika berpapasan dengan siswa lainnya.
Sekalipun di sekolah ia punya banyak teman laki-laki yang most wanted, ketua ekskul ataupun cowok cerdas sepertinya, tetap saja dia paling jelek jika berjejer dengan mereka. Itulah mengapa tidak ada satupun cewek yang menganggapnya layak, kecuali Alinanya. Gadis itu satu-satunya manusia yang membuatnya betah di sekolah ini, terkadang ia memilih berlama-lama di lapangan untuk melihat Alina latihan Cheers daripada di perpustakaan yang merupakan tempat favoritnya.

Edelweis melihat Alina di koridor, bergandengan tangan dengan Bimo, Badboy sekolah sekaligus cowok terkeren di sokolahnya. Kalau boleh rasanya ia ingin meninju cowok itu sekarang, ia tidak suka Alinanya dipegang-pegang cowok lain. Namun melihat sikap acuh Alina yang tak menoleh sedikitpun ketika lewat di depannya membuatnya tersadar. Alina bukan pacarnya lagi.

Sorenya ketika ia dan adiknya, Emerald, sedang memilah novel terbaru di toko buku langganannya, Alina menghampirinya. Tangannya digandeng menuju luar toko, Edd hanya diam ketika kaki mereka mulai melangkah menuju kafe favorit mereka selama ini. Tempatnya sederhana, juga dekat dengan toko buku.

“Aku cuma mau bilang.. maaf Edd, d..dan Makasih buat selama ini” Tiba tiba sebuah kristal bening merembes di pipi mulusnya.
Edelweis berdiri, lalu menghampiri kursi Alina di depannya. Dipeluknya gadis itu dari belakang, sementara tangan kanannya terulur untuk menyapu kristal bening itu dari wajah Alina.
“Kamu gak perlu bilang maaf Al, dan harusnya aku yang bilang makasih. Makasih selama ini udah jadi bagian dari hari-hari aku, boleh aku tanya sesuatu?”
Alina mengangguk, namun dadanya masih bergetar karena menangis.
Wajahnya menengadah ke atas, mencari mata laki-laki yang memeluknya.
“Kenapa dulu kamu mau jadi pacar aku, dan kemarin kamu tiba-tiba putusin aku dengan alasan gak logis, jelasin semuanya Al, biar aku gak berharap lagi kayak gini.” Sakit. Itulah rasa yang harus dibayar Edelweis ketika kata-kata itu tiba-tiba meluncur dari bibirnya.
“Edd kamu percaya nggak, kalo aku bilang aku suka kamu apa adanya?” Edelweis tersenyum masam sambil mengangguk ragu, hatinya sedang diliputi rasa tidak menentu. Namun tak dapat dipungkiri ada secuil rasa bahagia di dalamnya.
“Tapi ada beberapa hal yang udah gak sama lagi, Edd. Ak.. aku gak bisa. Hari ini aku mau pamitan sama kamu”. Air muka Edelweis memelas seketika, matanya berubah sendu. Pernyataan Alina memberi penegasan padanya tentang landasan hubungan mereka selama ini. ‘beberapa hal udah gak sama’.
“Ke mana?”
Alih-alih menjawab, Alina justru melepas pelukan Edelweis, tangannya mengusap kasar wajahnya yang sembab, lalu ia berdiri dan berbalik memeluk Edelweis erat, sangat erat. Hingga Edelweis mengira ia akan mati hari ini jika berpisah dengan Alina.
“Ich liebe dich, you are My Star Edelweis. Aku pergi”
“Aku gak akan lepasin kamu Alina” dan sore itu menjadi sore paling suram bagi Edelweis.

Hari berganti tahun, kisah pahit itu ia simpan sendiri sebagai kenangan, sebagai jalan penerang untuknya merubah masa depan. Merubah semua hal buruk yang ada padanya termasuk penampilan. Tak ada lagi Edelweis sekarang, yang ada hanya si tampan Andrean. Semua yang melekat padanya adalah lambang dari kekuasaan yang tinggi serta kerja kerasnya.

Suatu malam di penghujung bulan februari, ketika Andrean sedang menikmati segelas minuman di acara pelelangan amal, matanya menangkap sesosok wanita yang mampu menggetarkan hatinya dulu. Tapi ia tidak sendiri, melainkan berdua dengan salah seorang eksekutif muda seperti dirinya.
Tunggu, ia mengenal laki-laki itu. Mereka melihat ke arahnya, berjalan menuju tempatnya berdiri sekarang.

“wow, wow wow, Andrean, bagaimana kabarmu?” dijabatnya tangan kokoh lelaki itu sambil berusaha mengendalikan diri.
“Baik, Anthony. Dan nona? Alina”
“Ah, kalian saling kenal” Anthony bedecak tak percaya sedang wanita itu hanya menggeleng cepat, terbentuk kerutan aneh di dahinya. Andrean mengulurkan tangannya, lalu memamerkan senyum semanis mungkin pada wanita itu.
“Andrean” wanita itu menatap andrean sepersekian detik, lalu dengan cepat menyambut uluran tangan itu.
“Alina”
“Apakah kau mau menungguku di sini, aku akan menemui Mr. Rudolf di sebelah sana?” Anthony mengisyaratkan wanita itu untuk diam di tempat yang sama dengan Andrean, ia mengangguk dan membiarkan Anthony pergi.

Kini hanya ada ia dan Andrean. Suasana berubah menjadi tegang seketika.
“Kamu pacarnya Anthony?” wanita itu menggeleng.
“Tunangan?” lagi ia menggeleng.
“Aku hanya pasangannya di acara amal ini, Andrean. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” wanita itu bertanya sambil menatap lekat mata biru Andrean.
“Hahahaha, tidak kurasa. Tapi aku pernah melihat fotomu di majalah fashion adikku” andrean berusaha mencairkan suasana di antara mereka, membuat sikap wanita di sampingnya menjadi lebih rileks sekarang. mereka berbincang-bincang ringan seputar bisnis dan, Anthony.

“Kau sangat lucu Andrean, kau tahu kan pinguin itu tidak bisa hidup di negara kita, lalu kenapa kau memelihara mereka, hahahaa” mereka berdua tertawa, hal yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
“Aku bahkan sempat menaruh ikan peliharaanku di dalam bubuk kayu yang kuberi air” Andrean kembali mengingat ketika ikannya sudah tidak bernyawa esok harinya. Ibunya bahkan menyuruhnya membersihkan kolam renang karena itu.
Sejak itu hubungan mereka semakin dekat, disela-sela sibuknya pekerjaan mereka, ada waktu tersendiri untuk berbagi cerita mereka masing-masing. Alina merasa nyaman bersama Andrean.

“Al, aku mau jujur sama kamu” mereka berada di perjalanan pulang setelah menonton bioskop. Alina memandang ke arah Andrean dengan raut curiga.
“Kenapa, tadi kamu nyuri dompet lagi? atau popcron orang kamu bawa? Jangan-jangan sendal kamu ilang lagi ya?” Goda Alina.
“Hati aku ilang, kamu curi” kalimat gombalan Andrean tak membuat alena bersemu, justru sebaliknya, raut wajah Alina mengeras, ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar.
“Lo harus tahu batasan lo Andrean, kita emang deket tapi hati gue Cuma milik seseorang, dan akan tetep seperti itu sampai dia datang dan nyuruh gue pergi”
“Sorry, Al. Aku gak maksa kamu sekarang”
“Siapa laki-laki beruntung itu Al?” Alina tersenyum, lalu membuka ponselnya, mencari sebuah foto yang menjadi penyemangatnya selama ini. Setelah dapat, ia menunjukkannya pada Andrean.

“Kamu serius ini orangnya?” Andrean menuntut jawaban pasti dari Alina.
“Ya. Dia emang kalah fisik sama kamu atau lelaki manapun, tapi aku sayang sama dia”
“Kalau dia udah punya tunangan, kamu tetep cinta? Mending sama aku aja.” wajah Alina berubah sendu seketika ketika kata ‘tunangan’ itu terucap.
“Kamu kok gitu sih Andrean. Kalaupun dia udah tunangan gak papa, asal nikahnya sama aku” Alina memukul lengan Andrean, dia sebal karena andrean membuatnya terbakar api cemburu.
“Berarti kalo dia ngelamar kamu sekarang, kamu bakal nerima dong”
“Pasti” Alina mengangguk mantap menanggapi candaan Andrean.
“Ya udah, bulan depan kita nikah deh Al” Sebuah tas Gucci keluaran terbaru melayang di wajah Andrean. Alina ingin meninju laki-laki ini sekarang. Tangannya mengayun di udara, namun dengan sigap dicekal oleh Andrean.

“Kamu harus lihat ini” Andrean memperlihatkan sebuah gelang di pergelangan tangannya. Di sana tertulis ‘Edelweis & Alina’.
Alina diam membeku di tempatnya, raut wajahnya memanas. Saat itu juga ia memeluk Andrean, menangis sesenggukan sambil memukul punggung Andrean.
“Kamu jahat, Edd. Aku benci kamu” Alina masih menangis menumpahkan segala kerinduannya.
“Jadi bulan depan kita nikah kan Al” ucapnya sambil cengingisan di atas tangisan Alina. Tangannya mengusap lembut rambut Alina, menenangkan wanita itu.
“Enak aja, bulan depan Anthony yang menikah tau. Tahun depan aja ya?” wajah Alina berbinar menatap laki-laki di depannya.
‘Edelweisnya, bintangnya, dunianya’. Dan mereka akan membangun dunia mereka setelah ini.

Cerpen Karangan: Maulida Solekhah
Facebook: Maulida Solekhah
Universitas Trunojoyo Madura

Cerpen My Star, Edelweis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Salah Paham

Oleh:
Tak diragukan lagi, cinta memang bisa hingap ke hati siapa pun. Tak terkecuali oleh pasangan kekasih Martha dan Nirwan. Mereka sangat mesra dan mencintai satu sama lain. Martha adalah

I Have No Reason

Oleh:
Tawa renyah masih menghiasi bibir merahnya. Jari-jari itu masih mengait erat di lenganku. Dan senyuman kecil tercetak di bibirku. Senyuman tulus yang tak kusadari sebelumnya. “Tepati janjimu!” Tagih gadis

Cinta 70an

Oleh:
Sebutan anak 70an untuk seseorang di jaman globalisasi ini pasti bisa membuat seseorang depresi. Pikirkan saja, di jaman yang serba modern ini dipanggil sebagai “anak 70an” sama saja kalau

Secantik Sakura

Oleh:
Terik mentari menyambut jiwa yang bangkit dari tidur malamnya. Seperti biasa diceknya hp sebelum pergi ke kamar mandi dan seperti biasa pula pasti ada sms dari kekasihnya, “Selamat pagi,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *