Nina Dika

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 3 June 2017

“Aku tidak terlalu tergesa gesa, sebab kau tidak lagi menungguku di pinggir jalan.”

“Kita adalah rindu yang disembelih waktu” kata lelaki itu, seraya tengadah menatap langit senja sore ini.
“Maksudmu?” Tanya si wanita di sampingnya seraya melihat muka lelaki itu yang sangat penuh penghayatan menatap senja.
Si lelaki itu hanya diam tidak menjawab pertanyaan si wanita. mungkin itu pertanyaan yang tidak perlu si lelaki jawab.
Mereka berdua kembali lagi menatap danau yang menjadi kemerah merahan karena senja.
“Aku suka sekali senja” kata si lelaki itu.
“Ya, kau sudah berpuluh puluh kali memberi tahuku”
“Haha jangan manyun gitu, aku suka senja yang di sampingku”
“Tapi aku bukan senja, aku ini nina”
“Iya benar, aku sangat suka sekali senja nina”
“Namaku NINA ERINDA bukan senja nina” kata wanita itu seraya manaruh tangannya di pigang dan memasang muka yang sedemikian rupa untuk menujukan kemarahannya.
“Haha kau tau? Kau itu seperti senja, merah malu dan menghangatkan, kau selalu memabukanku seperti senja”

Di pertengahan pekan setelah nina pulang kerja dika selalu datang menjemputnya untuk sekedar datang ke sebuah danau kecil di kotanya untuk menyaksikan senja. Mereka adalah pasangan muda yang selalu tertawa riang dan berdebat manis seperti pada umumnya. Tapi tengah pekan kali ini ada yang berbeda karena dika lagi lagi menanyakan sebuah pertanyaan yang sering ditanyakannya. “Kapan aku kamu kenalkan ke orangtuamu?”
Dan itu adalah pertanyaan yang nampaknya sulit nina jawab. “Akan aku jawab setelah kamu traktir aku bakso” seraya menari narik tangan dika yang masih penasaran dengan pertanyaannya.

Setelah di tempat tukang bakso nina selalu seperti biasanya. Ia selalu sibuk dengan mangkok baksonya.
“Tumben sekali, kau tidak mangejekku dengan kata kata DASAR PENGGILA BAKSO” Kata nina seraya melihat muka dika yang sedari tadi menatap nina dengan tatapan kosong.
“Hmmm, baiklah akan aku jawab pertanyaanmu” lanjut nina. Sepertinya nina mulai menyadari ketidak-nyamanan dika saat ini.
“Hugghhh, aku tidak tau harus memulainya dari mana dik”
“Mulai saja dari awal, aku akan mendengarkanya” kata dika yang sangat semangat sekali.
“Kau boleh membenciku setelah ini, yang jelas aku harus menceritakan ini kepadamu” kali ini nina melepaskan garpu dan sendoknya, mungkin kali ini wanita penggila bakso ini mulai tidak berselera makan.
“Dik, aku sudah dijodohkan. Itu alasan mengapa aku tidak pernah mengajakmu ke rumah” lanjut nina menjelaskan.
Kali ini dika yang mulai memegang garpu dan sendoknya, ia berantakan memakan bakso yang sedari tadi hanya ia lihat saja. Sepertinya dika menahan sedih atau berpura pura tegar. Lalu dika tersenyum manis dan berkata “ayo abisin dulu baksonya” Itu hanya kata kata basa basi dari dika dan nina pun hanya menatap dika kosong.
“Sepertinya kau tidak terkejut?” Tanya nina.

Seperti biasa, nina menunggu dika di pinggir jalan tempat ia berkerja. Dika datang dengan sepeda motornya.
“Kau selalu tergesa gesa, berhati hatilah saat mengendari motor” Itu adalah kata kata yang sepertinya wajib nina katakan saat dika datang menjemputnya.
Dan dika pun hanya tersenyum manis seperti biasanya.
“Kau rupanya nampak berubah setelah aku katakan bahwa aku sudah dijodohkan” kata nina.
“Itu hanya perasaanmu saja” kata dika melunakan ketegangan hati nina.

Tapi apa yang terjadi di pertengahan pekan berikutnya kawan?
Dika tidak datang menjemput nina. Kali ini wanita manis yang selalu berkerudung panjang itu menunggu dika sampai berjam jam. Tapi sayang dika tidak datang, banyak sekali orang orang yang menawarkan tumpangan ke nina. Nina hanya menggelengkan kepalanya, nina hanya ingin dika. Benar dugaan nina, dika akan menjauhinya. Pergi menghilang dari pandangan matanya.

Nina melangkah pulang dengan kaki gontai dan kerudung yang sudah basah dengan air mata. Nina hanya wanita yang tidak berdaya dan tidak tau harus seperti apa. Nina tidak mampu melawan orangtuanya nina juga tidak mampu membunuh bayangan. Nina tidak mungkin mengirim pesan duluan terhadap dika, nina juga tidak mungkin menelepon dika. Entahlah, kadang memang wanita suka berpikir aneh. menunggu tapi malu untuk menujukannya. Nina hanya terbaring di kamar menunggu dika menelepon ataw sekedar mengirim pesan menjelaskan keterlambatannya menjemput nina. Tegang nampak di muka nina saat handphone nina berdering, namun lagi lagi ia memanyunkan bibirnya saat ia tau itu bukan pesan dari dika.

Pagi tiba dan dika masih saja menghilang. Pagi yang aneh bagi nina. Bukan karena kenari yang berceloteh, bukan pula karena angin dari barat yang menghantarkan kebekuan sekujur tubuhnya. Tapi karena dika, dika dan dika. Mungkin kawan kawan sekalian pernah merasakan hal yang sama seperti nina. Kehilangan sesuatu yang tak mampu untuk ditahan tetap tinggal. Sebab nina berpikir jika ia menahan dika sama halnya menyakiti dika karena nina tidak mungkin melawan orangtua yang sudah membesarkannya, orangtua yang sudah memberi kasih tanpa berharap dikasih. Orangtua yang terus terusan ingin yang terbaik untuk anaknya. TAPI nina hanya perempuan biasa, ia akan terluka jika seseorang lelaki seperti dika meninggalkannya tanpa pesan.
Dika adalah lelaki yang mengajarkan nina untuk tetap ceria, mengajarkan nina untuk menikmati hidup sesimpel mungkin. Seperti memakan bakso di lesehan ataw sekedar memandang senja di tepi danau.
Pagi ini rasanya aneh sebab tidak ada pesan “selamat pagi peri kecil” dari dika untuk nina. Nina hanya ingin di kamar dan menunggu handphonenya berbunyi karena dika tapi nyatanya belum juga kunjung berbunyi.

“Kau tidak kerja nak?” Kata lelaki paruh baya yang tiba tiba datang di pintu kamar nina.
“Tidak ayah, sepertinya aku cuti dulu hari ini” kata nina tersenyum
“Apa kau sakit?”
“Tidak juga, aku hanya ingin bermalas malasan saja hari ini”
“Baiklah, ibumu sudah menunggu untuk sarapan di meja makan”
Bruuukkk…!!! Pintu kamar nina ditutup lagi oleh bapa paruh baya itu.

Kring…. kriingg… kriiinggg…
Akhirnya, suara telepon dari orang yang nina tunggu datang juga.. Nina butuh ribuan ion dan beberapa persiapan husus untuk mengangkat telepon dari dika setelah beberapa detik dibiarkan berdering akhirnya nina siap mengangkat teleponnya.

“Hallo” Kata dika yang nampak suaranya sedang semeringah.
“Ya hallo” nina menjawab dengan nada datar
“apa kau menungguku kemarin sore?” Tanya dika yang langsung membahas inti permasalahan mereka.
“tidak juga, aku langsung pulang kemarin” Jawab nina santai.
“Apa kau menunggu telepon dariku semalaman?” tanya Dika yang seolah menekan nina.
“Hahaha apa kau kira aku punya waktu menunggu lelaki sepertimu?”
“Benarkah itu? Apa kau tidak sedang membohongiku?”
“Oh ayolah, aku ini bukan artis dan kau juga bukan seorang wartawan bukan? Jadi mengapa kau terus memojokanku seperti ini? Kata nina dengan nada yang ketus.
“Baiklah, aku hanya ingin tau apa kau memang benar benar tidak mencintaiku dan aku kira kini aku sudah punya jawaban yang pasti, kau memang tidak mencintaiku. Jika kau memang sudah dijodohkan, dan kau pun TIDAK mencintaiku. Lantas, untuk apa aku menunggumu terus menerus. Tuhan tidak suka hal hal yang berlebihan dan aku kira aku sudah berlebihan mengejarmu” kata dika menjelaskan.
Nina seperti tidak punya kata kata untuk menjawabnya atau memang mulut nina dibungkam ribuan rasa yang bercampur aduk.

“Na…. Nina, apa kau masih di sana?” Tanya dika.
“Ya aku masih di sini dik, aku masih mendengarkanmu” Kata nina berusaha menjawab agar tangisnya tidak terdengar dika.
“Aku tidak akan tergesa gesa lagi setelah pulang kerja, sebab kau tidak lagi menungguku di pinggir jalan. Itu kan yang kau mau?” Kata dika.
“Baiklah, ibu dan ayahku menungguku di meja makan untuk sarapan aku rasa kau juga akan kerja kan” kata nina yang sepertinya ingin cepat cepat mengakhiri percakapan itu.
“Oke” tuttt… tuuttt… tuuttt… kata dika seraya menutup teleponnya.
Ini tidak seperti biasanya. biasanya Dika tidak pernah menutup telepon dari nina sebelum nina menutupnya terlebih dulu. Kini dika berubah.

Setahun yang lalu nina berdiri di pinggir jalan depan kantornya, dika yang sebelumnya hanya orang asing menawarkan tumpangan. Tentu saja nina tolak, tapi dika tidak selemah itu menyerah. Terkadang ia membuntuti taksi nina saat nina pulang kerja, memastikan nina pulang dengan selamat. Lambat hari akhirnya nina mau diantar dika pulang. Mereka berkenalan dan ribuan kali dika menyatakan perasaanya pada nina namun ribuan kali pula nina abaikan.
Dika tidak pernah gentar karena tidak ada alasan untuk berhenti mengejar nina. Sebenarnya nina pun mencintai dika namun ia tau ia sudah dijodohkan dengan RAHMADAN anak dari teman ayahnya.
Rahmadan, nina tidak pernah mengenal rahmadan. Tapi seperti apapun rahmadan nina akan tetap mematuhinya.

“Hey nak, kau tidak akan sarapan?” Untuk kedua kalinya ayahnya datang ke kamar nina, kamar yang tiba tiba mulai nina sulit untuk tinggalkan.
“Iya yah” kata nina. Nina memang wanita yang tegar, selalu bisa menutupi apa yang ia rasakan.
“Ayah dengar tadi kau sedang menelepon seseorang?, apa kau sedang ada masalah di kantor?” Kata ayahnya yang mulai curiga dengan gerak gerik putri semata wayangnya.
“Tidak juga ayah, yuk ah kita ke meja makan” kata nina mengalihkan pembicaraan seraya berjalan ke arah meja makan.

“Hey sayang, ibu memasak nasi goreng kesukaanmu pagi ini” kata ibu ibu paruh baya yang sedang menuangkan air ke dalam gelas yang diletakan rapi di meja makan.
“Benarkah bu? Makasih ya bu” nina selalu tidak mampu mengecewakan orangtuanya walawpun ia pagi ini tidak berselera sarapan.
“Siang nanti ikut ibu ke salon yuk, nanti malam rahmadan dan orangtuanya akan ke sini” lanjut ibunya.
“Apakah itu benar itu ayah?” Tanya nina pada ayahnya, dan ayahnya hanya mengangguk tersenyum.
Pagi yang menyebalkan bagi nina, kabar dari dika dan kabar dari ibunya tersebut merobek robek hati nina. Akhirnya siap atau tidak dika harus hilang dan rahmadan harus datang.

Malam tiba dan akhirnya rahmadan si lelaki yang akan menjadi imam nina datang. Nina hanya tetap di kamar dan mencari cara untuk bisa bersiap diri untuk berpura pura menyukai rahmadan si lelaki asing.

“Hey, kau tidak menyambutku di ruang tamu?” Kata pemuda yang tiba tiba datang di pintu kamar nina.
“Dika?” Tanya nina kebingungan.
“Benar ibu nina erinda, saya ini dika rahmadan” Kata dika menjelaskan.
“Jadi itu alasan mengapa dulu kau tak terkejut saat aku katakan aku akan dijodohkan?” Tanya nina tersenyum menahan bahagia yang tak terkira.
“Ya seperti itulah, setahun yang lalu aku sengaja datang di kehidupanmu, aku ingin membuatmu mencintaiku bukan karena perjodohan ini tapi nyatanya aku tidak bisa kau tidak pernah mencintaiku, aku hanya lelaki yang kasar” Kata dika seraya menundukan kepalanya.
“Kau selalu bilang kau itu pria kasar, tapi nyatanya kau tidak pernah mengasariku, mungkin itu alasan mengapa aku mencintaimu” nina tertunduk, itu pertama kalinya ia mengungkapkan perasaannya pada lelaki.
“Apa kau bilang? Kau mencintaiku? Hahahahah itu bahaya ibu nina erinda, itu bearti kau harus siap menikah dan mengandung sepuluh anakku hahahahahah” kata dika dengan nada yang menantang. Nina hanya tersenyum dan berlari memeluk tubuh dika.

THE END

“Aku tidak terlalu tergesa gesa, sebab kau tidak lagi menungguku di pinggir jalan”

Cerpen Karangan: Miraj Al Aziz
Facebook: Miraj Al Aziz

Cerpen Nina Dika merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Come Back to Four Second

Oleh:
“Felly! Bisakah kamu datang hari ini ke kantor?,” tanya kepala Editor. “Tapi, hari ini saya libur kan Pak? Kenapa harus saya datang ke kantor?!,” tanya Felly bingung. Ditambah, nyawanya

Bidadari Tak Bersayap

Oleh:
‘Koridor itu, mempertemukan aku dengannya, sesosok bidadari cantik yang mungkin sengaja turun ke bumi’ Masih jelas ku ingat saat pertama kali kami bertemu. Di sebuah koridor gelap, dan masih

Life Like Coffee

Oleh:
Tak ada yang spesial dari cafe berkonsep vintage di ujung jalan yang sibuk itu. Hanya sebuah bangunan kecil yang dindingnya dibiarkan tidak dicat dan tak pernah sepi pengunjung. Lalu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *