Pelangi Ke Tiga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 21 October 2017

“Alma, kamu liat ke atas deh!” pinta Fisa.
Aku hanya mendongakan kepala mengikuti perintahnya tanpa berkata apapun. Indah!
“Kamu tau gak? Ada 3 pelangi yang Kakak suka.” Ucapnya kemudian.
“apa?” tanyaku heran.
“pelangi pertama adalah pelangi setelah hujan. Pelangi kedua adalah pelangi yang seperti itu, pelangi saat langit malam dihiasi bulan dan dikelilingi awan.” Jelas Kak Fisa.
“Pelangi yang ketiga apa?” tanyaku penasaran.
Fisa menghembuskan napas dan menghembuskannya perlahan “pelangi yang ketiga adalah pelangi yang bisa kulihat pada mata seseorang yang aku sukai.” Ucapnya menatapku.
Aku hanya tersenyum, mendengar perkataannya yang seolah membuatku senang.

“Kok cuma senyum?” tanyanya
“Makasih kakak” ucapku membalas menatapnya.
“Cuma itu?” tanyanya lagi.
Aku menarik napas dalam-dalam, rasanya aku ingin menangis. “kak, selamat ya atas kelulusannya. Aku senang kakak lulus tepat waktu dengan nilai yang cukup memuaskan.” Aku tak bisa menahan lagi air mataku. Tadi pagi adalah acara wisuda Kak Fisa dan itu artinya Kak Fisa harus kembali ke kampung halamannya atas permintaan ibunya.

“Alma, maaf!” ucap Fisa menggenggam erat tanganku. Matanya sangat redup.
“kakak gak perlu minta maaf. Gak ada yang salah kok, akunya aja yang lebai kak hehe.” Ucapku menenangkan.
“Kak, maaf”
“untuk apa?”
“Alma minta maaf kalo selama Kakak di sana, kakak gak bisa ngeliat pelangi yang ketiga” aku bersandar di bahunya.
“Alma, InsyaAllah Kakak janji pelangi ketiga itu tetap matamu. Kamu doain ya, 2 tahun kemudian Kakak ke sini lagi sama orangtua Kakak, Kakak mau ngebuktiin sama orangtua Kakak, kalo di sini Kakak menemukan pelagi yang sangat indah” Fisa tersenyum.

Aku mengenal Kak Fisa hampir satu tahu namun, baru satu bulan Aku dan Kak Fisa menjalin hubungan. Semua sangat indah, Kak Fisa begitu perhatian padaku, kata-katanya sangat manis. Aku sangat nyaman berada di dekatnya. Kak Fisa yang sangat dewasa. Setelah wisuda Kak Fisa harus kembali ke kampung halamannya. Aku tak bisa menahan Kak Fisa tetap di sini.

2 bulan kemudian, Aku mendengar kabar bahwa Kak Fisa sudah bekerja di salah satu perusahaan di kampungnya. Bulan-bulan selanjutnya aku terus mendengar perkembangan yang sangat baik darinya. Sesibuk apapun Kak Fisa, ia selalu ada. Disaat aku lelah mengerjakan skripsi dia memberikan motivasi untukku.

Satu tahun berlalu, tapi Kak Fisa tetap konsisten dengan sikapnya padaku. Hari ini aku akan diwisuda.
“Sayang, selamat pagi. Happy Graduation ya! maaf kalo Kakak gak bisa jadi pendamping wisuda kamu, kita gak bisa poto bareng, kakak gak bisa ngasih kamu coklat, bunga, atau boneka untuk kamu seperti yang kamu lakukan saat Kakak diwisuda.” Ucap kak Fisa dari seberang sana.
“iya sayang, Alma seneng kok kakak udah bela-belain nelpon Alma pagi-pagi gini. Alma seneng banget. Makasih ya sayang” balasku
“semoga lancar ya sayang. I Love you”
“Aamiin. Love you too” telepon dimatikan. Karena Alma harus segera bersiap-siap untuk acara wisudanya.

Beberapa menit kemudian Aku menerima foto dari kak Fisa, ternyata itu adalah poto wisuda kak Fisa, terlihat jelas raut bahagia dari kita berdua. Aku ingat saat kak Fisa mengenalkan aku pada orangtuanya. Dan mengatakan bahwa akulah salah satu alasan kak Fisa untuk terus semangat mengerjar mimpinya. Aku ingat saat kak Fisa pertama kalinya berani memegang tanganku. Aku ingat saat kak Fisa membisikan kata sayang untuk pertama kalinya di telingaku. Tepat satu tahun lalu. Air mataku mengalir melihat foto tersebut ‘Aku sangat merindukanmu Kak’ ucapku lirih.

3 bulan kemudian aku mendapat pekerja di salah satu perusahaan di Kotaku. Aku mulai sibuk bekerja mengejar karirku sama halnya dengan kak Fisa yang semakin sibuk dengan pekerjaannya. Intensitas komunikasi kita pun berkurang yang biasanya setiap waktu solat kita saling mengingatkan, kini hanya malam hari saja ketika kita sama-sama tak lagi sibuk.

Ini adalah tepat tahun keduaku sendiri tanpa kak Fisa, artinya cepat atau lambat kak Fisa akan kembali. Aku menunggu kedatangannya, namun tak pernah ada kabar darinya. Aku coba menghubunginya namun tak pernah ada balasan. Apakah kak Fisa sudah lupa dengan janjinya? Namun, Aku masih menunggu, entah apa yang harus kutunggu. Dirimu? Masih adakah yang harus kuharapkan darimu?

Orangtuaku menyuruh untuk segera mencari pasangan, karena umurku sudah menginjak 24 tahun. Banyak laki-laki datang untuk melamarku. Aku masih dengan pendirianku. Aku masih menunggu kedatangan kak Fisa. Tiba di penghujung tahun, kak Fisa mengabariku bahwa ia akan kembali lagi ke sini dalam waktu dekat.

Sabtu petang kakak tunggu di lapangan ya! sampai ketemu nanti sayang
Pesan singkat dari kak Fisa membuatku sangat bahagia, penantianku dan semua pertanyaanku akan terjawab. Apapun yang akan terjadi nanti aku siap dengan segala konsekuansinya. Sore menjelang, aku bergegas menuju lapangan. Kulihat dari jauh punggung seseorang yang sangat kurindukan. Tak sabar rasanya ingin segera melihat mata redupnya.

“Kak” ucapku langsung duduk di samping kak Fisa
Kak Fisa menoleh dan tersenyum hangat.
“Apa kabar?” Tanyanya
“Alhamdulillah sehat Kak. Kak, Alma kangen” mataku berkaca-kaca.
“Sama sayang, kakak pun begitu” Ucapnya memandangku.
Air mataku mengalir. Aku bahagia, sangat bahagia! “jangan pergi lagi Kak” ucapku getir.
Kak Fisa mengusap air mataku. Ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan. “Maaf kalo selama ini kakak gak ada di sampingmu. Di bulan pertama rasanya sangat sulit, disaat cinta lagi bersemi, kakak malah pergi. Disaat kamu sedang dalam masa sulit kakak gak ada di samping kamu. Ini buat kamu” kak Fisa memberikan sebuah lukisan padaku.
Aku menerimanya dengan senang hati. Lukisan yang sangat indah terlihat aku memakai pakaian wisuda lengkap dengan aksesoris wisuda di sampingnya ada kak Fisa membawa seikat bunga. Kita terlihat bahagia. Sama seperti saat kak Fisa diwisuda.

“ini kakak buat sendiri. Sepulang kerja kakak belajar melukis. Tadinya kakak udah membeli tiket pesawat untuk pulang saat wisuda kamu, tapi kakak batalkan karena ada lemburan yang lumayan. Maaf juga kalo 1 tahun terakhir ini kakak susah dihubungin. kakak bekerja lebih giat lagi untuk masa depan kita. InsyaAllah kakak siap meminangmu. Kamu mau jadi istri Kakak?” jelas kak Fisa.
Aku menangis lebih deras. Aku mengangguk bahagia. Ini jawaban dari segala penantianku.

Keesokan harinya kak Fisa bersama keluarganya datang ke rumahku untuk meminangku. InsyaAllah pernikahan aku dan kak Fisa akan dilangsungkan pertengahan tahun ini.
“Matamu, tetaplah jadi pelangi yang indah!” Bisik kak Fisa.

Cerpen Karangan: Ririn Agustin
Facebook: Ririn Agustin

Cerpen Pelangi Ke Tiga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sakura Love (Part 2)

Oleh:
Keesokan harinya. “Mana orangnya ya? Benar di sini kan? Bukankah biasanya orang Jepang itu selalu tepat waktu?” gumam Yume. Yumi baru saja tiba di taman dekat kampus, tempat yang

Terjatuh Dari Cinta

Oleh:
“Fel, lo kenapa sih dari tadi mondar-mandir kayak kura-kura kehilangan anak?,” tanya Riska saat ia merasa teganggu selera makannya karena ulah Felly. “Tahu nih anak! Ayan lu kambuh? Duduk

Forgive of Love

Oleh:
Di ruangan itu hanya terasa kesesakan dalam dada, gejolak demi gejolak terus memunculkan emosi. Dia? Mengesalkan! Aku tahu dia salah, aku tahu dia sudah minta maaf, tapi aku tak

Cinta dan Gengsi

Oleh:
Siang hari yang sedikit panas di Pasar Badung, Denpasar.. Sebuah mobil jazz silver metalic memasuki area parkir. Seorang ibu keluar dari mobil sambil membawa tas belanjaan. “Arka, ayo ikut!”

Dan, Kita (Part 1)

Oleh:
Dari dulu aku selalu ingin bertanya pada diriku sendiri, Kenapa? Kenapa aku meninggalkanmu? Kenapa aku memutuskan untuk menjauh dan pergi? Sampai saat ini, ketika dia sudah mengisi waktu di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *