Pelangi Selepas Senja (Lanjutan Dari Cerpen Menunggu Senja Di Terminal Giwangan)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 30 May 2016

Hari itu, aku baru saja pulang dari kampus da singgah ke supermarket, aku bertemu dengan seorang wanita di supermarket. Aku sangat mengenal wanita itu, senang rasanya bisa bertemu dengannya lagi. Wanita itu terlihat sedang mencari sesuatu di bagian kosmetik. Usai mengambil keranjang belanja, aku langsung menghampirinya.

“Hei, apa kabar?” Sapaku pada wanita itu.
“Astaghfirullah. Ari, kau mengagetkanku saja,” Ia mengelus dadanya, namun tetap menyunggingkan senyumnya. Ya Tuhan, senyum itu.
“Kau masih mengingatku? Lagi belanja juga ya?” Tanyaku basa-basi.
“Enggak, cuma lagi karaokean aja. Ya iyalah belanja, memangnya apa yang dilakukan orang di supermarket, pertanyaan macam apa itu.” Dia menjawab dengan sedikit bergurau.

“Ya, kali aja mau nyolong,” seakan tak mau kalah aku membalasnya dengan gurauan juga.
“Enak aja,” Ia mengambil sebuah sabun pencuci wajah, kemudian memukulkannya ke dahiku dengan pelan sebelum memasukkannya ke dalam troli.
“Bagaimana kabar Senja sekarang, sudah lama aku tak dapat kabar darinya.” Kali ini nada bicaraku ku buat serius, aku terus mengikutinya dari belakang ketika ia berjalan menuju bagian makanan. Ia membalikkan tubuhnya menatapku, “Aku juga tidak tahu, dia bahkan tidak pernah menghubungiku,” tiba-tiba mimik wajahnya berubah. Sambil memeluk sekaleng wafer di dadanya, ia memandang ke arah troli, tapi aku bisa melihat itu adalah tatapan kosong.

“Kenapa?” Aku mendekatinya dengan alis terkerut dan bertanya padanya. Dia tersentak, kemudian memasukkan kaleng wafer itu ke dalam trolinya, “Tidak apa-apa.” dia kembali mendorong troli belanjaannya.
“Aku tahu kau menyukainya,” Katanya tiba-tiba saat kami sampai di ujung koridor di antara rak-rak makanan.
“Dari mana kau bisa seyakin itu?” Aku masih saja terus mengikutinya, kali ini dia berputar balik ke rak yang berada di balik rak yang tadi.
“Itu sangat mudah, aku ini mahasiswi psikologi, ya meskipun belum pernah aku pelajari, tapi aku tahu menilai seseorang yang sedang tertarik sama seseorang,” ia berjalan pelan matanya mengawasi satu per satu makanan ringan yang disusun rapi di atas rak.

Aku berhenti sejenak, memikirkan sesuatu, kemudian dengan cepat menyusulnya kembali, “Apa menurutmu Senja juga tertarik padaku?” Dia berhenti sebentar dan berdiam diri, entah apa yang sedang dipikirkannya, kemudian dia kembali membalikkan tubuhnya menghadapku. “Mmm, sepertinya kau datang ke sini untuk belanja bukan?” ia menatap keranjangku yang masih kosong, “Dan sepertinya, troliku sudah mulai penuh, aku harus ke kasir sekarang.”
“Oh iya, benar juga, aku sampai lupa belum mengambil apa-apa, oke, terima kasih, dan sampai ketemu lagi,” aku berjalan berbalik arah.

Langkahku terhenti di depan rak sayur, merenung sejenak, aku sampai lupa apa yang ingin ku beli tadi. Ya Tuhan sepertinya pikiranku sedang kacau. Otakku selalu tak bisa berpikir normal saat aku kembali teringat akan Senja. Sudah dua tahun sejak Senja mengatakan dirinya pergi ke Singapura. Hidupku kembali seperti semula, seperti saat aku belum bertemu dengannya. Tapi ada sedikit perbedaan, bayangannya seakan tetap tinggal bersamaku, yang terkadang sering berputar-putar di otakku. Di saat aku benar-benar merindukannya, secara kebetulan pula aku bertemu sahabatnya tadi di supermarket, membuatku seakan merasakan kehadiran Senja kembali.

Aku baru saja tiba di kamar kostku, meletakkan kantung belanjaanku di lantai. Pikiranku kembali kepada gadis tadi, sepertinya dia sengaja menghindar dari pertanyaanku tadi. Aku mendesah pelan, batinku berbisik kenapa tadi aku tidak menanyakan namanya sekaligus meminta nomor teleponnya, supaya aku bisa menanyakan kabar Senja darinya.
Ponselku tiba-tiba bergetar di dalam saku, membuyarkan lamunanku. Aku meraihnya dan membaca sebuah pesan masuk, dari Ifan. Dia mengajakku untuk makan malam di sebuah restoran tempat kami biasa berkumpul bersama teman-teman yang lain.

Segera aku bangkit menjumput handuk, dan bergerak menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian aku sudah turun dari halte Trans Jogja, saat aku berjalan melewati zebra cross, terdengar bunyi klakson dan tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang mendorongku dari belakang, sontak aku terkejut dan membalikkan tubuhku, saat orang itu akan terjatuh, aku berhasil meraih sikunya. Dan saat itu pula ia membuka matanya yang membuat mata kami saling bertatapan. Mata itu, mengingatkan aku saat pertama kali aku menatap mata Senja di dalam bus. Dua bola mata yang indah yang mampu membuatku susah tidur.

Segera aku membantunya berdiri dan membawanya ke trotoar, saat aku mendengar lagi bunyi klakson yang membangunkanku dari dunia khayalku. “Kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa terjatuh?” Aku langsung melontarkan rentetan pertanyaan padanya, ketika kami berdua baru saja tiba di trotoar.
Orang itu tak langsung menjawab, ia memalingkan wajahnya, dan hendak melangkahkan kakinya untuk pergi. “Hei, tunggu dulu,” Aku mencegahnya sebelum ia melangkah lebih jauh, dan tanpa sadar tanganku menarik pergelangan tangannya, “Kalau kau tak mau menjawab pertanyaanku, setidaknya kau berterima kasih padaku, tanpaku mungkin kau sudah terbaring di rumah sakit sekarang.”

Ia berhenti, menatap pergelangan tangan kanannya dalam genggaman, seketika itu juga aku melepaskan genggamanku. “Maaf Ri, aku bersikap seperti orang bodoh, tadi saat aku hendak menyeberang tiba-tiba ada mobil yang melaju kencang persis mengarahku dan aku langsung berlari, tapi kakiku keseleo dan tanpa sengaja menabrak punggungmu,” dia diam sejenak, “dan terima kasih sudah menyelamatkanku,” lanjutnya.

“Kau mau ke mana? Kenapa terburu-buru begitu? tadi sore kau masih terlihat baik-baik saja, kenapa kau seperti menghindar dariku sejak tadi sore?”
“Mm, aku tidak punya alasan untuk menghindar darimu,” dia menggigit bibirnya sepertinya dia sedang memikirkan kata-kata lalu, “Aku tadi cuma malu aja waktu aku tahu bahwa kau yang menolongku, ya seperti itulah.”
“Mmm, jadi itu yang membuatmu salah tingkah begitu? Sudahlah lupakan saja, kau mau ke mana sekarang? Gimana kalau kau ikut denganku?” Aku mengajaknya dengan alis terangkat.

Dia menatapku dengan alis berkerut heran, sebenarnya aku tau maksudnya, dia pasti bertanya aku akan membawanya ke mana, tapi aku menunggu ucapan itu ke luar dari bibirnya, “Ke mana?” tak perlu waktu lama akhirnya dugaanku benar.
“Makan malam dengan teman-temanku, kau mau ikut? Atau mungkin kau sedang ada janji dengan seseorang?”
“Tidak, aku tidak ada janji dengan siapa pun, mmm.. baiklah, aku ikut denganmu, ayo.”

Selesai acara makan malam, aku pulang bersama Alfi, gadis yang tadi menabrak punggungku sekaligus orang yang aku temui di supermarket tadi sore. Aku berniat menemaninya sampai ke kostnya, sebenarnya supaya aku bisa bertanya lebih jauh tentang Senja. Aku baru mengetahui namanya saat perjalanan menuju restoran tadi. “Teman-temanku asyik bukan? Kau terlihat senang mengobrol dengan mereka meskipun baru kenal.” Aku membuka percakapan sambil berjalan menyusulnya dari belakang.

“Ya begitulah. Tapi, aku sedikit terkejut saat kita baru saja datang tadi, bagaimana mungkin mereka bisa mengira bahwa kita pacaran?”
“Mungkin menurut pandangan mereka kita cocok, lagi pula sepertinya kau memiliki kemiripan dengan Senja,” Jawabku asal mencoba menebak-nebak.
“Kau mencoba merayuku di saat Senja tidak ada, bahkan ingin menyamakan dia denganku, kau benar-benar keterlaluan, seandainya Senja mendengar hal ini.” Tiba-tiba ia berhenti melangkah, memiringkan kepalanya ke kanan sambil menatapku, “Atau memang kau sering merayu semua gadis yang kau temui?”

Aku balas menatapnya dengan senyum, “Tak ada salahnya mencoba kan? Oh ya, liburan nanti, rencananya aku akan pergi ke Singapura supaya aku bisa bertemu Senja, aku benar-benar merindukannya, kau punya alamatnya?” Belum sempat ia menjawab, aku kembali melanjutkan perkataanku, “Tadinya aku mau minta langsung ke dia melalui e-mail, tapi setelah aku pikir-pikir, selain aku tidak yakin dia masih menggunakan e-mailnya atau tidak, aku juga ingin memberi kejutan padanya, bagaimana menurutmu?”
“Eh Ri, aku harus pulang sekarang, sepertinya kau tak perlu repot-repot mengantarku pulang, sudah terlalu malam, aku takut kau tidak dapat bus untuk pulang, kau tak usah mencemaskanku, aku bisa pulang naik taksi,” ia berbalik arah dan sebelum ia melangkahkan kakinya, ia kembali membalikkan pandangannya ke arahku yang sejak tadi diam membatu memperhatikannya, “Oh ya, terima kasih atas teraktirannya tadi, assalamualaikum.”

Aku masih tetap berdiri memandangnya dengan tatapan tanya, kenapa lagi-lagi dia seperti menghindar. Ku perhatikan jarinya sibuk menari-nari diatas layar ponselnya setelah ia berdiri di tepi jalan tak jauh dari tempatku berdiri. Beberapa menit kemudian sebuah taksi menghampirinya –sepertinya dia memesan taksi lewat aplikasi. Sesaat sebelum ia masuk ke dalam taksi, ia melihat ke arahku dan melambaikan tangan kanannya sambil tersenyum. Mataku terus memandangi ke arah taksi itu melaju, pikiranku kembali kacau, bukan karena dia yang lagi-lagi menghindar dariku, tapi karena sesuatu yang mengingatkanku kembali pada sosok Senja. Sesuatu itu adalah sorot mata Alfi dan juga senyumannya yang persis sama seperti Senja. “Ngomong-ngomong apa kabar dia sekarang ya?” batinku berbisik.

Beberapa Bulan kemudian.

Ke mana anak itu? Aku sedang duduk di food courttaman JEC, mengaduk-ngaduk minumanku sambil bertanya pada diri sendiri dalam hati. Sejak acara makan malam beberapa waktu lalu itu, Alfi tak lagi pernah menampakkan wajahnya, sialnya aku tak sempat meminta nomor teleponnya waktu itu, alamat bahkan kampusnya pun aku tak tahu. Aku mendesah kesal tanpa ku sadari tanganku memukul meja cukup keras. Di saat itu juga Ifan datang membawa semangkuk mie ayam.

“Ngapain lo?” Tanyanya setelah ia duduk di kursi sebelah yang dipisahkan oleh meja.
“Eh, kenapa? Oh. Enggak, gak apa-apa,” aku bingung harus menjawab apa.
“Bagaimana? Kau jadi mau ke Singapura besok lusa?” Ifan bertanya sambil menyantap mienya.
“Entahlah, aku belum dapat alamatnya Senja. Kau jadi ikut?
“Kenapa kau harus mencarinya lagi, tak bisakah kita ke Singapura hanya untuk menikmati liburan tanpa harus disibukkan dengan mencari seseorang yang tak jelas di mana dia berpijak.” Ia menghentikan makannya sejenak dan menatapku lalu kembali melanjutkan makannya.
“Kau tak pernah tahu apa yang aku rasakan.”

Ia menatap wajahku dengan tajam sambil masih tetap mengunyah makanannya, “Terserah kau saja lah, aku sudah berkali-kali mengingatkan kenapa kau tak mencoba melupakannya, jika memang kau masih menyukainya apa salahnya kau meneleponnya dan nyatakan perasaanmu padanya, agar kau tak terus-terusan gila karena terlalu berharap padanya.. sepertinya selera makanku hilang.” Ia bangkit dan pergi entah ke mana.

Perkataan Ifan tadi masih mengiang-ngiang di telingaku, ada benarnya juga perkataannya tadi, kenapa aku tak pernah mencoba menelepon Senja dan langsung berterus terang padanya, jika memang dia memang menolakku, setidaknya aku tidak akan terus-terus menunggunya. Aku berjalan tak jauh dari tempat dudukku. Di dekat air mancur, aku mencari nomor Senja yang dulu mengirimiku pesan. Beberapa saat kemudian telepon tersambung, jantungku serasa berhenti berdetak hingga terdengar suara di seberang sana, barulah aku bisa kembali bernapas lega, namun jantungku malah semakin berpacu cepat.

“Halo, assalamualaikum,” Suara itu terdengar jelas, sangat jelas. Rasanya aku tidak hanya mendengar suara itu di telepon, sepertinya suara itu ada di dekatku. “Halo, assalamualaikum, dengan siapa?” ia mengulang perkataannya karena aku hanya terdiam mendengar suaranya. Dan benar saja suaranya semakin jelas terdengar, aku membalikkan tubuhku, beberapa langkah dari tempatku berdiri, ada seseorang wanita mengenakan kerudung biru muda sedang duduk bersama kedua temannya, tangan kanannya memegang ponsel di telinganya.

Ia berbicara kepada kedua temannya kemudian beranjak dari kursinya dan berbalik arah hendak berjalan sambil berkata, “Halo ini dengan siapa?” Suara wanita itu terdengar jelas juga di ponselku. Ia terkejut menatapku, begitu pun aku. “Kau?” Aku masih menempelkan ponselku di telingaku.
Ia menurunkan tangannya yang memegang ponsel, “A.. Ari, kau yang menelepon barusan?” ia bertanya dengan terbata-bata, dan aku hanya menjawabnya dengan menganggukkan kepala. “Aku bisa menjelaskan ini semua,”

“Apa yang ingin kau jelaskan? Jadi selama ini kau menipuku?” nada bicaraku terdengar agak tinggi, sehingga semua orang di sekitar menatapku dengan curiga.
“Tenang dulu, biar aku jelaskan semuanya, tapi tidak di sini, aku ingin bicara empat mata denganmu, kita ketemu di Grhatama Pustaka nanti. Aku tunggu di ruang duduk lantai dasar.” Ia kembali ke mejanya menjemput tasnya dan beranjak pergi diikuti oleh teman-temannya.

Aku berjalan sendirian menuju Grhatama Pustaka yang letaknya bersebelahan dengan gedung JEC, meninggalkan Ifan yang tak tahu di mana wujudnya sekarang. Aku masih penasaran penjelasan apa yang akan dikatakannya. Tiba di Grhartama kau langsung turun ke lantai dasar, aku melihatnya duduk seorang diri sambil membaca buku, “Duduklah!” perintahnya ketika menyadari kehadiranku. Aku menuruti perintahnya, aku bernapas lebih cepat, jantungku pun tak kalah cepatnya berdenyut, telingaku terasa panas, pasti dia bisa melihat ekspresi marah di wajahku.

“Apa yang ingin kau jelaskan?” Tanyaku setelah beberapa saat. Ia hanya menunduk dan menahan tangis, aku kembali bertanya padanya kali ini nada suaraku aku rendahkan, “Alfi, apa kau mendengar ucapanku?”
“Maafkan aku Ri, aku terpaksa melakukan ini semua, tapi jujur, bukan karena..” ia tak menyelesaikan perkataannya dan mengalihkan pandangannya ke aquarium, “Apa kau tahu alasan Senja pergi ke Singapura?” Katanya kemudian.

Aku berdeham sambil mencoba mengingat-ingat, “Tidak, dia tidak memberitahuku alasannya, dan aku pun tak pernah menanyakannya, aku kira dia ingin melanjutkan pendidikannya di sana.”
“Kamu salah,” Aku memperhatikan wajahnya, terlihat butiran bening mulai mengalir dari pipinya, “mungkin kau masih ingat saat kalian tengah duduk menikmati es krim, dan saat itu aku datang menjemputnya,” dia kembali menatapku sambil mengusap air matanya, sementara aku mencondongkan tubuhku ke depan dengan tangan kiri terkepal menopang kepala. Tanpa menunggu jawaban dariku ia terus melanjutkan penjelasannya.

“Saat itu, dia memberitahuku lewat pesan singkat, dia bilang lututnya terasa nyeri, aku disuruh menjemputnya dan melarangku untuk memasang wajah panik.”
“Terus,” aku memotong ucapannya kemudian menggeserkan kursiku berdempetan dengan kursinya.
“Dan sejak saat itu, dia dirawat di rumah sakit, kondisinya semakain memburuk, sehingga ia terpaksa dibawa ke Singapura. Ia berpesan padaku untuk mengirim pesan kepadamu, untuk memastikan bahwa dia tetap baik-baik saja,”

“Jadi, nomor itu memang nomormu?” Aku bertanya padanya, sekilas aku tersadar kenapa aku malah bertanya hal yang tidak penting, kenapa bukan tentang kesehatan Senja. Ketika aku ingin berbicara lagi, ia sudah lebih dulu menjawab pertanyaanku. “Bukan, itu memang nomornya Senja, tapi aku sekarang aku yang memegangnya,”
“Lalu, bagaimana keadaan Senja sekarang? Apa dia masih dirawat di rumah sakit do Singapura, katakan padaku di mana dia dirawat aku akan pergi ke Singapura besok lusa dan akan aku pastikan aku akan menemuinya,” Aku berkata tanpa jeda, air mataku juga turut mengalir tanpa sadar.

Alfi menundukkan kepalanya dan menutupnya dengan kedua tangannya, “Senja… Dia.. dia sudah pergi untuk selama-lamanya satu tahun yang lalu.” Ia semakin terisak.
“Apa? Kamu gak mengada-ngada kan?” tanyaku masih belum yakin dengan apa yang dikatakannya tadi.
“Bagaimana mungkin aku bisa mengarang cerita bahwa saudaraku meninggal dunia? Saat itu aku berharap dia bisa sembuh, aku ingin kalian bisa bersatu, sebab itu aku mengatakan dalam pesan itu bahwa dia akan kembali.”

“Saudara?” aku bingung dengan perkataannya.
“Aku dengan Senja adalah saudara kembar, dia terlahir lebih dulu, dan dia mengidap penyakit hemofilia dari Ayahku, karena itulah aku selalu berusaha menghindar darimu saat kau bertanya tentang Senja, sebab aku selalu teringat padanya setiap kali bertemu denganmu.” Secara naluri, tangan kiriku merangkul bahunya dan menyandarkan kepalanya di bahuku. Ia menangis di bahuku hingga membasahi bajuku, sesaat dia tersentak, dan mengangkat kepalanya, “Maaf.” Ia mengusap air matanya. Ia megeluarkan tisu dan menyodorkannya padaku.

“Kenapa kau ikut menangis?” katanya sambil tersenyum, lagi-lagi senyum itu mampu membangkitkan semangatku, seakan mematahkan kesedihanku.
Aku memaksakan tersenyum padanya, “Terima kasih, kau juga tak perlu menangis, aku khawatir bajuku akan basah semua, sebab aku tak membawa baju ganti,” aku masih bisa bergurau mencoba menenangkannya.

Setelah mendengar kabar kematian Senja, aku sempat sangat tertekan, beberapa hari aku tak bisa beraktivitas dengan lancar, aku selalu teringat akan dirinya. Tapi, dengan hadirnya Alfi, yang ternyata adalah saudara kembar Senja membantuku untuk bisa lepas dari masa lalu, mereka memang saudara kembar, tapi mereka tidak persis mirip. Namun, tatapan mata dan cara mereka tersenyum terlihat sama. Alfi kini sering menemaniku, dan membantuku banyak hal, salah satunya adalah membantuku untuk move on. Masuknya dia dalam hidupku seolah menjadi pengganti Senja, dan sepertinya aku juga mulai tertarik padanya. Enam bulan berikutnya. Aku menatap batu nisan di hadapanku yang bertuliskan Seftia Alfiani. Alfi menepati janjinya waktu itu untuk membawaku ke makam Senja di Surabaya, kami baru bisa ke sini setelah mendapat libur panjang semester.

“Jadi sebenarnya namanya adalah Seftia Alfiani, dan aku Seftia Alfiana,”
Alfi seolah bisa membaca apa yang aku pikirkan, Setelah memanjatkan doa dan menaburkan bunga ke makam kakaknya.
“Kenapa dia dipanggil Senja?” aku masih jongkok di samping makamnya dan mendongak menatap Alfi yang berdiri membawa keranjang berisi bunga.
“Dia bercerita banyak hal tentang kamu, dia tertarik padamu sejak pertama kali dia bertemu denganmu, dia bilang kamu laki-laki yang bertanggung jawab dan mengayomi perempuan, dia bilang kamu rela berdiri untuk memberinya tempat duduk.” Ia ikut berjongkok, kemudian melanjutkan ucapannya. “Dia sangat menyukai langit senja, sangat indah, di waktu itu, banyak orang berbondong-bondong menuju ke masjid untuk salat magrib, memohon kepada Tuhannya.”

Aku menganga menatapnya, tak mengerti arah pembicaraannya. Namun dia tersenyum dan sepertinya mengerti maksdudku lalu dia kembali bergumam, “Karena itulah, ketika kau bertanya siapa namanya dia menjawab Senja. Alasannya karena kau telah menjadikan hidupnya terasa indah, ia lupa akan penyakit yang dideritanya, dan kau juga selalu ada dalam doa-doanya, nenek kami juga dulu memanggilnya Senja, karena kita berdua lahir di waktu azan magrib. Tapi, ketika aku bertanya apakah dia berdoa agar kau berjodoh dengannya, dia menggeleng, lantas dia menjawab, ‘orang seperti dia tidak pantas bersamaku yang penyakitan, kasihan dia, aku berdoa agar dia diberikan yang terbaik.’ Dia menjawab seperti itu sebelum akhirnya ia mengucap dua kalimat syahadat di detik-detik sakaratul mautnya.”

“Romantis sekali, aku rasa doanya sudah terkabul,” aku mencoba bergurau, lalu berdiri dan diikuti oleh Alfi, “Alfi, apa boleh aku memanggilmu pelangi?” Alfi yang tadinya menunduk memalingkan wajahnya ke arahku, dia kembali tersenyum meski aku bisa melihat matanya berkaca-kaca, lalu ia berkata, “Kenapa?”
“Mungkin kamu adalah jawaban dari doa-doa Senja.” aku berjalan mendekat ke arahnya.

“Maksudmu? Dan apa hubungannya dengan pelangi?” Suaranya terdengar serius ia terus menatapku dengan tajam.
“Karena kau telah mewarnai hidupku kembali, di saat kesedihanku dan mampu menghapusnya. Seperti halnya pelangi yang datang setelah hujan turun, benar-benar indah, begitu pun kamu yang telah memperindah duniaku dengan sejuta warnamu.” Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya.
“Karena kau seorang psikolog, sepertinya aku tak perlu menjelaskan apa yang aku rasakan padamu.” Aku kembali melanjutkan ketika mata kami saling bertemu.

“Ya, aku tahu itu,” jeda sebentar. “Ari, kau tahu, sebenarnya kau juga,” katanya kemudian.
“Kau juga telah memberi warna di hidupku, dulu aku tak pernah percaya pada Senja yang langsung jatuh hati pada pandangan pertama, mungkin kini aku tahu alasan mengapa Senja bisa menyukaimu, karena aku pun mulai menyukaimu, di saat kau menatap mataku di supermarket waktu itu. Aku curiga jangan-jangan kau memakai pelet.” Dia tertawa di ujung ucapannya, seketika itu kami telah berjalan ke luar dari komplek pemakaman.

Terima kasih Senja, atas doamu kini aku telah mendapatkan yang terbaik, meski sesungguhnya aku masih sangat mencintaimu.

Cerpen Karangan: Iky Adrilianto
Facebook: www.facebook.com/iky.adrilianto
Iky Adrilianto, pemuda kelahiran Aceh yang punya cita-cita besar, meski belum mampu besarin badannya sendiri. senang mengisi waktu luang dengan membaca dan menulis, saat ini sedang menempuh pendidikan S1 Teknik Informatika di STMIK Amikom Yogyakarta.

Cerpen Pelangi Selepas Senja (Lanjutan Dari Cerpen Menunggu Senja Di Terminal Giwangan) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Arini

Oleh:
Semilir angin berhembus menyebabkan daun-daun kering berjatuhan. Di kursi taman ini aku menikmati sejuknya. Di sini pula aku pertama kali berjumpa dengannya 8 tahun lalu. Masih ku ingat senyuman

Flower Crown Penghujung Cinta

Oleh:
Siang itu, sama seperti biasanya. Lagi-lagi aku mencuri kesempatan untuk bisa memandangnya. Dari balik layar laptopku, aku berusaha melihatnya saat sedang menikmati makanan dan juga minuman bersama teman-temannya. Meskipun

Aku Senang, Aku Bahagia

Oleh:
Aku menyeka air mataku. Aku tau dia tidak ingin aku meneteskan air mata, walau bagaimana pun perasaanku saat ini. Teraduk-aduk, terhantam sesuatu yang berat. Aku menatap dia yang terbaring

Masa Masa Yang Tak Akan Kembali

Oleh:
“Rumah Angker Pondok Indah, Kaw*n Kontrak 3, Per*wan Seberang, cih, apaan nih, engga jelas banget nih film film Indonesia.” Aku menggerutu sendiri, lirih, melihat daftar filem filem Indonesia yang

Hanya Itu?

Oleh:
Musim hujan telah tiba, Setiap hari pasti selalu saja hujan. Tapi aku sangat suka hujan yang selalu mengigatkanku tentang dia. Kenalkan namaku Kelara Tiana Putri. Aku suka sama seorang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *