Penampakan Cinta Ala Jacki (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 26 January 2019

Satu persatu aku pandangi kalimat-kalimat puitis yang tertempel di dinding kamar kosku yang baru. Nyaris penuh tembok ini ditutupi sticker beraneka warna dan tulisan-tulisan itu. Hm… “TAK KENAL MAKA TAK SAYANG”… “KESEMPATAN EMAS HANYA DATANG SEKALI SAJA”… “JANGAN PERNAH MENYAKITI JIKA TAK INGIN DISAKITI”… “BERI AKU KESEMPATAN MENATAP WAJAHMU SATU X LAGI”… and bla.. bla… bla…

“Maaf, kami belum sempat membersihkan dinding yang penuh tulisan dan gambar di kamar ini, pemilik kamar ini sebelumnya baru saja berhenti kos 3 hari yang lalu. Tapi kami sudah membersihkan lantai dan sudut-sudut kamar lainnya” kata seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba berdiri dibelakang aku. Sempat membuat aku terkejut.
“Oh… tak apa-apa bu, biar nanti saya yang bersihkan, saya benar-benar butuh tempat tinggal yang dekat dengan tempat bekerja saya saat ini. Jadi saya tidak perlu naik angkot lagi kalau mau kerja” jawabku sambil meletakkan beberapa tas yang tergantung dipundak dan tanganku. Rasanya pegal juga dari tadi membawa 3 tas yang lumayan penuh.
“Kalau perlu apa-apa, Nak Mira bisa mencari Ibu dirumah itu, Ibu tinggal di sana dengan anak dan cucu Ibu” Sambung Ibu itu lagi.
“Makasi banyak bu, nanti kalau saya perlu sesuatu saya akan kasi tau Ibu”.
Kemudian Ibu kosku yang kutau bernama Bu Eni, berlalu dari kamarku.

Ups… penat juga rasanya tubuh ini. Aku merasa gerah luar biasa. Segera kutarik handuk dari dalam tasku. Semula aku berniat hendak mandi agar merasa fresh dan bisa menghilangkan rasa letihku, tapi dering hp dari dalam tasku mengurungkan niatku.
Jacki memanggil… “hm mau apa lagi orang ini” gerutuku geram!. Aku jadi eneg melihat nama si pemanggil di hpku. Gak siang gak malam nelepon dan sms melulu! Segera kutekan tombol tolak di hpku. Dan “klik!” Handphone aku matikan! Aku segera menuju kamar mandi untuk membasuh tubuhku yang kini terasa benar-benar panas!

Ting… ting… ting… Suara lembut alarm membangunkan aku dari tidurku yang benar-benar lelap. Ini hari pertama aku bekerja di tempatku yang baru, aku tak mau terlambat walau cuma 5 menit saja. Aku harus bisa tunjukan kedisiplinanku sebagai karyawan yang baru. Meski masih malas-malasan, aku segera melompat dari tempat tidur, kulipat selimut dan kubenahi tempat tidurku. Ketika gorden kamar kubuka, sinar matahari pagi masih malu-malu membiasakan cahayanya. Dingin hawa pagi terasa banget berhembus saat kaca nako jendela aku buka tuk mencari hawa segar. Deburan ombak di pantai terdengar sayup-sayup.

Tok… tok… tok. Suara ketukan di pintu mengagetkanku. Siapa pula bertamu pagi-pagi begini, gerutuku. Setengah malas aku membuka pintu kamarku.
“Pagi nak Mira, ini ada titipan dari seseorang. Dia gak sebut namanya, tadi pagi-pagi sekali waktu Ibu menyapu di depan dia datang bawa mobil warna putih. Terus nitipin bungkusan ini buat nak Mira” kata Ibu kos ku sambil menyerahkan bungkusan tas plastik kepadaku.
“Oh makasi Ibu. Pagi juga, Maaf merepotkan” jawabku sambil mengambil bungkusan itu dari tangan Ibu Eni.
“Oh gak merepotkan kok, mari nak” Ibu Eni pun berlalu. Aku balas dengan menganggukan kepalaku.

Dari bungkusan itu tercium wangi makanan khas kesukaan aku yang masih terasa hangat. Tapi siapa pula yang mengirimnya? Cowok? Mobil putih? Ah paling-paling si Jacki. Eit tapi ntar dulu, kalau bener si Jacki dari mana pula dia tau aku kos di sini? aku kan gak pernah mau jawab telepon dan smsnya sejak 2 minggu yang lalu. Lagi pula Jacki gak pernah bawa mobil. Buat aku hubungan kami sudah berakhir saat itu. Aku gak mau lagi terbebani dengan Jacki yang playboy itu. Dia sudah menipu aku dengan menduakan kesetiaan aku dengan sahabatku sendiri. Dan keputusan aku untuk pindah kerja pun juga karena aku benar-benar ingin menghilang dari dalam kehidupannya Jacki. Kebetulan ada tempat yang butuh karyawan dan pekerjaanya sangat cocok dengan yang aku inginkan.

Hampir 2 tahun kami pacaran, selama itu tak ada pertengkaran yang berarti, Jacki kulihat sebagai sosok pria yang cukup dewasa, aku tak tahu banyak tentang latar belakang keluarganya, karena kami juga jarang berbicara tentang itu, paling-paling kalau ketemu, kami cuma bicara tentang pekerjaan di tempat kami masing-masing, teman-teman kami atau tempat-tempat wisata yang menarik perhatian kami. Aku tak menyangka jika pada akhirnya Jacki bakal berkhianat. Apa yang kulihat saat itu benar-benar sudah meruntuhkan kepercayaan aku. Jacki dan Lala sahabatku telah membohongi aku!
Mengingat kenangan 2 minggu yang lalu itu, membuat emosi aku tercabik-cabik lagi, gak terasa air mataku mulai menetes. Perih yang luar biasa aku rasakan di dadaku.
“Hey Mira, ada apa denganmu?!? ini hari pertamamu bekerja, lupakan Jacki, kayak gak ada cowok lain aja, ayo semangat!”. Tiba-tiba hati kecilku berteriak nyaring. Aku tersentak. Segera ku berbenah untuk mempersiapkan diriku. Aku tak boleh terbayang-bayang masa lalu itu. Yap harus semangat!

Ah… lelah juga 8 jam bekerja. Hari ini aktifitas di tempatku bekerja sangat padat. Maklum lagi rame-ramenya. Aku bekerja di sebuah Hotel yang tamunya kebanyakan orang Eropa. Dengan bekal bahasa inggris yang kupelajari secara otodidak serta dari pengalaman-pengalamanku bekerja di tempat-tempat sebelumya selama ini, akhirnya aku bisa juga diterima bekerja di hotel ini. Tentunya dengan melalui proses interview yang cukup menegangkan. Tapi dengan keyakinan dan niat baik akhirnya aku bisa lulus tes dan diterima bekerja. Dan aku beruntung karena jarak kos dan tempat bekerjaku boleh dikata sangat dekat, hanya 10 menit dengan jalan kaki saja. Jadi aku tak perlu keluar biaya transport seperti di tempat aku bekerja sebelumnya. Aku tau tempat kos ini dari rekan kerjaku di tempat aku bekerja dulu. Namanya Iwan, dia juga berteman baik dengan Jacki dan Lala. Boleh dikata kami satu team yang sudah seperti keluarga sendiri. Tapi aku sudah wanti-wanti sebelumnya dengan Iwan untuk merahasiakan tempat kerjaku yang baru juga kos aku. Dan aku yakin Iwan tak akan cerita pada Jacki dan Lala.

Latar belakang keluarga aku yang boleh dikata pas-pasan, membuat aku memutuskan untuk bekerja semaksimal mungkin supaya bisa bantu ekonomi keluargaku. Dan cita-cita ini sudah aku miliki sejak aku masih di bangku smp dulu. Meskipun usiaku masih tergolong muda, 21 tahun, tapi aku sudah banyak pengalaman dalam pekerjaan yang berhubungan dengan perhotelan. Jacki pernah mengungkapkan kalau salah satu alasan kenapa dia menyukai aku, karena aku sosok gadis yang mandiri, usia muda tak menghalangi niat aku untuk bisa sukses meraih cita-cita aku.

“Gak pulang Mir?” Tanya Nita teman baruku yang satu departemen di Hotel ini dengan aku.
“Oh iya, ntar lagi, ni masih prepare dulu” jawabku sambil bergegas membereskan kertas-kertas di mejaku. Kesan pertama yang aku dapat di sini sangat menyenangkan. Management di Hotel ini sangat terbuka dan membantu aku banget untuk banyak belajar, ditambah para seniorku yang semuanya baik-baik. Yah semoga aja aku benar-benar bisa betah bekerja di sini dan memberikan yang terbaik buat perusahaan ini.
“Aku duluan ya mir, sudah dijemput” seru Nita sambil melambaikan tangannya.
“Yuk, makasih ya, hati-hati” balasku sambil melambaikan tanganku.

Setelah semuanya beres aku segera bergegas keluar ruangan kerjaku. Hari ini aku ingin mampir ke mini market dekat kos ku, aku akan membeli banyak kebutuhan aku sehari-hari untuk di kos. Sebelumnya waktu pindahan aku gak sempat belanja apa-apa.

“Tin.. tin…” Sebuah klakson mengagetkan aku. Reflek aku melompat agak kepinggir jalan.
Dari balik kaca mobil berwarna putih yang diturunkan, aku melihat seorang pria yang wajahnya sangat aku kenal.
Busyet ngapain juga Jacki buntuti aku terus! kataku mengumpat kesal! kali ini benar-benar kesal! Jadi makanan yang dititipkan lewat Ibu kos ku dulu benar adanya dari si Jacki sialan ini! Untung aku gak memakannya, karena aku benar-benar ragu dan gak tau siapa pengirimnya waktu itu. Jadi kukasikan ke Ibu Kosku aja, dengan alasan udah kenyang.

Jacki segera turun dari mobil yang dia setir tadi, kemudian berdiri menghalangi jalan aku. Dia seolah tak peduli jika aku memasang wajah paling mengerikan di depannya, yang dia lakukan hanya wajah nyengir dan senyum khasnya yang dulu sempat membuat aku begitu rindu ingin selalu bertemu dia.
“Pa kabar Mira? Masih ingat aku kan?” sapanya lebay!
Aku tak mau menjawab sapaanya, lewat gerakan tanganku yang kukibaskan, kuharap dia mengerti kalau aku memintanya untuk menyingkir dari hadapanku.
“Sebenci itu kamu sama aku? Bahkan kamu gak mau dengar penjelasanku dulu? Kamu hanya memvonis aku secara sepihak, apa yang kamu lihat itu tak seperti yang kamu bayangkan. Aku dan Lala gak ada hubungan apa-apa!” jelasnya panjang lebar seolah ingin membela diri. Iiiiih aku jadi benar-benar muak!
“Jack please jangan ganggu aku lagi. Sekalipun kamu tak ada hubungan apa-apa dengan Lala, itu bukan urusan aku lagi. Aku kerja di sini untuk meraih cita-cita aku, tolong jangan pengaruhi aku dengan bualan-bualan kamu!” kataku berang!
“Duh kok parah gitu sih marahmu. Ok… ok aku akan pergi setelah kamu kasih aku kesempatan sekali aja untuk jelasin semua masalah itu ke kamu. Bahwa aku dan Lala gak ada hubungan apa-apa” sambungnya lagi.
“Udah deh jangan ngomong itu lagi, aku capek, maaf aku mau ke kos!” jawabku sambil berusaha berkelit dari hadapannya.
Tapi yang Jacki lakukan malah konyol banget, dia menghalangi jalan aku terus, aku ke kiri dia ikut ke kiri aku kekanan eh dia ikut juga. Untung sepanjang jalan ini tak terlalu ramai, yang ada hanya beberapa bule yang melintasi jalan ini untuk menikmati sore.
“Jacki kamu apa-apan sih! cepet minggir!” kataku setengah berteriak.
“Aku kan sudah bilang, aku akan pergi setelah kamu kasi aku waktu tuk jelaskan semuanya. Itu aja!” katanya kali ini dengan nada serius.
Aku benar-benar emosi dibuatnya, aku dorong tubuhnya kesamping, dan ketika ada celah sedikit aku segera berlari sekuatnya menuju kos aku. Tampaknya Jacki tidak berusaha mengejar aku. Dia membiarkan aku berlari menuju kosku.
Ahhhhhh… nafasku jadi ngos-ngosan dibuatnya. Jarang berolah raga tiba-tiba harus lari sekencang ini, benar-benar menguras tenaga ku. Sialan! pingin kujewer rasanya kuping si Jacki itu, sudah salah masih mau berusaha membela diri.

“Nak Mira, ada kiriman bunga, Ibu taruh di atas meja di depan pintu kamar” kata Ibu Kos mengagetkan aku.
“Dari siapa bu?” Tanya ku penasaran.
“Itu dari cowok yang bawa mobil putih kemarin, yang nitipin bungkusan ke Ibu” jawab Ibu Kosku sambil tersenyum, seolah menggoda aku.
“Oh my God, Jackiiiiiiiiii” tanpa sadar aku berteriak histeris, membuat Ibu Eni menarik senyumnya dan menghampiri aku secara refleks!
“Nak Mira, ada apa ya? kok berteriak gak jelas begitu?” Tanyanya khawatir.
“Oh gak ada apa-apa bu, maaf saya harus segera ke kamar, sekali lagi maaf” jawabku berusaha menghindar dari beberapa pertanyaan Ibu Eni yang tampaknya masih penasaran dengan kejadian tadi. Tanpa menunda lagi aku segera berlari menuju kamarku, dan buum! pintu kamar kututup rapat-rapat!.

Cerpen Karangan: Gex Agung Ratih
Blog / Facebook: gexagungratih[-at-]ymail.com

Cerpen Penampakan Cinta Ala Jacki (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Dan Gengsi

Oleh:
Cinta memang penuh misteri, tak bisa dimengerti, tak terduga dari mana datangnya, dari siapa, dan entah mengapa bisa berlabuh pada dua insan yang berlainan. Cinta yang berawal dari tatapan

Ashilla

Oleh:
Dewan guru tak henti-hentinya membicarakan nilai rapor sang MARIO STEVANO. Angka sembilan berjejer mulai dari pelajaran bahasa inggris, biologi, sejarah, kewarganegaraan. Untuk matematika dan bahasa indonesia serta bahasa prancis

Seberkas Cahaya di Pinggir Sawah

Oleh:
Dentuman musik seakan memecahkan dunia. Dentingan gelas terdengar di mana-mana. Riuh pikuk suara orang terdengar jelas. Di sudut terlihat seorang gadis duduk termenung. Tatapan kosong terpancar dari sorot matanya.

Winter Love Korea

Oleh:
“Annyeong! Chae Yoo! Song Mi!” Seru seorang gadis sambil menghampiri 2 gadis lainnya. “Annyeong, Jung Eun. Adik bermasalah lagi?” Balas Chae Yoo. “Ne,” jawab Jung Eun sambil mengatur napas.

Jason, Aku Mencintaimu!

Oleh:
Aku memandangi tubuh tinggi salah satu personil Jasuka Band yang sedang serius memukulkan dua buah stik pada drum besar di hadapannya. Dia Jason, cowok yang telah tiga bulan ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *