Penampakan Cinta Ala Jacki (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 26 January 2019

“HARUSKAH AKU BERSUJUD DIKAKIMU, UNTUK MEMINTA MAAFMU?… KUTITIPKAN NAFASKU DI JANTUNGMU, AGAR KAMU TAU BETAPA SESAKNYA DADAKU MENAHAN RASA RINDU… BUKALAH PINTU HATIMU, JANGAN BIARKAN RINDUKU MENUNGGUMU BEGITU LAMA… SEBENCI APAPUN DIRIMU PADAKU, AKU AKAN TETAP DI SINI MENUNGGUMU MEMAAFKAN AKU… JIKA AKU TAK BISA MEMILIKIMU, MAKA TAK ADA SATU HATIPUN YANG BISA MENGIKAT CINTAMU… bla… bla.. bla…”
Untuk kesekian kalinya aku membaca satu demi satu kalimat puitis di dinding kamarku, sudah hampir jam 12 malam, tapi mataku belum juga mampu terpejam. Aku benar-benar dibuat lelah dengan semua kelakuan Jacki padaku. Seperti orang yang kurang kerjaan, Jacki selalu membuntuti aku kemanapun aku pergi. Gak di tempat kerja, kos, supermarket seberang jalan, kedai kecil di jalan-jalan dekat kosku, selalu ada Jacki. Ibarat hantu penasaran yang tiap saat menampakkan batang hidungnya dimana-mana.

Zzzzz… zzzzzzz… Hp ku tiba-tiba bergetar. Lamunanku buyar seketika. Ada sms masuk, dengan sentuhan kecil di hp, aku membaca sebuah sms dari nomor yang tak kukenal.
Hai Mira, aku sahabatmu Lala. Maaf jika aku mengganggumu, Cuma mau kasi tau, aku mengirimimu email, tolong dibaca ya. Big Hug, your sister.. Lala.
Aku tersentak membaca sms itu. Lala? Apa kabarnya sekarang. Sejak kejadian itu, aku telah menutup diri dari Lala dan juga Jacki. Lala sahabat terbaiku dari kecil hingga aku dewasa. Hanya karena kejadian itu, persahabatan kami jadi hancurrr berantakan, mungkin ini yang dinamakan, karena nila setitik rusak susu sebelanga. Mungkin juga semua ini terjadi karena aku terlalu menutup diri dari mereka, bagaimanapun gigihnya mereka ber dua untuk berusaha menjelaskannya padaku tapi aku tetap tak percaya. Aku lebih percaya dengan apa yang aku lihat saat itu, dan itu adalah bukti yang cukup kuat untuk tidak memaafkan mereka dari semua ini.

Dear my sister, jika kamu membaca emailku ini, berarti aku sudah tidak ada di pulau tercinta ini. Seperti yang pernah aku katakan kekamu sebelumnya, kalau aku pernah mengikuti beberapa tes dan interview untuk bisa bekerja di Luar negeri. Dengan bantuan salah satu LSM, aku mendapat biaya untuk meloloskan cita-citaku. Sayang sekali kamu tidak ada disampingku saat kabar bahagia itu aku terima. Jadi kita tak sempat merayakannya.

Mira, aku bersumpah jika aku tak pernah menodai persahabatan kita dengan berkhianat padamu. Apa yang kamu lihat saat itu tak seperti yang kamu bayangkan. Jacki sangat mencintaimu. Aku dan dia berada di toko bunga itu, karena Jacki meneleponku. Dia ingin membuat sebuah pesta kejutan yang penuh bunga saat ul-tahmu. Kamu beruntung karena dia sangat romantis. Jacki memesan begitu banyak bunga untuk itu. Aku mengajarinya bagaimana cara memberikan bunga kepadamu agar penuh kesan romantis di hari ultahmu. Saat itulah kamu lewat dan melihat adegan yang sebenarnya akan dia praktekan di hadapanmu kelak. Bunga itu untuk kamu bukan aku. Jika kamu tak bisa memaafkan aku, bukalah maafmu untuk Jacki, karena dia tulus menyayangi kamu.

Eh satu lagi, aku mau minta maaf, selama ini aku yang berusaha mencari tau keberadaanmu, apa yang kamu lakukan, di mana kamu berada, dan semua informasi ini aku kasi ke Jacki, karena dia tak mau melewatkan satu haripun tanpa dirimu. Tempat kosmu itu adalah rumah bibiknya Iwan, sahabatmu. Dinding yang penuh kata-kata puitis itu semua hasil karya Jacki, dan hotel tempat kamu bekerja sekarang, juga ada kaitannya dengan Jacki, nanti tentang semua ini biar Jacki yang menjelaskannya ke kamu ya. Tapi tolong jangan salahkan Iwan, aku yang memaksanya untuk memberitahu keberadaanmu. Karena itu tolong berikan Jacki kesempatan untuk menjelaskannya. Happiness day sis, big hug for you, muach… muach…
Love Lala.

Email yang singkat, padat namun cukup jelas. Aku jadi merasa agak bersalah pada mereka terutama Lala. Waktu itu aku memang melihat Jacki berlutut di sebuah toko bunga sambil menyerahkan setangkai bunga mawar pada Lala yang terlihat menahan senyumnya. Jika apa yang aku pikirkan saat itu benar, Jacki menyukai Lala, lalu mengapa Jacki masih mengejar-ngejar aku. Bukankah seharusnya dia bahagia kalau aku pergi dari dalam kehidupannya, tapi ini malah sebaliknya. Uffffffffffff… aku jadi bingung dibuatnya. Malah gak konsen kerja nih. Tapi sekarang sudah terlambat adanya, Lala sudah pergi, dan mungkin Jacki juga marah padaku, karena sejak aku mendorongnya di jalan itu dan berlari menghindari dia, Jacki tak lagi menampakan batang hidungnya, dia seperti lenyap ditelan bumi.

Genap seminggu, Jacki menghilang. Diam-diam aku jadi sering memikirkan dia. Masih terbayang saat Jacki menemani hari-hariku, setelah kupikir-pikir, benar juga kata Lala, kalau Jacki adalah cowok teromantis di dunia. Keromantisannya itu terkadang disertai kekonyolan yang sering membuat aku tertawa tergelak-gelak. Tapi di mana dia sekarang?

“RINDU INI KERAP MENGUSIK MIMPI2 KU… WALAU KELAK AKU MENJADI LILIN, AKU RELA MELELEH UNTUK MENERANGI HATI & JIWAMU… KAN KUPERTAHANKAN CINTA DAN SAYANG INI WALAU BADAI DATANG SEKALIPUN TUK MENGOYAK-NGOYAK KETEGUHANYA… SAYANG KEMBALILAH KEDALAM DEKAPANKU… bla… bla.. bla”

“Tok… tok… tok…”
Suara ketukan di pintu kamarku membuyarkan konsentrasiku untuk membaca satu persatu kalimat puitis yang masih menempel di dinding kamarku.
“Siapa?” tanyaku dari dalam kamar
“Ibu, nak Mira, maaf mengganggu” jawab sebuah suara yang kukenal adalah suara Ibu kosku.
“Oh maaf, sebentar bu” aku segera membuka pintu kamarku.
“Maaf, ini ada undangan buat nak Mira” kata Ibu Eni sambil menyodorkan sebuah amplop berwarna biru.
Dag.. dig.. dug jantungku berdebar kencang, mungkin kelihatan kalau aku gugup banget saat menerima kartu undangan itu. Pikiranku mulai merambah kemana-mana, jangan-jangan Jacki…
“Dari cowok yang bawa mobil putih kemarin” kata Bu Eni yang semakin membuat aku jadi gemetar.
“Eh.. oh.. maaf, boleh saya tau Ibu terima ini kapan?” tanyaku terbata-bata.
“Tadi pagi waktu Nak Mira krja. Ibu titip sama cucu Ibu, karena Ibu ada urusan sedikit, tapi maaf dia lupa kasi nak Mira” jawab Bu Eni.
“Oh Gak apa-apa bu, terimakasih banyak” kataku menutup pembicaraan.

Aku sudah tak sabar untuk mengetahui isi dari surat undangan ini. Masih dengan tangan gemetar aku membuka amplopnya, disana hanya tertulis namaku, “Mira”. Dengan menahan detak jantungku yang berdegup semakin kencang, dan dengan meyipitkan kedua mataku, aku menarik kartu undangan yang cukup besar itu dari dalam amplopnya, dan… aku melihat foto Jacki yang sangat tampan di kartu itu, dia begitu gagah berpose dengan stelan jas berwarna hitam.
Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, kami bermaksud mengadakan syukuran atas wisuda anak-anak kami yang sudah berhasil meraih gelar sarjana… bla.. bla… bla…

Ahhhhh, aku baru bisa menarik nafas lega, ternyata selama ini hatiku penuh dengan kecurigaan, tapi… oh my God, aku segera melihat kalender di meja, aku baru ingat kalau Jacki pernah bilang dia bakal diwisuda dalam waktu dekat dan dia pernah memohon supaya aku juga datang diacara wisuda dan syukurannya, tapi… itu berarti seminggu yang lalu dia diwisuda, ah sudah lewat, aku jadi gak enak hati. Aku hanya bisa terduduk lemas di lantai sambil menarik nafasku. Aku merasa bersalah banget. Kartu undangan itu masih kudekap erat di dadaku.

Zzzzzzzt… zzzzt… hpku terdengar bergetar. Sontak aku terbangun dari tempat duduk aku semula. Dengan perasaan yang masih amburadul aku melihat Jacki menelpunku di Hp. Setengah ragu aku menjawabnya.
“Ha… lo…” Jawabku gugup.
“Ah Akhirnya… kamu mau juga jawab telepon aku. Makasih ya, sudah terima undangan aku sayang? aku masih boleh kan panggil kamu sayang?” kata Jacki yang terdengar begitu lembut dan happy. Entah kenapa aku begitu merindukan suara beratnya yang buat aku merasa terlindungi setiap kali dia meneleponku dulu.
“Hm… sudah, maaf aku tak bisa hadir waktu kamu diwisuda, aku…” Lagi-lagi aku tak mampu berkata-kata, aku selalu tak bisa menyembunyikan kegugupanku ini.
“Oh gak apa-apa, buat aku kamu sudah mau menerima teleponku itu sudah lebih dari cukup kok, yang penting saat acara syukuran nanti kamu harus datang ya” kata Jacki yang terdengar penuh harapan. Aku jadi makin merasa bersalah.
“He.. eh, aku akan berusaha datang” Jawabku sambil tersenyum.
“Nah gitu dong, sekarang kamu dandan yang cantik, kita makan malam sama-sama yuk, aku udah on the way ke kos kamu, 5 menit lagi nyampe kok” kata Jacki mengagetkan aku. Tentu saja aku jadi makin grogi, tapi aku tak mau membuang waktu, segera setelah percakapan kami di hp selesai, aku mempersiapkan diri secantik-cantiknya, semoga hari ini adalah awal yang indah buat kami.

Astaga aku bangun kesiangan nih, padahal hari ini padat acara di tempatku bekerja. Aku bergegas mandi dan tak lama kemudian sudah siap menuju tempat kerja.
“Morning Mira, gimana off mu kemarin?” Tanya Nita menyapa aku yang baru saja memasuki ruangan office.
“Good Morning juga Nita, sory aku terlambat, kemarin sore baru balik ke kos, wah liburku menyenangkan banget, aku ketemu keluarga dan teman-temanku, thanks” jawabku membalas sapaan Nita, “Eh sory satu lagi, ada apaan kok kulihat temen-temen cewek tadi pada ngerumpi di ruang absensi, kayaknya ngomongin cowok ganteng gitu, seru banget, mereka bilang Manager… emang siapa?” Tanya ku penasaran.
“Oh itu, Manager yang baru untuk hotel ini sudah tiba kemarin. Orangnya masih muda dan kemarin waktu perkenalan Manager baru kamu gak di sini, jadi sekarang kamu bisa kan bawa map-map ini ke ruang Manager, ada beberapa yang perlu ditandatangani, sekalian kenalan dengan Manager baru” kata Nita mengedipkan sebelah matanya.
“Siiip” jawabku sambil mengambil map-map dari tangan Nita.

Tok… tok… “Good Morning Sir” kataku setiba diruang Manager. aku melihat manager yang baru, duduk membelakangiku, tampaknya dia sedanga mengamati sambungan kabel komputer di depannya.
“Morning” balasnya sambil membalikan tubuhnya, dan…
Ah apa yang kulihat benar-benar sulit untuk dipercaya, Jacki duduk manis sambil memandangi wajahku yang mungkin terlihat mulai memerah karena bingung dan salah tingkah.

“Hai Mira, aku Manager di Hotel ini sekarang. Aku menggantikan Mr Goerge yang sudah habis masa contraknya, gimana? Keberatan?” ujar Jacki dengan senyumnya yang mengembang, benar-benar mampu merontokan hatiku saat ini.
“Kamu… kok bisa?” tanyaku masih bingung.
“Apa sih yang gak bisa buat Jacki…?” jawabnya malah menggodaku.
“Lala sudah jelaskan dalam emailnya kan? kalau aku ada hubungannya dengan hotel ini. Aku keponakan dari Tante Rini yang menikah dengan Mr Sammy, owner dari hotel ini, jadi gak ada salahnya kan kalau aku bekerja di sini?” Tanyanya lagi sambil mendekati aku, menatap wajahku dalam-dalam dan meraih jemari tanganku. Aku benar-benar mati kutu dibuatnya. Yang bisa kulakukan cuma tertunduk malu, tak mampu menatap balik tatapan Jacki.

Sekarang sudah jelas adanya bahwa cinta Jacki kepadaku yang kujuluki “Penampakan Cinta Jacki”, memang akan selalu ada di sekitar aku. Begitu banyak cerita dan kisah yang membumbui perjalanan cinta kami. Dan Bias-bias kasih kami pun terajut lagi. Perasaan yang begitu bangga, bahagia, cinta, sayang semuanya bergerombol mengikat hati dan perasaan kami lagi. Bagaimana tidak? sekarang setiap saat aku bisa dekat dengan Jacki, kami bisa sharing tentang tugas dan pekerjaan kami di sini, tentunya juga berbagi dalam kisah asmara kami yang makin hari makin terasa indah. Ahhhhh serasa dunia milik kami berdua, hanya ada Aku dan Jacki. Penampakan cinta Jacki telah membelenggu hatiku. Kuat! dan dalam!.

Cerpen Karangan: Gex Agung Ratih
Blog / Facebook: gexagungratih[-at-]ymail.com

Cerpen Penampakan Cinta Ala Jacki (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Apa Itu Artinya

Oleh:
Sore hari di rumahku, aku Hana penggemar berat Kimbum. Aku siswi kelas X di SMA nusantara. Aku adalah anak tunggal. Sore itu aku lagi asyik dengerin musik K-pop kesukaanku,

Samudra Cinta

Oleh:
Deburan ombak tepi pantai malam itu, seperti sedang memberiku isyarat bahwa aku hanya terlihat layaknya sebongkah karang yang kesepian di tengah samudra nan deras, entah mencoba menahan derasnya terjangan

Play Boy vs Play Girl

Oleh:
Semua pasang mata menatap satu laki-laki yang dikenal player itu. Laki-laki yang sedang menggandeng, lebih tepatnya merangkul seorang wanita berparas wajah yang cantik. Andrew Putra Senaryo. Yap, itu nama

Aku dan Sahabatku (Part 1)

Oleh:
Kutatap buket bunga yang tengah kupegang sambil sesekali aku berdiri merenggangkan badanku, kutatap sebuah gedung yang berada di hadapanku tempat di mana proses pelaksanaan wisuda tengah berlangsung. Aku terlambat

Cinta Menghapus Kesedihanku (Part 3)

Oleh:
“Ih.. apaan sih!” Jawabku malu. “Tuh.. tuh mukamu merah, hahahaha kau tak bisa membohongiku sahabat!” Ucap Lisa sembari tangannya menunjuk mukaku. “Iya sahabat, aku mengakuinya, puas?” Tanyaku dengan marah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *