Penantian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 17 March 2018

Sejak satu jam yang lalu aku duduk menghadap pintu di kursi hitam bagian pojok kafe ini. Mataku menerawang keluar jendela. Melihat kendaraan yang berlalu-lalang tiada hentinya.

Kafe bernuansa hitam yang aku datangi sangat ramai malam ini. Sedari tadi orang-orang keluar masuk kafe silih berganti. Segelas latte di hadapanku belum kusentuh sama sekali.
Aku rasa, aku terlalu gugup. Aku bahkan datang satu jam lebih awal dari janji kami bertemu. Terlalu gugup apa yang akan kami bicarakan nanti atau gugup bertemu orang itu. Maklumlah, sudah tujuh tahun sejak kita terakhir kali bertemu. Melebihi rasa gugupku ketika akan melakukan siaran langsung.
Mungkin dia sudah melupakannya. Aku tersenyum sambil menggeleng. Tidak, tidak mungkin. Aku saja masih terus memikirkan lelaki itu. Entah, apa yang sebenarnya aku rasakan. Aku tidak ingin mengakuinya lagi.

Doni, lelaki itu, berhasil mencuri hatiku. Kita satu kelas selama tiga tahun waktu SMA. Awalnya aku sangat membenci lelaki yang setiap hari menggangguku itu. Tapi karena suatu insiden, kita menjadi teman. Satu tahun aku menyimpan rasa terhadapnya. Bahkan, dia tidak tahu. Aku mencintainya dalam diam.

“Kamu akan kuliah di Jakarta?” Doni bertanya padaku malam sebelum aku berangkat ke Jakarta. Aku mengikutinya duduk di bangku taman dekat rumahku.
“Ya,” aku menjawab singkat, memeluk tubuhku sendiri karena angin malam yang dingin. “Kau menyuruhku keluar malam-malam hanya untuk menanyakan itu?” aku memasang wajah cemberut.
“Bukan, bukan itu,” jawab Doni.
“Terus? Udah dingin banget nih,” kataku.
“Ya ampun, besok bukannya kamu berangkat?”

Benar juga. Untuk beberapa tahun kedepan mungkin aku tidak akan bertemu dia lagi. Semoga saja aku masih bisa bertemu dengannya. Karena aku sangat mencintainya. Aku tidak mau mengatakannya. Aku tidak mau merusak hubungan persahabatan ini. Aku tidak mau kehilangan orang yang aku cintai sekaligus sahabatku sendiri.

“Hey, Tiara!” suara keras Doni membuyarkan lamunanku.
Tiba-tiba saja air mataku menetes begitu saja membasahi pipi.
“Loh, loh, kok malah nangis sih?” Doni merapatkan tubuhnya ke arahku kemudian mengusap bahuku pelan.

Aku menghapus air mata yang masih saja mengalir. Aku tidak ingin berbicara apa-apa. Aku hanya begitu sedih berpisah dengannya. Jika kita bertemu lagi, jika mungkin, apakah dia masih memperlakukan aku dengan baik seperti ini. Mungkin juga dia nanti akan melupankanku. Dia akan punya kekasih atau menikah saat kami bertemu nanti. Aku harus mengatakannya. Jika aku mengatakannya sekarang mungkin hatiku akan sedikit lega. Mengatakannya sekarang atau tidak sama sekali. Sebelum terlambat.

“Tiara, berhentilah menangis, ayo aku antar kamu pulang,”
Aku mengikuti Doni berdiri dan berjalan sambil sedikit terisak di sampingnya.
“Kenapa kamu cengeng sekali? Ini bukan pertemuan terakhir kita kan?”
Perkataan Doni sepanjang perjalanan menuju rumahku tidak aku tanggapi sama sekali. Yang ada di pikiranku sekarang adalah, mengatakannya sekarang atau tidak sama sekali.

“Nah, Tiara, semoga sukses ya? Semoga cita-citamu sebagai reporter tercapai. Berhenti menangis, setelah masuk langsung tidur. Bukankah kamu besok memakai penerbangan pagi?” Doni menyentuh kedua bahuku.
Kami sudah sampai di depan rumah. Ya Tuhan, aku tidak ingin berpisah dengannya.
“Doni, aku pasti akan merindukanmu,” kataku.
Doni tersenyum dan mengiyakan perkataanku. Menyombongkan bahwa aku pasti tidak akan bisa hidup sehari tanpanya. Aku meninju lengannya pelan sambil tertawa kecil mendengar gurauannya.
Tapi memang benar. Bagaimana mungkin aku bisa menahan rindu itu besok dan hari-hari selanjutnya?

“Nah, ayo masuk, sudah malam,”
Tanpa berkata apa-apa aku berjalan memasuki pagar rumah. Hatiku kacau. Aku menoleh dan melihat Doni masih berdiri di tempatnya tadi. Aku berbalik dan dengan cepat memeluknya.
Aku memeluk pinggangnya dan menyatukan kedua tanganku di punggungnya. Doni yang mungkin berpikir aku sangat sedih dan tidak akan menemuinya beberapa tahun kedepan, balas memelukku.
“Sudahlah jangan sedih,” katanya pelan.

Aku melepaskan pelukannya, memandang wajah tampan Doni.
Aku harus mengatakannya. Aku berjinjit menyejajarkan wajahku padanya, memejamkan mata dan setelah menghela nafas aku mencium bibirnya lembut. Tangisku kembali pecah. Aku tahu Doni sangat terkejut karena ketika aku menyudahi ciuman sekilas itu dia membelalakkan matanya.

“Doni aku mencintaimu,”
Singkat, padat dan sangat jelas. Aku melanggar janjiku sendiri agar wanita tidak menyatakan perasaan dulu pada pria. Tapi aku sudah tidak tahan. Aku harus melakukannya.
Aku berbalik dan masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Doni yang masih berdiri mematung di depan pagar rumahku. Aku menghabiskan ditemani tangis.

“Tiara, sudah lama menunggu?” seorang laki-laki datang dan duduk di hadapanku.
Benarkah ini laki-laki yang aku tunggu? Benar. Wajah tampan itu yang baru kutemui beberapa hari lalu. Yang telah aku nantikan kedatangannya selama tujuh tahun terakhir.
“Belum,” aku menyunggingkan senyum untuk menutupi kebohongan.
Doni tersenyum, “Bagaimana kabarmu?”
Bagaimana bisa kamu menanyakan itu? Keadaanku begitu buruk. Karena aku sangat merindukanmu.
“Kabarku baik, kamu sendiri?”
Doni terdiam sebentar sebelum menjawab, “Aku baik-baik saja,”

Seorang pelayan datang sambil membawa secangkir moccacino dan meletakkan di hadapan Doni.
“Jadi, kamu sudah menjadi direktur sekarang?” aku bertanya kepadanya mengingatkanku akan pertemuan kami beberapa hari yang lalu.

“Jadi, ini yang akan bekerjasama dengan kita,” kata Pak Dovi, memperkenalkan beberapa orang dari sebuah perusahaan furniture yang akan menjadi sponsor acara baru kami.
Aku terpaku di tempat dudukku. Melihat salah satu dari orang yang diperkenalkan atasanku itu. Seorang lelaki tampan itu sedang tersenyum dan bersalaman dengan rekan kerjaku yang lain.

“Hey! Tiara,” aku tersentak ketika Pak Dovi memanggil namaku dengan sedikit keras.
Aku tersadar dan mendapati semua orang di ruang rapat itu melihat ke arahku. Aku langsung menyalaminya.
“Tiara Adeeva, Newsreader TimeTV,” aku memperkenalkan diri kepada beberapa pria itu.

Itu benar-benar dia. Ya Tuhan, dia tidak berubah sama sekali. Dia masih saja tampan dan tinggi seperti dulu. Senyumnya masih menghangatkanku. Aku hanya diam memperhatikan ketika mereka mulai berpresentasi menjelaskan semuanya. Aku yang sebenarnya tidak perlu ada di sini, karena tadi aku hanya ada perlu sebentar dengan Pak Dovi. Sambil menerka-nerka apakah dia masih ingat denganku.

Rasanya cepat sekali pertemuan hari ini berakhir. Aku keluar ruangan bersama rekan kerjaku yang lain. Para wanita ramai menceritakan klien baru kita tadi. Heboh berebut lelaki tampan itu.
Jangan, lelaki itu milikku!

“Tiara,”
Aku dan rekan kerjaku yang ingin naik lift menoleh.
Doni. Aku terbelalak. Dia masih mengingatku.
Aku berjalan mendekat ke arahnya diikuti pertanyaan temanku tentang siapa dia dan apa hubunganku dengannya.
“Hay, lama tidak bertemu,” kataku.
“Sabtu sore pukul enam?” katanya.
“Apa?” aku sedikit bingung dengan ucapannya tadi.
“Aku tunggu di Black Coffee,” Doni berlalu masih dengan senyumnya.

Dia tidak berubah. Dia masih mneyebalkan seperti dulu. Dia bahkan tidak bertanya bagaimana kabarku dan menanyaiku bahwa aku ada pekerjaan apa tidak malam itu.
Aku lega ketika melihat jadwal. Aku hanya ada wawancara dengan pengusaha makanan siang harinya. Sorenya aku bisa langsung bertemu dengannya. Aku sudah sangat tidak sabar menunggu sabtu sore itu.

Doni tersenyum kecil mendengar pertanyaanku.
“Direktur? Ah, hanya perusahaan kecil,” rendahnya.
Aku mengamati Doni yang meminum moccacinonya. Dia sangat cocok dengan kemeja putih itu. Rambutnya dia naikkan sedikit. Terkesan cool. Bagaimana bisa baju kita sama. Saat ini aku juga mengenakan kemeja panjang berwarna putih.
Doni memergokiku yang sedang mengamatinya. Aku buru-buru meminum latteku yang dingin. Kami mendadak canggung. Apalagi mengingat pertemuan terakhir kita tujuh tahun yang lalu. Pipiku tiba-tiba memerah.

“Ra, bagaimana pekerjanmu?”
Syukurlah. Pertanyaan yang tepat sekali. Jika ada yang menanyakanku tentang pekerjaan, aku akan menceritakan banyak sekali. Dari pucuk sampai ke akar-akarnya.
“Apakah aku berbicara terlalu banyak?” tanyaku setelah berbicara panjang lebar.
“Tidak, kamu membuat kita tidak canggung lagi,” jawab Doni.
“Apa kamu tidak pernah melihatku di tv? Aku selalu melakukan siaran langsung,”
“Aku baru melihatmu baru-baru ini. Kau tidak takut melaporkan langsung kecelakaan dan pengeboman itu?” tanya Doni.
“Awalnya ngeri juga sih. Tapi sekarang sudah terbiasa. Aku harus melakukannya karena sebentar lagi aku akan siaran di dalam studio,” aku tersenyum.

Malam sudah datang. Jam menunjukkan pukul setengah sembilan. Lama sekali kita berbincang di kafe yang mulai sepi ini. Kami memutuskan untuk pulang.
Doni menawarikan tumpangan dengan mobilnya. Aku menolak dengan halus. Aku akan naik taksi saja. Tapi Doni menarik tanganku dan membawaku masuk ke mobilnya.
Aku duduk di samping Doni yang sekarang sedang mengemudi.

“Kamu tinggal di perumahan dekat kantormu bukan?”
“Ya,” aku menjawab singkat.

Mobil melaju di jalanan yang ramai. Sedikit macet memang. Mengingat banyak yang pulang selarut ini. Biasanya aku juga pulang larut jika harus menggantikan siaran malam.
“Apakah aku harus menyalakan musik? Canggung sekali,”
Doni mulai menyetel musik. Lagu Hey Jude mengalun pelan dari radio di mobil Doni.

“Ra, bicaralah sesuatu,” kata Doni, “Dulu kamu cerewet sekali, pantaslah kamu jadi reporter,”
Aku hanya tertawa kecil mendengar kata Doni. Sejujurnya aku tidak ingin membicarakan masa lalu. Aku takut pembicaraan akan tiba pada pertemuan terakhir kami. Ketika aku mengakui perasaanku dan menciumnya. Mau ditaruh di mana wajah ini.
Aku juga takut Doni sudah memiliki kekasih atau yang terburuk, dia telah menikah. Aku tidak ingin Doni tahu bahwa aku masih mencintainya. Aku sangat malu.

Aku melirik tangan Doni yang memegang kemudi. Syukurlah, tidak ada satupun cincin yang melingkar di jarinya.

“Kau bisa menurunkanku didepan perumahan,” kataku.
“Tidak usah, aku akan mengantarkan sampai di depan rumahmu,” jelas Doni.

Mobil hitam itu mulai memasuki perumahan. Berbelok di pertigaan pertama dan sampai.
“Kalau ginikan aku jadi tahu di mana rumahmu, jika aku akan datang kan tidak perlu bertanya lagi,” kata Doni yang membuatku cukup terkejut.
“Kenapa kamu harus datang ke sini?” godaku.

Kita berdiri depan pagar rumah. Aku menunggunya memasuki mobil tapi dia masih juga tetap berdiri di hadapanku.
“Doni, ini sudah malam. Cepat pulang,”
“Hhh, kau masih memanggilku seperti itu?”
“Apa ada yang salah? Bukankah namamu memang Doni?” aku bertanya heran.
“Teman-teman yang lain memanggilku Don. Kenapa kau selalu memanggilku Doni?” Doni melipat kedua tangannya di dada.
Aku tertawa, “Kenapa itu saja dipermasalahkan?”
“Jadi, itu menjadi panggikan sayangmu untukku?” Doni tersenyum dan tanpa sadar dia mengacak pelan rambutku. Itu sudah menjadi kebiasaannya dari dulu. Dulu aku akan marah dan mengibaskan rambutku agar Doni menghentikan perbuatannya.

Aku mendongak menatap Doni. Tangannya berhenti mengacak rambutku. Kepalaku ditepuk-tepuknya pelan. Kenapa ini? Doni hanya diam sambil tersenyum menatapku. Dia masih saja menepuk kepalaku.
“Kau seharusnya melakukannya lebih pelan, seperti ini,” aku menjulurkan tanganku dan mengelus rambutnya pelan.
“Seperti ini,” aku mengelus rambutnya pelan. Tangannya masih diam di kepalaku.

Aku salah. Suasana menjadi sangat canggung. Aku segera melepaskan tanganku dari sana. Doni juga melakukan hal yang sama.
“Aku masuk dulu, selamat malam,” aku berbalik memasuki pagar.

Doni menarik tanganku. Aku kembali berhadapan dengannya.
“Ra, kau tidak merindukanku?” tanyanya. Doni memegang kedua bahuku.
“Aku.. aku,” aku menghindari bertatapan mata dengannya.
“Kau tahu, sejak tadi aku mengharapkan kata-kata itu darimu,” katanya.
“Lalu kenapa kamu juga tidak mengatakannya padaku?” tanyaku.
“Aku merindukanmu,” aku ditarik ke dalam pelukannya.
Dan tersenyum senang di atas dada bidang Doni.

“Kau tidak pernah mengatakan itu,” gumamku, “Aku selalu mengharapkan kata-kata itu darimu,”
“Maafkan aku,” katanya.
“Tidak apa-apa,”

Doni mengelus rambutku pelan, “Seperti ini?” tanyanya.
“Ya, itu nyaman sekali,” aku melingkarkan tanganku dipinggang Doni dan menyatukan pada punggungnya.
“Aku tidak tahu cara melakukannya karena aku tidak pernah melakukan ini pada wanita,” kata Doni. Dia meletakkan kepalanya di atas kepalaku.
“Wah, kau tidak memiliki kekasih rupanya?” tanyaku.
“Ya, karena sudah ada seorang wanita cantik di hatiku,” jawabnya.
Aku harap itu aku, Doni.

“Siapa?” aku dengan ragu bertanya.
“Ini, dia sedang ada di pelukanku sekarang,”
Aku melepaskan pelukannya. Tangannya masih melingkar di pinggangku. Aku mengerjap-ngerjapkan mata.
“Jangan melakukan itu, kamu terlihat semakin cantik ketika mengerjapkan mata,” kata Doni, pura-pura marah.
Aku tersenyum dan hanya diam. Sepertinya penantianku selama ini tidak sia-sia. Aku yang selalu merindukan kehadirannya akhirnya dia datang kepadaku.

Entah kenapa malam menjadi begitu cerah nampaknya. Bulan purnama sedang bulat sempurna malam ini. Dan bintang yang biasanya tidak tampak, berkelipan di langit malam Jakarta. Entah itu nyata atau hanya perasaanku yang terlalu gembira, tapi bintang-bintang itu juga merayakan kebahagianku dengan bersinar terang di angkasa.

“Tiara, seharusnya kamu tahu, aku mencintaimu sejak sekolah dulu, aku mengganggumu setiap hari agar kamu melihat kepadaku,” Doni menatap dalam kemataku.
“Aku tidak tahu,”
“Malam terakhir kita bertemu sebenarnya aku ingin mengakui perasaanku, tapi suasana hatimu sedang kacau. Tapi itu tidak penting, yang penting sekarang adalah aku ada di sini dan aku sangat mencintaimu Ra, benar-benar mencintaimu,” ucapnya.
“Aku juga mencintaimu Doni,”
Doni mendekatkan wajahnya kepadaku. Aku memelukanya dan dia mengecup bibirku pelan.
“Aku mencintaimu,” katanya.
Doni mencium lembut bibirku.
Aku memejamkan mata. Tidak kuasa melihat mata indah Doni yang ada di hadapanku.

Bintang-bintang malam semakin bersinar. Bulan purnama pun sama. Mereka semua merayakan dua insan yang akhirnya bersatu malam ini. Setelah lama berpisah akhirnya mereka saling melepas rindu.

Cerpen Karangan: Bee

Cerpen Penantian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Special Day

Oleh:
Awan hitam masih menaungi langit kota Bandung, gemericik air hujan dan gelegar halilintar membuatku semakin bergidik ngeri. Di cuaca seburuk ini aku masih berdiam di halte depan sekolah. ku

I Found My Love In A Robbery

Oleh:
Delapan jam. Ya, sudah delapan jam aku menatap layar monitor selebar empat belas inchi. Game online selalu berhasil membuatku lupa waktu. Hooaahh… Aku menguap, cepat-cepat aku menutup mulut dengan

Beautiful Tune About Love

Oleh:
Music is my life. Kalimat itu merupakan salah satu dari jutaan definisi Raditya Ardiansyah tentang musik. Cowok berzodiak Leo itu memang terobsesi untuk menjadi seorang musisi terkenal, syukur-syukur bisa

Sebelum Kau Pulang

Oleh:
Kau bilang duniaku ada di sana. Di sampingmu. Lalu biarkanlah aku menetap, di tepi. Pusing aku, semakin hari semakin bising. sama seperti hari-hari yang makin padat, kau tenggelam dalam

Please Come Back

Oleh:
Siang ini, panas sekali. Haduuhhh, bisa-bisa aku meleleh, nih, gara-gara panas ini. Menyengat sekali. Aku harus jalan kaki dari sekolah, karena hari ini tak ada yang menjemputku. “ES KRIM!

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Penantian”

  1. indra rukmana says:

    bagus baget cerpenya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *