Perjalanan (Pertama)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 September 2017

Hari ini hari kelulusanku. Kini aku sedang berfoto bersama teman-temanku. Karena foto tersebut akan menjadi kenangan yang nantinya akan mengobati rinduku dengan kebersamaan bersama mereka. Jika kalian bertanya kenapa aku akan rindu? Karena setelah kelulusan aku akan pindah ke luar kota, tepatnya Kota Kembang, yaitu Kota Bandung. Dan jika kalian bertanya kenapa aku pindah? Karena aku telah memutuskan untuk meneruskan SMA di SMA 3 Bandung. Selain itu, karena aku ingin mencari suasana baru, lebih tepatnya aku ingin melarikan diri dari masalah yang ada di sini. Jika kalian menyebutku ‘pengecut’ aku tak masalah, karena itulah kenyataannya. Aku terlalu takut untuk menghadapi ‘dia’ yang telah membuatku mencintainya terlalu dalam. Jika kalian juga bertanya apakah mereka, teman-temanku, telah mengetahui acara kepindahanku? Jujur satu pun dari mereka belum ada yang mengetahuinya. Niatku setelah acara kelulusan aku mengajak mereka makan bersama, kemudian aku akan menjelaskan semuanya.

Kembali ke acara kelulusanku kini
Setelah puas berfoto bersama, kami menuju aula untuk mengikuti serangkaian acara. Hingga kini, saatnya pengumuman nama siswa yang masuk 10 besar nilai tertinggi, mulai dari peringkat 10. MC: “Dan… siswa cerdas yang meraih peringkat satu dengan nilai murni 40,00, dia adalah siwa yang telah membanggakan SMP tercinta kita dengan berbagai prestasi mulai dari Juara 1 Nasional FLS2N cabang Batik, Juara 1 Nasional Karya Tulis Imliah tentang Sanitasi, Juara 1 Debat Bahasa Inggris yang diadakan dalam rangka kerjasama Indonesia-Singapura, dan tentunya ia juga meraih Medali Emas OSN mata pelajaran IPS… Selamat kepada Briliana Aura Safitri…” . Tepuk tangan hadirin. Menambah gemuruh suara hatiku. Hingga tak terasa setetes air mataku jatuh. Ketika sadar, segera kuusap air mata itu dengan pelan, dan aku berjalan menuju panggung dengan langkah pasti dan senyuman kebahagiaan.

Kulihat ibuku telah di atas panggung. Sampai di atas panggung, langsung kupeluk dan kucium kedua pipi dan tangan ibuku. Penonoton yang melihatnya langsung berteriak heboh dan bertepuk tangan. Kemudian, Kepala Sekolah memberi selamat kepadaku serta memberikan bunga dan mengalungkan kalung almamater “SMP N 1 Salaman” ke leherku.

Ucapan selamat kepadaku, membanjiriku ketika aku kembali ke tempat dudukku. Ketika akan duduk, aku mendapati kartu ucapan beserta setangkai bunga, tanpa kuketahui siapa yang meletakannya. Ketika kubuka, kartu tersebut berisi:

Congratulations for you dear,
Aku selalu berdo’a untuk keberhasilanmu,
Aku juga berdo’a semoga Allah dan malaikat-Nya
selalu melindungi dan membimbingmu ke jalan-Nya,
Wish you all the best and Allah always bless you,
Love You, Mon Amour

Seketika aku langsung terperangah dan bingung, siapakah yang mengirim kartu ini. Aku langsung menolehkan kepala, untuk menelusuri sekitar. Namun, dari yang kulihat, tidak ada yang membuatku curiga. Aku langsung menyimpangnya ke saku pakaianku. Lalu, aku kembali mengikuti rangkaian acara dengan satu hal yang mengganjal.

Sekarang aku dan teman-temanku sudah berkumpul untuk makan. Kita juga sudah izin kepada orangtua masing-masing, dahulu. Sembari menunggu pesanan kami datang, kita saling bersenda gurau dan mengingat kejadian-kejadian kami bersama selama 3 tahun di SMP. Ketika bergurau, aku masih terus mengawasi mereka, yang berpotensi mengirimiku kartu ucapan dan bunga tadi, yang masih mengganjal hatiku.

Hingga beberapa dari mereka ada yang menyadari kegelisahanku.
“Kenapa? Kok gelisah?”
“Eh? A.. bukan apa-apa? Hehe…”
“Jujur aja. Kelihatan kalau ada yang kamu sembunyikan.”
“Nothing, guys. I’m fine. Yuk makan.”
“Oke. Kalau kamu belum bisa cerita.”

Setelah semua selesai makan, sesuai rencana aku akan mengatakan tentang kepindahanku setelah kelulusan ini.
“Guys, aku mau ngomong sesuatu.”
“Ngomong aja, pakai izin segala.”
“Em.. Aku sebenernya bakal pindah,” ucapku sambil tertunduk.
“Apa?”
Ketika aku mendongakan kepala karena keterkejutan mereka, aku malah melihat tatapan sendu dari ‘orang yang aku cintai’. Seketika aku dan dia bicara via tatapan mata kita. Ketika aku menunjukan ekspresi bertanya “Kenapa?”, dia membalas dengan senyuman dan gelengan kepala. Namun, dari sorot matanya yang kulihat, menunjukan kekecewaan., tapi dia tidak menunjukan ekspresi terkejut. Seolah dia tidak terima dengan keputusan yang kubuat, tapi seolah juga dia sudah tau semuanya.

“Maaf baru sekarang aku ngomongnya. Aku pindah karena aku alhamdulillah diterima di SMA 3 Bandung, SMA yang selama ini aku pengen. Sebenernya aku juga sedih karena harus jauh dari kalian, tapi inilah keputusan yang udah aku buat sejak lama.”
“Selamat, kamu diterima di SMA 3 Bandung.” Ucapnya sembari tersenyum, sorot matanya tak bisa kutebak.
“Makasih”
“Semoga Allah dan Malaikat-Nya selalu melindungi dan membimbingmu ke jalan-Nya.” Ucapnya.
“Kata itu,” gumamku.
Segera aku mencari kartu tadi, kemudian ‘Cocok’. Kata-kata yang sama.

Belum sempat aku bertanya, dia memanggil namaku.
“Bril”
“Ya?”
Huft (dia menghembuskannya perlahan, setelah menarik napas panjang)
“Jujur aku kecewa ketika mengetahui keputusan tentang kepindahanmu ke Bandung. Namun, aku bisa apa, kalau itu yang terbaik buat kamu. Insyaallah, aku selalu berdo’a yang terbaik untukmu. Toh, nyatanya aku sudah mengetahuinya jauh-jauh hari, seharusnya sejak itu juga aku mempersiapkan diri supaya bisa membiarkanmu pindah ke Bandung dengan senang hati. Namun, tetap saja rasa kecewa itu ada. Aku tahu semua ini ketika aku meminjam laptopmu dan tidak sengaja membuka sebuah file berjudul “Plan and Future”. Maaf lancang, karena penasaran aku mengopy-pastenya ke dalam flashdisk ku. Kemudian, aku buka dari laptopku. Sekali lagi maaf.” Ucapnya dengan nada menyesal.
“Iya, no problem. Tapi, apa kamu udah baca semua filenya?”
“Udah.” jawabnya dengan sumringah. Sedang aku, menatapnya dengan ragu.

“Briliana Aura Safitri, temanku selama 11 tahun ini, perempuan yang selalu buat aku penasaran dan bingung, karena sikap kamu yang susah ditebak, perempuan yang bisa buat aku jatuh cinta. I Love You Mon Amour. Cukup izinkan aku mencintaimu.” tersirat rasa lega di wajahnya.
“Hah? Jangan bercanda.”
“Aku serius.” sembari memberiku bunga yang sama dengan bunga yang tadi kuterima. Dalam bunga itu juga terselip kartu yang bertuliskan ‘I Love You’
“Too”
“Aku minta kamu jaga hatimu untukku, begitu pula, aku juga akan menjaga hatiku untukmu.”
“Terus?”
“Kita tetap sahabat. Aku tau” sambil tersenyum.
“Yahh, kok sahabat sih? Kenapa kalian gak sekalian pacaran aja sih?” tanya salah satu temanku. Hingga aku sadar jika di sini kita sedang berkumpul bersama.
“Aku cuma mau kita sama-sama santai jalaninya.”
Dia mengangguk membenarkan ucapanku dan berkata,
“Lagipula, yang penting kan hatinya. Ya gak guys?”
“Sebahagiamu ajalah.”
‘Hahaha….’ kita tertawa bersama.

“Emang kamu gak takut nanti Bril suka sama cowok Bandung gitu? Cowok sana banyak yang ganteng tau.”
“Gak lah. Belum sampai mereka saling suka, udah aku bunuh dulu tu cowok. Hahaha…”
“Gila Bril. Cowok kamu satu ini.”
“Ngeri guys. Kok aku jadi agak nyesel ya kenal dia?” dengan ekspresi menyesal.
“Hahaha… Aku juga.”
Dia langsung memajukan bibirnya setelah mendengar ucapanku.
“Bril, tuh cowokmu kenapa? Bibirnya itu lho bikin pengen narik.”
“Hahaha…”
“Udah ngetawain akunya?”
“Hehehe… Maaf.”

“Oh iya, Bril kamu pindahnya kapan?”
“Iya, iya. Kapan?”
“Em… Masih 2-3 minggu lagi kok. Tapi, lusa aku ke Bandung untuk menyelesaikan urusan yang belum beres.”
“Syukurlah masih ada waktu buat kita hangout bareng.”
“Tapi, kamu udah punya kenalan anak sana belum?”
“Udah kok beberapa. Ada yang sama-sama daftar, kakak kelas, anak kost bareng dan tetangga di sana. Kan aku udah sempet di sana seminggu. Yang waktu kalian ngajak hangout terus aku nggak bisa. Ya itu aku sebenernya di Bandung.”
“Wih… Baru seminggu di sana aja, kenalanmu udah banyak.”
“Berarti besok kita harus hangout bareng.”
“Yap. Gimana kalau ke tempat outbound?”
“Setuju.”
“Tapi, transportasinya gimana?”
“Gini yang bisa ikut siapa aja?”
“Oke aku hitung ya.”
“satu, dua.., lima puluh guys.”
“Gimana kalau kita sewa travel punyamu Van?”
“Siap. Tapi, kayaknya bakal butuh dua travelnya.”
“No problem. Dua travel sehari plus sopir berapa?”
“Satu anak Rp 30.000,00 lah kalau dirata-rata.”
“Siap. Tapi udah pasti ada kan kalau buat besok?”
“Ada kok. Kebetulan kalau buat besok free. Barusan aku udah tanya.”
“Syukurlah kalau gitu.”

“Ini udah pasti ya. Gak ada ngaret-ngaretan. Besok kita kumpul di SMP jam 7. Woke?”
“Woke bos.” jawab kami serentak.
Drrt… Drrt… Tiba-tiba handphoneku berbunyi, ternyata Mom’s Calling

Cerpen Karangan: Faber Castel
Facebook: berliana aura safitri
Berharap bisa mencurahkan isi hati dan pikiran via tulisan yang kubuat

Cerpen Perjalanan (Pertama) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kamulah Surgaku

Oleh:
Matahari bersinar cukup terik pagi itu, meskipun sejam sebelumnya sempat diguyur hujan deras. Aku melaju di jalanan beraspal menuju sekolah yang berjarak kurang lebih 20 KM dari rumah. Aku

Heart Backrest

Oleh:
Dikala masa lalu itu memang selalu di belakang, namun bukan berarti kenangan itu selamanya akan mati bukan? — MENTARI pagi tampak enggan memperlihatkan dirinya sambil berselimut di balik awan

Yang Sudah Berlalu Biarlah Berlalu

Oleh:
Aku merasa kesal dan marah dalam dua hari ini. Semua berawal dari pengumuman yang diberikan sekolah bahwa pada hari Kamis, tanggal 21 April 2016 akan diadakan Peringatan Hari Kartini.

Cinta Yang Hilang

Oleh:
Berawal dari itu, aku dengannya tak seperti dulu. Sungguh kesakitan yang kualami sangatlah berat. Aku sudah berusaha mendekatinya hampir 2 Bulan lebih dan ia juga seperti asik berchattan denganku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *