Pesan Rahasia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 2 May 2016

Rasa dari setiap makanan memiliki ciri khas yang berbeda. Entah dari keunikan bumbunya atau tangan mahir pembuatnya. Beberapa orang, tidak mengetahui bahwa makanan juga menyimpan pesan tersirat di dalamnya. Pesan yang disampaikan oleh sang koki kepada pelanggannya. Sebuah pesan rahasia. Rania menutup buku jurnal resepnya. Ia rasa hal itu hanya isapan jempol belaka. Karena pada kenyataannya hanya segelintir orang saja yang bisa menemukannya. Itu pun jika mereka pandai berfilosofi. Terlalu rumit sebenarnya, padahal masih ada hal yang lebih penting daripada berkelit dengan rasa. Tujuan awalnya kan hanya makan, lalu kenyang. Semudah itu. Aldo yang bernotabene sebagai sahabatnya pun pernah memberitahunya hal serupa. Tetapi otaknya memaksa untuk tidak mencerna kata-kata tersebut. Menurutnya, sebelum ada bukti, semua itu adalah kebohongan.

“Dapur itu buat masak, bukan buat bengong,” tegur Aldo yang membuat Ranti sedikit terlonjak.
“Iya maaf. Lagian kan gue cuma lihatin lo buat steak doang di sini.” Rania menghampiri Aldo yang sibuk dengan peralatan dapurnya. Dan hebatnya lelaki itu mampu menghandle dua masakan sekaligus.
“Kalau gak bisa tuh belajar dari jurnal yang gue tulisin,” ujar Aldo. Kemudian ia memasukkan daging tenderloin yang sudah dibumbui tersebut ke dalam oven.
“Gue gak ngerti soal pesan rahasia.” Rania mengambil sendok dari tangan Aldo kemudian mengangkat sayuran yang sudah direbus.

Aldo menggumam samar seraya mengaduk saus barbeque-nya. Rania mengernyit bingung. Mungkin ia terlalu lama berdiam diri sehingga tidak sadar bahwa lelaki itu sudah nyaris selesai dengan satu masakannya. Jadi selama dua puluh lima menit ini, ia hanya melamun dan buang-buang waktu. “Bikin pudding Ran,” kata Aldo. Rania mengangguk. Ia mengambil panci kecil dan mengisinya dengan air. Sambil menunggu airnya mendidih ia menyiapkan bahan-bahannya. Kemudian ia memecahkan telur dan dimasukkan ke dalam wadah. Ia mengocoknya lepas. “Lo urusin puddingnya aja. Gue yang bikin vla-nya,” seru Aldo.

Lagi-lagi Rania hanya mengangguk. Mana berani ia melawan koki handal semacam Aldo. Ia menggunting bungkus agar-agar lalu menuangkannya ke dalam air yang sudah mendidih. Ia juga menambahkan susu kental manis dan sedikit gula pasir. Aldo mendiamkan vla-nya yang sudah jadi agar dingin. Dengan semangat ia berlari kecil menuju oven untuk melihat dagingnya. Ia tersenyum puas mendapati hasil yang sesuai harapannya. Tak sia-sia usahanya tadi. Ia bangkit dan beralih mengambil piring dan kotak tisu.

“Masak yang bener ya calon istri.” Aldo terkekeh seraya mengacak pelan rambut pony tail milik Rania. Rania mencibir pelan. Lalu ia bertepuk tangan saat pudingnya berhasil ia tuang dalam cetakan. Ia menggeser pudding itu agar dingin dulu sebelum ia masukkan ke dalam kulkas. Setelah itu ia menghampiri Aldo yang sibuk dengan hiasan pada piringnya. Ribet sekali ya kalau orang perfeksionis. Bahkan sekarang lelaki itu mengelap seluruh sisi piring dengan tisu.

“Itu pake sayur Do?” tanya Rania.
“Lah iya. Biar balance. Bukannya tadi lo yang ngangkat sayurnya? Dasar nenek.”
“Sayur itu gak enak. Pahit. Berasa embek gue.” Aldo terkekeh seraya menggelengkan kepalanya.
“Lo bilang gitu karena gak tahu cara nikmatinnya.” Aldo mengelap tangannya dengan tisu kemudian mengacak pelan rambut undercut miliknya.

Aldo menaruh sepiring steak tenderloinnya dan pudding yang ia tambahkan potongan kasar cokelat batang di atas meja makan. Ia menarik kursi kemudian duduk di hadapan Rania. Tangannya mengambil kain lap lalu membersihkan pisau dan garpunya. Ia mulai memotong-motong dagingnya. Rania berdecak kagum. Potongan dagingnya saja bisa benar-benar berbentuk sebuah persegi. Aldo menusuk potongan daging itu dengan garpu kemudian menyodorkannya di hadapan Rania.

“Tingkat kematangannya ini medium rare. Seperti yang lo lihat, masih ada kemerahan di tengahnya. Ini kegemaran orang perancis. Karena rasa juicy dari dagingnya cocok banget sama lidah mereka.” jelas Aldo.
“Pesan rahasianya?” tanya Rania. Jujur saja, sebenarnya hal itu masih mengganjal dalam otaknya. Susah dilupakan.
“Mau tentang apa? Cinta?” tawar Aldo.
“Karena topik cinta itu lagi beken. Kayaknya boleh.” Rania menyengir lebar memamerkan gigi putihnya.
“Gini.” jeda Aldo, “lo suka dagingnya tapi gak suka sayurnya. Tanpa lo sadari itu juga ada dalam hidup lo sehari-hari.” Rania mengernyit bingung. Bahasa Aldo terlalu jauh untuk ditangkap otaknya.

“Dalam hidup lo, pasti ada orang yang lo suka dan lo gak suka. Gue yakin lo cenderung memilih orang yang lo suka. Bener?” Rania mengangguk. “Padahal, sebenernya itu lo tetep bergaul sama orang yang lo gak suka meskipun secara gak intens asalkan pada saat itu lo lagi sama orang yang lo suka.” Aldo menghela napasnya sejenak. “Kayak steak ini. Lo bakal makan dan nelen sayurnya, kalau lo menggabungkan keduanya dan gak memihak salah satu.”

Aldo mendorong pelan piringnya ke hadapan Rania. Gadis itu menatap ragu. Tangannya beralih menusuk daging itu kemudian menusuk wortel yang ada di sisi piring. Ia memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya seraya memejamkan mata. Dengan perlahan ia mengunyah makanan itu. Rasanya baik-baik saja. Tidak pahit dan malah terasa manis. Setelah semuanya tertelan ia membuka matanya.

“Gimana? Enak kan?” tanya Aldo.
“Hm. Lumayanlah.” ujar Rania seraya mengelap bibirnya dengan tisu.
“Inget. Jangan pernah bilang kayak gitu kalau belum dicoba,” nasihat Aldo.
Rania mengacungkan ibu jarinya. “Siap bos.” Aldo terkekeh kecil seraya menarik pudding yang ada di depan Rania menjadi di hadapannya. Ia mengambil sendok dan tidak lupa juga untuk mengelapnya. Ia menyendok pudding itu lalu memakannya. Rasa segar dan manis langsung menyeruak ke dalam mulutnya. Apalagi perpaduan cokelat dan vla sangat cocok untuk cuaca seperti ini.

“Lo percaya gak cinta itu kayak cokelat?” tanya Aldo tiba-tiba. Rania yang sedang memakan steak pun berhenti. Ia langsung menolehkan kepalanya menghadap lelaki itu. Aldo mendorong pelan makanannya ke hadapan Rania -lagi. Dengan semangat Rania mengambil sendok dari tangan Aldo. Ia menyendok pudding itu dan memasukkan ke dalam mulutnya. “Saat cokelat itu lo gigit rasanya biasa aja. Tapi setelah cokelat itu meleleh memenuhi rongga mulut dan tenggorokan lo baru rasa manisnya terasa. Dan lo ingin merasakannya.. Lagi?”

Rania tersentak. Entah bagaimana bisa kata-kata itu langsung ia dapatkan maknanya. Ia menggumam tak jelas karena ada gelenyar aneh di dalam tubuhnya. “Dan lo percaya gak kalau cemburu itu kayak puding?” tanya Aldo lagi. Dan dibalas gelengan oleh Rania. “Pada saat di piring dia kelihatan kuat. Tapi pada saat di mulut dia rapuh.” Aldo tersenyum tipis. Dan menurut Rania, kadar ketampanan lelaki itu benar-benar bertambah berkali-kali lipat.

“Lo tahu dari mana itu semua?” tanya Rania yang masih sulit menyadarkan diri agar tidak pingsan gara-gara senyuman tipis Aldo tadi.
“Karena gue adalah seorang koki yang ngasih ribuan pesan rahasia ke ribuan pelanggan gue.” ujar Aldo membanggakan diri. Rania terdiam. Ada yang aneh di sini tapi ia tidak tahu itu apa. Ia menggaruk kepalanya. Otaknya ini buruk sekali. Namun per sekian detik berikutnya ia terkejut. Makanan ini dan beserta pesan rahasianya itu ditujukan padanya?

“Jadi pesan rahasia lo? Ah itu.” Rania menggaruk pipi sialannya yang tiba-tiba terasa panas.
Aldo tertawa seraya mengangguk. “Gue suka sama lo, gue cinta sama lo, gue cemburu lo sama cowok lain, dan gue tahu lo gak suka sama gue. Nasib gue kayak sayur tadi.”
Rania mendesis sebal. Aldo itu sok tahu sekali. Bagaimana bisa dia menyimpulkan segalanya. “Tapi endingnya gue suka sama sayurnya kan?” tanya Rania.

Lelaki itu refleks menolehkan kepalanya ke piring yang kosong melompong. Ia membelalakkan matanya. Ia menatap piring itu lalu ke Rania. Bahkan ia melakukannya berturut-turut sebanyak lima kali. Entah mengapa serasa ada kupu-kupu berterbangan menggelitik perutnya. Jantungnya juga bekerja lebih cepat. Ya Tuhan efeknya luar biasa sekali. Bibir Aldo berkedut karena menahan senyum. Rania bangkit dari duduknya. “Inget. Jangan pernah bilang kayak gitu kalau belum dicoba.” Aldo ikut bangkit. Dengan sigap ia membawa Rania ke dalam dekapannya. Ia mengeratkan pelukannya dan menjatuhkan dagunya di puncak kepala Rania. Sedikit tersenyum karena Rania membalikkan kata-katanya.

“Ran, lo mau nikah muda secepatnya sama gue gak?”

Cerpen Karangan: Dwina Mahendra
Facebook: Dwina Mahendra

Cerpen Pesan Rahasia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Almost Is Never Enough

Oleh:
Hampir saja, mana pernah cukup? Aku menatap jendela kamar. Terlihat laki-laki berlari menuju teman-temannya. Hatiku mulai berseru lagi. Siapa dia? Siapa dia? Pertanyaan itu terus muncul dalam otakku yang

Last Firework’s Festival

Oleh:
Sehari sebelum festival kembang api, aku dan pacarku, Arata, sibuk memilih Yukata yang serasi untuk kami. Festival kembang api tahun ini adalah yang terbaik. Aku sangat mengharapkan momen seperti

Ada Pelangi di Air Terjun itu

Oleh:
Aku selalu menyukai hal-hal yang indah. termasuk pelangi. impianku yang tidak pernah tercapai dan mungkin tidak akan tercapai adalah ketika aku bermimpi menjadi salah satu bidadari yang melewati jalan

Suratmu

Oleh:
Hari ini tepat pukul 11 siang. Suasana di kantor tempatku bekerja benar-benar ramai hingga membuatku menghela nafas berat. Aku Nayla Shafira, bekerja sebagai editor di salah satu kantor berita

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *