Play Boy vs Play Girl

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 13 January 2018

Semua pasang mata menatap satu laki-laki yang dikenal player itu. Laki-laki yang sedang menggandeng, lebih tepatnya merangkul seorang wanita berparas wajah yang cantik. Andrew Putra Senaryo. Yap, itu nama laki-laki itu. Sedangkan yang ia gandeng adalah Sheryl, murid yang menjabat sebagai ketua ekskul fashion show.

Lain sisi, di sebelah kanan, berlawan arah dengan letak Andrew berada. Seorang perempuan yang tengah digandeng oleh satu laki-laki dengan gaya yang sangat romantis. Perempuan itu juga dikenal player. Andreana Queenantha. Nama perempuan itu. Sedangkan yang menggandengnya adalah seorang laki-laki yang memegang jabatan ketua osisi itu, bernama Aldo Christian.
Mata tajam menatap Andrew dan Andreana. Sebagian anak yang dikenal anak alim atau kutu buku, hanya bisa geleng-geleng kepala.

“Mas, pesen baksonya dua, sambelnya dikit aja ya” ucap kompak Andrew dan Andreana memesan. Mang Udin, si tukang bakso tersenyum mendengar kekompakan dari dua orang yang saling bermusuhan itu.

“Apaan sih lo, ikutun gue” ucap sinis Andreana
“Hah? Gak salah? Bukannya elo yang ikutin gue? Penguntit lo” sahut Andrew tak mau kalah.
“Penguntit kok ngomong penguntit. Nyadar dong” timpal Andreana.

“Aduhhh, mas Andrew sama mbak Andreana jangan berantem di sini atuh, banyak yang mau beli. Jadi, baksonya 4 sambelnya sedikit” ulang mang Udin
“GAK JADI” jawab Andrew dan Andreana kompak lagi.

“Ngapin sih ngikut lagi? Makan aja sono bakso” tegas Andrew
“Hah? Elo sono makan bakso sama mangkoknya dan, gue gak sudi kompakan sama lo.” Jawab Andreana seraya berjalan meninggalkan tempat bakso. Nafsu laparnya seakan hilang begitu bertatapan wajah dengan Andrew.

“Aduhhh” ringis pelan Andreana
“Najis, najis, najis, kenapa elo lagi. Elo dimana mana deh. Capek gue ketemu elo” ucap Andreana saat melihat siapa yang menabraknya hingga terjatuh ke lantai.
“Elo tuh, jalan tuh pake mata bukan pake dengkul.” balas Andrew
“Di mana–mana jalan tuh pake kaki bukan pake mata BEGO” ucap Andreana yang sengaja menekan dibagian kata ‘bego’.

“Bukannya yang bego elo yah? Biologi lo aja do, re, mi, fa sol.” balas Andrew menyombongkan dirinya.
“Gak usah belagu lo, nilai pas-pasan aja bangga” timpal Andreana.
“Beib udah dong, gak usah mikirin cewek gak jelas ini deh” sahut Sheryl dari belakang tubuh Andrew yang tinggi itu.
“Beib!? Najis tralala” sahut Andreana

“Aduhhhh, kalian ngapain berantem di sini Andrea, Andrew. Kalian gak liat dari tadi jadi pusat perhatian? Aduhh memalukan sekali tingkah kalian ini. Ikut ke ruangan ibu sekarang!” bentakan dan jeweran terasa perih di telinga, telinga yang putih lama-lama memerah akibat plintiran kuat dari bu Rena.
“Saya kan ganteng bu, jadi pusat perhatian deh” senyum yang membuat Andreana mendecih pelan. “Adaww ibu sakit… kalem dong buuu” ringis Andrew karna mendapat jeweran keras dari bu Rena. Andreana hanya terkekeh pelan.

“Kita putus” ucapan terakhir Andrew sebelum meninggalkan Sheryl yang tengah berdiri di taman belakang sekolah. Andrew berjalan keluar gerbang sekolah tiba–tiba satu orang perempuan menceggatnya.
“Apaan sih lo?” tanya Andrew
“Lo mau gak jadi pacar gue?” tanya perempuan itu bicara terang-terangan. Thalia, itu namanya.
“Mau” jawab Andrew sembari menaiki motor ninjanya itu. Senyum bahagia terukir di bibir Thalia, karna sekarang ini status dia adalah seorang pacar dari bintangnya sekolah. Cowok ter cool, keren, ganteng. Hanya saja dia tidak tau apa akibatnya.

1 menit 30 detik.
“Kita putus” ucap Andrew datar dan melajukan motornya kencang. Senyum yang kini perlahan pudar dengan sendririnya, berganti tangis yang membanjiri pipi Thalia.

“Kan udah gue bilang apa!” bisik salah teman Thalia.
“Santai lah Thal, yang penting kan status lo mantan pacar. Iya gak sih” ucap salah temannya lagi, meredakan tangisan Thalia.

Lain sisi, Andreana yang berada di persimpangan jalan bersama Aldo, berdiri teguh berdampingan menunggu taksi yang lewat.
“Ald, mulai besok dan selamanya lo gak usah nganter jemput gue. Kita putus” ucap Andreana berjalan jauh meninggalkan Aldo yang berdiri tertegun atas rentetan kata singkat dari Andreana.

Andreana menatap langit-langit kamar seraya memikirkan suatu rencana untuk Andrew. Yah. “Kayaknya seru nih” satu rencana terfikir langsung oleh otaknya itu. “Cerdas” gumam Andreana langsung.
Ulasan senyum licik tergambar begitu saja di bibir mungilnya itu. Andreana menarik selimutnya dan bergegas tidur, karna hari sudah akan berganti.

Lain di sisi Andrew yang masih terjaga sampai larut malam. Ia menatap langit malam dengan kerlap-kerlip bintang menghiasinya. “Harus gue kerjain dia” gumam Andrew pelan. Senyum licik terukir begitu saja, seakan semuanya akan berjalan dengan mulus.

Sinar mentari menyeruak masuk ke dalam ruang kamar Andrew. Mataya kedip-kedip karena silaunya cahaya yang masuk. Hal pertama yang dilakukan adalah melihat jam di wekernya. “MAMPUS, gue telat” ucap Andrew pelan. “Brak…, brukk” suara terdengar dari kamar Andrew. Dengan secepat kilat ia meraih kunci mobilnya dan melajukan seperti orang sedang kesetanan.

“ANDREW PUTRA SENARYO DAN ANDREANA QUEENANTHA. Kenapa kalian telat” pekik bu Emi, guru killer di sekolah selain bu Rena. Tak menyadari, Andrew maupun Andreana bahwa mereka sedang berdiri berdampingan berhadapan dengan bu Emi.
“Lo?” ucap Andrew dan Andreana berbarengan.

“Kalian itu selalu aja bikin kepala ibu pusing banget. Ibu gak tahan dengan kalian” bentak bu Emi.
“Minum baygon bu, pusing hilang nyawa pun melayang” sahut Andrew yang membuat Andreana menahan tawanya.
“Apa kamu bilang!? Tidak ada sopan-sopannya kamu sama guru yah Andrew. Dan kamu Andreana, gak usah ketawa” tegas bu Emi. Andreana tersadar dan mencoba untuk diam. Senyum terukir dari bibir Andrew melihat Andreana menahan tawanya
“Berhasil” gumam kecil Andrew.

“Berhasil apa Andrew? Berhasil bikin saya naik darah? Sekarang, kamu bersihkan lapangan sekolah dan aula sekolah kita. Dan kamu Andreana, silahkan bahu membahu dengan Andrew.” Ucap bu Emi dan berbalik meninggalkan Andrew dan juga Andreana. Tawa meledak begitu saja dari Andreana, tawa yang ia tahan sejak tadi.

“Anjerr lo, beranian” ucap Andreana pada Andrew yang masih tersenyum dengan manis, menampakan kedua lesung pipinya itu.
“Lo duduk aja, biar gue yang kerjain” ucap datar Andrew namun, menimbulkan seribu satu pertanyaan di benak Andreana.
“Oh ya? Lo yakin?” Andreana meyakinkan

“Iya, asal ada lo, gue gak bakal capek kok” goda Andrew
“Geli sumpah”
“Lo duduk manis di sini dan gue mau nyapu” ucap manis Andrew. “Duh gue laperr” gumam Andreana dalam hatinya.

2 jam telah berlalu dengan sangat lama, Andreana dan Andrew telah duduk di kelas, memperhatikan guru yang sedang menjelaskan bidang ekonomi yang sangat memusingkan itu.

“Ssst…” bisik seseorang yang membuyarkan lamuan Andreana.
“What?” tanya Andreana
“Nih buat lo dari…” ucap Asep. Bibirnya maju-maju mengarah pada Andrew.

Andreana membuka secara perlahan, takut adanya insiden seperti waktu itu. Ia diberi kotak dan ternyata isinya adalah kecoak. Hewan legend bagi Andreana yang sangat menjijikan.

“Woy, lo mau gak, jalan-jalan bareng gue besok jam 4 sore. Kita ke Dufan yeah.” Kalimat yang sukses membuat Andreana membisu tanpa kata-kata. “Oh ya ini dari Andrew? Rasanya mustahil” Andreana membatin. Andreana menatap Andrew yang berada 120 derajat ke kanan dari arahnya duduk. Andrew menaikan dagunya berulang kali seperti mengatakan “Gimana? Mau nggak?” tanpa suara. “Boleh kali ya? Itung-itung menjalankan rencana. Siapa tau, Andrew si makhluk astral udah terlarut dalam pesona gue. Ya gak?” Andreana berbicara sendiri pada batinnya.

Tepat pukul 04.00 sore, sebuah mobil berwarna merah terparkir mulus di depan pekarangan rumah Andreana. Andreana yang sudah siap dengan celana selutut dan sweater yang bertuliskan ‘Player’.
“Om, tante, saya minjen Andreanya bentar ya om, tante, janji deh gak malem pulangnya. Saya bakal anter pulang dia kerumah dengan selamat” izin Andrew pada kedua orang tua Andreana.
“Jaga anak om ya” ucap papa Andreana.

Mobil dilajukan dengan cepat menuju arah tujuan. Suasana hening yang mengiringi perjalanan yang cukup jauh ini. Hanya suara alunan musik Flashlight – Jessie J, yang terdengar di indra pendengaran Andrew dan Andreana.

Rem telah diinjak tampak sampai di tempat tujuan, suara riuh berbagai macam wahana yang membuat mata Andreana berbinat-binar.

“Anjir, gue pengen naik semuanya” gumam Andreana dalam hatinya.
“Lo mau naik apa? Apa aja kecuali…” ucapan Andrew terpotong. “Roller coaster” potong Andreana sembari menarik agar segera mengantri. Andrew tidak menggubris tarikan itu. Dan Andreana berlari sendirian. Setelah agak jauh, barulah ia meneruskan perkataannya. “Roller coaster”

“Andrew ayo” Ajak Andreana yang membuayarkan lamuan Andrew.
“Hah iya iya” jawan Andrew gugup. Ia melangkah gugup ke arah Andreana yang sangat excited sekali. “Demi malu” ucap Andrew.

“Kok muka lo pucet gitu sih kenapa? Takut lo? Cemen” ledek Andreana
“Apaan? Enggak kok gue berani” bantah Andrew
“Gak usah bohong. Udah kalo lo gak naik juga gak apa-apa, gue sendirian oke kok” ucap Andreana sedikit menahan tawanya.
“Enggak gue naik, nanti kalo lo diapa-apain gimana?” ucapnya penuh perhartian.

5… 4… 3… 2… Wajah semakin pucat yang terlukis jelas di wajah Andrew. Tak ada lagi kesempatan untuk turun. 1…
“AAA…” suara riuh dan kencang terdengar saat rolercoaster sudah dimulai.

3 menit rolercoaster itu berlangsung. Air wajah Andrew sudah tak berbentuk lagi. Hanya tawa dari Andreana karena lucu melihat Andrew yang sungguh pucat, takut dan tak karuan.

“Minum?” tawar Andreana. Andrew langsung menganbil dan menenggaknya hingga habis.
“Haus bang?” ledek Andreana. “Awh..” ringis Andreana seraya memegang perutnya yang tiba-tiba menyeri seketika.

“Andrea? Kenapa lo?” tanya Andrew cemas.
“Awh..” ringisan semakin kencang dari Andreana. “A-ambilin o-obat di ta-s gu-gue” ucap Andreana terbata-bata. Dengan segara, Andrew meraih tas Andreana dan mencari letak obat tersebut.
“Ini nih. Duh lo punya penyakit maag? Kok gak ngomong lo lom makan ya?” cemas Andrew.
Andreana menegak langsung obatnya dan tersenyum tulus. “Lo peduli sama gue yah?” goda Andreana.

“Sakit juga lo, masih aja godain gue” Andrew mandecak kesal pada Andreana.
“Makan yok, laperr” ucap Andreana
“Ayuk”

Makan malam di tempat lesehan itu rasanya menyenangkan sekali. Angin malam yang dengan bebasnya mengelilingi suasana gembira pada Andreana dan Andrew. Makan nasi pecel yah, itu hidangan nikmat yang disajikan malam ini.

“Andrea” panggil Andrew. “Ha?” tanya Andreana seraqya menyuap sesendok nasi.
“Kalo gue suka sama lo gimana?” tanya Andrew “Ohok… ohok” Andreana tersedak nasi atas pertanyaan yang sangat eksteram, seakan ada bencana besar.
“Iya”

“Lo yakin An?” tanya Andreana memastikan.
“Iya kenapa?”
“Satu pertanyaan buat lo. Apa lo bisa meyakinkan gue kalo lo itu gak player lagi?” tanya Andreana.
“Bisa.”

“Gue gak butuh ucapan, gue butuh bukti” jawan Andreana datar. Sekarang, seakan waktu berhenti berdetak. Semuanya diam dan hening, melanjutkan makan nasi pecel yang tadinya nikmat menjadi hambar.

Taman sekolah yang luas, dipenuhi oleh pernak pernik hiasan prom night tahun ini, lampion lampion yang terpajang indah di setiap sisi taman. Andrew duduk dengan jas berwarna putih bersih itu menunggu kedatangan satu wanita istimewa yang berhasil mencuri hatinya “Gue gak nyangka, gue kemakan omongan gue sendiri. dulu gue berfikir untuk membuat ia jatuh cinta ke gue, malah sekarang gue jatuh hati padanya. Semoga dia mempunyai perasaan sama dengan gue. Semoga”. Sentuhan tangan membuat yang membuyarkan lamnuan Andrew. Andreana yang terdapat di belakang Andrew dengan memakai gaun berwarna putih cantik, dengan polesan make up sangat tipis di wajah manisnya itu.

“Lo cantik” ucap Andrew
“Thanks, lo juga ganteng kok” balas Andreana

“Sejak lama lo baru sadar kalo gue ganteng yaaa” goda Andrew
“Gue cabut omongan gue tadi” ucap sinis Andreana
“Peace” ucap Andrew. Dia bangkit berdiri dan menuju podium. Tatapan aneh Andreana tertuju pada Andrew.

“Selamat malam semuanya, di sini gue Andrew Putra Senaryo. Gue mau ngasih satu lagu buat oarng yang berhasil membuat gue memakan omongan gue sendiri. Andreana Queenantha. Ini buat lo.” Petikan gitar dan suara merdu terdengar hangat ditelinga banyak orang terutama Andreana yang terkejut namun terpukau. Suara merdu yang menyanyikan lirik lagu Flashlight by Jessie J.

“You’re my flashlight in my heart” ucap Andrew diakhir lagu. Andrew turun dan menarik Andreana naik ke atas podium. Andreana yang hanya menurut dan tidak membantah itu naik dan berhadapan langsung denga laki–laki yang dulu adalah musuh bebuyutannya itu.

“So Andreana Queenantha, apa lo udah percaya sama gue? Will you be my girlfriend?” Andreana masih diam, sodoran bunga anggrek di hadapannya itu sama sekali tak membuatnya berniat untuk mengambilnya.
“Lo belom siap?” tanya Andrew memastikan. Andreana mengambuskan nafasnya pelan, seakan akan mengucapkan sesuatu. Namun, sampai sekarang masih belum mengeluarkan suara.

“Gue…” ucap Andreana terpotong.
“Kalo lo nolak juga gue siap, gue siap menanggung resikonya.” ucapnya sudah patah semangat.
“Gue… Gue siap kok” lanjut Andreana yang membuat suara tepuk tangan serta sorakan orang yang tidak suka terdengar jelas.
“Lo udah nunjukin ke gue dan gue percaya sama lo. Makasih lo udah ngasih gue kepercayaan yang penuh. Andrew, you’re my flashlight in my heart” lanjut Andreana.

Hari yang panjang, malam yang indah, hati berseri-seri. Walau langit malam terlihat kelabu, berbeda jauh dengan perasaan hati Andreana yang sangat senang dan berbunga-bunga. “Gue gak nyangka gue bisa kepincut sama Andrew. Padahal gue dulu yang kepingin ngejatohin dia. Mungkin rahasia ini gue simpen aja sendiri” gumam Andreana dalam hati

Ting… bunyi pesan masuk. Layar handphone pintar Andreana menyala. Nama yang tertera rapih di layar ponsel Andreana. Andrew.
“Malam kelabu tak membuat cintaku padamu menjadi kelabu, Hati senang berseri-seri saat mendengar jawaban singkat dua kata. Kepercayaan adalah fondasi dalam hubungan kita, aku mau dalam hubungan kita terjalin pondasi yang kuat. Jikalau kamu berkenan, keluarlah engkau sekarang, aku sedang menunggumu di bawah sini.”

Andreana mengerutkan dahinya saat membaca pesan singkat namun dalam baginya. Ia menatap ke luar jendela, mendapatkan satu pandangang seorang laki-laki yang tengah berdiri di antara bunga-bunga yang indah. Ulasan senyum dari bibirnya itu membuat Andreana segera turun ke bawah.

“Kenapa An?” tanya Andreana
“Aku sebelum pulang dan mimpiin kamu, aku mau buat janji kelingking dengan kamu” ucap Andrew yang membuat Andreana sedikit menampakan wajah geli.
“Aku-kamu? What? Are you kidding me?” tanya Andreana bingung

“Iya, kamu harus biasa ya.” jawab Andrew.
“okey” jawab Andreana ragu

“Okeh BTW janji kelingking apa, lo eh kamu pikir kita anak SD pake janji kelingking” ledek Andreana
“Kata nenek dulu, banyak orang yang tidak menempati janji mulut maka dari itu kita netapin janji kelingking yah..” ucap Andrew seraya mengacungkan jadi kelingkingnya. Andreana membalas acungan kelungking itu dan tersenyum geli.

“Gak boleh cemburuan, gak bolah selingkuh, saling percaya, saling jujur, saling terbuka…” janji-janji yang diucapkan terbang melayang-layang dilangit. Andreana masih tersenyum tanpa pudar.

SELESAI

Cerpen Karangan: Yovita Tanujaya
Facebook: Yovita Tanujaya
Namaku Yovita Tanujaya, sekarang aku duduk dikelas 8 SMP

Cerpen Play Boy vs Play Girl merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Man Jadda Wajada

Oleh:
Di suatu kampung ada sebuah pesantren salafi. Pesantren itu dipimpin oleh seorang kiyai yang baik dan bijaksana. Santri-santri yang mengaji di sana sangat banyak, mereka tinggal di kobong-kobong yang

Senja Untuk Fajar

Oleh:
Fajar akankah Senja terus begini? Akankah Senja hanya memantulkan sinarnya yang indah tanpa Fajar datang untuk menyatukannya? Sinar itu mungkin akan terlihat lebih indah. Syair demi syair telah kuhembuskan

Perjuangan Menuju Jadian (Part 3)

Oleh:
Di jalan, ku dapati Rio tengah duduk seorang diri, ku hampiri ia. “Rio, kok sendirian sih, teman-teman kamu mana?” tanyaku, aku dan Rio memang cukup akrab karena sama-sama taekwondoin.

Luna, Si Anak Pemalu

Oleh:
“Luna!! buku kamu ketinggalan!!” Aku berteriak sambil melambaikan buku catatan bahasa indonesia miliknya. Dia tampak ragu untuk melangkah, tapi akhirnya dia menghampiriku juga. “Terima kasih…” ucapnya sambil menunduk, setelah

Cinta Berada Dalam OSIS

Oleh:
Terik matahari pagi menyinari langkah Indah. Tepat pukul 07.00 Indah berada di lapangan bersama para peserta MOS SMK Negeri Wiyata Mandala. Langkah Indah terhenti saat berpapasan dengan Ketua Osis.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *