Pole In Love (Tiang Cinta)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 May 2015

Matahari mulai meninggi dengan sendirinya, Udara yang tadi hangat kini mulai perlahan panas, semerbak wewangian yang tak asing di hidungku terus menyengat. Ya, wewangian ini memang parfum alami dari setiap manusia yang tak lain adalah “parfum keringat”. Semua orang pasti kenal dengan bau parfum ini. Entah apa yang membuat hari ini begitu panas, padahal kemarin kemarin siang gini pasti selalu hujan, sisa-sisa beceknya pun masih terlihat. terpaksa aku harus tidur-tiduran di lantai untuk mengurangi kegerahan. huh.

“yo, aku pulang duluan ya, kamu masih mau tinggal disini?” Tanya seorang temanku, sebut saja Leo.
“Ya, duluan aja, di luar masih panas, kalau hujan baru aku pulang..” Jawabku sambil terus mengguling-gulingkan badan di tembok kelas.
“ya sudah, Jangan sampai ketiduran yo” ucap leo mengingatkanku sambil perlahan meninggalkanku sendiri
“ya, pasti” Jawabku lemas
“Hoam”

Sesaat setelah Leo pergi, ku mulai merasakan hawa-hawa aneh di sekujur tubuhku, hawa itu seperti menyuruhku untuk tidak pergi dari tembok ini,
“Ah… Disini tenang sekali,” Ucapku dalam hati sambil melipatkan tangan untuk menindih kepalaku. Mataku mulai terpejam perlahan… selang beberapa detik aku Hampir Tertidur.

“Gak gak gak gak gak gak gak boleh tidur gak gak gak gak gak gak” Ucapku dalam hati sambil mencoba membangunkan tubuhku yang mulai lemas
“Huh, hampir saja, kalau tidur disini, kapan aku akan pulang, dan siapa yang akan membangunkan” Gerutu legaku dalam hati
Kulihat jam masih menunjuk pukul setengah tiga, dan di luar terlihat masih panas. damn!.
“oke, lebih baik ku mengerjakan pr tadi, dari pada tertidur” aku berbicara sendiri sambil mulai mengeluarkan buku dan pensil lalu duduk di pojok di bawah tiang bendera kelasku.
“Disini nyaman juga” Ucapku dalam hati

Aku mulai mengerjakan pr ku dengan sungguh-sungguh. entah kenapa hari ini sepertinya aku sungguh merasa pintar untuk mengerjakan pr. padahal biasanya hanya nyontek dan nyontek. Mungkin karena udara sejuk, tenang nan nyaman ini?. Entahlah..

“oke! Selesai!” Ucapku bahagia,
“ku terharu, akhirnya aku bisa juga mengerjakan pr ini dengan sendiri, yea!” teriak haruku Di dalam hati
Kulihat sudah jam tiga lebih dan kulihat juga panas yang tadi sudah mulai hilang perlahan
“Waktunya pulang, bye bye…” ku berhenti sejenak, Kulihat sekelilingku tidak ada seorang pun yang patut aku ucapkan sampai jumpa, Namun ku hanya tersenyum kecil.
“Bye bye Tiang…”
Krekk, suara pintu tertutup terdengar begitu pelan

Cerpen Pole In Love

Hari-hari berikutnya
“Apa kau mau pulang sekarang?” Tanya Leo
“Kau duluan saja, aku ada urusan sedikit” jawabku polos
“Beneran nih? Padahal di luar kan gak terlalu panas.. dan kenapa hampir setiap hari kamu ada urusan terus?.” Tanya heran Leo
“iYa, duluan aja bye bye…” Ucapku sambil mencoba mendorong leo keluar pintu
“iya, ya, ku bisa jalan sendiri kok. Aku duluan hati-hati, awas ketiduran” Ucap leo
Aku hanya mengangguk pelan sambil tersenyum lega.

“Oke, Waktunya mengerjakan pr!” Ucapku sambil mulai mengeluarkan alat-alatnya
Seperti biasa aku selalu duduk di pojok dekat tiang bendera kelas, karena kupikir disana otakku seperti mencair tidak kaku dan beku seperti biasanya. sudah hampir seminggu aku selalu mengerjakan pr disini, aku mulai terbiasa akan kehadiran tiang ini. tiang ini seperti guru buatku. aneh kan?. tapi itulah yang kurasakan, seperti ada ikatan kuat antara aku dan tiang bendera kelas ini.

Krekkk. kreekkkk kudengar suara pintu kelasku terbuka
“Siapa itu!?” ku langsung berdiri dan melihat ke arah pintu, tak ada orang disana, aku hanya mendengar suara kaki berlari. mungkin dia kaget dan langsung kabur?. emangnya aku ini setan apa. huh.

“Oke, Waktunya makan” ucapku setelah selesai mengerjakan pr
kuambil bekal yang kubawa dan mulai menyantapnya dengan perlahan namun tiba-tiba suara pintu terbuka mulai terdengar lagi. karena aku makan terlalu lahap sampai–sampai tak bisa bicara, jadi akhirnya aku tak bisa berkata seperti tadi lagi.
“Si.o..p.ao iiito?” Ucapku berusaha berbicara. terlihat nasi moncar-mancir keluar kesana kemari dari mulutku.
“Ternyata kau masih disini…” Ucap seorang perempuan yang mulai masuk ke dalam kelasku, dia terlihat imut dengan memakai seragam biru putih dan kerudung putih dilengkapi dengan sebuah sapu injuk di tangan kanannya.
Glek.. Entah kenapa nasi yang kumakan tadi langsung tertelan tanpa dikunyah saat melihat gadis dengan sapu injuk itu.
“Siapa kau?” Tanyaku heran
“h~ Jadi kau tidak tau siapa saya?” Jawab perempuan itu sambil berjalan mendekat
“Biar kutebak, em… Kau pasti Echa!!” Jawabku pasti
“Eh? Bagaimana kau tau?” Tanyanya heran sambil mulai menduduki bangku terdekat
“Mudah saja, aku hanya tinggal melihat namamu di bajumu, tepatnya di sebelah kanan bajumu” Jawabku bangga
“Seharusnya aku tau itu… ngomong-ngomong siapa kau dan kenapa kau selalu tinggal di kelas ini sendirian? padahal teman-temanmu sudah pulang dari tadi..” Tanyanya lagi
“panggil saja ku diyo dan Tenang saja ku tidak sendirian kok, ada tiang ini yang selalu menemaniku setiap saat” Jawabku sambil memegang tiang bendera kelas dengan tersenyum
“ini Salahku, karena bertanya padamu,” Ucapnya terlihat frustasi sambil menggelengkan kepala
“Ada perlu apa kemari?” Tanyaku polos
“Seperti yang kau tau aku ini salah satu osis disini yang menjabat sebagai seksi kebersihan, jadi setiap pulang sekolah aku selalu menyempatkan diri untuk membersihkan atau merapikan seluruh kelas,” Jelasnya
“Sendirian?” Tanyaku lagi
“Tentu tidak, Aku hanya bertugas untuk membersihkan atau merapihkan kelas kelas Sembilan dari a sampai I saja, seksi kebersihan yang lainnya ada yang bagian kelas tujuh dan delapan..” Jelasnya lagi
“oh,”
“pekerjaanku jadi tambah lama karena setiap hari kau selalu pulang sore” Keluhnya frustasi
“hah? Kenapa kau harus menungguku sampai pulang?” tanyaku heran
“Karena aku malu, kalau ada yang menonton aku kalau sedang membersihkan kelas,”
“Hah!?”
“Sudahlah, sekarang kau akan pulang kan?” Tanyanya mengalihkan pembicaraan
“ya, tentu, tapi aku ada sedikit permintaan…”
“Apa itu?”
“Bolehkah aku membantumu?”
“Terserahlah..” jawabnya acuh tak acuh

Terlihat dengan sedikit terpaksa echa mengijinkanku untuk membantunya, yosh.. pekerjaan dimulai. Aku membantunya sebisa mungkin, walaupun tak banyak membantu, echa tetap tak mengusirku, padahal katanya dia malu kalau ditonton. ada apa dengan dia?. hmm.

“Selesai…” ucapku lega
“Aku pulang duluan, bye…” Katanya sambil berjalan meninggalkanku
“Ya! Tunggulah, Bagaimana kalu kita pulang bareng? Kan lebih so sweet eh maksudku lebih rame gitu, Gimana?” Usulku
“huh, padahal kita baru aja kenal, tapi ya sudahlah, jangan gr dulu, ini balasanku karena kau sudah membantuku” Jelasnya
“Kalau begitu ayo…” Ajakku sambil berlari menarik tangannya
“Tunggu dulu Tasku masih di kelas tau!.”
“heheheh sorry”

Selama perjalanan kami bercerita banyak hal, dari mulai tempat tinggal, asal sekolah sampai hubungan pacaran. dan ternyata dia masih belum memiliki pacar, ketika aku mendengar itu rasanya hatiku seperti lega dan bebas. Ada apa ya?.
“Sampai jumpa, aku duluan,” Ucapnya sambil menaiki angkot
“Yo, Hati-hati ya,”
Dia hanya mengangguk pelan.

Selama perjalanan pulang, aku terus memikirkan wajah perempuan yang suka bersih bersih tadi, aku berpikir kenapa aku tak meminta nomor teleponnya?. aku benar benar bodoh. arghh.

Keesokan harinya seperti biasa aku selalu mengerjakan pr di bawah tiang bendera kelas, Sebenarnya ada maksud di balik itu, ya, kalian benar, aku sedang menunggu echa sang gadis dengan sapu injuk. Setelah cukup lama menunggu akhirnya dia datang juga…
“kamu lagi?” Tanyanya datar
“Emang kenapa, gak suka ya?” Timpalku
“Kalau iya emang kenapa?” Tanyanya lagi
“Ya gak apa apa, kalaupun kamu gak suka tapi aku tetap suka kok.” Jawabku
“Maksudnya?” Tanyanya heran
“Sudahlah, ayo cepat bersih-bersih, tenang saja aku akan membantumu dengan senang hati,” Ucapku senang

Setelah selesai membantunya aku dan echa pergi pulang bersama, sepertinya dia mulai terbiasa dengan kehadiranku. di perjalanan aku bertanya “Apakah aku boleh meminta nomor telponmu?”. dia bilang dia tidak punya handphone. jujur saja aku sedikit kecewa tapi, mau bagaimana lagi?. Akhirnya aku berikan saja nomor telponku kepadanya.
“Kalau kau sudah punya hp, jangan lupa sms atau telpon ok?.” Pintaku padanya
“Kalau inget..” Jawabnya singkat

Semakin-hari, aku dan echa semakin akrab saja, banyak kejadian setelah kami berdua mulai berteman, dari mulai kejadian membangunanku dengan tiang sampai membangunkanku dengan bangku dan meja. Tapi yang pasti aku dan echa seperti teman dekat yang selalu bersih bersih bersama setiap pulang sekolah, Semakin hari juga aku mulai melupakan tiang bendera kelas kesayanganku, namun aku tau dia selalu berada di pojok untuk menungguku kembali padanya. Sampai pada suatu hari, setelah pulang sekolah, setelah selesai bersih-bersih.
“Em.. cha.. ada yang ingin aku katakan kepadamu..” Ucapku ragu
“Apa itu?” Tanyanya sambil mendekatiku
“Ini hal yang sulit sekali aku ungkapkan,” Ucapku lagi
“Apakah semacam menyatakan cinta?” Tanyanya asal
“Em.. Seperti itulah..”
Deg deg deg
Suasana hening tercipta setelah aku berkata begitu, yang terdengar hanya suara angin lalu lalang dan suara detik jam yang berdetak.
“Ja.di.. Apa.. Yang I,ngin Ka.u kata..kan?” Tanya tegang
“Em.. aku hanya mengucapkan ini satu kali saja jadi dengar baik-baik…”
Dia hanya mengangguk
“Ma.ma..ma..ukah.. Ka..u.. Makan bersamaku hari ini?” Tanyaku terbata bata
“Ha..h? Te…ntu.. tid..dak.. ma..sa.lah..” Jawabnya heran
“Baguslah, aku sudah menyiapkan bekal untuk kita makan berdua, ayo kita makan di dekat tiang itu” Ucapku sambil menunjuk tiang bendera yang berada di pojok kelasku
Entah apa yang ada dipikiran echa, aku tidak peduli karena pada akhirnya aku bisa makan bareng echa!. Yea.. Yuhuuu.

“Ini Enak..” Ucapnya ketika mencicipi masakanku
“ya tentu.. siapa dulu yang bikin… hahhha” Ucapku bangga
“Aku tak menyangka orang aneh sepertimu bisa membuat masakan seenak ini,” Ucapnya dengan tampang polos
“hahahahaha”
Kami berdua makan dengan ceria dipenuhi canda dan tawa.

Tik tik tik
“Suara apa itu?” Tanyanya sambil membereskan tempat-tempat makananku
“Biar kulihat”
Kulihat di luar ternyata cuaca sedang tidak bagus, Hujan mulai turun perlahan lama kelamaan hujan semakin deras saja mengguyur sekolah ini.
“Apakah di luar hujan?” Tanyanya sambil berlari menuju jendela
Aku hanya mengangguk
“Sial! Aku lupa bawa payung,” Gerutunya sambil terus melihat lihat isi tasnya
“Tenang saja aku bawa kok” Ucapku tenang sambil mengeluarkan payung di dalam tasku
“dan maafkan aku ini semua gara gara aku mengajakmu untuk makan..” Ucapku sedikit menyesal
“ohahha, Tak perlu minta maaf, aku tidak menyesal makan bersamamu lagian masakannya enak kok, Gratis lagi,” Jelasnya
“Tapi.. kan…”
“Sudahlah, ayo kita pulang sebelum hujannya semakin deras, cepat buka payungmu.” Pintanya
“hm. Makasih ya” Ucapku sambil membuka payung
Dia hanya tersenyum..

Kita berdua pergi pulang di bawah payung berduaan di cuaca yang sedang hujan, Selama perjalanan kita tak berbicara sama sekali, entah karena tak malu atau tegang, aku tidak dapat mengerti situasi ini. Aku mengantarnya sampai ia naik angkot. Aku tak bisa mengantarnya sampai ke rumah Seandainya rumahku dekat dengannya, pasti ku bisa lebih lama berduaan di bawah payung seperti ini. huh.

Keesokan Harinya
Hari ini aku tak masuk sekolah karena demam, ku memang benar benar lemah!. padahal rencananya hari ini aku ingin mengajak echa ke rumahku tapi, kenapa bisa jadi begini?.

Di sekolah ketika sudah pulang
Krek. krek..
“Hai, apa kamu disini?” Tanya echa sambil berjalan mencari keberadaanku
“Ayolah keluar, jangan bercanda, hari ini kau juga akan membantuku kan?” Tanya echa sambil terus berjalan mengelilingi kelasku
“Orang aneh itu kemana ya?” Tanya echa dalam hati

Setelah memastikan beberapa kali bahwa aku tak ada di kelas, akhirnya di memeriksa buku absen di kelasku yang ada di kolong meja guru.
“Dia sakit? Pantas saja, apa gara gara hujan kemarin?” Pikirnya dalam hati
Akhirnya echa melakukan pekerjaan bersih bersih sendiri, sama seperti dulu waktu belum bertemu dengan diyo. Dia menyelesaikannya dengan cepat. Entah apa yang ada di pikirannya tapi sepertinya hari ini dia terlihat cemas dan cepat-cepat ingin pulang ke rumah.

Setelah sampai di rumahya, dia langsung mencari cari, secarik kertas yang bertuliskan nomor teleponku.

Ketika ku hampir terlelap hp ku bergetar keras, sampai membangunkanku kembali, ku ambil dan kulihat sebuah nomor tak dikenali mengirim sms kepadaku
0877xxx: Hai, orang aneh, ini no ku echa.
Me: Echa? bukannya kau tak punya hp y? apa kau sudah punya sekarang?
0877xxx: Maafkan aku, aku berbohong padamu sebenarnya aku sudah punya dari dulu, waktu itu aku hanya belum percaya kepadamu..
Me: oh, ya gak papa kok, itu wajar saja.
0877xxx: Apa kau baik baik saja? Kudengar kau tidak masuk sekolah?
Me: Hanya demam saja, maaf membuatmu khawatir, ^_^)v
Echa: Siapa yang mengkhawatirkanmu? GR xp
Me: You,~ hahaha xD
Echa: dasar orang aneh, :p, pokoknya cepet sembuh, aku menantikan masakanmu
Me: Thank You~?

Keesokan harinya, demamku malah tambah tinggi dan tentunya harapan untuk sekolah pun menjadi semakin jauh, Echa pasti mengkhawatirkanku. Namun apa yang bisa kuperbuat?. Akhirnya Ibuku memutuskan untuk membawaku ke dokter, Fakta mengejutkan datang dari seorang dokter, Ternyata aku Terinfeksi Penyakit “Demam Berdarah”. Sekujur tubuhku menjadi lemas ketika mendengar hal itu, jujur saja, aku seperti kehilangan arah untuk hidup. Dokter menyarankan agar aku dirawat inap rumah sakit, Aku hanya bisa menuruti semuanya karena aku ingin kesembuhan!. apa yang harus kukatakan kepada echa?. aku takut dia khawatir.

Selang beberapa jam terasa hpku bergetar. Aku sudah menduganya, ternyata benar ini sms dari echa
Echa: Apa kau baik baik saja?
Me: Ya, sedikit mendingan tapi aku harus dirawat inap di rumah sakit, maafkan aku
Echa: Hah!? Kau hanya demam kan? Kenapa bisa sampai masuk rumah sakit?
Me: Aku terinfeksi demam berdarah, tapi jangan khawatir, kata dokter setelah beberapa hari pasti sembuh kok, aku hanya harus minum obat dan istirahat teratur..
Echa: Semoga lekas sembuh, aku benar benar khawatir..
Me: Akhirnya kau mengakuinya.. 🙂 ya amiin
Echa: aku hanya khawatir pada dokternya, semoga dia bisa tahan merawatmu,
Me: Alesan :p
Echa: Terserahlah, dasar orang aneh xp, pokonya kau harus segera sembuh!
Me: siap! 🙂

Setelah beberapa hari panasku menurun, namun ternyata ini adalah saat-saat kritis, setelah beberapa hari kemudian demamku tinggi kembali. setiap harinya echa selalu mendukungku supaya sembuh, aku berjanji ketika sembuh nanti aku akan membuatkannya masakan untuk merayakannya, dia juga berkata bahwa ketika ia melihat tiang bendera di kelasku itu seperti mengingatkannya kepadaku, entah kenapa dia merasakan hal itu. Aku hanya tersenyum mendengarnya. dan tak terasa sudah 2 minggu aku tidak hadir ke sekolah karena sakit, teman-temanku menjengukku begitu juga echa, aku sangat senang semuanya datang menjengukku, namun kenapa demam ini tak kunjung sembuh juga!?. kenapa?. aku terus bertanya kepada diriku sendiri, ku sudah cape tinggal di rumah sakit.

Sampai tepat 1 bulan sejak aku dirawat di rumah sakit…
“Suster! Apa kau tau ruang berapa pasien yang bernama diyo dirawat disini?” Ucap echa sambil menanyakan kepada suster
“Sebentar, ruang 5 di lantai 2” Jawab suster itu
“ok, terima kasih,” Ucap echa sambil berlari menuju ruang yang ditunjukan
“Kuharap diyo baik-baik saja, aku harus cepat,” ucap echa dalam hati sambil berlari tergesa gesa

Srekk
“Diyo!!?” teriaknya setelah sampai
“Eh, Ma… maaf suster pasien yang di ruangan ini kemana ya?” Tanya echa sambil menanyakan kepada suster yang sedang Bersih-bersih di ruangan itu
“Kalau boleh tau, anda keluarganya?” Tanya suster itu
“Sa ya temannya” Jawab echa tegang
“pasien disini sudah meninggal karena operasi 2 hari yang lalu” Jelas suster itu
“Hah!?”
Deg deg deg deg deg deg
Waktu terasa berhenti, ketika aku mendengarnya
“Suster bohongkan?” Tanya echa. terlihat matanya mulai berkaca-kaca
“Tidak, itu memang kenyataan” Jawab suster itu pelan
“Kenapa ini harus terjadi!? KENAPA!? Diyo…”
“AKu bahkan Belum mengucapkan selamat tinggal padamu”
Bulir bulir air mata tak tertahankan lagi, bulir bulir itu terus membanjiri matanya, Ia tak dapat menerima semua ini. Namun inilah takdir…
“Hiks, AKU MOHON KEMBALILAH!!, AKU MENCINTAIMU, AKU BENAR BENAR SAYANG PADAMU, AKU SELALU MERASA NYAMAN BILA ADA DI DEKATMU WALAUPUN KAU ITU ANEH, TAPI AKU MENYUKAIMU!!! BENAR BENAR MENCINTAIMU!!!!, hiks,” echa meluapkan semuanya di ruangan itu
krekkkk…
“Echa? kenapa kau ada disini?”
Sepertinya echa kenal dengan suara itu, ia membalikan badannya untuk melihat sosok itu, ya, itu adalah aku.
“Di..yo?” Jawabnya terbata bata sambil mengelap air matanya
Echa berlari mendekati aku dan..
Hug ~
“Kau Jahat!!” ucapnya sambil terus memelukku
“Kau kenapa?” Tanyaku heran
“Kukira kau sudah mati, hiks..” Ucapnya sambil menghentikan pelukannya
Echa berhenti sejenak untuk mengelap bekas tangisannya.
“Ku dengar beberapa hari yang lalu kau melakukan operasi, aku datang kesini untuk menjengukmu, maaf baru bisa menjengukmu sekarang karena kemarin kemarin keluargaku pergi berlibur dan tentu saja aku ikut, tapi aku senang ternyata kau masih hidup” Ucapnya lega
“Ya, aku memang sudah melakukan operasi, dan operasi itu berhasil! sekarang aku sudah boleh pulang ke rumah dan ketika ku berjalan untuk pulang aku mendengar suaramu” Jelasku
“Tapi Kenapa kau bisa benar benar bodoh ya?” Ejekku padanya
“Maksudmu?” Tanyanya heran
“Aku kan berada di ruang 5 lantai 2, sedangkan ruangkan ini kan ruang 5 lantai 1” Jelasku lagi
Kami berdua hanya tertawa mendengarnya, Kesedihan akhirnya berubah jadi kebahagiaan.

Keesokan Harinya ketika pulang sekolah
“Aku datang” Ucap echa sambil mendekatiku di kelas
“Kau selalu berada di pojok ini ya.. hahah” Ucapnya lagi.
“Ya, tentu, karena ini adalah tempat kenanganku, tempat pertama kali ku bertemu denganmu” Jawabku tersenyum
“oh, ya ada yang ingin aku ungkapkan kepadamu,” Ucapku
“Hm?”
“Em… Setelah mendengarnya kemarin ku jadi tau isi hatimu, jadi aku tak akan ragu-ragu lagi,”
“Maukah kau jadi Pacarku?” Tanyaku sambil menyodorkan bekal makanan yang kubuat..
Terlihat pipi echa menjadi merah, semerah-merahnya ketika ku mengetahui isi hatinya.
“Tentu saja!!” Jawabnya pasti sambil menerima makanan yang kuberikan
Aku sangat bahagia. Akhirnya aku bisa mendapatkan pacar!.
“Ayo kita makan untuk merayakan hari jadian!! yea” Ucap echa bersemangat
“Oke, kita rayakan bersama tiang kesayanganku!!” Jawabku sambil mulai memakan bekal makanan yang kubuat..

krek… krek…
Terdengar suara pintu terbuka.
“Sedang apa kalian berdua disini?” Tanya seorang guru tiba-tiba
“Tenang saja pak, kita tidak berduaan kok…” Jawabku tenang
“Karena Kita Bertiga…” Jawabku dan echa berbarengan
“Hah!?”

“Cinta memang bisa tumbuh dimana saja, bisa di Sandal, Sepatu, Surat maupun TIANG”

SELESAI

Cerpen Karangan: Diyo Sukma
Blog: Diyo-sukma.blogspot.com

Cerpen Pole In Love (Tiang Cinta) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Setia (Part 2)

Oleh:
Mobil sedan Ez terparkir di tepi rumah Albi. Ketiga gadis tersebut turun dan menghampiri post satpam yang ada di dalam rumah. “Misi pak, ibunya ada?” Tanya Clay yang langsung

Ospek

Oleh:
Pagi itu begitu cerah, semua mahasiswa baru degdegan menunggu acara orientasi dimulai, begitu pula salah satu calon mahasiswa yang satu ini dia adalah Arli, hari itu dia begitu gelisah

Sorry Ya Mblo

Oleh:
Setiap pulang kampus Caca memilih jalan memutar. Dia paling males ketemu sama 3 cowok nyebelin itu! Ketika Caca melintas di hadapan mereka, 3 cowok itu pasti bilang “penjaga gawang

Because Your Smile

Oleh:
Biasanya pengalaman kisah cinta seseorang sudah pasti berbeda, ada yang berakhir dengan bahagia ataupun ada yang berakhir menyedihkan bahkan menyakitkan. Dan terkadang kisah cinta seseorang memberikan kesan yang mendalam

Mimpi Yang Tak Terduga

Oleh:
Sepintas angin lalu, namanya sering terngiang di telingaku, wajahnya sudah tak asing lagi di tiap pandanganku, seorang lelaki tampan yang selalu bergaya maskulin itu, sungguh dapat menjerat hatiku, senyumnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *