Pos Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 16 April 2018

“Makasih,” aku menerima sebuah kantong putih berisi nasi goreng pesananku. Aku segera menghampiri sepeda motorku dan menaikinya. Ternyata, hari ini awan hitam sudah menggumpal di langit. Aku harus cepat-cepat sampai rumah kalau tidak, hujan pasti akan mengguyurku.

Ternyata, dugaanku benar. Hujan turun sederas-derasnya sebelum aku sampai rumah. Terpaksa aku berteduh di pos yang kosong. Bosen banget di sini. Udah sepi. Hujan bukannya tambah reda malah deras banget.

Disaat aku sedang termenung, seseorang berhenti di depanku. Dia udah basah kuyup. Dia melepas helm dan sumpah dia ganteng banget! Udah ganteng, putih, keren, style banget. Aku hanya melongo melihatnya. Aku tersentak kaget saat ia marah nggak jelas. “Huhh.. belum sampai rumah tugas kuliah gue udah hancur!” Ujarnya. Aku hanya terdiam karena takut kemarahannya akan memuncak. Lalu dia duduk di sebelahku. Kenapa dia duduk di sebelahku? Padahal, kan, masih ada bangku lagi, batinku terus bertanya-tanya. Tiba-tiba ia memandang ke arahku. Aku jadi salah tingkah.

“Oh, maaf deket-deket. Lo jadi basah deh!” Katanya.
Aku hanya terdiam mematung. Dia jadi semakin penasaran denganku. “Nggak maafin gue ya? Kenalin gue Aldy,” ia mengulurkan tangannya sambil tersenyum. “Gue Giselle.”
“Dari tadi di sini?” Tanyanya.
“Lumayan sih.” Jawabku gugup, mungkin karena dia dekat denganku.
“Dari mana?”
“Beli nasgor. Lo?” Tanyaku balik.
“Tuh, buat makalah. Laptop di rumah gue rusak, jadi terpaksa gue ke warnet.” Ia menunjuk beberapa lembaran tugasnya yang sedang dikeringkan di bangku panjang. Kami pun mengobrol banyak. Dan saking asyiknya, tidak terasa kalau hujan sudah berhenti.

“Giselle, gue minta nomor lo ya? Siapa tau ada perlu buat nemenin gue di pos ini kalau lagi hujan,” candanya.
Aku tersenyum dan membacakan nomor teleponku dan dia mencatatnya. “Thanks, Giselle.” Katanya sesudah mencatat nomor teleponku.
“You’re welcome.” Aku segera memakai helmku dan naik sepeda. Dia pun sama. Kami naik sepeda beriringan dan berpisah di pertigaan karena berbeda jalur. Selama pulang, aku senyum-senyum sendiri karena hari ini aku senang sekali.

Aku memukul bangku dengan kesal. Ahh.. lagi-lagi aku terjebak hujan di pos ini lagi. Maklum, ini Bogor, Kota Hujan. Tapi mengingat kemarin membuatku tersenyum. Aldy, cepat ke sini donk! Aku menunggu kamu, harapku. Tiba-tiba, ponselku bergetar. Ternyata, mama yang menelepon. Aku segera mengangkatnya dan berjalan ke pojok pos. Mamaku menanyakan keberadaanku yang tidak segera pulang ke rumah sepulang kuliah. Dan aku berkata kalau aku sedang menunggu hujan reda di pos. Selesai menelepon, aku membalikkan badan dan, “hwaa!!” Aku terkejut bukan main. “Aldy!! Lo itu bikin gue jantungan tauu!!” Omelku.
“Lo beruntung ya punya mama yang perhatian.” Katanya malah mengalihkan pembicaraan.
“Oh. Jadi lo dari tadi nguping? Iya?” Tanyaku.
“Sorry..”
“Trus lo kenapa bilang gue beruntung punya mama yang perhatian?” Tanyaku penasaran.
“Sejak kecil, gue nggak pernah dimanjain orangtua gue. Gue udah diajarin mandiri. Orangtua gue terlalu sibuk bekerja dan nggak terlalu mentingin gue. Mereka pikir, dengan manjain gue dengan kekayaan, udah bikin gue seneng. Tapi sebenernya gue juga pengen disayang. Gue juga pengen makan bareng sama keluarga. Walaupun serumah, tapi gue jarang ketemu sama orangtua gue. Pagi saat gue belum bangun, terkadang mereka udah berangkat. Saat gue udah tidur malem mereka baru pulang. Manabisa gue ketemu.” Raut Aldy terlihat sedih.

Aku menunduk, menyesal sudah bertanya hal yang menyangkut masalah keluarga Aldy. “Maaf ya, Dy. Gue udah tanya masalah keluarga lo.”
“Nggak papa kok. Gue udah terbiasa.”
“Yang sabar ya, Dy,” aku mengelus punggungnya. Ia menoleh ke arahku dan menyunggingkan senyum tulus. “Makasih.”

Berhari-hari telah kulewati. Aku semakin dekat dengan Aldy. Kita sering bertukar cerita di pos itu dan dikala hujan. Hingga tanpa sadar aku mulai mencintai Aldy. Hingga suatu hari, dikala hujan dan di pos yang sama. Aldy memberiku seikat bunga dan menyatakan perasaanya padaku. Tentu saja aku menerimanya.

Hari-hariku menjadi berwarna sejak aku berpacaran dengan Aldy. Kami sepakat menamai pos yang telah mempertemukan kami dengan nama “Pos Cinta”.

End

Cerpen Karangan: Ida Febrianty
Facebook: Ida Febrianty

Cerpen Pos Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kim Na Na Dan Loury

Oleh:
Hujan saat itu pukul 4 sore membasahi seluruh kota Jakarta. Namaku Kim Na Na, ya aku lahir di korea karena Ibuku asli warga negara korea. Saat itu aku sedang

Miracle (Part 1)

Oleh:
Jika aku tahu, akan menjadi seperti ini kisahnya, lebih baik aku menolak takdir yang telah tertulis yang hanya menyebabkan hatiku berkeping-keping, rasanya diriku telah kosong, rindu akan senyuman damai

Mawar Merah

Oleh:
Aku memandang mawar merah yang masih ada di genggaman tanganku. Dia bergerak seiring tanganku yang pula bergetar. Ah, aku gugup, bunda. Anakmu gugup, bunda. Aku khawatir apa yang sudah

Bukan Harapan Palsu (Part 1)

Oleh:
“Tersenyum mungkin hanya topeng belaka. menangis mungkin hanya luapan emosi saja. tapi perasaan ini membuatku tersenyum dan menangis. apa perasaan itu hanya topeng? atau apa perasaan itu hanya luapan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *