Prom Night To Love (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 22 July 2019

Pertandingan pun berakhir, SMA Harapan Bangsa berhasil memenangkan pertandingan. Sorak kegembiraan terukir di wajah para supporter, termasuk Silya. Ia kagum kepada Alza, ternyata Alza memang benar-benar pecinta basket. Ia rela melakukan apapun untuk basket bahkan dia sampai memaksa untuk diikut-sertakan dalam perlombaan ini padahal ia sudah tak boleh ikut karena sebentar lagi akan melaksanakan ujian nasional. Silya teringat jika Alza pernah bilang bahwa suatu hari dirinya akan menjadi pebasket professional.

Hari ini adalah jadwal bimbel untuk seluruh kelas XII, karena kurang lebih seminggu lagi akan diadakannya ujian nasional.
Suasana kelas masih sangat sepi, Silya memutuskan untuk melakukan kebiasaannya jika sedang bosan seperti ini yaitu membaca novel sambil mendengarkan musik.
Guru pembimbing sudah datang dan memberi materi, namun Silya masih menunggu seseorang yaitu Alza. Alza tak kunjung datang ke sekolah padahal bimbel ini sangat penting untuk pemadatan ujian nasional nanti.
“Dasar pemalas…” Gerutu Silya dalam hati.

Waktu bimbel pun berakhir, Silya masih terus memikirkan Alza. Karena Alza tak biasanya alfa seperti ini.
Silya memutuskan untuk mampir ke rumah Alza sebelum pulang, ia ingin memastikan bahwa tak terjadi apa-apa pada Alza.
Silya menekan bel, namun tak ada jawaban dari dalam. Ia terus menekannya hingga seseorang membuka pintu. Dan ternyata yang membukanya adalah Tante Ira, Mamah Alza.

“Silya, tumben ke sini. Pasti mau cari Al ya?” Tanya Tante Ira.
“Iya tante, Alnya ada?” Silya masih canggung dengan Tante Ira karena sudah lama sekali ia tak berkunjung ke rumah Alza.
“Ada, ayo masuk.” Tante Ira mempersilahkan Silya masuk dan mengantarnya ke depan kamar Alza.
“Alza ada di dalam. Tante tinggal ya.” Ucap Tante Ira sambil tersenyum dan meninggalkan Silya seorang diri.
Ia ragu saat akan membuka pintu kamar Alza, namun ia memberanikan diri untuk membukanya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan membukanya.
Terlihat Alza sedang membaca komik dengan tubuh yang ditutupi selimut. Alza menoleh ke arah Silya dan terkejut dengan apa yang dilihatnya. Silya datang menemuinya.

“Silya?” Tanya Alza masih tak percaya.
“Gua cuma mau nganterin ini..” Silya masuk dan menyodorkan jaket yang sempat ia pinjam saat ia kedinginan waktu itu.
“Gak dikembaliin juga ga pa-pa kok.” Alza tersenyum lembut.
“Lu tuh lagi sakit juga masih aja bercanda.” Gerutu Silya.
“Gua ga sakit kok.” Ucap Alza.
“Terus kalo gak sakit kenapa banyak obat.” Silya menunjuk sebuah bungkus obat di meja dekat ranjang Alza.
Alza terkekeh dan tak bisa bohong lagi. “Cuma demam aja kok… gak parah-parah amat.” Ucap Alza sambil terus memandang Silya, dan berhasil membuat Silya jadi salah tingkah.
“Lagian kemaren tuh harusnya lu gak usah ikut pertandingan itu.”
“Ini bukan salah basket, ini salah gua yang jarang minum vitamin.”
“Ya udah terserah lu deh. Lu dan basket itu emang gak pernah bisa dipisahin.” Ujar Silya.
“Kaya Alza dan Silya, yang gak pernah bisa dipisahin sampai kapanpun.” Ucapan Alza membuat Silya makin salah tingkah.
“Bercanda mulu. Mending lu pelajari ini..” Silya menyodorkan buku yang tadi ia sempat tulis saat bimbel berlangsung.
“Gua pulang dulu.” Silya beranjak pergi namun Alza menahannya dengan memegang lengan Silya.
Deg.
Jantung Silya berdetak lebih cepat dari biasanya. Alza membuatnya salah tingkah lagi kali ini.
“Thanks ya.. lu udah mau berusaha maafin gua.” Silya tak berbalik, lengannya masih di pegang erat oleh Alza. Ucapan Alza begitu membuatnya sadar bahwa selama ini ia begitu egois dan sangat cuek kepada Alza yang selalu berusaha membuatnya memaafkannya.
Alza melepas lengan Silya perlahan. Silya tak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya mampu mengangguk dan berjalan menuju pintu meninggalkan Alza.

Hari ini adalah hari dimana para siswa-siswi kelas XII melaksanakan ujian nasional. Siap ataupun belum siap para siswa dan siswi harus mampu mengerjakan soal ujian hari ini.
“Semangat ya ujiannya…” Sebuah sticky notes tertempel di meja Silya. Tulisan itu sudah tak asing lagi, ya tulisan itu di tulis oleh Alza. Silya menoleh ke arah Alza yang tersenyum sambil membisikan kata semangat untuknya. Silya tersenyum dan melemparkan kertas kepada Alza yang bertuliskan “Ngisinya yang bener. Jangan ngitung kancing kaya waktu SD dulu..” Alza tertawa membacanya, ia mengangguk sambil mengacungkan jempol kepada Silya.

Tak terasa empat hari berlalu, ujian nasional pun sudah selesai di lewati. Dan malam ini adalah malam yang berbahagia untuk seluruh murid kelas XII. Karena malam ini adalah acara yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh kelas XII, yaitu “Prom Night”.
Semua berdandan dengan tema “Garden Party”, karena acara ini diselenggarakan outdoor atau di luar ruangan.

“Silya..” Teriakan itu sudah tak asing lagi di telinga Silya. Benar saja, Dini dan Vina yang memanggilnya.
Dini dan Vini langsung memeluk Silya.
“Sil lu cantik banget..” Ucap Vina saat melihat penampilan Silya yang menggunakan dress selutut dengan warna pink peach dan rambut indahnya yang dibiarkan digerai.
“Kalian juga cantik..” Goda Silya sambil mencubit pipi Vina dan Dini.
”Ayo ikut.” Dini dan Vina menarik Silya menuju panggung acara karena akan ada penampilan.

“Oke Guys mala mini akan ada yang menyumbang sebuah lagu.. oke langsung saja kita panggilkan ini dia Alza Giovani…” Kening Silya berkerut saat mendengar nama Alza di panggil oleh pembawa acara.
“Gua persembahin lagu ini buat seseorang yang sangat gua kagumi sejak lama, dan semoga dia suka lagu ini.” Alza tampil santai dengan jeans dan kaos yang dibalut kemeja.
“Ya ampun Alza bikin lagu buat gua, so sweet banget sih.” Ucap Sharine yang berdiri tepat di sebelah Silya.
“Ge-er banget sih lu. Lagu itu tuh bukan buat lu kali.” Sahut vina sewot.
“Enak aja, Alza tuh nyiapin lagu ini spesial buat gua.” Ujar Sharine dengan percaya dirinya.
Baru saat Vina akan membuka mulut, Silya sudah lebih dulu menutupnya.
“Ga usah diladenin Vin. Gak akan beres-beres kalo ribut sama dia.” Bisik Silya pelan.

“Dan di moment Prom night ini, gua pengen nyatain sesuatu untuk seseorang yang sangat gua cintai… diterima atau engganya itu terserah dia. Yang terpenting gua udah ngungkapin perasaan yang udah lama banget gua simpen… dan dia adalah Silya, Gua ga tau kapan perasaan ini mulai tumbuh, yang tadinya perasaan sayang ini hanya sebatas dua teman kecil yang saling melindungi menjadi perasaan sayang yang lebih dari sekedar teman. Gua ga tau lu udah maafin gua atau belum, yang penting gua udah berusaha supaya buat lu mau maafin gua. Lu itu beda Sil, beda dari cewek-cewek lain. Dan asal lu tau alasan gua gak pernah respon cewek yang berusaha deketin gua itu karena gua gak bisa bohongin perasaan gua kalo gua sayang sama lu. Sil lu mau kan jadi pacar gua?”
Deg.
Ucapan Alza membuat Silya tiba-tiba tak bisa bergerak, tubuhnya terasa kaku untuk digerakan. Rasanya seperti mimpi, Alza mengungkapkan perasaannya di moment Prom night ini dan di hadapan teman-temannya.

“Terima… terima… terima..” Sorak suara teman-temannya membuat Silya makin malu dan salah tingkah. Pipi Silya pink merona menahan malu, Alza membuatnya malu. Mengapa ia tak mengungkapkannya empat mata saja, mengapa harus di hadapan banyak orang seperti ini.
“Udah Sil terima aja, kita Ikhlas kok..” Dini dan Vina masih saja mengajak bercanda di saat seperti ini.

Alza masih menunggu jawaban dari Silya, Alza menatap Silya dengan penuh harapan. Silya tersenyum dan mengangguk.
“Cieee di terima…” Suara teriakan dari teman-teman membuat Silya makin malu.

Alza menghampirinya dan memakaikan sebuah gelang untuk Silya.
“Gelang ini kan?” Silya masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Gelang rajutan yang Alza pakai kan kepadanya adalah gelang yang pernah ia minta kepada Alza saat mereka masih duduk di bangku SMP.
“Aku berharap kamu masih suka sama gelangnya.” Alza tersenyum sambil memegang tangan Silya lembut.
Silya mengangguk dan tersenyum.
Alza memeluk Silya, baru kali ini Alza memeluk Silya sebagai kekasih hatinya. Bukan lagi sebagai teman kecil lagi.
“Ciee.” Sura Vina dan Dini membuat Silya melepas pelukan Alza.

“Aduh maaf ya kita ganggu..” Ucap Vina.
“Iya kita ganggu orang yang lagi berbunga-bunga.” Dini tersenyum bahagis melihat dua insan yang sangat ia impikan bersatu ini dan sekarang telah menjadi kenyataam.
“Kalian apaan sih.” Ucap Silya dan Alza kompak.
“Tuh kan ngomong aja udah kompak, apalagi hatinya…” Goda Dini.

“Alzaa…” Terlihat Sharine yang menghampiri mereka dengan make upnya yang sudah luntur karena ia menangis.
“Muka lu kenapa?” Tanya Vina sambil tak kuat menahan tawa.
“Iya muka lu kenapa? Udah kaya nenek sihir aja..” Ucap Dini sambil tertawa.
“Sil boleh gak, gua peluk pacar lu kali ini, aja?” Sharine memohon kepada Silya.
Silya tersenyum dan tak kuasa menahan tawa saat melihat make up Sharine yang berantakan.
“Boleh, tapi janji ya, ga akan nangis lagi..” Ucap Sharine sambil tersenyum ke arah Alza. Namun Alza menolak dengan menggelengkan kepalanya.

Tanpa izin dulu kepada Alza, Sharine sudah langsung memeluk Alza. Yang membuat Alza tak bisa bergerak karena pelukan Sharine yang terlalu kencang.
“Sharine lepas, gua ga bisa napas nih…” Alza berusaha melepaskan pelukan Sharine. Namun Sharine masih terus memeluknya.
Silya yang melihatnya bukan cemburu malah terus tertawa karena melihat sikap Sharine yang konyol dan kekanak-kanakan.

Cerpen Karangan: Siti Salamah Septiani
Blog / Facebook: Siti Salamah Septiani
nama saya siti salamah septiani atau sering di panggil septi. saya lahir dan di besarkan di bogor, dan sekarang saya duduk di bangku smk.

Cerpen Prom Night To Love (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nostalgia

Oleh:
“Jika memang rasaku ini semu, maka ia akan hilang seiring dengan berjalannya waktu” Kataku terkias di atas secarik kertas, kutulis dengan pena kesayanganku. Dengan pena itu kucoba rapal bayangnya

Saat Cinta Tak Terbalas

Oleh:
Mulai dari pukul 19.00 sampai 23.00 aku melepas rindu bersamanya. Aku tau dia bukan kekasihku. Aku sadar dia adalah milik sahabatku. Aku tak berarti apa-apa di matanya. Aku bukan

Pemeran Utama

Oleh:
Suara dering yang telah dinanti pun terdengar. Menghela nafas, mengolet, berteriak tak jelas, bahkan mengutuk guru yang baru saja keluar. “ah, abaikan. Ayo” Lingling langsung menggeret tanganku. Yang lain,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *