Puisi Untuk Biru

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Kristen
Lolos moderasi pada: 27 October 2017

Libur kuliah panjang seolah membuatku berhibernasi. Ya, pekerjaanku sehari-hari hanya merupakan rutinitas yaitu bangun, memasak nasi dan menggoreng lauk, setelah matang kumakan sendiri dan sisanya bermalas-malasan. Sesekali kubenahi kamar kos sempitku ini. Jika kau menduga aku adalah anak rantau yang pergi ke suatu tempat untuk menempuh pendidikan, tebakanmu benar sekali. Aku mahasiswa rantau yang mengambil program studi Sosiologi, kata kakakku sebenarnya prodi ini tidak menjamin apa-apa. Setelah lulus mau jadi apa juga tidak tahu. Masa bodoh dengan kakakku aku bahagia berkuliah di sini. Aku suka kampusku, jurusan yang aku ambil, kota ini, kamar kos ini, kecuali libur kuliah yang sangat panjang ini. Kawan-kawanku lainnya juga sudah pulang ke kampung halaman masing-masing. Aku sengaja tidak pulang libur semester ini. Selain pertimbangan dana untuk pulang dan dana kos yang harus tetap kubayar meskipun aku pulang, aku juga sedang ‘bertengkar’ dengan ayahku. Tapi untunglah dia masih mengirimkan uang bulanan padaku.

Sedari kecil, ayah mendidikku menjadi anak yang mandiri. Apalagi, aku sudah tak memiliki ibu. Ibuku meninggal sewaktu aku berusia 2 tahun. Ia tertabrak mobil sewaktu mau menyelamatkan kakak laki-lakiku yang sangat bandel yang sewaktu itu masih berusia 5 tahun. Ayah juga mengajariku untuk bertahan hidup dalam kesendirian, mungkin terdengar lucu. Tapi itulah yang diajarkannya. Sehingga tak jadi masalah bagiku untuk sendirian di kamar kos untuk waktu yang lama. Meski tidak munafik aku juga sering menelepon teman-teman kosku untuk bertanya kapan mereka kembali ke markas anak rantau ini.

Tapi beruntunglah setiap jumat sore atau kadang-kadang minggu pagi, Kak Jun mengajakku untuk ke gereja. Kak Jun adalah kakak tingkatku. Ia bukan anak rantau, dan melihatku tidak pulang ke kota asalku sewaktu libur semester membuatnya berniat untuk –setidaknya– melindungi kehidupan rohaniku. Dia memang anak yang baik, rajin ke gereja dan berbakti pada orangtuanya. Aku juga beberapa kali diajak ke rumahnya untuk singgah setelah pulang gereja. Orangtuanya juga sangat baik padaku. Aku bahkan merasa menjadi keluarga di sana. Tapi hanya sebatas itu, aku tidak memiliki rasa macam-macam padanya. Kurasa begitupun dengan dia. Meski beberapa kawanku bilang kami sangat cocok.

Aku dan Kak Jun memang akrab bahkan sejak bulan pertama aku menjadi adik tingkatnya. Karena sifatnya yang tidak pernah jaim dan hobinya membuat puisi membuatku nyambung dengannya. Aneh juga sih, ia sama sekali tak terlihat seperti pujangga (Maksudku, biasanya orang yang suka puisi adalah orang yang kalem. Sedangkan dia sama sekali tidak begitu)

Ponselku berdering sewaktu aku sedang asyik membaca novel. Id call-nya “Mas Tian”, kakakku.
“Halo. Tumben telepon, ada apa mas?”
“Lah, mas dulu yang nanya, kamu kok ndak pulang itu ada apa?”
“Halah. Ndak usah pura-pura ndak tahu toh mas”
“Sakno ayah inilo kangen.”
“Sampein aja aku juga kangen. Ini kan juga gara-gara mas”
“Apa maksudmu?”
“Loh, Mas Tian ini bener-bener ndak paham?” Nada suaraku jadi sedikit keras mengingat Mas Tian yang belakangan ini mencoba menjodohkan ayah dengan beberapa wanita genit. Menyebalkannya adalah ayah terlihat senang karena itu.
“Makanya, kamu pulang. Biar mas jelasin semua.”
“Aku pulang nanti aja kalo ada libur panjang lagi. Sekarang sudah nanggung. Minggu depan sudah masuk”
“Ya sudah. Kamu belajar sungguh-sungguh ya di sana”
“Iya.” Kumatikan teleponku segera, padahal aku dengar Mas Tian masih ingin mengatakan sesuatu

Kulanjutkan novelku. Tapi tidak berapa lama, ada telepon lagi.
“Halo.”
“Halo Na”
“Iya ada apa Kak Jun?” Logatku jadi sedikit berubah dari sebelumnya, sewaktu menerima telepon dari Mas Tian
“Gue bentar lagi jemput elu ya.”
“Jemput? Ke mana?”
“Iya, ada acara bakti sosial sama pemuda di gereja. Gue disuruh ajakin elu. Tapi nggak ah, gue gak ngajak elu. Gue paksa elu buat ikut. Jadi cepetan siap-siap. Bye” Aku masih ingin bicara, tapi telepon sudah ditutup. Aku jadi paham bagaimana perasaan Mas Tian yang beberapa menit sebelum ini juga kututup teleponnya padahal ia masih ingin berbicara.

“Thank you ya Na udah bantuin. Capek nggak?” Tanya kak Jun seraya memberiku es kelapa muda yang baru saja ia beli. Bakti Sosial di panti asuhan bersama para pemuda di gereja-nya cukup menghibur dan melelahkan. Aku memang cukup mudah bergaul dengan orang-orang sehingga di gereja Kak Jun, aku juga mulai mendapat beberapa kawan. Dan aku cukup diterima di sana.
“Enggak sih, seru” Kataku lalu menyeruput es kelapa muda. Kak Jun lalu tersenyum aneh.
“Kenapa lu kak? Aneh banget senyumnya?” Aku melanjutkan. Dia terlihat kaget mendengarku yang ternyata melihat wajah anehnya lalu menggeleng. Semenjak saat itu, Kak Jun sering memperlihatkan ekspresi anehnya padaku. Bahkan aku beberapa kali melihat mukanya merah ketika menatapku. Tapi itu hanya samar-samar. Ia selalu berbalik setelah menatap tatapanku.

Kuliah yang melelahkan kembali kujalani. Aku beberapa kali mengeluh bahkan mengumpat ketika merasa lelah. Aneh juga aku ini. Kuliah libur kepanjangan mengeluh, masuk kuliah mengeluh. Sudah hampir sama seperti bangsa Israel sewaktu ada di padang gurun.

“Na, Navy!” Teriak seseorang sewaktu aku hendak pulang karena jam perkuliahanku hari ini sudah selesai. Dan waktu sudah menunjukan jam 4 sore. Aku benar-benar merindukan kasurku. Jadi aku pura-pura tidak dengar saja. Dan malah kupercepat jalanku.
“Navy!” Teriaknya sekali lagi, karena aku tidak menghentikan langkahku. Tapi aku juga masih keukeh untuk pura-pura tidak mendengar.
“Hay biru dongker berhenti!” Aku langsung menghentikan langkahku. Ya, Namaku Navy Michaela. Kaget juga ada yang memanggilku biru dongker. Sebenarnya Navy memiliki arti angkatan laut. Tapi ayahku bukan angkatan laut. Atau lebih tepatnya namaku tidak berhubungan dengan angkatan laut. Hanya saja, ibuku sangat suka warna ‘Navy’ alias biru dongker. Sedangkan Michaela adalah nama yang kudapat dari Oma ku, orangtua angkat ibuku. Dari kecil semua kawan memanggilku ‘Na’ yang sebenarnya juga nama panggilan ibuku “Nana”.

“Ada apa kak Jun.”
“Buset! Capek gue. Bentar” Katanya meminta waktu. Dia terlihat mengatur nafas dan keringatan
“Nih, tissue” Dia menggapai tissue dariku, mengelap wajahnya dan … itu lagi, senyum aneh dan muka yang samar-samar kulihat memerah namun dia segera merunduk dan mengatur nafasnya lagi
“Gue cari elu dari kantin, terus ke lantai 3. Ketemu temen-temen lu, katanya elu ke toilet. Gue tungguin di depan toilet lumayan lama. Eh, temen lu bilang lagi katanya elu udah pulang. Gue jadi lari-lari.”
“Terus? Ada apa?”
“Rabu malam ada acara nggak?”
“Tumben lu nanya gue ada acara. Biasanya kan elu maksa”
“Ya karena ini bukan acara gereja.”
“Terus acara apa?”
“Acaranya anak sastra indonesia. Pertunjukan puisi-puisi gitulah. Kalo elo nggak ada acara, gue jemput jam 6 sore”
“Biasanya yang bikin gue ada acara kan elu kak” Aku lalu terkikik
“Oke. Rabu, jam 6 sore ya” katanya sambil berlalu, aku mengangguk pertanda setuju

Aku sedang menunggu kak Jun menjemputku. Aku berdiri di depan pagar sambil terus mengusap-usap bibirku yang kurasa terlalu merah. Ini ulah teman-teman kos ku. Mendengar aku akan pergi ke acara anak Sastra Indonesia yang terkenal modis dan dandanannya selalu mempesona. Mereka mendandaniku. Kalau bagus sih nggak kenapa-kenapa. Ini terlalu menor. Apalagi dress ini rasanya benar-benar membuatku tidak nyaman. Tanpa aku sadari seseorang yang memang sedang kutunggu dengan motor bebeknya sudah ada di depanku

“Woy!”
“Eh Kak Jun” Kataku, masih dengan tangan di bibir
“Gue nggak usah ikut aja deh ya” lanjutku dengan muka memelas
“Yah, kenapa?”
“Nggak nyaman tau pake dress gini. Mana nih bibir merah banget lagi. Gara-gara anak-anak nih” Aku benar-benar merasa aneh, karena kak Jun saja memakai baju casual dengan sepatu yang biasanya ia gunakan di kampus
“Gini deh, gue kasih waktu 15 menit ya. Elu ganti baju casual, plus hapus lipstik lu itu ganti ke warna yang lebih kalem. Hahaha.” Dia terkekeh. Tuh kan, aku memang terlihat aneh.
“Oh iya, hapus lipstik aja. Bedaknya jangan. Nanti lama” Lanjutnya. Dan aku segera masuk ke kosan

Sampai di acara itu, kami segera duduk di tempat yang sudah disediakan. Aku berhasil mengganti pakaianku dengan kaos putih dan joger pants berwarna biru dongker kesukaanku. Lumayan ramai juga pertunjukannya. Pertunjukan ini diadakan untuk merayakan hari ulang tahun prodi sastra indonesia. Ini pertunjukan drama yang bagus katanya. karena dibarengi dengan musikalisasi puisi, bernyanyi dan menari. Disamping itu ada juga booth-booth makanan dan games. Benar-benar meriah. Aku benar-benar menikmati drama itu. Tapi sepertinya tidak dengan kak Jun. Kak Jun menunduk lalu menoleh ke arahku sambil berkata.

“Na, ngebosenin ya dramanya?” Dia mengeraskan suaranya supaya aku mendengarnya namun sekaligus menjaga suaranya supaya tidak didengar orang lain karena aku duduk dengan batas satu kursi dengannya. Selalu seperti itu, di gereja juga demikian. Aku tidak mau duduk tepat di sampingnya. Ketika ada mata kuliah yang sama juga begitu jika dia ingin duduk dekatku, harus ada batas satu kursi. Sebenarnya bukan hanya padanya saja. Tapi pada semua cowok. Entah kenapa aku memang tidak suka duduk berjejer dengan laki-laki. Di SMP aku bahkan pernah kena marah wali kelasku karena tidak mau menuruti peraturan yang dibuatnya yaitu ‘Duduk laki-perempuan’. Tapi karena memarahiku, wali kelasku jadi kena dampratan ayah. Malang juga nasib wali kelasku itu.

“Apanya yang ngebosenin. Dramanya bagus gini” jawabku yang berhasil membuatnya tidak melanjutkan pembicaraan. Tapi kemudian akulah yang jadi tidak dapat menikmati drama ini karena Kak Jun berkali-kali ganti posisi duduk.
“Kenapa sih?”
“Laper” Jawabnya dengan muka memelas. Membuatku terkikik. Ternyata bukan karena drama nya jelek. Tapi karena dia lapar.

Kami lalu memutari booth makanan yang ada. Dia memilih membeli makanan berat, yaitu nasi soto. Sedangkan aku lebih memilih membeli kue cubit di booth yang sama. Selagi ia makan, aku berputar melihat booth permainan –tanpa sepengetahuannya– yang membuatku kena toyor. Setelah ia selesai, kami memutar lagi. Aku menunjukannya pada booth unik yang sempat kulihat tadi sewaktu aku berjalan-jalan sendiri. Tulisannya “Es Krim atau boneka gak pake duit”

“Mas, bonekanya gratis?” tanyaku pada penjaga booth tersebut. Aku jatuh hati pada boneka beruang putih lucu yang dijejerkan di sana. Ukurannya kecil, namun bulu-bulunya terlihat halus.
“Enggaklah mbak. Bayar, tapi gak pake duit”
“Terus?”
“Mbaknya harus nulis puisi dulu. Baru dapet es krim nanti”
“Yah, kok es krim sih mas. Kan maunya boneka.”
“Iya mbak, jadi gini.. Mbaknya harus nulis puisi dulu. Nanti dapet es krim. Nah, kalo puisinya baguuuus banget, dan boleh dibacain di panggung. Mbaknya boleh dapet boneka.”
“Ya udah sini gih.” Kataku sedikit menantang. Kak Jun hanya melihat saja.
“Mas kertasnya satu lagi buat mas yang ini”
“Lah, kok gue”
“Udah tulis aja kak. Lumayan, nggak dapet boneka tapi dapet es krim” yang akhirnya dia menurut.

“Wah keren nih puisi bikinan mas Junior” Aku tertegun. Jadi bukan puisiku yang bagus?
“Boleh dibacain nggak mas? Biar dapet boneka” Aku tersenyum dan mataku mengisyaratkan pada kak Jun untuk memperbolehkannya karena aku ingin boneka itu
“Bonekanya bisa buat mbaknya loh mas. Kayaknya mbaknya pengen banget” Goda penjaga booth itu
“Bolehin aja lah kak Jun.”
“Tuh, pacarnya pengen banget bonekanya loh mas” Kata seorang yang lain
“Bukan pacar mas” jawabnya
“Oh, gebetan?” Aku mengkerutkan dahiku dan menggeleng lumayan keras
“Saudara” Jawab Kak Jun buru-buru
“Ya udah kalo gitu kan gak masalah”
“Enggak” Katanya sambil mengambil es krim dari tangan penjaga booth itu. Aku manyun.
Padahal boneka beruang putih itu lucu sekali.
“Ya udah boleh” Ralatnya lagi. Mengembangkan senyumku.
“Silahkan pilih bonekanya mas”
“Pilih sana!” Perintahnya padaku. Tentu saja aku memilih boneka beruang putih itu

“Pulang yuk” Ajaknya.
“Ya. Ini kan masih jam setengah 8 kak” Kataku. Dia hanya menurut dan mengikutiku ke bangku penonton yang hampir penuh. Dan akhirnya aku harus duduk berjejer dengannya. Tanpa ada batas satu kursi lagi.

Acara ini seperti operet. Jadi seperti ada jeda iklan untuk penampilan-penampilan lainnya. Dan aku lihat seorang dari penjaga booth es krim dan boneka tadi naik ke atas panggung dan mulai membacakan beberapa puisi dari orang-orang yang mampir ke booth mereka

“Ada satu puisi yang dalam banget nih. Karangannya Junior, oh anak Sosiologi nih rupanya.” Aku menoleh padanya. Dia hanya menunduk. Kulihat muka merah samar itu lagi
“Wah sayang banget bukan anak sastra” Jawab seorang kawannya
“Gue bacain ya gaes”

“Biru, kau itu langit.
Mampu membuatku teduh.
Tapi kumohon jangan mendung.
Aku tak kuasa melihat sedihmu
Biru, kau itu …
Lautan
Membuatku suka berlama-lama di dekatmu
Tapi kumohon jangan marah
Gelombangmu akan menghapusku
Aku mencintaimu, Biru”

Aku tepuk tangan sekeras-kerasnya sambil berteriak kagum. Tapi Kak Jun hanya memandangku. Kuhentikan tepuk tanganku, sepertinya dia tidak suka
“Pulang yuk” Dia lalu berdiri, aku mengikutinya dari belakang.

Sudah lama Kak Jun tidak ada kabar. Ini hari minggu, biasanya jam 6.15 dia sudah ada di depan pagar. Tapi entahlah, kalaupun dia menjemputku aku juga tak tahu. Aku memutuskan untuk pulang dan bertemu ayahku hari ini. Setelah sekitar 5 bulan aku tak bertemu dengannya karena kemarahanku. Tapi entahlah, ada sesuatu yang aneh. Apa ini rindu? Tapi kenapa aku merindukan kak Jun?

“Halo kak Jun”
“Eh, ada apa Na?” Jawabnya di ujung telepon. Setelah menimbang-nimbang, aku memutuskan untuk meneleponnya setelah aku sampai di kosan. Jadi, sekarang kutepati janjiku pada diri sendiri
“Selasa ini ada acara nggak?”
“Nggak sih ..” Jawabnya berat.
“Aku mau ngajak kakak jalan” Oh God, kenapa aku jadi ngobrol pake aku, biasanya kan gue..
“Tumben, ada apa?”
“Nggak kenapa-kenapa. Cuma karena sekarang kakak nggak pernah ngajak jalan. Ya jadi aku yang ngajak kakak jalan”
“Oke, hari selasa jam 3 sore gimana? Aku jemput?” Wait, kak Jun juga pake ‘aku’.
“Deal!” Jawabku lalu menutup telepon

Aku dan kak Jun sudah berada di kafe dekat gereja kak Jun. Cukup terkenal juga kafe ini. Kami duduk berhadapan. Aku benar-benar tidak biasa seperti ini. Ke kafe, jajan kopi, duduk berhadapan dengan cowok.

“Jadi, ada apa nih?” tanya kak Jun memulai pembicaraan. Bukannya menjawab, aku malah menatapnya. Dan, kurasa ini yang kurindukan. Senyum aneh dan mukanya yang memerah, kini makin kulihat jelas. Tapi, itu pun tak lama. Dia segera memalingkan wajahnya, dan melihat sekitar
“Kak, boleh bacain puisi yang waktu itu? Di hut-nya anak sastra.” Dia terdiam
“Ya, kalo kakak mau sih” lanjutku.

“Biru, kau itu langit.
Mampu membuatku teduh.
Tapi ku mohon jangan mendung.
Aku tak kuasa melihat sedihmu
Biru, kau itu lautan
Membuatku suka berlama-lama didekatmu
Tapi ku mohon jangan marah
Gelombangmu akan menghapusku
Aku mencintaimu, Biru” Kulihat matanya menatap dalam kepadaku. Seolah sedang mencari celah untuk membaca hatiku.

“Biru? Apa itu aku?” tanyaku, dia mengangguk kikuk.
“Jadi itu untukku kak?”
“Ya.” Aku tersenyum lebar mendengarnya. Namun dia terlihat masih kikuk dan tertunduk. Atau bahkan lebih seperti takut
“Harusnya aku tahu dari awal kak. Harusnya aku tahu dari senyum aneh dan muka kakak yang merah setiap aku ngelihat kakak. Harusnya aku tahu dari waktu kakak manggil aku biru. Harusnya aku tahu kalo puisi itu buat aku” wajahku mulai terlihat serius

“Maaf, aku takut. Aku sudah nyaman ada di bangku depan pengagummu. Bagiku, nggak jadi masalah untuk jemput kamu setiap pagi, siang, sore, malam sekalipun. Yang penting aku terus ada buat kamu. Makanya, pas mas-mas itu nanya apa puisiku boleh dibacain. Aku nolak. Tapi aku nggak bisa lihat kamu manyun. Dan pas aku ajak pulang, kamu malah duduk lagi di bangku penonton. Aku takut setengah mati waktu itu. Takut kamu sadar dan menghindar dari aku. Tapi kamu nggak nyadar. Dan entahlah, waktu aku tahu kamu tepuk tangan. Aku harusnya bahagia kan? karena kamu ternyata gak sadar kalo puisi itu buat kamu. Tapi di situ aku malah sedih. Sedih banget. karena aku tahu, ternyata perasaanmu ke aku itu Cuma sebatas teman. Tapi sewaktu kamu telepon aku kemarin. Aku jadi ngerasa lebih baik. Setidaknya aku bisa jadi temanmu, meski perasaanku nggak berbalas”

“Kakak salah. Kenapa aku telepon kakak kalo perasaan kakak nggak berbalas?”
“Jadi, maksud kamu?”
“Harusnya emang gitu kan? Kakak orang pertama yang tau kalo namaku itu berhubungan dengan biru. Bukan angkatan laut. Dari situ harusnya aku tau kalo kakak itu ngerti aku banget”

Aku tersenyum melihat senyumnya mengembang. Dan semenjak itu, aku selalu menatapnya dalam untuk melihat senyum aneh dan mukanya yang memerah ketika memandangku. Bedanya, sekarang dia tak pernah memalingkan wajahnya untuk menutupi itu. Aku merasa sangat bahagia ada di sampingnya, dia tak pernah absen untuk memberiku puisi setiap paginya. Dan aku harap ini bukan hanya terjadi di awal saja.

Cerpen Karangan: Gloria Christi Naviri Setiyawan

Cerpen Puisi Untuk Biru merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sleeping Beauty (Part 1)

Oleh:
“Aira… wake up” seru Poppy sahabat karibku dengan suara cemprengnya dan dengan sok-sok’an berbahasa Inggris, padahal nilai rapornya kadang-kadang merah. Ia sedang berusaha membangunkanku dari tidur nyenyakku dan membuyarkan

Love The Way You Are

Oleh:
“Ninaaaa…!” Zain tergopoh-gopoh mengejar Nina yang sudah menaiki tangga di lobi sekolah. Tapi, kayaknya Nina nggak menggubris. Dia terus melangkah tanpa menoleh ke arah Zain sedikitpun. “Tega banget! Tadi

Sahabatku Cintaku

Oleh:
Pertama aku mengenal cinta hanya lewat kicauan sahabatku Monica. Seorang gadis cantik yang selalu menemani hari-hari ku di bangku sekolah SMA ini sejak SMP kita bertemu. Seorang gadis periang

Hanya Untuk Lili

Oleh:
“Halo..?” Desisku menanggapi orang yang menelphone ku tengah malam seperti ini, sekitar jam 00.30. “Halo Callista Gabriel atau Lili adek sayang, apa kabar malam ini?” sahutnya. “Oh kak Ray,

Sebastian (Sebatas Teman Tanpa Kepastian)

Oleh:
Gadis cantik itu terduduk di sebuah bangku putih menjulang panjang. Angin semilir berhembus hingga membuat helaian demi helaian rambut indahnya seolah menari terbawanya. Sekilas gadis itu tersenyum menatap layar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *