Rei Oh Rei

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 August 2017

Sejak dulu aku selalu terpaku ketika menatap Rei, sahabatku yang selalu mengenakan seragam putih lusuh yang agak jorok, rambut cokelat tua gondrong yang dihighlight kuning, lengkap dengan matanya yang selalu sedikit memicing, pertanda ia selalu waspada akan sekelilingnya. Aku sudah berteman dengan Rei sejak 4 tahun lalu, ketika kami sama-sama memasuki SMP Indah Pertiwi. Sekarang kami sedang akan melewati ujian akhir semester 2 bersama, siap untuk naik ke kelas 11 SMA.

Sekelas dengannya untuk tahun yang keempat ini mulai membuatku lebih perhatian kepadanya, terutama sejak pertengahan semester 1 kelas 10, waktu itu, kami berdua, di kelas 10 IPS-2, didudukkan semeja. Mulai saat itu aku mulai menyadari bahwa Rei benar-benar keren, meski aku sudah bertahun-tahun bertemannya, kali itu, dia benar-benar terlihat berbeda.
Aku tak tau kenapa. Waktu itu, dia terlihat jauh lebih dewasa, lebih bertanggung jawab dan perhatian, terutama kepadaku. Meskipun tampangnya bisa dibilang tidak gimana-gimana banget, aku merasa dia cukup menyenangkan untuk dipandang, terutama di dalam kelas, saat sedang serius atau bingung berpikir. Aaaa, untungnya waktu itu dia tidak menyadari bahwa aku sering curi-curi pandang melihatnya. Hahaha, ya iyalah, kan kami duduk semeja.

“Laras!”
“Eh. Eh, iya iya, kenapa?” sahutku tersadar dari lamunanku mengenai masa-masa indah itu.
Fina dan Caca langsung memperhatikan mukaku dengan tampang agak kesal, “Lu bengong mulu woi, kenapa sih sekarang bengong mulu,” kata Caca sebal. Rima yang sedang mengunyah kentang goreng ibu kantin mengangguk-angguk tanda setuju.
“Dih, engga, lagi mikir aja, ehem, soal tugas itu loh.”
“Tugas ape bu? Orang kita ga ada tugas minggu ini, minggu depan udah UAS woi.”
“Ah, eh, iya deh, maksud gue, gue lagi mikirin pelajaran UAS yang susah.”
Fina tiba-tiba tersenyum jahat, “Halah… gue tau, lu pasti sebenernya lagi bengong mikirin dia kan?”
“Dia?” ucap Caca dan Rima berbarengan. Aduh… sial, jangan-jangan Fina sudah bisa baca pikiran dan gerakanku akhir-akhir ini!
“Siapa lagi kalo bukan Rei, cowoknya sendiri.”
Lagi, Caca yang tukang gosip langsung kepo, “Hah?! Seriusan lu Fin? Emang Rei udah pernah jadian sama Laras?”
“Maunya Laras sih gitu… Hahaha, nggak lah, gak jadian kok, tapi setau gue Rei kan suka sama Vania?” Ih, si Fina ini yah, kok dia bisa tau kalau aku maunya begitu sih..

Caca dan Rima langsung diam, begitu nama Vania disebut, keduanya langsung mingkem seribu bahasa. Pasalnya, kedua cewek yang duduk di depanku ini benci banget sama yang namanya Vania, cewek yang menurutku cantik buanget-nget-nget, manis, pinter dan punya banyak bakat. Pokoknya dia itu cewek idaman cowok banget deh, kayaknya setengah cowok di kelasku, atau mungkin hampir semua, ada perasaan gitu sama dia. Yah, lagian dia cantiknya juga kebangetan sih. Rima dan Caca yang.., menurutku iri dengan Vania, tidak suka dengannya karena ketenarannya, yang bahkan sampai ke kelas-kelas lain.
Aku sih, bukannya benci atau apa ya, tapi kalau Rei suka dengan Vania, ya tentu saja aku tidak suka hal itu kan? Ah, coba nanti aku tanyakan kepada sahabatku itu saat kami belajar bareng.

“Rei.”
“Napa Lar?”
“Lu dah ngerti itu yang persamaan bagian itu?”
“Udah kok. Yang gue bingung sebenernya yang bagian ini.”
“Oh, sini coba gue itung bentar.”

Hening…
Aku ingin mencoba bertanya, tapi gimana kalau nanti dia mikir yang aneh-aneh atau curiga.
“Rei.”
“Ya?”
“Eh, gak jadi deh, bentar, gue masih ngitung ternyata.”

Hening…
Tunggu dulu deh, kayaknya malah aku deh yang mikir aneh-aneh, sebagai sahabat pasti Rei kan akan berpikir bahwa aku emang penasaran atau.. perhatian sama urusannya. Iya kan?
“Rei.”
“Iya… kenapa sih Lar?”
“Lu suka ama Vania ya,” kataku singkat, dengan suara agak pelan.
Dia terdiam. Lagi-lagi hening, memandangku dengan mata memicing, seperti biasa. “Hah? Kenapa? Kok tiba-tiba tanya begituan?”
Aduh. Tuh kan, dia kayaknya curiga deh. “Ya, soalnya kata beberapa orang lu demen ama dia, Hahaha, demen beneran ya…?” balasku sambil sok-sok menggodanya, padahal aku sebenarnya lagi deg-degan parah, menantikan jawabannya.
“Vania…”
Sekali lagi, aku berusaha pura-pura santai, “Iya, ciee, suka ya?”
“Dia cewek yang menarik sih, tapi… ya gue biasa aja kok, lagian gue sukanya sama orang lain.”
Eh?
“Oh ya? Siapa tuh…. ah, ternyata Rei bisa suka cewek juga ya.”
Dia menatapku sejenak, lalu tersenyum, “Ah, rahasia ah, nanti aja kapan-kapan gue kasih tau. Hahaha, lagian gue juga gak tau dianya suka balik sama gue atau nggak.”
Hmm.. jadi penasaran..

Selesai UAS, kami pergi studi tur ke pulau Karimun Jawa. Lumayan mewah kan? Ini semua berkat angkatanku yang rajin menabung, atau lebih tepatnya dipaksa menabung uang kas khusus sebesar 25 ribu per bulan yang katanya akan digunakan untuk tambahan biaya studi tur. Ditambah lagi dengan bazar yang kami gelar setiap hari-hari penting di luar sekolah. Pada akhirnya, melihat jumlah biaya yang dikumpulkan cukup besar, kepsek kami, Pak Dero, memutuskan untuk memberangkatkan kami ke Karimun Jawa, dengan sebuah paket tur khusus pelajar yang katanya dapat potongan biaya hampir setengahnya. Asyik kan?

“Wah, asik berenang ini mah,” sahut Patrick, salah satu temanku yang pernah menjuarai lomba renang tingkat kabupaten.
“Iya nih, mantep banget nih, eh, Rei, lu ikut kita kan nanti?”
Ditanya oleh ketua kelasku kala itu, Taslim Tedji, sahabatku mengangguk sambil terus mengunyah permen karet di mulutnya. Ah, sepertinya keputusanku untuk duduk di bangku bus ke dua paling belakang membuatku bisa mendengarkan banyak perbincangan menarik antar cowok, sesuatu yang jarang aku dengarkan di hari-hari sekolah.
Kudengar lagi suara Taslim, “Oia Rei, lu jadi mo nembak dia nanti di sana?”
Eh?
Kupaksakan kepalaku untuk tidak menengok dan pura-pura asyik membaca novel Harry Potter yang baru kubeli kemaren minggu.
“Pasti jadi lah Tas, kan Rei pemberani woi, Hahaha.”
Kali ini kudengar Joni menimpali. “Apalagi dianya juga gue denger-denger mau tuh ama si Rei.”
“Beneran Pat? Denger dari mana lu? Kasih tau gue ama Taslim dong. Eh Rei, jangan diem aja dong.”
“Yaelah Jon, gue aja masih mikirin nanti mo gimana. Hmm, bentar deh, eh Laras.”
Aku tersentak kaget, lalu menengok ke belakang, “Napa Rei?”
“Nanti bantuin gue ya.”
“Apaan?”
“Nanti gue kasi tau.”

“Lu mau gue ngapain sih Rei?”
Sahabatku itu membawaku ke sebuah tepian pantai yang agak sepi, sementara teman-teman yang lain sedang asik menikmati ombak dan menanti sunset yang akan segera tiba, aku penasaran kenapa dia malah mengajakku ke sini di waktu bebas ini.
“Gini, gue tuh mau nembak cewek yang gue suka itu loh, nih, gue udah tulis surat pernyataan cinta,” sahutnya sambil memamerkan kertas berukuran origami yang terlipat, dikeluarkan dari kantongnya, lalu dimasukkan lagi.
“Terus gue di sini?” kataku tergagap, entah kenapa dadaku terasa agak sesak.
“Kan lu cewek, temen gue juga, lu harus bantuin gue siapin tempat ini, nanti pas sunset gue udah rencanain supaya tuh cewek suka bakal udah ada di sini. Apalagi lu mau tau kan siapa cewek yang gue suka. Hahaha.”
Sambil berusaha menenangkan diri, aku bersikap sabar, sok santai, “Oke, tenang aja.”
“Yo, jadi…gimana nih?”
“Lu mau nembaknya gimana sih?”
“Nih, gue maunya nanti tuh cewek berdiri di sini, terus kita susun kelapa-kelapa yang jatoh dari pohon-pohon itu kayak pager gitu, terus ya kayaknya pasirnya bisa ditulisin sesuatu gitu deh, ah, gak tau lah, sesuka lu deh desainnya, kan cewek lebih jago soal gituan. Terus, nanti kalau dia udah berdiri di sini, gue kasih suratnya, dia baca.”
“Oh, oke, kalo gitu, yuk sini kita mulai ambilin kelapa-kelapa itu buat disusun.”

Hatiku tak tenang sementara kami berdua menyusun kelapa-kelapa yang sudah jatuh dari pohonnya membentuk lingkaran, lalu kami menancapkan beberapa batang daun kelapa yang berukuran tidak terlalu besar di sekelilingnya. Rei tak berhenti tersenyum sembari kami mendekorasi tepian pantai itu jadi sebuah tempat yang harus kuakui cukup keren dan unik, lucu untuk dilihat. Sayangnya, selama waktu-waktu itu pula aku berusaha untuk menahan air mataku, memikirkan puncak rasa sakit yang akan kualami habis ini.

“Yes, akhirnya selesai juga.”
“Lar, lu yakin udah bagus? Coba sini lu liat dari tengah-tengah,” panggil Rei, sambil memasuki lingkaran buah kelapa yang sepertinya berdiameter hampir 4 meter. Kali ini perasaanku benar-benar sudah bercampur aduk, tapi biarlah, lagipula lebih baik melihat sahabatku senang, aku tidak boleh egois.

Begitu di dalam, susunan lingkaran buah kelapa itu keren, “Keren kok Rei, eh, tuh udah sunset, jadi dateng kan dia? Pasti kan? Sayang banget nih kita udah bikin bagus gini.”
“Pasti dateng kok, udah tenang aja, dia pasti bakal ada, gue bakal kasih surat gue dan dia bakal baca pernyataan cinta gue!”
Rei tersenyum senang. Kami berdua memandangi lingkaran itu dengan takjub, aku pun memaksakan diri untuk tersenyum, berusaha bahagia melihat sahabatku itu bahagia.

“Oke, jadi gimana Lar? Dah bagus dan rapi nih?”
“Iya, udah bagus banget kok, mantep banget,” kataku pelan, agak tersendat.
Rei menghela nafas, “Kalo emang menurut lu udah bagus..”
Dia mengambil kertas lipatan yang katanya surat pernyataan cintanya itu,
“Nih Lar, buat lu,” ujarnya santai sambil menyodorkan surat itu ke arahku.
Eh?

-TAMAT-

Cerpen Karangan: Gwendy Budiana
Nama gue Gwendy, suka nulis kisah cinta yang ga pasaran. Kritik dan Saran sangat diharapkan. Thx.

Cerpen Rei Oh Rei merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jomblo Dikejar Si Mamma

Oleh:
Putri Handayani. Itu nama lengkap aku. Uti. Itu nama panggilanku. Pelajar. Itu statusku. Polos. Kata orang-orang itu jiwaku. Naruto. Itu anime kesukaanku. Tapi, “Jomblo” mungkin itu nasibku. Jomblo. Jomblo

The Enemy

Oleh:
“Oh syukurlah kau membebaskanku segera, brother. Aku tak bisa menunggu semalam lagi di sini. Tempat ini pengap, kotor dan… bau,” Anya keluar dari sel tahanan itu segera ketika seorang

Detektif Love

Oleh:
Keheningan menjadi penguasa ruangan, semuanya sibuk mengotak-atik ponsel masing-masing, maklum lah anak-anak kos. sore ini aku ada janji untuk pergi jogging bersama pacarku, jam sudah menunjukkan angka 15:00. tapi

Sepatu Kacaku

Oleh:
Nayla namaku, dulu aku sama kaya anak-anak yang berumur 3-6 tahun, yang sangat menyukai hal yang semacam dongeng yang selalu berharap jika ada pangeran yang datang untuk menjemputku dengan

Indahnya Cinta

Oleh:
Pagi yang cerah, dengan bersemangat Dera berangkat sekolah. Tak lupa dia berpamitan dengan orangtuanya. “Ma, pa.. Dera berangkat dulu ya” ucapnya sambil mencium tangan kedua orangtuanya. “Hati-hati ya” ucap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Rei Oh Rei”

  1. Fatimatuzzahra Purnama Putri says:

    Astaga…
    Cara nembak yang keren bangeet…
    Keren kak ceritanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *