Riak dalam Dada

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Perpisahan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 22 July 2017

Aku terkadang melirik engkau dari kejauhan, memastikan apa yang sedang kau lakukan, apa yang sedang kau perbuat dan apa yang sedang kau lihat. Aku merasa diluar kebiasaanku ketika radarku menangkap sinyal kehadiranmu. Badanku menegang sendiri tanpa ada yang perintah. Tanganku gemetar, bahkan seringkali mataku berkedut. Tapi siapalah engkau yang membuat perasaanku kacau macam ini.

Sejak awal aku menjejakkan kaki di sekolah ini, niatku cuma satu: sekolah yang benar, membuktikan pada bapak-ibu kalau aku juga bisa berprestasi macam kakak yang sudah sarjana kedokteran. Namun belum ada genap satu semester, laki-laki bertahi lalat di dagu dan berpenampilan menarik —kata orang-orang— ini menyergah pikiranku. Wajahnya kadang-kadang bisa muncul ketika aku sedang berusaha mengerjakan PR matematika yang sulit atau pelajaran-pelajaran lainnya yang memeras otak. Sudah sulit memikirkan pelajaran-pelajaran sekolah macam itu, berani-beraninya ia ikutan masuk dalam daftar memori otakku.

Seperti sekarang, aku memilih tiduran lepas bel istirahat berbunyi, berusaha menenangkan pikiran setelah berkutat dengan rumus fisika dan penjelasannya yang bisa bikin muntah kalau tidak benar-benar sanggup memahaminya. Teman-teman kelas terdengar gaduh hendak meninggalkan kelas, entah ke kantin, toilet atau tempat lain untuk istirahat. Teman sebangkuku, Citra, juga pamit ingin makan di kantin. Jadilah aku ditinggalnya sendirian.

Namun yang kumaksud sendirian, bukanlah benar-benar sendirian. Masih ada segelintir manusia yang memilih menetap dalam kelas sepertiku sekarang. Yang aku tak tahu, laki-laki bertahi lalat ini pun memutuskan tak pergi. Aku yang tidak dalam kondisi siaga, yang tetap sibuk dengan khayalan sendiri dalam posisi tiduran, dalam beberapa detik tiba-tiba berjingkat kaget setelah merasa bulu kuduk merinding.
Celakalah, ternyata penyebab keterkejutanku adalah laki-laki bertahi lalat ini. Ia nyatanya sedang duduk di bangku depanku dengan tatapan geli, tak tahan melihat tingkahku yang seolah baru saja diganggu setan. Aku tersenyum kikuk dan segera merapikan posisi dudukku, entahlah seperti apa wajahku sekarang, memerah karena malu.

“Kau tak apa?” tanyanya setelah menghentikan tawa. Aku mengangguk dengan wajah tertunduk. “Aku minta maaf karena tadi menyeka rambutmu. Kulihat kau asyik tiduran tapi rambutmu kelihatan mengganggu.”
“Ha?” Aku meliriknya. Apalah maksud laki-laki ini? Yang punya rambut aku, kenapa dia yang menyimpulkan rambutku mengganggu tidurku?
“Kau kelihatan lelah sekali. Kantung matamu kelihatan lebih besar dibandingkan kemarin. Kau tidur jam berapa, Humaira?” Ia bertanya sembari menunjuk kantung mataku yang refleks langsung aku sentuh. Entahlah, tadi malam aku menemani ibu belanja di swalayan hingga larut, kemudian mengerjakan PR biologi beberapa saat setibanya di rumah, lalu melayani Citra yang nge-chat malam-malam karena ingin curhat. Tapi, tunggu. Tadi laki-laki ini bilang apa? Kantung mataku lebih besar dari kemarin? Maksud perkataannya, ia bahkan memperhatikan kantung mataku?
Aku menggeleng salah tingkah. Kutatap pemuda di hadapanku ini dengan dentum jantung yang berkejaran. “A..aku tidak tahu kalau kantung mataku lebih besar dari kemarin.”
Ia tertawa kecil mendengar jawabanku. Apa? Apa? Apa aku salah menjawab?
“Aku tanya kau tidur jam berapa, Humaira.” Aku menunduk lagi, malu. “Kalau kau tak bisa menjawab, biar kuajari kau. Tadi malam aku tidak sengaja melihatmu belanja di swalayan dengan ibumu, paling tidak butuh 2-3 jam kalian berbelanja di sana, jadi kemungkinan kalian pulang agak larut walaupun aku yakin kau belum mengerjakan PR Biologimu. Lalu tadi malam aku membuka laman facebook dan melihat statusmu yang masih online hingga jam 23.45, apa mungkin itu jam terakhir kau terjaga?”
Mataku berkedut mendengar rentetan pernyataan laki-laki ini yang bisa tepat seolah sudah mengawasiku semalaman. Sekarang dadaku makin berdegup kencang. Aku mengangguk menanggapi ucapannya tadi, tapi ekspresi wajahku masih belum kembali normal, masih merona merah.

Ia tersenyum. Duh bapak, kenapa pula ia tersenyum manis sekali macam sekarang? Aku segera berhenti menatapnya, namun entah kenapa rasanya seolah dipaksa lagi ketika tangan pemuda ini tiba-tiba menyeka anak rambutku dan meletakkannya di belakang telingaku.
“Kau ini terlihat manis kalau rambutmu digerai. Makanya aku senang sekali melihatnya hari ini.”
Oh tidak, wajahku merah padam. Sungguh, kalau saja detik ini aku sedang berada di kamar sendirian, aku sudah berteriak sekencang-kencangnya tak peduli menimbulkan polusi suara atau tidak. Ia tersenyum untuk kesekian kalinya sebelum akhirnya beranjak dari bangku. “Selamat beristirahat, Humaira. Kuharap aku tidak mengganggumu tadi.” ucapnya masih menyisakan senyum.
Aku? Aku sendiri langsung menjatuhkan kepalaku ke meja setelah ia pergi. Menutupi rona merah di wajahku.

Nama pemuda itu Rafif. Teman sekelasku di sekolah. Ia amat terkenal di kalangan murid kelas satu. Pintar, tampan, ulet dan ramah. Mereka semua memujinya semacam itu. Tapi bagiku, sifat utamanya adalah: pengganggu. Merecoki kehidupanku yang harusnya lurus jadi berkelok-kelok begitu rumit.

Hari ini aku datang ke sekolah terlalu pagi. Ayah yang sehari-harinya mengantarkanku berangkat mendadak mendapat panggilan kerja ke luar kota. Mau tak mau aku jadi diantar oleh Bunda yang jam kerjanya selalu di bawah pukul 6. Aku meilirik jam tangan yang melingkar di lengan kiriku, pukul 6.02 pagi. Aku menghela nafas melihat lorong sekolah yang masih sepi.
Aku berjalan tanpa daya, menahan perutku yang belum disentuh makanan sedikitpun. Aku hanya dibekali uang 50 ribuan oleh Bunda untuk beli sarapan di kantin. Tapi apalah Bunda ini? Macam tak tahu aku tak suka makanan kantin.
Aku mengetuk pintu sesampainya di kelas. Terbiasa masuk dengan mengucapkan salam. Namun anehnya, di jam sepagi ini aku mendengar salamku dijawab. Aku melebarkan mata, menangkap sosok pemuda yang sudah lebih dulu bercokol di bangku tengah.
Pemuda ini… Rafif?!
Baru masuk, dadaku sudah bergejolak. Oh ayolah, Humaira. Kenapa kau berlebihan sekali hanya karena melihat pemuda itu?

Kulihat Rafif tersenyum agak canggung, sama terkejutnya melihatku yang datang setelah dia. “Kau… datang pagi sekali, Humaira?”
Aku berjalan melintasinya dan duduk di bangku pojok belakang. “Y..ya, tadi Bunda buru-buru kerja, jadi… aku juga buru-buru diantar ke sini dulu.”
“Oh…”
“Kau sendiri? Kenapa pagi sekali datang?”
“Aku? Aku selalu datang sepagi ini,” jawabnya kemudian menggeser bangku. Ia berdiri dan berjalan menghampiriku. Tangan kirinya menggenggam kotak makanan, sementara tangan kanannya menggeser bangku di depanku dan mendudukinya. “Sudah sarapan?” tanyanya lembut.
Aku grogi melihatnya dalam jarak sedekat ini. Aku menggeleng patah-patah. Kulihat ia meletakkan kotak makanannya di mejaku. “Mau makan bersama?”
“Eh?” Aku tersentak. Ia bahkan tanpa peduli dengan ekspresi terkejutku mulai membuka bekalnya. “Ini roti panggang selai coklat. Apa kau suka?”
Aku menelan ludah, entahlah aku tak tahu harus merespon apa. Apa sebaiknya aku menolak dan pergi ke kantin saja? Atau aku harus menyuruh Citra untuk beli makanan untukku sebelum dia berangkat ke sini? Atau…
“Kau bukannya tak suka makanan kantin, Humaira?”
Aku membelalak. Bagaimana dia bisa tahu?
“Tidak apa-apa, tak perlu memaksa sarapan di kantin jika tidak mau. Ambillah roti ini. Walaupun aku sendiri yang memanggangnya, kurasa rasanya tidak akan seburuk itu.”
Dia… bisa baca pikiranku? Ah, mana mungkin. Ada-ada saja.
“Ambillah,” Lagi, ia memaksa. Ia menyodorkan kotak makanannya ke arahku. Mau tak mau aku mengambil potongan roti darinya. “Terima… kasih,” ucapku pelan.

Ia tersenyum sembari mengunyah sisa makanan di mulutnya. “Aku senang bisa sarapan denganmu. Ini pertama kalinya aku berbagi sarapan dengan orang lain.”
Aku tergelak. Apa sih maksud perkataannya barusan? Membuat wajahku memerah saja.
“Kuharap di pertemuan kita berikutnya, aku bisa mentraktirmu makanan yang lebih mahal, Humaira. Kuharap kau menantikan saat itu.”
Lagi, lagi, terus saja ia mengucapkan hal-hal yang bisa membuat perasaanku berkecamuk. Ia sibuk mengunyah makanannya seolah kata-kata yang ia keluarkan barusan adalah kalimat super enteng untuk diucapkan. Ia melirikku yang ketahuan sibuk memperhatikannya. Dan tebak, sekarang aku jadi salah tingkah ditatapnya seperti itu. Ia hanya tersenyum, lalu melanjutkan sarapan seperti semula.

“Rafif pindah? Mana mungkin bisa?”
“Ya, kemarin adalah hari terakhir dia masuk sekolah. Namun kata wali kelas, dia sebenarnya sudah mengajukan surat pindah dari sebulan yang lalu.”
“Kenapa dia pindah sekolah?”
“Iya kenapa? Kok tiba-tiba sekali.”
“Entahlah. Yang kudengar orangtuanya mau terapi kesehatan di luar negeri.”
“Bukannya karena orangtuanya mau menjalankan bisnis baru di Thailand?”
“Entahlah.”
“Entah, aku juga tak tahu.”
Spekulasi. Spekulasi. Spekulasi.

Dari tadi pagi seisi kelas gempar karena kabar kepindahan Rafif yang tiba-tiba. Aku tak mengerti sama sekali ini kabar buruk atau kabar gembira bagiku. Aku memang dari awal tak suka dengan Rafif karena selalu mengganggu konsentrasiku. Tapi mendengar kabar kepindahannya yang bahkan tak satupun tahu latar belakangnya kenapa, separuh hatiku merasa dicampakkan.
Berulang kali aku berpikir positif mengenai hal ini. Namun yang ada aku hanya merasa sakit. Seolah ada yang hilang dari pandanganku. Dan aku tak mungkin lagi bisa mendengar suaranya. Bahkan melihat senyumnya yang sudah kadung terbiasa tertangkap mataku.

Rafif… kau benar-benar berandalan! Bahkan setelah kemarin memintaku sarapan bersamanya, ia menghilang begitu saja? Menyebalkan!
Aku menyandarkan kepalaku di meja. Perasaan kesal macam apa ini? Kenapa mataku harus repot-repot mengeluarkan air mata jika benar aku kesal padanya? Laki-laki itu… aku tak bisa memaafkannya.

Aku berjalan keluar melewati gerbang sekolah. Hari ini tepat satu minggu setelah kepergian Rafif yang tiba-tiba. Ia bagai hilang ditelan bumi. Tiada kabar satupun tentangnya, bahkan dari teman-teman sepermainannya. Ia benar-benar laki-laki misterius.
Aku melirik jam tanganku yang menunjukkan pukul 13.15. Bel pulang baru saja berdentang lima menit lalu dan kelasku sudah berhamburan saat itu juga. Aku sendiri sudah berjalan menuju halte bus sekarang. Berjalan sembari bersenandung kecil dan menendang-nendang bebatuan yang berserakan di sepanjang jalan.
Aku tak menyangka, perjalananku yang bahkan tak sampai 100 meter jauhnya dari halte bus, tiba-tiba harus terhenti ketika tangan seseorang menarik lenganku mengajakku masuk ke tepian gang. Ia berhenti mencengkeram lenganku saat merasa sudah cukup jauh dari jalanan utama. Aku tak sempat teriak, tak sempat panik, bahkan tak sempat menyadari kenapa aku ditarik-tarik seperti itu. Bahkan aku tak mengerti kenapa ternyata pemuda itu yang menarik lenganku. Pemuda itu… Rafif?!

Ia tersenyum melihat wajah bingungku. Ia menyandarkan punggungnya di tembok tepian gang. “Bagaimana kabarmu, Humaira?”
Aku masih shock, belum bisa menjawab. Ia tersenyum lagi. “Maafkan aku menarikmu paksa seperti itu. Aku hanya ingin melihatmu saat ini.”
Aku mengedip pelan. Apa… maksud perkataannya?
“Mungkinkah… seminggu ini kau bertanya-tanya tentang kepergianku?”
Aku? Apa iya aku bertanya-tanya? Sepertinya iya.
“Aku… akan pindah ke Jepang.”
Mataku membelalak. “Ha?”
“Aku minta maaf karena tak memberitahumu lebih awal. Orangtuaku sedang punya project kerja di sana. Dan mungkin… aku sekeluarga akan lama sekali di sana.”
Aku terdiam. Aku… harus merespon apa?
“Kau… tidak sedih?” tanyanya seolah menanti ekspresi apa yang akan aku keluarkan. “A..aku..”
“Aku cuma memberitahu kepergianku padamu seorang. Cuma kau.”
Dadaku berdesir. Mau apa sih dia dengan kata-katanya yang tak normal ini?

“Kau ingat janji yang kubuat satu minggu lalu? Saat kita sarapan bersama? Saat itu aku janji akan mentraktirmu makanan yang mahal suatu saat.”
Aku mengedip cepat. Apa ini? Apa ini maksudnya?!
“Aku ingin kau menungguku pulang dari Jepang. Entah itu dua tahun, lima tahun, bahkan sepuluh tahun. Aku ingin kau mengingat janji itu.” Ia tersenyum, hangat.
Aliran darahku terasa panas ketika kedua lengan Rafif tiba-tiba melingkari pinggangku. Dadaku terasa sesak ketika ia mendekap tubuhku dengan erat. Aku mendengar detak jantungnya yang berjalan berirama, berbanding terbalik dengan punyaku yang saling berkejaran. Aroma tubuhnya benar-benar harum, dan mungkin ini adalah terakhir kalinya aku mencium aroma ini.
“Humaira, aku menyukaimu. Jauh lebih dalam daripada yang kau rasakan. Jauh lebih dalam dari yang kau bayangkan.” Rafif melepas pelukannya. Ia menatapku lamat-lamat dan mulai merapikan anak rambutku. “Selamat tinggal,”
Ia berjalan mundur, memperhatikanku untuk yang terakhir kalinya. Dengan sisa senyuman yang masih lekat di bibirnya, ia berbalik pergi. Meninggalkanku yang kini terpaku diam. Masih berusaha mencerna semua yang telah terjadi. Air mataku yang entah diminta oleh siapa, mulai turun menggenangi pipi.
Sayonara. Hanya kata itu yang tersetting di otakku saat ini. Sayonara, Rafif.
Sayonara.

“Jadi kau membiarkan dia pergi begitu saja?”
Aku mengangguk sembari memainkan sedotan es tehku. Aku gatal bercerita mengenai Rafif pada Citra. Namun tanggapan yang aku dapat dari tadi cuma keluhan dan umpatan.
“Bagaimana mungkin seorang laki-laki kabur setelah menyatakan perasaannya pada perempuan? Ke luar negeri lagi! Banci banget, sih!”
Aku menghirup es teh-ku, melirik Citra yang bersungut-sungut. Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan Citra, tapi aku tidak sekolot pemikirannya.
“Hei, kau bahkan tak menjawab apapun ketika dia bilang suka padamu?”
Aku menggeleng. Rafif lah yang mendominasi pembicaraan kemarin, satu kalimat pun bahkan tak bisa kuungkapkan.
“Bodoh! Bagaimana mungkin kau diam saja dan menerimanya?!”
“Sudahlah. Lagian aku juga tidak menyangka dia akan menembakku. Aku benar-benar tidak menyangka apapun kemarin.”
“Lalu…?”
Aku mengernyitkan dahi. “Lalu… apa?”
“Lalu? Kau mau menerima permintaannya untuk menunggunya kembali?”
Itu… Aku tak tahu. Kupikir, satu-satunya lelaki yang berhasil membuat perasaanku tak karuan cuma dia. Aku tak berani memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain.
“Kau benar-benar sedang dimabuk cinta, Humaira. Kau bahkan tak menyalahkan sedikitpun kepergiannya. Ke Jepang. Itu tempat yang jauh lho. Bahkan LDR antar daerah saja bisa kandas, bagaimana kau?”
Aku tersenyum getir. Dari awal arah hubunganku dengan Rafif memang tak jelas. Aku bahkan tak yakin statusku dengannya bisa dibilang ‘ada apa-apa’. Yah, aku cuma bisa menunggu pernyataan kejelasan darinya. Dan itu… entah kapan.

“Dapat surat? Dari siapa, Bunda?”
“Bunda kurang tahu. Baca saja. Bilangnya sih dari teman sekolahmu yang hari ini pindah.”
Aku membelalak mendengar perkataan Bunda. Surat yang ada di tanganku ini, surat dari Rafif?
Aku buru-buru membuka surat beramplop biru muda ini. Dadaku sudah ketar-ketir memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang tertuang dalam surat tersebut. Aku menelan ludah sesaat setelah berhasil membukanya. Aku… membacanya dengan hikmat.

Selamat pagi, Humaira.
Maafkan aku sedikit terlambat memberimu kabar. Ini adalah surat terakhirku sebelum aku meninggalkan Indonesia. Kuharap saat kau membaca surat ini kau sedang dalam keadaan yang baik.
Maafkan aku yang pengecut karena meninggalkanmu setelah menyatakan perasaanku. Aku bahkan tak memberimu kesempatan untuk membalas pernyataanku. Jahat sekali ya? Duh, aku minta maaf.
Aku cuma grogi jika kau ternyata menolakku. Selama ini aku selalu memperhatikanmu, berusaha mendekatimu, memberikan perlakuan spesial padamu, namun terkadang kulihat kau berusaha menjauh. Apa itu namanya aku tidak terlalu berharap untuk jadi orang yang spesial di hatimu?
Uhm, Humaira. Aku ingin kau memegang janjiku. Setelah aku menjadi orang sukses di Jepang, satu-satunya orang yang ingin kutemui nantinya adalah kau. Entah itu berapa tahun lamanya. Jadi, jangan menikah sebelum aku yang melamarmu ya.. Janji?
Hehe, aku malu menuliskan kalimat itu.
Nah, kurasa sekian saja surat dariku. Kuharap kau mengerti bahwa aku benar-benar tulus menyukaimu. Aku tidak melarang kau mau punya pacar berapa selama aku pergi. Asalkan kau akhirnya jadi milikku. :))
Haha, gombal sekali ya?
Ya sudah cukup saja, Humaira. Sayonara. Aku harap tahun-tahun ke depan cepat berlalu.
– Rafif –

Aku menitikkan air mata. Ada apa dengan laki-laki ini? Kenapa dia menuliskan surat bodoh seperti ini? Terus aku harus bagaimana? Kenapa dia selalu menyita sebagian pikiranku macam ini?

Aku mendekap erat surat ini dalam pelukanku. Rafif, kau menyebalkan! Janji-janjimu itu… haruskah kupegang? Jika iya, maka jangan pernah mengingkarinya. Aku hanya akan semakin membencimu jika kau melakukannya.
Baiklah, kalau memang begitu maumu aku pun akan menunggu. Aku tidak akan lari sejengkal pun. Kuharap kau juga begitu.

FIN

Cerpen Karangan: Auliya Rahmawati
Facebook: Auliya Kim

Cerpen Riak dalam Dada merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love At First Sight

Oleh:
Aku terburu-buru berangkat ke sekolah. Baru kali ini aku bangun kesiangan, lebih sialnya lagi papa juga tidak bisa mengantarkan aku ke sekolah dikarenakan papa sudah berangkat ke kantor. Jam

Tejo dan Harapan

Oleh:
Tejo adalah anak dari keluarga yang kurang mampu, Ayah dan Ibunya Seorang Pemulung yang kesehariannya mencari barang bekas di sekeliling mereka, dan yang ada di pinggir jalan bahkan tempat

Cinta Tak Bersatu

Oleh:
Disaat kecil, aku sama seperti layaknya anak kecil lainnya. Aku seorang yang periang, seorang yang selalu tertawa, belum mempunyai beban hidup dan aku menjalani keseharianku dengan bahagia. Pada saat

Friend and Boyfriend (Part 1)

Oleh:
Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di SMA Darmawangsa. Di sinilah ia, dengan dandanan super norak, yaa seperti MOS biasanya. Rambut dikepang empat, memakai pita berwarna kuning, menggendong tas

Kena Sangka

Oleh:
Jalan raya tampak lengang hari ini, ibu sudah merapikan dagangannya untuk kembali berjualan. Aku selalu membantunya selepas kuliah karena kulihat beliau selalu cepat lelah dan berkeluh kesah. “Ibumu ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *