Romantic Knowledge (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 2 May 2016

Apa kalian pernah mendengar istilah yang mengatakan Don’t Judge a book by its Cover? Aku yakin kalian pernah mendengarnya, karena istilah itu sudah terlalu mainstream. Siapa pun pasti sudah tahu maksud dari istilah itu. Karena memang tak selamanya penampilan luar mewakili penampilan dalamnya. Kalau di dalam dunia pendidikan, banyak yang percaya kalau kecantikan atau ketampanan seseorang biasanya berbanding terbalik dengan kepintarannya. Ya, mungkin benar. Karena di lingkungan sekolah pun banyak manusia berbentuk seperti itu. Pretty, famous, fashionable, but… chicken brain. Ugly, nerd, don’t have a friend, but… genious.

So many people like that in this world. Tapi, tak semuanya seperti itu. Karena masih banyak juga manusia yang terlahir dengan keseimbangan. Seperti halnya diriku, aku tidak cantik, tapi tidak jelek juga, aku tidak fashionable tapi aku juga bukan seorang nerd, aku memang tidak terkenal di sekolah tapi aku punya banyak teman, aku tidak pintar dan juga tidak bodoh. Semua yang ada di dalam diriku itu berada di rata-rata semua. Aku akui aku memang lemah dalam mata pelajaran matematika, tapi karena otakku merespon mata pelajaran biologi dan kimia dengan baik aku bisa berada di jurusan IPA.

“Ai!!!!” teriak Zara dari depan kelas, aku pun berlari seperti sedang dikejar anjing karena hari ini seperti biasa aku telat datang ke sekolah. Entah kenapa, 10 alarm tidak mampu menembus telingaku di saat aku tertidur pulas. Mungkin ketika aku tertidur, ada peri tidur kecil yang tidur di telingaku sehingga menyumbat pendengaranku.
“Yosh! Hampir aja.” seruku saat sampai di depan kelas, dengan tubuh dibasahi oleh keringat aku pun masuk ke dalam kelas dan meletakkan beban tubuhku di atas tempat duduk. Zara yang mengikutiku masuk ke dalam kelas pun duduk di hadapanku.

“Kamu udah belajar?” tanyanya dengan wajah serius. Wajahnya terlihat seperti Hakim Agung yang sedang menyidang terdakwa pembunuhan ayam jago tetangga. Karena masih merasa lelah dan napas masih terasa berat, aku tak langsung menjawab pertanyaan Zara. “Hei, kamu itu denger gak, sih? Jawab dong!” desak Zara. Akhirnya aku menjawab pertanyaannya itu tapi hanya dengan menganggukkan kepala lalu menggelengkan kepalaku.

“Ai! Aku serius nanya sama kamu, jadi sebenernya udah atau belum?” protes Zara.
Wajahnya pun memerah saat merasa kesal, dan aku pun hanya tersenyum lebar melihat ekspresinya.
“You know who I am, right?” kataku sambil menunjukkan ekspresi santai seperti biasa.
“Kamu gak takut remedial?” tanya Zara, aku menggelengkan kepalaku.
“Aku cape Ra, tetep aja aku gak bisa bersahabat sama angka-angka gak jelas itu.” jawabku, Zara pun terdiam. Bukan hanya diriku saja yang lelah, tapi mungkin Zara juga merasa lelah karena tak pernah berhasil menasihatiku.

Namaku Ai. Ya, panggil saja begitu. Alasan kenapa aku dipanggil Ai adalah karena potongan rambutku yang mirip dengan potongan rambut Enma Ai, sang Hell Girl. Ai itu hanya panggilanku, bukan nama lengkapku. Nama lengkapku adalah.. Ah namaku tidak ada pentingnya juga di dalam cerita ini.

“Yoooo, I’m feel free!” seruku saat ulangan harian Matematika selesai dan bel istirahat pun berbunyi. Ini adalah waktunya untuk memanjakan perutku.
“Ayo, Ra!” ajakku pada Zara, tapi tiba-tiba Zara menarik tanganku.
“Eh tunggu dulu!” katanya.
“Apaan sih? Aku udah laper, Ra.” keluhku sambil mengelus-elus perut, berusaha meminta kebaikan hati dari Zara agar dia mau menemaniku makan siang di kantin.
“Ah payah, aku tuh pengen ngajak kamu nonton futsal, jam istirahat sekarang itu anak-anak futsal lagi latihan di lapangan.” kata Zara, aku pun mengerutkan alisku saat mendengar pernyataannya itu.

“Jadi aku harus bolos makan demi nemenin kamu nonton futsal, gitu?” tanyaku dengan nada kesal. Lagi-lagi, Zara selalu kalah dengan sifat keras kepalaku ini.
“Ya udah, kita beli makanan. Tapi, dibungkus ya. Nanti kamu makannya sambil nonton futsal, gimana?” Ternyata Zara mencoba bernegosiasi padaku. Oke, aku mungkin memang orang yang keras kepala. Tapi aku bukan orang jahat. Jauh di lubuk hatiku masih ada rasa pengertian yang bersemayam di sana. Jadi aku pun menuruti keinginan teman dekatku ini.

Suasana istirahat kali ini terasa sangat berbeda dari sebelumnya. Karena seluruh siswa berkerumun mengelilingi lapangan futsal. Entah apa menariknya permainan futsal ini, tapi yang jelas telingaku sedang berada di puncak kemarahannya. Di sini berisik sekali, para gadis berteriak di mana-mana. Mereka meneriaki para pemain futsal yang menurut mereka tampan. Terutama pada salah satu anggota tim futsal yang katanya adalah seorang yang paling tampan di antara anggota tim lainnya. Orang itu memang banyak menarik perhatian para gadis di sini, terlebih lagi gayanya yang sedari tadi tak jelas. Dia selalu saja memberi flying kiss saat namanya dipanggil.

“Ckck, playboy in action.” komentarku saat melihat anak laki-laki itu melakukan flying kiss lagi.
“Siapa?” tanya Zara.
“Orang itu.” jawabku seraya menunjuk ke arah anak laki-laki itu.
“Oh Jeri! Dia ganteng ya, manis banget. Badannya tinggi, kulitnya putih, senyumnya manis, bibirnya merah. Ah, the best banget!” Zara sedang kehilangan kendali. Oke, mungkin secara visual dia memang banyak kelebihannya, tapi.. oh my god how playboy and alay he is.

“Ck, gak nyangka. Ternyata musuhnya Tom bisa main futsal, narik perhatian cewek-cewek pula.” lanjutku.
“Hah? Tom? Tom yang mana? Kamu kenal dia? Sampe kenal musuhnya segala.” Entah temanku ini bisa disebut polos atau bodoh ya. Menurutku, yang tak mengerti maksud perkataanku tadi itu keterlaluan bodohnya.
“Ah udah ah aku bosen!” keluhku sambil beranjak pergi. Tapi ternyata usahaku untuk pergi dari tempat itu gagal. Aku memang berhasil meninggalkan tempat itu, namun itu karena aku dibawa ke ruang UKS.

“Hah? Aku pingsan, Ra? Bohong! Gak ada sejarahnya seorang Ai pingsan, sakit aja jarang.” teriakku saat menyadari diriku sedang terbaring di atas kasur di ruang UKS.
“Serius. kalau gak serius kenapa ada perban di hidungmu? Bola yang mendarat tepat di mukamu itu emang lumayan kencang, jadi wajarlah kalau kamu sampe pingsan gini.” lanjut Zara. Aku terdiam, masih tidak rela menerima kenyataan kalau kekuatan tubuhku baru saja dikalahkan oleh sebuah bola.
“Sial, siapa sih yang nendang bolanya? Aku kasih dia pelajaran nanti.” aku menggerutu seperti nenek-nenek.

“Jeri yang nendang.” jawab Zara.
“Hah? Musuh Tom itu? Ck, nanti aku kasih pelajaran ke dia kalau ketemu.”
“Tadi dia bilang minta maaf, dia juga minta kontak kamu tuh, katanya mau minta maaf langsung ke kamu. Tadi dia ada kelas jadi gak bisa nunggu kamu siuman.” jelas Zara, aku pun mengurungkan niatku untuk memarahi si Jeri itu.

“Ya udah gak usah dikasih kontaknya!” protesku.
“Lah kenapa? Dia kan mau minta maaf sama kamu.”
“Duh, aku gak mau jadi salah satu cewek-cewek yang dia modusin, ya. Lihat dia tadi aja udah geli banget. Duh jangan deh, males. Nyeremin.” protesku lagi, Zara pun hanya mengangguk mengerti.
“Oh, lagian juga gak aku kasih sih. Karena aku udah minta dia buat minta langsung ke kamu.” Zara tersenyum lebar saat memberikan pernyataan itu.
“WHAAAAAAAAAT?”

Pagi ini, seperti biasa. Aku telat datang ke sekolah. Yah mungkin kata terlambat sudah jadi sarapan sehari-hari untukku. Dan aku tak pernah merasa malu karena kebiasaanku ini. Karena menurutku orang-orang tak akan merasakan pengalaman penting yang dialami olehku. Tak semua orang akan merasakan bagaimana perjuanganku untuk masuk ke dalam gedung sekolah, merasakan bagaimana sulitnya melewati pintu gerbang yang sebentar lagi ingin ditutup. Tak semua orang akan merasakan bagaimana jatuh bangunnya diriku saat hampir menabrak Satpam yang menjaga pintu gerbang sekolah.

“Paaaaaak!! Jangan ditutup!!” teriakku sambil terus berlari sekuat tenaga menggapai pintu gerbang sekolah.
“Udah telat neng, gak boleh masuk.” Begitu pernyataan yang aku dapatkan ketika tubuhku hampir menabrak pintu gerbang yang sudah ditutup, beruntung tubuhku ini memiliki rem jadi aku tidak membuat diriku malu karena pagi-pagi sudah mencium gerbang.
“Yah Pak, masa saya terlambat sendirian sih. Tolong Pak, izinin saya masuk, daripada Bapak cuma ngasih hukuman ke satu orang, buang-buang waktu Bapak, kan.” bujukku sambil memasang ekspresi memelas seperti ekspresi anak kucing kampung yang sedang meminta makanan.
“Gak sendirian, tuh ada temennya.” Pak satpam menunjuk ke arah anak laki-laki yang baru saja berhenti di hadapanku.
“Pak.. maaf.. saya terlambat.” gumamnya sambil mencoba mengatur napasnya yang tak teratur akibat terlalu lelah berlari.

“Gak ada kata maaf, kalian berdua dihukum.” jelas si pak satpam itu. Anak laki-laki yang tak lain adalah si playboy tengil itu menoleh ke arahku.
“Kamu. Namamu siapa, sih? Aku lupa.” tanyanya tiba-tiba.
“Ai.” jawabku singkat.
“Oh. Maaf ya soal kemaren.” Aku pun hanya menganggukkan kepala untuk meresponnya.
“Siapa suruh ngobrol? Ayo ikut saya, kalian akan saya jemur di lapangan!” Protes si pak satpam, aku dan si playboy tengil pun mau tak mau harus mengikuti perintah dari pak satpam yang kumisnya tak terkalahkan itu.

Dengan kaki berlutut dan kedua tangan diangkat aku menerima panasnya terik matahari yang mulai membakar pori-pori tubuhku. Keringat pun membasahi seluruh tubuhku. Rasanya seperti terpanggang, panas sekali. Dan mirisnya tak ada satu pun orang yang berbaik hati ingin menolongku, ya setidaknya ada yang menawariku sebotol air mineral dingin yang rasanya pasti segar sekali saat aku meminumnya. Orang-orang di sekitar yang sedari tadi mondar-mandir di hadapanku hanya memperhatikan si playboy tengil di sebelahku yang tak berhenti tersenyum pada tiap gadis yang menyapanya dan menawarkan minuman dingin padanya.

“Jeri, kamu kok bisa telat bareng dia, sih? Emangnya dia siapa? Dia yang kemaren pingsan itu, ya?” tanya salah satu gadis berpenampilan nyentrik yang baru saja menghampiri si playboy tengil. “Namanya Ai.” jawab si playboy tengil sambil tersenyum nakal. Ya Tuhan, aku tak pernah memintanya memperkenalkan diriku pada gadis ini. Aku merasa lelah dan tanganku mati rasa, karena merasa sangat pegal tangan kiriku pun mulai kehilangan keseimbangannya. Tapi tiba-tiba, entah dia meniru adegan-adegan drama Korea atau semacamnya, si playboy tengil ini memegang tangan kiriku sehingga terus terangkat seperti semula. Oke, ini menjijikkan dan aneh. Dan yang pasti, ini membuatku risih. Karena seluruh penjuru sekolah heboh melihat apa yang dilakukan si playboy tengil itu padaku.

“Cie Jeri, siapa tuh?” tanya salah satu senior cowok yang baru saja berjalan melewati kita.
“Calonku Kak, cocok kan kita? Namanya Ai.” jawab si playboy tengil dengan lantang. Oke, dia sudah melewati batas. Karena kesal aku pun melepaskan genggaman tangannya.

“Kamu pacarnya Jeri, ya?”
“Kamu yang lagi deket sama Jeri, ya?”
“Cieee Jeri.” Semua itu adalah kata-kata yang setiap hari aku dengar dari orang-orang yang bertemu denganku di sekolah setelah seorang laki-laki aneh, tak jelas, pecicilan, tukang modus dan playboy tiba-tiba ikut campur dalam kehidupanku.

“Arrrrrggghhh……”
“Ai, kenapa sih sok stres mulu?” tanya Zara yang bingung melihat tingkah lakuku.
“Gimana gak stres, heung.. cowok satu itu bener-bener keterlaluan. Bikin hari-hariku di sekolah jadi runyem.” keluhku.
“Lah bukannya asyik ya, punya gebetan. Terus orang-orang juga kayaknya kelihatan seneng banget ngeledekkin kalian berdua.”

“Ada yang seneng, ada juga yang enggak, Ra. Lihat dong cewek-cewek nyentrik yang suka deketin si playboy tengil itu! Mereka cantik, famous. Lah, aku? Siapa pun juga berpikir mustahil banget cowok kayak si playboy tengil itu tiba-tiba deketin cewek kayak aku. Hanya ada dua kemungkinan, yaitu kalau gak mainin pasti karena dia taruhan sama temen-temennya.” protesku panjang lebar, Zara pun memanas. Pipinya kembali merah, sepertinya dia ingin melawan tanggapanku tentang si playboy tengil itu.

“Kok kamu beranggapan gitu? Setahu aku, gak pernah aku denger si Jeri itu mainin cewek. Yang ada, dia yang suka dimainin cewek. Dia bersikap begitu karena dia emang orangnya begitu.” Ya, Zara membelanya. Dia tidak membelaku yang jelas-jelas adalah teman baiknya sendiri. Astaga, berat sekali nasib hidupku ini.
“Lah itu kan karena kamu gak tahu yang sebenarnya, kamu gak kenal dia. Kamu gak tahu kalau yang kamu denger itu bener atau enggak.” Aku mencoba membela diriku sendiri.
“Lah, emang kamu sendiri udah kenal dia? Kenapa bisa seenaknya beranggapan jelek begitu.” JLEB! Oke. Oke.. kali ini aku kalah. Zara benar-benar sudah mengalahkan sifat keras kepalaku ini.

Bersambung

Cerpen Karangan: Risa Idzni Majid
Facebook: Risa Shi

Cerpen Romantic Knowledge (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tantangan Gila

Oleh:
“Andi, Dian, Rio…” panggil Leo. “Ada apa Leo. Kok kayaknya lo serius banget. Ada hal penting yang mau lo omongin sama kita?” Tanya Dian. “Yupz, bener. Gue punya sesuatu

Just Give Me A Reason

Oleh:
Teringat masa SMP. Masa dimana aku tak pernah punya sahabat. Teman memang banyak, namun tak ada satupun dari mereka yang bisa disebut sahabat. Aku kadang penasaran bagaimana rasanya mempunyai

Ini Bukan Ragaku

Oleh:
Seperti biasanya aku hidup dengan “Membosankan”. Kadang aku sering berimajinasi menjadi pria tampan, kaya, dan disukai banyak wanita. Tapi semua itu terhenti ketika temanku memanggil.. “Hai daffa melamun terus..”

Hubungan Apa ini?

Oleh:
Namaku reno, aku seorang murid baru di kelas XII di MAN KLUET. Aku selalu ingin sekali mengganggu wanita yang bernama difa. Dia orang yang paling cerewet yang baru pertama

Bukannya Pelit

Oleh:
Pernah dengar pepatah yang mengatakan bahwa “dalamnya lautan bisa diukur tapi dalamnya hati siapa yang tau?” Nah itu yang sekarang aku rasakan, aku sekolah di salah satu SMK favorit

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *