Romantic Knowledge (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 2 May 2016

Istirahat kali ini aku makan sendirian, tanpa bayang-bayang Zara. Sebenarnya Zara tidak bersamaku karena dia sedang rapat dengan anggota OSIS. Dan di sinilah diriku, sendirian, di tengah keramaian. Dan hanya ditemani oleh secangkir es teh manis dan sepiring siomay yang siomaynya sudah habis karena telah meluncur ke lambungku. Lalu di saat aku sedang menikmati kesendirianku, tiba-tiba seorang gadis yang tak lain adalah seniorku datang menghampiriku. Aku tak mengenalnya, tapi aku tahu kalau dia adalah seniorku.

“Hai, boleh duduk di sini, gak?” tanyanya, aku pun tersenyum padanya dan menganggukkan kepalaku. Kemudian dia pun duduk di hadapanku sambil memakan makan siangnya.
“Kamu ceweknya Jeri, ya?” tanyanya, aku pun menggelengkan kepalaku.
“Itu maksudnya bukan atau belum?”
“Ck, apa sih Kak…. kayak dianya serius aja. Aku gak suka diginiin, akunya juga gak pernah berharap sama dia, kenal juga enggak.” jawabku dengan santai.
“Kamu kenapa beranggapan begitu?”
“Lah menurut Kakak, emang dia serius?” tanyaku, mencoba mencari tahu jawaban dari senior satu ini.
“Jangan tanya aku dong, harusnya kamu bisa merasakan itu sendiri. Kalau emang ngerasa belum kenal, ya kamu coba kenali dia dong.”

Entah hanya firasatku atau orang-orang di sini tak ada yang peduli padaku sama sekali, ya? Semua meragukan tanggapanku tentang si playboy tengil itu. Aku hanya bisa terdiam, tak mau beradu tanggapan lagi dengan orang lain. Aku bingung. Apa yang harus aku lakukan? Sejak awal tak pernah terpikir sedikit pun olehku untuk mencari tahu tentang dirinya. Untuk masuk ke dalam kehidupannya. Untuk mengenalnya. Apa sebenarnya yang dia inginkan dariku?

Hari demi hari, dia pun memasukki kehidupanku semakin dalam. Dan aku pun memutuskan untuk mengikuti alur yang dia tuju, untuk mengetahui apa yang sebenarnya dia cari dari diriku? Dari kehidupanku? Kenapa dia tiba-tiba datang setelah sebelumnya kita tak pernah saling mengenal sama sekali. Kini setiap pulang sekolah aku selalu bertemu dengannya, karena dia selalu mencariku, dan mengatakan ingin berbicara denganku. Hal tersebut pun terus terulang di hari-hari berikutnya. Hari-hariku di sekolah semakin aneh, yang sebelumnya biasa-biasa saja, kini semua orang selalu menyapaku saat aku datang ke sekolah. Padahal aku tak mengenal mereka, tapi mereka mengenalku, sebagai gadis yang sedang dekat dengan Jeri, sebagai gadis yang ada di kehidupan Jeri. Jeri pun kini selalu ada dan mondar-mandir di hadapanku. Seperti pagi ini misalnya, aku baru saja sampai di sekolah, tapi tiba-tiba Jeri datang menghampiriku.

“Kamu ikut aku, ya! ” katanya tiba-tiba, ekspresinya terlihat sangat serius sehingga membuatku kebingungan tak tahu bagaimana harus meresponnya.
“Ikut ke mana?” tanyaku.
“Nonton pertandingan futsal.” jawabnya lantang.
“Lah, masa aku bolos sekolah?” Aku kebingungan. Masa iya aku harus membolos hanya untuk menonton futsal? Sampai ke kelas saja belum, masa sudah pergi meninggalkan sekolah lagi?
“Udah aku izinin tadi, aku udah ke kelas kamu ketemu sama Guru-nya. Udah aku kasih surat Dispensasi juga, soalnya kamu perwakilan kelas yang nonton pertandingan futsal. Bener, gak bohong. Kalau gak percaya coba tanya Zara. Ya udah ayo ikut aku!”

Wajahnya terlihat semakin serius saat menjelaskan padaku. Jadi mau tak mau aku pun menerima ajakannya itu, entah kenapa aku percaya wajah seriusnya. Aku percaya dia tidak berbohong padaku. Aku dan Jeri pun masuk ke dalam mobil mini bus yang dikendarai oleh Pak Ari, guru olah raga sekaligus pembina ekskul futsal di sekolah kami. Ternyata di dalam mini bus itu, tidak hanya aku yang bukan anggota tim futsal yang ikut berangkat menonton pertandingan. Tapi ada beberapa siswa lain yang sepertinya mewakili kelas mereka untuk berpartisipasi untuk men-support tim futsal sekolah.

Sesampai di tempat diadakannya pertandingan, aku duduk di kursi penonton bersama siswa dan guru-guru lainnya. Sebelum berkumpul dengan anggota tim lainnya, Jeri menghampiriku. “Kasih aku semangat, ya.” katanya singkat lalu pergi berkumpul bersama anggota tim lainnya di dekat lapangan. Aku pun mendapat ledekkan dari para siswa lain yang bersamaku. Aku bingung dan tak tahu bagaimana harus meresponnya, jadi aku hanya bisa tersenyum saja.

Pertandingan pun dimulai. Tiap tim menunjukkan performa terbaiknya saat bertanding. Perlombaan antar SMA memang tidak semudah pertandingan futsal antar RT yang selalu diadakan di rumahku saat acara peringatan kemerdekaan. Waktu menunjukkan 10 menit sebelum giliran tim sekolah kami yang unjuk gigi. Saat melihat para anggota tim sekolah kami memasukki lapangan, perasaan aneh pun tiba-tiba muncul di dalam diriku. Entah apa ini, tapi aku merasa tegang. Jujur, ini pertama kalinya aku menonton pertandingan futsal karena diminta oleh seorang anak laki-laki yang bukan pacarku, atau temanku. Karena, sebelumnya belum ada orang yang terang-terangan mengatakan dia menyukaiku seperti yang dilakukan Jeri.

“GOAL!!!” Semua orang tiba-tiba berteriak ketika aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Ternyata Jeri mencetak gol. Dia terlihat sangat senang karena dia berlari mengelilingi lapangan untuk mengekspresikan kegembiraannya itu. Kemudian dia berdiri di tengah lapangan dan melambaikan tangannya padaku. “Ai!” teriaknya. Semua orang otomatis mengarahkan pandangannya padaku. Bagi yang tidak kenal dengan Jeri dan aku, mereka pasti bertanya-tanya siapa aku. Bagi yang sudah mengenal kami, mereka pasti tahu, kenapa Jeri melakukan hal seperti itu. Aku yang merasa malu dan kebingungan pun hanya bisa tersenyum dan melambaikan tanganku juga pada Jeri. Dia benar-benar orang yang penuh kejutan. Dan menurutku, ada perubahan juga dari dirinya. Yaitu, sekarang aku tak pernah lagi melihatnya mencari perhatian kepada para gadis seperti dulu. Entah kenapa, tapi.. mungkin aku juga mulai menyukai perubahan sikapnya itu.

Hubunganku dengan Jeri semakin meningkat. Yah, yang tadinya hanya sebatas anak laki-laki yang mengaku kalau dia mengagumi gadis cuek dan aneh sepertiku, sekarang semua berubah menjadi hubungan saling suka. Entah kenapa, kini aku mulai membuka hatiku untuknya. Aku semakin mengenalinya, aku semakin tahu kenapa dia suka sekali bersikap aneh. Bersikap seolah dia adalah laki-laki yang kerjanya hanya mencari perhatian para gadis dengan tingkah sok gantengnya itu. Tapi sebenarnya, dia bukan tipe seperti itu. Ya, sekali lagi, aku harus mengingat pepatah yang satu ini. Don’t judge a book by its cover.

“Muka kamu gak cocok jadi orang pinter.” komentarku saat tak sengaja melihat lembar ulangan harian Matematika milik Jeri. “Oh ini, ah aku emang pinter dari lahir.” katanya sambil memasukkan lembar ulangan itu ke dalam tasnya.
“Sombong.” omelku. Tak ku sangka ternyata Jeri adalah siswa yang lumayan pintar dan aktif, walau tidak termasuk jenius, tapi dia adalah orang yang anti remedial.
“Hahaha, emang nilai Matematika kamu sendiri berapa?” tanyanya, seperti sedang meledek. Tubuhku tiba-tiba saja terasa tegang, aku malu untuk menjawab pertanyaan yang sensitif seperti ini.

“Jelek.” jawabku singkat, karena tak mungkin aku menyebutkan nilai matematikaku yang tak pernah bisa melebihi angka 7,5. “Jelek itu berapa?” tanyanya lagi, telingaku semakin risih mendengar pertanyaan itu.
“Ya pokoknya jelek. Udah ah jangan dibahas, kita bahas yang lain aja. Atau kita makan aja di kantin, yuk! Sebelum kantinnya tutup,” kataku sambil beranjak pergi dari kursi taman sekolah.
“Eh tunggu, kita makan di luar aja gimana?” ajaknya tiba-tiba, akhirnya kita berdua pun pergi jalan-jalan berdua.

“Hah…. cape.” keluhku sambil duduk di kursi taman yang terletak di sebelah cafe tempat Jeri mengajakku makan tadi. “Udah seneng perutnya?” tanyanya sambil duduk di sampingku. Aku pun mengangguk sambil tersenyum.
“Udah jam 7, kamu mau pulang?”
“Nanti.” jawabku dengan lantang. “..di sini pemandangannya bagus. Banyak bintangnya.”
Aku menatap ke arah langit, memang banyak bintang malam ini. Dan aku tak mau melewatkan malam penuh bintang ini. Walau sebenarnya aku punya alasan lain kenapa aku tak mau cepat pulang, karena hatiku baru saja mengatakan kalau aku tak boleh cepat pulang.

“Kamu suka sama bintang?” tanya Jeri, aku pun kembali menganggukkan kepalaku sambil tersenyum.
“Bintang itu hebat, karena bintang langit malam gak gelap lagi. Dan karena bintang juga, bulan jadi gak sendirian.” kataku, mencoba memuji hal yang aku sukai.
“Tapi bintang itu gak setia, karena mereka gak selalu ada di malam hari.” kata Jeri.
“Itu menurut kamu. Bintang gak ada karena faktor cuaca aja.” Lagi-lagi, aku mencoba membela hal yang aku suka.
“Itu juga kan menurut kamu.” Jeri benar-benar menyebalkan.
“Nyebelin.” protesku yang kemudian membuat kita berdua tak saling bicara, tapi aku tetap setia menatap ke arah bintang-bintang di langit. Biarkan saja, suatu saat nanti mungkin mereka akan menghukum perkataan Jeri tadi.

“Udah jangan marah, aku kan bercanda. Lagi pula aku gak peduli seberapa indah bintang yang lagi kamu lihat itu. Karena di bumi ini, masih ada yang lebih indah dari bintang. Dan hal yang indah itu, ada di hadapanku. Dan saat ini juga, kayaknya aku pengen banget ngomong. Ai, kamu mau gak jadi pacar aku?” kata Jeri panjang lebar. Tubuhku gemetar, detak jantungku menjadi tak beraturan. Akhirnya kata-kata itu terucap juga dari mulut Jeri. Aku masih terdiam, masih bingung apa yang harus aku lakukan. Tapi akhirnya aku memberanikan diri untuk menatap Jeri yang ternyata sudah menatapku sejak tadi.

“Kenapa aku?” Hanya pertanyaan itu yang dapat aku ucapkan dari mulutku.
“Kenapa aku? Apa sih yang bikin kamu tertarik sama aku? Apa sih menariknya aku? Aku gak cantik, aku gak pinter, aku gak hebat, aku biasa aja. Semua yang ada di dalam diriku itu serba biasa aja. Gak ada yang hebat,” lanjutku. Sebenarnya pertanyaan itu sudah lama ingin aku tanyakan padanya.
“Kamu hebat. Menurutku kamu itu beda, gak sama kayak cewe lain. Kamu satu-satunya cewek yang gak pernah cari perhatian sama aku, kamu satu-satunya cewek yang gak mempan kalau aku modusin. Kamu sederhana. Kamu gak cantik, tapi kamu manis. Itu hebat. Terlebih lagi kamu bisa ngambil hati aku, itu hebat banget.” jawabnya.

Benar-benar luar biasa, baru kali ini ada orang yang mengagumi kesederhanaanku. Baru kali ini, ada yang menyatakan perasaannya padaku tanpa mengatakan kata cantik. “Aku suka kamu, bukan karena fisik kamu. Aku nerima kamu apa adanya, masalah pinter itu belakangan. Aku siap bantu kamu dalam pelajaran yang sulit kalau kamu mau. Yang jelas, aku mau nanya sekali lagi sama kamu. Ai, kamu mau gak jadi pacarku?” Jeri menanyakan pertanyaan itu untuk kedua kalinya. Karena aku merasa lidahku terlalu kaku untuk menjawab pertanyaannya itu, aku pun hanya menganggukkan kepalaku.

“Apa? Kok jawabnya cuma gitu? Harus yakin dong jawabnya..” protes Jeri.
Dengan perasaan malu yang dicampur aduk oleh perasaan senang pun akhirnya aku mencoba melatih lidahku untuk menjawab pertanyaannya.
“I..iya.” Iya. Jawaban itu, yang aku berikan pada Jeri. Jawaban singkat, yang merubah hidupku. Yang dulunya biasa, kini menjadi lebih berwarna. Hari-hariku di sekolah semakin menyenangkan, karena kini aku punya Jeri. Nilai matematikaku pun mulai meningkat, karena Jeri dengan baik hati selalu mengajariku. Hari-hariku di sekolah pun kini dipenuhi oleh cerita-cerita manis, pahit, senang, dan sedih. Semua karena Jeri.

“Ai.. nilai kamu.” Gumam Zara.
“Udah diem. Kamu keep ya, jangan sampe Jeri tahu. Aku malu.” kataku sambil memegang erat hasil ulangan harian matematikaku. Untuk ulangan kali ini, aku memang tidak sempat belajar. Karena semalam aku sibuk membuat hadiah untuk kado ulang tahun Jeri hari ini. Dan setelah selesai menyelesaikannya, aku malah tertidur karena mataku terlalu lelah. “Aku semalem ketiduran, jadi gak sempet belajar. Udah ah ya gak usah dibahas, mending sekarang kamu temenin aku makan di kantin. Aku laper.” ajakku pada Zara.

Dia yang tak dapat kesempatan untuk bicara pun akhirnya hanya bisa mengikuti ajakanku saja. Tapi ketika aku ingin membuang hasil ulanganku itu, aku bertemu Jeri yang kebetulan sedang berjalan melewati kelasku. “Hei!” panggilnya. Aku kaget, tanpa sengaja aku menjatuhkan lembaran kertas ulanganku yang sudah aku lipat-lipat tak karuan.
“Ini apa?” tanya Jeri sambil membuka lembaran kertas itu. Aku sudah tahu Jeri pasti kaget dan kecewa padaku, aku ini memang benar-benar menyedihkan.
“Kamu.. kok bisa dapet nilai jelek?” tanyanya dengan ekspresi khawatir, aku pun hanya menjawabnya dengan mengangkat kedua bahuku.

Karena khawatir dengan nilaiku, akhirnya Jeri memutuskan untuk datang ke rumahku. Dan sekarang, kita berdua sedang berada di kamarku. Jeri sibuk mengoreksi hasil ulanganku yang salah.

“Ini kan udah pernah aku ajarin, dan di ulangan sebelumnya kamu bisa ngerjain ini. Kenapa sekarang gak bisa?” tanya Jeri. Aku tidak menjawabnya. “Ya ampun, ini semua tuh udah aku ajarin semua sama kamu. Kamu harus lebih teliti lagi kalau ngerjain soal.” gumam Jeri. Entah kenapa aku merasa sangat kesal dengan ocehan Jeri.
“Gak mau.” kataku.
“Gak mau gimana? Kamu harus lebih rajin lagi, emang kamu gak mau dapet nilai bagus terus?” tanyanya.
“Gak!” jawabku lagi, tanpa menatap Jeri sama sekali. Aku benar-benar tidak tertarik untuk belajar, aku tak dapat membendung amarahku lagi.

“Kok ada sih orang keras kepala kayak kamu?” Aku kaget mendengar perkataan Jeri, sepertinya dia juga merasa kesal dengan sifat keras kepalaku ini.
“Kenapa? Gak suka? Lagian siapa yang nyuruh kamu pacaran sama orang kayak aku? Padahal di luar sana banyak cewek yang lebih rajin dan pinter dibanding aku, kan?” bentakku pada Jeri. Aku benar-benar marah kali ini.
“Kok kamu ngomongnya gitu sih?”
“Kenapa sih kamu gak bisa kayak cowok normal lainnya? Yang suka ajak aku nonton, jalan, makan, bukannya belajar mulu. Gak semua orang kayak kamu, sukanya belajar. Aku gak suka belajar! Aku benci matematika!” Aku membanting buku matematika yang sedang aku pegang ke lantai. Wajah Jeri yang putih dan bening pun berubah menjadi merah, pertanda emosinya ikut naik karena melihat perlakuanku yang seperti anak kecil.

“Aku emang gak bisa apa-apa! Aku itu ceroboh, aku bodoh! Aku bahkan gak bisa menyeimbangkan masalah pacaran sama pendidikan. Buktinya, aku lupa belajar, cuma gara-gara ngerjain semua ini buat kamu!” lanjutku sambil mengeluarkan CD yang berisi video Stop Motion dan Scrapbook dari dalam laci, lalu kedua benda itu pun ikut aku banting ke lantai. Beruntung CD-nya tidak rusak. Tapi aku tak peduli, amarahku tak kunjung reda juga. Akhirnya aku memutuskan untuk berbaring di atas tempat tidurku, membalikkan badanku dari Jeri dan menutup wajahku dengan bantal.

“Aku benci kamu!” gumamku, dan Jeri tidak menjawabnya. Keadaan di kamarku ini pun mendadak sunyi, tak ada satu pun dari kita yang berbicara. Tapi tiba-tiba aku merasakan ada berat tubuh seseorang di tempat tidurku. Jeri duduk di tepi tempat tidurku, tepat di belakangku. Detak jantungku berdetak dengan kencang. Apa yang akan dia lakukan? “Maaf.” gumamnya sambil mengelus rambutku dengan lembut.

“..aku ngelakuin semua ini, bukan karena aku menekan kamu. Bukan karena aku menuntut kamu juga, dan bukan karena meledek kelemahan kamu. Tapi karena aku pengen ngelihat kamu sukses, ngelihat kita sukses bareng-bareng. Biar nanti kita bisa lulus SMA bareng, dan masuk perguruan tinggi bareng.” Jeri terus mengelus rambutku dengan lembut, membuatku sedikit merinding, dan mataku mulai memanas. “Aku gini karena aku sayang kamu, aku gak peduli ada berapa banyak cewek lain di luar sana yang menurut kamu lebih sempurna dari kamu. Manusia itu gak ada yang sempurna, tapi kamu.. udah cukup buat aku. Cukup kamu aja, aku gak mau yang lain. Makannya aku mau kita kuliah bareng, karena aku gak mau jauh dari kamu.” lanjutnya.

“Makasih hadiahnya, aku bahkan lupa kalau hari ini hari ulang tahunku sendiri. Karena aku terus mikirin kamu, aku terlalu fokus sama kamu. Maaf, kalau menurut kamu aku terlalu menekan dan memaksa kamu. Tapi yang aku tahu, semua itu aku lakuin karena aku sayang kamu.” tangannya berhenti mengelus rambutku, tapi aku dapat merasakan tubuhnya mendekati tubuhku. Dan aku dapat merasakkan napasnya di kepalaku. Dengan penuh kasih sayang Jeri mengecup kepalaku. Kali ini aku tak bisa menahan air mataku yang tiba-tiba mengalir. Lalu ku rasakan tubuh Jeri menjauh dari tubuhku, dan dia tidak lagi duduk di tepi kasurku. Dia beranjak pergi, dia ingin ke mana?

“Tunggu..” kataku sambil terbangun dari posisi tidurku dan beranjak untuk menahan Jeri. Kemudian dengan cepat aku memeluk tubuh Jeri dari belakang, dan dia pun menghentikan langkahnya. Aku menangis, air mataku membasahi punggungnya. “Maaf.” gumamku sambil berusaha mengatur napas. “..maaf karena aku keras kepala, aku egois, aku gak peka, aku gak ngerti perasaan kamu, gak menghargai usaha kamu. Aku janji, aku akan berusaha, karena kamu udah banyak berusaha buat aku.” lanjutku. “Aku juga mau, sukses bareng kamu. Kuliah bareng kamu. Jadi, ayo kita jalan sama-sama, menuju kesuksesan itu. Sekali lagi maafin aku.”

Aku pun menghentikan ocehanku, karena tak ada lagi yang ingin aku sampaikan, semuanya sudah tersampaikan begitu saja, seperti muntahan kata. Lalu dengan lembut Jeri melepaskan pelukanku dari tubuhnya, dan dia pun membalikkan tubuhnya. Setelah tersenyum manis dan memamerkan lesung pipinya, dia pun memeluk tubuhku, dengan sangat erat. Jeri, orang tak terduga yang tiba-tiba hadir di kehidupanku. Jeri, orang yang tadinya ku kira sebagai orang yang tak baik, tapi ternyata dia adalah penyemangatku. Jeri, dia adalah orang yang mengubah hidupku, mengubah cara berpikirku.

Kini, aku sadar. Ilmu bukanlah hal yang harus aku takuti, bukan juga hal yang boleh aku abaikan. Ilmu adalah hal yang harus kita cari dan kita kejar, karena dengan begitu kita akan lebih memahami ilmu tersebut walau kita tidak memahaminya sebelumnya. Jeri pernah berkata padaku di malam sebelum dia memintaku untuk menjadi pacarnya. Dia berkata kalau dia tidak peduli dengan seberapa indah bintang di langit, karena di bumi ini masih ada hal yang indah. Ilmu misalnya. Ilmu itu indah, apalagi kalau orang yang mengajariku, makhluk yang indah seperti Jeri.

Cerpen Karangan: Risa Idzni Majid
Facebook: Risa Shi

Cerpen Romantic Knowledge (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat (Part 1) Masalah

Oleh:
“tujuh menit lagi..” kata Diana dalam hati, sambil memandang jam dinding yang terhias di tembok kamarnya. Malam itu dengan wajah harap penuh cemas, Diana menantikan malam paling spesial dalam

My Beloved Hana (Part 3)

Oleh:
TILT… TILT… TILT… Alat pendeteksi detak jantung berbunyi di ruangan sepi yang hanya berisi dua orang. Mark, tertidur di samping nona muda yang sangat ia sayangi, Hana Sakurami. Hana

Judge

Oleh:
Ini bukan hutan, tetapi mengapa menggunakan hukum rimba? Ya! mungkin bisa dibilang seperti itu, siapa yang kuat, dia yang berkuasa. “Ve!” Tegur seseorang. “Sudahlah jangan dipikirkan, apa kata mereka”

Nuri Jatuh Cinta

Oleh:
“Uwooow! awesome!” bisik gue sambil ngintip ke arah lapangan voli sekolah. Gue terpesona lihat dia pada pandangan pertama awal aku berjumpa. (Pandangan pertama! awal aku berjumpaaaa.. asoyyy..) “Good Kak.

Matematika

Oleh:
Pelajaran itu lagi. Ya Matematika adalah pelajaran ke tiga hari ini, Bu shan menjelaskan tentang peluang secara panjang dan lebar. Kepalaku rasanya mulai pusing dan nyut-nyutan mendengarnya, semakin lama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Romantic Knowledge (Part 2)”

  1. nur dwi apriliani safitri says:

    The best

  2. ynt says:

    seru cerita nya 🙂 good job kak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *