Sakura Love (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 5 August 2015

Teriknya mentari saat musim kemarau di Indonesia memang bisa membuat sebagian besar orang enggan untuk melakukan aktifitas seperti biasanya. Apalagi di kota-kota besar seperti di Jakarta. Cuaca yang tidak bersahabat, hawa panas yang terasa begitu menyengat, serta rasa kantuk yang tak tertahankan membuat semuanya menjadi serba tidak nyaman. Ditambah lagi, jalanan yang macet dan udara yang sangat tercemar akibat asap rok*k dan asap kendaraan. Padahal suhunya hanya sekitar 30-37 derajat celcius. Bagaimana jika di Jepang yang suhunya bisa mencapai 40 derajat bahkan lebih dari itu?

“hiiii, mengerikan! Sebaiknya tidak usah dibayangkan” gumam salah seorang mahasiswi sambil bergidik ngeri.

Yume Arisa. Mahasiswi sastra Jepang tingkat akhir semester tujuh di salah satu universitas negeri di Jakarta. Gadis 21 tahun ini memang sangat menyukai semua tentang Jepang, maka tak heran jika ia mengambil jurusan sastra Jepang. Apalagi dia juga mempunyai cita-cita ingin pergi ke Jepang. Bukan hanya bekerja dan melanjutkan kuliah, melainkan tinggal di Jepang, bahkan menikah dengan orang Jepang. Mungkin memang sudah jodoh, tanpa disadari orangtuanya memberinya nama Yume, yang jika diartikan dalam bahasa Jepang berarti “mimpi/impian”.

Dilihat dari penampilan, Yume sama sekali tidak terlihat tomboy atau pun feminim, dia terlihat biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa. Rambut hitam sebahu, kulit sawo matang, tinggi sekitar 157cm. Matanya pun tidak sipit seperti orang Jepang pada umumnya. Pokoknya dilihat dari sisi manapun “Indonesian banget”.

Ada satu hal yang unik dari Yumi, yaitu dia adalah sakura lovers. Bukan hanya sekedar suka dengan bunga Sakura yang menjadi icon Jepang ini, tapi taraf suka Yume dengan sakura itu sudah lebih tinggi dari siapapun. Hampir semua barang yang ia miliki mengandung makna “sakura”, entah dari corak, warna, ataupun dengan bentuk bunganya.

“Yokatta (syukurlah)! Akhirnya nyampe kampus juga. Padahal udah bela-belain naik busway, tapi tetep aja macet.” gumamnya lagi setelah sampai di depan kampus.
“Yuri!” panggil seseorang dengan suara cempreng yang khas.
“Grrr! Rara! Dasar cempreng masih saja suka memanggilku dengan nama itu, huft” gumam Yume dalam hati.

Selain dikenal dengan “sakura lovers” nya, sebagian teman-teman Yume di kelas memang kerap memanggilnya dengan nama “Yuri”. Karena di kelasnya, Yumelah satu-satunya wanita yang memiliki hobi yang berbeda dengan yang lain. Bahkan, bisa dibilang aneh. Bagaimana tidak aneh, setiap orang yang dia taksir di kampus bukanlah seorang pria, melainkan seorang WANITA! Tapi, bukan berarti dia tidak normal. Dia normal 100%. Hanya saja setiap ditanya alasannya, dia selalu jawab “karena aku ingin, pria yang akan ku taksir pertama kali, dialah yang akan menjadi suamiku” jawaban yang bagus!

Di Jepang sebutan yuri biasa digunakan untuk mereka yang menyukai hubungan kompleks antara sesama wanita. Jika sesama pria, maka biasa disebut dengan fujoshi. Biasanya terjadi pada anime-anime, bahkan tak jarang jika terjadi di kehidupan nyata.
“Yuri-chan*, matte! (tunggu)” tanya Rara, sang pemilik suara cempreng itu.
“Untuk apa aku menunggumu? Bukankah sudah kukatakan, kalau aku tidak suka dipanggil dengan nama itu” jawab Yume cuek.
“Wakattayo (aku tahu), gomenne (maaf ya) Yurr… eh Yume-chan” Ujar Rara yang diringi dengan senyumannya yang dibuat semanis mungkin.
“Hai, hai, (iya, iya)” Jawab Yume malas sambil terus berjalan.

Sejak duduk di bangku SMA, Yume dan Rara sudah sangat dekat. Jika di kampus, di mana ada Yume di situlah pasti ada Rara. Mereka memang memilki karakter yang sangat berbeda. Yume cenderung pendiam dan sedikit pemalu. Namun jika sedang marah, maka tak akan ada yang berani mendekatinya. Karena, dia akan berubah menjadi Yume yang sangat menyeramkan. Jika Rara, dia adalah periang dan supel. Tak heran jika banyak mahasiswa dari jurusan lain yang mengenalnya. Bahkan, dia sering berganti-ganti pacar. Walaupun begitu, tapi perbedaan karakter yang mencolok diantara mereka justru membuat keduanya semakin dekat satu sama lain.

Setibanya di kelas.
“Wah, banyak yang sudah datang rupanya” gumam Yume dalam hati.
“Ohayou gozaimasu! (selamat pagi)” sapa Yume dan rara kepada teman-teman di kelas.
“Ohayou gozaimasu Yuri-chan, Rara-chan” jawab mereka serempak.
“Ah, Yuri lagi. Ya, sudahlah. Lagi pula nama itu tidak terlalu buruk untukku” gumam Yume dalam hati.
*Brak! pintu kelas terbuka dengan tiba-tiba.
“Eh, ada apa?” sahut orang-orang di kelas bergantian
“Minnaaaa (semua)!!! Aku punya kabar gembira untuk kalian. Terutama untuk para wanita sih, haha” ucap Vita gadis berkacamata dengan gaya rambut kepang dua yang terlihat sangat kekanak-kanakan.
“Ada apa Vita?” tanya Rara penasaran, yang langsung menghampiri Vita.
“Kalian tahu kan, bulan depan Kaori sensei akan pulang ke Jepang?” tanya Vita.
“Tentu saja, lalu kenapa?” tanya Yume.
“Adik kaori sensei akan datang ke Indonesia loh! Tapi sayangnya disini dia hanya sebentar” Lanjut Vita.
“Lalu apa hubungannya dengan kita dan kabar gembira itu?” tanya Rara.
“Tentu saja ada! Kalian tahu, aku dengar adiknya itu sangat tampan! Apalagi sekarang dia sedang malanjutkan kuliah S2-nya. Wah, aku tidak sabar ingin bertemu dengannya” lanjut Vita dengan gaya yang sedikit berlebihan.
“Sudah kuduga pasti dia memiliki maksud terselubung dan ternyata memang benar” Bisik Rara.
“Yah, bigitulah. Walaupun gayanya kekanak-kanakan tapi Vita lumayan agresif juga ya kalau urusan pria. ckckck” balas Yume.
“Karena adiknya itu baru pertama kali ke Indonesia dan tentunya tidak tahu tentang seluk-beluk Indonesia, maka dari itu Kaori sensei meminta bantuan kita untuk sedikit membimbingnya, haha” jelas Vita bersemangat.
“Ku dengar hari ini dia tiba Indonesia. Dan kabarnya sedang dalam perjalanan menuju kemari” ucap Anton yang tiba-tiba saja masuk.
“Ah! Sungguh?” tanya Vita dengan mata berbinar-binar.
“Eh, mau kemana?” tanya Anton pada Yume yang akan keluar meninggalkan kelas.
“Toilet” jawab Yume singkat.

Menurut Yume, pembicaraan teman-temannya mengenai perihal kedatangan adik Kaori sensei sama sekali tidak penting. Walaupun dia suka semua yang berbau Jepang, terutama pria Jepang. Tapi, tidak selebay itu. Menurutnya itu terlalu berlebihan.

“Apa-apaan mereka? Menyebalkan sekali. Ya, aku akui sebenarnya aku juga senang ada pria Jepang datang kemari” gumam Yume saat berada di dalam toilet.
“Apalagi, pasti matanya sipit dan berkulit putih. Ditambah lagi jika menggunakan kacamata, pasti akan lebih tampan. Wah, pria bermata sipit dan berkulit putih itu memang punya daya tarik tersendiri” lanjutnya sambil tersenyum di depan cermin.
“Ah! Tidak boleh! Belum saatnya memikirkan hal semacam itu. Aku harus fokus belajar agar beasiswa ke Jepang bisa kudapatkan. Ganbatte! (semangat)” gumam Yume lagi sambil mengepalkan tangannya di dada.
“Sudah hampir jam sembilan. Aku harus segera masuk sebelum dosen killer itu datang” ujar Yume sambil melihat jam tangannya dan berlari kecil menuju ke kelas.

Karena terburu-buru Yume sampai tidak memperhatikan lingkungan sekitar. Dan akhirnya. Bruk! Yume terjatuh karena menabrak seseorang.
“Akh! Itte (sakit)” keluh Yume sambil memegangi pinggangnya, karena dia jatuh dengan posisi terduduk.
“Ah, maaf. Biar saya bantu berdiri” ucap seseorang tersebut dengan bahasa Indonesia yang terdengar sedikit aneh.

Orang itu pun membantu Yume berdiri. Dari wajahnya terlihat sangat cemas dan merasa bersalah. Berbeda dengan Yume, yang masih meringis kesakitan.
“Maaf ya…” ucap orang itu dengan nada menyesal.
“Iya, sudah tidak ap-a,a-pa ko…” jawab Yume sedikit tergagap saat melihat orang yang barusan ia tabrak.

Pria bermata sipit, berkulit putih dan berkacamata. Rambut yang terkesan berantakan dan tidak terlalu panjang, namun tidak pendek juga. Tapi, justru terlihat sangat cocok dengan bentuk wajahnya. Mengenakan kemeja biru lengan panjang yang dilipat hingga kesiku, dipadankan dengan celana panjang yang berwarna hitam. Walaupun kemeja yang dia pakai tidak dimasukkan, namun tetap terlihat rapi. Sangat cocok dengan sepatu kets berwarna biru tua yang sedang ia kenakan.

“Halo! Apa kau sungguh tidak apa-apa?” ujar pria itu sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Yume yang masih bengong lengkap dengan mulutnya yang sedikit terbuka.
“Ah, iya!” ucap Yume yang sudah tersadar dari lamunannya itu. Atau lebih tepatnya bisa dibilang bahwa ia sedang terpana pada sosok yang ada di depannya itu.
“Sungguh?” tanya pria itu lagi.
“Iya” jawab Yume meyakinkan.
“Yokatta (syukurlah)!” ucap pria itu sambil tersenyum tulus pada Yume.

DEG!!
Tiba-tiba saja wajah Yume memerah. Dia mulai merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada jantungnya.
“Ada apa ini?” gumam Yume dalam hati.
“Saya sudah tidak apa-apa, tenang saja. Permisi” ucap Yume bergegas.
“Tunggu! Sakura!” Panggil Pria itu.
“Eh? Sa-Sakura?” Langkah Yume pun segera terhenti.
“Kau memanggilku?” tanya Yume kebingungan sambil menunjuk wajahnya sendiri.

Pria itu pun segera menghampiri Yume.
“Iya, maaf. Karena aku tidak tahu namamu dan bingung harus memanggilmu apa, jadi…” jawab pria itu sedikit kikuk.
“Jadi kau memanggilku dengan SA-KU-RA?” Potong Yume dengan menekankan kata sakura.
“Karena, saat wajahmu memerah tadi aku jadi teringat dengan sakura. Hehe” jelas pria itu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Gara-gara perkataan pria yang belum dikenalnya itu, wajah Yume kembali memerah. Ya, dia sungguh malu saat ini.
“Lupakan soal itu, aku hanya ingin tahu di mana letak ruang kantornya?” kali ini pria itu bertanya menggunakan bahasa Jepang dengan sangat fasih. Sungguh terdengar berbeda sekali saat berbicara dengan bahasa Indonesia tadi.
“Asoko desu (di sebelah sana)” jawab Yume sambil menunjukan ruang kantor yang memang tidak begitu jauh dari posisi mereka saat ini.
“Arigatou Sakura-chan (terima kasih Sakura)” ucapnya sambil tersenyum manis ke arah Yume.
“Jaa, mata (sampai bertemu lagi)” lanjutnya, sembari meninggalkan Yume yang masih kebingungan akibat perkataannya itu.
“Yume desu. Sakura janai. (saya Yume. Bukan Sakura)” teriak Yume yang kemudian langsung berlari menuju ke kelas tanpa membalas ucapan pria bermata sipit itu.
“Apa yang sudah dia lakukan sih? Menyebalkan” ucap Yume dalam hati sambil terus berlari.
Tanpa sepengetahuan Yume, ada sepasang mata yang terus memperhatikannya sambil tersenyum dalam diam. Ya, siapa lagi jika bukan pria bermata sipit itu.

Terlihat Yume yang sedang sibuk mengerjakan tugasnya di kamarnya. Sudah pukul 23.30 WIB, namun gadis itu masih tetap berkutat di depan komputernya.
“Uwaa… akhirnya!” ucap Yume sambil meregangkan tubuhnya yang terlihat sudah sangat lelah.

tok..tok..tok…
Terdengar seseorang sedang mengetuk pintu kamar Yume.
“Sayang, ini mamah bawakan susu” ucap seseorang dari seberang pintu.
“Iya, mah” jawab Yume dari dalam yang langsung membukakan pintunya untuk sang Ibu.
“Makasih mah” lanjut Yume yang telah menerima segelas susu.
“Terima kasih Tuhan, telah memberikan orang-orang yang tulus di sekelilingku” gumam Yume dalam hati sambil meneguk segelas susunya.
“Ah, sungguh hari yang melelahkan” ucap Yume setelah merebahkan dirinya di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar.
“Huh, malam minggu tapi tugas masih saja menumpuk. Menyebalkan” lanjutnya.
“Tapi syukurlah seminggu ini aku free! Ya, walaupun tetap harus menyiapkan untuk UTS minggu depan. Tapi setidaknya bisa terhindar dari tambahan tugas dan yang pasti aku bisa sedikit bersantai… haha” gumamnya lagi.

DEG!
Tiba-tiba saja wajah Yume memerah, ia mengingat kejadian pagi tadi di kampusnya. Yume pun reflek menutup mulutnya. Sejak kecil dia memang sudah terbiasa seperti itu. Jika malu, pasti akan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“K-kenapa justru wajahnya yang muncul” gumam Yume.
“Tapi perasaan apa ini? Kenapa jantungku jadi berdetak sangat cepat begini? Aku tidak terkena serangan jantung mendadak kan?” lanjutnya sambil memegangi dadanya.
“Tapi, kenapa aku jadi senang ya jika memikirkannya? Pria itu, siapa sebenarnya dia? Dilihat dari wajahnya dan cara dia berbicara, sepertinya dia bukan orang Indonesia”
“Eh? Aku ingat! Bukankah dia sempat bertanya menggunakan bahasa Jepang. Ya, tidak salah lagi dia pasti orang Jepang.”
“Tapi siapa? Murid barukah? Ah, tidak mungkin. Atau…”
Yume masih saja terus bergumam sambil memikirkan siapa gerangan Pria yang menurutnya kakkoi (keren/tampan) itu.

Ting tong. Terdengar bunyi nada sms dari HP Yume.
“Aduh, siapa sih yang sudah selarut ini sms. Eh? Nomor siapa ini?”
Dari +628…

06/06/2011
“Konbanwa, Sakura chan, nani o shite? (selamat malam sakura., apa yang sedang kau lakukan?)”
“Siapa ini? Pasti orang salah kirim” gumam Yume.
Tak lama kemudia HP Yume pun berdering. Tampaknya sang pemilik nomor misterius yang memanggilnya sakura itu yang meneleponnya.
“Eh? Siapa ya? Tidak mungkin jika Rara yang ingin mengerjaiku. Apalagi sekarang kan malam minggu, dia pasti sedang jalan dengan pacarnya” gumam Yume tampak masih ragu.

“Baiklah, aku angkat saja” lanjutnya yang kemudian menekan tombol OK di HP Touch screen-nya.

“Moshi moshi, Sakura-chan!” terdengar suara seorang pria dengan logat Jepang yang sangat kental.
“Si-siapa?” jawab Yume sedikit terkejut.
“Berkatmu tadi pagi aku jadi tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menemukan ruang kantornya. Arigatoune (terima kasih ya)”
“Jangan-jangan kau?” DEG! Tiba-tiba saja jantung Yume berdetak sangat kencang, wajahnya pun langsung memerah.

Sepertinya Yume sudah mengetahui sang penelepon itu. Siapa lagi jika bukan pria sipit berkaca mata yang ia anggap kakkoi (tampan) itu.
“Sakura-chan, kau masih disana?”
“Bagaimana bisa kau mengetahui nomor HP ku?
“Eh? Itu mudah saja, haha. Ngomong-ngomong, Sakura-chan maukah kau bertemu denganku besok?”
“Apa?! Untuk apa?”
“Aku ingin berterima kasih, jika melalui ponsel saja menurutku itu tidak pantas. Selain itu, banyak hal yang ingin kuceritakan pada Sakura-chan”
“Tapi…”
“Aku mohon Sakura-chan”
“Fuih, baiklah. Dimana?”
“Ehm, bagaimana kalau di taman yang ada di dekat kampus?”
“OK. Besok jam 10 aku kesana”
“OK. Jam 10! Arigatou! Maaf ya, sudah mengganggu. Oiya, namaku Arashi. Kaori Arashi. Oyasumi Sakura-chan (selamat tidur Sakura)”

Tut… tut… tut

Yume masih saja mamatung dengan ponsel masih di telinganya. Padahal pria yang ternyata memiliki nama Arashi itu sudah menutup ponselnya sejak beberapa menit yang lalu.
“Apa aku sedang bermimpi?” lanjutnya yang masih belum percaya kejadian beberapa menit yang lalu.
“Akh! Sakit! Ya, itu bukan mimpi.” Tegasnya setelah mencubit pipinya sendiri untuk memastikan.
“Kaori Arashi” gumam Yume.
Tanpa ia sadari, bibirnya menyungingkan senyuman. Ya, Yume tersenyum dengan wajah berseri-seri. Sangat manis. Ia pun terlelap dengan senyuman yang masih tersungging di bibirnya.

Cerpen Karangan: Hagashi Tobi
Facebook: Eka Nurdesi [https://www.facebook.com/desy.xiah.5]

Profil Penulis:
Nama Pena : Hagashi Tobi
Nama Asli : Eka Nurdesi
Tanggal lahir : 6 Juni 1993
Hobi : Semua hal yang berhubungan dengan membaca
Twitter account : @desyxiah

Cerpen Sakura Love (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terkadang Gila Itu Malah Sempurna

Oleh:
Tidak perlu repot-repot mencari cinta di negeri seberang, kalau kau melihat ada yang pantas untukmu di batas dinding. Bukan karena sudah lama mengenalnya atau karena dia sempurna, memang sudah

My Boss

Oleh:
Aku mengelap meja dengan cepat. Piring dan gelas kotor berpindah ke atas kereta dorong. Semua tissue dan remah-remah bersih dengan tuntas. Aku beralih ke meja seberang. Kurapikan semua piring

When You Loved Someone

Oleh:
Ucapkan… Nyatakan… Dan lepaskan… “Ohayou Nishi, bangun udah pagi nih ayo berangkat sekolah ku tunggu di bawah pohon seperti biasa ya,” ucapnya melalui ponsel yah dia adalah sahabatku bisa

My Beloved Friend

Oleh:
Di sebuah studio foto jepretan kamera tak henti-hentinya mengabadikan potret sepasang model cantik luar biasa yang sedang berfose. Semua orang berdecak kagum melihat hasilnya yang begitu sempurna tapi salah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *