Sakura Love (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 5 August 2015

Keesokan harinya.
“Mana orangnya ya? Benar di sini kan? Bukankah biasanya orang Jepang itu selalu tepat waktu?” gumam Yume.

Yumi baru saja tiba di taman dekat kampus, tempat yang Arashi inginkan untuk bertemu. Tiba-tiba ada seseorang yang menutup mata Yume dari belakang. Siapa lagi kalau bukan.
“Arashi!” Teriak Yume sambil berusaha menyingkirkan tangan Arashi yang menutupi matanya.
“Hehe, gomen (maaf). Habisnya Yume lucu sih” Ujar Arashi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

DEG! “Baru kali ini dia memanggil namaku yang sesungguhnya” gumam Yume dalam hati.
Wajahnya pun tiba-tiba langsung memerah dengan sempurna.

“Ayo duduk di sana, di sebelah sana ada bunga warna pink mirip sakura. Pasti Yume suka” ajak Arashi.
“Ehm, maaf! Sebenarnya ada perlu apa Arashi-san mengajakku kemari?” tanya Yume penasaran, saat sudah berada di sudut taman.
“Sudah kukatakan di telepon semalam bukan, panggil saja aku Arashi, tidak perlu sungkan. Ne, Yume (ya, Yume)” Ujar Arashi sambil tersenyum dan memegang kepala Yume.
“Ah! Iya! Maaf!” Ujar Yume sungkan
“Kore! (ini)” ujar Arashi, sambil menyerahkan sesuatu dari saku celana jinsnya.
Yume hanya memandangi sapu tangan tersebut dengan bingung.
“Sapu tangan?” ujar Yume yang masih tampak bingung.
Sehelai sapu tangan berbentuk persegi, bermotif bunga sakura. Saat Yume melihat-lihat bagian sapu tangan itu.
“Waa, kirei! (indahnya)” ujar Yume sambil tersenyum
“Tulisan apa ini? Ah! Sakura Yume!” lanjutnya, yang kemudian langsung menatap Arashi.
Tulisan pada sapu tangan yang Arashi berikan pada Yume barusan adalah “Sakura Yume” yang ditulis dalam huruf Jepang.
“Milikmu” Ujar Arashi
“Mi-milikku?! Bagaimana bisa?” Ujar Yume masih tidak mengerti.

Dulu Yume memang pernah memilki sapu tangan bermotif bunga sakura bertuliskan “Sakura Yume” dengan menggunakan Kanji (huruf Jepang) yang ia dapatkan dari Rara saat ulang tahunnya tahun lalu. Namun, sapu tangan itu sudah hilang sejak lama saat dia berada di bandara untuk menjemput sepupunya tepat sehari setelah ulang tahunnya. Yume juga yakin, bahwa sapu tangan yang Arashi berikan itu adalah miliknya. Karena Yumelah yang membuat nama itu. Perpaduan namanya dengan bunga kesukaannya, dan ia juga yang sudah menjahitnya pada sapu tangan itu.

Namun, bagaimana bisa sapu tangan itu ada pada Arashi?
“Yume…” Ujar Arashi sambil memegang kedua pundak Yume dan menatapnya dengan serius. Alhasil, Yume benar-benar menjadi salah tingkah.
“Sebetulnya, kita sudah pernah bertemu setahun yang lalu” lanjutnya.
“Tidak mungkin!” jawab Yume sangat terkejut.

FLASH BACK

Di bandara, setahun yang lalu. Tepat sehari setelah ulang tahun Yume.
“Ra, makasih ya! Aku sangat suka kado ini.” Ujar Yume sambil menatap sapu tangan pemberian Rara sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 20 tahun.
“Ya ampun, sudah berapa kali kamu ngucapin kata terima kasih?” Ujar Rara.
“Eh, aku ke toilet dulu ya. Tetap disini” lanjut Rara yang kemudian pergi terburu-buru.
“Jangan lama-lama ya Ra” Ujar Yume.

Seorang pria terlihat baru saja tiba di Indonesia. Pria dengan jins dan mantel hitam, serta koper yang ukurannya cukup besar untuk seorang pria. Ia pun berjalan perlahan menuju tempat duduk Yume yang jaraknya tidak jauh dari pintu keluar.

“Sumimasen (permisi)” Ujar Pria itu saat sudah berada tepat di hadapan Yume yang sedang sibuk dengan sapu tangannya.
“Ano wa (ehmm… sa…)” Ujar pria itu lagi yang kemudian langsung di potong oleh Yume.
“hai (iya)!” potong Yume
“Nihongo wo wakarimasuka (mengerti bahasa Jepang ya?)”
“Hai (iya)!” jawab Yume
“Suwattemo ii desuka (bolehkah saya duduk disini?)” Tanya Pria itu sambil menunjukkan tempat kosong tepat di sebelah Yume.
“Douzo! (silahkan)” Ujar Yume mempersilahkan dengan ramah.
“Arigatou (terima kasih). Nihongo ga jouzu desune? (pintar bahasa Jepang ya)” Ujar pria itu dengan takjub.
“Iie (tidak ko), sukoshi dake desu (hanya sedikit ko)” Jawab Yume.
“Ah! Sumimasen!” teriak Yume yang langsung menutup hidung pria itu dengan sapu tangan pemberian Rara.

Tiba-tiba saja dari hidung pria itu keluar darah. Karena Yume sangat panik, ia langsung menutup hidung pria itu dengan satu-satunya barang yang bisa menyumbat darah tersebut, tentu saja sapu tangan kesayangannya.

“Gomen (maaf)” Ujar pria itu dengan sangat menyesal.
“Iie (tidak apa-apa). Daijobu desuka (apakah baik-baik saja?)” Tanya Yume tampak begitu khawatir.
“Iya, tidak apa-apa. Mungkin karena belum terbiasa dengan suhu udara disini. Terima kasih ya” Jawab pria itu masih dalam bahasa Jepang.
“Yokatta (syukurlah)” Ujar Yume sambil tersenyum manis pada pria yang baru saja ditolongnya.
“Oh! Permisi saya harus pergi sekarang. Semoga kerasan di Indonesia ya” Ujar Yume yang kemudian pergi meninggalkan pria itu.
“Matte (tunggu)!” teriak pria itu. Tapi sayang, sepertinya Yume tidak mendengarnya dan terus berlari.

END FLASH BACK

“Jadi, pria itu adalah kau Arashi?” Tanya Yume.
“Ya, itu aku. Saat itu sebenarnya aku ingin bertanya siapa namamu agar aku bisa membalas budimu di lain waktu, tapi kau berlari sangat cepat. Aku jadi tidak bisa menemukanmu Yume. Apalagi waktu itu aku baru pertama kali datang ke Indonesia” Jawab Arashi.
“Jadi hanya ingin balas budi ya?” Gumam Yume.

Sebenarnya awalnya Yume sangat senang saat mengetahui bahwa selama ini orang yang menyimpan sapu tangan kesayangannya itu adalah Arashi, tapi entah kenapa ia merasa kecewa saat Arashi berkata bahwa dia hanya ingin balas budi padanya.
“Sejak saat itu aku mencarimu, namun tetap saja tidak pernah ketemu. Tapi untunglah nasib baik sedang berpihak padaku. Saat Kakakku pulang ke Jepang, aku melihat fotomu saat bersama dengannya. Dan sekarang kita jadi bisa bertemu bukan?” Jelas Arashi.
“Tunggu! Kau melihat fotoku dengan kakakmu?”
“Iya kakakku. Kenapa? Atau jangan-jangan kau tidak tahu ya aku adik dari dosenmu sendiri. Kaori Hana”
“Ja-jadi adik Kaori sensei yang akan datang adalah kau? Arashi?”
“Jadi Yume baru tahu ya? Kau lucu” Ucap Arashi sambil mengacak rambut Yume.
“Ah, iya, hehe” Jawab Yume malu-malu.
“Ke-kenapa aku jadi gugup begini” Gumam Yume dalam hati.
“Itulah sebabnya aku memanggilmu Sakura. Selain itu, karena aku ingin berbeda dengan yang lain. Aku ingin memperlakukan Yume dengan berbeda, tidak seperti apa yang orang lain lakukan untukmu. Yume.” Lanjut Arashi.
“Sukidayo Sakura-chan (aku suka kamu, Sakura)” Ucap Arashi pelan namun tegas.

DEG!

Yume sangat terkejut mendengar apa yang baru saja Arashi ucapkan padanya. Entah apa yang dia rasakan saat ini pada Arashi. Tapi yang pasti, hati Yume justru senang mendengar pengakuan perasaan Arashi padanya. Apalagi saat kedua mata mereka bertemu. Mereka berdua jadi sama-sama gugup dan saling mengalihkan pandangan. Sungguh pemandangan yang lucu diantara dua orang yang sedang jatuh cinta.
“Bagaimana, Sakura-chan?” Tanya Arashi menunggu jawaban dari Yume.
“A-aku…”
“Tidak perlu menjawabnya sekarang. Kau bisa memikirkannya dulu. Tapi, kalau bisa sebelum aku kembali ke Jepang” Ucap Arashi tanpa memandang Yume.
“Itsu? (kapan?)” Tanya Yume.
“Besok lusa” Jawab Arashi.

Berbeda dengan sebelumnya, entah kenapa wajah Yume kini tampak kecewa setelah mendengar Arashi akan segera kembali ke Jepang.
“Aku tidak akan menjawabnya sekarang ataupun lusa, Arashi!” Ucap Yume tiba-tiba tanpa memandang Arashi.
“Hm! Wakatta (aku sudah tahu), pasti begini akhirnya” Ucap Arashi tampak kecewa.
“Aku belum selesai bicara!” Teriak Yume, yang spontan membuat Arashi sedikit terkejut.
“A-aku akan menjawabnya! Tapi tidak sekarang. Aku akan menjawabnya tahun depan” Lanjut Yume. Kali ini, matanya mulai berkaca-kaca.
“Maksudmu?” Tanya Arashi tidak mengerti.
“Setahuku saat membaca salah satu artikel di internet, tepat di depan pintu masuk menuju area Tokyo Tower (Menara Tokyo) ada satu pohon sakura yang usianya sudah lebih dari seratus tahun, bukan?” Jelas Yume.
“Aku ingin mengatakan semuanya di situ. Saat musim semi tahun depan, tepat di bawah pohon sakura itu. Tunggu aku sampai saat itu tiba, Arashi. Onegai! (aku mohon!)” Ucap Yume terisak. Rupanya air matanya sudah tak bisa terbendung lagi.
“Aku, aku tidak ingin mengganggu kuliahku dengan urusan percintaan. Aku ingin fokus agar aku bisa mendapatkan beasiswa S2 di Jepang. Tunggu aku, hiks hiks” Ucap Yume menangis.
“Aku akan menunggumu, Sakura-chan” Ucap Arashi lembut sambil mengusap air mata Yume.
“Aku pasti akan menunggumu di tempat itu. Ganbattene, Sakura-chan! (bersemangatlah Sakura!)” Ucap Arashi sambil tersenyum lembut kepada Yume.
Arashi pun langsung merengkuh Yume yang masih terisak ke dalam pelukannya. Ya, pelukan hangat seorang Arashi yang belum pernah ia berikan kepada wanita manapun.

April, Haru (Musim Semi)
Tokyo, Japan
Hawa dingin pun berakhir. Kini hanyalah ada kehangatan dan kesejukan. Kuncup–kuncup bunga sakura pun sudah mulai bermekaran, menambah indah suasana musim semi di Jepang. Ya sekarang sudah pertengahan musim semi. Musim paling indah sepanjang masa. Musim di mana semua orang pasti akan menyambutnya dengan bahagia. Musim awal dari sekolah, kerja, pembukuan dan lain-lain. Awal sekolah. Ya, sudah sekitar dua minggu Yume berada di Jepang. Ia akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah S2-nya di universitas ternama di Jepang. Tokyo Daigaku atau yang biasa dikenal dengan Universitas Tokyo. Universitas paling terkenal di Jepang. Sungguh awal masa depan yang membahagiakan bagi siapa saja, terutama bagi Yume.
“Terima kasih Tuhan, sudah memberikan apa yang aku inginkan sejak dulu” gumam Yume dalam hati.

Namun, selain itu masih ada satu hal lagi yang harus ia selesaikan. Janji itu. Janji kepada seseorang yang sangat ia cintai.
“Ini tempatnya?” Ucap Yume sambil melihat peta yang ia bawa untuk memastikan.
“Iya, tidak salah lagi!” Ucap Yume yakin.
“Wah, indah sekali. Tidak kusangka aku bisa melihat Tokyo Tower dengan jarak sedekat ini. Tapi, dimana pohon sakuranya?” Ucap Yume dengan penuh kekaguman.
“Ah itu dia! Pohon sakura itu” Yume pun bergegas lari menuju pohon sakura.
“Huft! Akhirnya, sampai. Aku benar-benar sampai” ucapnya sambil terus memandangi pohon sakura yang kini ada tepat di depannya.
Tapi, seketika wajah Yume berubah sedih. Ia kecewa. Sungguh kecewa.
“Tidak datang” Ucap Yume dengan kepala tertunduk.
“Hiks, hiks, hiks, Doushite? (kenapa?), doushitano! (kenapa)” Teriak Yume sambil terisak.

GREB!
Tiba-tiba saja seseorang memeluk Yume. Pelukan yang pernah Yume rasakan sebelumnya. Pelukan hangat dan nyaman. Pelukan yang memberikan rasa aman bagi Yume.
“Ehh?!” Yume tersentak. Ia pun mendongakkan kepalanya ke atas untuk melihat siapa gerangan orang yang telah memeluknya itu.

DEG!
“Arashi! Arashi!” Yume pun kembali memeluk Arashi dengan sangat erat.
“Nakanaide (jangan menagis), Sakura-chan!” ucap Arashi sembari mengusap air mata Yume.

Yume tidak menghiraukan perkataan itu. Ia hanya ingin tetap pada posisi seperti itu lebih lama lagi. Ia terlalu takut untuk kehilangan Arashi. apalagi berpisah untuk yang kedua kalinya dengan satu-satunya pria yang ia cintai.

“Terima kasih Tuhan. Terima kasih telah mengembalikannya padaku. Terima kasih telah membuatku melihat lagi senyumannya itu. Terima kasih telah membuatku merasakan pelukannya lagi. Terima kasih…” Ucap Yume dalam hati.
“Arashi-kun, daisuki! (aku mencintai Arashi)” Ucap Yume di tengah isakannya.
“Atashi mo (saya juga), daisuki (suka kamu). Sakura-chan” Balas Arashi sambil mempererat pelukannya pada Yume.
“Maaf ya, aku datang terlambat dan membuatmu menangis” Lanjut Arashi.
Arashi pun melepas pelukannya. Ia tatap Yume dengan penuh rasa sayang. Lagi-lagi ia usap air mata yang masih tersisa di pipi Yume.
“Sakura” ucapnya sambil tersenyum dengan sangat tulus. “Tetaplah berada di sisiku, selamanya!” Lanjutnya sembari mencium kening Yume dengan lembut.
“Arigatou…” gumam Yume lirih.

Mereka pun kembali berpelukan.
Akhirnya, perasaan yang Yume pendam selama satu tahun lamanya telah tersampaikan. Begitupun dengan Arashi, penantiannya kini sudah berakhir.
Tidak ada lagi air mata, keraguan dan kekecewaan. Kini, yang ada hanya senyuman bahagia dari dua insan yang saling mencintai dengan tulus.

“Yume Arisa dan Kaori Arashi”

— SEKIAN —

Cerpen Karangan: Hagashi Tobi
Facebook: Eka Nurdesi [https://www.facebook.com/desy.xiah.5]

Profil Penulis:
Nama Pena : Hagashi Tobi
Nama Asli : Eka Nurdesi
Tanggal lahir : 6 Juni 1993
Hobi : Semua hal yang berhubungan dengan membaca
Twitter account : @desyxiah

Cerpen Sakura Love (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Mulai Panik

Oleh:
Oke sebelum gue cerita tentang hal yang gak penting ini gue mau ngenalin diri gue dulu, ya siapa tahu aja ada cewek jomblo yang kepincut dengan nama gue. Nama

Engkau Yang Setia Padaku

Oleh:
Dua tahun aku mengenalnya, dia tetap setia menjadi kekasihku, ya dia pacarku namanya irene. Masih teringat waktu pertama kali aku melihat wajahnya yang indah dan menarik perhatianku, aku pacaran

Andrea dan Andromeda (Part 1)

Oleh:
Beberapa orang butuh waktu lama untuk menyadari sesuatu Beberapa yang lain butuh waktu lebih lama untuk mengakuinya Banyak orang yang terlambat menyadari sesuatu sehingga menyesalinya di kemudian hari. Tapi

The Other Side of A Fault

Oleh:
Wajah polos itu menatap padang rumput yang terbentang luas di hadapannya. Pikirannya melayang jauh dari tempat raga itu berpijak. Matanya terpejam secara perlahan seiring hembusan angin. Terdengar suara alam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *