Salju Pertama Bulan Desember

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 14 June 2017

Cinta tak akan pernah saling melupakan, tetapi cinta bukan pula sebuah ingatan yang menjadi sebuah kenangan, itulah yang kini ada dalam pikiran Park Rin Rin, bukan karena ia ingin melupakan masa lalunya melainkan gadis tersebut ingin memulai lembaran baru tanpa harus hidup dalam sebuah kenangan.

Rin terus berjalan menulusuri jalan di kota Daejeon dengan pakaian berlapis dan jaket tebal serta tak melupakan tutup telinga dan sarung tangan berwarna pink miliknya berharap ia dapat menahan dinginnya malam hari di bulan desember, ia terus melangkah menerobos dinginnya malam di eunhaengdong yang diperkirakan akan turun salju, baginya Eunhaengdong seperti myeondong versi mini karena di sana terdapat banyak toko pakaian, cafe, toko kosmetik dan makanan kaki lima khas korea.

Tiba-tiba langkah kaki gadis tersebut terhenti di sebauh cafe, wajahnya terlihat berseri ketika ia menatap seorang pria sebayanya yang duduk di bangku cafe yang akan Rin masuki.
“Hai, sudah lama menunggu?” tanya Rin lalu duduk tepat berhadapan dengan pria tersebut.
“Lumayan, mau pesan apa?”
“Hmm, Americano saja, sama sepertimu.”
“Baiklah.” Jawab pria tersebut kepada Rin sambil memesankan pesanan mereka berdua kepada waitress.

Mereka berbincang dengan asyiknya seperti sudah saling lama mengenal, Gong Gi Tae baru mengenal Park Rin Rin seminggu yang lalu di sebuah toko buku, kebetulan saat itu mereka menginginkan buku yang sama dan hanya tersisa satu lagi. Walaupun buku yang mereka inginkan hanya tersisa satu, tetapi mereka tak saling egois alhasil Taejoon dan Rin Rin bukan saling memperebutkan buku tersebut melainkan mereka saling mengalah lalu Gi Tae memiliki ide bagaimana jika buku tersebut dibeli olehnya tetapi buku tersebut menjadi milik mereka berdua, Rin boleh mengambilnya kapan saja. Mungkin agak terdengar konyol, tetapi dengan segera mungkin Rin menyetujuinya selama menurutnya itu adil, hal itulah yang membuat mereka semakin dekat dalam waktu seminggu.

Gi Tae dan Rin terus berbincang dengan menceritakan hobi mereka masing-masing, mungkin karena mereka memiliki hobi yang sama bahkan mereka memiliki selera yang sama dari buku, film, musik hingga makanan kesukaan. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam namun mereka enggan berpisah, mereka seperti sahabat yang sudah lama berpisah lalu dipertemukan kembali karena mereka terlihat nyaman dan tak mau menghentikan percakapan mereka, walaupun keduanya sadar bahwa mereka mengobrol sudah cukup lama.

Gi Tae menatap Rin yang terlihat sedang melihat jam, seakan-akan gadis tersebut tak mau pertemuan ini berakhir begitu saja karena terpancar kesedihan di mata gadis yang dilihatnya saat ini. Bukan pria tersebut tak mau mengakhiri percakapannya hari ini, melainkan pria tersebut sama dengan gadis di hapannya, rasanya ia tak rela berpisah hari ini.

Tak lama kemudian ponsel gadis tersebut berbunyi menandakan ada telepon masuk, entah itu dari siapa. Gadis tersebut mengangkat sebuah panggilan yang ternyata dari temannya.
“Maaf Gi Tae, sepertinya temanku meneleponku.” Ucap gadis tersebut pada Gi Tae. Gi Tae pun mengangguk mempersilahkan gadis tersebut mengangkat teleponnya terlebih dahulu.
“Rin, kamu di mana? Ini udah malam.” Tanya seseorang dalam percakapan di ponsel Rin Rin.
“Aku di caffe sekitar Eunhaengdong, sebentar lagi aku pulang.”
“Baiklah, aku tunggu ya, jangan pulang larut malam, aku takut sendirian di rumah.”
“Iya Kim EunJi bawel, sebentar lagi juga aku pulang jadi bersabarlah.” Jawab Rin dengan menutup telepon secepatnya.
“Sepertinya teman sekamarmu sudah menunggu, sebaiknya kamu pulang sekarang. Ayo, aku antar.” Saran Gi Tae sambil beranjak dari bangku tempatnya duduk.
“Baiklah, terimakasih.”

Gi Tae segera membukakan pintu mobilnya untuk mempersilahkan gadis tersebut masuk, namun langkah gadis tersebut tertahan oleh tangannya yang menggenggam tangan gadis tersebut sehingga gadis itu terlihat kaget.
“Kamu nggak lupakan malam ini bakal turun salju?” tanya pria tersebut pada Rin sambil memakaikan syal milik pria tersebut kepada Rin. Rin terlihat bingung, ia hanya bisa mematung dengan pipi merah merona, sepertinya jantung Rin berdetak lebih kencang dari biasanya hingga ia tak mampu bernapas. “Ayo.” Kata pria tersebut mengajak Rin memasuki mobilnya setelah selesai memakaikan syal untuknya. Pria tersebut segera mungkin menyusul Rin masuk ke mobil dan mengantarnya pulang sampai rumah Rin.

“Apa ada yang aneh?” tanya Gi Tae kepada Rin yang menyadari gadis di sampingnya terus memandanginya.
“Ti..ti..tidak ada apa-apa.” Jawab Rin segera mungkin mengalihkan pandangannya.
“Apa aku terlihat terlalu tampan sampai kamu melihatku seperti itu?”
“Iya memang kamu tampan, tapi aku bukan melihat ketampanan kamu, hanya saja kamu terlihat seperti seseorang.”
“Siapa?”
“Berhenti di sini saja, itu rumahku.” Jawab Rin mengalihkan pembicaraan sambil menunjuk ke sebuah rumah
“Terimakasih. Apa kamu mau masuk dulu?”
“Tidak, terimakasih. Lain kali saja, sepertinya akan turun salju.”

Tak lama kemudian salju pun turun perlahan mengenai tubuh mereka dan ternyata perkiraan pria tersebut benar bak seorang peramal saja.
“Wah, salju pertama bulan desember.” Seru Rin sambil memejamkan matanya dengan merasakan butiran salju mengenai tangannya yang menembus sarung tangan yang dikenakannya.
“Rin, apa yang kamu lakukan?” Tanya Gi Tae heran.
“Membuat permohonan, aku selalu membuat permohonan saat turun salju pertama.” Ucap Rin dengan mata masih terpejam dengan tangan yang mengepal salju yang meleleh di tangannya.
“Terus apa permohananmu?”
“Rahasia.” Jawab Rin sambil membuka matanya dan membuat Gi Tae penasaran.
“Ya sudahlah, semoga permintaanmu terkabul, aku pulang dulu. Selamat malam.” Ucap Gi Tae sambil melambaikan tangannya berjalan memasuki mobilnya walaupun Gi Tae enggan untuk berpisah hari ini, ia berharap bisa lebih dekat dengan gadis yang baru ditemuinya seminggu yang lalu itu.

Gi Tae merasa aneh pada dirinya sendiri, ketika ia sembuh dari penyakitnya ia tak pernah terlihat dekat dengan siapapun bahkan keluarganya sekalipun, namun Rin nama gadis itu biasa disapa, sangatlah berbeda, ia begitu nyaman bersamanya dan ia berharap bisa menghambiskan waktu bersama Rin.
Pria tersebut pergi dari hadapannya meskipun Rin masih ingin berbagi cerita dengannya, Rin hanya bisa memandangi punggung pria tersebut yang perlahan menghilang dengan mobilnya, yang terlihat hanyalah butiran salju yang jatuh mengenai tubuhnya.

“Tadi itu kan Gi Tae.” Seru seorang gadis yang sedari tadi melihat Rin dengan Gi Tae di jendela kaca rumah tersebut kepada Rin dengan mimik muka yang terlihat heran.
“Tadi Gi Tae kan?, kalian balikan lagi?, bukankah dia di Singapore?” Eun Ji terus bertanya, pertanyaan terus berkecamuk di pikirannya.
“Dia hanya seseorang yang mirip saja.” Jawab Rin dengan singkat.
“Oh, ya sudahlah. Aku masuk duluan, aku mau melanjutkan tidurku kembali.” Ucap Eun Ji yang kelihatannya masih mengantuk, untunglah Eun Ji sahabatnya itu selalu seperti itu jika ia mengantuk atau tiba-tiba terbangun dari tidurnya sehingga tak ada kecurigaan setidaknya untuk hari ini karena esok setelah Eun Ji bangun, Rin pasti akan dibanjiri oleh pertanyaan-pertanyaan sahabatnya.

Wajar saja jika sahabatnya akan bertanya-tanya kejadian hari ini pada Rin, apalagi jika itu menyangkut tentang Gong Gi Tae. Bagi Rin, Gi Tae bukanlah seseorang yang baru ia kenal dalam waktu seminggu melainkan ia mengenalinya sudah selama tiga tahun. Tiga tahun mereka berbagi cerita, suka maupun duka, tiga tahun mereka menjalin sebuah kisah cinta, tetapi semuanya hanya berujung sebuah luka. Rin masih ingat bagaimana Gi Tae memutuskan hubungan dengannya, bagaimana dia menjauhinya. Tiga tahun ia menjalin hubungan namun Gi Tae memutuskan hubungan dalam waktu sehari tanpa sedikitpun perselisihan bahkan membuatnya bertanya-tanya, apa mungkin Gi Tae sudah bosan dengannya, atau Gi Tae memang tak serius padanya, semua pertanyaan terus berkecamuk mengacaukan pikiran Rin hingga membuatnya stress.

Setelah memutuskan hubungannya dengan Rin, Gi Tae pindah entah ke mana, tak ada kabar sedikitpun dari Gi Tae ataupun keluarganya Luka itu terus membekas hingga membuatnya sangat membenci Gi Tae. Keluarga Gi Tae tak tahan melihat Rin yang begitu tersiksa lalu keluarganya menghubungi Rin yang di rawat di rumah sakit karena keputusan Gi Tae.
Ternyata selama ini Gi Tae menyembunyikan penyakitnya, ia berjuang sendiri tanpa memberitahu Rin, ia tak sanggup jika Rin harus bersedih karenanya. Sehari sebelum memutuskan hubungan Gi Tae didiagnosa mengalami Al-Zheimer, sebuah penyakit pikun akut dan jalan satu-satunya ia harus dioperasi, namun konsekuensinya ia tak bisa mengenali siapapun, ia tak dapat mengingat apapun bahkan Rin yang selama ini selalu bersamanya. Ia sengaja tak memberitahu Rin, ia tak mau hanya Rin saja yang mengingatnya sehingga ia dan keluarganya merahasiakan semuanya bahkan pindah tanpa diketahui Rin.

Operasi berjalan lancar dan Gi Tae hidup seperti baru terlahir kembali tanpa mengetahui siapapun, keluarganya bahkan Rin. Namun pada akhirnya semuanya adalah takdir sehingga Rin berpura-pura tidak mengetahui Gi Tae, kekasih masa lalunya. Rin akan terus mengingat Gi Tae, walaupun pria tersebut tak mengenalinya sama sekali, walaupun pria tersebut yang memutuskan hubungannya dengan Rin, walaupun pria tersebut telah membohonginya namun Rin masih percaya bahwa perasaan Gi Tae pada Rin masih ada. Tanpa Rin harus mengingatkan Gi Tae bahwa Rin adalah orang yang dicintai Gi Tae. Rin sangat berharap Gi Tae aka selalu bersamanya meski kenangan yang mereka buat akan berbeda dengan sebelumnya dan ia berusaha menganggap pertemuan di toko buku itulah pertemuan pertama Rin dengan Gi Tae.

Rin melangkah menuju kamarnya menghampiri jendela kaca yang ada di kamarnya dan menuliskan sebuah nama pada kaca tersebut mengenakan jarinya. Tulisan itu bertuliskan, Miss U, Gi Tae.
“Semoga kamu bisa mengingatku walaupun dengan ingatan yang berbeda.”

Cerpen Karangan: Fitri Karlina
Facebook: facebook.com/fitri.karlina.731

Cerpen Salju Pertama Bulan Desember merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karena Hujan

Oleh:
Hujan turun lagi membasahi langit langit rumahku. Kali ini hujanya deras. Jalanan terlihat sepi. Hanya percikan percikan air yang kini dapat kulihat. Awalnya hujan sangat menyebalkan bagiku. Tidak bisa

Diakhir Sunset

Oleh:
Aku terkenal dengan sifat ceriaku yang ditandai tertawaku yang terbahak dan menimbulkan gema dan gelombang suara yang cukup keras di antara suara normal lainnya. Panggil saja aku ica. Pangilan

Arini

Oleh:
Semilir angin berhembus menyebabkan daun-daun kering berjatuhan. Di kursi taman ini aku menikmati sejuknya. Di sini pula aku pertama kali berjumpa dengannya 8 tahun lalu. Masih ku ingat senyuman

Dear Adre

Oleh:
Dear Adre, Aku terdiam di satu tempat yang kuyakin kamu tahu. Tempat favoritku. Entah harus kumulai dari mana, begitu banyak cerita yang terjadi. Bahagia, sedih, cinta dan air mata.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *