Salut D’Amour

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 January 2014

Aku memandang ke luar jendela sejak pulang sekolah tadi. Memandangi hujan yang mengguyur Bumi hari ini membuat hatiku sedikit lega. Ya, rasanya dingin, tentram, menyejukkan, menyegarkan. Rasanya kedongkolanku hari ini sudah mulai berkurang.

Aku berharap dia tak kan muncul lagi. Sudah cukup hari ini saja aku mengenalnya. Aku malah berharap tak ingin mengenalnya. Walaupun dia memiliki wajah yang enak dilihat tapi sikapnya membuatku ilfil. Entahlah, semua ini membuatku capek sendiri, lebih baik aku tidur dan mempersiapkan diri untuk esok hari.

“Chris gimana rasanya 2 bulan duduk sama Radit si anak baru itu? Dia dari New York lho. Aku penasaran, anaknya gimana sih? Banyak yang iri lho sama kamu” cerocos Nita panjang lebar
“Duh, coba aja boleh tukeran tempat duduk aku sudah minta tukeran sama kamu daripada harus duduk sama makhluk satu ini.” tanggapku
“Lho kok bisa gitu sih?” tanya Nita tak mengerti alasanku
“Aaa makhluk satu ini tuh nyebelinnya minta ampun. Udah jahil, bikin gak konsentrasi waktu pelajaran, kepo, alay, sok tahu lagi. Gak asik banget kan?”
“Christa Christa, justru itu malah asik.” tanggapnya nggak nyambung
“Lho kok malah nggak nyambung? Kamu kesambet ya?” tanyaku heran
“Nita nggak aneh kok Chris, yang aneh tuh malah kamu. Udah jelas-jelas aku asik gini masih dibilang nggak asik” tanggap Radit yang tiba-tiba ikutan nimbrung. Oke, dan sepertinya satu lagi hari yang menyebalkan bakal datang.

Benar saja, hari ini nggak lebih baik dari hari-hari sebelumnya, malah lebih parah! Rasanya aku ingin cepat-cepat sampai rumah untuk menenangkan pikiran. Sayangnya, niat itu harus kubatalkan karena hujan dan aku tidak membawa payung untuk jalan sampai ke rumah. Oke daripada aku meratapi hari sial ini lebih baik aku ke ruang musik. Ruang kesukaanku.

Seperti biasa, ruangan ini kosong. Hal itu membuatku bisa leluasa memainkan beberapa lagu atau instrumental kesukaanku yang bisa membuatku ceria lagi, atau setidaknya melupakan masalahku untuk sementara. Aku akhirnya memilih untuk bermain piano sebagai tempat pencurahan keluh kesahku.

Hujan masih terus turun, malah bertambah deras, hal itu mengingatkanku akan sebuah instrumental yang berjudul Kiss The Rain. Segera aku memainkan instrumental tersebut. Setelah itu aku lanjutkan dengan River Flows in You yang ada kata-katanya. Rasanya sekarang lebih baik.

“If you have the time to share the road with me”
“If you can imagine we could both be free” nyanyiku
“What I long to do is give my heart to you” terdengar suara laki-laki menyanyikan lagu ini bersamaku.
“So that you can always hold it close to you” laki-laki itu terus menyanyi
“Holding you, holding you, It’s in you river flows in you”
“Slowly now, slowly now, It’s in you The river flows in you”

Setelah aku menyelesaikan lagu itu aku berbalik untuk melihat siapa yang menyanyikan.

“Hei! Ternyata itu kamu Chris. Ternyata kamu tahu lagu itu juga. Kita sama-sama suka lagu itu dong!” cerocos Radit. Aduh harapanku ketemu cowok yang lebih baik pun terbang seperti kupu-kupu.
“Eh iya.” jawabku. Radit berjalan mendekatiku dan akhirnya duduk di sebelahku.
“Kamu inget nggak pernah ada anak seusiamu sekitar 3 tahun yang lalu memberimu sekotak coklat pada saat kamu selesai memainkan lagu I Will Always Love You di taman kota?” tanya Radit. Aku terdiam, mengingat-ingat sebentar
“Iya, aku ingat. Kenapa? Apa kamu tahu siapa anak itu? Aku ingin mengucapkan terima kasih kepadanya.” tanyaku lagi
“Aku tahu siapa anak itu.” jawabnya sambil tersenyum
“Dia sangat senang bisa mengenalmu, dia sangat mengagumimu. Sejak pertama kali dia ikut lomba, dia sudah melihatmu dan langsung kagum. Sejak itu dia selalu menonton pentas seni atau lomba-lomba yang berkaitan dengan piano agar bisa melihatmu.” jelasnya panjang lebar. Aku hanya tersenyum.

“Menurutnya, kamu itu sangat cantik apabila sedang memainkan berbagai macam lagu dengan piano. Kamu menyukai musik-musik klasik, sama sepertinya. Coklat yang dia berikan sebenarnya merupakan coklat perpisahan, perpisahan karena tidak bisa melihat dirimu lagi. Anak itu harus pergi ke luar negeri bersama keluarganya. Kau tahu anak itu siapa?” tanya Radit
“Aku tidak tahu.” jawabku “Anak itu adalah aku” jawabnya. Aku kaget
“Ya, anak itu adalah aku, aku sangat senang bila bertemu denganmu. Aku sudah menyukaimu dari dulu. Tapi aku takut mengungkapkannya.” kata Radit
“Setelah orangtuaku memutuskan untuk kembali ke Indonesia, aku mencari lagi informasi tentangmu dan akhirnya aku tahu bahwa kamu bersekolah di sini. Aku diberi kebebasan untuk memilih sekolah maka aku memilih sekolah ini.” “Aku sangat senang ketika tahu bahwa aku sekelas denganmu, bahkan kamu teman sebangku ku. Karena kamu kelihatan tak acuh denganku, akhirnya aku memutuskan untuk menjahilimu supaya bisa menarik perhatianmu. Tapi rupanya caraku salah, kamu malah menjadi tidak suka denganku. Maafkan aku ya?”
“Baiklah aku maafkan. Sebenarnya kamu itu seru kok orangnya, tapi aku selalu ingat kejadian waktu kamu pertama masuk dulu. Mengingat itu aku menjadi jengkel lagi denganmu. Tapi tidak apa-apa kok.”
“Sebenarnya, dulu aku juga penasaran dengan kamu. Soalnya, kamu selalu ada setiap aku pentas. Aku senang sekali waktu kamu memberiku coklat. Terima kasih ya!” kataku
Radit tersenyum. “Hey, bolehkah aku memainkan satu lagu untukmu?” tanyanya
“Tentu. Silahkan.” jawabku, aku pun berdiri agar dia bisa memainkan lagu dengan leluasa di piano itu.

Ternyata Radit memainkan salah satu lagu kesukaanku. Lagu tersebut adalah Salut D’Amour. Arti Salut D’Amour adalah Hai Cinta. Aku tersenyum sendiri saat mendengarnya. Akhirnya lagu itu selesai. Aku pun bertepuk tangan untuknya.

“Crista, sejak pertama aku mendengar lagu Salut D’Amour yang kamu mainkan dulu, hatiku juga berkata ‘Hai Cinta'” Radit tersenyum dan menggenggam tanganku “Cinta itu datang darimu. Mau kah kamu menjadi pacarku?” tanyanya
“Oke, aku mau.” jawabku sambil tersenyum.

Hujan sudah reda. Aku bisa melihat sinar matahari yang indah pada siang hari ini. Aku juga sudah mulai bisa merasakan kehangatan sinarnya. Tubuh yang tadinya kedinginan, kini mulai terasa hangat terkena pancaran sinarnya. Tak hanya tubuhku yang terasa hangat, tapi hatiku juga merasakan kehangatan tersebut. Mungkin sekarang hatiku juga berkata “Selamat datang Cinta!”.

Cerpen Karangan: Paula Nugraheni
Facebook: Paula Nugraheni Tyas Adi

Cerpen Salut D’Amour merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Love Interest

Oleh:
Angin berhembus lembut menerbangkan dedaunan kering dari rantingnya, jatuh dan menari sampai akhirnya hinggap di sebuah buku yang sedang dibaca oleh seorang cowok. Sendari tadi dia terus menatap serius

Missing Birthday

Oleh:
Kutatap foto masa kecilku sewaktu berumur 5 tahun. Masih terlihat imut-imut apalagi aku berfoto dengan sahabatku. Ya, sahabat yang aku kenal semenjak aku TK. Dan persahabatan kami berlanjut sampai

Parfum Nyegrak

Oleh:
Hari-hari setelah Masa Orientasi siswa SMP dijalani seperti biasa, dan ternyata gue baru sadar kalau ternyata di kelas gue itu ada cewek yang menurut gue cantik, namanya putri, sayangnya

Roti Bakar Rasa Cokelat

Oleh:
Siang ini kelas XI – Mipa 4 ramai sekali, kelasku itu hampir mirip dengan pasar ikan jika guru mata pelajaran berhalangan masuk. Seperti saat ini, pelajaran matematika sedang kosong,

Roman Raisa, Bukan Roman Picisan

Oleh:
2018… Awal musim semi di London, suhu udara di sini masih berkisar 8-12 derajat celcius, sisa-sisa musim dingin masih terasa. Namun suhu sekian ini tak mampu lagi membuatku menggigil.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *