Sang Koreografer (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 5 June 2017

Langkahku pasti. Tangan terayun sempurna. Pinggul melenggok genit. Satu hentakan dan… lompat.

Fiuhh!
Aku mengusap peluh di keningku sambil mematikan musik yang mengalun dari stereo. Gerakanku sudah cukup sempurna, setidaknya lebih baik dibanding minggu lalu. Sudah seminggu penuh aku mempelajari koreografi yang sulit. Jauh lebih rumit dibanding koreografi yang diajarkan oleh Kak Vanya. Padahal aku sudah hampir menghafal seluruh gerakan yang diajarkan Kak Vanya. Sayangnya, management yang membesarkan namaku di industri musik berduka bulan kemarin karena Kak Vanya meninggal akibat kecelakaan kereta di Singapura. Selama beberapa hari, semua aktivitas The Bliff Management terhenti sebagai bela sungkawa atas kepergian Kak Vanya.

Aku masih ingat bagaimana aku merasa ada di ujung tanduk saat mendengar kabar kematian Kak Vanya. Seolah-olah aku ingin ikut bergabung dalam rumah 1×2 meternya di bawah tanah selama beberapa waktu. Bukan hanya karena berkabung kehilangan koreografer andalanku, tapi juga karena waktu pementasan sudah di pelupuk mata! Aku tidak ingin gagal untuk kedua kalinya. Tapi tanpa Kak Vanya, apa yang bisa kulakukan? Karirku bergantung pada Kak Vanya.

“Istirahatnya udah cukup. Jangan lama-lama, ntar gerakan lo amburadul lagi.”

Aku diam saja berpura-pura tidak ada siapapun di belakangku. Kulanjutkan meminum jus strawberry dengan santai sambil memandangi bayanganku di cermin lebar ruangan itu. Aku harus diet untuk menurunkan sedikit berat badanku. Aku tidak ingin laki-laki yang baru saja menegurku itu meledekku habis-habisan karena menganggap tubuhku kurang lentur saat menari. Jika aku kurus, pasti gerakanku bisa lebih indah.

“Gue bilang udahan istirahatnya!” Bentak laki-laki itu lagi sambil menarikku berdiri dengan menjewer telingaku.
“Aww! Sakit, Kak!” Seruku kesakitan.
“Gue bisa aja nyeret lo ke tengah ruangan dengan jambak rambut lo. Ini udah lewat setengah jam! Dan lagi, lo nggak boleh sering-sering minum minuman manis seperti ini. Suara lo bisa kayak bebek!” Sahut Kak Ryan sambil merebut jus instanku.
“Itu jus strawberry. Itu bagus buat aku!” Ucapku merebut jus itu kembali tapi Kak Ryan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
“Nggak ada yang bisa jamin kalau jus instan seperti ini murni dari strawberry.” Cetus Kak Ryan lalu menarik tanganku kembali ke tengah ruangan. “Lo baru boleh berhenti sampai ada di gerakan 57. Gue lihat lo berhenti di move 40.”
“Tapi Kak Ryan bilang aku boleh mantapkan gerakan sampai move 40 aja!” Protesku tidak terima.
“Lo mau bantah gue?” Tanya Kak Ryan menarik tubuhku menempel padanya hingga mataku dan matanya terpisah sejauh 10 cm saja.
“Kak Vanya nggak pernah sekeras ini.” Gerutuku kesal.

Kak Ryan tersenyum sinis mendengarnya. Jus instanku disedotnya sedikit membuatku semakin berang. Sebelum aku memakinya, Kak Ryan memasukkan ujung sedotan ke mulutku.
“Jadi anak yang baik selama lo ada di bawah pengawasan gue.” Bisik Kak Ryan tajam dan penuh ancaman.

Aku tidak menyahut. Kuhabiskan sisa jus strawberry favoritku hingga tandas lalu kupakai untuk mendorong Kak Ryan menjauh dariku. Kak Ryan tersenyum saja sambil menegakkan punggungnya kembali.

“Oke. Kita bisa mulai dari intro. Lo mau gue temenin atau sendiri?”
“Sendiri.” Jawabku cepat.
“Pilihan salah.” Sahut Kak Ryan sambil menyalakan stereo. “Lompat sekarang!” Perintahnya.

Aku tidak menurut meskipun musik intro memang diawali dengan lompatan kecil ala Bad Girl. Kak Ryan mendesah melihatku hanya diam sambil bersidekap. Tangannya meraih handphone dan earphone yang kuletakkan di samping stereo. Dia menggoyang-goyangkan kedua benda itu membuatku semakin gondok.

“Stevan ada dalam genggaman gue, Feriya.” Ucap Kak Ryan sinis. “Lo tahu apa jadinya kalau hubungan lo dengan Stevan mencuat ke permukaan media massa.” Ancam Kak Ryan membuatku jengkel.
“Kak Ryan bakal pensiun kalau aku berhenti jadi penyanyi.” Sahutku balas mengancam.
“Ada 8 orang di management ini yang berada di bawah kendali gue. Lo bukan satu-satunya.”
“Kak Vanya nggak pernah sesadis Kak Ryan. Kak Ryan koreografer nomor 10.” Olokku jengkel. “Aku butuh waktu buat ulang gerakan dari awal. Apalagi Kak Ryan campur tangan di setengah lagu awal yang udah diajarin Kak Vanya. Aku butuh waktu buat hafalin semuanya.” Protesku.
Kak Ryan tersenyum mendengar gerutuanku. Dia segera menghentikan musik dan memulainya kembali dari awal.
“Karena itu lo harus banyak-banyak berlatih. Bisa lompat sekarang?”

Tak ada pilihan lain selain menurut. Aku memulai gerakan self move mengawali permulaan musik yang mengalun. Kulakukan self move membiarkan tubuhku bergerak sendiri selama 1 menit. Cukup waktu untuk diselingi dengan gerakan tangan membuka kancing kemeja satu persatu. Tidak ada dalam script. Kak Ryan maupun Kak Vanya juga tak pernah memberi arahan untuk melepas kemeja. Tapi aku ingin membuat Kak Ryan sulit berkonsentrasi.

Kubiarkan tubuhku yang hanya tertutup tank top pendek memamerkan pusar dan hot pants yang membiarkan pahaku bersentuhan dengan udara dingin AC ruangan. Kulemparkan kemejaku di lantai begitu saja dengan gerakan eksotis lalu melanjutkan dengan move yang pertama. Kulayangkan sorotan sinis pada Kak Ryan meskipun hanya sekilas. Lebih jengkel lagi karena ternyata Kak Ryan tidak terpengaruh dengan ajakan berperangku.

Sampai pada move 57, aku menjatuhkan diri di lantai linoleum berpura-pura kelelahan. Kak Ryan mematikan musik lalu mendekatiku. Seperti biasa, dia melakukan revisi gerakan-gerakan yang salah. Aku tidak perlu bangun untuk memperhatikannya. Dari posisiku berbaring, Kak Ryan terlihat keren saat menari. Gerakannya energic sekali. Aku suka diam-diam mengamatinya break dance saat ruang latihan sedang kosong. Aku suka melihat caranya menari.
Seandainya saja aku bisa battle dance dengan laki-laki yang tingginya 185 cm ini, sepertinya akan menjadi kolaborasi yang bagus.

“Hei! Lo perhatiin gue, nggak?” Sentak Kak Ryan kesal.
Seandainya dia mau tersenyum sedikit saja.

Stevan datang! Dia benar-benar datang! Apa dia tidak sadar jika dia sedang masuk ke dalam lubang buaya? Apa yang dipikirkan lelaki itu? Jika wartawan melihat ini, karirku akan benar-benar terancam. Semua wartawan hanya mencari skandal, bukan prestasi. Bagaimana jika wartawan tahu aku memiliki pacar? Lebih buruk lagi, bagaimana jika mereka tahu pacarku nekat datang ke Studio Musik hanya untuk menemuiku?

Mungkin tak akan masalah jika para pencari berita itu tidak melihat kedatangan Stevan. Tapi saat ini, Gabriel sedang mengadakan jumpa pers membahas peluncuran album ketiganya! Seisi gedung pasti dihuni oleh banyak wartawan yang jumlahnya sama seperti 5 kali total pemain saat pertandingan sepak bola. Membiarkan retina mataku dipenuhi oleh bayangan Stevan sama artinya dengan menunjukkan di mana letak jantung penyambung nyawaku. Para wartawan ganas itu bisa kapan saja menusukku dengan kamera dan michropone perekam.

Aku menggeram kesal sambil mengintip dari balik pintu Ruang Rekaman. Aku mengkhawatirkan kemungkinan terburuk yang dialami Stevan saat wartawan tahu skandal tentangku, namun Stevan justru menunjukkan gelagat sebaliknya. Dia ingin disebut sebagai laki-laki yang pantang menyerah mengejarku. Bahkan, dia ingin disebut sebagai satu-satunya lelaki yang berhasil mendapatkanku. Kadang aku membenci tindakan bodohnya tapi aku mencintainya.

“Belum pulang?” Tanya Kak Ryan yang terkejut karena wajahku mengintip keluar dari Ruang Rekaman. “Ngulang rekaman lagi?” Lanjutnya sambil mengintip ke dalam ruangan dari celah pintu yang kubuka. Rudy masih mixing lagu dengan headphone di kepalanya. Dia tidak akan tahu jika aku masih ada di ambang pintu sejak 1 jam yang lalu karena telinganya disumpal oleh benda yang melingkari kepalanya itu.
“Wartawan di luar masih banyak?” Tanyaku sedikit berbisik.
“Masih. Kenapa? Khawatir dikejar pertanyaan soal kapan single baru lo direlease? Bilang aja itu rahasia. Mereka pasti bakal…”
“Bukan. Tapi ada Stevan di sana. Walaupun aku bilang jangan, dia bakal tetap iya. Dia nggak bisa diatur segampang Kak Ryan ngatur gerakan aku.” Ucapku sambil kembali mengintip Stevan yang berusaha meneleponku.

Aku tak berani menjawab teleponnya. Aku tak akan bisa menjawab apapun jika dia menanyakan apa yang kulakukan. Mengatakan bahwa aku bersembunyi darinya adalah mimpi buruk dari yang pernah ada. Dia sedikit sensitif saat tahu aku menghindarinya di keramaian.

“Maksud lo?” Tanya Kak Ryan tak mengerti.
“Dia selalu peluk dan cium kening aku tanpa peduli di manapun tempatnya. Karena itu aku takut jalan bareng dia. Kalaupun terpaksa keluar pun cuma berani di dalem mobil. Trus sekarang Stevan ada di sini padahal wartawan ada di mana-mana. Aku udah bilang kalau… Eh, Kak Ryan mau ke mana?” Tanyaku panik karena Kak Ryan sudah melangkah pergi dariku.
Sial! Padahal aku bermaksud meminta pertolongan Kak Ryan untuk mengawalku sampai mobil. Jika sudah di mobil, aku berani menelepon Stevan dan memintanya menghampiriku.

Kini aku melihat Kak Ryan menghampiri Stevan. Mereka baru bertemu 2 kali sebelum hari ini. Aku berharap Kak Ryan mengerti untuk menyuruh Stevan menunggu di tempat terlindung. Semoga saja Kak Ryan bisa bersikap seperti Pangeran yang lembut dan mempesona hingga Stevan mau menurut untuk pergi. Kak Ryan memang selalu berekspresi datar saat berbicara dengan seseorang dan hal itu tak akan baik ditunjukkan pada Stevan. Tapi apa itu? Kenapa Stevan mendorong bahu Kak Ryan dengan kasar? Apa yang terjadi antara mereka?

Kak Ryan tampak menepuk pundak Stevan namun kekasihku itu menepis tangannya dengan kesal. Sesaat kemudian Stevan berbicara sesuatu sambil menuding ujung hidung Kak Ryan. Kak Ryan hanya tersenyum saja tanpa berbicara apapun lagi. Lelaki yang berprofesi sebagai model itu berlalu meninggalkan Kak Ryan dengan sedikit kesal. Apa yang sudah dikatakan oleh koreografer terburukku itu?

“Kak Ryan ngomong apa sama Stevan? Stevan nungguin aku di mana?” Tanyaku ketika Kak Ryan kembali ke hadapanku.
“Dia ada pemotretan.” Ucap Kak Ryan tanpa menjawab pertanyaanku. “Biar gue sopirin lo. Lo mau langsung pulang atau ke kampus?” Tanya Kak Ryan sambil menyampirkan jaketnya ke tubuhku.
Tudung jumpernya nyaris menenggelamkan kepalaku, tapi itu bagus untuk membuat penyamaranku sempurna. Kak Ryan juga melepas kacamata hitam yang bertengger di kepalanya untuk dipakaikan padaku. Dengan jaket jumper kedodoran dan kacamata gelap, semoga saja aku bisa benar-benar selamat dari serbuan wartawan.
“Nggak akan ada yang ngenalin lo lagi. Wartawan juga sibuk ngejar Gabriel. Nggak akan ada yang perhatikan lo. Yuk!”
“Lalu Stevan?” Tanyaku menahan langkah.
“Gue bilang, dia ada pemotretan.” Tegas Kak Ryan menarik pundakku untuk terus berjalan.
“Tapi dia nggak mungkin ke sini kalau bukan karena pengen ketemu aku, Kak.”
“Kalau lo nggak percaya, kenapa lo nggak telepon aja sendiri?”

Aku memanyunkan bibirku. Aku benci mengetahui bahwa Kak Ryan benar. Aku menurut saja digelandang oleh Kak Ryan menuju halaman parkir. Sempat ada seorang wartawan yang memergoki kami tapi laki-laki yang merangkulku itu lebih dulu memasukkan aku ke dalam mobil dan memacunya keluar dari pelataran parkir.
Terakhir kali aku terpergok wartawan saat sedang berjalan-jalan dengan Geo, salah satu teman SMA. Untung saja saat itu Geo membawa serta kekasihnya sehingga masalah tidak berbuntut panjang. Dari kejadian itu, aku menjadi semakin berhati-hati dalam bersikap. Aku masih cukup baru di dunia entertain. Aku butuh berkarir setidaknya hingga 20 tahun ke depan.

“Stevan!” Teriakku tapi aku segera sadar jika panggilanku terlalu keras.
Laki-laki yang kini berstatus mantan kekasihku itu hanya menoleh sekilas. Aku benci kenyataan ini tapi dia memutuskanku tanpa sebab. Aku tahu pasti Kak Ryan menghardiknya dengan cara yang tidak sopan tapi Stevan sudah salah paham. Kak Ryan memang selalu berbicara dan bersikap dengan sinis juga kejam. Tapi itu memang karakter Kak Ryan. Stevan hanya terbawa suasana menanggapinya hingga memutuskan hubungan kami.

“Honey, kenapa kamu jadi seperti ini? Apa gara-gara Kak Ryan nglarang aku pacaran? Kak Ryan nggak bermaksud seperti itu, kok. Kak Ryan cuma khawatir karir sama kuliahku berantakan.” Ucapku saat aku berhasil meraih tangannya.
“Feriya, kita udah putus. Udah deh, nggak usah ngejar-ngejar aku lagi. Aku nggak suka sama kamu!” Tegas Stevan membuatku sedikit tercengang.
“Tapi…”
“Feriya, aku emang suka sama kamu. Tapi bukan berarti aku mau jadi alat buat naikin popularitas kamu. Kamu berencana terjun ke dunia model juga, ‘kan? Sekarang aku tahu kalau selama ini yang kamu pikirin cuma karir aja, bukan hubungan kita.” Potong Stevan. Aku mengernyitkan kening tanda tak mengerti.
“Stevan, kamu ngomong apa?”
“Tanya sama diri kamu sendiri, Fer! Aku bisa kasih nomor telepon pimpinan agensiku. Kamu tahu selanjutnya harus nglakuin apa buat bisa jadi salah satu dari model mereka.”
“Stevan, kamu ngomong apa, sih?” Tanyaku semakin bingung dan tak mengerti. Menjadi model? Agensi?
“Yang pasti, jangan kejar-kejar aku lagi. Terserah kalau kamu mau nglebarin sayap dengan jadi model atau artis sekalipun, tapi jangan deketin aku lagi. Aku capek sama permainan kamu. Aku emang cuma jadi permainan kamu selama ini.” Tegas Stevan.

Tangan kekar Stevan melepas genggamanku. Matanya menyorot sinis menusuk retina mataku. Aku tidak pernah melihat Stevan semurka ini sebelumnya. Aku juga tak pernah melihatnya memutar punggung dan menjauh dariku. Dia selalu mengejarku. Dia memujaku seolah aku adalah satu-satunya perempuan yang pernah dicintainya. Dia menyanjungku tinggi-tinggi. Dia tidak pernah bersikap seperti ini.

Dan lagi, apa katanya tadi? Ingin menjadi model? Sejak kapan aku memiliki keinginan menjadi model sementara tinggi badanku saja tidak lebih dari 155 cm?

Cerpen Karangan: Amarta Shandy
Facebook: @amarta.shaddy

Cerpen Sang Koreografer (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tentangmu

Oleh:
Menyebalkan, Itulah satu kata yang bisa ku ungkapkan untuk menggambarkan apa yang ku rasakan sekarang. Hari ini di sekolah, Cerpen yang ku tulis di note pribadiku, tiba-tiba sudah terpajang

Prinsip

Oleh:
Aku mencintainya, sangat mencintainya. “Walau sepihak”, tandasku pada hati yang seenaknya menciptakan rasa itu. Ditambah hujan dari mataku enggan sepakat untuk tak nampak di hadapan orang lain. Guess where

I’ll Never Forget You

Oleh:
“Yuri!! Awaaaaasss!!!” Teriak seseorang dan tiba-tiba bug! Aku merasakan sesuatu menabrakku. Aku tersungkur. Aku merasakan sesuatu mengalir dari kepalaku. Cairan berwarma merah segar. Lalu semuanya menjadi gelap. Aku membuka

2 Days

Oleh:
Di sebuah kamar, seseorang sedang melamun di atas tempat tidurnya sambil memegangi ponselnya. Suara orang itu terdengar “Aku belum tahu persis perasaanku, 7 bulan ini kau memberikan perhatian yang

The Last Song

Oleh:
“Candy! Candy! Candy!” Teriakan para fans gadis yang bernama Candy itu memenuhi gedung konser. Candy pun segera muncul di atas panggung. Dia tersenyum seraya melambaikan tangan pada fans-fans setianya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *