Sang Koreografer (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 5 June 2017

Kuhela napas dalam-dalam sambil mengamati langit-langit ruangan. Suaraku yang menyanyikan lagu mellow tentang cinta segitiga memenuhi telingaku melalui earphone. Aku tidak sedang menghayati lagu baruku ini. Pikiranku dipenuhi oleh bayangan Stevan saja. Sejak perdebatan kami, lelaki bertubuh bongsor itu selalu menatapku seperti menemukan seekor kecoa di bawah meja. Aku tidak tahu apa yang salah denganku. Aku tidak pernah berusaha membenci Stevan bahkan aku sangat menyukainya.

Aku tak peduli sekalipun Stevan bukan kalangan orang terkenal sepertiku. Dia model pemula yang belum melejit di permukaan. Belum banyak orang mengenalnya. Belum banyak produser yang meliriknya untuk menjadi model video klip. Hanya 2 kali dia muncul sebagai cover boy sebuah majalah fashion. Eddy Coren jauh lebih mengesankan dibanding Stevan meskipun mereka berada pada agensi yang sama. Jika aku memang ingin menjadi model, seharusnya aku menerima Eddy saat dia menyatakan cinta padaku di sela-sela shooting video klip salah satu single andalanku. Nyatanya aku lebih tertarik pada Stevan, model yang baru beberapa bulan bergabung dengan agensi milik Wiryawan Group.

Kuhela napas sekali lagi sambil mengatupkan mata. Lagu mellow sudah berganti dengan lagu yang lebih energic. Biasanya aku tak bisa diam saat lagu-lagu semacam ini menyentuh gendang telingaku. Terlebih lagi karena aku yang membawakan lagu itu, setiap gerakannya melekat kuat dalam ingatanku. Entah kenapa aku tak tertarik menari detik ini. Aku tak peduli konserku yang semakin dekat ditambah Pak Gory yang terus melambaikan tangan menagih pembuatan video klip baru yang memang hendak diisi dengan tarianku seutuhnya. Dalam masalah itu, aku bisa saja menyerahkan semua pada Kak Inggit, managerku.

Aku merasa ada tiupan menerpa wajahku membuatku membuka mata. Betapa terkejutnya aku karena Kak Ryan tepat berada di atasku, dan posisinya itu…
“Kak Ryan!!! Orang bakal mikir kalau Kak Ryan mau perk*sa aku!!!” Pekikku sambil mendorong tubuhnya untuk menjauh tapi itu sia-sia saja. Bobot Kak Ryan 2 kali lebih berat dibandingkan denganku. Tenagaku yang kecil tak akan sanggup menggeser tubuhnya sejengkal pun.
“Hei, hei! Gue sama sekali nggak nyentuh lo!” Sahut Kak Ryan menyaingi suaraku sambil tertawa nakal.
“Minggir, nggak?!?! Nggak lucu, Kak!!” Seruku geram.
Kak Ryan terkekeh saja sambil memukul keningku dengan keningnya. Sesaat kemudian dia memutar tubuh dan berbaring di lantai linoleum bersamaku. Kulepas earphone dari telingaku. Mataku kembali menatap langit-langit ruangan dengan gamang.

Bertemu dengan Kak Ryan membuatku menduga-duga jika Kak Ryan-lah yang memfitnahku di depan Stevan hingga laki-laki berambut ikal itu memutuskanku. Entah bagaimana seharusnya aku berbicara dengan Kak Ryan. Bagaimanapun juga dia adalah guru koreografi untukku. Dan semua murid haram hukumnya memaki guru seberapa buruk pun sikap guru tersebut.

“Kak Ryan udah lihat infotainment?” Tanyaku membuka suara.
“Tentang lo yang ditolak Stevan?”
Aku menganggukkan kepala. Tapi sesaat kemudian aku menggelengkan kepala
“Aku diputusin, bukan ditolak.” Ralatku.
“Trus rencana lo selanjutnya?” Tanya Kak Ryan sambil membuat bantalan kepala dengan kedua tangannya.
“Aku nggak tahu. Aku nggak akan heran kalau kursi penonton nyaris kosong waktu aku nyanyi.” Jawabku pelan.

Kedua tanganku kusibukkan untuk memainkan kabel earphone agar aku bisa mengendalikan diri untuk tidak memukul Kak Ryan. Belum tentu semua hal buruk ini bersumber dari Kak Ryan.

“Nggak semua orang berpikiran sama seperti media massa. Fans lo banyak. Mereka dukung lo apapun keadaan lo.” Hibur Kak Ryan yang terdengar sia-sia saja.
“Haters juga semakin banyak.”
“Hampir semua penyanyi atau artis selalu punya fans dan haters. Jangan terlalu diambil hati.”
“Apa Kak Ryan juga tahu apa alasan Stevan mutusin aku?” Tanyaku lagi.
“Karena lo jadi model.” Jawab Kak Ryan diikuti senyuman sinisnya. “Gue yakin itu cuma bisa-bisanya netizen aja.”
“Bukan. Stevan emang bilang gitu, Kak.” Ucapku semakin pelan. Kak Ryan menoleh cepat ke arahku.
“Lo serius manfaatin Stevan buat jadi model?” Tanya Kak Ryan terkejut.
“Aku yakin ada yang nuduh aku di depan Stevan. Aku cinta sama Stevan, nggak ada alasan serendah itu. Aku cinta dia. Udah.” Tegasku.

Kak Ryan memiringkan badan sambil sedikit menyangga dengan sikunya. Laki-laki berkulit coklat itu menatap wajahku lekat-lekat. Semakin Kak Ryan menelusuri wajahku dengan tatapannya, mataku terasa semakin basah.

“Siapa yang nuduh lo? Apa lo tahu orangnya?” Tanya Kak Ryan. Kali ini intonasi suaranya terdengar lebih lembut, tidak sinis seperti biasanya.
“Kak Ryan nggak tahu?”
“Gue siapin 1 pukulan setelah gue tahu siapa orangnya.”
Kuseka air mataku yang meleleh turun. Bulir dari mata lain jatuh menyusuri pipiku. Kuseka kembali namun bulir yang lain terus turun. Tak kuat menahan tangis, isakanku terdengar kemudian. Ini benar-benar menyebalkan.

Kuraih bantal sofa di sampingku dan kupakai untuk bantalan kepalaku agar mataku bisa menatap ujung sepatu Boots yang kukenakan. Ketika kecil, aku semangat mengikuti lomba menulis puisi karena iming-iming hadiah sepatu sekolah yang lucu. Ayahku memang mampu membelikan sepatu yang sama tapi aku ingin memakai sepatu kemenanganku. Pasti akan membanggakan ketika seseorang bertanya asal-usul sepatu dan aku menjawab dari kemenangan menulis puisi.

Aku menulis 5 puisi sekaligus dan kebingungan menentukan mana yang harus kuserahkan pada panitia. Ibuku menyarankan salah satu di antaranya yang segera kuturuti. Sayang sekali aku gagal mendapatkan juara utama. Aku hanya bisa puas menjadi juara harapan 2 dengan seperangkat Crayon sebagai hadiahnya. Meskipun aku mendapat hadiah sepatu yang sama dari Ayah, aku merasa kurang puas. Aku tetap saja kalah.

Aku melempar-lempar ponsel ke atas yang kutangkap dengan baik. Kulempar kembali dan kutanggap lagi. Aku ingat saat aku mendaftar sebagai mayoret dalam Marching Band SMP namun gagal karena tinggiku tidak memenuhi syarat. Bella yang berhasil lulus sedangkan aku diminta menjadi penari. Padahal saat tes melempar tongkat, aku tak pernah menjatuhkan tongkat sekali pun. Aku kalah dari Bella karena masalah fisik.

Aku berhenti melempar ponsel dan meletakkannya di atas perut. Bayanganku melayang saat memasuki SMA. Semua murid baru harus menjalani orientasi melelahkan beserta berbagai jenis game yang menyusahkan. Ketika game mengumpulkan ranting dan membuat kerangka angka grup, aku membuat kesalahan kecil. Ranting yang seharusnya ditancapkan di tanah secara vertikal, justru kuletakkan secara horisontal. Lebih buruk lagi hal itu kulakukan di detik-detik terakhir permainan, tak ada waktu untuk memperbaiki kesalahan. Hukuman diberikan bukan untukku saja melainkan untuk semua rekan satu tim.

Saat awal masuk kuliah, aku banyak menulis puisi yang kukumpulkan menjadi 1 dalam binder. Saat dosen menerangkan sesuatu, aku menulis puisi. Saat rapat di Himpunan pun aku menulis puisi. Saat diam di perpustakaan ditemani buku-buku Public Relation aku sempat menulis puisi. Tak ada yang menyadari jika aku sedang menulis puisi. Mereka menyebutku sebagai mahasiswa yang gemar mencatat.

Saat lagi-lagi aku menyerahkan salah satu puisi buatanku untuk dilombakan, juara harapan pun tak tersentuh olehku. Aku tidak terlalu malu karena belum ada yang menyadari hobby itu. Hanya saja, rasa kecewa itu terus hinggap dalam hatiku. Aku menulis puisi seperti makan dalam sehari. Dimanapun dan kapanpun aku selalu menulis. Tapi nyatanya, aku tetap menjadi orang yang gagal. Menyukai saja bukan alasan jika aku mahir di bidang itu. Kenyataannya aku membutuhkan banyak perbaikan dalam hal menulis puisi sekalipun aku melatih kemampuanku secara otodidak sejak kecil. Sejujurnya, kekalahan sudah menjadi bagian dari hidupku.

Aku tak pernah berpikir jika aku akan menjadi penyanyi seperti saat ini. Aku memang suka menari, tapi menyanyi adalah hal yang tak pernah terlintas di benakku. Aku tak pernah bernyanyi kecuali ada lagu favoritku yang sedang diputar. Sekali pun tak ada minat untuk bergabung dalam band sekolah atau kampus sebagai singer. Beberapa orang memuji suaraku saat kebetulan mendengarku bernyanyi yang kutanggapi dengan ucapan terima kasih saja. Aku tidak pernah serius bernyanyi sampai Geo memohon padaku untuk menyelamatkan Band-nya di kompetisi tingkat SMA se-provinsi. Mereka sampai di babak final namun Andrea terkapar di rumah sakit karena Typhus. Siapa yang menyangka jika ternyata salah satu jurinya adalah Pak Gory?

Kak Ryan dan Kak Inggit masuk ke dalam studio. Aku hanya melirik sekilas lalu berpura-pura sibuk mengutak-atik ponsel. Aku tak ingin mereka menyangka aku sedang melamun di dalam studio walaupun itu memang benar. Terlebih aku tahu siapa Kak Ryan.

“Kamu nggak apa-apa, Fer?” Tegur Kak Inggit sambil menyodorkan sebotol minuman dingin untukku. “Masalah Stevan udah aku beresin. Kamu nggak perlu khawatir apa-apa lagi. Fokus aja sama penampilan kamu nanti.”

Aku tersenyum sambil bangun dari tidurku. Kuterima botol minuman dari tangan Kak Inggit. Sesaat aku melirik Kak Ryan sambil tersenyum tipis. Hanya menduga saja apakah dia akan melarangku meneguk minuman yang disodorkan oleh manager-ku?

“Stevan gimana?” Tanyaku setelah meneguk sedikit isi botolku.
“Nggak perlu pikirin dia lagi. Semua itu cuma cara dia buat naikin popularitas dia. Dia pengen dikenal dengan cara macarin kamu. Ada salah satu temen yang rekam pertengkaran kalian dan itu jadi hot news di social media sampai wartawan tahu.” Sahut Kak Ryan sambil menarik kursi di depan Sound System.

Aku mengangguk kecil sambil membuat seulas senyum hambar. Sejak bertengkar dengan Stevan dan skandalku terekam kamera, aku berpikir jika lagi-lagi aku akan gagal menjadi seorang penyanyi. Aku masih merasa beruntung karena memilih jurusan Public Relation di universitas. Setidaknya, setelah sempat mengecap dunia hiburan, aku tahu rumah produksi mana yang mau menerimaku menjadi penyiar seandainya karirku sebagai penyanyi benar-benar kandas. Sejak putus dengan Stevan, semua itu benar-benar aku pertimbangkan dan aku pikirkan dengan cermat. Aku boleh gagal sebagai penyanyi, tapi aku harus membuat banyak rencana sebagai timbal balik kegagalanku. Semua orang, termasuk aku, pasti tidak ingin dicap sebagai loser sepanjang helaan nafas.

“Hei. Perlu sesuatu?” Tegur Kak Inggit khawatir.
“Salonnya udah dateng?” Tanyaku.
“Udah aku telepon. Katanya lagi kena macet. Aku juga udah siapin pakaian kamu. Pokoknya kamu tahu beres aja.” Jawab Kak Inggit menenangkan.
“Makasih banyak ya, Kak.”
Kak Inggit mengangguk sambil tersenyum.
“Kita masih punya banyak waktu.” Timpal Kak Ryan. “Mau cari angin sebentar?”
“Nggak usah. Aku mau di sini aja. Aku lagi pengen sendirian. Nggak apa-apa ya, Kak?” Pintaku berusaha tidak menyinggung mereka.
“Jangan terlalu banyak pikiran. Sebentar lagi kamu harus manggung. Kondisi kamu harus bener-bener fit.” Tutur Kak Inggit sambil mengusap lenganku.
“Aku ngerti.” Jawabku pelan berusaha tersenyum.

Kak Inggit menepuk kepalaku sejenak sebelum bangkit dari sampingku diikuti Kak Ryan. Aku kembali berbaring di sofa. Kuletakkan botol minumanku di meja lalu kembali memejamkan mata.

Aku ingin tidak memikirkan apapun tapi bayangan masa depanku kembali berkelebat di otakku. Konser hari ini bisa saja akan menjadi konser terakhirku. Pihak management memang berhasil menghapus image burukku sebagai penjilat model ganteng, Stevan. Tapi aku sudah banyak melihat bagaimana artis dan penyanyi yang kehilangan job karena skandal buruk. Mungkinkah aku termasuk di antaranya?

“Hei.”
Aku membuka mata kembali. Kak Ryan berdiri di samping sofaku. Tadinya kukira dia keluar bersama Kak Inggit. Aku menghela napas sejenak lalu duduk kembali. Aku tidak ingin Kak Ryan merangkak di atasku seperti dulu hanya untuk membuka mataku dengan hembusan nafasnya.
“Masih banyak waktu buat dance.” Ucap Kak Ryan membuatku tercengang.
“Dance?”
“Iya. Dance. Lo suka nari, ‘kan?”

Aku masih tidak mengerti dengan sikap Kak Ryan hari ini. Dia meraih ponselku dan mengutak-atik sebentar. Dendangan lagu Memoir yang menjadi single pertamaku saat Pak Gory merekrutku memenuhi seisi ruangan. Musik beat dan sedikit jazzy sebagai latarnya memang asyik diselingi dengan tarian.

Kak Ryan mendahului mengambil tempo lalu menggerakkan kakinya menyilang kiri dan kanan bergantian atau disebut juga dengan gerakan Top Rock. Beberapa kali dia melakukan Side Step dan Power Step sepanjang permulaan musik. Laki-laki berambut gondrong itu menatapku seolah mengajakku untuk bergabung. Aku tersenyum geli sambil menggeleng-gelengkan kepala. Aku baru berdiri saat tiba saatnya menyanyi. Aku menyanyi sambil melangkah mendekati Kak Ryan yang terus menari sesuka hatinya.

Aku tahu Kak Ryan hanya berniat menghibur tapi aku mengikutinya. Terlebih karena musik yang dimainkan adalah musik favoritku yang membuatku terkenang pada Kak Vanya. Kuimbangi gerakan Kak Ryan tak kalah seru. Memang berbeda sekali dengan gerakan yang kupelajari dengan Kak Vanya. Namun ternyata cukup mengasyikkan saat menggerakkan tubuh secara spontan tanpa peduli ritme kaki atau move 1 sampai 108. Baik aku atau Kak Ryan bisa battle dance dengan unik.

Aku tak lagi fokus dengan menyanyi. Bahkan selanjutnya aku hanya menari saja tanpa mengucapkan sepatah bait pun. Hal yang paling menarik dari dance kami saat itu adalah ketika aku dan Kak Ryan melakukan Tutting Dance. Setiap ketukan nada, tubuh kami bergerak energic dan terhenti seperti patung hingga ketukan selanjutnya. Kak Ryan memberi aba-aba siapa bergerak lebih dulu dan siapa berhenti. Saat aba-aba untuk bergerak bersama, hampir saja aku menginjak kaki Kak Ryan. Aku tertawa lucu karenanya. Koreografi kami memang tanpa latihan dan spontan terjadi. Jika aku dan Kak Ryan menari di atas panggung seperti ini, tak akan pernah ada yang bisa menirukan kami.

Aku tertawa puas saat lagu selesai. Kak Ryan mengakhirinya dengan gerakan Drop bertumpu di lengan kirinya. Aku cukup menjatuhkan diri dengan pose berbaring santai dan menumpu kepala dengan tangan kanan. Kak Ryan ikut tersenyum geli merasakan sisa-sisa suka cita kami karena menari.

“Ada berapa move buat lagu ini?” Kelakarku tanpa mengubah posisiku.
Kak Ryan menepuk-nepuk kedua tangannya lalu bersila di depanku.
“132.” Jawabnya asal.
“Oh ya?” Gelakku sambil ikut bersila di depannya. “Apa nama koreo-nya?”
Kak Ryan mengangkat bahu. Aku suka melihat laki-laki berbadan tegap ini tersenyum tulus. Sepertinya jarang sekali aku melihatnya tersenyum sesenang ini. Menari memang hal yang sangat menyenangkan.

“Lo udah lebih baik?” Tanya Kak Ryan sambil menekuk kakinya untuk menumpu kedua tangannya. Aku mengangguk sambil tersenyum.
“Kak Ryan emang koreografer terbaik. Aku emang suka dance. Aku nggak tahu kalau Kak Ryan bisa semudah ini bikin mood-ku bagus lagi.” Ucapku sambil menepuk punggung tangannya. “Makasih banyak, Kak Ryan.”
Kak Ryan balas tersenyum lalu menggenggam kedua tanganku dengan erat. Aku juga tak pernah melihatnya seperti ini. Sikapnya terasa begitu hangat dan manis.

“Jadi lo nggak keberatan karena gue yang ngajarin semua gerakan lo, ‘kan? Lo nggak akan bandingin gue dengan Vanya lagi, ‘kan?”
“Kalian berdua sama-sama hebat.” Ucapku sambil hendak mengacungkan jempol tapi batal karena Kak Ryan masih menggenggam tanganku.
“Thanks.” Ucap Kak Ryan. “Masih banyak gerakan yang belum gue ajarin ke lo.”
“Ada tambahan buat penampilan gue hari ini?” Tanyaku antusias.
“Kalau lo bisa pelajarin dengan cepat.” Sahut Kak Ryan membuat syarat.
“Ada berapa move?”
“1.” Jawab Kak Ryan membuatku memicingkan mata. “Semakin banyak kalau lo bisa kembangkan sendiri.”
“Kasih tahu dasarnya. Aku pasti bisa.” Sambutku bersemangat sambil hendak beranjak berdiri tapi Kak Ryan menahanku.
“Duduk juga bisa.”

Aku tak membantah. Memang kadang-kadang jika Kak Ryan mengoreksi gerakan tanganku, kami melakukannya dengan duduk berhadapan seperti sekarang. Tentu saja dilakukan dengan kedua tangan bebas, bukan saling bertautan seperti saat ini hingga membuatku bingung.
“Oke. Jadi aku harus mulai darimana?” Tanyaku menunggu.
“Ikutin aja.” Jawab Kak Ryan sambil lebih mendekat.

Napasku serasa tercekat ketika Kak Ryan mencium bibirku. Untuk beberapa saat aku meyakinkan diri bahwa kami sedang berciuman. Tapi kenapa tiba-tiba sekali? Kenapa harus mencium bibir? Dan kenapa aku tidak bisa bergerak? Tubuhku terasa kaku sekali, padahal beberapa menit yang lalu masih cukup lentur untuk menari. Mungkinkah karena kedua tanganku yang digenggam erat oleh Kak Ryan? Ataukah karena hatiku sendiri yang tak ingin menghindar?

“Lo bisa terima ini juga enggak. Kalau terima, ikutin gue.” Desis Kak Ryan.

Aku harus apa sekarang? Apa aku harus membalas ciumannya? Kak Ryan melanjutkan ciumannya lagi sementara hati dan otakku membuat banyak pertentangan juga penerimaan. Kak Ryan hanya menciumku saja tanpa melakukan hal lainnya. Rasanya dadaku berdegup terlalu kencang. Seharusnya aku menghindar, tapi aku tak bisa. Tanganku terlepas dari Kak Ryan dan entah siapa yang menggerakkannya melingkar di leher Kak Ryan. Aku tidak tahu apakah aku sudah melakukan hal yang benar. Sepertinya aku sudah gila karena berpindah hati dengan cepat. Tapi ini… Kak Ryan!

“Fer, salonnya udah…”
Kak Inggit tidak meneruskan ucapannya. Mulutnya menganga tapi dia menutup dengan sebelah tangan. Buru-buru aku memisahkan diri dari Kak Ryan sebelum aku terbuai terlalu jauh. Mukaku pastilah memerah seperti kepiting rebus saat itu. Sedikit tergesa aku membenahi pakaianku yang sedikit kusut lalu bangkit menghampiri Kak Inggit. Sesaat kemudian aku berbalik lagi untuk meraih ponsel di atas meja. Aku melewati Kak Inggit begitu saja di ambang pintu yang terbuka. Aku tak ingin menoleh ke belakang. Benar-benar tak ingin.

Meski demikian, raut wajahku tak bisa menipu. Seulas senyum tersungging di wajahku hingga ruang ganti. Kusentuh bibirku sendiri dengan tak percaya. Aku benar-benar sudah gila.

Cerpen Karangan: Amarta Shandy
Facebook: @amarta.shaddy

Cerpen Sang Koreografer (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Catatanku di Perjalanan Singkat Waktu

Oleh:
Perjalananku ke Semarang hampir sampai, sepuluh menit lagi Stasiun Tawang akan tampak. Malam terus bergulir, sepi.. dan kesepian ini mengikutiku, membiaskan perjalananku yang lalu-lalu, meniti galau yang lama ku

My First Love is Erica (Part 2)

Oleh:
Adrian berjalan dengan wajah yang lesu dan tertunduk, namun dalam hatinya ia sangat puas bisa membantu temannya bisa dekat dengan cewek yang disuka, meskipun harus merelakan perasaannya sendiri. Sesampainya

Surat Cinta Di Radio FM

Oleh:
Bruak!! Semua buku pelajaran yang aku bawa, jatuh berceceran ke lantai. Entah siapa yang menabrakku, aku hanya fokus memunguti bukuku itu. “Oh, sorry Nadya, aku gak sengaja..” Ternyata Tristan

Vampir KW 2 Falling In Love

Oleh:
Sekali lagi ia tersenyum tanpa sebab. Sudah hampir satu jam ia di tempat ini. Duduk di bangku kantin paling pojok bersama segelas jus alpukat yang tinggal dua tegukkan lagi.

Mata Teduh

Oleh:
Senyum simpul merekah saat ku lihat mata teduh itu. Perasaan apakah ini, sungguh aneh terasa. Seolah rasa bahagia merengkuhku saat ku lihat mata teduh itu. Entah mengapa aku menyukai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sang Koreografer (Part 2)”

  1. winne chintia says:

    cerpennya bagus masih ada sambungan lagi nya???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *