Satu Kata, Kamu!

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 18 November 2017

Berdiri sejajar dengannya membuatku sedikit gugup. Yah meskipun bertahun-tahun aku memang selalu dengannya. “Lin, napa si?” Suaranya terdengar, tapi aku tetap diam melihat sorot matanya.
“Lin, haloooo, lin?” Dia mengibaskan tangannya di depan pandanganku. Deg! Aku melamun. Aku melamun. Lin sadar!
“apaan si tian anak mamiiiih” ucapku mengalihkan pembicaraan, aku.. aku tidak ingin dia tau. “Lin, denger ya, dari aku lahir, namaku Febrian bukan Tian. Dasar tukang ngarang”. Dia meninggalkanku sendiri.

Ya benar. Dia memang Febrian, dan aku senang memanggilnya tian. Menurutku itu seperti nickname khusus untuknya.
Sudah dari 5 tahun lalu aku mengenalnya, sejak kelas 1 smp. Rasaku muncul entah sejak kapan. Bukankan perasaan memang sulit ditebak?

Febrian berlari lagi ke tempatku. “weekend anak kelas mau pada ngecamp, kamu ikut nggak?”
“Oh mmm itu.. aku tidak ikut. Kalau kau mau pergi, pergi saja” jawabku terbata. Aku punya alergi dingin, dan entah kenapa aku ingin menutupinya dari Febrian. Aku tak ingin dia khawatir.
“Baik, aku akan ikut bersama mereka. Jangan nakal ya nona manis” dia mengacak rambutku lalu pergi.

Aku pernah berharap bisa memilikinya, tapi dia bilang saat senja waktu itu, bahwa aku adalah seseorang yang berarti dalam hidupnya dan merupakan sahabat terbaiknya. Aku mengerti sekarang, kejahatanku berupa pengharapan dan hukumanku adalah kekecewaan.

Senin pagi,
Nyatanya adalah kesenangan pelajar indonesia jika senin tanggalnya bercat merah. Bagaimana denganku? Oh tentu saja. Ini kemerdekaan, dan saat ini aku masih bergelung dengan selimut biru lautku.
Mama? Dia sudah ke kantor, jadi puaslah aku bernyaman ria di dalam kamar.

Tiba-tiba…
Tok.. tok… tok..
“Siapa?, mama kok balik lagi, ada yang ketinggalan ya?” Teriakku dari dalam.
Tok.. tok.. tok..
Menyebalkan sekali. Siapa pagi-pagi begini mengetuk pintu kamarku kalau bukan mama. Oh ya ampun benar-benar perusak acara mimpi.

Kubuka pinta perlahan lalu…
“When I see you face.. the whole world stay for awhile and youre a magic, just the way you are”
Febrian bernyanyi di hadapanku dengan petikan gitarnya dan… dan.. memegang setangkai bunga mawar. Oh.. ini mimpi. Lin bisakah kau bangun.

“Ti.. tian?”
“Hai lin, apa aku mengagetkanmu?”
“Mmh pasti aku belum bangun”
Kucubit keras-keras lenganku. Aaaaww… sakit.
“Kenapa? Ini bukan mimpi” febrian tersenyum. Dia… dia berbeda sekarang. Caranya tersenyum berbeda.
“a.. ada apa kamu ke sini?” Tanyaku masih tak percaya.
“Aku cuma pengen ngasih kau bunga, yah kayaknya gak pas, tapi aku usaha biar keliatan romantis”
“Ro… romantis, maksudnya?”
Aku benar-benar bingo.
“Aku jatuh lin. Aku jatuh sedalam-dalamnya jatuh. Dan aku baru sadar tadi malem, saat aku mikirin kamu. Ternyata aku jatuh cinta sama kamu, sahabat terbaikku 5 tahun lalu”

Ini seperti mimpi. Jangan ada yang membangunkan kalau begitu. Oh tidak, ini nyata Lin. Febrian, Tian si anak mamih itu jatuh cinta padamu. Ini yang kamu inginkan. Ini lin!

“Tapi… apa alasannya?”
Tanyaku penasaran
“Satu kata, kamu!”

Cerpen Karangan: Rezza Frastika
Facebook: rezza frastika
Masih pemula

Cerpen Satu Kata, Kamu! merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sakura dan Kamu

Oleh:
Alarm dipagi hari membangunkanku, hari ini aku akan melakukan perjalanan jauh. Aku akan pergi ke Negeri Matahari Terbit, Jepang. Pesawat yang kutumpangi cukup penuh dengan penumpang, mulai dari keluarga

Sleeping Beauty (Part 3)

Oleh:
“Alfi… kamu ngapain lagi kesini?” Tanyaku mulai emosi. “Aku nemuin partner spesial aku” Jawabnya yang mulai membuat darahku mengalir cepat. “Maksud kamu apa sih?” Tanyaku, tak mau berharap banyak

Ann

Oleh:
Pistol di genggaman Theo jatuh seketika. Sosok wanita impiannya mati karena peluru yang ia lepaskan 2 detik yang lalu. Sedangkan, Andrea terdiam. Mata perempuan di hadapannya sudah tak bercahaya

Itu Cinta…

Oleh:
“Aku tak mampu terpejam tanpa mengingat wajahnya yang secerah matahari terbit.” Mataku menerawang, menatap birunya langit. “Tidak juga bisa kulupakan senyumannya yang seindah mawar mekar,” lanjutku. Aku berakting, seolah

Lima Tahun Kemudian

Oleh:
Serasa baru kemarin dia meninggalkan aku di sini demi cita-citanya. Ternyata sudah lima tahun berlalu, dan itu artinya sudah 6 tahun hubungan kami berjalan meskipun dalam 5 tahun ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *