Say Thank You Please (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 3 November 2018

Apa yang kalian rasakan saat mempunyai kekasih seorang idol?
Bahagia?
Ingin pamer?
Atau seperti mimpi menjadi kenyataan?
Kita bisa menjadi populer, dielukan banyak orang, dan melihat kekasih kita tampil di atas panggung mewah.

Namun bagiku tidak!
Sakit…
Cemburu…
Iri…
Dan tentu saja, saat dia dielukan fans-nya,
Itu menjijikkan…

Namaku Gadis. Remaja biasa berumur 17 tahun. Tak ada yang spesial dariku. Atau dari aktifitasku. Sekolah, hang out, dan jalan dengan orang yang kucintai.

Haha… Ngomong soal itu, aku hanya pernah dua kali keluar dengan dia. Mungkin lebih enak kalau disebut dengan ‘kencan’.

Yah, dia populer, jenius dan sangat kaya. Entah iblis apa yang merasukinya hingga Ia mau menerima pernyataanku. Ah… Jadi sedikit nostalgia….

FLASHBACK ON!
“Sumpah, aku udah nggak kuat!” Seruku mencoba untuk mengeluarkan beban yang ada. Pelajaran hari ini benar-benar membuatku kual.
“Ini sih masih mending, daripada Pak David? Ganteng-ganteng, killer-nya minta ampun!” balas Tya pelan. Aku tahu dia juga sama kesalnya.
“Yah… Udah dijemput Abang. Sorry ya, Dis, kamu pulang sendiri jadinya!” Ucapnya saat melihat motor Kakaknya di depan gerbang.
“Alah, biasa aja. Ya udah, aku duluan ya!” Ucapku sambil melambaikan tangan.
“Hati-hati!” Pesan Tya sedikit berteriak.

Aku berjalan santai. Bersiul ria untuk menghapus kebosanan. “Eh, ada cewek cantik!” goda seorang pria. Ck, aku salah ambil jalan.
Pria itu mendekatiku. Membuatku mundur seiring langkah majunya. “Bapak mau apa? S-saya nggak kenal!” Aku menempis tangannya yang akan masuk ke dalam rok ku.
“Jangan galak dong, dek. Masa cewek cantik kayak adek nggak mau temenin saya?” tanyanya menggodaku.
“Nggak! Saya nggak mau sama Bapak gila!” teriakku. “Tolong! Tolong!”
“Lha, percuma aja dek teriak begitu. Daerah sini sepi, jadi nggak bakal ada yang lewat. Ketimbang suara adek habis, mending ikut abang aja,” Ucap pria itu.

Brak!
Pria itu jatuh. di belakangnya sudah ada anak laki-laki yang menatapnya bengis. “Udah tua bangka, masih aja godain cewek!” Desisnya. Tatapan tajamnya beralih padaku.
“Euh… T-thanks!” Lirihku.
“Cewek kayak kamu ngapain di sini, sih? Ck, bikin repot aja!” Ucapnya datar. Badannya membalik, hendak pergi dari sana.

“A-anu… K-kamu, Delon kan? Iya, kamu Delon anak 11-IPA 2, kan?” Tanyaku memastikan.
“Kalo iya kenapa? Kalo nggak kenapa?” Lagi-lagi dengan suara datar itu. Yah, nggak salah kalau anak sekolah bilang dia itu ‘Ice Prince’. Katena kenyataannya memang begitu.
“I-itu, aku… sebenarnya… Delon, please! Terima aku jadi pacarmu! Aku udah lama suka sama kamu, kalo kamu campakin aku nggak apa-apa! Yang penting kita pacaran!” Seruku nekat.
Aku memang suka sama dia dari dulu. Semenjak kelas 1. Semenjak dia belum populer kayak sekarang.

“Kamu yakin? Aku itu anaknya cuek, dingin, nggak pernah senyum, dan nggak romantis. Aku nggak mau buat hati cewek sakit. Jadi, pikirkan baik-baik.” Dia tak membalikkan badannya.
“Iya, aku terima. Aku nggak masalah kamu nggak pernah ajak aku pergi keluar. Aku juga nggak masalah kamu nggak perhatian, asalkan kamu izinin aku buat dekat sama kamu, itu udah cukup!” Balasku. Napasku terengah-engah karena terus berteriak
“Ya sudah, yang penting sudah kuperingatkan.” Balasnya sambil melangkah ringan.
“Hah? Jadi beneran nih? Kita pacaran?” Tanyaku memastikan.
Dia mengangkat tangannya. Memberi sedikit lambaian. “Asal jangan ada orang yang tahu,”
“Iya!”
FLASHBACK OFF

Aku mendengus pelan. Mengingat memori setahun itu, memperlihatkan betapa bodohnya aku.

Saat itu, aku tak mengerti sakit hati. Saat itu yang kupikirkan aku bisa memilikinya. Namun, tak ada yang berubah walau kami sudah pacaran. Tidak ada kata ‘kencan’. Berbicara pun tak pernah. Hanya sapaanku yang dibalas dengan anggukannya.

Pernah aku bertanya. Apa dia mencintaiku?
Dan yah, dia hanya berkata ‘tidak tahu’. Memang apa susahnya sih? Bilang ‘Ya’ atau ‘Tidak’ saja susah amat.

Namun, aku memiliki kenangan manis juga. Saat di hari ulang tahunku, dia mengajakku ke taman kota. Sekedar berjalan-jalan. Tapi itu sudah cukup.

Dia menerimanya. Walau hanya dengan wajah datar tanpa ekspresinya itu, aku sudah sangat puas. Karena aku tahu, kata ‘Terima Kasih’ itu sungguh mustahil untuk keluar dari mulutnya

Namun, lebih banyak duka yang dia berikan, daripada suka yang kurasakan.
Hatiku semakin remuk saat dia diberi tawaran menjadi seorang penyanyi. Lengkap sudah sakit ini.

Terkadang aku melihatnya tersenyum di layar kaca kamarku. Senyum yang tak pernah dia berikan kepadaku.
Aku iri.
Aku iri bagaimana dia memperlakukan seorang gadis selain aku. Berkata lembut seakan statusnya kini ‘single’. Tapi, aku bisa apa?
Ini kan karena kebodohanku sendiri?

“Hei, Dis!” Tegur Tya yang melihatku melamun
“Kamu kenapa sih? Ada masalah?” Aku menggeleng kuat menjawab pertanyaannya.
“Kayaknya kamu harus les akting deh, buat bisa bohong sama aku,” Pernyataan Tya sangat menancam di hatiku. Aku memang tidak bisa berbohong.
“Dia lagi?” tanyanya yang membuatku akhirnya mengangguk pasrah. “Ya ampun, Gadis! Dengar ya, Dis. Kamu itu cantik, kaya, walau kamu itu cerobohnya nggak ketulungan, tapi kamu pasti gampang dapet yang lain. Please, aku nggak mau lihat sahabatku ini murung terus!”

Aku menatapnya sendu. Memberikan sahabatku ini senyuman terbaik yang aku miliki. Berusaha tegar walau itu sia-sia. “Kasih aku sedikit waktu buat bertahan, ya!” Suaraku bergetar. Rasanya ada sesuatu yang ingin menerobos dari dalam.
“Terserah kamu, deh. Tapi kalau sekali lagi Delon buat kamu begini, aku bakal buat dia nggak bisa bernapas lagi!” tekan Tya dan pergi meninggalkanku di taman.

Acara hang out kami batal. Hanya karena ada seorang gadis yang membicarakan Delon. Berandai-andai jika Delon adalah kekasihnya.
‘Ketahuilah gadis muda, kau akan menyesal jika itu menjadi kenyataan. Sama sepertiku yang bodoh ini’

Aku membuka PCku dengan dia. Sekedar memberi semangat singkat.
Gadis Ramadya:
Hei, semangat ya buat performnya. Lagi-lagi aku nggak bisa hadir. Toh, kamu pasti bisa kan? Walau nggak ada aku? Delon, kamu ingat hari ini hari apa? Ah, mungkin kamu lupa. Makannya, jangan kerja terus dong! Pokoknya, lakukan yang terbaik!??

Send!

Aku menghela napas panjang. Memperhatikan tanggal di layar HP.

13 Februari 2017
Iya, aku nggak salah lihat tanggalnya. Hari ini, tepat satu tahun kita jadian. Nggak ada yang spesial memang. Dia semakin jauh dari gapaianku. Dan aku hanya diam tanpa tahu harus berbuat apa.

Kalau dipikir-pikir, nasibku ini miris sekali ya?

“KYAAA!!! ADA DELON!!!”

Degh!
Teriakan itu membuyarkan halusinasiku. Memandu kepalaku untuk mencari sumber suara itu.

Benar.
Irisku tak pernah salah. Aku melihat ‘Dia’ di sana. Dikerumuni fans-nya dan…
Bersama seseorang
Tidak, aku bukannya tidak kenal kenal dengan siapa perempuan di sampingnya. Tentu aku tahu!
Clarie Natasha, leader girlband Iconic girl. Setidaknya itu yang kutahu. Cantik memang, apalah aku yang tak sebanding dengan mereka.
Tapi bukannya dia sedang ada konser di sebuah Mall? Aku melirik jam tangan coklatku. Ah iya, aku yang terlambat mengirimkan pesanku.
Sekarang sudah jam 5 sore, bukankah konsernya itu dimulai jam 2 siang tadi?

Aku menghembuskan napas panjang. Kalau dipikir, aku bukan kekasih yang baik ya? Terlalu protektif dan selalu cemburu. Tapi hey, itu kan wajar?
Kalau disandingkan dengan mereka, aku mungkin seperti seorang pembantu di belakang anggota kerajaan.
Jangan kalian pikir aku tidak sakit sekarang.
Sangat.
Benci. Aku benci melihat dia dengan yang lain.

Aku memang egois. Tapi, apa aku tak boleh merasa cemburu? Aku sebenarnya sudah tidak tahan lagi. Tapi, hatiku memilih untuk bertahan sebentar saja. Iya, sampai waktuku di kota ini akan habis.

Aku merogoh sesuatu di tasku. Sebuah kotak kado yang kuhias seindah mungkin. “Mungkin, harus kukasih sekarang saja ya? Kalau nanti malam, dia pasti sibuk.”
Kubulatkan tekadku untuk menemuinya. Mempersiapkan fisik juga mental.

Author POV!
“P-permisi!” seru Gadis berupaya menerobos kerumunan.
“KAK DELON!” Teriaknya sekeras mungkin.

Set!
Seketika dia menoleh, seketika juga semua orang menatapnya penuh benci. Tapi, apa yang harus dia lakukan? Tak ada kata besok. Karena besok, gadis itu sudah tidak di sini.

“E-eh… Kak! Aku ini, fans berat Kakak lho. Jadi, hadiahku diterima ya!” Ucapnya dengan senyuman seperti biasa. Ya, sebuah topeng tersenyum bahagia seperti ketika bertemu idola pujaannya. Tapi, saat itu juga…

Tes…
Satu butir kristal turun dari mata melewati pipinya. Masa bodoh dengan apa yang orang lain katakan. Dia hanya ingin laki-laki itu menerimanya dan pergi dari sini. Itu saja!

Past!
Gadis merasa ada yang menempis tangannya. Membuat kotak berbalut kertas kado berwarna biru stripe putih itu terhempas ke jalan.

“Delon nggak akan mau menerima kado murahan itu, kau tahu?!” Ucapnya sinis.
“B-begitu ya? Maaf ya, mengganggu kalian.” Balasnya lirih. Ia menatap mata pujaan hatinya sendu. Mencoba tersenyum walau tak tahu seperti apa senyum yang terlihat.

Entah bagaimana waktu mempermainkan mereka. Rasa perih yang mendalam seakan tersalur kepadanya.
Hatinya sakit melihat perempuan yang dicintainya menunjukkan wajah itu. Ya, dia sangat mencintai perempuan yang tak jauh di depannya. Namun dia terlalu gengsi untuk mengatakan yang sebenarnya.

Delon paling benci melihat Gadis dengan topeng itu. Ia ingin melihat senyum tulusnya, bukan senyum palsu yang kini dia tampakkan.

Seketika hatinya memanas. Ingin rasanya memeluk gadis itu. Namun, dia tak bisa bertindak bodoh. Ada banyak orang di sini.

Ah, dasar Delon. Situasi kayak gini masih aja mikir image.

Entah. Gadis benar-benar rapuh. Dirinya hanya ingin lari sekarang. “Oh ya, ada hal yang mau aku katakan. Kalian cocok lho, kenapa tidak pacaran saja?”

Sesaat Dia melihat wajahnya terkejut. Sangat terkejut. Namun kembali datar seperti semula.

Namun itulah yang terjadi. Dalam hati Delon meringis. Apa mungkin, saat-saat itu akan terjadi? Saat Delon harus berpisah dengan seorang perempuan yang berharga baginya?

Dia tahu, sosok seperti Gadis mungkin hanya 1:1000 di dunia ini. Karena itu, dia tak ingin melepasnya.
Dibalik kecuekannya, sebenarnya pemuda itu selalu khawatir.

Setiap ada notif berupa pesan semangat, dia selalu tersenyum sendiri.
Dibalik sifat dingin dan datarnya, dia ingin mengatakan betapa dia mencintai dan menyanyangi sosok itu.
Dan di balik semua konser suksesnya, dia selalu bersyukur karena sosok itu selalu memberinya semangat. Mendo’akannya di manapun.

Rasa kecewa dan sesal selalu terpenuhi di lorong hatinya saat itu juga. Dia tak bisa bertemu dengannya. Tak bisa berkata walau hanya sebatas ketikan. Tak bisa menemaninya bahkan hanya untuk keluar komplek perumahan.
Pria itu mendengus kesal. Mencoba menahan rasa aneh yang ada di dadanya sekarang.

“Ahaha… Bagaimana ya? Sebenarnya sih kami memang sangat cocok. Tapi, mau bagaimana lagi ya? Kita fokus ke karir dulu,” Tangkas perempuan itu sambil tertawa hambar.
Memuakkan. Gadis sangat benci dengan orang seperti dia. “Cih!” Gadis itu membelalak saat mendengar suara itu. Jelas suara itu dari Delon. Decihan ini, hanya Delon yang memilikinya
“Oh ya, Kak Delon,” Panggil Gadis dan berjalan perlahan ke arahnya. Tepat saat mereka bersebelahan, Gadis menutup matanya. Menarik napas dalam-dalam. “Terima kasih atas waktunya ya, mungkin sudah saatnya kita akhiri semua ini!” Bisik Gadis tepat di telinga Delon. Lalu dengan santainya dia mengambil langkah ringan menjauh dari sana.

Deg!
Ini yang sangat Delon takutkan. Dalam ekspresi datarnya, pemuda itu ingin sekali memukul tembok saat ini.

Dipungutnya kotak itu, dan segera pergi dari sana.

Delon POV!
“Oh ya, Kak Delon,” Panggilnya dan berjalan ke arahku. Langkahnya semakin dekat hingga kini berada di sampingku. Dapat kudengar hembusan napasnya. “Terima kasih atas waktunya ya,”

Tolong, tolong jangan katakan hal yang paling aku benci. Tolong Gadis!

Jangan!

“Mungkin sudah saatnya kita akhiri semua ini,” ucapnya pelan.

Deg!

Perasaanku tak menentu. Sedih, kecewa, marah, semua menjadi satu.
Aku tak tahu harus apa. Kini, mimpi burukku benar-benar nyata.

Kuambil kado darinya. Meninggalkan tempat ini. Aku tak peduli dengan semua bisikan itu. Segera alat gerak ini menuntun majikannya ke sebuah mobil hitam yang terparkir apik.

Aku menutup pintu mobil tak sabaran. Segera membuka isi kado itu.

Mataku memanas. Sebuah syal berwarna abu-abu muda tertata rapi di dalamnya.

Tanganku meraih syal itu. Menciumnya dalam kebisuan senja. Air mataku berlomba untuk keluar. Wangi ini, sama dengan aroma tubuhnya.

Mataku menangkap sebuah kertas berwarna biru. Mengambil dan membuka lipatannya. Membaca huruf demi huruf yang ada di sana. Isinya benar-benar membuatku tertawa dalam tangisan ini:

Hai, Delon!
Apa kabar?
Hm… Aku nanya kabar apa ya? Kabar kamu gimana? Karir kamu? Keluarga kamu?
Kalau cinta kamu gimana?
Hehe…
Aku terlalu berharap nih, sorry ya. Pokoknya jangan illfeel sama aku. Gini-gini aku sakit hati lho kalo kamu illfeel-in aku.
Yah… walau itu semua nggak sebanding dengan rasa sakitku selama ini.

Kamu tahu nggak sih? Aku tuh cemburu banget lihat kamu lembut ke perempuan lain. Soalnya aku kan, nggak pernah kayak gitu. Ah, aku bicara apa sih? Kan kamu pasti terpaksa. Sekali lagi sorry ya.
Eh, kamu tahu nggak hari ini hari apa? Yah… mungkin kamu lupa. Kan, kamu konser terus. Oke deh, karena aku pacar yang baik, aku kasih tahu ya! Hehe….

Hari ini itu…
ANNIVERSARY KITAAAA!!!! Iya yang pertama! Wkwkwkwk… Capslockku jebol nih. Soalnya aku seneng banget lho! Nggak nyangka bisa bertahan sama manusia es kayak kamu.

Eh, aku buatin hadiah lho! Pasti kamu udah lihat.
Gimana? Bagus nggak syal nya? Dua minggu aku begadang buat ngerajut ini lho. Kamu suka nggak? Aku harap kamu suka deh….

Tapi maaf, aku harus pergi. Tolong jangan tanya kenapa.

Sekali lagi, Happy First Anniversary ya Delon. Aku harap bisa pertahankan hubungan ini lebih lama lagi.

Semoga kamu terus sukses karirnya, diberi kesehatan dan kebahagiaan.

Dari,
Seseorang yang sangat mencintaimu,
Gadis Ramadya Arisanti.

Tubuhku bergetar. Apa maksudnya harus pergi? Aku harus tahu dari Gadis! Aku harus ke rumahnya!

Kulajukan roda empat ini ke tujuanku. Sedikit mengebut sambil mencoba tetap fokus.

Aku sudah di depan rumahnya. Menekan tombolnya berkali-kali. Ayolah Gadis, please buka pintunya!

Cekrek!
Mataku membelalak lebar melihat siapa yang keluar dari pintu itu.

“K-KAMU?!”

Cerpen Karangan: Akahoshi Natsumi
Blog / Facebook: Shabrina Zalfa Amalia

Cerpen Say Thank You Please (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Bahagia Memilikinya

Oleh:
Gita Casandra, biar lebih akrab panggil aja aku Gita. Aku berumur 15 tahun, aku duduk di bangku Smk kelas X dan aku perempuan berwajah mungil nan cantik, dengan rambut

Cinta Datang Saat Perpisahan

Oleh:
Hari ini adalah hari perpisahan di sekolahku. Hari ini aku akan resmi menjadi alumni dan melepaskan masa-masa putih abu-abu. Aku berharap ada hal hal spesial yang terjadi hari ini.

Bunga Terakhir

Oleh:
Di sebuah toko bunga berjejer beribu-ribu pot bunga berbagai ukuran yang berisi tanaman bunga berwarna-warni dengan berbagai jenis. “serangga kamu lagi apa?”. tanya seorang gadis kepada seorang pria yang

Dia

Oleh:
Ketika menatapnya dari jauh saja aku tersenyum, bagaimana jika aku memilikinya. Dia yang kukagumi, dia juga yang kucintai. Langit cukup mendung, angin bertiup dengan kencangnya seperti akan menandakan hujan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *