Sebuah Cincin Penantian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 14 August 2015

Malam pun semakin larut. Aku baru saja selesai mengerjakan tugasku. Sebagai seorang guru biologi di sebuah SMA, aku harus menyiapkan materi untuk besok. Tak sengaja aku menjatuhkan sebuah kotak. “Kotak apa itu?” pikirku.

Oh iya, aku baru ingat. Bukankah kotak itu hadiah dari Ryan. Ia memberikannya padaku untuk kenang-kenangan, sebelum kami berpisah 10 tahun yang lalu. TaPi sampai sekarang, aku sama sekali belum pernah membukanya. Apa isinya pun aku belum tahu, karena setelah aku menerimanya, aku langsung menaruhnya di laci dan lupa membukanya sampai sekarang.

Aku pun mengambil kotak itu dan dengan perlahan-lahan aku membukanya. Setelah aku membukanya, ternyata isinya adalah sebuah cincin, cincin emas putih dengan hiasan permata yang angat indah. Di kotak itu aku juga menemukan sebuah surat, yang isinya,

“kau simpan cincin ini baik-baik sampai aku kembali. Aku akan selalu merindukanmu,”

Aku sedikit terharu sekaligus jengkel setelah membaca isi surat yang begitu singkat. “Kembali, memangnya kapan kau akan kembali?” pikirku sambil terus memandangi isi surat itu.

Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menunggunya kembali. Menunggu seseorang yang selama ini kurindukan, Ryan. Ia adalah teman sekaligus tetanggaku, kami berteman dari kanak-kanak sampai kami SMA.

Teringat 10 tahun lalu saat kami berpisah. Saat itu kami masih SMA. Kami berpisah karena orangtuanya dipindah tugaskan keluar kota. Dulu, kami selalu bermain dan belajar bersama, senang dan sedih kami lalui bersama. Jika ada sesuatu yang kami tidak tahu kami pasti mendiskusikannya bersama. Bagiku dia adalah teman yang paling bisa membuatku tenang, terlebih ketika aku sedang ada masalah. Ia juga satu-satunya teman yang bisa menyimpan rahasia, daripada teman-temanku yang sekarang ini.

5 tahun setelah kami berpisah kami masih bisa saling berhubungan, melalui sms maupun jejaring sosial. Kami saling memberi kabar dan saling berbagi pengalaman. Tetapi 5 tahun belakangan ini aku tidak bisa lagi menghubunginya. Nomor handphonenya tidak aktif dan akun facebooknya pun mati. Tidak ada yang bisa aku lakukan sekarang ini. Bagaimana kabarnya dan sekolahnya? Tetapi sekarang aku selalu mencoba untuk melupakannya.

Cuaca masih begitu dingin. Embun berjatuhan dari daun-daun ke tanah. Burung-burung berkicauan. Matahari masih tidak begitu tinggi. Sungguh pagi yang sangat indah. Setelah mandi dan sarapan, aku berniat untuk pergi ke swalayan untuk membeli kebutuhanku.

Setelah sampai di gerbang depan rumah, aku dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba saja menutup mataku. Awalnya aku tidak tahu siapa. Tetapi setelah agak lama aku amati, ternyata, Ryan. Benarkah itu Ryan yang selama ini hilang entah kemana kini sudah kembali? Sekarang ia jauh labih tinggi dan tampan.

“hey kenapa kau diam saja, seharusnya kau mempersilahkan tamumu ini masuk,” Katanya. Suaranya juga berubah.
“kau. Kenapa kau kembali?” kataku.
“jadi kau mengusir tamu yang sangat tampan ini, iya baiklah aku akan pergi,” Katanya dengan muka cemberut yang aku tahu itu dibuat-buat.

Aku paham sifatnya, terkadang ia terlihat serius, menyebalkan tapi ia kadang bersikap seperti anak kecil yang manja. Aku pun mengajaknya masuk. Setelah lama kami berpisah, kami bercerita banyak hal, tentang pengalaman, serta kasibukan kami.

“Apakah cincinnya masih ada?” tanyanya.
“cincin, tidak. Cincinnya sudah tidak ada lagi aku sudah membuangnya 5 tahun lalu” kataku bercanda.
“apa, jadi, jadi kau membuangnya begitu saja?” katanya dengan terkejut dan marah.
“iya,” jawabku enteng.
“kenapa kau membuangnya, padahal aku berharap kau masih menyimpannya sampai aku kembali” Katanya dengan sedih.
“tidak, Ryan aku hanya bercanda, cincinnya masih ada, memangnya kenapa?” kataku terus terang.
“ah, tidak, yang penting masih ada. Lia apakah nanti malam kau ada acara?”
“acara. Em… sepertinya tidak ada”
“baiklah nanti jam 7 malam aku akan mejemputmu”
“menjemputku, untuk apa, kemana?”
“sudahlah, sekarang aku mau pulang. nanti aku jemput ya.”

Tepat jam 7 malan Ryan menjemputku dengan mobil putih mewahnya. Ternyata Ryan mengajakku jalan-jalan malam ini. Tepat di sebuah taman, aku tidak menduga ini akan terjadi. Jantungku berdetak kencang, saat ia menyatakan sesuatu itu padaku. Sesuatu yang selama ini belum pernah aku pikirkan.

Sesuatu yang selama ini belum pernah aku impikan sebelumnya. Ia berlutut padaku. Ia meminta izin padaku untuk menjadi pasangan hidupku. Aku bingung harus berkata apa. Jantungku berdetak dengan sangat cepat. Hatiku bimbang. Pantaskah aku untuknya? Padahal selama ini aku hanya mengangapnya sebagai teman sekaligus sahabat. Tetapi kenapa Ryan kali ini.

Tetapi pada akhirnya aku mengatakan “iya” padanya dan Ryan pun tersenyum padaku.

Cerpen Karangan: Hastarika Purwitasari
Facebook: Hastarika Purwitasari

Cerpen Sebuah Cincin Penantian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Puisi Yang Sering Kamu Ledekin

Oleh:
Dia Sebuah anugerah Tuhan yang terindah jika aku memilikinya. Namun aku tak dapat meraihnya. Aku hanya bisa memilikinya dalam angan. Dia yang terlalu dekat. Dia juga yang terlalu jauh.

Pengorbanan Cinta Sejati

Oleh:
Aku termenung di kamarku. Menangisi keadaanku saat ini. Bagaimana tidak, seorang yang aku cintai pergi meninggalkanku. Aku mengambil sebuah figura dan ku lihat foto di dalamnya. Aku mengingat bagaimana

Kebahagian Itu Sederhana

Oleh:
Namaku Ifa, saat ini aku berusia 24 tahun. Aku memiliki sahabat namanya Ardan, saat ini dia berusia 26 tahun. Ardan dan aku bersahabat sejak enam tahun yang lalu. Ardan

Cuplikan Masa Lalu

Oleh:
Mataku terlalu asik mengikuti sebuah bola merah yang dikejar kejar 10 orang anak SMA yang wajahnya penuh keringat. Mereka sangat bergembira berlari dari sudut lapangan ke sudut lain. Sore

Jackpot

Oleh:
Tak terasa sudah 3 tahun setelah kepergiannya. Sudah 3 tahun pula aku menyimpan kesedihan ini. Sebuah kesedihan yang mempengaruhi hidupku. Kalau kata pepatah, sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Ya,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *