Sebuah Lagu untuk Hafidh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sejati
Lolos moderasi pada: 20 May 2017

Krrriiinnnggg..
Suara bel panjang yang menandakan jam masuk sudah nyaring terdengar, juga membuatku harus terpaksa menyudahi alam mimpi yang baru beberapa saat saja kudatangi. Berat sekali ku mengangkat kepala yang sedang terbenam di atas meja dengan beralaskan tas karena mataku masih ingin terus terpejam untuk melanjutkan alam mimpiku itu. Tapi, sentuhan tangan seseorang yang menyentuh bahuku dengan lembut mengharuskanku membuka mata dan mengangkat kepalaku.

“Sepertinya kamu mengantuk sekali. Memangnya tidur jam berapa semalam?” Bibir merahnya yang tipis bergerak pelan saat mengatakan itu agar aku bisa mengetahui apa yang dia ucapkan karena aku tidak bisa mendengar suaranya.
Sejak lahir aku Tuli. Aku tidak bisa mendengar suara orang-orang yang kusayangi dan yang menyayangiku yang ada di sekelilingku, terutama suara ayah dan ibuku. Sebenarnya aku bisa mendengar, tapi hanya mendengar suara-suara tertentu seperti suara bel tadi. Sementara suara ucapan manusia aku tidak bisa mendengarnya karena suaranya lebih kecil dari suara bel yang keras, dan dengan cara membaca gerak bibir seseorang seperti itulah aku bisa mengetahui apa yang orang lain katakan padaku.

“Semalam aku tidak bisa tidur. Aku mencoba mengerjakan PR Matematika dengan sendiri, namun tidak bisa. Aku kesulitan.” Aku menjawab melalui tulisan yang kutulis di buku catatan yang biasa kugunakan untuk menjawab setiap ucapan orang lain padaku karena aku juga tidak bisa berbicara sepertinya dan yang lain. Aku sulit berbicara, membutuhkan waktu yang lama untuk bisa menjelaskannya.
“Kenapa tidak mengatakannya padaku, aku pasti akan membantumu.” Ia berkata sambil menduduki kursi yang ada di samping kiriku yang merupakan tempat duduknya.
“Aku tidak mau terus menerus meminta bantuanmu, kamu sudah terlalu banyak membantuku.” Aku kembali menjawab dengan menuliskannya di buku catatan.
“Kamu ini bicara apa sih? Kita berteman, aku pasti membantumu karena teman, kan, saling membantu.” Untuk yang kesekian kalinya ia berkata demikian. Ya, ia selalu mengatakan itu setiap kali aku merasa tidak enak jika dibantu olehnya.

Semenjak kehadirannya sebulan yang lalu di kelas ini dia yang selalu membantuku di saat aku mengalami kesulitan dalam belajar. Aku bersekolah di sekolah ragular, bukan di Sekolah Luar Biasa untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus sepertiku karena sekolah yang kutempati ini sekolah inklusi.
Sekolah inklusi itu adalah sekolah yang menggabungkan layanan pendidikan khusus dan regular dalam satu sistem persekolahan, di mana siswa berkebutuhan khusus mendapatkan pendidikan khusus sesuai dengan potensinya masing-masing dan yang siswa regular mendapatkan layanan khusus untuk mengembangkan potensi mereka. Sehingga, baik siswa yang berkebutuhan khusus ataupun siswa regular dapat bersama-sama mengembangkan potensi masing-masing dan mampu hidup eksis dan harmonis di dalam masyarakat.
Di kelas, hanya aku sendiri yang merupakan siswa Tuli. Dengan keadaanku yang seperti itu aku hanya bisa menyendiri di setiap harinya karena aku tidak bisa bergabung dengan yang lain untuk sekedar mengobrol dan bercanda. Aku tidak bisa mendengar mereka, mereka pun tidak mengerti dengan caraku yang menyampaikan kata-kata melalui isyarat. Tapi, itu dulu. Di semester dua di kelas sepuluh kini ada dia yang selalu mengajak dan yang mau kuajak untuk mengobrol. Bagiku, dia bagaikan bulan yang menerangi gelapnya malam dan bagaikan burung yang selalu bernyanyi di pagi hari untuk meramaikan dunia ini.

“Lain kali kalau kamu kesulitan mengerjakan PR katakan padaku, aku siap membantumu. Jika seperti ini jadinya kamu menyiksa diri sendiri. Lihat, tuh, kantung matamu menghitam!” Ia menunjuk ke arah kantung mataku yang tanpa kusadari menghitam karena kurang tidur semalam. Aku hanya menganggukan kepala menjawabnya sambil memberikan seulas senyum untuknya.

Indah, begitulah namanya. Nama yang cantik untuk seorang gadis cantik juga baik hati sepertinya. Selain itu, ia juga pintar. Ia selalu membantu yang lain, seperti halnya membantuku ketika mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh para guru. Dengan sabar ia menuntun kami belajar tanpa pernah merasa capek dan hal lainnya. Gigi gingsulnya yang putih menambah manis senyum di bibirnya. Rambut panjangnya yang berwarna hitam berkilau selalu terurai dengan pita merah muda di sisi kiri rambutnya. Ia merupakan perempuan tercantik dan terbaik yang kutemui selain ibu.

Selain mengobrol di sekolah yang membuat hubungan kami semakin dekat, aku dan Indah juga selalu mengobrol melalui pesan singkat ketika di rumah saat malam hari atau saat-saat kami berdua mempunyai waktu untuk itu. Seperti halnya dengan malam ini. Ia memberitahuku untuk menonton di bagian paling depan saat ia tampil bernyanyi di acara ulang tahun sekolah esok hari.
“Aku pasti menontonmu di bagian paling depan, bahkan aku yang lebih dulu menduduki kursi penonton.” Dengan sedikit berlebihan aku menjawabnya.

Seminggu yang lalu, di mading sekolah terdapat informasi mengenai ulang tahun sekolah. Di sana tertulis bahwa sekolah akan merayakannya dengan mengadakan pentas seni atau pensi. Setiap kelas diwajibkan beberapa muridnya untuk unjuk gigi berpartisipasi dalam acara itu, dan salah satunya adalah Indah, bahkan ia sendiri yang mengajukan diri untuk itu.
Dan sekarang, saat ini, tepat pukul sepuluh pagi Indah sudah berdiri di tengah-tengah panggung yang tidak terlalu megah yang berada di lapangan sekolah. Ia terlihat sangat cantik dan anggun dengan pakaian yang ia kenakan. Tak lupa ia memakai pita merah muda yang biasa terpasang di sisi kiri rambutnya yang juga menambah cantik penampilannya.

Beberapa saat kemudian Indah mulai membuka mulut. Meski aku tidak bisa mendengar suaranya, bisa melihat dirinya saja itu sudah lebih dari cukup. Aku tidak tahu ia menyanyikan lagu apa, tapi aku tercengang ketika ia membawakan lagu itu sambil dengan menggunakan bahasa isyarat. Sejak kapan ia bisa bahasa isyarat? Jadi, ini maksudnya ingin tampil berbeda dari yang lain?

“Oh Tuhan..
Kucinta dia, kusayang dia
Rindu dia, inginkan dia
Utuhkanlah rasa cinta di hatiku
Hanya padanya, untuk dia.”
Begitulah yang kuketahui dari lagu yang ia bawakan yang menggunakan bahasa isyarat. Sesekali ia melihat ke arahku yang sedang tercengang, tak percaya bahwa ia bisa berbahasa isyarat, bahasa yang kugunakan ini, bahasa yang memudahkanku untuk berkomunikasi dengan yang lain.

Indah mendapat banyak tepuk tangan setelah ia selesai tampil dari para penonton yang merupakan warga sekolah, begitu juga denganku. Kali ini aku mengganti tepuk tanganku yang biasanya menggunakan bahasa isyarat dengan mengibas-ngibaskan kedua tangan di depan telingan menjadi tepuk tangan biasa seperti yang lain.

“Sejak kapan kamu bisa bahasa isyarat?” Aku bertanya dengan menggunakan bahasa isyarat saat kami beristirahat di kantin sekolah seusai pensi tanpa perlu lagi melalui tulisan.
“Sejak aku mengenalmu.” Indah menjawab sambil kedua tangannya bergerak-gerak mengisyaratkan apa yang diucapkan olehnya.
Aku masih tak percaya ia bisa berbahasa isyarat. Tapi, aku tidak bisa memungkirinya bahwa ia benar-benar bisa bahasa isyarat.

Kemudian, kami memakan makanan dan meminum minuman yang sudah tersedia di atas meja sambil sesekali mengobrol-ngobrol yang membuat kami lupa waktu hingga hari mulai gelap. Kami pun pulang ketika makanan yang kami makan dan minuman yang kami minum sudah habis tak tersisa sedikitpun.
Kami pulang dengan berjalan kaki karena jarak antara rumah dan sekolah kami tidak terlalu jauh. Ketika mengeluari gerbang sekolah kami berpapasan dengan yang lain yang juga ingin pulang ke rumahnya masing-masing. Kami kembali mengobrol-ngobrol saat di pertengahan jalan menuju rumah. Karena terlalu asyiknya mengobrol, lagi dan lagi kami tak sadar bahwa kami sudah tiba di rumah. Aku mengantarkan Indah terlebih dahulu pulang ke rumahnya, setelah itu barulah aku pulang ke rumah.

Ponselku yang sedang berada di saku celanaku tiba-tiba bergetar ketika baru beberapa langkah saja meninggalkan rumah Indah. Aku menghentikan jalanku sejenak untuk mengeluarkan dan melihat ponselku. Satu pesan masuk yang ternyata itu darinya.
“Hafidh, berbalik badanlah!” Begitulah isi pesannya. Aku langsung membalikan badanku seperti perintahnya itu. Terlihat ia masih berdiri di tempatnya tadi sambil bibirnya mengukir senyum kepadaku.
Kemudian, kedua jemari tangannya mulai membentuk huruf ‘H A F I D H’. Lalu, ia mulai kembali mengatakan sesuatu melalui bahasa isyarat dengan memegang dadanya yang berarti ‘aku’, membentuk kedua tangannya seperti huruf X atau menyilang kemudian ditempelkan di dadanya yang berarti ‘cinta’ dan menunjuk ke arahku yang berarti ‘kamu’.
Mataku terbelalak dan mulutku menganga karena terkesiap mengetahui apa yang ia katakan yang membuatku terpaku. ‘Aku cinta kamu, Hafidh, aku cinta kamu!’ Indah kembali mengatakan itu sampai berulang kali hingga matanya yang indah itu berkaca-kaca. Semakin lama semakin banyak air mata yang membendung di kelopak matanya yang sedetik kemudian tumpah karena tidak bisa tertahan lagi.

Aku berjalan menghampirinya yang tanpa kusadari ia juga bersegera berjalan menghampiriku. Ketika kami sudah saling berhadapan, aku memeluk tubuhnya yang mungil itu dengan erat yang tingginya hanya sedadaku, ia membalas pelukkanku dengan erat pula.
“Aku juga cinta kamu, Indah!” Untuk yang pertama kalinya aku berkata langsung dengan menggunakan mulutku tanpa dengan bahasa isyarat. Mendengarku berkata begitu tangisnya semakin menjadi-jadi. Ia menumpahkan tangisnya di dalam pelukanku.
“Jangan menangis, Indah!” Aku berkata sambil menghapus air matanya setelah kumelepas pelukannya.
“Maaf, aku tidak langsung mengatakan ini padamu. Sebenarnya, aku merasakan hal yang sama sepertimu. Tapi, aku terlalu takut kamu tidak akan merasakan hal yang sama sepertiku karena keadaanku ini.” Tambahku yang kembali menggunakan bahasa isyarat.
“Tidak, Fidh, tidak. Kamu salah. Aku merasakan hal itu saat pertama kali aku melangkahkan kaki menuju kursi yang ada di sampingmu yang akan menjadi tempat dudukku di kelas yang baru. Kamu bisa melihat, kan, bagaimana sikap aku ke kamu? Bagaimana aku melihat kamu? Apa aku pernah menyinggung tentang keadaanmu? Tidak, kan?!” Indah juga menggunakan bahasa isyarat untuk menjawab.
“Jujur, aku memang sempat terkejut saat berkenalan denganmu lalu mengetahui keadaanmu. Kamu yang terlihat sempurna, ternyata memiliki kekurangan juga. Tapi aku tidak mempedulikan itu, karena cinta tidak seperti itu. Cinta adalah perasaan seseorang yang menyanyangi seseorang yang dicintainya dengan tulus tanpa memandang kelebihan dan kekurangannya dia.” Tambahnya.
“Tapi kamu terlalu sempurna, Indah. Kamu bisa mendapat laki-laki yang lebih sempurna dariku.”
“Apa yang sempurna harus berpasangan dengan yang sempurna juga? Tidak, kan, Fidh?! Aku tidak sesempurna yang kamu bayangkan, aku juga memiliki kekurangan sama sepertimu. Kekuranganku memang tidak dari segi fisikku, tapi aku mempunyai kekurangan karena manusia terlahir tidak ada yang sempurna, pasti memiliki kekurangan juga kelebihan. Kekurangan dan kelebihan itu ada agar manusia bisa saling membantu dan melengkapi. Aku mencintaimu bukan karena dari kesempurnaan dirimu, tapi karena hatimu!” Indah menepuk dadaku dengan lembut.
“Kamu tahu lagu yang kubawakan tadi itu untuk siapa? Itu untuk kamu, Fidh, untuk kamu. Aku belajar dengan keras bahasa isyarat dari awal aku mengetahui bagaimana cara berkomunikasimu agar aku bisa mengobrol denganmu dan mengetahui apa yang kamu ucapkan. Aku tidak mau kamu lelah jika terus menerus menjawab ucapanku dengan tulisan dan membaca gerak bibirku untuk mengetahui apa yang kukatakan.”
“Biarkan aku mencintaimu, biarkan aku menjadi telinga dan mulutmu, biarkan aku menjadi teman dan penyempurna hidupmu. Aku mencintaimu, Hafidh!”
Air mata kembali jatuh membasahi pipinya yang halus. Melihatnya menangis seperti itu aku kembali memeluknya dengan harapan ia bisa tenang setelah menumpahkan tangisnya padaku.
“Maafkan aku, Ndah, maafkan aku sudah mengecewakanmu. Karena keadaan yang seperti ini aku jadi menyia-nyiakan cintamu. Maafkan aku, aku mencintaimu. Kamu mau, kan, menjadi teman hidupku?!” Aku berkata setelah melepas pelukannya. Indah hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum sebagai jawabannya.

Lagi dan lagi aku memeluknya karena bahagia mengetahui ia juga mempunyai rasa yang sama sepertiku. Aku pikir cintaku ini hanya bertepuk sebelah tangan, ternyata tidak. Bahkan, ia yang lebih dulu mengungkapkan perasaannya itu padaku. Seharusnya aku yang melakukan itu, tapi aku terlalu takut untuk melakukannya karena sadar bagaimana keadaanku ini.

Satu, dua, tiga hari berlalu, hubungan kami berjalan dengan baik tanpa ada yang membuatnya berantakan. Setiap hari kami selalu pulang sekolah bersama, menghabiskan waktu hanya berdua. Teman-teman di sekolah sudah mengetahui akan hubungan ini karena melihat kami yang semakin hari semakin dekat.
Mereka selalu meledekku dan Indah ketika kami sedang mengobrol berdua, seperti halnya dengan pagi ini ketika kubaru tiba di sekolah. Mereka menarikku menuju mading lalu menunjuk-nunjuk salah satu tulisan yang ada di sana dan menyuruhku untuk membacanya. Ternyata tulisan itu adalah sebuah puisi tentang cinta.

“Aku adalah kamu
Kamu adalah aku
Aku dan kamu bersatu
Bersatu aku dan kamu
Aku dan kamu bersatu di dalam kata cinta
Di dalam kata cinta aku dan kamu bersatu
Tak kan terpisahkan selamanya
Selamanya tak kan terpisahkan”

Aku tersenyum lebar ketika mengetahui nama pembuat puisi tersebut adalah Indah. Tanpa disadari ia sedang memperhatikanku dari kejauhan sana sambil juga tersemyum padaku.
Kemudian ia mengatakan sesuatu melalui isyarat di jemari tangan kanannya. Membentuk huruf ‘I’ dengan telunjuknya, huruf ‘L’ dengan telunjuk ditambah ibu jari, dan huruf ‘U’ dengan telunjuk ditambah kelingking yang jika disatukan bermakna ‘i love you’. Aku kembali tersenyum lebar ketika mengetahui ia mengatakan itu. Aku pun membalasnya dengan memberikan isyarat yang sama sepertinya yang berarti ‘i love you too’.

Cerpen Karangan: Siti Mariyam
Facebook: Siti Mariyam
Cerita ini hanya imajinasiku saja, tapi tokoh Hafidh yang kugambarkan ini memang benar Tuli. Aku belum lama mengenalnya, dia berasal dari Yogyakarta. Lagu di atas tersebut merupakan lagu ‘Dia’ dari Anji, aku lupa menambahkannya.

Cerpen Sebuah Lagu untuk Hafidh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pejamkan Cinta Sejenak

Oleh:
Malam sendu ditemani hujan rintik, seakan ikut bersedih melihat tiara yang kali itu sedang memandangi sebuah potret. “aku tahu kamu selalu menyayangiku, bahkan ketika aku belum juga bisa mencintaimu”

Cinta 2 Dunia

Oleh:
Waktu itu Ben baru pulang dari acara dinner bersama teman-temannya. Saat pulang melewati jalan Casablanca di bilangan Jakarta Selatan. Malam menunjukan pukul 23.00 WIB. Tiba-tiba ada sesosok wanita cantik

It Started From The Wrong Address

Oleh:
“Lo jadi ngirim paket ke gue nggak sih?” Fania berbicara pada temannya yang terlihat di layar laptop. “Jadi, emang belum sampai? Gue kirim udah hampir dua minggu lalu.” Balas

From Best Friend To Love

Oleh:
BUM! Annisa mengalihkan pandangannya dari televisi menuju pintu yang baru saja dibanting tertutup. Dari balik pintu itu Horizon berdiri sambil berkacak pinggang menatap tepat ke arah kaki Annisa yang

Bukan Gustave Eiffel

Oleh:
Kau bisa berpaling kau bisa mencintai orang lain kau bisa melakukan apapun yang tidak ku sukai asalkan aku tidak melihatnya. Mungkin tidak akan seperti Gustave Eiffel yang mampu merancang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *