Sebulat Bola

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 19 July 2015

Kalau cowok suka sepak bola itu sudah biasa, malah kalau cowok tidak suka sepak bola, rasanya aneh. Tapi kalau cewek suka sama sepak bola wajar tidak? Wajar wajar saja sebenarnya, tapi kalau untuk wanita yang satu ini, bagaimana ya?.

Aci perdana wardani, mahasisiwi UNPAD fakultas psikologi semester 1. Dia bisa kuliah karena mendapat beasiswa dari SMA nya dulu. Dia anak yang smart, tapi dibalik kepintarannya itu ada hobi yang tidak wajar dari dalam dirinya, yaitu suka banget sama sepak bola. Kalau suka hanya sebatas menonoton kalau ada waktu luang itu masih bisa dikatakan wajar, tapi ini? Dia selalu menonton bola dalam keadaan apapun dan dimanapun.

Hari ini, jam 15.00 Aci berencana akan menonton langsung pertandingan persib kontra persiba di lapangan si jalak harupat, Bandung. Jam 14.00 dia sudah tancap gas.

Aci sangat menikmati pertandingan. Tapi, sepertinya ada pemain yang dia beri perhatian lebih, sayap kanan yang nomor jerseynya 8, dia sudah memasukkan 1 gol ke gawang Persiba tadi pada menit ke 48. Rasanya, Aci mengenal sosok pemuda itu.

Bunyi peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan sudah terdengar. Aci iseng saja turun dari tribun penonton ke lapangan untuk foto sama pemain, sama yang dilakukan oleh beberapa orang. Dia berjalan mendekati pemuda yang sedari tadi diperhatikannya. Pemuda yang berjersey nomer 8 itu.

“Kak Adri, boleh minta foto bareng tidak?”, sapa Aci dengan sopan pada pemuda yang dia panggil “kakak Adri” itu. “boleh”, jawab pemuda itu singkat. Mereka berpose beberapa kali.
“Makasih ya kak”, ucap Aci dengan sopan kembali, senyum manis melekat di bibirnya, begitu juga dengan kak Adri.
“Iya sama sama, kamu Aci perdana wardani kan?”, tanya kak Adri sambil memperhatikan wajah Aci. Aci tersipu malu dengan perlakuan kak Adri.
“Iya, kakak masih ingat aku? Ehh… Maksunya, kakak tahu aku?”. kak Adri berjalan mengajak Aci duduk.
“Ya tahu lah, Alik kan sering cerita tentang kamu”, jelas kak Adri.
Kak Alik? Cerita tentang aku? Kok bisa? Apa yang aku tebak selama ini benar?, beribu pertanyaan muncul di benak Aci. Alik adalah pemuda yang Aci beri perhatian lebih waktu SMA. Mata Aci selalu saja tertuju pada Alik. Adri ini adalah temen Alik, itu setahu Aci. Soalnya, Alik kemana mana pasti sama Adri.
“Kak Alik? Cerita tentang aku?”, tanya Aci mengulangi pernyataan kak Adri.
“Iya, Alik itu sering cerita tentang kamu. Kamu tahu kan Alik suka sama kamu?”, jelas dan tanya kak Adri. Duarrr… Aci kaget dengan pernyataan kak Adri. Kak Alik suka sama aku? Kok bisa?, batin Aci.
“Tahunya paling kaya ada yang beda gitu sama tatapan kak Alik ke aku, tapi belum mengerti kalau itu ternyata cinta”, jawab Aci sekenanya.
“o, begitu. Tapi, sejujurnya kamu ada rasa tidak sama Alik? Cie…”, ledek kak Adri.
“cuma menaruh perhatian lebih saja sama kak Alik, hehe”, jawab Aci malu malu.
“Emm.. Kamu di Bandung lagi liburan terus nonton bola, apa memang menetap di sini?”, tanya kak Alik mengalihkan pembicaraan.
“Aku kuliah di UNPAD, dan ngekost di sekitar kampus”. Aci memberitahu.
“Ambil fakultas apa?”, tanya kak Adri lagi.
“Psikologi”, jawab Aci singkat.
“Kamu dapat beasisiwa kan?”. Untuk kesekian kalinya pertanyaan terlontar dari mulut kak Adri.
“Kok tahu si?”. Aci belum mengerti kenapa kak Adri bisa tahu dia dapat beasiswa.
“Dari siapa lagi sih kalau bukan Alik, dia itu tahu semuanya tentang kamu, dia itu cinta banget sama kamu”. Satu tetes… Dua tetes… Tiga tetes… Air mata Aci menetes. Melihat itu, kak Adri kebingungan sendiri.
“Kamu kenapa? Kakak kan tidak cubit kamu? Kakak juga tidak marahin kamu, kok kamu nangis?”.
“Kalau kak Alik suka sama aku, kenapa dia tidak mendekati aku, rasanya tidak masuk akal seorang laki laki suka sama perempuan tapi dia membiarkan perempuan itu berjalan sendiri”. Aci memberitahu isi hatinya. Dan sebisa mungkin dia tidak meneteskan lagi air matanya.
“sudah! Jangan difikirkan! Kalau masalah itu kakak tidak mengerti, itu masalah hati, kakak tidak mau ikut campur”, kata kak Adri berusaha memperbaiki keadaan. Aci hanya terdiam, sangat susah membuka mulutnya.
“Jalan jalan yuk!”, ajak kak Adri tiba tiba. Aci menoleh kak Adri yang ternyata sedang menolehnya juga. Matanya mengisyaratkan keseriusan. Kenapa aku malah sedih seperti ini, bodoh!, batin Aci. “Ayo”, jawab Aci dengan ekspresi yang berubah 100%. Dan, kak Adri bahagia dengan itu. “Tapi, kakak kan baru saja main, 90 menit full lagi, kakak pasti capek, lain kali saja deh”, tambah Aci yang sangat mengerti keadaan kak Adri.
“Tidak apa apa, kalau yang nemenin kamu, capeknya pasti langsung hilang”. Aci langsung protes. “Yeee…”.
“Hehe.. Ya sudah ayo berangkat”. Adri berdiri, mengulurkan tangannya untuk membantu Aci berdiri. Aci menerima, dia meletakkan tangannya di tangan kak Adri. Mereka berlalu meninggalkan stadion.

Mereka berhenti di sebuah kafe yang sebenarnya terlalu megah untuk seorang Aci. Kak Adri menuntunnya untuk memasuki kafe itu, mengajaknya duduk di salah satu meja yang kosong.
“Mau pesen apa mbak, mas?”, tanya seorang pelayan yang tiba tiba datang. Adri menyebutkan apa yang dia pesan, begitu juga dengan Aci.
“Enak ya tempatnya, nyaman. Kakak sering kesini?”, tanya Aci yang masih melihat lihat kafe itu.
“Kalau habis main biasanya kesini sama Afdi”. Kak Adri memberitahu.
“Ini pesanannya”, kata seseorang tiba tiba. Pelayan tadi yang membawa makanan pesanan mereka.
“O iya, kakak sudah lama di Persib? Aku lihat kakak main sih baru awal musim ini”. Aci mengambil minumannya dan mulai meneguknya pelan pelan.
“Baru 2 tahunan lah, musim kemarin kakak jadi cadangan, dan alhamdulillah musim ini kakak jadi pemain inti”. Kak Adri menjelaskan.
“O”, jawab Aci singkat.
“Kamu ambil jurusan psikolog karena keinginan orangtua apa keinginan sendiri? Bukannya kamu masuk IPA ya? Cerita dong, menarik sepertinya”, kata kak Adri sembari memainkan alisnya.
“Lebih menarik kakak sepertinya”. Aci tersenyum dengan rayuannya sendiri, begitu juga dengan kak Adri yang malah lebih heboh.
“Cie.. Bisa ngerayu juga”, ledek kak Adri. Aci hanya cengengesan sambil menyipitkan matanya.” Masuk psikologi itu keinginan sendiri, dari dulu memang ingin jadi psikolog, kalau dulu jurusan IPA dan sekarang ambil jurusan psikologi memang ada masalah? Aku suka sesuatu yang menantang, psikologi itu kan sangat berseberangan dengan IPA yang semuanya penuh dengan rumus, hehe”, tambah Aci.
“Bisa saja kamu. Kalau menurut pengamatan kamu, untuk kedepannya karir kakak bisa cemerlang tidak?”, tanya kak Adri.
“Kakak, aku itu psikolog bukan peramal, jadi aku tidak bisa menerawang masa depan kakak, tapi kalau menurut teori, wajah seperti kakak ini wajah wajah yang kurang beruntung”. Aci tertawa lepas dengan ucapannya, begitu juga dengan kak Adri.
“Jangan dong, masa wajah kece kaya begini dibilang kurang beruntung, wajah seperti kakak ini biasanya dibilang wajah kurang pelajaran, kurang dikasih rumus”, kata kak Adri dengan ekspresi yang sangat lucu. Aci tertawa lagi dengan itu. Nyaman, mungkin itu yang dia rasakan sama kak Adri.
“Berhenti ketawanya, takut kakak nanti ikut ke mulut kamu”. Aci berhenti tertawa dan langsung protes.
“Yee.. Kalau kakak pantesnya bukan masuk mulut aku, tapi masuk hati aku”. Untuk kedua kalinya Aci berhasil merayu kak Adri.
“Cie.. cie.. Ngerayu lagi, kamu pantes ikutan Indonesian Idol”.
“Ratu gombal kakak, masa bisa ngerayu masuknya indonesian idol, kan aneh”, omel Aci.
“Iya deh iya. Minta nomor handphone kamu dong”. Aci kaget, dia menjamkan pandangannya ke mata kak Adri.
“Nomor handphone? Jangan! Aku punya ide. Aku akan kasih nomor handphone aku ke kakak kalau kita ketemu lagi, oke?”, jelas Aci. Kak Adri hanya mengangguk saja.
“Oke, Persib main di kandang itu tanggal 18, 25, sama 5 maret, kamu datangnya tanggal 18 ya”, kata kak Adri dengan penuh harapan. Aci hanya tersenyum tipis.

1 hari.. 2 hari… 3 hari sudah berlalu. Aci masih terlalu sibuk dengan tugas tugasnya yang setiap hari harus presentasi. Dia sampai lupa akan janjinya hari ini pada kak Adri, yaitu nonton pertandingan persib.

Adri Pradipta. Dia mencoba mencari sosok perempuan yang mungkin saat ini sudah ada di hatinya. Dia yang kemarin bilang akan melihat pertandingan persib dan akan memberi nomor handphone nya. Tapi, 35 menit sudah dia memutari stadion berharap sosok itu ada di hadapannya sekarang. Namun kenyataan berkata lain, sudah tidak ada orang selain dirinya di stadion itu. “Mungkin dia tidak bisa memberikan nomor handphone nya. Mungkin Alik masih ada di dalam hatinya”, kata Adri yang sedikit demi sedikit berlalu meninggalkan stadion itu.

Hari ini tanggal 25 februari. Persib akan bertanding lagi. Adri masih sangat berharap Aci akan datang dan memberi semangat untuknya. Berharap juga akan memberikan senyuman manisnya yang sudah sangat dia rindukan.

75 menit sudah laga berjalan. Adri bermain sangat jelek. Dengan terpaksa, dia harus ditarik keluar oleh pelatih. Di bangku cadangan, dia mencoba mencari Aci di tribun penonton. Tapi hasilnya nihil. Sosok itu tetap tidak ada. Pikiran negatif itu muncul lagi di otak Adri.

Tugas selesai, Aci mendapat nilai A dari semua materi yang ada. 1 minggu dia mendapat hari libur. Dia langsung teringat dengan kak Adri dan juga janjinya. Aci melihat kalender dan 5 maret! Sekarang Persib akan main kontra PBR, aku harus nonton, batin Aci. Apa kak Adri menunggu ku? Apa dia mengharapkan kedatanganku? Apa dia… Ahhh… beribu pertanyaan muncul di benak Aci. Tidak mau terlalu larut, dia mulai mempersiapkan dirinya untuk menonton pertandingan itu.

Adri sudah terlalu kecewa dengan Aci yang sudah 2 pertandingan tidak datang ke stadion. Dia merasa kalau percaya pada Aci adalah hal yang bodoh. Hari ini dia akan fokus pada pertandingan, dan sudah tidak akan mengharapkan kedatangan Aci.

Adri bermain sangat bagus, itu terbukti dengan 1 gol yang sudah Adri sumbangkan untuk Persib. Melihat itu, Aci sangat senang, rasanya kak Adri memang sudah ada di tempat spesial itu, batin Aci.

Pertandingan selesai. Adri bermaksud meninggalkan stadion. Tapi langkahnya terhenti karena mendengar suara yang sudah tidak asing lagi baginya, suara itu mendekat padanya.
“Masih mau nomor handphone aku?”, kata seseorang tiba tiba. Adri menoleh, hatinya tertawa, tapi wajahnya tidak ada reaksi sama sekali. Dia malah membalikkan badan dan memulai melangkahkan kakinya kembali. Sosok orang itu mencegahnya, menarik tangannya. Alhasil, mata mereka berhasil bertemu, mereka sama sama melihat bola mata orang yang ada di hadapannya.
“Kakak marah? Aku minta maaf”, kata orang itu dengan lembut. Dia Aci.
“Kamu sudah mengerti”, jawab kak Adri dengan cueknya.
“Dua minggu ini aku sibuk, setiap hari harus presentasi, pulang kuliah langsung menyiapkan materi untuk presentasi keesokan harinya, aku minta maaf”. Aci menjelaskan, tapi itu belum bisa meluluhkan hati Adri.
“Apa tidak bisa hanya 90 menit datang kesini, dan seenggaknya memberikan nomor handphone kamu agar kita bisa berkomunikasi”. Perkataan kak Adri lirih, tapi sangat menyakitkan hati Aci.
“Aku benar benar minta maaf kak”. Lagi, lagi dan lagi. Kata maaf terlontar dari mulut Aci. Adri tidak menghiraukannya. Sedikit demi sedikit dia berlalu meninggalkan Aci. Aci sudah putus harapan, Adri begitu marah padanya, dia membalikkan badannya dan berniat untuk pulang.

“Aci…”, teriak kak Adri. Kak Adri fikir, terlalu pengecut apabila dia tidak memaafkan Aci. Aci menghentikan langkahnya.
“Aci.. Kamu tahu tidak kenapa kakak begitu marah sama kamu?”. Aci menggeleng. “Kamu tahu tidak apa yang membuat kakak sangat marah, kamu tidak datang ke stadion ini di tanggal 18 dan 25? Kamu tahu tidak?”. Aci hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Itu karena kamu ada di tempat yang spesial di hati kakak”, tegas kak Adri. Aci tertegun mendapati penjelasan kak Adri, matanya langsung menyorot tajam ke mata kak Adri.
“Ini yang paling kakak suka, tatapanmu”, tambah kak Adri. Aci langsung memeluknya. Beberapa tetes air matanya sudah membasahi jersey kak Adri.
Lampu menyala satu demi satu. Menambah suasana semakin romantis. Aci melepaskan pelukannya dan kembali menatap kak Adri.
“Kakak juga ada di tempat yang spesial di hati Aci, kakak yang membuat mata Aci hanya tertuju pada sutu titik yaitu mata kakak, kakak juga yang membuat Aci tambah suka sama sepakbola”. Aci memperjelas semuanya. Mereka berdua tersenyum. “Masih mau nomor handphone Aci?”, tambah Aci dengan senyum manis yang menghiasi bibirnya.
“Tidak perlu nomor handphone, yang penting aku ada di nomor satu di hati kamu”. Aci tersenyum. Dia memainkan bola yang ada di dekatnyya. Dia memberi isyarat pada kak Adri untuk merebut bola itu. Mereka bahagia…

Cinta itu seperti bola, bulat! Kemana pun kita pergi, pasti kita akan kembali ke titik yang awal, ke titik yang benar benar membuat kita nyaman.
Teori cinta memang susah untuk dimengerti, tapi kalau untuk dijalankan, mungkin itu lebih mudah.

THE END

Cerpen Karangan: Desi Indriyani
Facebook: Desi Indrini

Nama: Desi Indriyani
Alamat: Wonosobo
Sekarang kelas X

Cerpen Sebulat Bola merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kebahagian Itu Sederhana

Oleh:
Namaku Ifa, saat ini aku berusia 24 tahun. Aku memiliki sahabat namanya Ardan, saat ini dia berusia 26 tahun. Ardan dan aku bersahabat sejak enam tahun yang lalu. Ardan

Ketika Berbicara Kepada Hati

Oleh:
Kadang, aku letih bertanya sendiri. Iya, sendiri tapi berdua dengan hati. “harus bagaimana aku sekarang?” hari ini hati menjawab “sekarang kau harus bertanya kepadanya”. Jika hati mampu diajak berbicara

Ada Cinta Di Desember

Oleh:
11 desember tepatnya adalah saat liburan tengah semester, kegiatanku jika tidak kuliah kumpul bersama teman, dan jika saat liburan seperti ini aku biasa menghabiskan waktu di rumah atau sesekali

Monas pun Jadi Saksi

Oleh:
“Oh My God, apakah aku sudah telat?” tak hentinya Janie melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Hari ini Janie mendapat tugas sebagai Koordinator Lapangan untuk suatu aksi

Cinta Dan Gengsi

Oleh:
Cinta memang penuh misteri, tak bisa dimengerti, tak terduga dari mana datangnya, dari siapa, dan entah mengapa bisa berlabuh pada dua insan yang berlainan. Cinta yang berawal dari tatapan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *