Sederhananya Cintaku, Sesederhana Isyarat I Love You (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sejati
Lolos moderasi pada: 20 March 2017

Bibirku mengukir senyum ketika mengingat saat-saat enam bulan yang lalu. Saat di mana aku yang lebih dulu menyatakan cinta pada Ray setelah kami menghabiskan waktu hanya berdua kala itu. Saat bulan, bintang, dan angin malam yang sedang berhembus menjadi saksi cinta kami yang sederhana, sesederhana isyarat ‘i love you’ yang tidak bersyarat dan tidak memandang kurang dan lebihnya keadaan pasangan masing-masing.
Sederhana bukan? Sesederhana saat kita mengatakan ‘i love you’ dengan menggunakan bahasa isyarat. Ya, sangat sederhana. Hanya dengan menunjuk diri kita atau memegang dada kita dengan kedua tangan yang mengisyaratkan atau berarti ‘aku’, lalu membentuk lambang hati dengan jemari tangan yang berarti ‘cinta’, dan menunjuk dirinya, seseorang yang akan kita nyatakan cintanya padanya yang berarti ‘kamu’. Dengan seperti itulah caraku menyatakan cinta pada Ray.

Sebenarnya aku tidak perlu menggunakan bahasa isyarat untuk menyatakannya, karena ia bisa mendengarku dengan alat bantu dengar yang terpasang di telinganya yang membantunya mendengar ucapan orang lain saat berbicara padanya. Tapi, karena aku mencoba untuk menyesuaikan cara berkomunikasi Ray yang menggunakan bahasa isyarat jadinya aku melakukan itu. Walau sebenarnya aku tidak terlalu bisa bahasa isyarat, tapi aku berusaha menyesuaikannya. Ray pun selalu mengajariku bahasa isyarat, sampai akhirnya aku bisa sedikit demi sedikit menjawab ucapannya melalui bahasa isyarat.

Tidak mudah memang untuk belajar bahasa isyarat, ditambah dengan ada dua sistem bahasa isyarat yang diterapkan di sini (Indonesia), yaitu Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Mungkin banyak di antara kamu juga tahu akan itu, tapi belum terlalu memahaminya. Ya, sama sepertiku. Tapi, aku mengetahui sedikit perbedaan di antara sistem isyarat dari kedua itu.

Perbedaan antara SIBI dan BISINDO adalah SIBI menggunakan satu tangan untuk abjad panduan bahasa isyaratnya, sama seperti bahasa isyarat yang ada dan yang digunakan di Amerika Serikat. SIBI dibuat oleh pemerintah tanpa melibatkan kaum tunarungu dengan mengubah bahasa Indonesia lisan menjadi bahasa isyarat, sehingga dalam menerjemahkan satu kata lengkap dengan awalan dan akhirannya. Contohnya kata ‘perasaan’ akan diterjemahkan menjadi ‘per-rasa-an’.
Sedangkan, BISINDO menggunakan dua tangan untuk abjad panduan bahasa isyaratnya. BISINDO dibuat oleh kaum tunarungu itu sendiri, sehingga dalam penerjemahan pada BISINDO hanya dengan satu kata disertai ekspresi untuk menunjukkan kejadian yang sedang berlangsung. Contohnya kata ‘makan’ hanya dengan menguncupkan jemari tangan lalu dimasukan ke dalam mulut seperti saat kita makan.
BISINDO juga merupakan bahasa isyarat alami budaya asli indonesia atau bisa disebut dengan bahasa ibu mereka. Yaitu, bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak lahir melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga dan masyarakat lingkungannya.

Aku yang belum tahu akan hal itu, ada dua sistem bahasa isyarat yang ada di sini (Indonesia) menjadi kebingungan dan bertanya-tanya. Kok seperti itu? Kenapa harus ada dua? Bahasa isyarat adalah bahasa yang tidak menggunakan bunyi ucapan manusia atau tulisan dalam perlambangannya, juga bahasa yang menggunakan isyarat seperti gerakkan tangan, kepala, badan, dan sebagainya khusus diciptakan untuk tunarungu, tunawicara, tunanetra agar memudahkannya berkomunikasi. Jika terdapat dua bahasa isyarat seperti itu bukannya memudahkan, malah menyulitkan. Karena, di antara kedua sistem isyarat tersebut belum ada yang diresmikan menjadi bahasa isyarat di Indonesia.

Bagaimana dengan anak-anak tunarungu yang baru belajar bahasa isyarat jika di sekolah mereka diajarkannya dengan sistem isyarat SIBI? Kasihan mereka, pasti kesulitan belajarnya. Mereka harus menerjemahkan bahasa Indonesia lisan menjadi bahasa isyarat, ditambah dengan berimbuhan awalan dan akhiran seperti itu. Padahal, mereka belum mengetahui bahasa Indonesia lisan sebelumnya karena mereka tidak bisa mendengar.

Semoga, pemerintah cepat menentukan sistem isyarat di antara kedua itu menjadi bahasa isyarat resmi di sini (Indonesia) agar para tunarungu tidak kesulitan dalam belajar bahasa isyarat, dan bisa memudahkannya berkomunikasi dengan yang lain. Aku yang bukan kaum tunarungu saja kebingungan memilih di antara kedua sistem isyarat tersebut ketika mau mempelajarinya, apalagi dengan mereka. Kenapa harus ada dua sementara satu saja cukup juga membantu? Buat apa ada dua jika membingungkan dan menyulitkan?

Ting.. Tong..
Suara bel itu membuatku tersadar dari lamunanku yang sedang mengingat masa-masa enam bulan yang lalu, juga membuat senyumku lebih mengembang lagi. Aku langsung bangkit dari kasurku yang sedari tadi kududuki karena tak sabar melihat orang yang sudah menekan belnya tadi. Kamu pasti tahu siapa orang itu?! Benar, orang itu adalah Ray.

Kamu tahu mengapa Ray datang ke sini? Gak tahu deh pasti!? Aku kasih tahu ya! Hari ini atau malam ini Ray akan menemaniku mendatangi pesta ulang tahun kakak kelasku, sama seperti ia dulu yang mengajakku ke acara pesta ulang tahun temannya. Tiga hari yang lalu, tepatnya saat jam istirahat di kantin sekolah aku mendapat kartu undangan ulang tahun dari Kak Nadia, kakak kelasku yang tingkat tiga.

Kak Nadia mengundang semua teman seangkatannya juga beberapa adik kelas yang berhubungan dekat dengannya, termasuk aku. Kak Nadia juga menyuruh para undangan untuk membawa pasangannya masing-masing ketika datang ke acara pesta ulang tahunnya, bagi yang punya saja. Aku langsung memberi tahu Ray masalah itu, dan ia mau menemaniku datang ke sana. Sekarang, saat ini lah waktunya tiba.

Aku kembali melihat diriku ke cermin untuk memastikan penampilanku sudah rapi sebelum keluar menemui Ray, setelah sebelumnya aku sudah bersiap-siap untuk itu. Dengan hati yang berbunga-bunga dan bibirku yang tak henti-hentinya mengukir senyum, aku ke luar kamar dan membukakan pintu untuk Ray.

“Assalamu’alaikum!” Ray mengucapkan salam itu menggunakan bahasa isyarat tanpa bersuara ketika ku sudah membuka pintunya. Hanya bibirnya yang bergerak mengikuti atau mengisyaratkan apa yang ia ucapkan.
“Wa’alaikumsalam!” Aku menjawab seperti biasa, dengan normal tanpa menggunakan bahasa isyarat.

Aku menganga melihat Ray malam ini, sama seperti saat pertama kali kita bertemu kala itu sehabis dari mini market sepulang sekolah. Kamu tahu kenapa? Ya, karena malam ini Ray tampan sekali. Bukan hanya malam ini, malam sebelumnya, malam berikutnya, dan malam-malam seterusnya akan selalu begitu.

Aku tidak peduli dengan kekurangannya yang tidak bisa mendengar dan tidak bisa berbicara dengan normal, aku akan tetap mencintainya, menyayanginya, menjadi telinga dan mulut untuknya, juga menjadi penyempurna hidupnya. Seperti yang sudah pernah kukatakan padanya saat itu, saat aku menyatakan cinta padanya, dan saat ia merasa dirinya tidak pantas aku miliki karena kekurangannya.

Ray memang memiliki kekurangan, tapi bagiku ia itu sempurna. Ia memang tidak bisa mendengar tanpa alat bantu dengar, tapi aku yakin ia bisa mendengarku yang mengatakan bahwa aku mencintainya dengan hatinya. Ray juga memang tidak bisa berbicara dengan normal, tapi ia bisa mengatakan cinta padaku dengan jelas tanpa mengalami kesulitan, tidak seperti saat ia berbicara biasanya yang mengalami kesulitan. Dan semua itu karena cinta, cinta yang membuatnya sempurna, dan cinta yang membuatnya seperti itu.

Aku kembali tersadar ketika Ray melambaikan tangannya ke wajahku. Lagi-lagi sama seperti saat itu, saat aku ternganga karena melihat wajahnya yang tampan. Sampai-sampai aku tak menyadari ada sesuatu hal pada dirinya, yaitu alat bantu dengar yang terpasang di telinganya.

“Sudah siap?” Ia bertanya masih menggunakan bahasa isyarat. Bukannya masih, tapi akan selalu begitu karena ia lebih nyaman menggunakan bahasa isyarat dibanding berbicara langsung dengan mulutnya untuk berbicara atau menjawab ucapan orang lain saat berbicara padanya.
“Sudah, kok. Ayo berangkat!” Aku menjawab sambil bersegera menutup pintu. Lalu kami pun berjalan menuju rumah Kak Nadia, kakak kelasku yang akan merayakan pesta ulang tahunnya malam ini.

Kami berjalan kaki menuju sana, karena jarak antara rumahku dengan rumah Kak Nadia tidak terlalu jauh, bahkan kami satu kompleks. Juga karena aku ingin bersama-sama dengan Ray seperti waktu kami datang ke ulang tahun temannya.

“Ray, kamu ganteng!” Aku memujinya sambil mendongak ke atas untuk bisa melihatnya dari samping yang sedang memandang lurus ke depan. Ia cukup tinggi, aku sebahunya.
“Aku sayang kamu, Ray!” Untuk yang kesekian kalinya aku mengatakan itu padanya tanpa ada rasa bosan.
Ray masih tetap saja memandang lurus ke depan tanpa menjawab semua ucapanku itu. Aku yang merasa kesal tidak diindahkan seperti itu memukul lengan tangan kirinya sambil berkata..
“Ray, kamu mendengarku tidak, sih?” Ia sedikit terkejut saat aku memukul lengan tangan kirinya yang agak keras dan membuat pandangannya beralih padaku.
“Dari tadi aku bicara sama kamu, Ray, kenapa kamu hanya diam saja?” Ia terus memperhatikan gerak bibirku saatku berbicara, karena dengan seperti itulah caranya untuk bisa mengetahui apa yang orang lain katakan padanya.
Ray langsung menjawabku dengan tangan kanannya membentuk huruf ‘F’, (huruf ‘F’ di sini kalau menggunakan satu tangan akan berarti angka ‘7’ jika ketiga jemari tangannya direnggangkan), lalu ditaruh atau ditempelkan pada ujung bibir samping kanannya yang mengisyaratkan atau berarti ‘maaf’, dan memegang dadanya yang berarti ‘aku’, lalu jari telunjuk tangan kanannya digerak-gerakkan ke kanan dan ke kiri berkali-kali yang berarti ‘tidak’, kemudian menunjuk ke arah telinganya yang berarti ‘dengar’.

Mataku terbelalak ketika melihat telinganya tidak ada alat bantu dengar yang biasa terpasang di sana. Pantas saja ia hanya diam saat ku berbicara padanya, karena ia tidak bisa mendengarku. Tapi, kenapa ia tidak memakai alat bantu dengar?

“Jika aku memakai alat bantu dengar, yang lain akan tahu kalau aku ini tuli. Aku tidak mau mereka tahu keadaanku yang sebenarnya, karena aku tidak mau buat kamu malu di depan mereka dengan mengajakku yang keadaannya seperti ini.” Sambil menggunakan isyarat tangannya dengan lincah, Ray menjawab setelah aku menanyakan mengapa ia tidak memakai alat bantu dengar.
“Aku kan sudah bilang padamu kalau aku tidak pernah malu, bahkan tidak akan pernah malu ada di sampingmu dengan keadaanmu yang seperti ini. Aku mencintaimu bukan karena dari kesempurnaan dirimu, tapi karena hatimu.” Sambil membalikkan tubuhku membelakanginya aku berkata demikian, sama seperti ketika aku menentangnya saat ia mengatakan bahwa aku terlalu sempurna sehingga dirinya tidak pantas aku miliki dan juga aku masih bisa mendapat lelaki yang lebih darinya.
“Maafkan aku Nayla, maafkan aku. Aku sudah mengecewakanmu.” Ray memegang kedua bahuku, lalu membalikkan tubuhku kembali menghadapnya. Tapi, aku hanya diam sambil menundukkan kepala tanpa memandangnya.
“Aku janji gak akan seperti ini lagi, aku janji Nayla.” Sambungnya yang masih memegang kedua bahuku.
Aku mencoba mengangkat kepalaku setelah ia berkata seperti itu.
“Janji?” Aku mengacungkan jari kelingkingku padanya sebagai tanda perjanjian kami.
Lalu, ia mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingkingku dan berkata, “aku janji Nayla, aku sayang kamu.” Sambil memelukku dengan erat. Aku membalas pelukkannya dengan erat pula.
“Aku juga sayang kamu. Maafkan sikapku tadi padamu.” Sungguh, baru pertama kalinya aku berlaku seperti itu pada Ray ketika memanggilnya. Padahal, tidak baik memanggil orang dengan kasar seperti itu, apalagi ia yang tidak bisa mendengar.
Terkadang di antara kita suka berlaku demikian, memanggil orang yang tidak bisa mendengar dengan kasar seperti memukulnya atau hal kasar lainnya, juga memanggilnya dengan keras-keras atau berteriak. Padahal, percuma saja berteriak kalau pada akhirnya orang yang kita panggil tetap tidak bisa mendengar teriakkan kita. Tentu kita masih bisa memanggilnya dengan baik tanpa perlu berteriak-teriak, seperti menyentuh bahunya dengan lembut atau langsung menghadap ke dirinya.

Kemudian, aku dan Ray kembali meneruskan perjalanan menuju rumah Kak Nadia sambil mengobrol-ngobrol dan bercanda-canda sampai tak sadar bahwa kami sudah tiba di rumah Kak Nadia. Di sana banyak yang datang, dari mulai teman-teman seangkatan Kak Nadia dan beberapa adik kelas yang merupakan temanku yang hubungannya tidak terlalu dekat denganku. Aku langsung mengajak Ray menemui Kak Nadia yang sedang bersalaman menyambut teman-temannya yang baru tiba sebelum aku dengan dirinya.

“Selamat ulang tahun Kak Nadia!” Aku berkata sambil mengulurkan tangan kananku padanya. Ia menjabatnya.
“Ini buat kakak!” Aku memberikan kado padanya yang sedari tadi kupegang yang sudah kubungkus dengan rapi. Kak Nadia menerimanya, lalu berkata. “Makasih Nayla.”
Kamu tahu apa isi kadonya? Pasti gak tahu!? Kamu gak perlu tahu deh, pokoknya sesuatu.
“Dia?” Kak Nadia menunjuk Ray yang sedang berdiri di samping kananku dengan penuh tanda tanya. Ray yang ditunjuk seperti itu melambaikan tangannya yang berarti ‘hai’.
“Dia pasti pacar kamu yang namanya Ra…” Kak Nadia mencoba mengingat nama Ray yang sebelumnya sudah ia ketahui sendiri dari status Line, BBM, dan WhatsApp ku.

Semenjak aku menjadi bagian dari hidupnya Ray selama enam bulan ini, aku mengubah status-status alay dan gak jelas yang biasanya kupasang di semua akun itu menjadi namanya Ray. Pasti kamu akan bilang aku ini berlebihan!? Ya, aku memang berlebihan.
Kamu tahu apa yang terjadi di sekolah setelah aku memasang nama Ray di semua akun itu yang diketahui oleh teman-temanku dan para kakak kelasku karena kami berhubungan di sana? Benar, mereka bertanya-tanya tentang Ray dan juga meledekku ketika bertemu. Di antara mereka itu ada Kak Nadia.

“Raynaldi, kak!” Aku meneruskan ucapannya yang terlihat sulit mengingat nama Ray.
“Oh, iya, Raynaldi. Kamu sekolah di mana?” Kak Nadia bertanya pada Ray. Ia langsung mengerutkan alisnya ketika dilihat dan dilontarkan pertanyaan seperti itu oleh Kak Nadia.
Kemudian, Ray melihat ke arahku dengan raut wajahnya yang mengisyaratkan sesuatu. Aku mengerti apa yang ia maksud, ia pasti ingin bertanya padaku apa yang Kak Nadia katakan padanya karena ia tidak bisa mendengar Kak Nadia dan hanya membaca gerak bibirnya. Terkadang Ray suka tidak bisa membaca gerak bibir seseorang karena orang tersebut terlalu cepat berbicaranya.
“Di sekolahan, kak!” Jawabku tanpa menyebutkan nama sekolah Ray yang bersekolah di SLB atau Sekolah Luar Biasa untuk anak berkebutuhan khusus sepertinya. Bukannya aku malu untuk mengatakan itu pada Kak Nadia, tapi belum saatnya ia mengetahui keadaan Ray yang sebenarnya.
“Sudah pasti di sekolahan, Nayla, tapi di mana?” Kak Nadia kembali bertanya.
“Di sekolahan deh, kak, pokoknya.” Aku juga kembali hanya menjawab seperti itu.
“Kamu ini!?”
“Hehehe.”

Beberapa saat kemudian acaranya pun dimulai. Aku terus berada di samping Ray, mencoba menjadi penerjemah bahasa isyarat untuknya secara diam-diam ketika yang lain berbicara agar ia bisa merasakan dan mengetahui ramainya pesta ulang tahun Kak Nadia selain hanya dengan melihat.
Setelah mengetahui apa yang orang lain bicarakan di tengah-tengah acaranya yang mengundang tawa di antara kami dari terjemahan bahasa isyaratku Ray juga ikut tertawa, padahal sebelumnya ia hanya diam karena tidak bisa mendengar dan mengetahui apa yang sedang terjadi.
Sampai acaranya selesai, aku menjadi penerjemah untuk Ray secara diam-diam yang tidak diketahui oleh orang-orang yang ada di pesta. Sebelum pergi dari rumah Kak Nadia, aku dan Ray berpamitan padanya.

“Makasih ya Nayla, Ray, kalian sudah mau datang ke sini.” Kak Nadia berkata sambil menjabat tangan kanan kami.
“Sama-sama, kak.” Aku menjawab dengan senyuman, begitu juga dengan Ray. Melihat Ray yang hanya bisa tersenyum setiap kali menjawab ucapannya, Kak Nadia mulai curiga. Sehingga, ia bertanya pada Ray mengapa ia begitu.
Lagi-lagi Ray melihatku ketika Kak Nadia melontarkan pertanyaan atau berbicara padanya dengan maksud agar aku bisa memberitahunya apa yang Kak Nadia katakan padanya atau aku yang menjawab ucapan Kak Nadia tersebut seperti tadi saat kami tiba di pesta ulang tahunnya. Tapi kali ini bukan aku yang menjawabnya, aku membiarkan Ray untuk menjawabnya sendiri. Aku rasa sudah saatnya Kak Nadia mengetahui keadaan Ray yang sebenarnya.
“Aku ini tuli, aku tidak bisa berbicara seperti yang lain. Maaf, jika aku menjawab setiap perkataan hanya dengan senyuman.” Begitulah jawaban Ray yang menggunakan bahasa isyarat yang bisa kuterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia lisan.
Seketika matanya Kak Nadia terbelalak melihat Ray berbahasa isyarat seperti itu, sama seperti aku dulu yang baru mengetahui keadaan Ray yang sebenarnya.
“Nay, Ray..” ucap Kak Nadia dengan tertahan.
“Iya kak, iya.” Aku menjawab ucapannya itu yang ku ketahui apa maksudnya.
“Maaf Ray, kakak tidak tahu kalau keadaan kamu seperti ini.” Kak Nadia berkata sambil menyatukan kedua telapak tangannya, kemudian ditempelkan pada bibirnya.
Ray tersenyum melihatnya yang berarti ia mengerti apa yang Kak Nadia katakan padanya. Lalu Ray menggerak-gerakkan jari telunjuk tangan kanannya ke kanan dan ke kiri berkali-kali yang berarti ‘tidak apa-apa’ pada Kak Nadia sebagai jawabannya.
Syukurlah, Kak Nadia bisa menerima dengan baik tanpa mencemooh Ray setelah mengetahui keadaannya yang sebenarnya. Setelah itu, aku dan Ray pun pergi meninggalkan rumah Kak Nadia untuk kembali ke rumah kami masing-masing. Tapi sebelumnya, Kak Nadia kembali berterima kasih pada kami karena sudah datang ke acara ulang tahunnya.

“Kak Nadia itu baik, ya!” Komentar Ray tentang Kak Nadia ketika diperjalanan menuju pulang ke rumah.
“Iya, Ray. Kak Nadia itu memang baik banget. Dia kakak kelas yang paling aku sayang, dan dia juga sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri.” Aku menjawab sambil melihat langkah kakiku dan Ray yang sedang melangkah secara bersamaan.
Kami terus mengobrol dan bercanda di perjalanan menuju pulang ke rumah untuk mengusir sepi. Walau dengan menggunakan bahasa isyarat yang tidak bersuara tapi tetap terasa ramai daripada kami hanya berdiam diri masing-masing. Tanpa terasa kami sudah tiba di rumah karena terlalu asyik mengobrol.

“Makasih, ya, Ray, sudah mau menemaniku ke acara ulang tahunnya Kak Nadia.” Aku mengatakan itu sebelum masuk ke dalam rumah.
“Tidak perlu berterima kasih seperti itu, kamu juga sudah mau menemaniku ke acara ulang tahun temanku waktu itu, kan?” Kata Ray yang mengingat-ingat masa itu.
Aku tersenyum dan langsung meminta izin padanya untuk masuk ke dalam rumah lebih dulu karena malam sudah hampir larut. Namun, baru tiga langkah aku berjalan meninggalkannya, Ray memanggilku.
“Ada apa?” Tanyaku setelah mendapat panggilan darinya tanpa menggunakan bahasa isyarat, tapi pelan agar ia bisa membaca gerak bibirku untuk mengetahui apa yang kukatakan. Ia tersenyum dan berjalan menghampiriku.
Ketika sudah berjarak satu langkah dariku ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Kamu tahu apa yang ia keluarkan? Yang ia keluarkan adalah sebuah kotak kecil berwarna merah seperti kotak cincin. Menurutmu apakah yang Ray keluarkan itu benar sebuah kotak cincin dan di dalamnya ada cincinnya? Ya, kamu benar sekali. Kotak itu benar adalah kotak cincin dan di dalam kotak itu terdapat sebuah cincin putih dengan bentuk hati di tengahnya. Ray langsung meraih tangan kiriku dan juga langsung memasukkan cincin itu ke jari manisku.
“Cincin ini adalah lambang cintaku padamu yang sudah berlangsung selama enam bulan ini. Terima kasih kamu sudah mencintaiku dengan tulus tanpa pernah malu dan mengeluh dengan keadaanku ini. Aku ingin kamu selalu tetap bersamaku seperti sekarang ini sampai kapan pun. Aku mencintaimu, Nayla.” Ray berkata langsung dengan mulutnya tanpa menggunakan bahasa isyarat sambil terus memegang tanganku yang sudah dimasukkan cincin darinya dan terus menatapku dengan penuh cinta. Meski suaranya kurang jelas terdengar, tapi aku mengerti apa yang ia katakan.
Mataku yang juga sedang menatapnya serius saat ia berbicara tiba-tiba menjadi kabur karena tanpa terasa air mata sudah menggenang di mataku. Sedetik kemudian air mataku tumpah karena kelopak mataku tidak bisa membendungnya lagi. Aku menangis karena bahagia sambil terus tersenyum padanya. Melihatku seperti itu Ray memelukku. Aku pun membalas pelukkannya dengan erat.
“Aku juga mencintaimu, Ray, bahkan sangat mencintaimu. Aku janji akan selalu tetap bersamamu sampai kapan pun. Aku janji, Ray, aku janji. Aku mencintaimu.” Aku mengatakan itu dalam bahasa isyarat setelah ku melepaskan pelukkannya dari diriku.
Ray tersenyum lebar saat mengetahui aku berkata demikian, lalu ia menghapuskan air mata yang masih ada di pipiku dengan lembut dan kembali memelukku.
“Sudah terlalu malam, kamu masuk, ya. Angin malam tidak bagus untukmu, nanti kamu sakit. Aku tidak mau kamu sakit.” Sambil membelai rambutku yang terurai Ray berkata demikian. Aku menganggukkan kepala sebagai jawabannya.
Kemudian, aku berjalan perlahan pergi meninggalkannya menuju rumah. Sesekali aku membalikkan kepala untuk melihatnya yang sedang berdiri di tempat ia berdiri tadi sampai akhirnya aku sudah di depan pintu rumahku. Sekali lagi sebelum aku masuk ke dalam aku kembali melihatnya sambil tersenyum dan mengatakan sesuatu padanya menggunakan bahasa isyarat.
Dengan memegang dadaku atau menunjuk diriku yang mengisyaratkan atau berarti ‘aku’, lalu menyilang atau membentuk kedua tanganku seperti huruf ‘X’ kemudian ditaruh atau ditempelkan pada dada yang berarti ‘cinta’, (selain membentuk lambang hati dengan jemari tangan, kata cinta juga bisa dengan cara seperti itu) dan menunjuk dirinya yang berarti ‘kamu’.
Ray tersenyum manis sekali dengan kedua lesung pipitnya setelah aku mengatakan itu. Kemudian ia mulai mengatakan sesuatu menggunakan bahasa isyarat yang aku ketahui artinya, yaitu ‘aku juga cinta kamu’.

Cerpen Karangan: Siti Mariyam
Facebook: Siti Mariyam

Cerpen Sederhananya Cintaku, Sesederhana Isyarat I Love You (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Apakah ini Cinta? (Part 3)

Oleh:
Sasa menatap ke depan, perasaannya terasa hampa dan berbagai perasaan sesal menghantui hatinya. Persiapan untuk pesta ulang tahunnya nanti malam sudah selesai semua, terlihat pembantunya dan juga Ibu serta

Stand by Me

Oleh:
“Maheeee…..maheeee.” sebuah suara dari kejauhan mengagetkanku. Kulihat ke arah sumber suara. Anita, yaa itu jelas suara Anita. Kulambaikan tanganku dan ia mulai berlari ke arahku. “Mahee..ntar siang temenin nonton

I Dont Know

Oleh:
“Lo dateng kan, malam ini?,” tanya Billy. “Datenglah, Fel. Masak sama temen sendiri lo nggak dateng. Tega banget tahu! Lagipula, pernikahan mana ada sih dua kali kecuali emang bener-bener

Lengkapi Diriku

Oleh:
CINTA tak berwujud… Namun membuahkan banyak drama.. Tersenyum, gelisah, sendu, berbunga bahkan air mata.. Semua erat dengan istilah cinta… Bola mata sayu sedikit demi sedikit terbuka. Sejenak kuhela nafas..

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *