Sederhananya Cintaku Sesederhana Isyarat I Love You

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sejati
Lolos moderasi pada: 15 December 2016

Sudah 15 menit ini aku merapikan diri untuk bertemu dengan seseorang sambil mempraktikkan bahasa isyarat yang sudah kupelajari sebelumnya. Seseorang yang akan kutemui hari ini yang akan mengajakku ke suatu tempat yang membuatku jadi tertarik untuk belajar berbahasa isyarat. Seseorang itu yang sudah membuatku seperti orang gila karena suka tersenyum sendiri bila membayangkan wajahnya.

Seminggu yang lalu, tepatnya sehabis dari minimarket sepulang sekolah, tidak sengaja aku menabrak seseorang yang sedang berjalan di depanku. Seseorang yang berseragam putih abu-abu sama sepertiku yang kelihatan juga baru pulang dari sekolahnya. Aku tidak terlalu memperhatikan jalan yang ada di sekelilingku saat itu, karena aku sedang mengecek barang-barang belanjaan yang sudah kubeli disana, takut ada yang kurang.
Barang-barang belanjaanku yang sedang kucek pun berhambur jatuh ke jalan akibat tabrakan itu. Ia langsung mengambil barang-barang belanjaanku dan memasukkannya kembali ke dalam kantungnya. Aku mencoba untuk ikut mengambil dan memasukkannya, namun dengan cepat ia mengambilnya dariku. Setelah selesai, ia memberikan barang-barang belanjaanku yang sudah ia bereskan padaku.
“Makasih, maaf ya!” Aku berkata sambil menerimanya.
Ia hanya tersenyum menjawab ucapanku itu. Senyumnya manis sekali dengan lesung pipit dikedua pipinya. Tiba-tiba saja jantungku berdebar. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama?
Aku terus memandanginya tanpa pernah mengedipkan mata. Selain senyumnya yang manis, wajahnya juga tampan, sampai-sampai bibirku mengukir senyum melihatnya. Jujur, baru kali ini aku melihat seorang laki-laki sampai seperti itu. Biasanya hanya biasa saja, tapi kali ini berbeda. Sepertinya benar, ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama.

Aku kembali tersadar ketika ia melambaikan tangannya pada wajahku. Saat itu juga, tidak sengaja aku melihat namanya yang tertera di dada sebelah kanannya. Raynaldi, itulah namanya. Nama yang cocok untuk seorang laki-laki sepertinya.
“Sekali lagi maaf ya!” Aku kembali mengatakan itu karena sudah menabraknya.
Lagi-lagi ia hanya tersenyum menjawabnya. Kemudian, ia meneruskan tujuan jalannya yang entah kemana. Aku masih memperhatikannya yang sedang berjalan dari arah belakangnya, sampai akhirnya ia berbelok ke minimarket yang aku datangi tadi. Setelah tahu ia kemana, aku juga kembali meneruskan jalanku menuju pulang ke rumah.

Ketika malam harinya, setelah aku selesai shalat Isya, ibu menyuruhku untuk memberikan brownis buatannya kepada tetangga baru yang ada di sebelah rumah kami sebagai perkenalan dan ucapan selamat datang di kompleks kami ini. Begitulah cara ibu menyambut setiap orang-orang baru yang datang disini.
Hanya cukup berjalan sepuluh langkah saja sudah sampai di rumahnya. Aku langsung mengetuk pintunya dan mengucap salam.
Tok, tok, tok.
“Assalamu’alaikum!”

Tidak lama kemudian, seseorang yang ada di dalam membuka pintunya. Betapa terkejutnya aku setelah melihat orang yang membukakan pintu untukku itu ternyata Raynaldi, laki-laki yang kutabrak di jalan tadi sepulang dari minimarket.
“Kamu! Rumah kamu disini? Kenapa gak bilang? Nanti kita bisa pulang bareng!” Aku berkata dengan sumringah. Ia hanya tersenyum menjawabnya.
Tak berselang lama, terdengar suara orang lain yang ada di dalam rumahnya.
“Siapa Ray yang datang?” Ucapnya sambil berjalan menghampiri kami.
Ternyata itu adalah seorang wanita yang tidak lain adalah ibunya. Ray langsung menjawab pertanyaan dari ibunya itu. Aku kembali terkejut, kali ini luar biasa terkejut setelah mengetahui bagaimana cara ia menjawab pertanyaan itu.
“A-da ta-mu, Bu!” Sambil menggunakan jari-jari tangannya ia menjawab.
Seketika mataku terbelalak melihatnya berbahasa isyarat seperti itu, dan mendengar ucapannya yang kurang jelas terdengar. Aku tak menyangka seorang laki-laki yang kupandang sempurna ternyata memiliki kekurangan juga. Dan tak menyangka bertemu langsung dengan orang yang berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, yang biasanya hanya kulihat di televisi.
“Nayla ya? Masuk yuk!” Ibunya Ray mempersilahkanku masuk ke dalam rumahnya, begitu juga dengan dirinya.
Ternyata ia seorang tunarungu, dengan cara seperti itu ia menjawabnya. Jadi, karena ini yang membuatnya hanya tersenyum setiap kali menjawab ucapanku. Ya ampun, aku sampai tak menyadari ada alat bantu pendengaran di telinganya hanya karena terlalu memfokuskan pandangan mataku ke wajahnya yang tampan itu.

“Kamu pasti kaget banget ya melihat Ray begitu?” Ucap ibunya Ray ketika aku sudah duduk di bangku empuk yang ada di ruang tamunya.
“Iya tante, aku kaget banget tadi.” Aku menjawab sambil mencoba membenarkan raut wajahku yang terkejut kembali berubah menjadi normal.
Mendengarku berkata seperti itu, Ray langsung mengatakan sesuatu melalui bahasa isyarat dari jari-jari tangannya. Aku yang tidak mengerti dengan caranya yang menyampaikan kata-kata menggunakan bahasa isyarat langsung menoleh ke arah ibunya, ia pasti mengerti apa yang dikatakan oleh sang anak.
“Ray bilang, maaf, sudah buat kamu kaget seperti tadi. Karena ia gak langsung mengatakan bahwa keadaannya seperti itu.”
Ray mengangguk dan tersenyum setelah tahu apa yang diterjemahkan oleh sang ibu benar.
“Gak apa-apa kok! Seharusnya aku yang minta maaf, karena reaksiku tadi terlalu berlebihan. Maaf ya!” Ucapku. Ray kembali tersenyum.

Sejak saat itu, aku berniat belajar bahasa isyarat agar aku bisa berkomunikasi dengan Ray dan mengerti apa yang ia katakan. Dari mulai mencari di google, youtube, sampai mendownload kamus bahasa isyarat di playstore ponselku. Sebenarnya aku bisa berkomunikasi dengan Ray tanpa menggunakan bahasa isyarat, karena ia bisa mendengar apa yang aku ucapkan dengan bantuan alat pendengar yang ada di telinganya.

Saat ini, aku hanya baru bisa mengatakan beberapa kata saja, karena ternyata tidak mudah untuk belajar berbahasa isyarat. Ray bilang, ia juga sama sepertiku, kesulitan saat pertama kali belajar bahasa isyarat. Jelas saja, aku yang normal sudah kesulitan, apalagi dia. Tapi, karena ia terus menerus belajar dan belajar, akhirnya ia bisa berbahasa isyarat dengan baik dan lancar seperti yang ia gunakan sekarang untuk berkomunikasi dengan yang lain.

“Lagi ngapain kamu?” Tanya ibu ketika melihatku menggerak-gerakkan tanganku sambil mulutku menerjemahkan apa yang diisyaratkan dari isyarat gerakan tanganku itu.
“Lagi belajar bahasa isyarat Bu, biar bisa ngobrol sama Ray!” Jawabku.
Selama belajar bahasa isyarat, aku tidak pernah bilang ke ibu. Jadi, wajar bila ibu bertanya ketika melihatku seperti itu.
“Emangnya bisa?” Ibu berkata tak percaya.
“Bisa dong Bu! Apa sih yang gak bisa buat Ray?” Tanpa sadar, aku berkata seperti itu yang berarti aku mengatakan suka dengan Ray pada ibu secara tidak langsung.
“Suka nih sama Ray?” Ibu meledekku.
“Apaan sih, ibu?!” Aku tersipu malu.
Suka sama Ray? Ya, aku memang suka dia. Aku merasakan ada sesuatu perasaan yang berbeda jika melihatnya. Sesuatu perasaan yang dinamakan cinta itu tumbuh di dalam hatiku dari awal bertemu dengannya sampai saat ini.

“Memangnya kamu sama Ray mau pergi kemana?” Tanya ibu ketika ku sedang mengikat tali sepatu di ruang tengah.
“Gak tahu tuh Bu, Ray mau kemana?” Jawabku.
Semalam, Ray mengirimiku pesan singkat yang isinya ia mau mengajakku ke suatu tempat tanpa memberitahuku dimana tempatnya. Aku langsung bilang pada ibu malam itu juga, dan ibu mengizinkanku untuk itu.
“Ya udah Bu, aku berangkat ya! Assalamualaikum!” Aku berkata sambil mencium tangannya.
“Wa’alaikumsalam. Hati-hati ya!” Jawab ibu.
Aku langsung ke luar dan berjalan menuju rumah Ray. Seperti biasa, ketika sampai aku selalu mengetuk pintu rumahnya dan mengucap salam. Tapi, kali ini aku hanya mengetuk pintunya saja, tidak mengucap salam. Aku ingin memperlihatkan pada Ray ucapan salam melalui bahasa isyarat yang sudah kupelajari.

Semenit kemudian, Ray pun membukakan pintu untukku. Aku langsung membuat isyarat bentuk huruf “A” pada tangan kananku sambil ibu jarinya dikenakan pada tepi dahi kananku, lalu digerakkan ke depan yang mengisyaratkan “Assalamu’alaikum”.
Ray tersenyum dengan raut wajahnya yang terlihat terkejut karena melihatku melakukan bahasa isyarat seperti itu. Ia menjawab ucapan salamku yang juga menggunakan bahasa isyarat.
Dengan tangan kanannya membentuk huruf “W”, sambil jari telunjuk dikenakan pada tepi dahi kanannya, lalu digerakkan ke depan dan mulutnya mengucap, “Wa’alaikumsalam” Tanpa bersuara.
Menjawab salam hampir sama seperti mengucap salam. Yang membedakan adalah bagaimana bentuk huruf yang dibuat pada tangan kanannya, yaitu membentuk huruf “W” dan jari apa yang dikenakan pada tepi dahi kanannya, yaitu jari telunjuk.
“Kita mau kemana?” Aku berkata tanpa menggunakan bahasa isyarat.
Ray bisa mendengar dan mengerti apa yang aku ucapkan walaupun tanpa menggunakan bahasa isyarat, karena ia menggunakan alat bantu pendengaran yang membantunya mendengar apa yang orang lain ucapkan.
“Kemana?” Aku bertanya setelah ia menjawab dengan menggunakan bahasa isyarat yang aku tak mengerti apa maksudnya. Belajar bahasa isyarat dalam beberapa hari saja masih belum bisa membuatku menguasai sepenuhnya, hanya beberapa saja.
Kemudian, Ray mengeluarkan sebuah buku cacatan kecil dari saku bajunya yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi untuk menjawab setiap ucapan yang diucapkan oleh orang lain padanya. Selama aku mengenalnya, ia tak pernah membuka mulutnya untuk menjawab setiap kali ucapanku.
Ray bilang, ia lebih nyaman menggunakan bahasa isyarat daripada berbicara langsung. Ia kesulitan saat berbicara langsung dengan menggunakan mulutnya. Ia tidak bisa berbicara normal sepertiku dan yang lainnya. Orang lain yang mendengar suaranya juga pasti tidak akan mengerti dengan apa yang ia ucapkan, karena ucapan yang keluar dari dalam mulutnya terdengar kurang jelas.
“Aku mau mengajakmu kesekolahku. Ada salah satu temanku yang akan merayakan ulang tahunnya di sekolah hari ini!” Ray menjawab melalui tulisan yang ia tulis di buku itu.
Aku terkejut. Ulang tahun? Berarti aku harus mempersiapkan kado untuk temannya!?
“Kenapa gak bilang? Aku belum mempersiapkan kado untuk temanmu!”
“Kamu gak perlu mempersiapkan kado untuknya, aku yang sudah mempersiapkannya!” Ia kembali menjawab melalui tulisan yang ia tulis di buku itu.
Mengetahui itu, aku hanya diam. Kemudian, ia masuk ke dalam mengambil kado yang sudah ia siapkan untuk dikasih temannya yang akan merayakan ulang tahun di sekolahnya hari ini.

Setelah selesai mengambil kadonya, aku dan Ray pun berangkat. Kami memilih berjalan kaki menuju tempat yang akan kami tuju yang tidak terlalu jauh jaraknya. Tapi, jika dengan berjalan kaki itu lumayan jauh dan dua kali lebih lama dibandingkan menggunkan kendaraan umum yang hanya memakan waktu sepuluh menit.
Sepanjang perjalanan kami mengobrol, becanda, dan tertawa bersama. Itulah alasannya mengapa kami memilih berjalan kaki daripada naik kendaraan umum. Bukan hanya itu, suasana jalannya pun sepi. Jadi kami bisa lebih leluasa berjalan tanpa ada banyak kendaraan yang melintas yang mengganggu jalan kami. Karena hari ini adalah hari libur, orang-orang yang bekerja sedang beristirahat di rumah setelah lelah bekerja.

Saking asyiknya mengobrol, kami sampai tak sadar bahwa kami sudah tiba di tempat tujuan kami. Yaitu di sekolah luar biasa khusus untuk tunarungu, yang merupakan tempat Ray bersekolah sekaligus tempat dimana acara perayaan ulang tahun temannya dilaksanakan.
Ray langsung mengajakku masuk ke sebuah kelas yang ternyata kelas itu adalah kelasnya. Disana sudah banyak teman-temannya yang datang dengan memegang kado ulang tahun di tangannya. Mereka menoleh ke arah kami setelah mengetahui kedatangan kami. Ada salah satu teman perempuan Ray menghampiri kami. Ia melambai-lambaikan tangannya mengisyaratkan “Hai” pada kami. Ray membalas lambaian tangannya, begitu juga denganku.
Kemudian, Ray langsung mengenaliku padanya. Sambil menunjuk kearahku, kedua tangannya mulai membentuk huruf “N A Y L A”. Setelah tahu namaku, ia langsung mengulurkan tangannya padaku sambil mengatakan sesuatu melalui bahasa isyarat. Aku yang tidak mengerti apa yang diucapkan padanya langsung menoleh pada Ray. Ia pasti tahu apa yang diucapkan oleh sang teman.
“Viola bilang kamu cantik!” Begitulah terjemahan dari isyarat temannya yang bernama Viola yang Ray tuangkan ke dalam tulisan di buku catatannya.
“Makasih, kamu juga cantik! Cantik banget!” Aku menjawab tanpa menggunakan bahasa isyarat. Viola tersenyum malu saat aku berkata demikian. Dia bisa mendengar apa yang aku ucapkan dengan bantuan alat pendengaran di telinganya, sama seperti Ray.

Cantik? Ya, teman perempuan Ray ini memang cantik, sangat cantik. Aku sampai terperanjat saat melihatnya, dan melihat teman-teman Ray lainnya, baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Mereka semua sekilas terlihat sempurna, cantik-cantik dan tampan-tampan, sama seperti saat pertama kali aku melihat Ray. Tapi sayang, itu hanya pengelihatan dari luarnya saja, ternyata mereka memiliki kekurangan sama seperti Ray.
Aku sedih melihatnya, melihat Ray dan teman-temannya. Mereka hidup dalam kesunyian. Mereka tidak bisa hidup normal sepertiku dan seperti yang lainnya yang diberikan pendengaran yang normal, yang bisa mendengar dengan baik dan bisa berbicara dengan baik juga.
Ray pernah bilang padaku, selain ayah, ibu, dan teman-temannya di sekolah, tidak ada orang lagi yang berbicara padanya. Pasti mereka semua begitu, karena mereka tidak bisa mendengar dan berbicara dengan baik.
Padahal, mereka semua sangat baik dan ramah. Mereka membutuhkan kami yang memiliki kelebihan untuk menjadi teman sekaligus menjadi pelengkap hidupnya, karena kekurangan dan kelebihan itu menjadi satu agar manusia bisa saling membantu dan melengkapi satu sama lain.

Lalu, Viola mengenaliku pada semua orang yang ada di dalam kelas dengan menggunakan bahasa isyarat, seperti yang Ray lalukan tadi saat mengenaliku pada dirinya. Satu persatu mereka berjabat tangan padaku sebagai tanda pengenalannya.
Ada salah satu laki-laki dari beberapa antara laki-laki yang mengatakan hal yang sama seperti Viola dengan menggunakan bahasa isyarat padaku saat kami berkenalan. Aku tersipu malu mengetahui ia berucap demikian, lalu aku mengucap “Makasih” seperti jawabanku ketika Viola berkata seperti itu. Tapi, kali ini dengan bahasa isyarat, tanpa berucap langsung.
Aku baru ingat, bahwa aku bisa mengatakan kata itu melalui bahasa isyarat, karena aku sudah belajar sebelumnya. Dengan tangan kananku terbuka dan dikenakan pada bibir, lalu digerakkan ke depan sambil bibirku mengucap, “Makasih”.
Sepuluh menit kemudian, acaranya pun dimulai. Ada seorang guru perempuan yang membuka dan memimpin jalannya acara. Setelah beberapa rangkaian acara telah berjalan, semuanya bernyanyi lagu selamat ulang tahun untuk yang berulang tahun yang sudah berdiri di tengah-tengah semuanya dengan menggunakan bahasa isyarat.
Bersama-sama mereka membuat isyarat “Selamat”. Kemudian, kedua belah tangan mereka membentuk huruf “A” pada paras telinga, lalu dibuat satu pusingan arah lawan jam yang mengisyaratkan “Ulang tahun”. Aku mencoba untuk ikut melakukan itu, dan akhirnya aku bisa.

Bahagia sekali aku berada di tengah-tengah mereka, bahagia sekali melihat senyum terpancar di wajahnya. Senyum tulus yang menyadarkanku bahwa aku harus seperti mereka, yang selalu tersenyum dalam menjalani hidupnya meski mereka memiliki kekurangan. Tidak seperti aku yang malas untuk tersenyum jika aku merasa hidupku kurang.
Bukan kekurangan yang menghalangi kita untuk tersenyum, tapi bagaimana kita membuat senyum itu selalu ada walau dengan kekurangan yang kita miliki.
Aku jadi menyesal selalu berkata, “Aku gak dengar!” Sambil menutup telingaku ketika ibu dan teman-temanku berbicara padaku saat aku sedang marah dengan mereka. Padahal yang tidak bisa mendengar ingin bisa mendengar sepertiku, tapi aku malah berlaku demikian. Seharusnya aku mensyukuri pendengaran yang diberikan Tuhan untukku, bukan malah menyia-nyiakannya seperti itu.

Beberapa saat kemudian, acaranya pun selesai. Sebelum pergi meninggalkan sekolah, aku dan Ray berpamitan dengan bersalaman pada semuanya. Lalu, kami berjalan mengeluari kelas. Ketika baru beberapa langkah kami berjalan, tanpa disadari ada seseorang yang sedang berlari menuju ke arahku dari belakang. Aku pun jatuh ke lantai, karena ia menabrakku dengan keras.
“Awww!” Aku berteriak kesakitan, karena lututku yang lebih dulu jatuh ke lantai.
Ia langsung menghadapku, dan mengatakan sesuatu melalui bahasa isyarat. Ternya ia adalah laki-laki yang ada di dalam kelas Ray tadi. Dengan membuat bentuk huruf “A” pada tangan kanannya dan diletakkan di dadanya, lalu diputar seperti satu pusingan arah jam. Aku mengerti apa yang dikatakannya, ia mengatakan “Maaf”.
“Gak apa-apa! Aku gak apa-apa kok!” Aku berkata tanpa menggunakan bahasa isyarat. Aku tidak tahu apakah ia mendengar dan mengerti apa yang aku ucapkan, karena aku tidak memperhatikan telinganya yang terpasang alat bantu pendengaran atau tidak.
Kemudian, Ray membantuku berdiri. Orang yang menabrakku masih ada di hadapanku. Ia kembali mengatakan maaf padaku. Aku tersenyum padanya mengisyaratkan bahwa aku baik-baik saja setelah ditabraknya. Sekali lagi, ia meminta maaf padaku sebelum pergi meninggalkanku dan Ray. Lalu, kami melanjutkan perjalanan menuju pulang ke rumah.

Ketika di pertengahan jalan, Ray mengajakku ke minimarket yang pernah aku dan ia datangi waktu itu. Ia membeli dua minuman dan dua ice cream, yang satu untuknya dan yang satu untukku. Kami meminum minuman itu dan memakan ice cream itu di sebuah taman yang tidak terlalu jauh dari minimarket.
Saat kami menikmati ice cream, sesekali Ray memperhatikanku. Aku yang sadar diperhatikan seperti itu langsung berkata. “Kenapa? Kok gitu banget lihat akunya?”
Ia tersenyum dan menjawab ucapanku. Aku mengernyitkan alisku setelah mengetahui jawabannya sama seperti teman perempuan dan teman laki-lakinya yang di sekolah tadi yang mengatakan bahwa aku cantik.
“Ah.. gombal!” Aku menepuk bahu kirinya dan mendorongnya sampai membuatnya hampir terjatuh dari bangku yang kami duduki.
“Maaf, maaf!” Aku berkata sambil membantu membenarkan posisi duduknya kembali.
Ray tersenyum dan berkata melalui bahasa isyarat, “Gak apa-apa!”.
“Kamu juga, kamu ganteng!” Aku balas memujinya.
Ray tersenyum saling menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku yang melihatnya seperti itu tertawa. Ia juga ikut tertawa. Dan kami berdua pun tertawa lepas, sampai-sampai kami lupa waktu hingga hari berubah menjadi gelap.
“Udah mau malam, pulang yuk!” Ajakku. Kami berdua pun bangkit dari duduk kami dan berjalan menuju pulang ke rumah.
Hari ini aku benar-benar sangat bahagia. Bisa bertemu dengan teman-temannya Ray yang menyadarkanku untuk mensyukuri hidupku, dan juga bisa menghabiskan waktu berdua hanya dengan Ray seperti ini.

Entah kenapa, aku merasakan kenyamanan saat berdua dengannya. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Sepertinya benar, ini yang dinamakan jatuh cinta. Atau, ini yang dinamakan cinta buta? Eh, tidak. Cintaku bisa melihat.
Cintaku bukan seperti lirik lagu Al-Ghazali yang berjudul “Lagu galau” yang berbunyi, “Cinta itu buta dan tuli, tak melihat tak mendengar.” Tidak. Cintaku tidak seperti itu. Cintaku bisa melihat, dan cintaku bisa mendengar.
Aku bisa melihat cintaku ada pada diri Ray. Aku bisa melihat Ray menatapku dengan penuh cinta. Aku bisa mendengar suara hatiku yang mengatakan bahwa aku cinta padanya. Begitu juga sebaliknya, aku bisa mendengar suara hati ray yang mengatakan bahwa ia cinta padaku.

Aku benar-benar mencintai Ray. Perasaan ini semakin kuat, kuat, dan kuat. Aku tidak bisa menahannya lagi, aku harus mengatakannya sekarang. Aku tidak peduli dengan pernyataan yang menyatakan bahwa laki-laki yang harus lebih dulu mengatakan atau menyatakan cintanya, gengsi bila perempuan yang melakukan itu lebih dulu.
Kalau aku mengikuti itu, aku akan kehilangan cintaku, karena aku tidak mengatakan padanya bahwa aku mencintainya. Untuk apa gengsi bila dipendam-pendam hanya menjadi beban yang akan membuat sakit hati?
“RAY!” Aku berteriak memanggilnya sebelum ia masuk ke dalam rumahnya. Ia menoleh ke arahku.
Aku langsung memegang dadaku dengan kedua tanganku yang mengisyaratkan “Aku”, dan membentuk lambang hati dengan jari-jari pada kedua tanganku yang berarti “Cinta”, lalu menunjuk ke arahnya yang berarti “Kamu”.
Ray terkejut melihatku begitu. Kemudian, ia berlari menghampiriku yang sedang berdiri cukup jauh darinya. Ia langsung memelukku, erat sekali. Aku membalas pelukannya dengan erat pula.
“Aku juga cinta kamu Nayla!” Untuk yang pertama kalinya ia langsung berkata melalui mulutnya padaku. Meski terdengar kurang jelas, tapi aku mengerti apa yang ia ucapkan.
Tiba-tiba saja air mataku mengalir di pipiku. Aku menangis karena bahagia mengetahui Ray juga mempunyai rasa yang sama sepertiku.
Ray melepaskan pelukannya ketika air mataku jatuh dan membuat basah bajunya.
“Jangan menangis Nayla!” Ia berkata sambil menghapus air mataku.
“Maaf, aku tidak langsung mengatakan ini padamu. Sebenarnya, aku merasakan hal yang sama sepertimu. Tapi, aku takut kamu tidak akan merasakan hal yang sama sepertiku karena kekuranganku ini.” Sambungnya.
“Nggak Ray, nggak! Kamu salah! Aku merasakan hal itu saat pertama kali kita bertemu waktu itu. Kamu bisa melihat kan bagaimana sikap aku ke kamu? Bagaimana aku melihat kamu? Apa aku pernah menyinggung tentang kekuranganmu? Nggak kan?!” Aku berkata dengan lantang.
“Jujur, aku memang sempat kaget saat mengetahui keadaan kamu. Kamu yang terlihat sempurna, ternyata memiliki kekurangan juga. Tapi aku tidak mempedulikan itu, karena cinta tidak seperti itu. Cinta adalah perasaan seseorang yang menyanyangi seseorang yang dicintainya dengan tulus tanpa memandang kelebihan dan kekurangnya dia.” Tambahku.
“Tapi kamu terlalu sempurna Nayla. Kamu bisa mendapat laki-laki yang lebih sempurna dari aku.” Ray merendahkan dirinya sendiri dengan berkata seperti itu.
“Apa yang sempurna harus berpasangan dengan yang sempurna juga? Nggak kan Ray?!” Aku menentangnya. Ia hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya setelah aku berkata demikian.
“Biarkan aku mencintaimu, biarkan aku menjadi telinga dan mulutmu, biarkan aku menjadi teman dan penyempurna hidupmu. Aku mencintaimu Ray!”
Tanpa disadari, air mata kembali mengalir di pipiku. Dan tanpa disadari juga, matanya Ray berkaca-kaca, air mata sudah membendung di matanya. Sedetik kemudian, air matanya tumpah dan mengalir membasahi pipinya.
Ray kembali memelukku. Kali ini aku benar-benar merasakan hangatnya pelukan penuh cinta darinya. Sepertinya ia mendengarkan ucapanku tadi dan tidak lagi menganggap dirinya tidak pantas aku miliki.

“Maafkan aku Nayla, maafkan aku. Karena keadaanku yang seperti ini aku jadi menyia-nyiakan cintamu. Maafkan aku. Aku juga mencintaimu Nayla. Kamu mau kan menjadi pendamping hidupku?” Ray berkata sambil melepaskan pelukannya. Aku hanya mengangguk sebagai jawabannya, karena aku sulit berbicara ketika sedang menangis seperti ini.

Lagi-lagi Ray kembali memelukku. Pelukkannya itu dapat menghangatkan tubuhku dari dinginnya angin malam yang sedang berhembus menyaksikan cinta kami berdua. Bukan hanya angin, bulan, bintang, dan semuanya pun yang ada menjadi saksi cinta kami yang sederhana, sesederhana isyarat “I love you”.

Cerpen Karangan: Siti Mariyam
Facebook: Siti Mariyam

Cerpen Sederhananya Cintaku Sesederhana Isyarat I Love You merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Malam yang Indah

Oleh:
Hakim Pratama, laki-laki yang mempunyai wajah tampan, mahir bermain alat musik, humoris, murah senyum, baik hati, romantis, dan yang pasti, dia adalah laki-laki yang menjadi rebutan wanita di SMA-nya.

When I Miss You

Oleh:
Jari-jari kokoh itu terus menekan setiap tuts piano di depannya. Mengalunkan sebuah nada indah yang siapa saja mendengarnya akan terhipnotis. Aku berjalan mengikuti alunan suara indah itu, yang aku

Kau Lupa?

Oleh:
“Tunggu!” Aku menahan tangannya. Ia berbalik. Tanpa jawab. Dengan jelas raut wajahnya dapat kubaca, apa lagi? “Tak bisakah kau sedikit memutar waktu kebelakang?” “Tidak, aku terlalu sibuk untuk mengerjakan

Love and Letters

Oleh:
Sehabis pulang sekolah biasanya aku mampir ke sebuah warung di dekat sekolahku. Warung tersebut tak terlalu besar, tapi menurutku sangat nyaman. Biasanya aku di sana bersama Edgar, sahabatku sejak

La Saint Valentin

Oleh:
Aku melihat ke setiap sudut di kota itu. Memancarkan aura merah muda di hari itu. Awan, langit, semua merah muda. Gadis-gadis pun merias diri di depan kaca. Pipinya dirias

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *