Semua Tentang Kita (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 6 March 2018

Jiko melantunkan lagunya dengan gitar kesayangannya. Kejadian tadi siang di sekolah membuat dia gelisah.

“Bro, tumben lo nyanyi lagu galau. Biasanya juga Rock?” kata Eiji
“Diem lo, gue memang lagi galau.” Jiko melanjutkan nyanyiannya.
“Apa? Jiko bisa galau? Hahaha.” Zul tertawa
Jiko gak mau mendengar ledekan Zul dan terus bernyanyi.

“Bro, lo kenapa sih?” giliran Mufli bertanya.
Jiko menghentikan nyanyiannya, dia terdiam.

“Kenapa sih lo? Jangan bilang cewek-cewek lo gak mau sama lo lagi.” Cetus Mufli
“Apaan sih, mana mungkin. Yang ada gue pengin putusin mereka. Gue gak mau mainin cewek lagi.” Ujar Jiko
“Hah?! Lo sehat kan bro?” Mufli menempelkan tangannya di Jidat Jiko. Jiko menepis tangan Mufli. “Apaan sih, gak jelas lo.”

“Hn, gue mau apel ke rumah Lisa.” Kata Zul sambil beranjak dari tempat duduknya.
“Eh, enak aja lo. Lisa pacar gue, gue baru tembak dia kemarin.” Mufli menarik baju Zul
“Tapi Lisa masih status pacar gue.” Zul terus berjalan.
“Eh, gak bisa, dia pacar gue.” Mufli gak mau kalah

“Wei kalian, bisa gak kalian gak ribut. Suara kalian mengganggu tau.” Kata Eiji yang tengah mengobrol dengan Eliz lewat telpon.
“Ehem,” Jiko melotot tajam, menghentikan perdebadan antara mereka. “Gue mau tidur, kalian gak usah ribut.” Jiko berjalan memasuki kamar.
“Si Mr. perpect kenapa sih?” tanya Eiji
“Ntah.” Jawab Mufli singkat. “Udah ah, biarin aja dia, besok juga dia normal lagi.”

Keesokan harinya…
Jiko CS berjalanmenyusuri setiap ruang kelas. Seperti biasa mereka dikerumuni oleh para pengemarnya.

“Jik, sebenarnya kita mau ke mana sih?” tanya Mufli
“Ikut aja, lu gak usah nanya macam-macam.”
“Tapi gue males dikerumuni kayak gini. Gendang telinga gue mau pecah gara-gara teriakan.” Keluh Mufli
“Sudah diam, cerewet!”

“Akhir-akhir ini lo kok aneh sih, gak biasanya lo begini?”
Jiko mengacuhkan pertanyaan Mufli, (lagian Mufli banyak nanya, wkwk) sedangkan Eiji dan Zul tengah asik berfoto ria dengan para fansnya.

Erma, Fikri dan Feny sedang bermain kartu di kelasnya. Namun mereka merasa terganggu dengan kebisingan yang berasal dari teriakan cewek-cewek lebay di luar kelas.
“Ada apa sih?” Fikri penasaran, dia berjalan ke arah jendela dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. “Hmm, dasar.” Gumam Fikri
“Kenapa Fik?” tanya Feny, sedangkan Erma memilih untuk diam dengan menyibukkan diri dengan kartunya.
“Jiko dan kawan-kawan, yuk Ma, kita balas dendam.” Kata Fikri

“Kyaa, Jiko CS, aduuh, gue harus dandan nih.” Kata Feny
“Apaan sih Fen, kita mau balas dendam ama mereka. Iya kan, Ma?”
Erma mendengus, “Udah, biarin aja, males berurusan ama mereka.” Ujar Erma datar

“Lo kok gitu, Ma, katanya lo mau bales dendam, tapi kok lo?”
“Percuma.” Potong Erma
“Kok percuma?”
Erma diam.
“Ma…” panggil Fikri
Tiba-tiba, rombongan orang masuk kelas disusul dengan munculnya Jiko CS. Suasana kelas yang semula sepi mendadak jadi ramai. Erma tak terima dengan kedatangan Jiko. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa, dia memilih untuk diam.

Jiko menghampiri Erma. “Hei!” kata Jiko
Erma cuek.
“Hei!” kata Jiko lagi, namun Erma tetap tak mau menggubris si Jiko.
“Hei.” Kata Jiko sekali lagi

Erma mulai risih dengan keberadaan Jiko di depannya. Erma bangkit dan menggebrak meja. “Apa lo, mau gangguin gue lagi? Sorry ya, gue males nanggepin orang macam lo.” Mata Erma berkaca-kaca setelah mengatakan itu, lalu dia pergi meninggalkan Jiko.
Jiko mengejar Erma dan berhasil memegang pergelangan tangannya. “Hey, gu… gue Cuma mau minta maaf sama lo kalau selama ini gue selalu nyakitin lo.”
“Udah lepasin!” Erma berlari keluar kelas

Mufli, Zul dan Eiji ternganga melihat sikap Jiko yang berubah seratus delapan puluh derajat dari biasanya.
Mufli menepuk pundak Jiko. “Bro, gue gak nyangka lo ngelakuin ini.”
“Kenapa Muf, kenapa? Kenapa dia nggak mau menerima permintaan maaf yang tulus ini.”
Mufli terdiam, begitu juga dengan Eiji dan Zul.
Hening…

“Karna lo terlalu kasar sama dia.” Suara Fikri memecahkan keheningan.
Jiko tertunduk semakin dalam. “Gue menyesal.”
“Setelah dia menderita lo baru bilang menyesal? Hah!”
“Eh songong, penyesalan itu kan memang datang terakhir. Mana ada penyesalan datang lebih awal.” Mufli menyanggah perkataan Fikri
“Hn, iya sih. Tapi yang jelas dia sangat menderita sekarang, gue sebagai sahabatnya bisa merasakannya.” (Ceilehh)
“Iya, gue harus minta maaf sama dia, harus!” Jiko menyemangati dirinya sendiri

“Eh, kalian sahabatnya… hn, siapa namanya?” tanya Jiko
“Erma.”
“Iya, kalian sahabatnya Erma kan?”
“Iya.” Jawab Feny dan Fikri kompak
“Kalian mau nggak bantuin gue, supaya dia maafin gue.” Kata Jiko

Diam sejenak.
Lalu…
Fikri dan Feny mengangguk.

“Oke, kalau gitu, yuk ke kelas gue. Kita susun rencana di sana.” Ajak Jiko
Mereka pun berjalan menuju kelas Jiko.

Erma berlari ke arah toilet, dia menangis sejadi-jadinya di sana. Dia mengingat semua kejadian saat pertama bertemu Jiko sampai titik ini, bagaimana dia melihat wajah Jiko saa meminta maaf tadi.
“Hiks, hiks… Jiko, sebenarnya aku ingin memaafkanmu, tapi aku sangat terpukul atas semua perlakuanmu itu. Hiks… aku hancur, Jik. Hancur. Aku ingin kau tau satu hal, sebenarnya aku… Hiks… hiks… sebenarnya…”

Tok tok… tiba-tiba pintu toilet diketuk dari luar. Erma cepat-cepat mengusap air matanya dan membuka pintu toilet.
“Lama banget sih?” kata seorang gadis
“Maaf.”
“Awas, gue udah kebelet nih.”

Bell istirahat ke dua berteriak, tanda pelajaran berakhir. Bagi Jiko, itu adalah saatnya menjalankan rencananya. Kelas Erma adalah sasarannya. Jiko menggerakkan segenap jiwa dan raga. Tak butuh waktu lama untuk sampai di kelasnya Erma. Kali ini dia tidak bersama tiga kawannya, namun walaupun begitu, fans-fansnya masih setia meneriakinya. (kayak maling aja)

Jiko beruntung, kelas Erma cukup sepi. Sebab sebagian besar warganya dipastikan menderita kelaparan akutdan sedang melakukan ekpansi besar-besaran ke kantin. Pandangannya tertuju pada dua orang sejoli yang sedang ngobrol satu sama lain. Ya, mereka adalah Fikri dan Feny. Fikri tersadar dengan Jiko dan menyuruh Jiko mendekatinya.

“Bagaimana Fik?” tanya Jiko
“Aman, Erma sekarang lagi di kantin. Jadi dia nggak tau rencana kita.”
“Eh, kak Jiko, emang kak Jiko yakin ya rencana ini akan berhasil?” Feny mengedip-ngdipkan mata
“Kita lihat saja nanti, hehehe.” Jiko nyengir lebar

Erma duduk di bangku kantin, menghamparkan sepiring nasi di meja. Gadis itu memainkan sendok tanpa berniat memakan makanannya. Tiga orang pemuda datang dan memanggilnya. Erma menekan tombol pause pada otaknya, kemudian beralih ke ketiga pemuda itu. Erma cukup mengenalinya, bahkan semua siswa di sekoalah ini mengenalnya, ya, mereka adalah Eiji, Mufli, dan Zul.

“Ada apa?”
“Bisa ngobrol sebentar?” Eiji angkat bicara
“Silakan.” Erma ingat betul, wajah orang-orang inilah yang menyebabkan kegalauan pada dirinya.

Eiji membalik kursi kosong di depan meja Erma. “Kita ke sini mewakili si Jiko, mau minta maaf ke lo atas semua perlakuan kita yang nggak mengenakkan.” Ucap Eiji jantan
“Oke, pertama, kalian nggak perlu minta maaf atas apa pun karna lebaran udah lewat, dan lagi pula, gue udah ngelupain semuanya. Kedua, gue mau kalau Jiko minta maaf sendiri, bukan diwakili kayak gini.”

“Gini, Ma. Dalam beberapa hari ini, Jiko sangat terpukul dan dia sekarang kritis di rumah sakit.” (pembohong)
“Hah?! Serius lo, si Jiko sakit apa?” muka Erma menggambarkan kecemasan.
“Cie, khawatir.” Eiji menggoda Erma
“Hey, walaupun dia udah nyakitin gue, tapi gue rada kasian sama dia. Sebenarnya kemarin, gue mau maafin dia. Tapi gue masih sangat terpukul.” Erma bercerita panjang lebar

“Ehem, jangan-jangan lo suka sama Jiko.” Sambung Mufli sembari ngemut permen
“Hn, Jiko sakit apa?” Erma mengalihkan pembicaraan
“Sakit hati.”
“…”

“Ma, kok diem?”
“Serius napa, Jiko sakit apa?” Erma melotot
“Mending kita ke kelas lo aja, Ma.” Ajak Eiji
“Ngapain?”
“Ikut aja!” Eiji bangkit dari kursinya, lalu pergi meninggalkan Erma.
Erma bingung. Dia melahap nasi yang baru dibelinya dan berjalan menuju kelas.

Sesampainya di kelas, ternyata di kelas tidak ada orang sama sekali.
“Hn, kok sepi. Maksud mereka apa nyuruh-nyuruh gue ke sini?” Erma duduk di kursinya dan mengambil sebuah komik dari dalam tasnya.

30 menit kemudian…
Erma menghabiskan semua isi komik, dia merasa heran, penghuni kelas ini kemana. Bahkan kedua sahabatnya entah berada di mana sekarang.
“Huh.” Erma membenamkan wajahnya di meja

Satu detik…
Dua detik…
Tiga detik…
“Ma!” panggil sebuah suara
Erma mengangkat wajahnya. “Ji… Jiko?” dia kaget karena Jiko udah berdiri di depannya. “Bu… bukannya lo di rumah sakit?”
“Kata siapa?” Jiko tersenyum
“K…kata temen-temen lo.”
“Mungkin kamu bermimpi.” Kata Jiko sembari duduk di depan Erma.
Jantung Erma berdegup kencang melihat senyum Jiko.

“Ma, gue mau minta maaf sama lo kalau selama ini gue jahat sama lo.”
“Nggak perlu minta maaf kok, gue udah maafin lo.” Ujar Erma tanpa kekurangan senyum
“Serius, Ma. Makasi ya.” Wajah Jiko sumringah
“Emm.” Erma mengangguk

“Ma, gue mau memberikan sesuatu.”
“Sesuatu? Apa?”
Jiko mengangkat tangan kanannya kemudian menjetikkan jarinya. Beberapa orang masuk kelas, kemudian membentangkan spanduk lebar yang membuat jantung Erma mau copot.
Spanduk itu warna-warni bertuliskan huruf meliuk-liuk indah dengan ornamen hati.
‘ERMA, MAU NGGAK JADI PACAR AKU?’
Semua bertepuk tangan dan bersiul.
“Swit swiit.”

Erma bengong tak percaya, orang paling populer di sekolah ini nembak dia.
“Ma, bagaiman, kamu mau nggak?”
Perasaan Erma campur aduk, tetapi semua itu menuju ke satu kesimpulan bahwa tidak ada alasan buat Erma untuk menolak Jiko. Karena dia juga suka sama Jiko. Erma mengangguk.
Wajah Jiko sumringah. “Ja, jadi kamu nerima aku?”
Erma mengangguk, senyumnya ngembang.
Seisi kelas riuh bertepuk tangan.

“Selamat ya, Ma…!”
“Feny?” Erma beraksi.
Pandangan Erma mengarah ke kedua sahabatnya dan trio wekwek, Eiji, Mufli dan Zul. “Jangan-jangan kalian tau bakal ada kejadian ini?”
Feny menagguk.
“Kok bisa?”
“Kita udah rencanain ini jauh-jauh hari, Ma.” Jelas Fikri
“Kenapa lo nggak ngasi tau gue.” Ujar Erma sebel
“Kalau gue ngasi tau lo, otomatis rencana kita gagal total, Ma. Coba bayangkan kalau kita ceritain ini semua ke lo, momen ini akan garing, Ma.”
Erma mengangguk senang.

Cerpen Karangan: Erna Kurniawati
Facebook: facebook.com/erna.kurniawati.773
See U Next Episode

Cerpen Semua Tentang Kita (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pencuri Hati

Oleh:
Seperti biasa, Renia sibuk mempersiapkan roti-roti yang akan dipajang di etalase coffeshop tempat ia bekerja. Hampir tiga bulan lamanya Renia bekerja disana dan selama itu pula ia dipercaya oleh

Hujan Mempertemukanku Dengannya

Oleh:
Gemercik-gemercik air mulai membangunkanku dari mimpi tentangmu, sesaat kupandangi jendela yang dipenuhi embun di pagi ini. Musim hujan tahun ini mengingatkanku tentang dirinya. Kembali teringat 1 tahun yang lalu

Lonely

Oleh:
“sekolah lagi.. sekolah lagi… Hufft membosankan!!” aku menghardik diriku sendiri di dalam kesunyian. Alunan suara jangkrik masih terdengar di antara sejuknya pagi. Baju seragam putih kukenakan beserta rok kotak-kotak

The First Boyfriend

Oleh:
Cinta itu Rumit dan sulit dijelaskan… Cinta bisa merubah hidup dan jalan pemikiran kita… Karena cinta Aku kenal yang namanya ANIME, dan karena anime aku kenal dan deket sama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *