Senja Bersamamu (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 8 July 2019

‘Masih dibalas Sunyi’ gumamku dalam hati

Sudah setahun belakangan ini selalu saja ada yang diperdebatkan diantara kami, selalu saja tidak sepaham. Arggh. Apa ini cobaan dalam sebuah hubungan?

Aku, Adnan Hussain. Seorang pengembala rindu pada orang yang aku tunggu juga seseorang yang mencinta dunia goresan pena. Yang disibukkan oleh skripsi juga mencintai kana ku. Aku sudah memiliki Kana, dia adalah Kekasihku ‘Kananya Ardianti putri’

Memiliki kekasih sepertinya membuat aku terlihat lebih sempurna, sebab kami menyamakan langkah berdua. Aku sungguh menyayanginya.

Ya, akhir-akhir ini memang hubungan kami terlihat kurang baik. Ini sebab kesalahanku yang tak mengikuti keinginanya waktu itu. Ia menginginkan aku berhenti menjadi Seorang Penulis. Sebab katanya penulis itu banyak pengagumnya.
Entah ini rasional atau tidak, tentu saja aku tidak mengiyakan keinginannya itu.

Aku ini menekuni dunia goresan pena telah sejak lama. Hingga kini menulis sudah menjadi hobby juga rutinitasku.

Yap, aku rasa alasannya menjauh dariku hanya karena tak menyukai rutinitasku ini berlebihan. Semacam alasan klise hanya untuk menyudahi yang kini terjadi.

“Sudah sejam aku menunggu kabar darimu Kana, tidakkah kamu berniat untuk membalas pesanku juga memberiku waktu barang sejenak untuk melepas Rindu?” Satu pesan singkat yang kukirim padanya melalui aplikasi WhatsApp.

Dua puluh lima menit kemudian…
“Iya?, aku lagi sibuk nih nan. Lagi nugas nih bareng temen di cafe Serdadu” ia membalas pesanku

“Wah, dekat kalau begitu Kana, aku ke sana menyusulmu ya Kana. Tunggu aku di sana.” Tanpa menunggu jawaban dari kana, aku bergegas menuju motor Maticku dan langsung tancap gas menuju Cafe untuk menemui Kana ku.

Setibanya di Cafe..
Aku menyusuri jalan menuju ruang dalam Cafe itu, dengan niatan menemui kekasihku, Kana.

Kini aku berada di dalam Cafe tersebut lalu sepasang mataku menyusuri seisi cafe ini dan mencari keberadaan Kana di antara mereka.

“Kana” teriakku sembari melambaikan tangan padanya, lalu menghampirinya.

Aku bermaksud duduk di sebelahnya, namun tanpa diduga dia menggeser tubuhnya menjauh dariku.
“Kana, kenapa jauhan, kita kan gak lagi LDR-an” pintaku dengan senyum mengulas di wajah
“Adnan, berhenti bersikap begini, aku menginginkan hubungan kita ini berakhir. Aku merasa bosan. Sepertinya hubungan ini tidak bisa dilanjutkan. Kemarin saat menerimamu, aku tengah menemui jalan buntu. Kamu datang dengan penerang dan membawaku pulang, namun kini cerita telah usai Nan, aku ingin sendiri dulu, untuk merapikan hatiku” ucapnya tanpa melihat ke arahku.
Senyum kecut juga ketidak percayaan terlukis di wajahku

“Kana, apa yang kamu sebut kemarin itu setahun yang lalu. Apa kamu pernah berpikir melangkah jauh bersamaku? Sudah setahun Kana. Aku mendampingimu juga kamu yang menjadi penyemangatku. Apa setahun ini kamu lukiskan dengan kemarin? Kana. Aku ini lelaki, dimana harga diriku jika aku tak bisa membahagiakanku, apa kamu merasa tidak bahagia berada di dekatku Kana? Setelah banyak waktu juga kenangan yang terlewatkan dengan pengorbanan yang kita lakukan aku mencintaimu Kana, sungguh mencintaimu Kana. Aku mencintaimu Kana, salah jika aku egois dan mengklaim mu menjadi milikku? Apa aku melakukan kesalahan hingga aku kau tinggalkan?.” Kuucapkan dengan nada parau
“Aku rela menukarkan madu menjadi empedu hanya untuk membahagiakanmu Kana”. Tambahku lagi dengan suara yang nyaris tak terdengar

“Maafkan aku Adnan, kemarin aku hanya menjadikanmu pelampiasan. Aku tidak sungguh-sungguh mencintaimu…” ucapnya terpotong dengan terisak
“Adnan, bukan maksudku melukai hatimu, tapi sungguh. Kamu terlalu baik Adnan, kamu memberikan seluruh perhatian padaku. Aku tidak mencintaimu, tapi aku rasa aku harus berbalas budi kemarin. Karena itu aku menerimamu Adnan. Rasaku hingga kini hanya bertingkat menjadi sayang seorang sahabat nan. Maafkan aku. Aku tahu ini berat untukmu.” Ucapnya lagi
Aku mematung dengan seribu bahasa. Terdiam. Seolah ingin menumpahkan segala gelegak rasa.

“Kanaya, apa aku kurang baik memperlakukanmu selama ini, jadi ini alasanmu membiarkanku direngkuh hujan semalaman saat aku berniat menjemputmu namun nyatanya aku tidak mendapatimu di sana, apa ini juga alasan saat aku meminta waktu berdua untuk sekedar melepas rindu namun kau malah mengacuhkanku.” Aku tertunduk
“Apa tak ada rasa yang tercipta di hatimu setelah menjalin hubungan bersamaku, walaupun hanya aku yang menganggap semuanya nyata.” Ucapku dengan sabar

Aku tertahan. Aku tak ingin menatapnya. Karena aku tahu ia sedang menangis tersedu. Aku sangat teriris jika melihat kana sang pujaanku menangis tersedu.
Aku mendengar isak tangisnya dengan jelas
Keheningan terjadi di antara kami, namun kana masih dengan tangisannya. Kebetulan cafe ini dalam suasana sepi.

Tak lama, kana bersuara
“Terlalu baik membuatmu terlihat naif nan” tandasnya
“Aku rasa kamu pun tahu bagaimana perasaanku, mulai dari aku yang selalu mengabaikanmu, aku yang jalan dengan seorang laki. Aku yang tak mengakuimu sebagai pacar pada teman-temanku. Aku rasa kamu sadar itu nan. Hanya saja selama ini kamu selalu membuat semua itu terkesan biasa saja. Kamu terlalu baik untukku Adnan, maka dari itu aku berniat menyudahi semua ini. Karena aku yang terlalu jahat. Telah berbuat demikian. Padahal kamu sangat baik nan. Maafkan aku. Juga soal rasa ini” tangisnya pecahh.
Aku memeluknya. Mencoba membuatnya tenang. Aku dekap ia dengan erat. Karena aku rasa ini terakhir kalinya aku memeluknya.
Aku akan melapaskanya. Aku akan membiarkan ia bahagia dengan yang lain.

“Kana, ayo kita pulang. Biar aku yang mengantarmu pulang” ia tetap dalam pelukanku.
Aku melepaskan pelukannya juga menatapanya lekat, aku menyentuh pipi yang di sana mengalir air mata. Aku menyeka air matanya dengan jemari.

Jujur saja, aku tak rela untuk perpisahan. Walau aku tahu kemarin kana tak seutuhnya menyayangiku. Tapi setidaknya ia milikku. Ia Kana ku. Walau mungkin hanya aku yang terlalu percaya diri
Namun kini, aku akan melepaskannya. Ia bukan milikku lagi. Aku harus siap akan segala kemungkinan yang terjadi
Aku telah akrab dengan kekecewaan

Aku menarik tangannya juga menuntunnya untuk meninggalkan cafe ini dan segera mengajaknya pulang.
Aku menuju parkiran mencari dimana terakhir aku melihat motorku bertengger di sana. Aku berjalan ke arah motor itu kemudian bergegas menemui Kana di depan cafe sana yang mungkin menungguku sedari tadi.

“Kana, ayo naik. Aku antarkan ke rumahmu” pintaku pada naya.
Ia hanya mengangguk lalu naik ke motorku.
Aku segera tancap gas dan segera mengantarkannya pulang.

-Rumah kanaya-
Sesampainya aku di sana. Aku memberhentikan laju motorku di depan halaman rumah kana.
Ia turun dan mengucapkan terima kasih. Juga maaf tentang rasa itu
Aku tersenyum ke arahnya lalu
“Tak apa kana, aku tetaplah adnan. Seseorang yang akan selalu merindukanmu. Juga dirimu tetaplah Kanaya-ku. Seseorang yang akan selalu aku rindukan” Ucapku dengan senyum mengembang
“Dan bilamana harapku hanya kau jadikan pelarian. Biarlah, setidaknya aku pernah merasakan rasa nyaman walau dalam pelampiasan” tambahku lagi

Kau lenyap melahap harap yang sedang merayap

Aku berpamitan untuk pulang dengannya.
Setelah itu aku meninggalkan rumah kana, orang yang kucinta. Juga dengan hatiku yang memilih menetap di sana.

Sebulan setelah kejadian itu
Tak ada kabar maupun berita mengenai kana. Bahkan kini aku tak tahu bagaimana keadaannya. Nomornya pun sudah ia ganti sehari setelah kejadian itu.
Aku hanya mengetahui tentang kana dari sahabatnya Winda.

Winda lah yang memperlihatkan betapa mesranya mereka bergaya saat berfoto. Kulihat senyum bahagia terlukis jelas di wajah kanaya. Aku mengetahui semua dari sahabatnya.
Aku rasa mungkin dia memang melupakanku. Ah biarlah.

Esoknya.
Aku tengah menikmati kopi di taman belakang rumahku.
Ditemani alunan melody nan merdu juga disuguhkan beberapa pot mawar putih yang diantaranya terdapat rumput liar. Sejuknya udara menambah keindahan suasana. Ahh.
‘Ini kehidupanku setelah berpisah darimu kana’ gumamku dalam hati

Drrrttt
Getar Handphone milik ku yang baru dilunasi seminggu yang lalu ini berhasil mengusik lamunan.

Dengan malas aku mengambilnya dari atas meja lalu membaca notifikasi yang ternyata ada pesan singkat masuk
‘Adnan?’ Begitulah isi pesan teks nya yang entah dari siapa, sebab aku tak melihat ada nama pengirim yang tertera disana

‘No baru. Siapa ini. Aku tak mengenalnya’. Pikirku

‘Ya, siapa ini?’ Aku membalas pesan itu

Lama menunggu tak kunjung ada balasan. Aku memilih untuk memainkan gitar dan bernyanyi

Sendiri dalam fikirku
Terkurung ruang dan waktu
Melihat setiap kata
Terucap dari mulutmu

Berharap ada tentangku
Istimewa di matamu
Tapi hanya dirinya
Yang ada dalam kalimatmu

Tak mungkin ada aku
Diantara kau dan dia
Seperti lagu lagu cinta di dunia

Tolong aku yang kini tak bisa
Kikiskan wajahmu tatapmu harummu
Ajariku cara lupakan semua tentang dirimu dirimu dirimu
Karena ku tak bisa sendiri

Tak mungkin ada aku
Diantara kau dan dia
Seperti lagu lagu cinta di dunia

Tolong aku yang kini tak bisa
Kikiskan wajahmu
Tatapmu harummu

Ajariku cara lupakan
Semua tentang dirimu dirimu dirimu
Karena ku tak bisa sendiri

Tolong aku yang kini tak bisa
Kikiskan wajahmu
Tatapmu harummu

Ajariku cara lupakan
Semua tentang dirimu dirimu dirimu
Karena ku tak bisa sendiri

Aku tersenyum puas setelah bernyanyi. Terasa lega perasaan ini

Cerpen Karangan: Alda Puspita Dewi
Blog / Facebook: Alda Puspita Dewi
Kelas XI Mia 4
Berdomisili di Karawang
Bersekolah di Sman 3 Karawang

Cerpen Senja Bersamamu (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Puisi itu Milik Siapa? (Part 2)

Oleh:
Kami sudah sampai pada koridor menuju kelas, kenapa sepi? Tanganku mencoba meraih ponsel di dalam tas kecilku untuk melihat jam. “Kita terlambat 20 menit” sambar Aghlan dengan suara rendah.

Salju di Kubutambahan

Oleh:
Tanganmu sedang sibuk merangkai pola berbalut kasih dalam dekapan tanganku. Eratnya peganganmu menyiratkan getir kelemahan meminta perlindungan. Kau menggenggam jari dan menatapku lekat. Aku tak pernah bisa menatap lurus

Will You Marry Me

Oleh:
Atsuko, namanya Atsuko Maeda. Umurnya sudah 17 tahun. Sekarang ia duduk di kelas 2 SMA. Dia anak pindahan. Anak pandai pendiam berambut lurus sebahu dengan kacamatanya ini membuat ia

5 days in Paris (Part 2)

Oleh:
September, 26 2013 Sepertinya hari ini gue gak bisa ke taman, tugas gue numpuk parah, malah deadline nya minggu ini lagi, gue gak tau harus gimana, mungkin ngerjain tugas

Bukan Perompak Mimpi

Oleh:
Senja menjelang malam. Di punggung bukit ini mentari bersandar. Bias cahayanya lembut mewarnai langit barat. Sadar atau tidak sadar bias cahaya itu telah mengubah wajah bukit sandaran matahari ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *