Senja Bersamamu (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 8 July 2019

Drrttt..
Tak lama kemudian aku mendengar getar dari Hp ku. Aku rasa orang tadi membalas pesanku.

‘Ini aku adnan, Kanaya’ aku mengerutkan kening. Kanaya? Batinku. Untuk apa ia menghubungiku kembali? Bukankah selama ini dia menghindar jika aku berusaha menghubunginya.

Aku segera membalas pesan singkatnya itu
‘Benarkah itu kamu kana? Lalu untuk apa kamu mengubungiku kembali? Setelah aku berhasil merapikan juga berdamai dengan hati setelah sepeninggalmu’ aku klik ‘kirim’ dengan mantap

Tanpa menunggu lama, aku kembali mendapatkan balasan.
‘Adnan, aku ingin menemuimu. Kamu sedang ada di rumah, bukan? Biar aku yang kesana’

Aku semakin tidak mengerti, ada apa ini? Untuk apa dia menghubungiku kembali? Untuk apa dia ingin menemuiku? Argghh. Banyak pertanyaan yang berkecamuk di pikiranku.

Mengetahui kanaya yang katanya akan ke rumahku. Aku bergegas ke kamar untuk mengenakan pakaian yang layak. Bukan untuk berdandan agar terlihat tampan di depan kanaya. Melainkan sedari tadi aku hanya mengenakan celana boxer juga kaus yang aku rasa ini tidak layak dikenakan untuk menyambut tamu.

Kamu ingin tahu bagaimana perasaanku terhadap kanaya sekarang? Semua terasa hambar aku rasa kini hatiku kembali normal

Kanaya tiba di rumahku, penampilannya sama seperti dulu. Anggun, dengan mini dress maroon yang ia padu padankan denga flat shoes hitam. rambut panjangnya yang ia urai dan dibiarkan tersapu oleh angin. Polesan bedak tipis juga tambahan lip ice terlihat merona. Sempurna sekali ciptaan tuhan yang satu ini

Aku mempersilahkannya masuk ke dalam rumahku, tapi ia ingin duduk di taman saja katanya.
Aku membawanya ke taman belakang rumahku. Aku membiarkannya duduk di sana, sementara aku ke dalam dan datang dengan membawakannya minum juga cemilan.
Ini yang selalu kami lakukan dulu, duduk bersantai di taman belakang rumahku, ditemani cemilan yang menghangatkan suasana.
Namun kali ini berbeda. Kami bungkam satu sama lain. Sunyi sepi terjadi di ruangan ini

“Ada apa kanaya? Sehingga membawamu kemari?” Ucapku membuka percakapan untuk mencairkan suasana
“A…aku kembali untukmu adnan” ucapnya terbata-bata
Apa yang ia maksud kembali untukku? Aku semakin bertanya-tanya

“Apa maksudmu kanaya? Aku tak paham sama sekali. Mulai dari dirimu yang menghubungiku dan ingin menemuiku, dan sekarang, kamu mengatakan kamu kembali untukku, ada apa ini kana?” Aku menggeleng pelan
“Aku ingin memberimu kesempatan nan, aku ingin kita kembali menjalin sebuah hubungan. Kita mulai semuanya dari awal. Aku mulai mencintaimu sekarang. Aku ingin kembali padamu adnan” ucapnya tertunduk lesu
Aku tersontak kaget. Kenapa jadi begini. Aku mati-matian mengubur rasa yang pernah ada juga membenahi hati yang terserak sebab ulahnya.
Kini dengan gampangnya ia mengatakan ia mencintaiku? Aku tak habis pikir.

“Kenapa begini kana? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan kalau kita telah usai? Mengapa kamu seperti ini kana.”
“Cukup kana, aku sudah berdamai dengan hati. Juga telah merapikan kembali hati yang terserak sebab ulahmu, jangan anggap ini jahat kana. Ini tidak sepenuhnya salahku, kamu mengerti itu?” Tanyaku lagi

“Adnan, apa rasamu untukku disesap senyap seiring berjalannya waktu juga saat aku meninggalkanmu?” Tanyanya tak percaya
“Dulu kamu mencintaiku dengan tulusnya, apa kamu gak mau mulai semuanya dari awal dan beri aku kesempatan?” Kana tertunduk.

“Sudah cukup, aku enggan kembali bersamamu… Jika setahun dengan segala cinta yang aku berikan tak bisa mengubah rasamu, dulu. Kini dengan waktu sebulan pun aku bisa merubah rasaku, kamu harus bisa terima itu kana!”

“Kau tau adnan, aku mengerti. Ini semua salahku, aku tak bermaksud jatuh cinta secepat ini. Tapi kamu membuat prosesnya terlalu mudah” ia menatapku.

Aku menatapnya dengan lekat. Sejujurnya hatiku teriris jika melihat kana ku menangis. Apalagi itu karena ulahku. Ah aku ini nakal. Aku mengacak rambutku gusar

Sejujurnya aku masih mencintai kanaya, ia tetaplah kana-ku. Kana kesayanganku. Yang masih aku rindukan hingga kini. Aku ingin sekali memeluknya erat. Mendekapnya dalam dada bidangku hingga ia terlelap dan menjadi tenang. Hanya saja keegoisanku mendominasi. Arrrghhh..

“Kana, bukankah aku pernah bilang sebelum aku meninggalkan rumahmu setelah kejadian sebulan yang lalu?” Tanyaku
“Teruskanlah. Sebab, beranda hatiku terbiasa merayakan sebuah kepergian. Kelak kau tahu, di ujung jalan sana sejauh yang kau bisa tempuh, tak ada yang bisa mencintaimu sesabar aku” ucapku padanya penuh penekanan.
“Kamu tahu mengapa aku berkata demikian kana, sebab aku tau, sebelum kemari menemuiku. Aku tahu kamu pernah menjalin hubungan dengan Gilang. Ya. ‘Gilang Arkana’ lelaki tampan mahasiswa UNJ tingkat akhir, sama sepertiku. Hanya saja dia anak borju. Anak dari konglomerat ternama. Berbeda dengan diriku yang hanya anak dari seorang petani desa. Yang dengan percaya dirinya memgadu nasib di kota Megah Jakarta Ini. Dan juga aku yang bodoh berani menyatakan cinta pada Kanaya Ardianti Putri, anak dari seorang Pengusaha Mebel ternama di jakarta. Yang beberapa hari lalu goal memenangkan Tender dan bekerja sama dengan Perusahaan Cina.” Aku berbicara dengan nada sedikit marah.
Aku tidak marah pada kanaku. Hanya saja aku kesal. Dan mnegutuk diri sendiri. Betapa bodohnya aku yang dengan percaya diri memintanya menjadi kekasihku. Argggh..

Pikiranku berkecamuk. Aku duduk membelakanginya. Aku tak ingin melihatnya saat ini.
Keheningan sunyi senyap semakin menjadi di antara kami

Kemudian kana berdiri, merapikan isi tasnya dan pergi meninggalkan rumahku.
“Aku pergi adnan, aku tahu ini salahku, maaf aku melukai hatimu. Nanti aku kabari lagi. Aku rasa saat ini kita memang perlu menata hati dan menyendiri dulu. Baiklah, aku akan kembali setelah ini” lalu ia pergi meninggalkanku dengan sejuta lamunan.

Arggh, kemarim hari yang sangat melelahkan. Aku gusar. Mataku tak mau diajak berkompromi untuk terlelap barang sejenak.
Yang kini meninggalkan kantung hitam di mata juga rasa nyeri di hati

Pikiranku sudah kembali tenang terakhir ini. Tapi tetap saja menyisakan kenangan tentang kemarin. Ah iya. Kana, aku jadi merindukannya.
Apa aku sejahat itu kemarin padanya? Kanaya ku. Aku rindu.
Rindu ini begitu sulit di deskripsikan.
Aku selalu mengingat tentangnya yang kemudian kuramu dan kumasukkan ke dalam wadah dan kuberi nama ‘RINDU’

Tolong aku ..
Dinginmu dulu membekukanku
Aku merindukanmu dan dulu kamu mengabaikanku.

Aku harap setiap bait doa dan rinduku sampai kepadamu, tepat di sadar sanubari

Dengan segala keberanian, akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi kana.
Yang mesti aku lakukan hanyalah mengubur rasa egoku hingga dalam saat bersama dengannya
Tetap erat dan rekat walaupun berserak

“Kana, ini aku. Aku ingin bertemu. Menyelesaikan rasa yang masih tertinggal. Tunggu aku di cafe Serdadu” ku kirim pesan teks itu padanya
Lalu aku ke kamar mengambil kunci motor dan jaket. Kemudian menuju dimana motorku berada
Aku segera tancap gas dan bergegas dengan kecepatan penuh. Sebab aku akan bertemu dengan kana. Aku tak mau membuat ia menunggu terlalu lama.

Sesampainya di cafe serdadu aku melihat kana melambaikan tangannya ke arahku, tidak seperti dulu. Dimana aku yang mencarinya dan saat menemuinya ia memperlihatkan muka masam.
Namun kini, Kanaya menyambutku dengan senyuman hangat.

Aku memilih duduk di sampingnya.
Namun situasi ini begitu canggung, tak ada yang memulai lebih dulu

“Kana” panggilku membuka percakapan
Ia menatap ke arahku
“Soal yang kemarin itu. Maafkanlah aku kana, nyatanya aku memang masih menyayangimu, begitu menyayangimu. Aku merindukanmu kana. Maaf jika egoku membuatmu menangis kemarin. Kana, apa benar kamu memiliki rasa yang sama denganku? Jika benar demikian. Maka aku merasa senang sekali kana” tanya ku se-rilax mungkin
“Iya Adnan, kini aku memiliki rasa yang sama” ucapnya mantap
“Oh tuhan, apa ini benar Kana? Apa itu artinya kamu mencintaiku?” Tanyaku meyakinkan
“Sungguh Adnan, aku mencintaimu, sejak ditinggalkan olehmu atau yang lebih tepatnya aku yang meninggalkanmu, aku merasa ada yang berbeda Adnan, semacam perasaan kehilangan. Aku murung di kamar. Aku juga merindukanmu. Kamu harus tahu itu Adnan.” Terulas senyum di wajahnya
“Tapi bukankah kamu pernah menjalin hubungan dengan si Gilang itu Kana? Bahkan aku melihat foto mesra kalian berdua di jejaring sosial media” Tanyaku tak percaya
“Ah itu, itu permintaan Ayahku. Agar ia memenangkan Tender dan bekerja sama dengan Perusahaan Cina itu, aku dipaksa untuk merayu Anaknya Si Cina itu”
Ah sungguh gila orangtuanya ini. Aku menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal itu

“Lalu, bagaimana soal hatimu Kana? Aku akan memintanya lagi sekarang, tapi ini untuk yang terakhir. Jika kamu memang tidak mau, aku tidak akan memaksanya. Dan satu lagi. Jangan terima aku atas dasar kasihan Kana” ucapku dengan mantap
“Aku, aku menerimamu kembali Adnan, ini atas dasar kemauanku. Aku memang mencintaimu. Ini kemauan hatiku Adnan.” Ucap kana tersipu malu
“Terimakasih Kana, kamu sudah menyempurnakanku. Terimakasih menerimaku, walau kita pernah terpisah. Namun nyatanya Kita bersatu. Aku tahu, setiap doa yang aku panjatkan tak akan berujung sia-sia. Ini lah awal manisnya
Rencana Tuhan memang tak terduga ” ucapku sembari mengelus puncak kepalanya.

Senja muncul dari Ufuk Barat sana, menambah kesan romantis disini.
‘Ini adalah Senja Pertamaku Bersamamu Kana dan tak akan terlupakan’ Ucapku dalam hati sembari menggenggam tangannya

Aku mendengarnya tak percaya
Seorang Kanaya Ardianti Putri menerimaku sebagai kekasihnya. Ah. Ini sungguh diluar nalarku.

Oh ya, tanggal berapa ini. Ini bersejarah. Aku akan selalu mengingatnya.

21 Agustus 2017

Itu tanggal bersejarah bagi kami. Aku sangat senang sekali. Hatiku semacam ada genderang

Waktu sore ini kami habiskan di Cafe Serdadu, tentu saja untuk merayakan hari jadi kami. Kebetulan kami mengambil tempat yang berhadapan langsung dengan Taman, dari dalam Cafe ini kami bisa menikmati indahnya bunga yang tertiup angin. Sembari melihat matahari yang merunduk malu akan kemesraan kami sore hari ini. Matahari memendarkan cahayanya, memunculkan senja yang bergradasi warna. Tentu saja kami berfoto ria sebagai moment indah pertama kami.

Kami menghabiskan waktu untuk saling merindu, mengutarakan rasa yang sempat tersiksa. Jika aku tahu begini akhirnya, aku tak akan henti memuja sang Illahi. Setiap doa yang aku panjatkan tentu saja
Meminta ampunan, pernah aku mengutuk diri dan berpasrah padanya. Nyatanya memang benar adanya. Jika semua memang akan indah pada waktunya. Namun semua itu mesti ada usaha dan doa. Agar kita mengerti jika yang terjadi adalah pelajaran juga buah dari kesabaran.

Author of Senja Bersamamu: Alda Puspita Dewi
XI MIA 4

Cerpen Karangan: Alda Puspita Dewi
Blog / Facebook: Alda Puspita Dewi
Kelas XI Mia 4
Berdomisili di Karawang
Bersekolah di Sman 3 Karawang

Cerpen Senja Bersamamu (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Romantic Love From SulTeng

Oleh:
Aku sedang berjalan di antara kerumunan siswa-siswa lain yang ingin mengetahui bahwa mereka lulus atau tidak. Tahun ini aku sudah akan lulus dari sekolah menengah pertama. Dan saat ini

In My Guitar

Oleh:
Hannaaaaaa… Teriak salah satu teman Hanna yang panik. “Ada apa?” tanya Hana. Hana adalah seorang murid SMA Kirin di SMA, hari ini sedang melakukan ujian praktek biologi. “hmmmm Su

Jangan Terlalu Membenci

Oleh:
Saya Aisyah, aku adalah perempuan yang super duper cuek dan jutek di kelas IPA 1, kebanyakan sih yang bilang gitu. Dan aku paling enggak suka dijailin sama teman cowok

Tak Mungkin Utarakan

Oleh:
Aku mengagumi malam untuk ketenangannya. Adalah waktu yang tepat untuk merebahkan letih di sepanjang siang ini. Lagi dan lagi sepertinya malam senang untuk mempersembahkan hasrat yang semakin menggebu di

Sakura Love (Part 1)

Oleh:
Teriknya mentari saat musim kemarau di Indonesia memang bisa membuat sebagian besar orang enggan untuk melakukan aktifitas seperti biasanya. Apalagi di kota-kota besar seperti di Jakarta. Cuaca yang tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *