Senja Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 9 July 2015

Rasanya pengen kabur aja kalau lagi ada kelas matematika begini. Jujur saja aku, iya dengan segala kapasitas otak ku, paling gak bisa tuh dengan urusan mata pelajaran yang satu ini. Aku juga gak tahu gitu apa yang buat ku keki dengan mata pelajaran ini, belum lagi gurunya yang gak kalah nyebelinnya. Hufttt dari dulu mata pelajaran yang aku gak sukai cuma ini nih. Lebih milih bahasa inggris deh, kalau sudah begini, alasan kebelet pipis akan jadi jurus andalan buat ngehindarin mata pelajaran satu ini.

Tanpa buang waktu lagi. Aku secepat kilat memotong bu fadha yang sedang menerangkan rumus pythagoras yang gak kalah rese nya dengan rumus-rumus lain. “iya rasti” celetuk ibu fada melihat ku mengagkat tangan, bu fada sedikit menaikan kacamatanya yang melorot. “maaf bu saya permisi ke belakang” ujar ku hati-hati. Dinda teman sebangku ku sedikit menyenggol lengan ku pelan. “alasan” bisiknya pelan, sambil terkekeh. Aku mendelik protes.
“ok” celetuk bu fada akhirnya. Aku menghela nafas lega kemudian melangkah ke luar kelas. Menoleh ke arah dinda yang tengah tersenyum jahil ke arah ku. Huh! Menyebalkan.

Kantin. Yup! Dari pada jenuh nunggu jam bu fada di toilet mending ke kantin aja. Hal ini bukan pertama aku lakukan. Melainkan sering (jangan ditiru adegan ini ya kikiki). Tapi gak tahu kenapa bu fada gak pernah hafal dengan alasan dan ketengilan ku meninggalkan jam nya sebelum usai. Dan sampai hari ini aku belum mendapatkan surat panggilan orangtua. Karena kemangkiran ku meninggalkan kelas berlangsung. Huhfttt gak jarang sih aku ketemu gitu pas di koridor sekolah sama guru piket. Terus mulai deh aku pakai jurus alasan sakit perut makannya mau ke uks. Atau apalah.

Seorang cowok tengah duduk di pojok kantin sekolah pada saat pelajaran berlangsung. Cowok yang asing di mata ku, dengan headset yang menempel di kedua telinganya. Tapi pertanyaan sekarang adalah kenapa dia bisa di kantin? Pas jam pelajaran berlangsung? Apa dia bolos juga kaya gue? Pikir ku.

Aku melangkah ragu memasuki kantin. Dia sedikit menoleh ke arah ku, hanya sedikit. “mba rasty bolos lagi yah?” celetuk mbak sum si pemilik kantin. Aku nyengir kuda. Menarik bangku no 2 dari belakang, gak jauh dari si cowok itu duduk bahkan aku bisa melihat punggungnya dengan jelas. “mba biasa ya” seru ku lagi ke mbak sum yang sudah melankah masuk ke dapur kantinnya. Membolak balikan majalah yang ada di depan ku. Mbak sum mengiyakan pesanan ku dari dalam dapur kantinnya.

Gak lama pesanan ku datang. 1 mangkok bakso tanpa bihun dan segelas jus jeruk. Uhh gak sabar melahap bakso buatan bak sum. Mbak sum meletakan mangok bakso dan jus itu di meja ku. “makasih mba” seru ku. Belum sempat melahap bulatan bakso di depan ku, mendadak segerombolan kakak-kakak tingkat ku yang terkenal rese di sekolah, menghampiri cowok kece yang gak ku ketahui namanya ini. Firasat ku gak enak nih. Khawatir dengan cowok itu, aku takut kak bian ketua geng rese di sekolah melakukan hal yang gak baik ke cowok itu. Dan benar saja, kak bian menarik kerah cowok itu, sementara teman-teman kak bian yang lain memegangi tangan cowok itu kuat. Aku berdiri bingung entah apa yang membuat kak bian segitu marahnya dengan cowok kece itu. Mbak sum keluar dari dapur nya dengan wajah gak kalah panik dengan ku. Anehnya cowok itu sama sekali gak melawan. Wajahnya terlihat tenang, seperti malaikat. Sampai akhirnya kak bian yang hendak meninju wajah cowok itu, aku yang panik spontan berlari menghadang kak bian. Tinjuan itu telak mengenai pipi cuby ku. Dan semua mendadak gelap. Sekilas aku mendengar teriakan mbak sum yang panik. Dan gelap gelap..

Perlahan aku membuka mata ku. Berat. Dinding langit uks sekolah yang mulai kusam. Melihat sekeliling. Ku lihat ada dinda teman sebangku. Ia gak sendiri. Cowok yang tadi aku lihat di kantin duduk bersandar di ujung sofa uks. Menunduk lesu. Aku mencoba bangun. “ras, lo gak boleh banyak gerak dulu” seru dinda membuat cowok itu mendongak kaget. Aku memegangi pipi cuby ku yang lembam. “gua gak papa kok” ujar ku lesu.
“gimana bisa gak papa” celetuk cowok itu yang sekarang berdiri tepat di samping dinda. Dinda melangkah mundur dan perlahan meninggalkan ku dan cowok itu. Suasana mendadak hening. Aku memegang kepala ku yang sedikit agak pening. Mungkin karena aku pingsan terlalu lama. Sebenarnya aku juga gak tahu kenapa tadi pas di kantin aku spontan berlari menghadang pukulan kak bian. Entahlah mungkin karena aku terlalu panik.

Aneh rasanya berdua di ruangan dengan seseorang yang bahkan sama sekali gak kita kenal. Sakilas aku melirik badge seragam. Penasaran saja dengan namanya. Tertulis “arya saputra” di takenamenya. Nama yang indah.
“sori, harusnya gak gue biarin bian nonjok lo tadi” celetuknya memecah keheningan. Aku mengangguk mengerti. “lagian lo ngapain sih pake ngehadang dia tadi, itu kan bahayain lo banget” lanjutnya masih dengan suara serak-serak basahnya, semakin menambah keseksiannya sebagai seorang pria. Ade ray kalah deh (kikiki). Aku terdiam, gak langsung menjawab pertanyaan itu, sejujurnya aku juga bingung kenapa aku senekat tadi. Entalah.
“ok, fine. Lo istirahat aja. Gua cuma bilang maaf…”
“gak perlu minta maaf, ini bukan salah lo kok” potong ku cepat, aku nyengir. Ia tersenyum manis sekali.Aku berharap waktu berhenti sejenak, ahh agaknya hati ku yang sudah lama ku tutup rapat untuk makhluk tuhan bernama cowok sedikit terbuka. Tepatnya aku jatuh hati pada arya. Seseorang yang baru saja aku kenal, dan konyolnya kau kini terbaring lemah karena menolongnya.

Seseorang membuka pintu uks membuyar kan semuanya. Memberitahu kalau arya dipanggil kepala sekolah akibat insiden tadi siang di kantin. Satu hal yang membuat ku gak akan lupa kejadian di uks siang itu. Sebelum membuka pintu uks, arya tersenyum sangat manis. Dan menyebutkan namanya. Saat aku hendak menyebutkan nama ku ia memotong. “rasty”. Aku tersenyum malu (najonggg)

Banyak hal yang akhirnya aku ketahui setidaknya tentang arya dan keajadian kemarin siang benar-benar menjadi jawabannya. Arya seorang anak baru kelas 2 b ips. Pindahan dari bandung, pantes gak pernah lihat dia di sekolah sebelumnya. Sepupu kak bian yang gak lain adalah mantan arya yang ngakunya tersakiti dengan arya. Kak bian kalap denger adik sepupu nya disakitin sama cowok yang ternyata anak baru di sekolahnya. Langsung deh, main labrak gak jelas. Gak ada yang tahu kenapa arya pindah dari bandung dan memilih ngekos di jakarta. Aku tahu itu pun bukan dari mulut arya langsung melainkan dari dinda yang gak sengaja dengar percakapan kak bian dan arya di depan ruang uks. “miris” celetuk ku saat dinda mengakhiri cerita akan arya. “ihh tahu gak sih lo” pekik dinda mendadak histeris. Aku mengerutkan alis bingung.
“kemaren pas dia nungguin lo di uks, muka kecenya itu loh keliatan panik banget” seru dinda girang. Aku geleng-geleng prihatin.
“trus” ujar ku cuek membuat dinda manyun.
“ihh lo gak asik ah, itu kan tandanya dia peduli sama lo ras. Ehh tapi kenapa coba lo kemaren nolongin dia” cerocos dinda. Aku mengangkat bahu.
“gua juga gak tau dinda sayang” seloroh ku, bangkit dari duduk melangkah pergi. Dinda mengikuti dari belakang. Kak bian mendadak menarik tangan ku “apa-apaan nih?” protesku mencoba mengelak cegkaraman kak bian. “ikut gua aja dulu ntar lo bakal tau” sewotnya. Dinda panik mencoba menolong. Tapi gagal cengkraman kak bian lebih kuat. Aku mencoba memberi isyarat pada dinda bahwa semua kan baik-baik saja “ini pasti ada hubungannya dengan kejadian di kantin kemarin siang” batin ku.

Sampai di gudang. Kak bian gak sendiri, teman-temannya yang kemarin ikut melabrak arya itu tengah berdiri berbaris di belakang gudang. Mirip serigala yang kelaparan dan siap memakan mangsa nya. Aku bergidik ngeri. “kalau lo gak pengen kenapa-kenapa. Mending gak usah sok ikut campur urusan gua sama arya” kecam kak bian dengan nada tinggi. Aku sekuat tenaga menahan untuk gak menangis disini. Berharap dalam hati. Siapa pun tolong aku sekarang. Sangat gak mungkin melawan mereka semua seandainya mereka menghajar ku beramai-ramai. Kak bian maju satu langkah mendekati ku. Menggerakkan tangannya dengan cepat hendak menampar wajah ku, spontan mata ku terpejam. Pasrah dengan apa yang sekarang terjadi. “gak puas apa lo uda nonjok dia kemaren?” celetuk seseorang sambil menahan tangan kak bian. Aku melek. Ohh god kulihat arya bersama dinda di belakangnya berdiri gak jauh dari ku. Entah dari kapan mereka datang. Arya menarik tangan ku menjauh dari kak bian ke arah dinda. Menyuruh kami pergi. Belum selangkah kami berjalan pergi. Mendadak bogem mentah mendarat di pipi arya. Seketika arya tersungkur ke lantai dengan ujung bibirnya berlumuran darah. “ini hadiah buat lo yang udah nyakitin adek sepupu gua” kecam kak bian memberi bogem mentah lagi ke arya. “gua gak pernah nyakitin siapapun. Kalau lo pikir dengan lo mukul gua gua bakal bikin balik lagi sama sinta. Lo salah. Dipukul sampe mampus pun gua gak akan pernah bikin gua berubah pikiran buat gak lagi sama sepupu lo tersayang itu.” teriak arya lantang. Kak bian maju menendang kaki arya berkali kali. Menghujat panjang pendek. Aku mendekap mulut ku kuat-kuat agar gak berteriak. Beberapa siswa yang gak sengaja melihat kejadian itu pun berlari melerai. Menghalangi kak bian yang membabi buta. Aku membimbing arya berdiri. Dibantu dinda.
“lo gak gak papa?” tanya ku cemas. Arya gak langusng menjawab, ia menyunggingkan senyum termanisnya lagi “sori, lo nyaris kenapa-kenapa lagi karena gua” bisik arya pelan mengusap ujung bibirnya yang berdarah dengan ibu jarinya pelan. Aku melotot protes “i’am fine arya” celetuk ku lagi arya nyengir. Gak lama guru bp pun datang. Suasana belakang gudang riuh.

Kak bian and the gang resmi dikeluarkan dari sekolah, sementara arya diskorsing selama 3 hari. Dan aku harus terbaring di ranjang izin sekolah. Sang mama ku tercinta panik berat pas tahu pipi cuby ku yang sedikit lebab. Alhasil aku dilarang masuk sekolah dengan alasan takut aku kenapa-kenapa lagi dan lebih parahnya mama menelpon ke pihak sekolah mengomel gak jelas akibat insiden yang menimpa ku. Aku cuma bisa geleng-geleng kepala melihat kepanikannya yang gak biasa itu.

Pikiran ku melayang jauh keluar jendela kamar ku. Banyak pertanyaan di kepala ku yang aku sendiri gak tahu jawaban nya. Jauh di lubuk hati ku, aku sangat mengkhawatirkan keadaan arya, lebih-lebih kemarin kau meninggalkannya di uks saat dia sedang terbaring lemah. Arggghhh… Aku mengacak-acak rambut ku kalut. Ku sambar sweater abu-abu ku di atas ranjang. Mengenakannya cepat. Ku putuskan untuk keluar jalan-jalan sebentar. Lagian yang sakit bukan kaki ku, aku masih kuat jalan sendiri. Mama saja terlalu lebay. Maklum mama cuma punya aku setelah adik perempuan ku dulu meninggal akibat kanker otak yang dialaminya dari kecil. Makannya sekarang mama agak over protektif dengan ku. Aku menlangkah pelan keluar kamar. Mama menghadang ku tepat saat aku melewati ruang tengah. “ma, rasty bosen di kamar. Rasty cuma mau cari angin di taman deket rumah. Janji gak bakal lama” ujar ku menatap mama setengah memohon. Mama menghela nafas panjang. “ok, tapi ditemenin bibi” mama membuat penawaran. Aku mengigit bibir bingung. “ok deal” celetukku akhirnya setelah seperdetik berpikir. Mama tersenyum puas. Dasar mama!

Aku duduk di bangku panjang taman dekat rumah sementara bibi asyik menelpon seseorang yang gak ku ketahui. Sesekali bibi cekikian gak jelas mirip abg lagi telponan dengan sang pacar baru. Aku mengeleng-geleng heran ngelihat tingkah bibi. Udara menjelang senja terasa begitu sejuk meyentuh kulit ku. Hari ini suasana taman agak berbeda dari biasanya. Sepi. Senyap. Padahal biasanya taman ini digunkan untuk anak-anak muda di kompleks rumah ku nongkrong. Tapi gak dengan hari ini. Entalah apa karena hari ini bukan hari libur. Ini bagus buat ku. Aku memang gak suka dengan suasana ramai, riuh berisik.

Aku memejam kan mata ku. Menghirup udara senja dalam-dalam, merentangkan tangan ku. Aku gak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Kapan lagi sang mama mengizinkan ku keluar menjelang malam seperi ini. Yah meskipun harus ditemani si bibi. Tapi cukup lah. “rasty” seseorang memanggil ku. Suara itu… Suara itu gak asing di telinga ku. Cepat-cepat ku buka mata ku. “dinda” ujar ku mengenali sosok cewek beradan gumpal di depan ku. “hei” sapanya riang. “coba tebak gua bawa siapa?” celetuknya kemudian. Aku mengangkat bahu spontan. Kemudian seseorang muncul dari belakang. Menyapa ku. “rasty” sapanya. Aku menelan ludah. Mengucek mata ku. Seolah gak percaya dengan penglihatan ku. “arya” ujar ku akhirnya setelah sepersekian detik melogo. Dia terlihat tampan, mungkin akan selalu terlihat tampan di mata ku. Ketampanannya susah diungkapkan kata-kata. Mungkin tokoh edward dalam novel twilight karangan stepheny meyer pun terkalah kan (lebay) oleh sosok arya.

“ras, si arya mau ngomong sama lo katanya, ummm gua tinggal dulu ya biar kalian enak ngobrolnya” ucap dinda hati-hati lalu nyengir ke arah ku gak jelas. Mungkin sifat dinda yang satu ini yang paling kusukai darinya. Dia selalu mengharagai privasi ku. Lamat-lamat melangkah pergi bersama bibi menuju rumah ku yang memang gak jauh dari taman. Lagi-lagi situasi seperti ini. Berdua dengan arya, membuat jantungku serasa bergemuruh, seperti bom atum yang siap meledak. Arya duduk di samping ku. Aku spontan menggeser posisi duduk. Arya menghela nafas panjang, menoleh ke arah ku tersenyum manis. Aku selalu suka senyum itu. Suka dan akan selalu menyukai senyum itu. “indah ya?” celetuknya memecah keheningan senja kala itu di taman. Mata arya menerawang jauh. Aku mengangguk menyetujui omongannya barusan. “mungkin ini terakhir kalinya gua menikmati senja di jakarta sama orang yang gua sayang” ujarnya kemudian. Spontan aku menoleh ke arahnya. Ia balas menoleh, menatap mata ku. Aku gak mungkin salah dengar kan barusan. Senja terakhir sama orang yang dia sayang.

Tangan arya perlahan meraih tangan ku. Menggenggamnya erat. Degh!!. “gua harus balik lagi ras ke bandung” mengusap wajahnya yang kebas. Menghela nafas. Hening sejenak. “kenapa?” cicit ku. Arya mengenggam tangan ku lebih erat lagi. “shinta, elo tahu kalau kepindahan gua ke jakarta karena dia ras, gua udah capek dengan sikap dia. Eh disini malah gua ketemu sepupunya. Gua bukan ngehindar dari dia atau gua bukan takut ras. Gua cuma butuh waktu buat sendiri. Sekarang setelah gua udah nemuin lo. Nemuin kebahagian gua. Nyokap minta gua pulang. Gua gak pengen ninggalin lo sebenernya” tutur arya nyaris tanpa koma. Menenggelamkan kepalanya. Menunduk. Ingin sekali aku menyentuh pundak itu. Ingin sekali aku mendekapnya. Tapi aku tak kuasa. Aku bahkan tak mampu menggerakkan badanku. Diam mematung. “arya, jakarta – bandung kan gak jauh, elo bisa kok nemuin gua tiap waktu lo bisa” celetuk ku berusaha terlihat tegar, hingga tanpa ku sadari butiran bening itu jatuh membasahi pipi cuby ku. Aku mengusap air mata ku cepat. Sungguh tak pernah terbayangkan oleh ku harus berpisah dengan orang yang bahkann kita cintai dalam waktu sesingkat ini. Ibarat bunga yang siap untuk mekar harus layu dalam sekejap. Arya menoleh ke arah ku, kemudian dengan cepat ia mengacak-acak rambut ku. Aku manyun. Ia tertawa lebar. Menghapus sisa air mata di pipi ku dengan ibu jari. “gua janji princess, gua bakal sering-sering ke jakarta buat nemuin lo” bisiknya kemudian memeluk ku erat. Dari arah belakang dinda dan bibi meledek kami. Sial ternyata dari tadi mereka menguping. Dasar!

Sekian

Cerpen Karangan: Resti Indriani
Facebook: Resti Indriani
Ini adalah cerpen ke dua saya. Mohon kritik dan saran nya 😀

Cerpen Senja Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kelinci Putih yang Bersedih

Oleh:
Di sebuah padang bunga ada seekor kelinci putih kecil. Bulunya seputih salju, mata merahnya cerah. Namun, wajahnya menyiratkan kesedihan. Di lehernya tergantung sebuah pita merah dan tubuhnya penuh luka

Cinta Simpul Mati

Oleh:
Tahun ini, sekolah Abby mengadakan kemah Perkajusa (Perkemahan Kamis Jumat Sabtu). Regu Abby sedang mendiskusikan apa saja yang akan dilakukan pada saat kemah. Kini, mereka sedang berada di teras

Ketika Sahabat menjadi Cinta

Oleh:
Seperti biasanya gua pulang sekolah dijemput sama sahabat cowok gua namanya Alex, dia itu ganteng, pinter, kakak kelas yang diidolain para adik kelasnya, anehnya dia belum punya pacar. setiap

Dinda dan Raffa

Oleh:
“Din.. Dinda!. Duduk dulu dong, Din!.” “Apa? Gue udah ngerasa cukup, Fa!.” Kata cewek itu sebelum melangkah kan kakinya menjauhi tempat itu. “Gue pulang.” Lanjutnya tanpa menoleh ke lawan

Will be Socked

Oleh:
Pesta tergelar begitu megah. Alunan lagu yang beet mengawali suasana yang mengkhususkan untuk para pendatang tamu yang berhubungan dengan kedua mempelai. Semua pengunjung menikmati jamuan yang ada. Termasuk gadis

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Senja Terakhir”

  1. Raman Dhika says:

    Bagus banget keren 🙂

  2. speecless,sisain yang kaya arya please,.

  3. Effelin says:

    keren banget ceritanya, buat yang ke 2 dong!

  4. trisa says:

    Bagus banget ceritanya… Saya suka
    Namun mungkin bisa lebih diperpanjang sedikit..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *