Siapa Pemiliknya?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 17 March 2019

Aku terbawa suasana sendu mengikuti lagu yang kudengar dari sebuah earphone di telingaku. Suara gerimis dari atap toko yang aku singgahi untuk berteduh seperti mengiringi alunan lagu penyanyi idolaku yang kuputar. Sudah lebih dari dua puluh menit kurasa, tak juga reda. Aku harus segera sampai rumah sebelum petang, keluargaku telah menunggu untuk makan malam bersama, tak pantas membuat perut mereka keroncongan.

“Aduh mengapa dingin sekali, harusnya aku tadi tidak meninggalkannya tergantung di balik pintu”

Seseorang tak menyadari langkahnya menyipratkan air dari genangan di depanku. Dia berlari seolah tak melakukan kesalahan apapun. Sialnya hari ini aku berangkat mengenakan kemeja putih, dan terlihat jelas noda kecokelatan di bajuku. Awas saja jika lain kali aku bertemu dengan orang itu, akan kubalas.

Perhatianku teralihkan dengan sebuah jaket, tidak, lebih tepatnya sebuah sweater terjatuh di bawah bangku. Untungnya jatuhnya bukan di tanah, melainkan di lantai, jadi tidaklah terlihat kotor. Rasanya ingin sekali mengenakannya, lumayan untuk melindungi tubuhku dari dinginnya angin malam di selama perjalanan pulang. Tapi siapa yang meninggalkan sweater sebagus ini di jalan.

Di tengah perjalanan pulang tiba-tiba aku teringat orang tinggi berkulit putih itu dan sepertinya dia tampan. Oh mengapa aku harus mengingatnya, bahkan menyebutnya tampan pula. Seharusnya aku membencinya karena telah membuat bajuku kotor hari ini.

“Sofi, sambal goreng telur puyuhnya sudah siap di meja, cepatlah ganti baju dan turun!”
“Siap bu..”

“Kriiing… kringggg”
Bel di bimbel mulai berpihak kepadaku dan teman-teman. Kami sangat kelaparan setelah dipaksa memutar otak menyelesaikan soal matematika dari Bu Elza. Kami di sini berjuang untuk bisa memperebutkan kursi di suatu universitas unggulan. Walau kami sangat akrab, tapi sudah jadi prinsip kami untuk tidak membocorkan informasi apapun yang berkaitan dengan universitas yang akan kami masuki nanti. Bukan pelit, tapi memang itulah salah satu triknya untuk bersaing masuk bangku kuliah.

Ohya aku akan mampir ke meja sekretariat dulu sebelum makan di warung belakang. Awalnya aku akan menitipkan sweater pink ini, siapa tahu ada yang mencari dan mengambilnya. Tapi kuurungkan niatku, aku sangat penasaran siapa pemiliknya. Aku harus melihat wajahnya, mengobrol dengannya, ada urusan yang harus kubicarakan dengannya.

“Haloo”
“Halloo, maaf apa bisa saya mengambil sweater yang kau temukan?”
“Oke, temui saja aku di parkiran, lebih tepatnya samping warung. Aku di situ memakai kemeja kotak-kotak”

Akhirnya kami bertemu, amarahku tertahan saat begitu melihat paras wajahnya, oh dia begitu tampan, tinggi, badannya terlihat ramping, dan kulitnya putih, seperti aktor korea-lah kurang lebih penampilannya. Kami mengobrol cukup lama, alih-alih sekedar basa-basi, aku memanfaatkannya untuk mengarahkan obrolan lebih dalam. Dia terlihat terlihat terburu-buru pergi. Jadi pertanyaan bagiku, apakah laki-laki sekeren dia menyukai warna pink?

Dari semalam hingga pagi ini sungguh aku terus terbayangkan wajahnya yang indah. Aku jadi malas belajar, tidak bisa tidur hingga tengah malam, dan kurasa aku banyak tersenyum sendiri. Apa aku mengangumi dia, atau bahkan perasaanku mengatakan suka?

Hari demi hari terlewati seperti tanpa beban, walau sebenarnya aku selalui dimarahi tentorku saat tidak menyelesaikan tugas rumah. Sudah tiga hari ini aku seperti tak lagi menyentuh buku pelajaran. Aku hanya sibuk mencari akun media sosialnya yang sampai hari ini masih belum juga kutemukan. Bahkan setelah pulang dari bimbel, aku selalu mengetikkan kata sapaan, ya sekedar “hai” atau “apa kabar” lewat aplikasi chatting “whattsap”. Hanya dibaca, tanpa membalas satu huruf pun. Menunggu balasannuya seperti sudah pekerjaanku tiap sampai di rumah. Sudah pantas aku kecewa karena seminggu ini dia tidak terlihat lagi di bimbel.

Pagi itu aku sangat kesal, karena seseorang dari kelas lain memalangkan kakinya di hadapanku yang membuatku tersandung. Aku menabrak kursi di pojok ruang dekat toilet, bahkan gaya jatuhku pun bisa dibilang menarik perhatian. Aku memakinya, yang malah balik ditertawakan teman-temannya. Dia seolah menyangkal kakinya menyandungku, malah menuduhku cari perhatian. Memangnya aku bisa begitu saja dia permalukan, lagipula tampan tidak, tinggi tidak, hanya penampilannya saja yang bisa kubilang trendi. Kalau Bu Elza tidak terburu masuk kelas, bisa saja kuhajar anak ini, belum tahu saja dia aku dulu jago karate.

Satu minggu tersisa sebelum ujian tertulis masuk perguruan tinggi, tapi aku masih belum mengerti apa yang diajarkan di bimbel, setiap try out yang diadakan tiap minggu hanya menghasilkan angka rendah untuk hasil belajarku. Aku selalu tidak bisa mengerjakannya. Bahkan anak itu, ya Sandy namanya selalu mengejekku tiap kali kami berpapasan melihat papan nilai di dinding depan kelas. Siang ini barusan dia berulah, semangkuk mi rebus terakhir yang disediakan di warung tiba-tiba saja disambarnya dari meja.

“Apa-apaan ini, yang pesan duluan yang boleh mengambil”
“Sorry, yang bayar duluan yang berhak makan”

Dari saat itu aku benar-benar membencinya, uangku hanya cukup untuk membeli mi rebus dan sebotol air mineral saja, terpaksanya aku menahan lapar sampai jam bimbingan selesai. Lagi, aku harus melihat tampangnya saat berteduh sore itu. Hanya ada aku dan dia di sana. Tiap kali kami saling berpandangan, selalu saja kami berpaling. Pada saat yang tak kuduga, petir bergemuruh cukup keras. Badan kami bertubrukan, kami hampir saja kehilangan keseimbangan, tapi tangan kami saling menahan untuk tak jatuh. Sepersekian detik hening, kemudian berbalik ke posisi awal berdiri masing-masing. Kami berdua sama-sama takut petir.

Menghirup udara segar di Minggu pagi memang menyenangkan, seperti bebas dari rutinitas, tentunya dari dia si pengacau, tapi tidak untuk si tinggi tampan. Langkah santaiku terhenti melihat seseorang sedang duduk bersimpuh di samping sebuah nisan. Aku terkejut, sweater pink yang dikenakan sangat mirip dengan yang kutemukan di bawah banku toko itu. Sepertinya dia terlihat sangat sedih, sungguh bisa dilihat dari gerakan tubuhnya. Saat kutengok, kurasa dia mengetahui kedatanganku. Anehnya seperti ketakutan, dia beranjak kemudin lari hingga jejaknya tak bisa kuikuti lagi. Si tinggi tampan itu menghindar dariku. Kenapa, dan apa aku membuat salah dengannya. Hati ini semakin gelisah, dia menghilang sekian lama tapi tiba-tiba saja muncul, dan hanya sekilas kemudian menghilang lagi. Apasih maksudnya membuatku terus bertanya mengenai sikapnya. Sayang sekali kcamata hitamnya menghalangi ketampanannya. Tapi seperti ada keajaiban, pesanku dibalas, isinya kurang lebih seperti ucapan terimakasih karena telah menemukan sweaternya dan memintaku untuk tak usuh mengiriminya pesan lagi. Apa dia marah sekarang?

Hari-hariku makin sulit, tiap hari bertemu dengan si pengacau itu lagi, dan menghadapi kenyataan bahwa aku adalah siswa paling tak paham dengan pelajaran yang disampaikan para tentor. Kondisi ini jelas semakin menjadikanku pemalas. alhasil sesuai dengan kerjaanku tiap hari, aku tidak bisa mengerjakan soal ujian tulis seleksi masuk perguruan tinggi. Aku murung seharian di kamar, tak mau keluar, hanya terus menyeka pipiku dengan tisu. Penyesalanku menghantui berhari-hari, hingga akhirnya terbesit keinginan keluar rumah, jalan-jalan pagi sambil mendengar lagu dari “5 Second of Summer”, band asal Australia favoritku.

Pagiku yang masih saja sial, earphoneku terinjak seseorang. Ini artinya aku tak bisa mendengarkan lagu lagi, kecuali jika beli baru. Satu-satunya benda yang jadi favoritku, harus kurelakan. Menunggu permohonan maaf, tapi tidak juga kudengar. Apa boleh buat, aku inisiatif lantang berdiri.
“Hei, bisakah kau minta maaf, ini benda kesayanganku, harganya mahal, dan sudah tidak keluar lagi merk ini!”
Orang itu berbalik, “yang salah siapa, kamu yang menabrakku dari belakang, kamu lari tak lihat-lihat, lalu haruskah aku minta maaf?”
Oh tidak, dia, oh apa yang harus kulakukan. Rasanya ingin lari menjauh. Ternyata si pengacau itu lagi yang memulai pertengkaran. Sudah berapa kali tiap berpapasan selalu beradu mulut. Tuhan, haruskah selalu dengan dia orangnya tiap aku berjumpa seseorang di jalan. Aku mulai muak melihat tampangnya, sungguh sinis muka orang ini.

“Bagaimana ujiannya gadis manis hem?”
Dia menanyakan sesuatu yang membuatku rasanya ingin memukulnya. Tunggu, dia mengucaapkan “manis”.
“Lebih baik kamu belajar lagi untuk tahun berikutnya, aku tak mau jadi penghalang seseorang berhasil masuk perguruan tinggi pilihannya”
“Enak saja, penghalangku bukan kamu si pengacau nan sombong, tapi dia laki-laki tinggi putih berparas tampan, yang menjatuhkan sweater pink miliknya untuk kutemukan”. Oh astaga, aku keceplosan.
Anehnya dia setengah tersenyum geli, mungkin suatu isyarat dia menertawakan khayalanku. Dia melihatku sesaat kemudian menarikku ke suatu tempat. Menyuruhku duduk di sana sambil menunggunya memparbaiki earphone-ku yang rusak.

Sesekali dia memandangku kemudian balik mengotak-atik perkakas di tangannya. Di sela waktu ia memulai perbincangaan, dengan memamerkan keahliannya dalam memperbaiki barang elektronik, meretas suatu program komputer, bahkan memamerkan berapa banyak piala olimpiade matematika yang diraihnya.
Tak berapa lama earphoneku jadi, suaranya kembali terdengar jernih seperti awalnya.

Hujan lebat turun, kami mencari tempat berteduh, dan sampailah di suatu bekas kios yang sudah tak ditempati. Satu jam kami meneduh, namn anehnya kali ini udara tidak terasa dingin. Perbincangan kami begitu hangat, bahkan tak sadar kami tertawa. Perbincangan kami semakin dalam, semakin merasa nyaman dan santai menikmati tiap kisah yang kami ceritakan. Sampai tepatnya pukut enam, kami menyudahinya. Biasanya aku berjalan pulang di belakangnya, tapi entah mengapa kini kami berjalan berdekatan, bahkan tak sengaja ketika berayun tangan kami saling bersentuhan. Aku sungguh tak mengerti betul apa yang tengah terjadi, apa aku sedang bermimpi?

Mataku sulit untuk terpejam, sambil membayangkannya aku tersenyum sendiri, menatap langit-langit kamarku sambil menyanding ponsel menunggu ada notifikasi darinya. Si tinggi tampan itu saling berbalas pesan whattsap denganku. Sampai aku terbangun di pagi harinya, dan ternyata dia telah melakukan sembilan panggilan yang kuabaikan saat aku tak sengaja tertidur. Mulai hari ini hariku terasa menyenangkan. Seseorang yang kusuka menanggapi niatanku dekat dengannya. Terus saja berlalu kurang lebih satu bulan, hingga satu hari dalam hidupku mengubah segalanya.

Hari itu, hari pengumuman hasil ujian tulis seleksi masuk Perguruan Tinggi dipublikasikan. Dari website milik suatu universitas yang aku pilih hingga halaman pada surat kabar tidak ada yang mencantumkan namaku. Hingga aku begitu merasa terpukul dengan kenyataan aku tak lolos seleksi masuk Perguruan Tinggi negeri. Hasil buruk ini berimbas di berbagai jenis ujian lain yang kuikuti. Tetap sama saja, aku tidak bisa jadi mahasiswi tahun ini. Keputusasaanku membuat kedua orangtuaku cukup sedih, aku harus merelakan untuk dirawat di Rumah Sakit karena penyakit Tifus. Diagnosa dokter mengatakan karena disebabkan kelelahan dan stress.

Selama satu minggu hanya bisa berbaring, kini aku dapat menghirup udara segar di depan rumah. Sambil jalan pagi diiringi alunan lagu di telingaku. Kaget saja aku mendadak seseorang merangkulku dari samping, dan mengatakan pelan di telingaku.

“Sudah sehat sekarang?”
“Sa Sa Sandy? Kau bertanya kepadaku barusan?”
“Iya siapa lagi, yang di selahku kan kamu, atau ada makhluk lain di sini selain kamu?”
“Eh iya, ee ada apa ya kok kamu tiba-tiba di sini?”
“Mau bersantai sejenak di kursi itu?”, belum sempat kubalas, aku ditariknya berjalan ke arah kursi di selatan air mancur taman. Karena tahu aku kedinginan dan memang pagi itu baru saja terguyur hujan lebat. Sandy mengulurkan sesuatu yang membuatku tercengang.
“Sweater ini, dia memberikannya padamu?”
“Ini memang milikku, sejak dulu aku yang memakainya”
“Tidak. Si tinggi tampan itu yang memakainya”
“Orang ini maksudmu?”. Dia menunjukkan sebuah foto di ponselnya, foto si tinggi tampan yang selama ini kusuka.
“Siapa orang ini, mengapa kamu bisa kenal?”
“Alfin. Dia saudaraku yang kini adalah seorang model di suatu agensi terkenal di ibukota. Orang ini yang selama ini kamu suka, yang selalu berbalas pesan whattsap denganmu sebelum kamu sakit, mengirimimu bunga tiap pagi di rumah sakit, dan …”
“Stop. Orang yang kulihat di makam itu, orang yang kutemui di parkiran bimbel, dan pemilik sweater pink itu, dia kan?”
“Alfin-lah yang kamu temui saat itu”
“Lantas kamu?”
“Sudah dulu yaa, aku ada panggilan mendadak dari ibuku, nanti suatu saat kamu pasti akan tahu siapa aku”

Perasaanku mulai tak karuan. Sambil memandangi bunga yanng diberi saat aku sakit, aku sejenak menyadari dari kelima yang kudapat, tiap vas nya selalu ada satu huruf bertinta merah muda. Betapa terkejutnya aku, tiap vas yang jika disejajarkan bertuliskan “S-A-N-D-Y”. Tak cukup, aku penasaran dengan pemilik akun itu. Foto profil akun whattsap si tinggi tampan berganti menjadi gambar wajah Sandy. Kuambil jaket dan segera lari ke taman menemui Sandy. Aku tak bisa menemuinya di taman itu. Di mana dia?

“Hallo Sandy, aku tahu kamu, bisa kau menjelaskannya kepadaku?”
“Aku disini Sof, balikkan badanmu!”
“Katakan siapa aku?” tanyanya setelahku berbalik.
“Kamu adalah seseorang yang dekat denganku?”
“Tak salah lagi, manis. Akan kujelaskan, jadi kamu selama ini mengira aku itu Alfin, dan aku memintanya menemuimu waktu itu lalu mengembalikannya padaku. Awalnya aku merasa risih dengan pesanmu yang setiap saat menanyakan kabar dan menyapaku. Tapi setelah tabrakan tak sengaja kita saat takut petir dan obrolan hangat kita sore itu. Entah membuatku bahagia dan ingin membalas perhatianmu kepadaku. Maaf jika aku banyak berbuat salah, tapi jujur aku mulai tertarik sama kamu sof. Sekali lagi maaf jika ini mengagetkan perasaanmu”.

Sekejap aku tertegun dengan penjelasannya, ditambah lagi dengan angin berhembus cukup membuat udara menjadi dingin, dia dengan sigap memberikanku kehangatan.
“Ini pakai saja sweaterku sementara, agar kau pulang tidak kedinginan (mengulurkannya di depanku)”. Baru pertama ini aku mematung. Sandy adalah pemilik sweater berwarna pink itu.
“Aku mendapatkannya dari kakak perempuanku yang sudah lama meninggal, benda berharga ini yang selama ini kubawa kemana-mana. Dengan begitu aku merasa kakakku selalu bersamaku’.

Selesai

Cerpen Karangan: Annisa Larasati
Blog / Facebook: Annisa Larasati

Cerpen Siapa Pemiliknya? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Puncak Gunung Single

Oleh:
Hiks hiks hiks! Hasan sedang menangis tersedu-sedu di pojok kantin sekolah. Satria datang menghampirinya, “Kenapa kamu menangis San?”. Hasan menoleh sambil sesenggukan, “Anakku minta dibeliin pulsa!” Kata Hasan dua

Aku Putri Aurella

Oleh:
“Morning, Putri” Oh sialnya dia lagi yang nongol dengan memanggilku seperti itu. Awalnya aku ingin menghindarinya sebab ia memperolokku dengan memanggilku ‘Putri’. Tidak ada salahnya memang, sebab semua orang

Kemah Akbar

Oleh:
“Jadi, kapan kemah akbar dilaksanakan?” Aku bertanya saat dia pulang dari rapat. “Jumat, tanggal 7-9 November 2014,” jawabnya seraya tersenyum aneh. Firasatku buruk. Deg! Sepertinya senyum itu isyarat bahwa

Taman Bulan

Oleh:
Aku adalah pemuda 19 tahun yang baru saja menyelesaikan masa SMAku. Tidak ada yang spesial dari kehidupan setelah masa SMA ini. Bosan, bosan dan bosan, itulah yang aku rasakan

The Power Of Love

Oleh:
“Krriiinnggg” bel berbunyi keras, membuat para siswa berteriak “yes” dalam hatinya. “Ta.. lu gak pulang?” “Bentar lagi.. lu duluan aja” Tania Dwi Maharani, itu namaku. Biasa dipanggil Tania. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *