Skate Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 23 October 2017

Aku suka suara itu. Menenangkan rasanya. Aku suka saat benda kecil berbentuk lingkaran itu bergesekan dengan aspal. Melintas dengan lihai di antara padatnya ibu Kota. Aku suka saat papan seluncur dengan empat buah roda kecil di bawahnya bergerak menurun melewati turunan jalan. Seakan-akan terbang bebas di angkasa tanpa takut terjatuh. Apalagi saat angin berhembus mengenai wajahku dengan sekejap. Rasanya beban pikiran terlepas begitu saja.

Jika ada yang bertanya apa olahraga yang paling aku sukai, aku akan menjawab skateboard. Mungkin bagi orang lain skateboard bukanlah olahraga -seperti yang baru saja aku katakan- melainkan hanya sekadar permainan. Tapi, bagiku skateboard adalah olahraga ekstrim yang memacu adrenalin. Bagaimana ketika papan itu meluncur ke sana-kemari di arena. Atau ketika aku mengharuskan membalikkan papan itu saat sedang meloncat tinggi.

Aku mencitai skateboard saat beranjak masuk sekolah menegah atas atau biasa disebut SMA. Seseorang mengenalkanku saat itu. Tadinya aku kira bermain papan beroda empat itu sangat menyusahkan atau membosankan. Tapi kenyataannya berbanding terbalik. Papan itu malah membuat diriku terus-terusan ingin menaikinya walau jatuh untuk kesekian kalinya. Dan saat itu pula, aku sepertinya jatuh cinta dengan dunia papan beroda kecil.

Oh, ya! Aku belum memberitahu siapa namaku. Membicarakan tentang skateboard memang susah untuk berhenti. Baiklah aku akan memperkenalkan siapa itu aku pada kalian.

Gladiska Utami adalah nama asliku. Pastinya kedua orangtuaku yang memberikan nama itu bagi cewek sepertiku. Walau namaku Gladiska, aku lebih suka dipanggil Kae. Aneh memang bila nama Kae tak ada sangkut pautnya dengan nama asliku. Tapi aku suka. Entah dari kapan orang-orang lebih tahu aku bernama Kae ketimbang Gladis. Hmm … mungkin salahku juga yang selalu memperkenalkan diri dengan nama itu.

“Hey,” sapaan itu membuyarkanku tentang masa laluku. Aku menoleh ke asal sumber suara. Senyum lebar langsung aku kibarkan saat mengetahui orang yang sedetik tadi menyapaku.
Erza, cowok yang dua tahun ini aku sukai diam-diam.
Aku membalas sapaannya dengan lambaian tangan juga mengulangi ucapannya tadi. “Hey!” Sepertinya ucapanku terlalu ceria untuk sekadar ucapan sapaan. Inilah di mana rasa senang yang tak dapat dihentikan ketika melihat orang yang disukai.

Erza mendekat ke arahku. Cowok itu duduk di sebelahku dengan skateboard bercorak doodle yang ia taruh di bawah. Rasanya aku tak bisa berhenti tersenyum saat Erza juga ikut tersenyum. “Sendiri aja? Biasanya ‘kan bareng yang lain,” ucapnya.
Gak sendiri, kok. ‘kan ada kamu sekarang. Batinku bicara.

Wajahku menoleh sekilas ke arah Erza yang juga ikut menoleh. Dalam hati aku bergerutu akan sikap konyol ini. Hanya karena ingin melihat iris cokelat matanya yang indah, aku jadi tertangkap basa tengah meliriknya. Aku bisa mendengar cowok itu terkekeh sedikit. Suara tawanya itu, lho. Renyah.

“Lagi pengen sendiri aja. Tumben ke sini, bukannya kamu sukanya dateng pas sore ya?”

Erza menaikkan sebelah alisnya. Nampak berpikir akan pertanyaanku tadi. Aku cap kelakuannya ini sebagai tingkat penambah ganteng dirinya. Coba kalau sekarang aku hanya menonton film drama Korea, aku pasti sudah berteriak saat So Joong Ki bersikap romantis. Yeah, walau kenyataannya cowok di sebelahku hanya menaikkan satu alisnya, bukan bersikap romantis.

“Kenapa ya? Hmm … pengen ketemu kamu kali ya.” Erza tersenyum jahil padaku.
Dan perkataannya itu mampu membuat jantungku berdetak lebih cepat. Aku mulai merasakan kalau sekarang pipiku merona merah juga memanas.

Cepat-cepat aku memalingkan wajah dari Erza, lalu menutupi wajahku dengan kedua telapak tangan. Cowok itu malah tertawa jelas saat ini. Dengan kesal, aku mencubit pinggangnya. Erza meringis walau masih disertai tawa.
Aku masih mencubiti kedua pinggang cowok itu sampai sebuah suara memanggil namaku. Aku lantas menoleh. Mendapati seorang cewek tengah berkacak pinggang dari kejauhan. Ah … sepertinya aku melupakan satu hal.

“Sampai kapan kamu di sana? Mau membuat sahabatmu sendiri mati kehausan, hah?” teriak cewek itu. Menatap diriku sangar. Aku hanya membalasnya dengan cengiran lebar.
Dan, yap! Aku lupa bahwa Wizzy, cewek yang berteriak tadi, tengah menungguku. Lebih tepatnya menunggu minuman yang ia titipkan saat aku hendak membeli plester luka.

“Cepet ke sana. Udah ditungguin sama Wizzy, tuh. Nanti kamu kena semprot lagi,” Erza berujar saat aku masih memandang Wizzy dari kejauhan.

Lantas aku menoleh kembali padannya. Cowok itu tersenyum padaku. Senyum caramel-nya yang menurutku sangat amat manis. “Emang kamu gak mau ke sana?” tanyaku, menunjuk area skateboard berada.
Erza menggeleng. Lalu dengan santainya ia mengacak puncak rambutku. Kapan si Erza tak membuatku semakin terbang? Untung dia ganteng. Kalau tidak, mungkin aku sudah mencakar wajah gantengnnya itu. Oke, lupakan sifat pisikopat itu.

Aku bangkit dari duduk ketika Erza juga bangkit dari duduknya. Aku tak mengerti kenapa dia tertawa. “Kamu mengikuti tingkahku, Kae,” ucapnya.
Benarkah? Aku tak merasa, tuh. Erza masih tertawa. Mungkin karena aku memasang bibir bebek yang menjijikan?
“Kamu lucu,” Lagi-lagi Erza mengacak puncak rambutku gemas.
“Hentikan tawamu,” perintahku ketus. Tapi malah mengundang suara tawa lebih kencang. Bahkan, Erza memalingkan wajahnya ke belakang hanya untuk tertawa sepuasnya. “Aku benci kamu untuk saat ini.”

Aku melangkah meninggalkan Erza yang masih tertawa atau mungkin mencoba untuk menahan tawanya. Sebenarnya aku menyukai saat cowok itu tertawa. Tapi bukan tertawa saat tingkah konyolku sedang dalam keadaan hidup. Ini gara-gara Bang Zidan yang mempunyai hormon konyol yang berlebihan. Yang sehingga menyalurkannya padaku tanpa aku minta. Minat saja tidak. Hhh.

“Kae,” Aku berhenti melangkah saat lengan kananku ditarik ke belakang oleh Erza, menghadapnya kembali. Suara lembutnya seolah terhanyut ke dalam telingaku. Menimbulkan dengungan yang seirama. Mungkin aku mulai gila.
Mata cokelat keemasan milik Erza menatapku pasti. Aku bisa melihat bayangan diriku di sana. Erza menghela napasnya panjang. Aku mengernyit bingung dengan kelakuannya kini.

“Kae,” ulangnya. Hey! Kenapa aku merasa jantungku ingin meledak hanya karena namaku disebut olehnya? Katakan saja aku sekarang benar-benar gila.

Aku membalas ucapan cowok itu hanya lewat kontak mata. Lidahku kelu walau hanya berkata ‘ya’. Aku semakin tak bisa berbuat apa-apa, saat kedua tanganku diambil olehnya dan digenggamnya. Aku menatap sekilas ke arah tanganku juga tangannya, kemudian beralih kembali menatap mata cowok di depanku ini.

Erza tersenyum lebih manis lagi saat ini. Ia semakin mengeratkan genggamannya pada tanganku. Seperti tak mau melepaskannya sekali saja.
“Udah dua tahun kita sahabatan. Udah tahun juga aku merasa rasa itu muncul. Aku rasa aku pengen lebih dari sekadar sahabat, Kae. Aku …” sungguh aku menahan napas. Bisakah waktu dipercepat? Erza, cowok itu membuatku semakin gila. “Aku suka kamu, Kae. Will you be mine?” lanjutnya satu tarikan napas.

Rasanya jantungku jatuh ke perut. Minimbulkan rasa mual, gerogi, bingung menjadi satu. Perutku seperti berisi ribuan kupu-kupu terbang di dalamnya. Bukannya membalas ucapannya, Aku malah memeluk cowok itu. Menangis yang aku sendiri tak tahu menangis untuk apa.
Aku dapat merasakan bahwa Erza menegang sekejap sebelum kembali seperti biasa. Tangan cowok itu mengelus-elus punggungku.

Masih di dalam pelukan hangatnya, aku berkata. “Yes, I will,” singkat, padat, jelas.
Aku menarik diriku dari pelukan. Menatap cowok itu sambil tersenyum lebih dalam. Erza terlihat masih bingung. Uhh. Satu hal lagi mengapa aku menyukai cowok ini. Ekspresi dirinya yang seperti orang bodoh sungguh lucu.
Aku mengangguk sambil berkata, “Aku. Mau. Jadi. Pacar. Kamu. Erza Alaska,” ulangku penuh penekanan di setiap katanya.

Erza tersenyum senang. Ia kembali menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Mencium puncak kepalaku berkali-kali sampai aku tertawa. “Makasih, Kae,” ucapnya yang aku balas dengan anggukan.

“Woi! Itu yang lagi peluk-pelukan mau aku timpuk bukan?” suara menggelegar kembali menyadarkanku bahwa aku masih di area papan beroda empat.
Aku melepas pelukanku dan menoleh pada Wizzy. Cewek itu melipat kedua tangannya di dada. Aku terkekeh geli.
“Aku ke sana, ya.” Sepertinya suaraku semakin melembut. Erza mengangguk. “Dah,” ucapku sambil melambai padanya. Erza juga melambai sambil mengulangi ucapanku tadi, “Dah.”

Kemudian aku segera berlari ke tempat Wizzy berada. Sebelum itu aku mendengar Erza mengucapakan tiga kata dengan suara lantang yang membuat darahku semakin berdesir.
“I love you, Gladiska Utami.”

Pada saat itu teman-teman satu klubku mencie-ciekan diriku. Aku merasa malu. Tapi tak urung aku menoleh ke belakang lagi hanya untuk membalas ucapannya yang manis itu.
“I love you too, Erza Alaska,” kataku dengan senyum termanis yang aku berikan umtuk Erza. Aku melihat cowok itu membalas senyumku yang di hadiahi lebih dengan kedipan mata.

Sungguh, aku semakin melayang karena tingkahnnya itu. Dan sepertinya, dunia papan beroda empat itu membuat diriku bertemu cowok bernama Erza. Cowok penyuka skateboard, tapi benci ketinggian. Aneh, tapi itulah yang aku sukai dari seorang Erza Alaska.

TAMAT

Cerpen Karangan: Aida Yanila
Facebook: Dollqueen Story’s
Newbie Author! Salam kenal
Mau tahu karyaku yang lain? Bisa baca di Fanfage: Dollqueen Story’s dan akun wattpad-ku: @adgstyn_
Arigatou Gozaimasu^^

Cerpen Skate Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Pertamaku Telah Tiada

Oleh:
Hembusan lirih angin ini semakin mengingatkanku tentang kasih sayang Ibu yang kini telah sirna. Dekapan hangat Ibu kini telah menjadi kenangan. Petuah-petuah Ibu kini telah tiada. Ibu bagai boneka

Bandung In Love

Oleh:
Semenjak kejadian itu aku tak pernah menangis lagi, hanya tersenyum yang bisa aku lakukan. Saat itu aku sedang duduk di taman bunga di kampus indahku, ya ITB. “Hai Lili?”

The Magic of Time (Part 2)

Oleh:
Pagi mulai menusuk tulang-tulangku, aku terbangun dan aku terlambat. “Oh tidak, mereka semua sudah bangun dan aku, ouuh!” Ucapku menggerutu. Aku langsung bergegas ke luar tenda dan semua menatapku.

Class Sweet Class

Oleh:
Angin kencang melanda bulan Oktober. Bagi kami yang tak dapat menikmati tidur siang di rumah, hal ini menjadi sangat menyebalkan. Berbagai macam raut sebal, bosan, jenuh, ngantuk dan malas

Pacar Impian

Oleh:
Indah melirik ke arah seorang cowok yang sedang bermain basket di lapangan sekolah. dini yang sejak tadi memperhatikan itu menyenggol bahu indah sembari berkata “ciee.. yang lagi merhatiin pujaan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *