Suddenly You Changes My Life (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 5 May 2017

Setelah kejadian yang tidak terduga itu, Rani tidak bisa memikirkan hal lain selain pria itu. Ia terus menyuarakan nama ‘Rendy Pratama’ dalam benaknya. Materi yang disampaikan Pak Muhidin tidak ada yang bisa diserapnya. Dini yang terus bertanya juga tidak dihiraukannya. Rani terus melamun, perlahan-lahan tenggelam dengan pikirannya sendiri. Ia ingat saat pertama kali bertemu dengan Rendy.

Saat itu hujan deras di parkiran kampus, Rani tidak sengaja menabrak seorang pria setelah memarkirkan motornya dan hendak menuju kelas, ia sudah sangat terlambat hari itu. Buku yang dipegangnya terjatuh dan basah, Rani hanya bisa mendesah. Saat Rani melihat pria itu, mata mereka bertemu beberapa detik.
“Maafkan saya,” kata pria itu, tiba- tiba bersuara.
“Tidak apa-apa, bukan sepenuhnya salah anda. Maafkan saya juga.” Ucap Rani cepat sambil mengerjapkan matanya.
“Maaf, saya permisi dulu.” Kemudian Rani berlari menuju kelasnya dengan tangan diangkat ke atas, mencoba melindungi wajahnya dari hujan.
Setelah dipikir-pikir, tidak ada yang menarik dari pertemuan itu menurut Rani. Pertemuan yang sangat biasa, tidak ada yang istimewa, ‘lalu kenapa dia bisa tertarik kepadaku?’ tanya Rani pada dirinya sendiri.

Berhari-hari Rani terus berfikir apa yang harus dilakukannya, karena terlalu stress Rani memilih mengikuti arus saja. Padahal Rani tidak ingin menjalani hubungan dengan seseorang, ia ingin fokus denga studinya dulu, tapi sekarang kondisinya telah berubah. “Baiklah”, Rani menghela nafas dengan berat, mencoba memantapkan dirinya. Setidaknya ia harus mencobanya dahulu agar tidak mengecewakan orangtuanya.

Seminggu kemudian setelah kejadian itu, Rani sering mendapatkan telepon dari Rendy. Awalya sangat canggung berbicara dengannya, pikir Rani. Tapi tidak tahu mengapa setelah sering bertemu dan berbagi cerita, ia merasa nyaman, seolah-olah Rendy adalah temannya sendiri, padahal usia mereka berbeda 6 tahun. Perlahan-lahan rasa itu pun tumbuh, tanpa Rani sadari sudah lebih dari enam bulan mereka menjalani hubungan itu, hubungan seperti sepasang kekasih, tanpa ada pengakuan resmi dari keduanya, mereka hanya menjalaninya dengan senyuman. Rendy memang tidak pernah menyatakan perasaannya pada Rani, tapi secara tidak langsung ia melakukannya. Rani bisa melihatnya dari cara Rendy memperlakukannya, cara yang tidak pernah ia rasakan dari pria manapun. Rendy sering mengajaknya melakukan hala-hal baru yang menyenangkan, Rendy yang mengantarkan makan siang saat ia tidak sempat membeli makanan karena padatnya jadwal dan tugas kampus, Rendy yang selalu perhatian menanyakan kabarnya setiap hari, Rendy yang sangat khawatir saat ia terserang flu, Rendy yang selalu menasehatinya agar makan dengan teratur dan sering berolahraga supaya tidak gampang terserang penyakit. Hubungan mereka berjalan dengan lancar.
Ayah Rani sering menanyakan kabar mereka, senang bahwa Rani ternyata menyetujui untuk mencoba berhubungan dengan Rendy. Bahkan Ayah dan ibunya sering mengobrol dengan Rendy lewat telepon.

Hari ini Rendy mengajak Rani untuk bertemu dengan ayahnya. Rani sangat gugup dan juga sangat menantikannya. Rendy yang adalah seorang anak tunggal dan ibunya yang sudah meninggal, tentu sangat menyayangi ayahnya, Rani sering melihatnya saat ayah dan anak itu bicara lewat telepon. Kadang-kadang Rani merasa itu bukan hubungan ayah dan anak, melainkan hubungan pertemanan.

“Ran, jangan melamun terus dong. Aku tau kamu sekarang lagi dimabuk cinta, hahaha” suara Dini membuyarkan lamunannya.
“Apa yang kau bicarakan hah?, aku sedang tidak di mabuk cinta.” Ucap Rani mengelak, tapi semburat merah di wajahnya malah membuatnya terlihat sangat kentara.
“Kau tidak usah berbohong Ran, kau kan tidak bisa berbohong” goda dini.
“Siapa yang berbohong?” Rani tetap tidak mau mengaku.
“Ah, baiklah… baiklah. Ayo kita pergi kekelas saja, entah kenapa kelas pak Muhidin sangat menyenangkan” Ucap Dini semangat sambil menyeret lengan Rani.

Dosen itu memasuki kelas dan mengajar seperti biasanya, saat waktu pelajaran hampir selesai, Pak Muhidin pergi keluar dan kembali ke kelas dengan seseorang. Kelas tiba-tiba menjadi sangat ribut oleh jeritan teman-teman Rani, bingung otomatis Rani Mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Saat melihat ke depan Rani sangat terkejut dan langsung menunduk. ‘Kenapa ia bisa ada di sini?’ batin Rani menjerit. Dini yang sedari tadi ikut mejerit menatap Rani dengan gembira.

“Ran… Ran itu dia Ran, orang yang pernah kuceritakan padamu. Anak Pak Muhidin yang sangat tampan. Tapi sayang waktu itu kau tidak mendengarkanku”. Rani yang mendengarnya sangat terkejut.
“Dia memang sangat tampan Ran” Dini terus mengoceh tanpa henti.
“Nah, sekarang saya ingin memperkenalkan anak saya yang sering saya ceritakan.” Ucap sang dosen sambil memegang pundak anaknya. “Ini anak saya Rendy Pratama, dia lulusan Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada, dan dia hadir disini karena ingin menemui kekasihnya.” Ucap Pak Muhidin dengan senyuman lebar. Sontak seisi kelas bersorak ramai.
Rani melihat Rendy mengedipkan mata padanya, pipinya pun merona. “Tepatnya melamar,” ucap Rendy memperjelas. Suara riuh terdengar lagi, kali ini lebih nyaring dari sebelumnya. Rani langsung menunduk pura-pura mengambil pulpennya yang terjatuh.

“Sejak pertama kali bertemu denganmu, banyak hal aneh yang terjadi, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, tidak tahu mengapa itu membuatku ingin selalu melihatmu, melihat senyummu, melihat tawamu. Aku sangat penasaran siapa dirimu sampai-sampai aku meminta ayahku untuk memeberi informasi tentangmu,” tutur Rendy sambil tersenyum ke arah sang ayah.
Suara riuh itu kembali bergema, seisi kelas berteriak. Terdengar suilan-siulan menggoda dari teman lelaki, suara jeritan dari para perempuan. Rani mulai bangkit menegakkan tubuhnya melihat Rendy. Rendy sedari tadi menatap ke arah tempat Rani berada. Dini yang melihatnya sangat terkejut.
“Beberapa bulan ini menjalin hubungan denganmu tentu tidak mudah, aku harus menaklukan hatimu, dan itu membuatku harus memutar otak, aku hampir kehabisan akal, tapi itu malah membuatku semakin bersemangat,” Rendy meneruskan. “Tanpa kusadari kau telah merubah hidupku menjadi lebih berwarna, menyenangkan, dan lebih bahagia. Kau memberiku perhatian, kasih sayang yang tidak pernah kudapatkan di manapun, membuatku ingin selalu memilikimu, meyimpan dirimu hanya untuk diriku sendiri.” Tutur Rendy panjang lebar.
“Rani Ramadhani, maukah kau menjadi pendamping hidupku sampai aku tidak bisa bernafas, sampai maut memisahkan kita?” Suara Rendy bergetar, menggema ke seluruh ruangan kelas.
Seisi kelas sontak kaget, dan langsung menoleh ke arah Rani yang terdiam dengan wajah merona hebat. “TERIMA… TERIMA… TERIMA” teman-temannya mulai bersorak.

Rendy sangat gugup menunggu jawaban dari Rani, ia pun mulai melangkah berjalan ke arah tempat Rani berada. Seolah mengerti teman-teman Rani memberi jalan kepadanya. Setelah berhadapan Rendy melihat Rani meneteskan air mata. Rendy sangat bingung dan khawatir, tapi ia tidak berkata apa-apa. Sorakan teman-temanya masih terdengar.
“Bagaimana, maukah kau menjadi pendamping hidupku?” tanya Rendy sekali lagi.
Air mata Rani semakin deras, “Ya… ya aku mau menjadi pendamping hidupmu.” Rendy langsung mengulurkan tangannya dan menyeka air mata di pipi Rani. Betapa bahagianya ia mendengar jawaban kekasihnya itu. Mereka berpadangan, tangan Rendy kemudian menggenggam tangan Rani, membawa Rani ke pada ayahnya, dan memperkenalkannnya secara resmi. Teman-teman sekelasnya terus bersorak tiada henti, Dini nyaris menitikkan air mata, terseyum bahagia melihat Rani.

“Aku sangat mencintaimu, Ran”. Ucap Rendy yang hanya bisa didengar oleh Rani. “Aku juga.” Jawab Rani dengan tersenyum bahagia kepada Rendy. Rendy yang juga tersenyum mengencangkan pegangan tangan mereka.
“Terima Kasih ayah telah membantuku.” Ucap Rendy pada ayahnya kentara sekali. Ayahnya hanya tertawa sambil menepuk punggung anaknya itu.

The End

Cerpen Karangan: Riza Widiati
Facebook: Riza Widiati

Cerpen Suddenly You Changes My Life (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Risalah Hati (Part 1)

Oleh:
Petir terus menyambar, raga ini rapuh seakan ingin tumbang layaknya dahan pohon di seberang jalan sana. Aku hanya terpaku, terdiam membisu di bawah naungan payung sambil ditemani derasnya hujan.

All About My Husband

Oleh:
Ingat tidak hari dimana engkau mengungkapkan perasaan tepat di tempat itu? Kau tahu tidak kalau hatiku pada saat itu amat sangat senang seperti ingin terbang jauh ke atas langit?

Bintang Terindah

Oleh:
Taman bintang. Begitulah kami menyebutnya. Taman indah yang menjadi saksi setiap detik kebersamaanku bersama dia. Seperti melihat bintang di langit malam. Satu hal yang tak pernah bisa kami lupakan.

Why Do I Love You

Oleh:
Anas masih berbaring di atas kasurnya. Sambil menikmati musik dengan earphone yang terpasang di telinga. Alunan sebuah lagu berjudul “MY EVERYTHING” yang dipopulerkan oleh salah satu personil Super Junior,

Aku Ingin Menikah

Oleh:
Present.. Entah kapan aku akan merasakannya.. * Apakah karena takdir? Atau hanya suratan nasib hidupku? Berulang kali kutanam benih asmara, namun tak kunjung berbuah. Selama ini aku hanya menjadi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *