Sun After Moon

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 21 April 2018

Amsterdam, June 2017
Seorang gadis berambut sebahu sedang duduk di pojok cafe dekat jendela. Matanya menatap jalanan yang dipenuhi lampu-lampu. Melihat beberapa pejalan kaki sedang berjalan cepat sambil merentangkan payung untuk melindungi diri dari dinginnya salju yang turun seminggu terakhir.

Tak beberapa lama bunyi notifikasi sebuah email masuk di handphonenya “are you okay dear?” sebuah kata pendek yang dikirimkan mama membuatnya membulatkan mata.
Dia menghembuskan nafas panjang, meraih salah satu di antara tumpukan surat bersampul biru langit yang selalu disukainya. Tangannya bergetar saat melihat siapa nama pengirimnya.

Dia adalah ava. Gadis bertubuh kecil dengan bola mata hitam membulat. Beberapa jam lalu ava baru mendapatkan paket kiriman dari mama. Saat dibukanya kotak tersebut berisi boneka teddy bear berwarna coklat, tangkai-tangkai bunga mawar putih yang sudah mengering, serta beberapa surat yang semuanya bersampul biru. Tiba-tiba kenangan 3 tahun lalu kembali dalam ingatannya.

Jakarta, April 2014
“Sial.. Kalo gini caranya bisa-bisa gak lulus pelajaran pak Aris nih!” Seorang siswi terlihat sedang memantul-mantulkan bola basket, berusaha memasukannya ke dalam ring tapi selalu gagal.
Dia tidak sadar bahwa sedari tadi ada seorang laki-laki yang memperhatikannya.
“bolanya gka mungkin masuk, kalo cara lemparnya aja salah”
Ava, menengok seketika dan mendapati seorang laki-laki bertubuh tinggi rambutnya terlihat acak-acakan. sudah berdiri di belakangnya.
Tanpa disadari, kini bola yang di dekapannya sudah berpindah tangan “liatin nih” ujarnya sambil mendribel bola, dia berlari-lari kecil ke arah ring dan melemparkannya. Tepat saat itu bola masuk secara sempurna.
Satu kata yang ada di pikiran ava. Takjub.

Satu jam berlalu. Latihan keras telah dilewatinya. Ava yakin dirinya besok tidak akan mendapatkan remidi saat praktek kelas olahraga. Senyumnya mengembang seketika karena ini kali keenam dia dapat memasukan bolanya ke dalam ring.
“Arvianno Kenzo Sadewa. Panggil aja gue Kenzo” ucap laki-laki yang kini sedang duduk di sampingnya
Ava tergagap “ehh iya. Gue Avara Tirtadhirga”
“yapp.. Gue tau”
Ava bingung. Di menatap laki-laki yang kini sedang meluruskan kakinya. Seolah butuh penjelasan karena ini kali pertama mereka bertemu “kok bisa?”
Laki-laki itu menengokan kepala, menatap Ava tepat di kedua matanya. Lalu senyum mengembang di kedua sudut bibirnya, senyumnya cerah seperti matahari di sore ini. Ava dapat melihat dengan jelas ada lengsung pipi yang tercetak jelas di pipi kirinya. Jantung ava berdetak tak beraturan, saat anak laki-laki di sampingnya itu menunjuk ke arah seragam kiri ava menggunakan dagunya sambil berujar “tuhh”. Kali pertama yang dirasakan ava adalah wajahnya memanas

Ava tersenyum miris saat mengingat pertama kali pertemuannya dengan laki-laki itu, yang diakhiri dengan sebuah ucapan terimakasih. Dan berlanjut pada pertemuan kedua dan seterusnya ketika jam istirahat.
Ava mengusap wajahnya. Sudah hampir 3 jam dia duduk di dalam cafe hanya untuk melamun dan menghabiskan 4 gelas espresso. Dia terperenyak, segera memasukan barang-barangnya ke dalam tas berwarna coklat. Lalu bergegas meninggalkan cafe yang sudah menjadi tempat favoritnya semenjak pertama kali menginjakan kaki di kota ini..

Salju malam ini terasa lebih dingin. Tadi ava lupa membawa payung, membuatnya kini harus merapatkan mantel serta topi wolnya. Ava merasakan tubuhnya menggigil karena suhu kota sedang berada pada -3 derajat celcius, namun dibandingkan dinginnya salju dia lebih merasakan beku di hatinya. Dia menyesali kenapa mamanya harus mengirimkan semua benda-benda kenangan itu. Dia menyesali kenapa laki-laki itu tidak pernah lelah untuk mencarinya dan mengirimi surat kealamat rumahnya di Jakarta. Dia juga menyesali kenapa mereka harus berpisah. Ava terlalu menyesali kenapa harus mengenal Kenzo..

Ava baru saja menyelesaikan tugas kuliahnya bersama cecilia, teman satu fakultasnya.
Ini bukan jalan pulang, namun dia terus melangkah tanpa tahu ke mana tujuannya. Sudah pukul sepuluh malam, tapi tidak ada sedikitpun niat untuk segera kembali ke apartement walaupun besok akan diadakan kelas pagi.
Dia melewati beberapa bangunan yang menjulang tinggi. Cahaya bulan menerangi langkahnya, ava menyelipkan tangan ke dalam tas yang disampirkan di pundak kanan, tanpa sadar dia meremas sebuah surat.
Tak terasa air matanya mengalir. Ava makin mempercepat langkahnya, hingga kemudian gerakannya terhenti. Ada seseorang yang menahan pergelangan kirinya.
“Ava..” ujar seseorang yang berdiri di belakangnya. Tubuh ava membeku seketika, seperti suara berat pria yang dikenalnya. Tidak. Pasti ava sedang berhalusinasi. “Avara” ucapnya lagi lebih mantap.
Membuat ava membalikan badan.

Matanya tak berkedip saat dia berhadapan dengan sosok yang memanggilnya.
“gue gak mungkin salah lihat kan?” ucap laki-laki tersebut, kini kedua tangannya memegang lengan ava “gue nemuin lo di sini” ujarnya sambil menarik ava ke dalam dekapannya.
“no! Don’t touch me!!” seru ava. Suaranya bergetar.
Kenzo yang mendengar hanya tertegun. Dekapannya pada seorang gadis yang memakai topi wol merah merenggang.
Ava mundur selangkah. Menciptakan jarak antara dirinya dengan laki-laki tersebut.
“Kenzo” Ava mengucapkan nama itu sangat pelan, dia menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.
“gue kangen lo va. Gue nyariin lo selama ini. Why did you go?” ucap kenzo, matanya memandang wajah ava. Seolah takut yang ada di depannya hanya sebuah ilusi. “lo tau gue gak suka sendiri” kenzo menarik nafas “dan surat-surat gue? You are deliberately disappeared”
Ava menahan nafas. Pertahanannya hampir runtuh ketika mendapat cecaran pertanyaan bertubi-tubi dari kenzo. Ini salahnya memang, pergi tanpa sepengetahuan kenzo. Bahkan kenzo tidak tahu apa penyebabnya pergi.
Namun, bukankah pergi tanpa pamit akan lebih mudah daripada dia harus pergi serta mengucapkan segala alasannya kepada orang yang disayangi? Ini terlalu sakit. “Everything has changed. We are not the same people anymore” ujar ava sedih.

Kenzo mengerjapkan matanya berulang kali. Dia tidak berharap ini hanya mimpi. Namun dia juga terlalu takut untuk mengakui bahwa ini suatu kenyataan. “what?” kenzo seperti kehabisan kata-kata “what did you say?”
“semuanya sudah berlalu ken. Sekarang kita punya hidup masing-masing.” ava menunduk menyembunyikan segala bentuk perasaannya. Dia berharap saat ini bumi akan menelannya bulat-bulat agar dapat menghilang dari laki-laki yang kini diam mematung. “I’m sorry – aku harus segera pulang”
Kenzo melihat gadis yang dicarinya selama dua tahun belakangan. Dia mulai membalikan badan. Selangkah ava beranjak, “gimana?” ujar kenzo “Gimana kalau hidup kita itu ditakdirin buat bersama?” Lanjutnya dengan suara serak. Dia benar-benar kalap.
Ava berhenti seketika. Kenzo dapat melihat bahu kurus itu naik turun. Menahan emosi “semenjak saat itu, gue takut percaya takdir ken!”

“astaga! Jangan bilang kalau lo gak pernah baca semua surat dan segala macam email yang gue kirim”
Pertanyaan kenzo berhasil membuat ava termenung. Mengingat berapa banyak surat bersampul biru yang diterimanya. Juga ratusan email serta voice mail yang masuk ke kontak masuknya. Ya benar, dia memang tidak pernah membacanya. Karena terlalu takut untuk mengetahui kebenaran itu.
Ava tidak tahan lagi. Rasanya seperti mau meledak. Pertahanannya sudah benar-benar runtuh. Berada di sini bersama seseorang masa lalu yang masih diharapkan adalah suatu kesalahan baginya.
“don’t cry. I don’t like being the reason you crying.. Gue gak tau kesalahan gue apa. Tapi kalau karena masalah Andin lo salah paham..”
Mendengar nama itu disebut membuat hati ava seperti teriris berulang kali. selama ini dia baru tahu kalau wanita yang menyebabkan hubungannya bersama kenzo hancur bernama Andin. “Lo tau perasaan gue ke lo gak pernah berubah va”
Ava tertegun. Lalu menengok kebelakang. Hatinya bergetar. Jarak antara keduanya sudah beberapa meter. Namun ava dapat melihat kesungguhan dari tatapan mata hazel itu.
Hening. Tidak ada yang saling menginterupsi. “good byee, Ken” akhirnya kalimat itu yang diucapkan.
Ava pergi meninggalkan kenzo yang melihatnya dengan tatapan nanar.

Jakarta, Juni 2014
“I love you.”
Ava ternganga bingung dengan apa yang harus diucapkannya ketika kenzo mengucapkan tiga kata tersebut.
“kamu diem? Artinya iya.”
Jantungnya berdetak cepat. Pipinya merona.
“mulai sekarang bukan lo atau gue. Juga bukan aku atau kamu. Tapi kita.”
Kenzo merengkuh ava. Dia meletakan dagunya di atas kepala ava, menghirup dalam-dalam harum shampo yang digunakan gadis itu. Sedangkan Yang dilakukan ava hanya memejamkan mata. Menikmati kehangatan yang merayapi tubuhnya.
Keduanya sama-sama tersenyum. Merasakan debar perasaan masing-masing. Malam itu, di bawah hamparan langit yang menampilkan bulan sabit, kenzo dan ava resmi berpacaran.

Pukul 06.00 pm. Walaupun semalam salju tidak turun, tetapi Aktivitas sepagi ini di Amsterdam belum terlalu padat. Ava menyusuri jalanan pinggir kota.
Berpapasan dengan satu dua orang. Langkahnya terhenti di salah satu sisi Kanal Brouwersgracht, salah satu kanal terindah di Belanda yang terletak di tengah kota Amsterdam.
Ava melihat betapa tenangnya air danau yang ditimpa cahaya matahari pagi. Lalu duduk di bawah pohon rindang dengan kaki menekuk. Sambil mengorek isi tasnya. Ava mengeluarkan lembaran surat-surat yang lusuh. Bukan karena sering dibaca, namun karena diremasnya berulang kali. Diangkatnya tinggi-tinggi. Dia ingin melenyapkan benda tersebut. Menghanyutkannya ke dalam danau.

Jakarta, 22 Juni 2015
“Happy anniversary Avara Tirtadhirga. Ken tunggu di tempat biasa ya. Lovyu”
ava tersenyum melihat sebuah pesan masuk di ponselnya. Hari ini tepat satu tahun dia berpacaran dengan Ken.
Pukul 19.00 wib. Ava turun dari mobil berwarna hitam dengan pintu yang di buka oleh pak Handi. Ken sengaja meminta tolong pak Handi. Sopir rumahnya untuk menjemput Ava. karena dia sedang sibuk menyiapkan tempat untuk merayakan hari spesialnya bersama ava.

“neng Ava geulis. Pasti den kenzo makin sayang deh” ujar pak handi saat itu
Ava tersenyum simpul. Malam ini dia menggunakan gaun berwarna pink serta pulasan make up tipis di wajahnya. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai lurus. “terimakasih pak. Ava ke dalem dulu ya” pamitnya kepada seorang laki-laki berumur 50an.
“iya neng. Sama-sama” jawabnya dengan senyum tulus.

Ava berjalan. Menuju meja nomor 2 yang terletak di samping jendela besar. Tinggal beberapa langkah lagi, hingga matanya membulat tak percaya.
“udah din. Semua bakal baik-baik aja. Masih ada gue”
Mata ava memanas seketika. Dia tidak sedang bermimpi, bahwa laki-laki yang dicintainya sedang memeluk wanita berambut ikal kecoklatan. Jarak antara keduanya sangat dekat. Hingga laki-laki tersebut menyadari kehadirannya dan melepaskan perempuan tersebut.
“gue pulang” ucap ava memecah keheningan “Sorry ganggu”
“va, aku bisa jelasin sama kamu. Ini cuma salah paham” kenzo terus membuntuti langkah ava. Dia menarik pergelangan tangan ava, membuatnya menghentikan langkah.
“gue liat dengan mata kepala gue. dan di hari yang harusnya spesial lo ngerusaknya”
“tapi gue-”
“cukup ken!! Gue benci dibohongi” bentak ava dengan muka merah padam “good bye ken!” lanjutnya sambil berlari meninggalkan kenzo.

Ava membenamkan wajah di kedua lututnya. Air mata sudah membasahi wajahnya. Dengan gerakan kasar dia nyobek ujung sampul suratnya, tanganya bergetar saat membaca sebaris kata pertama.

25 September 2015
Dear Bulanku
Ini hari ke 100 aku nyariin kamu. Tiba-tiba kamu menghilang tanpa denger penjelasan dariku.
Oh ya, Kemarin aku dateng ke bandung. Kamu masih ingat nggak pertama kali aku ngajak kamu ke sana, aku nyatain perasaanku sama kamu. Di atas bukit dan malem itu kita berdua.
Kamu pernah bilang. Kalau kami suka bulan sabit. Dan kamu juga bilang kalau senyum aku sehangat matahari pagi.
Aku menanggapinya; bukan suatu kebetulan jika Bulan dan matahari saling melengkapi bukan?
Saat itu kita percaya akan tetap bersama sejauh apapun jarak..
Ava, kamu harus tau. Aku gak pernah main-main. Aku masih berharap dapat kesempatan kedua dari kamu. And I love you, will always love you..
Ken

Ava tak berkedip. Nafasnya yang sedari tadi tertahan makin menyesakan. Dia mengambil surat kedua.

10 Oktober 2015
Selamat malam wanita pecinta bulan sabit..
Aku mau cerita sama kamu. Ini bulan kedua aku jadi mahasiswa di Universitas Indonesia. Sebagai maba yang sok sibuk hehe..
Va, aku kangen kamu..
Kamu sengaja gak buka email aku, balas surat aku juga nggak.
Avara Tirtadhirga. Aku gak pernah bosen buat yakinin kalo ini cuma salah paham.
Malem itu aku emang sengaja ngundang Andin. Aku mau doubel date. Andin dengan pacarnya. Aku sama kamu.
Dia itu temen SMP aku, baru pulang dari Sidney. Dia mau kenal sama kamu.
Waktu itu, Andin dan Jay sudah dateng 30 menit sebelum aku. Mereka yang nyiapin semuanya. Tapi Jay pamit duluan karena dia mau jemput adeknya dan balik lagi ke sini. Hingga tiba-tiba Andin dapet telepon kalo Jay kecelakaan.
Kamu tau kan apa yang aku maksud.. Jadi kita refleks pelukan bukan seperti yang ada di pikiran kamu va.. Semua murni karena Andin butuh seorang teman buat ngurangin rasa sedihnya.
Itu sebabnya kenapa aku gak nyusulin kamu..
I’m sorry va. I’m sorry 🙁
Ken

Ava menangis sejadi-jadinya. Saat surat ke 7 telaah dibacanya. Masih banyak surat-surat yang lain.
Dia bodoh benar-benar bodoh. karena sifat keras kepalanya sudah menyakiti hatinya juga kenzo..
Ava kembali teringat pesan yang masuk di ponselnya semalam. Di sana tertulis sebuah tempat restoran yang alamatnya dikenal Ava.

Ava berlari-lari. Beberapa orang ditabraknya “I’m sorry” ujarnya setiap kali menabrak seseorang.
Dia mendorong pintu restoran, disapunya setiap sudut restoran mewah bergaya klasik tersebut. Hingga sebuah suara mengagetkannya
“Avara?” ava menengok, senyumnya lenyap ketika yang didapatinya bukan orang yang dicari. “4 jam dia nunggu kamu di sini” ujar pria bule berumur 30an, dia menggunakan bahasa indonesia dengan aksen inggrisnya yang masih kental.
Ava tidak tahu siapa pria tersebut. Tapi melihat gesturnya, dia dapat menyimpulkan bahwa orang tersebut cukup dekat dengan Kenzo..
“di mana? Di mana dia sekarang” ucap ava mencicit.
“dia baru saja pergi. Mungkin ke kanal” sebelum pria tersebut menyelesaikan kalimatnya, ava sudah berlari. Hanya ada kanal terdekat dari daerah cafe de rose ini, yaitu Kanal Brouwersgracht yang beberapa jam lalu dikunjungi Ava. Sebelum ava keluar, dia membalikan badan dan mengucapkan terimakasih pada pria yang hanya tersenyum dari arahnya berdiri..

Ava terengah-engah. Dia sudah berputar-putar untuk mencari Kenzo. Tetapi hasilnya nihil.
Kakinya sudah tak kuat lagi untuk berjalan. Dia menggigil kedinginan dan dua jam kesana-kemari mencari seseorang itu bukan pilihan yang tepat saat salju sedang turun.
Ava jatuh terduduk tepat di pinggiran danau. Dia menangis. Tak peduli dengan Mantel mocca nya sudah dipenuhi salju.

Ava terlonjak kaget. Saat merasa kehangatan menyelimutinya. Harum ini. Mengingatkannya pada seorang laki-laki yang selalu ada dihatinya. Dia mendongakan kepala
“ken”
Sedetik kemudian ava sudah berada dalam pelukan kenzo. Hangat. Menenangkan. “I’m sorry. Aku gak pernah tau semua cerita itu” ujarnya. Dia membenamkan wajahnya di dada kenzo, menghirup dalam-dalam aroma parfum ken yang tak pernah berubah. Manis, segar dan hangat. Perpaduan antara citrus dan kayu-kayuan.
Ava terus terisak. “husst” ucapnya menenangkan ava, mengusap rambutnya dengan lembut. “sekarang ada aku dan kamu di sini. We will always be together…” lanjut kenzo disertai pelukan yang begitu erat.

Malam itu Kenzo dan Ava mengulang segala perasaan. Hujan salju berhenti. Digantikan setitik bintang yang berkerlipan dan sebuah bulan yang membujur seperti panah.
“aku tak benar-benar benci takdir ken” ujar ava. Dia memandangi kenzo tepat di kedua bola mata hazelnya.
Semua masih sama. Tidak ada yang berubah.
Senyum kenzo mengembang, menciptakan sedikit kerutan di ujung matanya. Mereka percaya bahwa sejauh apapun jarak akan menyatukan mereka.
“And I’ll love you. To the moon and back. To the sun and back, or even further than that” kenzo berbisik lirih di telinga ava, membuat senyum keduanya mengembang…

Cerpen Karangan: Siska Kurnia
Blog / Facebook: http://my.w.tt/UiNb/in8K29WQnD / siska kurnia

Cerpen Sun After Moon merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Unexpected (Part 2)

Oleh:
“Kenapa kau ada di sini? Jangan bilang jika kau—” Kayela tidak melanjutkan kalimatnya. Ia takut jika intuisinya salah. “Aku tidak seperti yang kau pikirkan, Kayela. Aku bukan orang yang

Samudra Cinta

Oleh:
Deburan ombak tepi pantai malam itu, seperti sedang memberiku isyarat bahwa aku hanya terlihat layaknya sebongkah karang yang kesepian di tengah samudra nan deras, entah mencoba menahan derasnya terjangan

Oedipus Complex (Part 1)

Oleh:
Hujan di minggu pagi dimana orang-orang asyik bergulung dengan selimut mereka tapi tidak denganku yah seandainya aku menjadi salah satu dari mereka tentu lebih menyenangkan. Disinilah aku di ruangan

Last Firework’s Festival

Oleh:
Sehari sebelum festival kembang api, aku dan pacarku, Arata, sibuk memilih Yukata yang serasi untuk kami. Festival kembang api tahun ini adalah yang terbaik. Aku sangat mengharapkan momen seperti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sun After Moon”

  1. yogiechimp says:

    menn, cerita lo bagus sim. tp lebay. ehm, erg harus lebay sih, biar para netizen bs brush jd haters or fans. hahaha overall, bagus. bikinin cerita tag gw dong bah gak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *