Surat Cinta Sizia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 November 2017

Semua berawal dari cinta.
Sejak Sizia menyukai kakak kelasnya, ia jadi melupakan semuanya. Melupakan pelajaran kelas, melupakan hobinya, cita-cita tertingginya, pokoknya semua Sizia lupakan saat kehadiran kakak kelas itu. Karena cinta, melupakan segalanya.

Sizia tersenyum manis, saat ia kembali membaca surat yang baru dibuatnya. Tentu untuk kakak kelasnya.

Teruntuk kamu hidup dan matiku. Aku tak tau lagi harus dengan kata apa aku menuliskannya. Karena untuk pertama kalinya, kau buat aku mengenal cinta. Maaf bila hadiah yang kuberi ini tidak sesuai dengan keinginanmu, aku hanya ingin memberi, kepada kamu yang menurutku wajar untuk menerimanya. Kumohon, gunakan semua hadiahku ini sewajar mungkin. Jangan biarkan satu pun rusak oleh tangan jahilmu, karena dari situ aku akan sadar, bahwa kau adalah orang yang setia. Setia menjaga barang yang sudah menjadi milikmu.

Your secret admirer

Sizia menulisnya dengan sangat hati-hati, juga rapih. Matanya ia pejamkan. Saat pertemuan singkat itu, Sizia jadi mengenal apa itu cinta.

Brukkkk
“Duh, maaf-maaf saya nggak sengaja. Maaf ya sekali lagi.”
Tumpukkan buku sudah terjatuh acak di lantai. Ia mendengus kesal, pasalnya ia sedang buru-buru. Roknya yang terlalu pendek membuatnya susah untuk berdiri.
“Ayok bangun!!” Uluran tangan itu awal dari semuanya. Tatapan mata meyakinkan semuanya. Dan senyuman, membuatnya percaya diri seperti ini.
“Sekali lagi maaf ya, saya tidak melihat tadi. Kamu tidak kenapa-kenapa kan? Kalau gitu, saya pergi dulu karena ada urusan lain. Sekali lagi saya minta maaf.”
Ia melihat punggung pemuda tanpa kedip, ia menyiratkan senyum di bibir. Setelah itu mengambil buku-buku yang sempat jatuh.

Sizia tersenyum malu. Ia menyalakan radio. Alunan musik pun membuat Sizia kembali berkhayal tentang kakak kelasnya itu. Semuanya terasa sangat indah, bila lirik-lirik lagu akan menjadi nyata.
Semua lagu cinta, mendeskripsikkan suasana hatinya.

“K-kak,” panggilnya.
Yang disapa menoleh. “Eh? Saya?” Ia mengangguk. “Ada apa?” sambung pemuda itu.
“B-buku biologi ada di mana ya?” Pemuda itu mengernyit.
“Dari tadi aku cari, nggak ketemu-ketemu.”

Pemuda itu mengangguk. Ia berjalan ke arah rak buku biologi, gadis itu mengikutinya dari belakang. “Kamu anak baru?” Pemuda itu bertanya tanpa menoleh.
Gadis itu mengangguk. “Kamu cari buku apa?” tanya pemuda itu.
“B-biologi kak,” jawabnya.
Pemuda terkekeh. “Saya tau. Maksudnya judulnya apa?”
“Eh? Nggak tau. Cuman mau cari-cari judul yang baru aja.”
“Kalau boleh saya tahu, nama kamu siapa?” Pemuda itu mengulur tangan panjangnya. “Saya Ricky,” ucapnya.
Ia mengangguk. “S-sizia kak.” Ia membalas uluran tangan pemuda.
“Emang saya nyeremin ya, sampe kamu gugup gitu?”

Alunan nada berhenti. Sizia membuka kedua bola mata.
‘Mama’
Mata Sizia membulat sempurna saat, mata menangkap ibunya.
“Kamu ngapain senyum-senyum sambil nutup mata gitu sih? Lagi jatuh cinta ya? Jujur deh sama mama.”
Wanita paruh baya menghampiri Sizia. Mengelus rambut panjang anaknya dengan kasih sayang. Mencium puncak kepalanya dengan lembut. “Cerita aja sama mama. Mama nggak bakal marah sama kamu kok, sayang.” Sizia mengangguk. Ia mulai membuka mulut. Semuanya Sizia ceritakan pada ibunya. Ibu jadi tau, mengapa akhir-akhir ini Sizia lebih suka di kamar daripada bergabung dengan teman sebayanya.

“Mama ngerti. Mama juga pernah jatuh cinta, tapi pesan mama jangan sampai kamu kemakan sama cinta.”
Sizia mengernyit dahi. Ibu tersenyum.
“Gini, cerita itu ada yang fiksi dan ada juga yang non-fiksi. Sama halnya dengan cinta, cinta ada yang nyata dan ada juga yang semu. Kalau kamu sudah siap dengan jatuh cinta, kamu juga harus siap dengan sakit hati. Karena jatuh pasti sakit.”
“Maksud mama apa? Sizia masih belum ngerti.”
Ibu tersenyum. Ia memeluk anak bungsunya.
“Sayang… kamu masih terlalu kecil untuk mengetahui apa itu cinta. Lebih baik kamu belajar yang rajin dulu, supaya besar nanti kamu mendapatkan cinta yang nyata bukan yang semu.”
“Tapi kenapa harus nanti kalau bisa sekarang?”
Ucapan Sizia membuat ibunya tak berkutip. Pasalnya, itu adalah kalimat ibu yang sering dilontarkan untuk putri kesayangannya.
“Mama tunggu kamu di bawah.”
Sizia tidak mengerti apa maksud ucapan ibunya. Apa selama ini Sizia sudah terlalu jauh melangkah? Apa selama ini Sizia mengabaikan keluarganya karena cinta? Apa selama ini Sizia menjadi remaja yang keterlaluan?

“Jadi, ini surat ke seratus kalinya yang kamu kirim untuk saya?”
Sizia melompat kaget. Suara ini… suara ini yang mengenalkan cinta. Suara ini yang membuatnya seakan lupa dengan dunia nyatanya. Ia menoleh.
“Kak Ricky,” gumam Sizia.
Baru kali ini Sizia merasakan campur aduk. Antara gelisah, senang, kecewa, dan takut menjadi satu.
“Saat surat ke lima puluh kamu, saya baru sadar kalau selama ini kamu yang ngirim surat ini ke saya,” ucap Ricky.
“Awalnya saya bingung kenapa ada surat warna merah muda di loker saya, saya kira itu hanya orang jahil. Tetapi makin ke sini, surat itu terus saja berdatangan ke loker saya, loker saya sudah seperti kotak pos. Semakin lama, saya ingin tahu siapa pengirim surat ini–”

Saat ini adalah jam pelajaran olahraga. Pak Samsul meminta untuk semua murid berganti pakaian olahraga. Ricky membuka loker, ia mengernyit.
‘Surat ini lagi.’
Ricky tak mau ambil pusing karena surat itu, ia lebih memilih untuk cepat mengganti pakaian, dibanding kena hukuman Pak Samsul.

“Saya waktu itu nggak sengaja liat kamu jalan berbirit-birit seperti maling. Saya kira kamu akan mencuri sama halnya seperti maling. Saya mengikuti kamu, saya kira kamu akan mengambil barang berharga saya di loker. Namun, saya salah. Saya lihat kamu mengeluarkan surat berwarna merah muda dari tas gendongmu. Saya merasa sangat familiar dengan surat itu.”

Ricky masih setia menunggu aksi Sizia yang mencurigakan. Mata Sizia sesekali menatap ke semua ruangan, agar tidak ada yang melihatnya. Sizia sudah merasa aman, ia mengeluarkan spucuk surat dari tasnya.
Siapa sangka, kalau sebenarnya situasi sedang tidak aman. Ricky memperhatikkan gerak-gerik Sizia dari balik pot bunga besar. Untung saja, badannya tidak terlalu besar.

“Itu kan surat…
Ini.”
Ricky mengeluarkan surat yang sama dari saku celana. Ia tidak habis pikir, bahwa selama ini surat misterius itu dari orang yang dekat dengannya.

“Dari situ saya bingung mau ngapain. Satu sisi, saya mau kamu tau kalau saya sudah tau semua ini, tapi di sisi lain, saya masih ingin membaca puisi-puisi kamu.”
“K-kak.”
“Semakin lama saya membaca puisi dari kamu, saya jadi suka senyum-senyum sendiri. Jantung saya memompa darah lebih cepat dari biasanya. Awalnya saya pikir saya punya riwayat penyakit, tapi itu salah. Saya tidak memiliki riwayat penyakit apa pun selain maag.”
“Kak Ricky…”
“Saya mulai mencari tahu ini perasaan apa, setiap malam, saya jadi kepikiran kamu terus. Kepikiran puisi-puisi itu.”

Sizia berdiri di depan barisan loker tanpa berbicara. Ia masih setia menunggu ucapan kakak kelas itu, walau sebenarnya ia sangat malu.
Untungnya, koridor masih sepi. Jadi tak ada alasan lain untuk Sizia mengabaikan ucapan-ucapan Ricky.

Ricky menggapai kedua tangan Sizia.
“E-eh?”
“Jujur, saya nggak pernah berhubungan dengan perempuan. Gimana kalau mulai saat ini kita berhubungan? Kata orang, memiliki hubungan itu lebih enak daripada tidak sama sekali.”
Sizia tersenyum dalam diam. Kata ibunya, dia harus berhati-hati dengan cinta, karena cinta ada yang nyata dan ada yang semu. Sizia tidak boleh asal pilih, jika ia tidak mau sakit hati.
“Saya nggak maksa kamu juga sebenernya, saya mau semuanya berjalan oleh waktu. Kamu sayang sama saya, saya juga sayang sama kamu. Kamu peduli sama saya, saya juga peduli sama kamu. Kamu takut kehilangan saya, saya juga takut kehilangan kamu.”
Sizia terpaku. Ia bingung harus berbicara apa. Perasaan hatinya campur aduk. Ia bingung, apakah ini mimpi atau nyata.

“K-kak… Zia bingung,” keluh Sizia.
Ricky menatap Sizia sambil tersenyum.
“Kamu cukup diam dan terima semua perlakuan saya. Saya tidak maksa kamu balas perasaan saya, setidaknya biarkan saya berjuang untuk kamu Zi,” ujar Ricky.

Sizia tak akan pernah percaya bahwa akhir dari perjuangannya adalah seperti ini. Jangankan memikirkan akhirnya, menyusun kata-kata untuk surat Kak Ricky aja dia bingung setengah mati.
Seandainya Sizia bisa menghentikan waktu, maka Sizia akan menghentikannya sekarang. Berhenti di waktu kebersamaannya dengan sang pemuja hati.

Sesuatu yang mulanya tidak bernilai, akan terasa berharga saat adanya kompetisi. Seberapa keras pun kamu mengelak cinta, ingatlah bahwa debaran jantungmu kepadanya tidak akan pernah berdusta.
Kau tidak akan mengerti seberapa indahnya jatuh cinta, sampai kau merasakannya sendiri.

Mulai saat ini, kehidupan Sizia telah berubah. Sizia yang rajin belajar, Sizia yang pandai di kelas, Sizia yang selalu tersenyum, Sizia yang suka jahil, kini semuanya telah kembali. Tak ada yang bisa menghalangi kebahagiaan Sizia lagi selain cintanya, Ricky Saputra.
Karena kebahagiaan untuk dirasakan, bukan dipamerkan.

“Tetap jadi Sizia yang aku kenal ya.”
Mata Sizia terbelalak. Ricky telah mengubah kosa katanya menjadi aku-kamu.
“You too. Tetap jadi Kak Ricky yang Sizia kenal.”
Sizia tersenyum penuh kebahagiaan, begitu juga dengan Ricky.

Karena perjuangan tidak pernah mengkhianati hasil. Inilah hasil dari segalanya, semua tentang Sizia.

Cerpen Karangan: Zulfa Khoirun Nisa Rofifah
Facebook: Zulfa Khoirun Nisa Rofifah
Zulfa Khoirun Nisa Rofifah, kerap disapa Fani. Baru menginjak usia 14 tahun. Menulis adalah hobi yang tersingkirkan, tetapi ingin kembali mendaur ulang hobi tersebut menjadi bermanfaat.

Cerpen Surat Cinta Sizia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karya Hati

Oleh:
“kau boleh acuhkan diriku.. dan anggap ku tak ada, tapi takkan merubah perasaanku.. kepadamu..” Sepenggal kalimat itu yang kini sering berderu di telingaku. Aku Nan, seorang gadis kecil kini

Tentang Aku dan Senpai

Oleh:
Minggu, 25 Agustus 2013 “iya aku berangkat, tunggu sebentar” Hari ini aku tidak mengikuti acara di sekolah karena jarak rumahku dengan sekolah sangat jauh. Tetapi aku masih mengikuti acara

Bungkusan Kertas Cokelat

Oleh:
Satria berjalan menyusuri lorong kantin sekolah, matanya tertuju pada selembar uang seratus ribu yang tengah tergeletak di lantai. Dia tengok kiri kanan (gak ada yang tahu!), lalu menghampiri uang

Tukang Ngekhayal

Oleh:
Jeeddeeerrr!! Suara petir menyambar nyambar seakan tiada hentinya mewarnai pagi hari kala itu. Dengan mata yang masih 2 watt aku berusaha menembus derasnya hujan kala itu. Tanpa terasa hujan

Terbang

Oleh:
Apa yang seharusnya aku lakukan? Aku sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Rasanya aku sudah tidak kuat lagi menerima tekanan ini. Ini begitu berat, berat sekali. Bahkan sepertinya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *