Surat Di Laci Meja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 22 November 2017

Nama gue Cinta. Sekarang gue duduk di kelas X SMA. Gue lagi naksir sama seseorang, dia senior gue. Namanya Ciko. Gue gak tau kenapa gue bisa suka sama dia. Dia orangnya pendiam banget dan jarang bersosialisasi tapi kekalemannya itulah yang buat gue penasaran sama dia. Banyak juga yang bilang kalau dia itu cupu, ya memang penampilannya kurang menarik tapi sebenarnya dia adalah pemuda yang tampan kalau saja dia mau memperhatikan penampilannya itu. Namun banyak juga yang mengagumi dirinya salah satunya ya gue.

‘Selamat pagi Cinta, semoga hari ini kamu selalu tersenyum’

Ini adalah surat ke-5 yang gue terima. Sejak 5 hari belakangan memang setiap pagi gue selalu dapat surat misterius ini. Namun hari ini berbeda dari 4 hari sebelumnya, surat ini tergeletak di laci meja gue ditemani setangkai bunga anggrek putih kesukaan gue. Gue benar-benar penasaran dengan si pengirim surat ini.

“Dapat surat lagi dari fans Lo Cin?” Santi mengagetkanku.
“Aduh, gue kaget tau. Iya nih San.” Kataku sambil memamerkan kertas kecil yang hanya terdapat beberapa kata itu pada Santi.
“Lo belum tau juga siapa pengirimnya?”
Gue hanya bisa ngangkat bahu menanggapi pertanyaan sahabat gue itu. Padahal gue pengen banget mergokin orang yang naruh surat ini dalam laci gue, tapi gue gak pernah berhasil. Gue selalu kalah cepat sama dia.

“Udahlah Cin. Siapa tau Cuma orang iseng yang mau ngerjain Lo.” Kata Santi.
“Tapi ini udah hari kelima San. Masak orang ngerjain sampai segitunya?”
“Ya udah liat aja besok, kalau masih ada surat di laci Lo berarti memang ada yang lagi suka sama Lo.” Jelas Santi.

Gue masih gak habis sama orang yang naruh surat di laci gue, kenapa dia ngelakuin itu? Gue yakin itu Cuma orang yang pengen ngisengin gue doang. Karena gue Cuma seorang cewek biasa yang gak ada istimewanya untuk dikagumi. Mungkin nama gue memang bagus tapi wajah gue gak sebagus nama gue. Gue juga gak terkenal di sekolah ini, gue hanya siswa biasa yang gak memiliki keistimewaan. Berbeda dengan Ciko, meskipun dia kalem dan jarang bersosialisasi dia adalah siswa yang pintar dan sering dikirim untuk mengikuti berbagai cerdas cermat atau sejenisnya.

Gue lagi mengistirahatkan otak gue yang lagi mumet mikirin si pengirim surat misterius sambil terus memandangi pangeran gue. Raja di hati gue, siapa lagi kalau bukan kak Ciko. Dia tengah asyik dangan buku dan beberapa soal di hadapannya. Gue gak habis pikir sama dia, gimana caranya otak dia bisa encer kayak gitu. Gue baru liat soal kayak gitu aja mungkin gue udah pingsan duluan sebelum mulai mengerjakannya. Ah entahlah, gue segera beranjak meninggalkan tempat itu, tempat yang selalu bikin hati gue labih baik saat gue lagi banyak pikiran kayak sekarang ini.

Keesokan harinya…
Seperti biasa gue datang ke sekolah lebih awal, untuk mencari tau apa ada surat baru di dalam laci meja gue. Setiba di kelas, kelas itu masih kosong. Gue segera mendekati meja gue dan melihat laci meja gue. Ternyata ada surat lagi.

‘selamat pagi cinta, semoga hari ini kamu selalu tersenyum.’
Maaf membuatmu penasaran, tapi tolong bersabar sedikit lagi ya cinta.

Begitu isi surat singkat itu. Apa maksudnya bersabar sedikit lagi. Gue benar-benar bingung sekarang. Entah bagaimana surat ini bisa sampai ke dalam laci gue, gue ngerasa ada yang lagi mainin gue sekarang.

“Selamat pagi.” Sebuah suara membuat gue kaget.
Dan ternyata pemilik suara itu adalah Ciko, sang pangeran es. Gue terpaku sesaat memandangi lelaki tampan ini. Apa mungkin gue lagi mimpi ya?
“Dek!! Kenapa?” panggilnya. Lagi-lagi gue kaget.
“Oh eh, ada apa kak?” tanya gue gugup banget. Tau gak kalian gimana perasaan gue sekarang saat seorang yang kalian sangat kagumi lagi berdiri di hadapan kalian. Duh rasanya gue mau pingsan.
“Kamu Cinta kan?” duh dari mana dia tau nama gue? Jangan-jangan pengirim surat itu dia lagi. Omg gue gak kuat. Apa yang harus gue lakuin sekarang.
“Dek. Kamu Cinta bukan?” ulangnya.
“Oh eh i iya kak.” Gue benar-benar gugup sekarang.
“Ini.” katanya menyerahkan sebuah surat dengam amplop. OMG Cinta. Jangan-jangan pengirim surat itu beneran dia lagi?
“I ini apa kak?” tanyaku
“Itu surat, Cerry gak bisa masuk hari ini karena dia lagi sakit. Tolong kasihin ya sama guru yang ngajar nanti.” Katanya. Wajah gue langsung berubah, ternyata gue gr.
“Oh ya kakak tau nama saya dari mana?” tanyaku penasaran
“Dari Cerry, katanya kamu yang sering datang pertama.” Jelasnya.

Dengan rasa kecewa gue segera ninggalin tempat itu. Kenapa gue berharap pengirim surat itu kak Ciko, padahal itu gak mungkin terjadi. Gue segera pergi ke taman yang terletak di samping kelas. Gue terus melihat surat yang tengah gue pegang. Sebenarnya ini dari siapa tanya gue dalam hati. Rasa penasaran gue sudah memuncak sekarang, gue benar-benar ingin tau siapa pengirim surat ini.

Dari kejauhan gue melihat kak Ciko yang tengah berjalan menuju kelasnya. gue berharap surat ini dari Lo kak. Kata gue dalam hati. Tapi hal yang gue harapkan itu mustahil terjadi meski dalam mimpi sekalipun.

“Lo kenapa Cin? Pagi-pagi udah ngelamun.” Ujar Santi.
“Gue masih penasaran San sama pengirim surat itu.” Jawab gue terus memandang kertas yang tengah gue pegang.
“Udahlah Cin, pada saatnya nanti dia pasti nemuin Lo.” Kata Santi. Santi mungkin benar gue Cuma perlu bersabar.

Hari ini sangat menyebalkan buat gue. Motor gue tiba-tiba mogok di tengah jalan yang sepi gak ada rumah orang ditambah lagi hujan turun dengan derasnya. Gue bingung harus gimana hp gue low bat. Lengkap sudah penderitaan gue, ditengah guyuran hujan sebuah mobil berhenti tepat di depan gue. Gue jadi ketakutan karena di sini sangat sepi. Orang tersebut membuka kaca depan mobilnya dan tampaklah kak Ciko di dalam mobil itu.

“motornya kenapa dek?” tanya kak Ciko di tengah guyuran hujan yang makin deras.
“gak tau kak, kayaknya mogok.” Jawabku
“ya udah lebih baik kita cari tempat berteduh dulu, nanti kamu bisa sakit kalau terus berdiri di tengah hujan kayak gini.” Kata kak Ciko, gue ngerasa senang kak Ciko perhatian sama gue hehe. Hmm dingiinnn!!

Dia minta gue masuk ke mobilnya dan membawa gue berteduh ke sebuah halte yang tak terlalu jauh dari tempat mogoknya motor gue. Baju gue udah basah semuanya. Gue kedinginan. Kak Ciko melepas jaket yang membalut badanya dan melingkarkan ke tubuh gue.
“biar kamu gak kedinginan.” Katanya sambil tersenyum. Maniss banget.
“makasih kak.” Aku membalas senyuman itu.
“mending kamu saya antar pulang kayaknya hujan bakal lama deh.” Ujarnya
“tapi kak apa gak ngerepotin kakak?” tanya gue
“gak masalah kok.”

Sepanjang perjalanan gue terus memperhatikan wajah tampan milik pemuda ini. Merasa diperhatikan dia menatap gue, gue jadi salah tingkah.
“kenapa kok kamu liatin saya kayak gitu. Apa ada yang aneh sama wajah saya?” tanya kak Ciko
“iya, ganteng banget.” Cepat-cepat gue nutup mulut gue. Duh nih mulut sembarangan aja deh. Kak Ciko tersenyum melihat tingkah gue.
“makasih” ucapnya. Gue terus menunduk gak berani lagi mandang kak Ciko. Gue rasa pipi gue udah memerah karena malu.
“rumah kamu di mana?” tanya kak Ciko
“Di depan sana ada belokan kak rumah aku dekat sana.” Jawabku masih menunduk
Mobil kak Ciko berhenti di depan rumah gue. Gue langsung turun dan gak lupa ngupapin makasih sama dia. Kak Ciko langsung balik sesudah ngantar gue pulang. Gue senang banget hari ini.

Hari ke-7 gue kembali mendapatkan surat dalam laci meja gue. Perlahan gue baca surat itu isinya masih terdiri dari beberapa kata.

‘kamu cantik cinta, aku mencintaimu’
Semoga hari ini kau terus tersenyum agar aku juga tersenyum

gue melihat sekeliling berharap gue akan melihat pengirim surat ini namun tak ada siapapun. Gue berbicara cukup lantang “Siapa sih orang pengecut yang hanya berani naruh surat di laci meja gue?” gue sengaja bicara cukup keras berharap pengirim surat ini mendengar gue dan keluar dari persembunyiannya. Namun tak terjadi apa-apa. Gue mulai putus asa untuk mencari tau pengirim surat ini. Mungkin ini hanya keisengan seseorang saja.

Keesokan harinya.
Gue kembali mendapatkan surat misterius. Tapi gue gak berniat untuk membacanya karena gue beranggapan itu hanya orang iseng yang mengirimnya. Gue masukin surat itu ke dalam tas. Awalnya gue ingin membuangnya tapi entah kenapa gue merasa enggan.

Gue duduk di kursi taman untuk mngusir kejenuhan ini. Gue tetap penasaran dengan isi surat yang gue terima tadi pagi. Akhirnya gue mengambil surat itu dan membukanya.

Maafkan aku cinta, yang hanya berani memandangmu dari kejauhan
Maafkan diriku yang terlalu pengecut untuk sekedar menyapamu
Maaf aku hanya berani menaruh surat di laci mejamu
Tapi satu hal yang harus kamu tau, aku telah jatuh cinta padamu.
Aku selalu memandangmu ketika duduk di taman dengan pop ice kesukaanmu
Aku selalu memandangmu saat kau datang di pagi hari dari tempat persembunyianku
Aku menyukai dirimu sejak pertama kali melihatmu
Aku telah menguatkan hatiku dan memantapkan hatiku
Datanglah ke mejamu besok aku akan menunggumu.

Gue masih menebak-nebak orang yang mungkin menulis surat ini, tapi gue gak tau juga. Gue udah mutusin besok gue akan datang ke sekolah tepat di meja gue. Gue sangat penasaran sama pengirim surat cinta ini. Gue gak sabar menanti esok untuk mengetahui pengirim surat ini. Malam terasa panjang buat gue, mata gue sulit untuk terpejam.

Pagi sekali gue udah bersiap untuk datang ke sekolah. Mama heran melihat tingkah gue pagi ini karena biasanya di hari minggu seperti ini gue akan bangun terlambat. Tapi pagi ini gue udah stand by untuk berangkat ke sekolah. Setelah pamit sama mama gue segera melaju motor gue ke arah sekolah. Sampai di sekolah gue langsung menuju kelas gue dimana biasanya surat itu gue temuin di meja gue. Tapi gue gak ngeliat ada siapapun di sana. Apa gue datang kepagian ya batin gue. Gue ngelirik laci gue, ada sebuah surat lagi disana bersama dengan bunga anggrek kesukaan gue. Gue buka surat itu.

Selamat pagi cinta.
Terima kasih sudah datang.
Aku minta maaf membuatmu penasaran lagi.
Sekarang aku sedang menunggumu di tempat aku biasa memperhatikanmu.

Gue berpikir sejenak. Tempat aku biasa memperhatikanmu. Gue segera berlari menuju taman yang tak jauh dari kelas gue. Disana seorang pria sedang duduk sambil menulis sesuatu. Tapi gue hanya melihat punggung pria itu. Gue mendekat perlahan pada pria tersebut. Setelah dekat gue terkejut saat tau pria itu adalah kak Ciko. Si manusia es.

“kak Ciko? Kakak ngapain disini?” tanya gue padanya.
“Saya sedang nunggu kamu Cinta.” Jawaban kak Ciko membuat gue sangat terkejut.
“Nunggu aku?” gue bertanya serius
Dia hanya menganguk sambil tersenyaum manis sekali.
“Maaf ya Cin saya begitu pengecut hingga saya hanya berani naruh surat cinta di laci mejamu.” Gue terpaku beberapa saat mencoba mencerna ucapan kak Ciko barusan.
“saya takut kamu tidak menyukai saya Cinta. Jadi setiap hari saya duduk di taman ini untuk memperhatikan kamu. Saya hanya sok sibuk mengerjakan sesuatu padahal saya hanya ingin memperhatikannu di taman ini.” gue sungguh tak percaya apa yang baru saja di ucapkan es batu perparas tampan ini.
“setiap sore saya akan datang ke sekolah untuk menaruh surat dalam laci mejamu.” Gue masih tak percaya.
“waktu saya ngantar kamu pulang saya hanya diam itu karena saya terlalu gugup di dekat kamu Cinta. Sekarang saya beranikan diri saya buat cerita ke kamu karena saya takut kamu bakal di ambil orang jadi saya mantapkan hati saya buat nemuin kamu dan ceritain semuanya hari ini.” Dada gue terasa sesak. Gue mencoba menenangkan diri gue, jantung gue udah mau jatoh dari tadi. Untung gak jadi kalau sampai jantung gue jatuh gimana?
“saya cinta sama kamu cinta. Kamu mau jadi pacar saya.” Kata kata itu membuat gue menangis karena terharu, dari dulu gue udah mimpiin saat-saat kayak gini dan akhirnya momen ini terjadi juga. Eh tunggu! Sekarang gue gak lagi mimpi kan? Kalau semua ini hanya mimpi entahlah gue mau bunuh diri aja deh.

Tangan kak Ciko mengusap air mata gue. Gue bingung kenapa gue malah nangis dapatin kata-kata seindah itu dari seseorang yang gue kagumin sejak lama.
“kamu kenapa nangis? Kalau kamu gak suka sama saya gak apa-apa kok. Tapi saya gak suka liat orang yang saya sayang nangis karena saya.” Kaka Ciko menghapus air mata gue yang kembali menetes mendengar ucapanya.
Gue memeluk pemuda ini dan kembali menangis dalam pelukannya. Gue gak nyangka aja kalau kak Ciko ternyata juga sering merhatiin gue diam-diam sama kayak yang gue lakuin ke dia.
“kalau kamu gak suka sama saya gak apa-apa kok cin. Tapi kamu jangan nangis terus, nanti saya juga nangis.” Gue tersenyum mendengar kata-katanya barusan.
“aku emang gak suka sama kakak. Tapi aku cinta pakai banget sama kakak.” Ucapku.
Dia terpaku tak percaya dengan yang gue katakan.
“aku juga sering merhatiian kakak di taman ini aku duduk di taman ini Cuma buat merhatiin kakak.” Jelasku padanya.
Kak Ciko tersenyum mendengar apa yang gue ucapkan barusan. Dia tampak sangat bahagia.
“Tapi kenapa kamu nangis barusan?” tanyanya heran.
“aku hanya terharu mendengar kakak juga menyukaiku dan memperhatikan ku dari jauh sama seperti apa yang aku lakuin sama kakak.” Jawabku.
Kak Ciko kembali tersenyum sangat indah. Aku membalas senyuman itu.
“Itu artinya kamu sekarang adalah pacar saya?” tanya kak Ciko
Gue hanya mengangguk menandakan ‘iya’. Ternyata pengirim surat cinta di laci meja gue adalah seseorang yang gue harapkan. Gue memeluk kak Ciko dan ada kenyamanan disana. Bersama seseorang yang gue cintai dan mencintai gue dengan tulus.

THE END

Cerpen Karangan: Yulia Mardesi
Facebook: Yulia Mardesi

Cerpen Surat Di Laci Meja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ternyata Aku Lebih Beruntung

Oleh:
“Memandangnya saja sudah membuatku senang apalagi.. ah sudahlah,” gumam Adhel dalam hati. Akhir-akhir ini Adhel memang sering melamun ia sering berkhayal tentang Dio. Dio adalah teman sekelas Adhel ia

Partner

Oleh:
“Kamu dengan siapa?” “Entahlah, mungkin aku menulis dengan dinding.” “Apa yang akan kau tulis?” “Entahlah, tidak ada yang patut kutulis dalam situasi yang entah seperti ini.” “Selanjutnya, kalau kamu

Impossible is Nothing

Oleh:
Jam yang melingkar di pergelanganku menunjukan pukul ‘12.12’, mentari sedang semangat-semangatnya menyinari dunia. Sampai-sampai panasnya yang menyengat membuat kepalaku ingin meledak. Hari ini, aku pulang berdua bersama teman seperjuanganku,

Cerpen GJ

Oleh:
“Selamat pagi abang ganteng…!!” Sapaku pada abangku yang baru bangun tidur. “Selamat pagi juga dedek tembeeem..!!” Balas abangku yang kemudian berlalu menuju kamar mandi. Aku tak membalas perkataan abangku

Friendzone Itu…

Oleh:
Sebenarnya friendzone itu apa sih? dan kenapa harus ada yang namanya friendzone, agak sakit juga sih kalau kita sayang sama seseorang tapi seseorang itu cuma menganggap kita sahabat, kakak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *