Suratmu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 31 January 2017

Hari ini tepat pukul 11 siang. Suasana di kantor tempatku bekerja benar-benar ramai hingga membuatku menghela nafas berat. Aku Nayla Shafira, bekerja sebagai editor di salah satu kantor berita cabang redaksi dan posisiku sebagai kepala editor layout and CG di kantor ini. Aku bertugas dalam pembuatan majalah dan design grafis untuk perusahaan ini.

Tidak seperti biasanya, semua orang tampak lebih sibuk. Berjalan kesana kemari membawa berkas-berkas, menelepon para klien, beberapa orang datang ke kubikelku untuk memberikan hasil yang mereka kerjakan. Saat ini aku sedang memonitori mereka sambil menatap layar komputer. Berkutat dengan mouse di tanganku, memperbaiki satu-satu kesalahan editing yang dilakukan para stafku. Aku menghentikan aktifitasku sejenak ketika seseorang menghampiriku dengan beberapa kertas di tangannya.
“Kamu tinggal urus covernya habis itu kasih ke saya semua datanya.” Ucapku pada salah satu staf editor.

Tit Tit
Aku mendengar bunyi alarm pertanda saatnya istirahat makan siang. Aku menutup buku tugasku dan berdiri menghampiri para staf yang sedang bekerja.
“Semuanya kita hentikan sejenak pekerjaan kita. Untuk kalian semua silahkan ke luar untuk istirahat!” Semua stafku segera membereskan pekerjaan mereka. Satu-persatu dari mereka ke luar ruang editor ini. Aku menghela nafas sejenak kemudian kembali ke kubilkelku. Aku mulai membuka kembali buku tugasku, menatap layar komputer dan melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda.

Tok tok
Aku mendongakkan kepalaku dan melihat seseorang disana. Aku tersenyum sejenak kemudian kembali fokus pada layar.
“Nayla aku bawa jusnya!” Ucapnya. Ia meletakkan segelas jus di mejaku.
“Kamu selalu nyuruh mereka istirahat, tapi kamu sendiri nggak pernah istirahat!” Aku tertawa mendengar ucapannya. Dia adalah sahabatku sejak SMA. Audrey namanya. Dia merupakan kepala redaksi berita di kantorku.
“ini aku juga istirahat Drey. Makasih jusnya!” Ucapku sambil meneguk sedikit isinya.
“Ya sekali-kali ayo keluar bareng waktu istirahat ini.. kamu selalu sok sibuk padahal kamu bisa serahin tugas itu ke stafmu. Mereka nganggur gara-gara kamu! Aku tahu kamu mau dikasih banyak tugas cuma gara-gara gak mau kepikiran dia. Tapi gak gini caranya Nay..”
Aku menghentikan aktifitasku sejenak. Aku menoleh ke arahnya dan menunjukkan ekspresi yang datar. Ucapannya membuatku mengingat seseorang yang sangat tidak ingin aku ingat. Aku menghela nafas panjang lalu membereskan berkas-berkas dan mematikan laptopku. Kumasukkan dompet ke dalam tas kecilku. Aku berdiri dan menatapnya.
“Oke.. kamu bener. Aku keluar sebentar. Kalau ada apa-apa dari direktur langsung hubungi aku!”
Aku segera bergegas meninggalkan kantorku. Sebelum keluar gedung aku menuju lobby menandai kalau aku sedang tidak ada di kantor.

Setelah ke luar gedung, aku berjalan menuju sebuah cafe. memasuki cafe kecil itu dan membeli sebungkus sandwich dan segelas cappucino panas. Kemudian aku berjalan menuju taman dekat kantor.
Terdapat bangku kosong disana, aku bergegas untuk duduk. Kubuka bungkus sandwich yang baru saja kubeli, melahapnya sedikit demi sedikit. Aku menghirup udara di sekitar dan pandanganku menatap keliling taman tersebut. Setelah kupikir-pikir, saran Audrey benar juga. Sudah lama aku tidak meluangkan waktu untuk bersantai seperti ini. Udara siang ini tidak panas dan angin yang berhembus sangat menyejukkan hingga membuatku merasa semakin santai. Tanpa sadar aku telah menghabiskan makan siangku.

Aku tidak memutuskan untuk kembali dahulu. Karena sudah terlanjur di sini. Pandanganku lurus ke depan ke arah dua orang tersebut. Mereka tampak mesra. Melihatnya membuatku menghela nafas berat.
“kalau kupikir-pikir jadi inget Rizki.” Gumamku.

Rizki, dia adalah masa laluku. Seseorang yang membuat masa SMA ku berwarna. Dia sahabatku. Ya kami hanya berstatus sahabat walaupun aku memiliki rasa dengannya.
Sampai tahun terakhir di SMA, aku bahkan tidak berani mengungkapkannya. Bahkan saat kuucapkan sambil bercanda dia benar-benar menanggapi itu sebagai candaan. Sampai kami lulus pun aku masih tetap bungkam.
Memang benar dia sosok yang baik. Dia benar-benar menjagaku. Membuatku tersenyum. Menenangkanku disaat aku memiliki banyak masalah. Terkadang sikapnya membuatku bingung. Dia bersikap sebagai kakak, terkadang sebagai seorang teman, dan juga seorang kekasih. Hubungan kami hanya sebatas sahabat, hanya itu.

Ah, aku baru ingat. Saat kelulusan kami pernah saling bertukar surat, namun sampai detik ini belum pernah aku buka. Daripada membuka, menyentuhnya pun aku tidak pernah. Surat itu tersimpan rapi di sisi lain dompetku.
Aku tidak tahu apa isi surat miliknya, yang aku tahu itu akan terisi dengan kata-kata dari apa yang dirasakannya. Rizki memintaku untuk saling menukar surat yang ditulis sesuai isi hati masing-masing dan akan membukanya bersama pada dua pilihan. Saat kita tidak sengaja dipertemukan kembali atau saat kita sudah memiliki pasangan masing-masing. Ya aku tidak terlalu mempedulikan itu.

Aku melihat jam tanganku. Jam makan siang sudah hampir berakhir. Aku tidak sengaja melirik tanggal yang tercantum di sana. 26 Juni 2025. Aku baru ingat, hari ini tepat ke 11 tahun aku mengenal dia. 8 tahun dengan kesibukan untuk tidak memikirkannya. Aku tidak menyadari waktu telah lama berlalu.

Drtdrt
Aku merasakan ponselku bergetar. Segera kurogoh sakuku dan mengangkat telepon itu.
“Selamat siang, saya Nayla kepala editor dari?”
“Tagihan listrik anda?”
Tut
Aku memutuskan sambungan telepon tersebut. Sudah kuduga tagihan listrikku menunggak lagi. Kenapa aku tidak pernah mengingat itu.

Drtdrt
Aku menghembuskan nafas berat. Aku melihat layar ponselku. Tertera nomor tak dikenal di sana. Kuputuskan sambungannya dan menaruh kembali ponselku di saku.
“Hei kenapa nggak diangkat!” Aku tersentak mendengar seruan tersebut. Aku menoleh ke asal suara dan melihatnya. Aku mengenali suara itu. Seseorang yang baru saja kupikirkan. Suaranya masih sama. Tatapannya yang menyejukkan dan senyumnya yang menenangkan. Semua masih sama. Dia, ada tepat di pandanganku. Dia membawa tas ransel ukuran sedang di punggungnya, menggunakan kemeja kotak-kotak dan celana jeans. Penampilan biasa namun tampak mengagumkan di mataku.
Aku menyentuh dadaku dan merasakan sesak. Aku gugup. Apa ini mimpi? Apa aku baru saja pingsan dan bermimpi? Aku mengerjapkan mataku sejenak. Menenangkan pikiranku. Aku berdiri dan menghadapnya. Aku melihat dia berjalan mendekatiku dan sekarang dia tepat berdiri di depanku.
“Kenapa nggak diangkat?” aku diam, memperhatikan dia dengan seksama. Bahkan aku bisa melihat matanya dari dekat dengan jelas. Wajahnya tampak kesal dan dia menjadikan pipiku sebagai sasaran.
“Nayla Nayla jangan bengoooonggg!!” Aku kesakitan. Dia mencubitku sangat keras. Aku menyingkirkan tangannya dari pipiku.
“Sakittt.” Dia tertawa lepas melihat ekspresiku. Aku kembali menunjukkan ekspresi datar
“ini bener Rizki?” Laki-laki yang sekarang berdiri di hadapanku tersenyum lalu mengangguk.
“Lama nggak ketemu ya? Udah 8 tahun..” matanya masih memandang lurus ke arah mataku. Dalam, hingga aku tidak sanggup berpaling.
“Oh iya!” aku tersentak saat tiba-tiba dia bergerak, meraih tas ransel yang ada di punggungnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.
“Kamu ingat ini La?” Dia menunjukkan sebuah surat dengan amplop birunya. Dia menunjukkan tepat di depan mataku. Di situ tertera jelas namanya, Rizki Irsyadi. Baru saja aku kepikiran surat itu. Dengan spontan namun perlahan, aku mengeluarkan dompetku. Membuka bagian rahasia dimana terdapat surat yang pernah diberikan Rizki padaku. Berbeda denganku, dia memberiku amplop warna oranye sesuai warna kesukaanku. Aku hanya melihat surat itu dengan tatapan kosong. Aku tidak pernah berpikir untuk membukanya namun justru sekarang saatnya mengetahui isinya.

“La aku udah baca punyamu!” aku tersentak mendengar kalimatnya. Aku mengangkat kepalaku dan melihatnya tersenyum jahil. Oh Tuhan aku baru menyadari betapa aku merindukan senyuman itu. Aku melihat matanya melirik-lirik sesuatu. Aku melihat ke arah yang dilirik dan ya dia melirik surat yang aku pegang.
“Gak mau baca Nay?” Sekali lagi Rizki menyunggingkan senyum tipis di wajahnya. Aku menghela nafas berat. Yang kurasakan saat ini adalah perasaan gugup. Aku membuka surat itu perlahan, terdapat dua lembar kertas namun dengan sedikit tulisan. Aku memilih acak dan membaca pelan salah satunya.

“Dulu aku pernah menyukaimu..” Tulisan singkat itu membuat hatiku teriris. Kalimat yang singkat dan mengena, namun sangat menyakitkan. Apa ini? Dulu dia pernah menyukaiku?

“Eii bukan itu!” Aku tersentak saat dia meraih surat yang kubaca dan menunjuk surat satunya yang kuabaikan.
“Yang kamu baca tadi itu kalau aku sudah menikah.” Entah mengapa ucapannya hanya lewat begitu saja, tidak bisa kupahami dan tidak jelas. Apa maksudnya? Seolah aku tak mengerti. Kemudian aku membaca satu surat lagi dengan bergumam.
“Kan orangnya udah di depanmu kenapa nggak.. Hei ini apa?”
“Nayla menikahlah denganku!” Ucapan yang seolah spontan namun tegas dan pasti itu membuatku terkejut. Bukan hanya terkejut, aku tidak percaya dengan apa yang diucapkannya. Namun dia hanya memberikan senyuman yang misterius.
“Aku juga terkejut membaca suratmu, walaupun dari dulu tingkahmu sudah kelihatan sih tapi aku gak percaya.. tapi setelah melihat reaksimu, aku mau bilang makasih udah suka sama aku..” Tiba-tiba tangannya meraih puncak kepalaku dan mengusapnya perlahan. Sedangkan aku, hanya bisa berdiri diam karena terlalu terkejut dengan apa yang terjadi saat ini.
“Lalu isi suratku yang pertama, itu kalau aku sudah menikah. Jelas aku akan katakan itu karena sekarang aku sudah punya istri. Tapi aku masih lajang jadi yang aku suka itu kamu La. Gak sekedar suka sih, tapi aku sayang banget sama kamu La. Kamu nggak tahu kalau sebenernya aku udah kagum sama kamu dari kecil. Kamu nggak kenal aku, tapi aku sangat tahu kamu. Dan yang aku lakukan sampai detik ini adalah kerja keras untuk kesuksesanku, untuk kebahagiaan kita. Sekarang aku berani berdiri di depanmu dan bisa bilang kayak gini.”

Aku tersentak ketika ia tiba-tiba berlutut di hadapanku. Dengan spontan aku memundurkan beberapa langkahku. Aku makin terkejut lagi ketika dia mengeluarkan kotak berwarna merah, ketika dibuka terdapat sepasang cincin disana. Hatiku bergetar. Aku tidak sanggup menahan air mataku. Ini benar-benar hari yang tidak terduga. Aku tidak menyangka hari ini akan datang. Semua kekhawatiran dan hal negatif yang terpikir hilang tergantikan dengan rasa haru dan bahagia yang tidak akan pernah hilang. Dengan disaksikan banyak sekali orang di sekitar taman, Rizki melamarku. Aku tidak akan melupakan hari ini, hal itu terjadi lagi pada tanggal yang sama.

“Nayla.. aku bilang sekali lagi ya..” Dia tersenyum, memberikan senyuman khas miliknya, menunjukkan senyum terbaiknya, dan dengan tatapan mata yang menyejukkan dan penuh keyakinan. Aku terdiam, memberikan senyuman terbaikku. Menarik nafas dalam.
“Menikahlah denganku, Nayla..”

Cerpen Karangan: Farl
Blog / Facebook: athayarakha2021.blogspot.com / Firsty Laili

Cerpen Suratmu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Engkau Yang Setia Padaku

Oleh:
Dua tahun aku mengenalnya, dia tetap setia menjadi kekasihku, ya dia pacarku namanya irene. Masih teringat waktu pertama kali aku melihat wajahnya yang indah dan menarik perhatianku, aku pacaran

Sahabatku Cintaku

Oleh:
Pertama aku mengenal cinta hanya lewat kicauan sahabatku Monica. Seorang gadis cantik yang selalu menemani hari-hari ku di bangku sekolah SMA ini sejak SMP kita bertemu. Seorang gadis periang

Tes Cinta

Oleh:
Akhirnya aku kembali ke sofa usai mondar-mandir mengelilingi ruang tamu menunggu kabarnya. Dari semalam aku menunggu tapi sampai sekarang zonk. Aku benar-benar khawatir dan galau. Kemana dia ya? Tanda

My Beloved Hana (Part 1)

Oleh:
Dingin. Aku kedinginan, aku takut. Aku berada dimana? Aku bingung. Seseorang tolonglah aku! Malam yang dingin menghiasi sebuah kota yang berada di daratan Inggris. Seorang lelaki muda berjalan lesu

Puisiku Cintaku

Oleh:
Hari libur adalah waktu yang tepat untuk bersantai. Seperti biasa, hari ini waktunya Mila dan Daffa menghabiskan waktu bersama. Dan layaknya sepasang kekasih pada umumnya, mereka menghabiskan waktu di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *