Surga On Stage (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 19 January 2016

Musim semi yang selalu aku rasakan saat bersamanya, kini perlahan berganti, saat aku tahu Hokaido tidaklah nyata. Satu persatu rekaman video aku putar. Perasaanku seperti ombak yang pasang surut.

“12 februari 2013, hari ini aku bertemu seorang perempuan yang sangat unik dan lucu. Aku akan memberikan dia julukan ‘Perempuan Kue Lapis..’ Pakaian yang dipakainya sangat tidak serasi, warna-warni seperti kue lapis. Celana kotak merah, kaos hijau, tas ungu kotak, sepatu kuning, dan pita rambut hitam…” Aku melihat ekspresinya yang menahan tawa dalam video itu.

Waktu itu aku memang sedang membolos kerja. Saat aku merasa jenuh, selera berpakaianku akan berubah. Pakaian senada sangat tidak menarik minatku untuk memakainya. Aku akan cenderung melakukan sesuatu yang berkebalikan dari kebiasaan. Pakaian dengan corak berani dan kontras, sangat menarik bagiku. Bahkan terkadang perilakuku akan sedikit berbalik dari kebiasaan. Cenderung seenaknya dan melakukan apa pun yang aku inginkan. Saat-saat seperti ini aku memberinya nama ‘Hari Kemerdekaan Diri.’ Pada saat hari kemerdekaan diri inilah, pertama kali aku bertemu dengan Hokaido.

“Itu koinku.” katanya sambil menunjuk koin yang akan aku masukkan ke dalam mesin.
“Oh.” antara terkesima karena ketampanannya dan malu, aku segera mengembalikkan koin itu.
“It’s oke pakai saja.” katanya sambil tertawa renyah.

“itu minumanku.” katanya lagi sambil menunjuk segelas minuman Coffe mocca float.
Kali ini aku tidak bisa menguasai rasa maluku lagi. Spontan aku menutup mukaku. Terasa Maluku menjadi kuadrat.
“maaf.. maaf.” kataku berulang ulang tanpa berani menatap wajahnya. Dia semakin keras tertawa, karena aku mengembalikkan minumannya dalam keadaan tragis. Separuh habis.

“Its oke, pembalap memang harus selalu fokus dengan pertandingannya.”
“maaf.” hanya kata itu yang ke luar dari mulutku, aku ingin bersembunyi di dasar bumi karena malu.
Dia melangkah pergi dari kursi permainan balap itu dan masih bisa aku lihat senyum geli tidak bisa lepas dari bibirnya. Aku tidak beranjak dari tempat dudukku, “culuuun..” Aku segera menenangkan dan menghibur diri sendiri, “tenang saja kau tidak akan bertemu dengannya lagi, tetap semangat dan life must go on.”

Setelah puas bermain di Time Zone aku ke luar untuk mencari makan siang, food court juga terlihat agak sepi. Aku pesan mie kuah pangsit, mie kuah panas adalah salah satu makanan favoritku. Sering aku berkhayal mie kuah itu adalah mie ramen yang selalu disukai oleh naruto dan sering dimakan oleh orang korea seperti dalam drama korea yang sering aku tonton, terasa sepert di Luar negeri.

“Kerompyang,” fantasiku buyar, ternyata seorang pramusaji terpeleset dan menumpahkan nampan yang berisi bakso. Setelah berkata maaf pada pembeli, dia segera mengambil makanan dan alat-alat yang berserakan. Aku menghentikan makanku dan bergegas membantunya. Aku masukkan mie yang sudah tumpah ke dalam mangkuk kembali dan saat aku akan mengambil gelas kemasan plastik di kolong meja, aku melihatnya lagi.

Pemuda yang telah membuatku malu kuadrat itu juga mengulurkan tangannya mengambil gelas itu. Dia tersenyum dan menaruh gelas plastik di atas nampan yang aku pegang. O.M.G ternyata mall ini hanya selebar daun kelor. Pramusaji itu mengucapkan terima kasih kepadaku dan dia. Aku mencuci tanganku di wastafel, begitu juga dengan pemuda itu. Aku bisa merasakan pemuda itu melihatku dari cermin besar di wastafel tempat kita mencuci tangan.

“Hokaido.” katanya tiba-tiba. Spontan aku menoleh ke arahnya, alisku terangkat tanda tidak mengerti.
“namaku Hokaido.” ulangnya sambil tersenyum manis. Aku melongo membentuk huruf O. Dia tersenyum lagi. Aku mengeringkan tanganku di mesin pengering, dia berdiri di sampingku.
“ada yang kelupaan tuh…” katanya. Aku menoleh ke belakang dan melihat ke arah wastafel, mencari benda yang dimaksud, dia tertawa lirih.

“Lupa apa ya?” tanyaku sambil meraba saku baju dan celanaku, ku garuk rambut sebahuku yang aku ikat.
“Lupa nama.” katanya santai. Kembali aku melongo dan membentuk huruf O, aku baru ingat kalau aku belum menyebutkan namaku.
“Zahra.” aku mengulurkan tanganku. Aku tidak menyangka peristiwa yang konyol bagiku, ternyata menjadi peristiwa yang menakjubkan baginya.

“….saat itulah aku bisa tertawa lepas. Aku nobatkan hari itu sebagai Hari kehidupannku. Perempuan kue lapis itu telah membuatku sadar bahwa aku berhak bahagia, aku berhak tertawa..”
“19 februari 2013, aku tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan perempuan kue lapis itu.” Dia tersenyum lepas. Kaus oblong warna putih dan celana pendek yang digunakannya dalam video itu membuat dia terlihat sangat bersinar. Rambutnya sedikit basah, kemungkinan dia mengambil video itu setelah mandi sore. Terlihat secangkir susu cokelat hangat dan pisang cokelat ada di sampingnya.

“…Aku sangat menyukai ekspresi wajahnya saat itu. Memerah dengan memeluk boneka Inuyasha pemberianku.”
“Jelly gratis dan voucher Time Zone 500 ribu, mantap tuh.” bujuknya sambil menunjuk ke pamflet pengumuman hadiah lomba makan jelly. Hokaido tertawa renyah saat melihatku terkesima melihat hadiah voucher itu sambil mulutku berkata, “Wouuu.” Tiba-tiba dia menarik tanganku ke atas saat pemandu acara membuka pendaftaran peserta lomba.

“Oke.. peserta nomor satu, kakak yang berbaju warna-warni.” sebenarnya aku agak tersinggung dengan panggilan dengan. “kakak yang berbaju warna warni.” apalagi dengan pandangan matanya yang melihatku dari atas sampai bawah. Kaos warna merah, celana kotak warna warni dan sepatu kuning, itu adalah kostumku hari itu. Di antara sembilan belas peserta lainnya yang rata-rata berusia 13 tahun ke bawah, aku sangat percaya diri akan mampu memenangkan voucher 500 ribu itu.

Pembawa acara mulai menghitung waktunya, dalam 5 menit kita harus mampu menghabiskan satu toples kecil jelly warna-warni itu. Dalam hitungan tiga mundur, perlombaan dimulai. Aku melihat Hokaido selalu memberiku semangat. Dalam waktu kurang dari 5 menit aku sudah menghabiskan satu toples kecil jelly itu. Aku mengangkat tanganku sebagai tanda aku telah menghabiskannya. Hokaido terlihat senang.

Sebuah keajaiban tiba-tiba muncul, arena perlombaan itu tiba-tiba berubah menjadi pantai berpasir putih yang sangat luas, angin sepoi dan cuaca yang cerah membuat wajah Hokaido menjadi bersinar, senyumnya melelehkan hatiku. Tatapan matanya seperti kesejukan pagi hari. OMG.. I’m falling in love. Sentuhan pembawa acara yang mengangkat tanganku, membuyarkan semua keajaiban itu.

“Pemenangnya adalah kakak berbaju warna-warni.” Semua bersorak dan pelan aku dengar adik-adik itu berbisik, “pantesan saja menang, dia kan sudah besar..” Aku hanya tersenyum dan aku usap rambut adik berbaju pink sang pemenang kedua itu.
“Terkadang kita harus bisa menerima apa pun yang terjadi, walaupun terkadang terasa tidak adil.” nasihatku padanya yang hanya aku ucapkan dalam hati. Hokaido mengarahkan kamera Ipad-nya ke arahku. Dia terlihat sangat bahagia, aku sedikit penasaran apa yang membuat dia tampak begitu bahagia.

Setelah pembagian voucher itu, aku dan Hokaido langsung menuju ke Time Zone. Kita bermain Bola basket. Kita selalu berebutan bola basket. Sesekali aku mendengar tawa renyahnya saat aku mendoronganya ke samping karena dia terlalu sering mengambil bola bagianku. Setengah jam kita bermain bola basket. Karena nilai yang aku dapat besar maka aku meloncat kegirangan dan dia spontan menarikku ke tempat permainan memancing boneka.

“Aku akan memberimu hadiah boneka, pilih saja.” tunjuknya pada setumpuk boneka yang berada dalam kotak mesin kaca. Aku menunjuk boneka berwarna merah dan putih.
“Inuyasha? oke akan ku ambil untukmu.” katanya penuh percaya diri. Dia pun mulai memasukkan koin satu persatu. Dia mulai memancing satu boneka inuyasha itu. Berulang-ulang boneka itu gagal masuk ke dalam lobang. Dia terlihat kecewa dan aku selalu memberinya semangat.

“Sekarang pasti dapat.” Dia tersenyum padaku dan mengusap rambutku. Aku diam terkesima.

Dia mulai mencoba lagi, boneka itu mulai terangkat, semakin tinggi, semakin dekat dengan lobang, perlahan dia mendekatkan boneka itu diatas lobang dan… dia mengangkat tangannya ke atas dan waktu tiba-iba berhenti. Arena time Zone berubah menjadi taman bunga yang sangat indah, udaranya berhembus sangat sejuk. Detak jantungku terasa semakin keras, aku lemas. Hokaido memelukku. Aku merasakan refleks tubuhku sangat lambat, aku tidak memukulnya. Aku hanya terdiam. Dia melepaskan pelukannya, mengambil boneka itu dan memberikannya padaku. Dia menatapku dengan tatapan panah cupid dan langsung meluncur ke arah jantungku.

“Terima kasih kau telah membuat hari-hariku sangat indah.” katanya.
“heiii…” tegurnya padaku yang diam terpaku.
Aku langsung membalikkan tubuhku dan menyentuh pipiku. Aku merasakan semua es di dunia telah mengguyurku, aku memerah, tersipu malu. Hokaido hanya tertawa.

“Aku akan mengirim sms padanya…”

Dia mengakhiri rekaman videonya dengan melambaikan tangan dan senyuman bahagia seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Aku ingat saat pertama kali dia mengirim sms padaku. Waktu itu aku sedang berbaring di tempat tidurku. Hari itu adalah hari yang berat. Jiwa, otak, dan ragaku mengalami kelelahan yang sangat parah. Aku ingat beberapa hari sebelum aku bertemu Hokaido di mall itu, aku telah mengutuk dunia dan bahkan aku merajuk kepada Tuhan untuk mengabulkan doaku yang sangat mustahil untuk diucapkan oleh orang-orang yang beriman.

Saat itu aku baru saja dipindahkan ke sebuah divisi yang sangat tidak aku kuasai. Direksi mempercayaiku untuk menjadi salah satu staff baru di bagian keuangan. Mereka mengangkatku menjadi kasir baru di perusahaan. Kasir perusahaan tidaklah sama dengan kasir di pertokoan. Aku yang memiliki kekurangan dalam mengingat angka, bahkan nomor Hp-ku sendiri, sekarang harus dihadapkan dengan angka dan kode kode setiap harinya.

Otakku ini terasa seperti buntu, bahkan sering tanganku hanya terdiam di atas keybord karena aku lupa kode untuk sebuah transaksi keuangan. Seringkali aku menangis di kamar mandi perusahaan. Aku seperti anak yang menderita disleksia tetapi dipaksa untuk membaca dan menulis. Hampir setiap malam aku mengigau, tidurku resah. Ingin aku berhenti dari pekerjaanku, tapi aku tidak bisa. Aku membutuhkan pekerjaan itu, ada 4 anggota keluarga yang bergantung padaku. Bahkan untuk mencukupi kebutuhan keluargaku aku mempunyai 3 mata pencaharian.

Setiap hari aku bekerja dari jam delapan sampai hampir jam sepuluh. Dua pekerjaanku yang lain, aku bisa kerjakan di rumah. Apabila ditambah pekerjaan rumah yang harus aku kerjakan, maka bisa aku katakan jam kerjaku mulai jam empat pagi sampai jam sebelas malam atau bahkan lebih. Sering aku merasa bahwa dunia ini hanya memberikan bualan. Dunia ini mengajari bahwa apabila kita bekerja keras maka semuanya akan membaik. Aku selalu merasa semua hal hal positif yang bernama harapan, perubahan, kemakmuran tidak pernah terjadi padaku.

Sekeras apa pun aku berusaha, tidak ada keadaanku yang berubah, bahkan aku terkadang merasa semuanya menjadi semakin berat. Sering aku merasa iri dengan orang orang di sekitarku, saat aku bekerja membanting tulang kehujanan di atas motorku, mereka telah asyik menghabiskan tiga ratus ribu untuk membeli makanan yang mereka sukai. Ironisnya tiga ratus ribu yang mereka habiskan untuk sekali makan itu seharga dengan beras yang selalu aku habiskan sebulan untuk keluargaku. Aku iri dengan banyak hal, dunia yang di mataku pembual busuk itu telah membusukkan hatiku juga.

Aku hanya tersenyum kecut saat orang orang berkata, “Single sepertimu pastilah banyak uang, tidak ada hal yang perlu kau pusingkan, tidak ada susu ataupun uang sekolah untuk anakmu.”
“Bullsh*t.” kata kotor ini mewakili hatiku yang busuk mengumpat. Hari itu adalah hari aku melarikan diri dari kenyataan, aku mencoba mencari kemerdekaan dari dunia busuk yang membelengguku. Menjadi diriku yang bebas, melakukan hal-hal yang ingin aku lakukan.

Sejak kita bertukar nomor telepon, kita menjadi semakin akrab. Kita sering bertemu di taman kota yang kebetulan dekat dengan rumahnya dan tempat kerjaku. Dia sangat suka menggandeng tanganku. Bersama Hokaido seperti puluhan tahun lebih muda. Candaannya yang ringan, sikap dan perkataannya yang tulus sering mengingatkanku pada bocah kecil. Dia laki-laki seribu satu, begitu sempurna. Kekuatan ajaib selalu aku rasakan saat aku bersamanya.

Pernah suatu hari, aku bertemu dengannya dengan luka cakaran di dahiku. Dia tidak bertanya dari mana asal luka itu seperti kebanyakan orang yang melihatnya, dia hanya segera ke luar dari taman dan pergi ke apotek dan kembali dengan betadin, kapas, dan alkhohol untuk mensterilkan luka itu. Dia mengoleskan betadin dan meniupnya untuk membuatnya cepat mengering. Wajahnya yang waktu itu seperti malaikat mampu menghapus memoriku tentang kakakku yang mencakar mukaku karena tiba-tiba mengamuk. Sejak bercerai dengan suaminya kakakku menjadi penderita Shizoprenia.

“Terima kasih.” hanya kata itu yang ke luar dari mulutku. Waktu itu air mataku tidak mampu aku bendung lagi. Dia memelukku, aku hanya merasakan hangat tidak lebih dari itu. Dia seperti mengambil separuh dari dukaku dengan pelukannya.

Apabila ada mimpi yang menjadi nyata, maka waktu inilah mimpiku menjadi nyata. Impian yang lama terpendam di dalam hati dan sempat membeku selama bertahun tahun, kini mulai menjadi nyata seperti pelangi yang perlahan menampakkan warna-warninya. Apabila melihat ukuran tubuhku yang mungil dan wajahku yang tergolong imut, maka tidak ada satu pun orang yang akan menyangka kalau usiaku sudah 29 tahun.

Hokaido seperti sebuah harapan baru yang membuatku yang selama ini mati suri menjadi memiliki keinginan untuk hidup kembali. Hokaido adalah bahan bakar baru yang membuat api unggunku menyala kembali setelah sekian lama mati karena kebosanan dan muakku pada bualan dunia. Aku tidak bisa menahan air mataku karena terharu. Dalam video itu aku melihat dia sedang melukisku.

“…bukankah dia begitu indah? tatapannya pada kucing itu, sentuhannya saat membalut kakinya. Memberikan energi ajaib dalam jiwanya, tubuhnya bersinar seperti malaikat. Bukankah dia begitu cantik? Ikatan rambut dan pakaian sederhananya memancarkan kecantikan yang tidak biasa. Aku menyukai perempuan ini, aku menyukaimu kue lapis.” Dia mengedipkan satu matanya ke arah kamera. Tertulis 12 maret 2013, 20:12 saat dia mengambil video itu.

Bersambung

Cerpen Karangan: Nadhofah Umi
Facebook: Nadhofah Umi

Cerpen Surga On Stage (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Believe Me, I Love You

Oleh:
Aku percaya mimpi aku percaya takdir aku percaya cinta sejati dan aku percaya akan adanya akhir yang bahagia. Aku hanyalah gadis lugu yang berubah akan bergulirnya waktu karena setiap

Salju Pertama Bulan Desember

Oleh:
Cinta tak akan pernah saling melupakan, tetapi cinta bukan pula sebuah ingatan yang menjadi sebuah kenangan, itulah yang kini ada dalam pikiran Park Rin Rin, bukan karena ia ingin

My SunFlower is You

Oleh:
Matahari mulai bergerak turun menuju tempatnya beristirahat. Ia mulai menyisakan cahaya-cahaya indah di langit bekas jejaknya. Menjadikan sore itu panorama indah yang biasa kulihat akhir-akhir ini. I Want You..

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *