Tak Terlihat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 29 June 2019

“Halo, namaku Tony, saat ini aku berumur 29 tahun, dan aku bekerja di salah satu Perusahaan swasta, aku menghabiskan keseharian waktuku dengan bekerja, bekerja dan bekerja, oh iya dan aku tidak terlihat”

Hari ini, sama seperti hari sebelumnya, dan hari-hari sebelumnya. Matahari tetap terbit dari mana dia biasa terbit. Burung-burung berkicau ribut seolah ingin memberi tahu pada dunia jika hari ini sudah pagi. Para kawanan tupai pun tak mau kalah, mereka berlari dengan sangat kencang dari satu pohon ke pohon lainnya. Mulai terdengar suara kendaraan orang lalu-lalang dan para tetangga sibuk melakukan kegiatannya.

Seketika aku terjaga dari tidurku, tidur yang tidak begitu nyenyak sebenarnya. Aku merasa seperti di atas awan, mengambang dan tak tahu arah. Aku duduk sebentar di pinggiran kasur, termenung melihat ke lantai. Lalu aku berjalan ke arah cermin. Seketika aku melihat sosok orang dengan rambut yang kusut, kantung mata yang hitam dengan mata yang masih memerah.
“Ya tuhan, siapa orang menyedihkan ini?”

Aku memandang sekeliling kamarku. Berantakan seperti medan perang seolah ada dua negara yang sedang merebutkan sebuah pulau. Banyak barang yang tidak pada tempatnya. Botol minuman soda yang berserakan di lantai, padahal tempat sampah hanya berjarak selangkah kaki darinya. Meja kerja yang dipenuhi kertas-kertas, dengan lampu meja yang masih menyala. Baju kotor tertimbun seperti gunung.
“Kenapa masih kotor? Bukannya kemarin aku sudah mencucinya?”
Sepatu yang tidak pada raknya dan kaus kaki yang tercecer di bawah meja kerjaku. Baju yang kemarin hanya kupakai sekali lalu kugantung dan tidak pernah kupakai lagi. Kamarku benar-benar seperti gudang. Atau gudang yang seperti kamar? Oh! Aku tidak bisa membedakannya.

Aku membuka tirai jendela dan melihat ke arah luar. Benar saja, hari sudah sangat pagi. Matahari sudah tinggi. Burung-burung tak lagi berkicau, karena mereka sudah terbang ke segala penjuru arah mencari makan. Dan tupai yang awalnya berlari, sekarang duduk rapi menikmati pepaya yang tadi mereka curi dari kebun tetangga sebagai sarapan paginya. Aku terpaku ke arah jalan. Masih banyak orang yang lewat, berjalan cepat seolah dikejar sesuatu yang tak kasat mata.
“Apa yang mereka lakukan? Bukannya sekarang hari Minggu? Seharusnya mereka berada di rumah, menghabiskan waktunya dengan keluarga, bukan malah berkeliaran tidak jelas seperti itu”

Sepertinya nyawaku sudah kembali ke badan. Aku memutuskan untuk merapikan ruangan ini. Tidak ada salahnya, karena sekarang hari libur kerjaku dan aku tidak punya kegiatan lain. Tapi seketika aku bingung dari mana aku harus memulai.
Setelah berpikir panjang, aku pun mulai dengan merapikan meja kerjaku. Aku menyusun kertas yang awalnya berserakan menjadi satu tumpuk dan meletakkannya ke dalam laci. Lampu meja yang awalnya menyala kini sudah mati. Lalu aku berpindah ke rak sepatu, dan mulai menyusunnya. Kaus kaki yang berceceran tadi kini sudah berada pada tempatnya. Kaleng minuman soda juga sudah berada di tempat harusnya dia berada. Tersisa gunungan baju kotorku. Aku bingung apa yang harus aku lakukan padanya. Aku malas jika harus mencucinya, karena sudah terlalu banyak. Aku lalu memasukkanya ke dalam tas dan memutuskan untuk membawanya ke tempat laundry.

Aku mengayuh sepedaku dengan tas penuh baju kotor yang kusandang. Aku termaksud orang yang cinta lingkungan, maka dari itu aku memakai sepeda kemanapun selagi tempatnya dekat. Kebetulan tempat laundry juga tidak terlalu jauh.
Satu tugas telah selesai. Baru aku keluar dari tempat loundry dan memutuskan untuk menghabiskan sisa akhir pekanku dengan menonton film yang semalam aku download menggunakan wifi di kantor, tapi tiba-tiba handphoneku berbunyi. Ah! Pesan dari seseorang dan layar hp menunjukkan nama Bapak Susano.
“Tolong segera ke kantor, ada kerjaan yang harus diselesaikan”
Pesan yang begitu singkat, padat dan memerintah. Seolah itu adalah vonis mati yang tidak bisa dilawan lagi. Seolah kata “tolong” adalah pemanis belaka.
“Lembur kah? Perasaan semua laporan sudah kukerjakan kemarin.”
Kerjaan apa lagi? Hatiku menggerutu. Semua laporan sudah kukerjakan. Karena aku tidak mau akhir pekanku terganggu dengan kerjaan yang masih menumpuk. Tapi sepertinya kerjaanku belum cukup banyak.

Aku bergegas pulang ke rumah, mandi dan mengganti pakaian lalu berangkat ke kantor. Aku mengayuh sepedaku dengan sangat pelan, berharap membutuhkan waktu seharian untuk sampai ke kantor. Aku bahkan tidak peduli dengan kata “segera” yang tertera pada pesan si tukang memerintah tadi. Aku terus mengayuh pelan sebagai tindakan pemberontakan. Tapi memang jarak antara rumah dan kantorku begitu dekat. Tidak membutuhkan waktu 10 menit, aku pun tiba di kantor.
Sepertinya bukan cuma aku saja yang akhir pekannya diganggu. Banyak orang yang lembur, dengan berbagai mimik muka yang mengungkapkan kekesalan karena waktu mereka yang berharga diganggu oleh si tukang memerintah tadi.

Aku bergegas ke arah mejaku. Melewati sekumpulan orang yang sedang asik mengobrol tentang pertandingan sepak bola semalam. Mereka tidak memperhatikanku. Tak ada orang yang melihat kedatanganku, sebagian sibuk dengan komputer masing-masing. Aku melihat mas surya, orang yang berada di sebelah mejaku. Seorang pria dengan baju kaos rapi, rambut yang klimis, celana jeans dan sepatu sneakers. Dengan ekspresi muka kusut, alis yang saling bertautan, lidah yang digigit, mengungkapkan kekesalan. Pastilah dia sedang berada di pusat perbelanjaan dengan keluarganya saat si tukang memerintah tadi memanggilnya.

Aku melihat secangkir kopi di mejaku. Aku terpaku sekian detik, karena sebelumnya ini tidak pernah terjadi, tidak ada orang yang pernah memberikan kopi padaku, karena memang kantor kami tidak mempunyai office boy. Jika kau ingin kopi? Maka kau harus membuatnya sendiri.
Apa ada orang yang iseng atau sengaja? Atau mungkin dia salah meletakkan? Dia mungkin mengira jika meja ini adalah mejanya. Aku melihat sekeliling, tidak ada yang aneh. Tidak ada juga orang yang merasa kehilangan kopinya. Aku melihat ke arah kopi ini dengan pandangan menilai, seolah-olah kopi ini melakukan suatu kejahatan yang tidak bisa diampuni.
“Apa ini beracun?”
Hatiku membatin, aku tidak tahu harus ku apakan kopi ini, aku tidak menyangka perihal secangkir kopi bisa membuat hatiku tak karuan.

“Tony, apa yang kau lakukan?”
Seseorang dengan nada memerintah tiba-tiba saja sudah berada di sampingku.
“Eh, anu pak, ini… tidak apa-apa, apa yang bisa saya lakukan pak?” Ucapku tanpa sadar
“Kau harus menyelesaikan laporan ini sekarang, besok saya harus meeting dengan para direksi, apa kau bisa melakukannya?” Sambil memberikanku kertas dengan judul “laporan akhir bulan”
“Tentu saja pak, saya akan menyelesaikannya sebelum sore ini” kataku dengan nada yang dimanis-maniskan.
“Baiklah, aku percaya padamu, jika sudah selesai kau letakkan saja di mejaku, aku harus pergi, ada undangan yang harus kuhadiri.” Dia berkata sambil berlalu.
Dasar tua bangka egois. Dia menggangu waktu berhargaku untuk mengerjakan laporan sampah ini, sedangkan dia pergi bersenang-senang.

“Pak, anu… hm, kopi ini? Apa bapak yang membuatnya? Atau bagaimana? Tanpa kusadari kata itu terucap begitu saja tanpa peringatan.
“Kopi? Kopi apa? Saya tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Sudah dulu, saya harus bergegas, istri dan anak saya sudah menunggu.”
Aku menanyakannya mungkin bisa saja dia membuatkan kopi untukku, karena merasa bersalah sudah mengganggu waktuku, tapi aku juga sadar kalau pertanyaan itu tidak berguna, karena tidak ada meja dengan kopi di sekitarku, hanya mejaku saja, apa yang membuatku istimewa, sehingga harus mendapatkan secangkir kopi misterius ini?

Seketika aku sudah disibukkan dengan laporan ini, aku terus mengetik di keyboard komputerku dan sesekali pandanganku tertuju pada kopi misterius ini. Saat aku melihatnya.
Seketika pandanganku tertuju ke arah lain. Sesuatu yang lebih menarik perhatianku dari pada kopi misterius di sampingku. Bahkan pemandangan kali ini lebih misterius dari pada kopi itu sendiri. Dia berjalan ke arahku tapi aku tahu tujuannya pasti bukan ke mejaku. Dia terus berjalan dengan anggun, seolah ada yang menekan tombol slow motion, dia berjalan dengan gerakan santai, lamban tapi tetap berkelas. Tiba-tiba dia berhenti tepat di depanku, hatiku mencelos, aku seperti berubah menjadi patung, tak bergerak dan kaku. Ternyata ke mejaku.

Wanita ini, namanya Ana Sulastri. wanita paling cantik dan berkharisma yang ada di kantor kecil yang pengap ini. Dia bagaikan kipas angin di tempat yang panas ini, juga bagaikan bunga di gurun tandus, aku sudah lama mengaguminya, dia pintar dan berwibawa, dia adalah alasan mengapa aku betah berlama-lama di kantor dan sekarang dia berada di sini, di depanku.
‘Apa dia buta? Mengapa dia harus berhenti di mejaku?’ Pikirku bingung.
“Maaf mas tony, barusan pak Susano meneleponku, jika laporannya sudah selesai, dia meminta agar mas meng emailkan langsung padanya.”
Tunggu! Apa ini mimpi atau memang benar-benar terjadi? Dia bicara denganku? Sebelumnya tidak pernah. Bahkan menyapa pun jarang. Yah, tapi sepertinya dia memang bicara denganku, soalnya tadi dia menyebut “mas tony.” Bukankah yang disebutnya tadi namaku? Dia bahkan tahu namaku.

“Maaf mas, halo, kenapa malah bengong? Saya bicara dengan mas.”
Nah, lihat. Dia bicara denganku! Dia menegaskan jika dia bicara denganku.
“Eh, iya mbak maaf, tadi mbak bilang apa?”
“Barusan pak susano nelepon saya, kalau laporannya udah selesai, dia ingin mas kirim laporannya ke email dia.”
“Oh! Begitu, iya mbak, makasih infonya.”
“Sama-sama mas”
Dia lalu pergi sambil sedikit tersenyum. Aku yakin dia tersenyum. Yah sangat yakin.

“Maaf mas, apa saya boleh meminjam pulpennya?”
“Iya mbak Ana silahkan.”
Lalu aku melihat ke samping dan betapa kagetnya aku karena orang yang meminjam pulpen tadi bukan mbak ana melainkan mas surya.
“Eh, maaf mas surya. Ini pulpennya”
Untungnya mas surya tidak peduli, dia langsung mengambil pulpen yang kuberi, dan langsung tenggelam di belakang mejanya.
“Idiot, tony idiot.” Aku mengumpat dalam hati.

Aku merasa haus dan teringat kembali pada kopi misterius yang saat ini atasnya sudah kututup dengan kertas. Aku masih belum berani meminumnya.
“Aku tidak akan meminummu, aku bahkan tidak tahu siapa yang membuatmu. Kau bisa saja beracun.” Pikirku.

Aku berjalan ke arah dapur. mengambil gelas, dan menuangkan air ke dalamnya. Lalu meneguknya. Dari kejahuan aku melihat mbak ana sedang memperhatikan ke arahku. Apa memang dia melihat ke arahku? Aku ragu. Sepertinya tidak.

“Hei, kau. Apa kau bisa membawakanku segelas air?”
Aku melihat orang yang memanggilku dengan nada sok itu. Mas Reno ternyata.
“Baik mas, sebentar.”

Aku lalu berjalan ke mejanya dan memberikan air yang dia minta.
“Makasih. hm, siapa namamu? Kau baru di sini? Aku tidak pernah melihatmu.”
Pertanyaan klasik yang tidak lagi aneh kudengar.
“Tony mas, nama saya tony, yah sepertinya saya anak baru di kantor ini.”
Tanpa memperpanjang kata, aku lalu meninggalkan pria paruh baya ini di mejanya.

Sebenarnya aku bukan anak baru. Aku sudah 2 tahun bekerja di tempat ini. Tapi memang tidak ada yang begitu mengenalku, atau mereka malas mengenalku? Bagiku sama saja. Aku tidak begitu diperhatikan di sini, dan aku juga tidak suka menjadi pusat perhatian. Tidak akan ada orang yang menyapaku di koridor, atau orang yang mengajakku jalan setelah pulang kerja. Hal seperti itu tidak pernah terjadi. Jujur, aku bukan tipe orang yang pintar bergaul. Bukan juga tipe orang yang suka basa-basi. Aku tidak suka menghabiskan waktuku di tempat-tempat yang tidak jelas, nongkrong di cafe, dan sebagainya. Itu membuang waktu. Dan waktuku sangat berharga dari pada aku harus menghabiskannya di tempat seperti itu. Aku lebih suka menghabiskan waktuku sendiri dengan menonton film di laptop, bermain games, membaca novel dan menulis di blog pribadiku. Menurutku itu lebih mengasyikkan. Terdengar anti sosial? Tidak juga. Aku juga memiliki teman akrab. Tapi dia tinggal berbeda kota denganku. Kami sangat jarang bertemu, dan aku tidak menemukan teman lain di kantor ini. Bahkan aku ragu jika mereka mengingat namaku, yah kecuali pak Susano, bosku. Dia mengingatnya juga karena dia sering menyuruhku kerja lembur. Aku yakin 100% jika mas surya yang duduk di sebelah mejaku itu juga tidak mengingat namaku. Dia memanggil mas bukan untuk bersopan santun padaku, tapi memang dia tidak mengingat namaku. Di tempat ini, aku seperti mengenakan jubah gaib milik Harry Potter atau seperti memiliki kekuatan Susan Strom di film Fantastic 4. Tak terlihat. Ada tapi seperti tak ada. Invisible.

Aku lalu kembali ke mejaku. Melanjutkan kembali kerjaanku. Berpacu dengan waktu, karena aku harus menyelesaikan laporan ini sebelum jam 2 siang. Bukan karena ingin mencari muka, tapi banyak film yang menantiku di rumah.

Aku menyelesaikan laporanku pukul 02:10 WIB, telat 10 menit pikirku. Tapi tak mengapa. Masih banyak waktu yang tersisa untukku menonton film di rumah.
Setelah aku meng emailkan laporanku pada pak Susano. Lalu aku bergegas untuk pulang, dan kulihat mas surya juga sudah tidak berada di mejanya. Aku mengambil pulpenku yang tadi dipinjamnya.
“Sungguh tidak tahu etika meminjam.” Pikirku. Dia bahkan tidak mengembalikannya ke mejaku.

Aku berjalan ke luar kantor. Mencari sepedaku yang tadi kuparkir dekat dengan pohon jati tempat biasa aku parkir, karena kantorku tidak menyediakan parkir untuk sepeda. Ketika aku sadar seseorang memanggilku dari kejahuan.
“Mas tony” teriaknya.
Aku menoleh ke belakang, dan melihat mbak Ana? Aku bingung, ada apa lagi? Aku sudah mengemailkan laporanku sesuai yang diinstruksikannya tadi.

Dia berjalan mendekat. Lagi lagi seperti ada yang menekan tombol Slow Motion. Dia berjalan terus dan berhenti di depanku.
“Ada apa mbak? Apa ada masalah? Saya sudah email laporan tadi ama pak Susano!”
“Oh! Bukan itu mas. Hm saya cuma mau ngomong sama mas sebentar. Boleh?”
Boleh? Tentu saja boleh! Jangankan cuma sebentar, berjam-jam pun aku akan sanggup meladeninya. Aku tertawa senang dalam hati.
“Tentu saja mbak, ada apaya?” Aku mencoba menyembunyikan kesenanganku, agar tidak terlihat jelas.
“Eh, anu.. kop.. kopi tadi, saya lihat mas Tony gak meminumnya ya? Mas ga suka kopi?”
Baru kali ini aku melihat mbak Ana tersipu malu. Ya tuhan!
“Kopi? Kopi yang di meja saya tadi? It.. itu mbak yang ngebuatnya?”
Hatiku mencelos sakin kagetnya. Seolah ada yang bergerak dari dalam perutku, menuntut untuk segera dikelurkan. Seolah semua teka-teki di lukisan Monalisa terjawab sudah. Seakan semua teori konspirasi yang kubaca di Internet, benar adanya.
“Iya mas! Tadi saya mendengar pak Susano akan memanggil mas untuk kerja lembur, dan menyelesaikan laporan bulanan. Jadi saya ingin ngebuatin mas kopi. Hm, sebagai penyemangat, karena saya tahu pasti mas sangat kesal dipanggil untuk kerja lembur.”

Akhirnya, semua pertanyaan terjawab sudah. Ternyata wanita ini, wanita yang dari awal aku masuk kerja sudah kukagumi, wanita pintar nan berkelas ini, ternyata dialah dalang dari pembuat kopi misterius tadi. Seolah Scobydoo baru saja menyelesaikan kasus misteri. Aku senang bukan kepalang.

“Wah, anu mbak, sebenarnya saya suka kopi, tapi tadi saya ga berani minumnya, saya pikir itu…
“…beracun?” Timpalnya sambil tersenyum.
“Hehe, sebenarnya bukan seperti itu -seolah dia membaca pikiranku- Saya cuma kaget aja, sebelumnya ga pernah kan, ada yang ngebuatin kopi di kantor, tapi kok tiba-tiba hari ini ada”
“Hehe, iya sih, sebenarnya saya mau bilang ke mas kalau kopi itu dari saya, cuma saya malu”
“Wah, kalau aja tadi saya tahu kopi itu dari mbak, pasti sudah saya minum, maaf ya mbak.” Sekarang sangat susah untuk menyembunyikan kesenangaku, apa yang tadi bergejolak di dalam perutku, kini sudah melompat keluar.
“Iya. Gak apa-apa mas tony, lain kali diminum ya hhe.” Perasaanku saja atau memang wajah wanita ini memerah.
“Emang mbak masih mau buatin saya kopi?” Kataku sambil sedikit menggoda
“Why not?” Kata-katanya mantap dan tajam.

Lalu saya berimprovisasi, karena sudah terlanjur basah, saya lalu mengatakan sesuatu yang agak berani.
“Hm, abis dari sini, mbak mau ke mana lagi?”
“Ga tau sih, ga ada rencana.”
“Gimana kalau mbak ikut saya? Kita nonton? Ada film baru. Tadi saya lihat di internet, itu pun kalau mbak mau.” Kataku sambil sedikit berharap.
“Hm, boleh. Tapi ada syaratnya.”
“Apa?” Aku sedikit bingun dan juga senang
“Jangan manggil mbak donk. Kita kan seumuran.” Timpalnya sambil tersenyum
“Kalau gitu, jangan manggil mas juga donk, hehe.” Sekarang ekspresi kebahagianku tergambar dengan jelas.

Ibarat mendapat durian runtuh dan di atas pohon durian itu terdapat emas yang tidak tahu dari mana asalnya. Mujur.
Yang awalnya aku ingin menghabiskan sisa akhir pekanku degan menonton film di rumah, kini berubah menjadi menonton film di bioskop, dengan wanita berkelas ini di sampingku.

Aku tidak tahu apa yang membuatnya tertarik padaku. Yang aku tahu orang-orang di kantor selama ini tidak pernah menganggap keberadaanku, tapi wanita ini, dia bahkan mengingat namaku, dan membuatkanku kopi.
Apapun alasannya, hanya dia dan tuhan yang tahu. Yang jelas, aku sangat senang dan aku harusnya bersujud berterima kasih pada pak Susano, bosku, karena sudah memanggilku untuk kerja lembur, dan mempertemukan kami. Pak Susano yang awalnya kuanggap sebagai tukang memerintah, setan egois, kini berubah menjadi cupid indah sebagai penyatu aku dan Ana. Yah! Ana, karena sekarang aku tidak lagi memanggilnya mbak, dan sesuai janji, dia juga tidak lagi memanggilku Mas, melainkan Tony.

Cerpen Karangan: Nugibara
Blog: Mozaickata.wordpress.com

Cerpen Tak Terlihat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyummu Senyumnya

Oleh:
Aku merindukanmu, sangat sangat merindukanmu. Andai waktu dapat berputar kembali kuingin mengulang masa-masa indah kita dulu. Kutahu semua itu tak mungkin, tapi aku amat merindukanmu. Bayanganmu mulai redup, wajahmupun

Cinta Karin

Oleh:
Cinta bukan sekedar hasrat ingin memiliki kecantikan nya atau apapun yang dimilikinya dalam bentuk sempurna. Cinta berawal dari hati yang keluar tanpa sadar telah menyentuh sisi terbaik dalam menyampaikan

Pangeranku Tanpa Sayap

Oleh:
Angin bertiup kencang. Langit kelabu. Daun-daun gugur berhamburan. Pohon-pohon bambu bergoyang. Ada suara seperti memanggil-manggil dari jauh. Tak lama kemudian hilang ditelan angin. Lalu guntur di langit seketika bergemuruh.

Admirer Line

Oleh:
Sudah seminggu berlalu, namun hubungan Alena dan Rasya belum ada perkembangan. Gadis itu memeluk bantal makin erat, mukanya sengaja dibenamkan dalam bantal. Seandainya, Rasya merupakan cowok yang perhatian dan

Akulah si Siti

Oleh:
Bulan menatapku tajam di jendela kamarku. Sinarnya membuatku enggan kembali ke meja belajarku. Aku pun menghabiskan beberapa menit waktuku untuk menatap Ratunya Malam yang begitu tampil sempurna dengan kecantikannya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *