Takdir ‘Ai’ Kita (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 29 April 2016

Takdir. Satu garis yang telah dilukis Tuhan buat para hambanya. Seperti saat ini. Ketika seorang pria bernama Emir Haidar sedang duduk tenang di meja kafe dan menatap serius laptopnya sembari tangannya yang tak pernah absen menggerakkan ‘tikus’ kesayangannya. Sesekali dia mendengus kesal dengan yang tertera di layar. Setelah hampir 3 tahun kuliah. Tujuan utamanya menjadi seorang architect kini harus mengalah dengan keinginan sang ayah, yang menyuruhnya untuk menggantikan posisinya sebagai direktur perusahaan ekspor impor milik sang ayah. Menyesal waktu 3 tahun yang panjang terbuang sia sia dan ijazahnya yang sebentar lagi harus dimuseumkan. Dia menyumpah serapah sang ayah di dalam hati dengan keputusan sepihak itu.

Di depan kafe tempat keluar masuk manusia manusia berbagai ras. Berjalan pelan seorang wanita bernama Ai Nara. Tujuan pizza khas italian yang mewah dan lezat. Oh tidak bukan untuk dirinya sendiri, gadis itu terlalu sederhana untuk makanan seperti itu. Dia lebih memilih menyisihkan uangnya untuk tabungan untuk biaya sekolah adik-adiknya serta belanja bulanan sang ibu di rumah. Dan tentu saja makanan tersebut adalah pesanan sang majikan. Belum sempat kakinya masuk ke garis pintu.

BOOM!

Mereka semua terpelanting ke segala arah. Bau hangus menyengat. Seperti bau daging panggang. Asap berkempul ke segala arah. Kedengaran suara kemratak kabel listrik yang putus.

“H-help..” Terdengar suara seseorang di balik reruntuhan. Ai Nara bangkit. Tubuhnya sendiri yang luka-luka. Namun suara itu menuntun intuisinya untuk segera membantu. Dia bongkari reruntuhan tersebut. Sekuat tenaga dia menarik tubuh laki-laki yang masih setengah sadar ke luar dari tempat itu. Massa memadati tempat itu. Namun hanya menonton. Hanya satu dua yang membantu. Mereka takut jika ada ledakan susulan. Laki-laki itu berbaring di pangkuannya darah mengalir dari luka-lukanya. Ai Nara membuka selendangnya hingga menyisakan dalaman kerudung yang menutupi auratnya. selendang itu dililitkan di bahu laki laki itu. Niatnya agar darah tersebut berhenti.

“Hold on.. ambulance has near..” dia membisikkan itu ke telinga laki-laki itu sebelum kelopak mata laki-laki itu terpejam. Dan hanya mendengar samar-samar teriakan Ai Nara. Dan dia hanya terasa dada bidangnya ditekan kuat-kuat berulang kali. Beberapa detik kemudian terdengar jelas di pendengarannya.

BOOM!
Padam.

Dua tahun setelah peristiwa pengeboman di kafe Cofza di sebuah distrik di selatan Hong Kong, Emir Haidar kembali ke kafe yang sama. Duduk di tempat yang sama. Minum kopi yang sama. Dan menghadap sebuah laptop lengkap dengan ‘tikus’. Namun tujuannya lain. Tepat di sebelah laptop, terlipat rapi sehelai selendang berwarna peach yang halus. Tentu saja sudah bersih dari noda-noda bekas darah. Dia mengusap selendang itu. Dia bertekad untuk menemukan sang penyelamat yang telah menemukannya di reruntuhan kafe tersebut dan menyeretnya ke luar, tepat sebelum bom kedua meluluh lantakkan seisi bangunan. Peristiwa pengeboman yang berhasil mengguncang Hong Kong. Banyak nyawa yang melayang waktu itu. Emir bersyukur dia salah satu yang selamat.

Meski hampir satu tahun harus dia habiskan untuk terapi tulang dan bolak-balik operasi plastik untuk memulihkan wajahnya yang rusak akibat terkena serpihan bom. Kini wajah tampannya kembali seperti semula. Walau tak sesempurna dulu. Tapi dia yakin sikapnya kini lebih sempurna dari dulu. Berkali-kali dia menelepon beberapa detektif andalan. Namun semuanya buntu. Karena apa? Emir tak tahu siapa namanya, bahkan rupanya sekali pun! suaranya juga hanya terdengar samar-samar. Mereka bilang pencarian Emir Haidar cuman sia-sia. Ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Gadis itu mungkin sudah mati. Mungkin karena kepala Emir Haidar lebih keras dari batulah yang membuat harapannya tak putus. Sejak setahun lalu setelah habis kerja dia terus menerus mencari sang gadis.

Semua data korban yang mati diteliti juga satu per satu, tak ada perempuan berhijab yang menjadi korban. Tak ada titik cerah dalam pencariannya hari ini. Dia menghela napas berat lalu berkutat kembali dengan sang laptop. Takdir atau kebetulan? Ai Nara kini berdiri di pintu kafe. Dia melangkah masuk dan menempati meja kosong di depan Emir Haidar. Gadis itu tersenyum senyum sendiri. Karena kali ini, dia ke sini bukan untuk membelikan majikannya pizza lagi tapi karena kontrak kerjanya sudah tamat. Uang tabungannya sendiri masih pas-pasan. Biaya sekolah adik-adik yang semakin membengkak. Begitu juga belanja rumah sang ibu. Tapi mau bagaimana lagi? batas kerja tkw yang hanya 3 tahun membuatnya harus mengalah. Untuk kembali bekerja dia harus kembali ke indonesia dan memperbaharui pasport. Maka di sinilah dia. Duduk di kafe idamannya yang selama bertahun-tahun dengan uang angpou dari anak sang majikan.

Kesenangannya terpotong karena tak bisa berlama-lama menikmati sang pizza idaman. Setelah ini Ai Nara harus mengejar pesawat untuk kembali ke indonesia. Dia memutuskan untuk membungkus pizza tersebut karena waktu yang sudah mepet. Dia menggenggam kantong pizza dan cafe lattenya namun karena tergesa-gesa, membuatnya tersandung kakinya sendiri dan jatuh dengan tidak elitnya menabrak meja Emir Haidar. Secara tak sengaja cafe lattenya membasahi selendang dan laptopnya. Seperti air mendidih emosi Emir tiba-tiba menggelegak.

“You!! look what have you done!!!” teriak Emir Haidar frustasi yang seketika membuat Ai Nara mau mati berdiri. Seluruh pengunjung memandang. “I’m so-sorry sir.. it’s my fault..” hampir saja dia menangis. Ai Nara mau menangis. Pasti setelah ini ceritanya akan panjang. Mana dia harus lekas ke bandara. Tabungannya pas-pasan juga ditambah dengan biaya teknisi lap top yang rusak akibat keteledoran Ai Nara. Tampaknya hari ini dia harus mengeluarkan lagi tabungannya yang semula tebal kini menipis.

“Sorry its not enough! i want your reponsibility!” bentaknya berapi-api. Sontak membuat Ai Nara terisak keras.
“Hiks, hiks.. yes sir.. but i have to go to atm first. I promise to fix your laptop.” Jawabnya pelan dengan suara parau. Dia mengusap air matanya. Kasak-kusuk pengunjung di sekitar mereka membuat Emir Haidar merasa seolah dirinya seorang Narapidana. Hatinya sedikit mencair seiring napasnya yang menghembus pelan. ‘Sial!’ rutuk hatinya. Membuat seorang wanita menangis di depan umum.
“Okey okey.. dont have to go anywhere. You sit here first…” katanya sambil menuntun kedua bahu Ai Nara agar duduk di kursinya. Gadis itu masih setia dengan isakannya.
“Dont cry.. I apolagize for my act just now ok?”

“No no no.. it’s my fault.. Your laptop has broken hiks hiks hiks. Dan.. Dan tabunganku sebentar lagi akan terkuras. Aku ketinggalan pesawat. Dan pizzaku… Huwaaa… Hiks hiks…” isaknya semakin keras diselingi bahasa indonesia, yang tanpa disangka pria di depannya ini juga orang indonesia. Emir Haidar berkerut jidat. Emir tahu dari logatnya saja bahwa gadis berpashmina itu orang senegeri dengannya. Tapi dia tak habis pikir dengan kebodohan gadis di depannya itu, yang tak bisa melihat jika dia juga dari indonesia? yah salahkan operasi plastik saja yang menyulapnya bak selebrity korea.

“You don’t have to fix my laptop,” ujarnya santai mengetuk-ngetuk meja dengan jemarinya.
“Really?” sahut Ai Nara sambil terkejut mengusap air matanya.
“But for one condition.” katanya sambil mengambil selendangnya yang basah.
“Wash this,” dia mengulurkan selendang basah itu, “now! no excuses i want it clean and dry! no detergent and washing machine!” sambungnya dengan cerewet.

Ai Nara tak punya pilihan. Sebawel apa pun sekurang-kurangnya pria itu masih berbaik hati tak meminta ganti rugi buat lap topnya. Mungkin dia harus ketinggalan pesawat. Tapi tak sebanding jika dia harus mengeluarkan dua kali lipat uang untuk biaya teknisi laptop mahal yang dirusaknya. Secepatnya dia mengangguk-angguk tanda setuju. Sebelum pria itu berubah pikiran. Sungguh Ai Nara kenal dengan selendang itu. Tak pernah dia lupa selendang hasil jahitan Alana, sang adik yang diberi sebelum berangkat dari penampungan. Jahitan berbelok-belok dan melengkung sana-sini hasil tangan amatir Alana sudah jelas membuktikan ini miliknya. Dia setia memegang erat selendang yang berlipat rapi dan sudah bersih dicucinya semalam. Tapi dia tak punya keyakinan yang cukup kuat untuk bertaruh jika pria itulah yang pernah diselamatkannya dua tahun lalu.

“Is this shawl is so important for you? i dont see you angry about your laptop?” tanya Ai Nara ragu, sambil menyerahkan shawl tersebut.
“Shawl itu bagian dari kenangan yang menyelamatkan nyawaku.” Jawab Emir Haidar dengan mata menerawang ke langit. Mengingat saat saat nyawanya hampir putus dari tubuh. Kedua alis Ai Nara menaut kebingungan sebelum berseru.
“Kau!! kau orang Indonesia?” suaranya hampir terpekik. Rona wajahnya seketika memerah 3 kali lipat menyesali curhatan asal-asalannya semalam, dia berpikir pria itu tak mengerti bahasa. Eh ternyata sama-sama indonesia.
“Seperti yang kau lihat..” respon Emir Haidar santai tangannya merentang menunjukkan dirinya.

“Ku pikir kau orang korea..” timpal ai Nara polos.
Emir Haidar mengangkat sebelah alisnya dengan respon blak-blakan ai Nara. Menyadari ketidaknyamanan Emir Haidar. Ai Nara segera mengubah topik.
“Jadi.. apa maksudmu tadi tentang shawl itu?” tanyanya cepat.
“Dua tahun lalu aku diselamatkan oleh seseorang. Singkatnya shawl itu miliknya,” balasnya pendek. Sesungguhnya dia tak suka membuang waktu bercerita panjang lebar dengan gadis yang baru saja dikenalnya itu. Tak menyadari perubahan mimik wajah Ai Nara yang penuh keterkejutan.
“Jadi dia orangnya?” gumam ai Nara pelan. Sangat pelan.

“Apa?” Seru Emir Haidar tertahan. Barusan telinga tak pekak dengan kata-kata gadis itu. Gumaman itu seolah berkata dialah orangnya?
“Kau bilang apa?” tanyanya ulang.
“Eehh.. bu-bukan apa apa..” kilah Ai Nara tak yakin.
Tingkah Ai Nara membuat Emir Haidar semakin penasaran dengan gadis itu.
“Boleh ku tanya sesuatu? jika kau bertemu dengan penyelamatmu. Apa yang kau lakukan?” tanyanya sambil menyesap kafe lattenya.
“Jika dia perempuan single aku akan menikahinya.” kata emir ringan.

UHUK! UHUK! Ai Nara tersedak. Tak habis pikir dengan laki-laki berwajah korea di depannya. Bahkan dia belum melihat wajah sang ‘penyelamatnya’ tapi sudah yakin mau menikahinya, pikirnya sesaat.

“Kau tak apa-apa?” ucap Emir Haidar.
“Tak apa-apa.. aku belum tahu nama Anda,” balasnya mengalihkan perhatian.
“Emir Haidar Tanjoe, kau?”
Mata hazel ai Nara membulat. Dia! segumpal keyakinan bersarang di hatinya. Dialah pria itu. Ai Nara menghela napas pendek. Mencoba mengukir senyum palsu.
“Ai… Ai Nara Amri.” lirihnya dan menunduk. Tak sadar ekspresi terkejut pria di depannya saat ini.

Apa ini takdir atau kebetulan? Ai Nara tak pernah sadar. Tuhan mempertemukan dia dengan pria itu. Cinta pertamanya. Bukan cinta pacaran. Bukan cinta monyet. Bukan cinta bertepuk sebelah tangan. Tapi cinta diam-diam. Enam tahun di sekolah yang sama dan sekelas. Emir Haidar bak slogan 4 lengkap 5 sempurna. Kaya, Jenius. Jago musik. Tampan. Banyak fans. Wajah pas-pasan Ai Nara mengikat mulut dan keberaniannya erat-erat untuk menyapa sang idola. Alhasil terjadilah cinta diam-diam tersebut. Hampir saja dia memadamkan cinta sia-sia itu. Dia datang lagi? ‘melamarnya’? melamar ‘diri sang penyelamat itu’?

Tuhan mempertemukan mereka dengan cara unik. Pertama saat pelulusan SMA. Di saat semua murid heboh dengan tawaran universitas mereka. Ai Nara menelan bakawali sendiri. Menerima takdirnya sebagai anak orang miskin. Dia tak mungkin kuliah sedang enam adik-adiknya perlu uang untuk melanjutkan sekolah. Dari SD sampai SMP. Setia menunggu kepala sekolah memanggil namanya untuk menerima ijazah, dia datang. Emir Haidar dengan segala pesonanya. Tiba-tiba duduk di sebelahnya. Sepertinya Emir datang agak terlambat? Mungkin jantungnya sudah meloncat dari tempat jika tulang rusuk dan mengitarinya saat itu.

Giliran Emir Haidar di panggil ke depan untuk menerima ijazah, tak sadar menjatuhkan buku notanya sendiri. Ketika guru sekolah memintanya sedikit berpidato, Ai Nara termakan hasutan setan untuk membaca nota-nota pribadi Emir. Semuanya berisi curhat-curhatan random sang idola. Tak jarang ada juga puisi entah lirik di dalamnya. Ada juga brosur dan formulir universitas yang akan ia masuki nantinya. Columbia university. Ai Nara senyum-senyum girang membacanya. Sampai saat dia membaca sesuatu. ‘Aku sadar aku tertarik dengan seseorang. Aku tak melihat gamblang. Tepatnya selalu hanya siluetnya. Dia gadis paling tenang pernah ku tahu. Setelah ini mungkin aku akan mencoba mendekatinya. A-‘

SREET!

Buku itu dirampas seseorang.

Bersambung

Cerpen Karangan: Suejraeda
Blog: catatanrandomseoranginsan.blogspot.com

Cerpen Takdir ‘Ai’ Kita (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


A Road To The Endless Love

Oleh:
Malam itu terasa sangat dingin menusuk hati, membalut jiwa-jiwa yang sedang perih hatinya. Meskipun musim dingin telah berakhir di Vancouver, namun malam ini terasa sangat dingin dari hari-hari biasanya.

Di Atas Bianglala

Oleh:
Menurut kalian, apa itu definisi nakal? Nggak ngerjain PR? Ngobrol waktu guru nerangin? Ke kantin waktu jam pelajaran masih berlangsung? Cabut mata pelajaran guru killer? Main-main waktu upacara? Atau,

I’ll Never Forget You

Oleh:
“Yuri!! Awaaaaasss!!!” Teriak seseorang dan tiba-tiba bug! Aku merasakan sesuatu menabrakku. Aku tersungkur. Aku merasakan sesuatu mengalir dari kepalaku. Cairan berwarma merah segar. Lalu semuanya menjadi gelap. Aku membuka

I Just Love For You

Oleh:
Sembari duduk di bawah pohon tua yang kokoh nan berdaun riang, membuat perasaanku terasa lebih baikan dari sebelumnya. Akhir-akhir ini setelah pulang sekolah, aku tidak ingin cepat pulang ke

Hujan itu Datang Lagi

Oleh:
“Rian…!” teriakmu yang hampir memecahkan gendang telingaku, hanya karena aku sering menggodamu. Kala itu kita masih belum mengerti apa artinya cinta dan mengucapkan kata itu juga belum pernah, karena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *